You are on page 1of 5

KERANGKA ACUAN KERJA

PEMBINAAN KANTIN SEHAT


2016

UKS

OLEH

NURUL CHOTIMAH

UPTD PUSKESMAS KANDANGAN


KABUPATEN KEDIRI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berdasarkan Undang-undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan menyatakan
bahwa pengamanan makanan dan minuman merupakan satu dari 18 upaya kesehatan.
Pangan dan kesehatan adalah bagian dari HAM yang penting untuk mewujudkan
generasi yang sehat dan cerdas. Proses pembelajaran yang baik memerlukan sekolah
sehat yang salah satu kriterianya adalah kantin sehat. Masalah ketidakamanan pangan
masih banyak ditemukan di lingkungan sekolah. Untuk itu diperlukan suatu pedoman
keamanan pangan di sekolah.
Untuk memperoleh pangan yang bergizi dan aman tersebut, pemerintah melalui
Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan
(SNP) menyebutkan bahwa setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana dan
prasarana antara lain ruang kantin atau kantin sekolah. Hasil penelitian tentang sekolah
sehat yang dilakukan oleh Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Depdiknas tahun 2007
pada 640 SD di 20 provinsi yang diteliti, sebanyak 40% belum memiliki kantin.
Sementara dari yang telah memiliki kantin (60%) sebanyak 84.3% kantinnya belum
memenuhi syarat kesehatan. Selain itu masih banyak ditemukan pangan jajanan anak
sekolah yang tidak memenuhi persyaratan mutu kebersihan, kesehatan dan keamanan,
sehingga dapat menimbulkan dampak yang tidak baik bagi gizi dan kesehatan anak. Hasil
pemantauan BPOM tahun 2011 menunjukkan ada 35.5% makanan jajanan anak sekolah
tidak memenuhi syarat keamanan (Suratmono 2011). Laporan surveilan Direktorat
Surveilan dan Penyuluhan Keamanan Pangan BPOM menunjukkan selama tahun 2004 di
seluruh Indonesia telah terjadi kejadian luar biasa (KLB) keracunan makanan sebanyak
164 kejadian di 25 provinsi yang mencakup 7.366 kasus dan 51 diantaranya meninggal
dunia. Berdasarkan kajian ini, sejak tahun 2009 Kemendiknas melalui Permendiknas
Nomor 57 Tahun 2009 mengembangkan program sekolah sehat melalui pemberian
bantuan pengembangan sekolah sehat yang salah satu cirinya memiliki kantin sehat.
Permendiknas Nomor 57 Tahun 2009 mengembangkan program sekolah sehat melalui

pemberian bantuan pengembangan sekolah sehat yang salah satu cirinya memiliki kantin
sehat. Permendiknas Nomor 57 Tahun 2009 mengembangkan program sekolah sehat
melalui pemberian bantuan pengembangan sekolah sehat yang salah satu cirinya

memiliki kantin sehat.


B. Tujuan
Tujuan diselenggarakannya program pembinaan kantin sekolah sehat adalah
Untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang keamanan pangan
bagi pengelola kantin sekolah, pedagang sekitar sekolah dan siswa.
C. Kegiatan Pokok dan Rincian Kegiatan
a. Penyuluhan tentang kesehatan pangan
D. Cara Melaksanakan Kegiatan
Cara melaksanakan kegiatan yaitu dengan membentuk tim yang terdiri dari
petugas UKS, petugas Gizi, petugas Promkes dan bekerjasama dengan guru
UKS.
E. Sasaran
Sasaran pembinaan kantin sehat adalah Sekolah Dasar, Sekolah Menengah
Pertama dan Sekolah Menengah Atas.
F. Schedule Pelaksanaan Kegiatan
1. Pembinaan kantin untuk SD: bulan Agustus s/d Oktober 2016
2. Pembinaan kantin untuk lanjutan: bulan Oktober s/d November 2016
G. Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan
Hal-hal yang perlu dipantau meliputi jumlah kantin dan penjaja ketersediaan dan
penggunaan air oleh kantin, penjaja, dan siswa, beberapa kemungkinan titik kritis
keamanan pangan (tanggal kadaluarsa, tanda makanan menggunakan bahan tidak
aman, perilaku berisiko) serta kejadian gejala dan keracunan pangan.

H. Pencatatan dan Pelaporan


Umumnya pencatatan dilakukan oleh guru UKS. Pencatatan berisi : jenis-jenis
makanan dan minuman makanan yang dijual, nama dan alamat penjamah
makanan, sarana dan peralatan yang tersedia di tempat pengolahan bahan
pangan, serta sumber air dan penggunaan. Pencatatan ini dilakukan sebagai

data dasar tentang kantin dan penjaja di sekolah dan sekitar sekolah yang
perlu diperbaharui setiap tahun (awal tahun ajaran).
Pemantauan dengan menggunakan instrumen terlampir dilakukan setiap satu
tahun. Hasil pemantauan ini kemudian dilaporkan kepada Kepala Unit Pelaksana
Teknis (UPT) Pendidikan dengan tembusan kepada Kepala Puskesmas. Kemudian
Kepala UPT Pendidikan mengirimkan rekap laporan kepada Kepala Dinas
Pendidikan Kabupaten/Kota dengan tembusan kepada Kepala Dinas Kesehatan.
Dalam rapat-rapat koordinasi di UPT/Kecamatan dan di Dinas Pendidikan/Pemda
Kabupaten/Kota hasil pemantauan tersebut dibahas untuk mendapatkan umpan balik.