You are on page 1of 21

TEKNIK TENAGA LISTRIK

MOTOR INDUKSI
(MOTOR ASINKRON)

Kelompok 2
MADE DWI WIPRAYOGA ......................................1504405023
ACHMAD AMIRUDIN .............................................1504405024
NYOMAN SURYA GUNAWAN ...............................1504405024
MAKMUR FERNANDO ..........................................1504405026
I MADE ASTANA YOGA .........................................1504405027

Fakultas Teknik
Universitas Udayana
2016

MOTOR INDUKSI
1. Motor Listrik Secara Umum
Motor listrik merupakan sebuah perangkat elektromagnetis yang mengubah energi listrik
menjadi energi mekanik. Energi mekanik ini digunakan untuk, misalnya, memutar impeller
pompa, fan atau blower, menggerakan kompresor, mengangkat bahan, dll. Motor listrik
digunakan juga di rumah (mixer, bor listrik, fan angin) dan di industri. Motor listrik
kadangkala disebut kuda kerja nya industri sebab diperkirakan bahwa motor-motor
menggunakan sekitar 70% beban listrik total di industri.
Pada dasarnya motor listrik terbagi menjadi 2 jenis yaitu motor listrik arus searah atau DC
dan motor listrik arus bolak-balik atau AC. Kemudian dari jenis tersebut digolongkan
menjadi beberapa klasifikasi lagi sesuai dengan karakteristiknya.

Gambar 1.1 Jenis Jenis Motor Listrik

2. Motor Induksi (Motor Asinkron)


Motor induksi adalah adalah motor listrik bolak-balik (ac) yang putaran rotornya tidak
sama dengan putaran medan stator, dengan kata lain putaran rotor dengan putaran medan
stator terdapat selisih putaran yang disebut slip. Pada umumnya motor induksi dikenal
ada dua macam berdasarkan jumlah fasa yang digunakan, yaitu: motor induksi satu fasa
dan motor induksi tiga fasa.

2.1.

Motor Induksi Satu Fasa


Sesuai dengan namanya motor induksi satu fasa dirancang untuk beroperasi
menggunakan suplai tegangan satu fasa. Motor induksi satu fasa sering digunakan
sebagai penggerak pada peralatan yang memerlukan daya rendah dan kecepatan yang
relatif konstan. Hal ini disebabkan karena motor induksi satu fasa memiliki beberapa
kelebihan yaitu konstruksi yang cukup sederhana, kecepatan putar yang hampir konstan
terhadap perubahan beban, dan umumnya digunakan pada sumber jala-jala satu fasa yang

banyak terdapat pada peralatan domestik. Walaupun demikian motor ini juga memiliki
beberapa kekurangan, yaitu kapasitas pembebanan yang relatif rendah, tidak dapat
melakukan pengasutan sendiri tanpa pertolongan alat bantu dan efisiensi yang rendah.

2.2.1. Konstruksi Umum


Konstruksi motor induksi satu fasa hampir sama dengan konstruksi motor induksi
tiga fasa, yaitu terdiri dari dua bagian utama yaitu stator dan rotor.
Keduanya merupakan rangkaian magnetik yang berbentuk silinder dan simetris. Di antara
rotor dan stator ini terdapat celah udara yang sempit.

Gambar 2.1 Konstruksi Umum Motor Induksi Satu Fasa.

Stator merupakan bagian yang diam sebagai rangka tempat kumparan stator yang
terpasang. Stator terdiri dari : inti stator, kumparan stator, dan alur stator. Motor induksi satu
fasa dilengkapi dengan dua kumparan stator yang dipasang terpisah, yaitu kumparan utama
(main winding) atau sering disebut dengan kumparan berputar dan kumparan bantu (auxiliary
winding) atau sering disebut dengan kumparan start.
Rotor merupakan bagian yang berputar. Bagian ini terdiri dari : inti rotor, kumparan
rotor dan alur rotor. Pada umumnya ada dua jenis rotor yang sering digunakan pada motor
induksi, yaitu rotor belitan (wound rotor) dan rotor sangkar (squirrel cage rotor).
2.2.2. Prinsip Kerja Motor Induksi Satu Fasa
Teori Medan Putar Silang
Prinsip kerja motor induksi satu fasa dapat dijelaskan dengan menggunakan
teori medan putar silang (cross-field theory). Jika motor induksi satu fasa diberikan tegangan

bolak-balik satu fasa maka arus bolak-balik akan mengalir pada kumparan stator. Arus pada
kumparan stator ini menghasilkan medan magnet seperti yang di tunjukkan oleh garis putusputus pada gambar 2.2

Gambar 2.2 Medan Magnet Stator Berpulsa Sepanjang Garis AC.

Arus stator yang mengalir setengah periode pertama akan membentuk kutub
utara di A dan kutub selatan di C pada permukaan stator. Pada setengah periode berikutnya,
arah kutub-kutub stator menjadi terbalik. Meskipun kuat medan magnet stator berubahubah yaitu maksimum pada saat arus maksimum dan nol pada saat arus nol serta polaritasnya
terbalik secara periodik, aksi ini akan terjadi hanya sepanjang sumbu AC. Dengan demikian,
medan magnet ini tidak berputar tetapi hanya merupakan sebuah medan magnet yang
berpulsa pada posisi yang tetap (stationary).
Seperti halnya pada transformator, tegangan terinduksi pada belitan sekunder, dalam
hal ini adalah kumparan rotor. Karena rotor dari motor induksi satu fasa pada umumnya
adalah rotor sangkar dimana belitannya terhubung singkat, maka arus akan mengalir pada
kumparan rotor tersebut. Sesuai dengan hukum Lenz, arah dari arus ini (seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.2 adalah sedemikian rupa sehingga medan magnet yang
dihasilkan melawan medan magnet yang menghasilkannya. Arus rotor ini akan menghasilkan
medan magnet rotor dan membentuk kutub-kutub pada permukaan rotor. Karena kutub-kutub
ini juga berada pada sumbu AC dengan arah yang berlawanan terhadap kutub-kutub stator,
maka tidak ada momen putar yang dihasilkan pada kedua arah sehingga rotor tetap diam.
Dengan demikian, motor induksi satu fasa tidak dapat diasut sendiri dan membutuhkan
rangkaian bantu untuk menjalankannya.

Gambar 2.3 Motor Dalam Keadaan Berputar

Misalkan sekarang motor sedang berputar. Hal ini dapat dilakukan dengan memutar
secara manual (dengan tangan) atau dengan rangkaian bantu. Konduktor-konduktor rotor
akan memotong medan magnet stator sehingga timbul gaya gerak listrik pada konduktorkonduktor tersebut. Hal ini diperlihatkan pada Gambar 2.3 yang menunjukkan rotor sedang
berputar searah jarum jam.
Jika fluks rotor seperti yang diperlihatkan pada Gambar 2.3 mengarah ke atas sesuai
dengan kaidah tangan kanan Fleming, arah gaya gerak listrik (ggl) rotor akan mengarah
keluar kertas pada setengah bagian atas rotor dan mengarah ke dalam kertas pada setengah
bagian bawah rotor. Pada setengah periode berikutnya arah dari gaya gerak listrik yang
dibangkitkan akan terbalik. Gaya gerak listrik yang diinduksikan ke rotor adalah berbeda
dengan arus dan fluks stator. Karena konduktor-konduktor rotor terbuat dari bahan dengan
tahanan rendah dan induktansi tinggi, maka arus rotor yang dihasilkan akan tertinggal
terhadap gaya gerak listrik rotor mendekati 90o.
Sesuai dengan kaidah tangan kanan Fleming, arus rotor ini akan menghasilkan medan
magnet, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.4 karena medan rotor ini terpisah sebesar
90o dari medan stator, maka disebut sebagai medan silang (cross-field). Nilai maksimum dari
medan ini seperti yang ditunjukkan oleh Gambar 2.4, terjadi pada saat seperempat periode
setelah gaya gerak listrik rotor yang dibangkitkan adalah telah mencapai nilai maksimumnya.
Karena arus rotor yang mengalir disebabkan oleh suatu gaya gerak listrik bolak- balik maka
medan magnet yang dihasilkan oleh arus ini adalah juga bolak-balik dan aksi ini terjadi
sepanjang sumbu DB (lihat Gambar 2.4).

Gambar 2.4 Medan Silang yang Dibangkitkan Arus Stator

Teori Medan Putar Ganda


Teori medan putar ganda (double revolving-field theory) adalah suatu metode lain
untuk menganalisis prinsip perputaran motor induksi satu fasa disamping teori medan putar
silang. Menurut teori ini, medan magnet yang berpulsa dalam waktu tetapi diam dalam
ruangan dapat dibagi menjadi dua medan magnet, dimana besar kedua medan magnet ini
sama dan berputar dalam arah yang berlawanan. Dengan kata lain, suatu fluks sinusoidal
bolak-balik dapat diwakili oleh dua fluks yang berputar, yang masing-masing nilainya sama
dengan setengah dari nilai fluks bolak-balik tersebut dan masing-masing berputar secara
sinkron dengan arah yang berlawanan.
Pada Gambar 2.5.a menunjukkan suatu fluks bolak-balik yang mempunyai nilai
maksimum m. Komponen fluksnya A dan B mempunyai nilai yang sama yaitu m /2, berputar
dengan arah yang berlawanan dan searah jarum jam, seperti ditunjukkan anak panah.

Gambar 2.5 Konsep Medan Putar Ganda.

Pada beberapa saat ketika A dan B telah berputar dengan sudut + dan seperti
pada Gambar 2.5.b, maka besar fluks resultan adalah :

2m +2m 2 m m
=

cos 2
4
2. 2
2
r

..........................................................................................(2.1)

Dimana :

r= m sin (weber)
r=Fluks Resultan(weber )
m=Fluks Maksimum(weber )
=Sudut Ruang
Setelah seperempat periode putaran, fluks A dan B akan berlawanan arah seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 2.5.c, sehingga resultan fluksnya sama dengan nol. Setelah
setengah putaran, fluks A dan B akan mempunyai resultan sebesar -2 x m /2 = - m ,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5.d. Setelah tiga perempat putaran, resultan akan
kembali nol seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.5.e dan demikianlah seterusnya. Jika
nilai-nilai dari fluks resultan digambarkan terhadap diantara = 0 o sampai = 360o, maka
akan didapat suatu kurva seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.6

.
Gambar 2.6 Kurva Fluks Resultan Terhadap

2.2.3. Jenis-Jenis Motor Induksi Satu Fasa


Cara paling mudah untuk menjalankan motor induksi satu fasa adalah dengan
menambahkan sebuah kumparan bantu pada kumparan utama di bagian stator sehingga motor
dapat dijalankan. Jika dua kumparan terpisah 90o listrik pada stator motor dan eksitasi
dengan dua ggl bolak-balik yang berbeda fasa sebesar 90 o listrik, dihasilkan medan magnet
putar. Jika dua kumparan terpisah demikian dihubungkan paralel ke suatu sumber fasa,
medan yang dihasilkan akan bolak-balik, tetapi tidak berputar Karena kedua kumparannya
ekivalen dengan satu kumparan fasa. Akan tetapi, jika suatu impedansi dihubungkan seri
dengan salah satu kumparan ini, arusnya akan berbeda fasa. Dengan pemilihan impedansi
yang cocok, arus dapat dibuat agar berbeda fasa sampai 90 o listrik, sehingga
menghasilkan medan putar sama seperti medan dari motor dua fasa. Inilah prinsip dari
pemisahan fasa (phase splitting).
Pada keadaan berputar, motor induksi satu fasa dapat menghasilkan momen putar
hanya dengan satu kumparan. Sehingga dengan bertambahnya kecepatan motor kumparan
bantu dapat dilepas dari rangkaian. Pada kebanyakan motor, hal ini dilakukan dengan
menghubungkan sebuah saklar sentrifugal yang bekerja melepaskan hubungan kumparan
bantu sistem.
Motor induksi satu fasa dikenal dengan beberapa nama. Penerapannya menjelaskan
cara-cara yang dipakai untuk menghasilkan perbedaan fasa antara arus yang mengalir pada
kumparan utama dan arus yang mengalir pada kumparan bantu.

Motor Fasa Terpisah


Gambar rangkaian motor induksi fasa terpisah ditunjukkan pada Gambar 2.7.a.
Kumparan bantu memiliki perbandingan tahanan terhadap reaktansi yang lebih tinggi
daripada kumparan utama, sehingga kedua arus akan berbeda fasa seperti yang ditunjukkan

pada Gambar 2.7.b. Perbandingan tahanan terhadap reaktansi yang tinggi dapat dengan
menggunakan kawat yang lebih murni pada kumparan bantu. Hal ini diizinkan karena
kumparan bantu hanya dipakai pada saat start. Saklar sentrifugal akan memisahkan dari
rangkaian segera setelah dicapai kecepatan sinkron sekitar 70 sampai 80 persen kecepatan
sinkron.
Karakteristik momen putar vs kecepatan dari motor ini ditunjukkan pada Gambar 2.7.c.
Gambar ini memperlihatkan nilai torsi masing-masing kecepatan motor, mulai dari posisi
diam sampai kecepatan nominal, dan seterusnya sampai kecepatan sinkron. Torsi start adalah
torsi yang tersedia bila motor mulai berputar dari posisi diam. Torsi beban penuh adalah
torsi yang dihasilkan bila motor berputar pada keluaran nominal. Bila beban terus
berangsur-angsur diperbesar dari keadaan dimana motor berputar pada keluaran nominal
untuk melayani beban dan torsi maksimum dari poros motor yang dapat digunakan dapat
dilampaui, maka motor menjadi tidak mampu melayani beban dan berhenti. Nilai maksimum
dari torsi dalam hal ini disebut torsi maksimum Tmaks.

Gambar 2.7 Motor Fasa Terpisah

Motor Kapasitor Start

Konstruksi motor kapasitor start ditunjukkan pada Gambar 2.8a. Untuk mendapatkan
torsi putar awal yang lebih besar, yaitu : dengan cara menghubungkan sebuah kapasitor yang
dipasang secara seri dengan kumparan bantu seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.8.b.

Hal ini akan menaikkan sudut fasa antara arus kumparan seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2.8.c. Karakteristik momen putar-kecepatan putar dari motor ini dapat ditunjukkan
pada Gambar 2.8.d. Karena kapasitor dipakai hanya untuk pada saat start, jenis
kapasitor yang dipakai adalah kapasitor elektrolit. Motor ini menghasilkan momen putar start
yang lebih tinggi.

Gambar 2.8 Motor Kapasitor Start

Motor Kapasitor Permanen


Konstruksi dari motor kapasitor permanen ditunjukkan pada Gambar 2.9a. gambar
rangkaian ekivalen motor ini seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.9.b. kapasitor
dihubungkan seri dengan kumparan bantu dan tidak dilepas setelah pengasutan dilakukan dan
tetap tinggal pada rangkaian. Hal ini menyederhanakan konstruksi dan mengurangi biaya
serta memperbaiki ketahanan motor karena saklar sentrifugal tidak digunakan. Faktor daya,
denyutan momen putar, dan efisiensi akan lebih baik karena motor berputar seperti motor dua

fasa. Sudut fasa antar kumparan ditunjukkan pada Gambar 2.9.c. Jenis kapasitor yang
digunakan adalah kapasitor kertas. Karakteristik momen putar kecepatan motor ini
ditunjukkan pada Gambar 2.9.d.

Gambar 2.9 Motor Kapasitor Permanen

Motor Kapasitor Start Kapasitor Run

Motor ini mempunyai dua buah kapasitor, satu digunakan pada saat start dan satu lagi
digunakan pada saat berputar, seperti ditunjukkan pada Gambar 2.10.a. Secara praktis
keadaan start dan berputar yang optimal dapat diperoleh dengan menggunakan dua buah
kapasitor elektrolit. Kapasitor Run secara permanen dihubungkan seri dengan kumparan

bantu dengan nilai yang lebih kecil dan dipakai kapasitor kertas. Sudut fasa antar kumparan
sama seperti pada motor kapasitor permanen seperti pada Gambar 2.10.b. Karakteristik
momen putar-kecepatan dari motor ini ditunjukkan pada Gambar 2.10.c.

Gambar 2.10 Motor Kapasitor Start Kapasitor Run

Motor Shaded Pole

Motor ini mempunyai kutub tonjol dan sebagian dari masing-masing kutub dikelilingi
oleh lilitan rangkaian terhubung singkat yang terbuat dari tembaga yang disebut kumparan
terarsir seperti pada Gambar 2.11.a. Arus imbas yang terdapat pada kumparan yang terarsir
menyebabkan fluksi yang berada pada bagian lain. Hasilnya seperti medan putar yang
bergerak dalam arah dari daerah kutub yang tidak terarsir ke bagian kutub yang terarsir dan
menimbulkan momen putar saat dihidupkan yang kecil. Karakteristik motor shaded pole
ditunjukkan pada Gambar 2.11.b.

Gambar 2.11 Motor Shaded Pole

2.2.

Motor Induksi Tiga Fasa


Motor induksi tiga fasa merupakan motor listrik arus bolak-balik yang paling banyak
digunakan dalam dunia industri. Dinamakan motor induksi karena pada kenyataannya arus
rotor motor ini bukan diperoleh dari suatu sumber listrik, tetapi merupakan arus yang
terinduksi sebagai akibat adanya perbedaan relatif antara putaran rotor dengan medan putar.
Dalam kenyataannya, motor induksi dapat diperlakukan sebagai sebuah transformator, yaitu
dengan kumparan stator sebagai kumparan primer yang diam, sedangkan kumparan
rotor sebagai kumparan sekunder yang berputar.
Motor induksi tiga fasa berputar pada kecepatan yang pada dasarnya adalah
konstan, mulai dari tidak berbeban sampai mencapai keadaan beban penuh. Kecepatan
putaran motor ini dipengaruhi oleh frekuensi, dengan demikian pengaturan kecepatan tidak
dapat dengan mudah dilakukan terhadap motor ini. Walaupun demikian, motor induksi tiga
fasa memiliki beberapa keuntungan, yaitu sederhana, konstruksinya kokoh, harganya relatif
murah, mudah dalam melakukan perawatan, dan dapat diproduksi dengan karakteristik yang
sesuai dengan kebutuhan industri.

2.2.1. Konstruksi Umum


Sebuah motor induksi tiga fasa memiliki konstruksi yang hampir sama dengan motor
listrik jenis lainnya. Motor ini memiliki dua bagian utama, yaitu stator yang merupakan
bagian yang diam, dan rotor sebagai bagian yang berputar sebagaimana diperlihatkan pada
gambar 2.12. Antara bagian stator dan rotor dipisahkan oleh celah udara yang sempit,
dengan jarak berkisar dari 0,4 mm sampai 4 mm.

Gambar 2.12 Penampang Stator dan Rotor Motor Induksi Tiga Fasa

2.2.2. Stator
Stator terdiri atas tumpukan laminasi inti yang memiliki alur yang menjadi tempat
kumparan dililitkan yang berbentuk silindris. Alur pada tumpukan laminasi inti diisolasi
dengan kertas (Gambar 2.13.(b)). Tiap elemen laminasi inti dibentuk dari lempengan besi
(Gambar 2.13.(a)). Tiap lempengan besi tersebut memiliki beberapa alur dan beberapa
lubang pengikat untuk menyatukan inti. Tiap kumparan tersebar dalam alur yang disebut
belitan fasa dimana untuk motor tiga fasa, belitan tersebut terpisah secara listrik sebesar 120 o.
Kawat kumparan yang digunakan terbuat dari tembaga yang dilapis dengan isolasi tipis.
Kemudian tumpukan inti dan belitan stator diletakkan dalam cangkang silindris (Gambar
2.13.(c)). Berikut ini contoh lempengan laminasi inti, lempengan inti yang telah disatukan,
belitan stator yang telah dilekatkan pada cangkang luar untuk motor induksi tiga fasa.

Gambar 2.13 Komponen Stator Motor Induksi Tiga Fasa

2.2.3. Rotor
Berdasarkan jenis rotornya, motor induksi tiga fasa dapat dibedakan menjadi dua
jenis, yang juga akan menjadi penamaan untuk motor tersebut, yaitu rotor belitan (wound
rotor) dan rotor sangkar tupai (squirrel cage rotor).
Jenis rotor belitan terdiri dari satu set lengkap belitan tiga fasa yang merupakan bayangan
dari belitan pada statornya. Belitan tiga fasa pada rotor belitan biasanya terhubung Y, dan

masing-masing ujung dari tiga kawat belitan fasa rotor tersebut dihubungkan pada slip ring
yang terdapat pada poros rotor (gambar 2.14(a)). Belitan-belitan rotor ini kemudian dihubung
singkatkan melalui sikat (brush) yang menempel pada slip ring (perhatikan gambar 2.15),
dengan menggunakan sebuah perpanjangan kawat untuk tahanan luar.

Gambar 2.14 Komponen Rotor

Gambar 2.15 Skematik Diagram Motor Induksi Rotor Belitan

Dari gambar 2.15. dapat dilihat bahwa semata-mata keberadaan slip ring dan sikat
hanyalah sebagai penghubung belitan rotor ke tahanan luar (exsternal resistance). Keberadaan
tahanan luar disini berfungsi pada saat pengasutan yang berguna untuk membatasi arus mula
yang besar. Tahanan luar ini kemudian secara perlahan dikurangi sampai resistansinya nol
sebagaimana kecepatan motor bertambah mencapai kecepatan nominalnya. Ketika motor
telah mencapai kecepatan nominalnya, maka tiga buah sikat akan terhubung singkat tanpa
tahanan luar sehingga rotor belitan akan bekerja seperti halnya rotor sangkar tupai.
Rotor sangkar mempunyai kumparan yang terdiri atas beberapa batang konduktor
yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai sangkar tupai. Rotor terdiri dari tumpukan
lempengan besi tipis yang dilaminasi dan batang konduktor yang mengitarinya (perhatikan
gambar 2.16(a)). Tumpukan besi yang dilaminasi disatukan untuk membentuk inti rotor.
Alumunium (sebagai batang konduktor) dimasukan ke dalam slot dari inti rotor untuk
membentuk serangkaian konduktor yang mengelilingi inti rotor. Rotor yang terdiri dari
sederetan batang-batang konduktor yang terletak pada alur-alur sekitar permukaan rotor,

ujung-ujungnya dihubung singkat dengan menggunakan cincin hubung singkat (shorting


ring) atau disebut juga dengan end ring.

Gambar 2.16 Rotor motor 3 Fasa

2.2.4. Prinsip Medan Putar


Pada saat kita menghubungkan sumber tiga fasa ke terminal tiga fasa motor
induksi, maka arus bolak-balik sinusoidal IR, IS, IT akan mengalir pada belitan stator. Arusarus ini akan menghasilkan ggm (gaya gerak magnet), yang mana pada kumparan akan
menghasilkan fluks magnetik yang berputar sehingga disebut juga dengan medan putar. M
edan magnet yang demikian kutub-kutubnya tidak diam pada posisi tertentu, tetapi
meneruskan pergeseran posisinya disekitar stator.
Untuk melihat bagaimana medan putar dibangkitkan, maka dapat diambil contoh pada
motor induksi tiga fasa dengan jumlah kutub dua. Fluks yang dihasilkan oleh arus-arus bolakbalik pada belitan stator adalah :
R
= m sin t . (2.2a)
o

= m sin (t 120 ) (2.2b)

= m sin (t 240 ). (2.2c)

Gambar 2.17 Arus Tiga Fasa Setimbang

Gambar 2.18 Diagram Fasor Fluksi Tiga Fasa Setimbang

Gambar 2.19 Medan Putar Pada Motor Induksi Tiga Fasa


(Menggambarkan keadaan pada gambar 2.17)

2.2.5. Prinsip Kerja Motor Induksi Tiga Fasa


Pada saat terminal tiga fasa stator motor induksi diberi suplai tegangan tiga fasa
seimbang, maka akan mengalir arus pada konduktor di tiap belitan fasa stator dan akan
menghasilkan fluksi bolak-balik . Amplitudo fluksi per fasa yang dihasilkan berubah secara
sinusoidal dan menghasilkan fluks resultan (medan putar) dengan magnitud yang nilainya
konstan yang berputar dengan kecepatan sinkron :
f
n s=120
p .............................................(2.3)
Dimana,
ns = kecepatan sinkron/medan putar (rpm)
f = frekuensi sumber daya (Hz)
P = jumlah kutub motor induksi
Medan putar akan terinduksi melalui celah udara menghasilkan ggl induksi (ggl
lawan) pada belitan fasa stator sebesar :
d
e 1=N 1
dt ....................................................................................................................(2.4)
t
m sin
d
e 1=N 1
dt

e 1= N 1 m cos t

e 1=2 f N 1 m cos t (=2 f )

Jadi

t 90
Untuk nilai max sin =1
e 1=2 f N 1 m sin

Em 1=2 f N 1 m

E m 1=

Em 1 2 f N 1 m
=
2
2

Em 1=4,44 f 1 N 1 m ..........................................................................................................(2.5)
Dimana,
e1 = ggl induksi sesaat stator/fasa (Volt)
Em1 = ggl induksi maksimum stator/fasa (Volt)
E1 = ggl induksi efektif stator/fasa (Volt)
f1

= frekuensi saluran (Hz)

N1 = jumlah lilitan kumparan stator/fasa


= fluks magnetik maksimum (Weber)

Medan putar tersebut juga akan memotong konduktor-konduktor belitan rotor yang
diam (perhatikan gambar 2.20). Hal ini terjadi karena adanya perbedaan relatif antara
kecepatan fluksi yang berputar dengan konduktor rotor yang diam, yang disebut juga dengan
slip (s).
n n
S= s r .......................................................................................................................(2.6)
ns
Atau

E2=4,44 f 2 N 2 m ....................................................................................................(2.7)

Dimana,
e2

= ggl induksi sesaat pada saat rotor diam/fasa (Volt)

E2

= ggl induksi efektif pada saat rotor diam/fasa (Volt)

f2

= frekuensi arus rotor (Hz)

N2 = jumlah lilitan pada kumparan rotor/fasa


m= magnetik maksimum (Weber)

Gambar 2.20 Proses Induksi Medan Putar Stator pada Kumparan Rotor

Karena belitan rotor merupakan rangkaian tertutup, baik melalui cincin ujung (end
ring) ataupun tahanan luar, maka arus akan mengalir pada konduktor- konduktor rotor.
Karena konduktor-konduktor rotor yang mengalirkan arus ditempatkan di dalam daerah
medan magnet yang dihasilkan stator, maka akan terbentuklah gaya mekanik (gaya lorentz)
pada konduktor-konduktor rotor. Hal ini sesuai dengan hukum gaya lorentz (perhatikan
gambar 2.21) yaitu bila suatu konduktor yang dialiri arus berada dalam suatu kawasan
medan magnet, maka konduktor tersebut akan mendapat gaya elektromagnetik (gaya
lorentz) sebesar :
F=B . i. l .sin ................................................................................................................(2.8)
Dimana,
F = gaya yang bekerja pada konduktor (Newton)
2

B = kerapatan fluks magnetik (Wb/m )


i = besar arus pada konduktor (A)
l = panjang konduktor (m)
= sudut antara konduktor dan vektor kerapatan fluks magnetik

Gaya F ini adalah hal yang sangat penting karena merupakan dasar dari
bekerjanya suatu motor listrik. Arah dari gaya elektromagnetik tersebut dapat dijelaskan oleh
kaidah tangan kanan (right-hand rule). Kaidah tangan kanan menyatakan, jika jari
telunjuk menyatakan arah dari vektor arus i dan jari tengah menyatakan arah dari vektor
kerapatan fluks B, maka ibu jari akan menyatakan arah gaya F yang bekerja pada
konduktor tersebut.

Gaya F yang dihasilkan pada konduktor-konduktor rotor tersebut akan menghasilkan


torsi (). Bila torsi mula yang dihasilkan pada rotor lebih besar daripada torsi beban ( 0 > b),
maka rotor akan berputar searah dengan putaran medan putar stator.

Gambar 2.21 Konduktor Berarus Dalam Ruang Medan Magnet

Seperti yang telah disebutkan di atas, motor akan tetap berputar bila kecepatan medan
putar lebih besar dari pada kecepatan putaran rotor (ns > nr). Apabila ns = nr, maka tidak
ada perbedaan relatif antara kecepatan medan putar (ns) dengan putaran rotor (nr), atau
dengan kata lain slip (s) adalah nol. Hal ini menyebabkan tidak adanya ggl terinduksi pada
kumparan rotor sehingga tidak ada arus yang mengalir, dengan demikian tidak akan
dihasilkan gaya yang dapat menghasilkan kopel untuk memutar rotor.

2.2.6. Rangkaian Ekivalen Motor Induksi Tiga Fasa


Telah disebutkan sebelumnya bahwa motor induksi identik dengan sebuah
transformator, tentu saja dengan demikian rangkaian ekivalen motor induksi sama dengan
rangkaian ekivalen transformator. Perbedaan yang ada hanyalah, karena pada kenyataannya
bahwa kumparan rotor (kumparan sekunder pada transformator) dari motor induksi
berputar, yang mana berfungsi untuk menghasilkan daya mekanik. Awal dari rangkaian
ekivalen motor induksi dihasilkan dengan cara yang sama sebagaimana halnya pada
transformator. Semua parameter-parameter rangkaian ekivalen yang akan dijelaskan
berikut mempunyai nilai-nilai perfasa.

Gambar 2.22 Rangkaian Ekivalen per-Fasa Motor Induksi dengan Mengabaikan Rugi Inti

Daftar Pustaka
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/20004/3/Chapter%20II.pdf
diakses pada 10 Oktober 2016
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26659/3/Chapter%20II.pdf
Diakses pada 10 Oktober 2016
http://elektronika-dasar.web.id/definisi-dan-karakteristik-motor-listrik-induksi/
Diakses pada 10 Oktober 2016
Bureau of Energy Efficiency (BEE), Ministry of Power, India. Components of an Electric
Motor. 2005.
www.energymanagertraining.com/equipment_all/electric_motors/eqp_comp_motors.htm
Prinsip Kerja Motor Listrik. http://belajarelektronika.net/prinsip-kerja-motor-listriksederhana/