You are on page 1of 20

BAB - METODOLOGI

3
1.3.

Pemahaman SIG

1.3.1.Pengertian Sistem Informasi Geografis (SIG)


Berikut ini, beberapa definisi SIG menurut para ahli:
1. Menurut Aronoff, 1989.
SIG adalah sistem informasi yang didasarkan pada kerja komputer yang
memasukkan mengelola, memanipulasi dan menganalisa data serta
memberi uraian.
2. Menurut Burrough, 1986.
SIG

merupakan

penimbunan,

alat

yang

pengambilan

bermanfaat

kembali

data

untuk
yang

pengumpulan,
diinginkan

dan

penayangan data keruangan yang berasal dari kenyataan dunia.


3. Menurut Marble et al, 1983.
SIG merupakan sistem penanganan data keruangan.
4. Menurut Berry. 1988.
SIG merupakan sistem informasi, referensi, serta otomatiasasi data
keruangan.
5. Menurut Calkin dan Tomlinson, 1984.
SIG merupakan sistem komputerisasi data yang penting.
Secara umum pengertian SIG sebagai berikut: "Suatu komponen yang
terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data geografis dan sumber
daya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukkan,
menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi,
mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu
informasi berbasis geografis".
Menurut John E. Harmon, Steven J. Anderson. 2003, secara rinci SIG
tersebut dapat beroperasi dengan komponen komponen sebagai berikut:
a. Orang: Yang menjalankan sistem
b. Aplikasi: Prosedur yang digunakan untuk mengolah data.
c. Data: Informasi yang dibutuhkan dan diolah dalam aplikasi.

III 1

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

d. Software: Perangkat lunak SIG berupa program-program aplikasi.


e. Hardware: Perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan
sistem berupa perangkat komputer, printer, scanner dan perangkat
pendukung lainnya.
Dalam pembahasan selanjutnya, SIG akan selalu diasosiasikan dengan
system yang berbasis komputer, walaupun pada dasarnya SIG dapat
dikerjakan secara manual, SIG yang berbasis komputer akan sangat
membantu ketika data geografis merupakan data yang besar (dalam
jumlah dan ukuran) dan terdiri dari banyak tema yang saling berkaitan.
SIG mempunyai kemampuan untuk menghubungkan berbagai data pada
suatu titik tertentu di bumi, menggabungkannya, menganalisa dan
akhirnya

memetakan

hasilnya.

Data

yang

akan

diolah

pada

SIG

merupakan data spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis dan
merupakan lokasi yang memiliki sistem koordinat tertentu, sebagai dasar
referensinya. Sehingga aplikasi SIG dapat menjawab beberapa pertanyaan
seperti; lokasi, kondisi, trend, pola dan pemodelan.Kemampuan inilah yang
membedakan SIG dari system informasi lainnya.
Telah dijelaskan diawal bahwa SIG adalah suatu kesatuan system yang
terdiri dari berbagai komponen, tidak hanya perangkat keras komputer
beserta dengan perangkat lunaknya saja akan tetapi harus tersedia data
geografis yang benar dan sumberdaya manusia untuk melaksanakan
perannya dalam memformulasikan dan menganalisa persoalan yang
menentukan keberhasilan SIG.
1.3.2.Data Spasial
Sebagian besar data yang akan ditangani dalam SIG merupakan data
spasial yaitu sebuah data yang berorientasi geografis, memiliki sistem
koordinat tertentu sebagai dasar referensinya dan mempunyai dua bagian
penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi
(spasial) dan informasi deskriptif (attribute) yang dijelaskan berikut ini:
1. Informasi lokasi (spasial), berkaitan dengan suatu koordinat baik
koordinat geografi (lintang dan bujur) dan koordinat XYZ, termasuk
diantaranya informasi datum dan proyeksi.

III 2

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

2. Informasi deskriptif (atribut) atau informasi non-spasial, suatu lokasi


yang memiliki beberapa keterangan yang berkaitan dengannya,
contohnya:

jenis

vegetasi,

populasi,

luasan.

kode

pos

dan

sebagainya.

a. Format Data Spasial


Secara sederhana format dalam bahasa komuter berarti bentuk dan
kode penyimpanan data yang berbeda antara file satu dengan lainnya.
Dalam SIG, data spasial dapat direpresentasikan dalam dua format,
yaitu:

Data Raster
Data raster atau disebut juga dengan sel grid adalah data yang
dihasilkan dari sistem penginderaan jauh.Pada data raster, obyek
geografis direpresentasikan sebagai struktur sel grid yang disebut
dengan pixel (picture element).

Gambar 3.2. Data Raster


Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran
pixelnya. Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran
sebenarnya di permukaan bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada
citra. Semakin kecil ukuran permukaan bumi yang direpresentasikan
oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster sangat baik
untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual,
seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan

III 3

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

sebagainya. Keterbatasan utama dari data raster adalah besarnya


ukuran file; semakin tinggi resolusi gridnya semakin besar pula
ukuran filenya dan sangat tergantung pada kapasistas perangkat
keras yang tersedia.

Data Vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke
dalam kumpulan garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang
berawal dan berakhir pada titik yang sama), titik dan nodes
(merupakan titik perpotongan antara dua buah garis).

Gambar 3.3. Data Vektor


Keuntungan utama dari format data vektor adalah ketepatan dalam
merepresentasikan ditur titik, batasan dan garis lurus. Hal ini sangat
berguna untuk analisa yang membutuhkan ketepatan posisi, misalnya
pada basis data batas-batas kadaster. Contoh penggunaan lainnya
adalah untuk mendefinisikan hubungan spasial dari beberapa fitur.
Kelemahan data vektor yang utama adalah ketidak mampuannya
dalam mengakomodasi perubahan gradual.
Masing-masing format data mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Pemilihan format data yang digunakan sangat tergantung pada tujuan
penggunaan, data yang tersedia, volume data yang dihasilkan,
ketelitian yang diinginkan, serta kemudahan dalam analisa. Data
vektor relatif lebih ekonomis dalam hal ukuran file dan presisi dalam
lokasi,

tetapi

sangat

sulit

untuk

digunakan

dalam

komputasi

matematik. Sedangkan data raster biasanya membutuhkan ruang

III 4

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

penyimpanan file yang lebih besar dan presisi lokasinya lebih rendah,
tetapi mudah digunakan secara matematis.
b. Sumber Data Spasial
Salah satu syarat SIG adalah data spasial, yang dapat diperoleh dari
beberapa sumber antara lain:

Peta Analog
Peta analog (antara lain, peta topografi, peta tanah dan sebagainya)
yaitu peta dalam bentuk cetak. Pada umumnya peta analog dibuat
dengan teknik kartografi, kemungkinan besar memiliki referensi
spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya.

Dalam tahapan SIG sebagai keperluan sumber data, peta analog


dikonversi menjadi peta digital dengancara format raster diubah
menjadi

format

vektor

melalui

proses

digitasi

sehingga

dapat

menunjukkan koordinat sebenarnya dipermukaan bumi.

Data Sistem Penginderaan Jauh


Data Penginderaan Jauh (antara lain citra satelit, foto udara dan
sebagainya), merupakan sumber data yang terpenting bagi SIG karena
ketersediannya secara berkala dan mencakup area tertentu. Dengan
adanya

bermacam-macam

satelit

diruang

angkasa

dengan

spesifikasinya masing-masingm, kita bisa memperoleh berbagai jenis


citra satelit untuk beragam tujuan pemakaian.Data ini biasanya
direpresentasikan dalam format raster.

Data Hasil Pengukuran Lapangan


Data

pengukuran

lapangan

yang

dihasilkan

berdasarkan

teknik

perhitungan tersendiri, pada umumnya data ini merupakan sumber


data atribut contohnya: batas administrasi, batas kepemilikan lahan,
batas persil, batas hak pengusahaan hutan dan lain-lain.

Data GPS (Global Positioning System)


Teknologi GPS memberikan terobosan penting dalam menyediakan
data bagi SIG. Keakuratan pengukuran GPS semakin tinggi dengan
berkembangnya teknologi satelit navigasi.Pengolahan data yang
bersumber dari GPS biasanya dilakukan dalam format vektor.

III 5

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

1.3.3.Analisa Spasial
Karakteristik

utama

Sistem

Informasi Geografi

adalah

keampuan

menganalisissistem seperti analisa statistik dan overlay yang disebut


analisa

spasial.

Geografi

Analisa

dengan menggunakan Sistem Inormasi

yang sering digunakan dengan istilah analisa spasial , tidak

seperti sistem infrmasi yang lain yaitu dengan menambahkan imensi


ruang (space)atau geografi. Kombinasi ini menggambarkan attributattribut
jalan,

padabermacam
dan sebagainya,

fenomena seperti
yang

secara

umur

bersama

seseorang,

tipe

dengan informasi

seperti diman seseorang tinggal ataulokasi suatu jalan [Keele,1997].

2.1 Model Data Spasial Vektor dalam SIG


Model data vektor menampilkan, menempatkan dan menyimpan data spasial
dengan menggunakan titik, garis atau poligon beserta atribut-atributnya.
Bentuk-bentuk tersebut didefinisikan oleh sistem koordinat cartesian dua
dimensi (x,y). Representasi vektor suatu obyek spasial merupakan suatu usaha
menyajikan obyek sesempurna mungkin.
Untuk itu, dimensi koordinat
diasumsikan bersifat kontinyu (tidak dikuantisasi sebagaimana pada model data
raster) yang memungkinkan semua posisi, panjang dan dimensi didefinisikan
dengan presisi.
Model Data Vektor Titik
Model data vektor titik meliputi semua obyek geografis yang dikaitkan dengan
pasangan koordinat (x,y). Disamping informasi mengenai koordinat x,y, datadata yang diasosiasikan dengan titik harus disimpan guna menunjukkan jenis
titik yang bersangkutan . Data-data tersebut dapat memuat informasi seperti
ukuran tampilan dan orientasi simbol/titik tersebut. Gambar 4 menunjukkan
contoh model data vektor titik degan asosiasi informasinya.

11.05, 112.08, Masjid, Normal

Model Data Vektor Garis


Model data vektor garis didefinisikan sebagai semua unsur linear yang dibangun
dengan menggunakan segmen-segmen garis yang dibentuk oleh dua titik
koordinat atau lebih. Semakin pendek segmen-segmen garis, makin banyak

III 6

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

jumlah pasangan-pasangan koordinat (x,y) dan makin halus bentuk kurva yang
direpresentasikan. Korelasi antar data vektor garis yang menunjukkan informasi
yang sama (misal; pada jaringan sungai dan jalan) diperlukan suatu simpul
penghubung yang disebut dengan node. Gambar a menunjukkan model data
vektor garis dengan data asosiasinya, sedangkan Gambar b menunjukkan model
data vektor yang membentuk suatu jaringan.

node

(a)

(b)

Model data vektor garis dengan data asosiasinya (a), model data vektor yang
membentuk suatu jaringan (b)

Model Data Vektor Poligon


Struktur model data poligon bertujuan untuk mendeskripsikan properties yang
bersifat topologi dari suatu area (bentuk, hubungan/relasi dan hirarki)
sedemikian rupa, hingga properties yang dimiliki oleh obyek spasial dapat
ditampilkan dan dimanipulasi sebagai peta tematik. Model data vektor ini
merupakan sekumpulan segmen garis yang membentuk kurva tertutup dan
dicirikan dengan suatu nilai yang terdapat dalam seluruh luasan atau area kurva.

Model Data Vektor TIN


TIN adalah model data vektor yang berbasiskan topologi yang digunakan
untuk mempresentasikan data permukaan bumi.
TIN menyajikan model
permukaan sebagai sekumpulan bidang-bidang kecil yang berbentuk segitiga
yang saling terhubung. Informasi koordinat horizontal (x,y) dan vertikal (z) untuk
setiap titik yang terdapat di dalam jaringan TIN (yang kemudian dijadikan
sebagai node) dikodekan ke dalam bentuk-bentuk tabel.

III 7

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

1.2 Analisis Spasial


Kemampuan SIG juga dikenali dari fungsi-fungsi analisis yang dapat
dilakukan. Kemampuan analisis spasial menggunakan SIG dapat diklasifikasikan
bermacam-macam. Klasifikasi di bawah ini mengacu pada Aronoff (1989):
1. Pengukuran, query spasial dan fungsi klasifikasi
2. Fungsi Overlay
3. Fungsi Neighbourhood
4. Fungsi Network
5. Fungsi 3D Analyst
3.2.1 Pengukuran, Query Spasial dan Fungsi Klasifikasi
Fungsi ini merupakan fungsi yang meng-eksplore data tanpa membuat
perubahan yang mendasar, dan biasanya dilakukan sebelum analisis data.
Fungsi pengukuran mencakup pengukuran jarak suatu obyek, luas area baik
itu 2 dimensi atau 3 dimensi.
Query spasial dalam mengidentifikasikan obyek secara selektif, definisi
pengguna, maupun melalui kondisi logika. Contoh query spasial adalah
misalnya
Kita mencari suatu area yang kurang dari 400000 m2 pada area
peruntukan lahan (Gambar a). Fungsi klasifikai adalah mengklasifikasikan
kembali suatu data spasial (atau atribut) menjadi data spasial yang baru
dengan menggunakan kriteria tertentu. Misalnya, klasifikasi pendapatan
pertahun dari rumah tangga suatu daerah, dari kalsifikasi sebelumnya dibagi
menjadi 7 kelas menjadi 5 kelas klasifikasi (Gambar b).

III 8

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Gambar a. Query spasial dengan mencari daerah yang luasnya kurang dari
400000 m2

Gambar b. Klasifikasi pendapatan rumah tangga suatu daerah dari (kiri) 7


kelas klasifikasi menjadi (kanan) 5 kelas klasifikasi
Fungsi Overlay
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru dari minimal dua data spasial
yang menjadi dua data spasial yang menjadi masukannya. Sebagai
contoh, bila untuk menghasilkan wilayah-wilayah yang sesuai untuk
budidaya tertentu (misalnya kelapa sawit) diperlukan data ketinggian
permukaan bumi, kadar air tanah, dan jenis tanah, maka fungsi analisis
spasial overlay akan dilakukan terhadap ketiga data spasial (dan atribut)
tersebut. Prinsip overlay dapat dilihat pada Gambar di bawah ini. Fungsi
overlay ini juga dapat berlaku untuk model data raster.

III 9

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Prinsip dasar overlay untuk poligon. Dua buah poligon layer A dan B akan
menghasilkan data spasial baru (dan atribut) yang merupakan hasil interseksi
dari A dan B
Fungsi Neighborhood
Salah satu yang terdapat dalam dalam klasifikasi adalah Buffering.
Fungsi ini menghasilkan data spasial baru yang berbentuk poligon atau
area dengan jarak tertentu dari data spasial yang menjadi masukannya.
Data spasial titik akan menghasilkan data spasial baru yang berupa
lingkaran-lingkaran yang mengelilingi titik-titik pusatnya. Untuk data
spasial garis akan menghasilkan data spasial baru yang berupa poligonpoligon yang melingkupi garis-garis. Demikian pula untuk data spasial
poligon berupa poligon-poligon yang lebih besar dan konsenris.
Fungsi Network
Fungsi network merujuk data spasial titik-titik (points) atau garis-garis
(lines) sebagai suatu jaringan yang tidak terpisahkan. Fungsi ini sering
digunakan di dalam bidang-bidang transportasi, hidrologi dan utility
(misalnya, aplikasi jaringan kabel listrik, komunikasi, pipa minyak dan gas,
air minum, saluran pembuangan). Sebagai contoh dengan fungsi analisis
spasial network, untuk menghitung jarak terderka antara dua titik tidak
menggunakan jarak selisih absis dan ordinat titik awal dan titik akhirnya.
Tetapi menggunakan cara lain yang terdapat dalam lingkup network.
Pertama, cari seluruh kombinasi jalan-jalan (segmen-segmen) yang
menghubungkan titik awal dan akhir yang dimaksud. Pada setiap
kombinasi, hitung jarak titik awal dan akhir dengan mengakumulasikan
jarak-jarak segmen yang membentuknya. Pilih jarak terpendek (terkecil)
dari kombinasi-kombinasi yang ada. Salah satu aplikasi yang dapat
diterapkan menggunakan fungsi network adalah mencari urutan rute yang
optimal. Misalnya kita memiliki 3 tujuan yang harus di datangi. Dengan
menghitung efektifitas dan efisien kita dapat menentukan rute optimal
tujuan kita.

(a) urutan rute yang direncanakan (b) rute optimal

Fungsi 3D Analyst

III 10

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Fungsi 3 Dimensi terdiri dari sub-sub fungsi yang berhubungan dengan


presentasi data spasial dalam ruang 3 dimensi. Fungsi analisis spasial ini
banyak menggunakan fungsi interpolasi. Sebagai contoh, untuk
menampilkan data spasial ketinggian, tataguna tanah, jaringan jalan dan
utility dalam bentuk model dimensi, fungsi ini banyak digunakan. Gambar
6 menyajikan contoh penggunaan fungsi 3D analyst untuk pemboran
sumur minyak.

Contoh penggunaan fungsi 3DAnalsyt untuk aplikasi pertambangan


3.2.2 Konsep Dasar Spatial Overlay
Konsep dasar dari spatial overlay merupakan pengembangan atau
aplikasi dari operasi matematika yang telah kita kenal dan pelajari bersama,
dan mungkin sering kita temui atau digunakan dalam aktifitas sehari-hari.
Ada beberapa konsep dasar dari spatial overlay, sebagai berikut:
- Interseksi/Irisan (Intersection)
Interseksi adalah suatu operasi spasial untuk menentukan area/ruang
yang merupakan irisan dari dua area/poligon. Sebagai contoh:
Layer A
: Polygon dengan informasi tekstur tanah liat
Layer B
: Polygon dengan informasi pH > 7.0
Misal, tentukan area yang memiliki tekstur tanah liat dan pH>7. Daerah yang
di arsir pada ilustrasi di bawah ini menunjukkan area yang dicari.

AB
A

III 11

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Dari operasi interseksi di atas, dikembangkan lagi sehingga terdapat operasioperasi spasial yang didasarkan pada intersection, seperti contoh-contoh di
bawah ini: Tentukan area yang memiliki tekstur tanah liat dan pH<=7.
AB

Tentukan area yang mempunyai tekstur tanah liat, pH > 7.0, tetapi bukan
area yang merupakan daerah interseksi.

A XOR B
A

- Gabungan (Union)
Penggabungan dua atau lebih area/poligon menjadi satu kesatuan (area)
disebut sebagai proses gabungan (Union). Ilustrasi di bawah ini memberikan
penjelasan dari prose union.
Misalkan, tentukan area yang memiliki tekstur tanah liat atau pH>7.

AB
B

- Penelusuran (Query)
Penelusuran/query adalah suatu cara untuk mencari area yang memiliki satu
criteria tertentu. Misalkan kita mencari area yang memiliki tekstur tanah liat.
Atau kita mencari tanah yang memiliki pH>7. Pada dasarnya perbedaan
query dengan operasi sebelumnya adalah; interseksi, union dan atau
kombinasi keduannya merupakan penelusuran dengan menggunakan
criteria/kata kunci lebih dari satu, sedangkan query merupakan proses
pencarian dengan criteria/kata kunci tunggal.Kombinasi dari fungsi-fungsi
dasar tersebut di atas menghasilkan operasi-operasi spasial yang lebih

III 12

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

komplek, sebagai contoh ilustrasi di bawah ini: Tentukan area yang


mempunyai tekstur tanah liat dan pH > 7.0, atau area yang memiliki
drainase yang buruk.

A B OR C
B

III 13

Dissolve
Proses dissolve akan menggabungkan feature yang berada dalam satu
theme berdasarkan nilai dari attribute yang telah ditentukan. Proses ini
akan mengumpulkan beberapa feature yang mempunyai nilai yang sama
pada sebuah attribute yang telah ditentukan. Lihat Gambar berikut.

Merge
Merge merupakan suatu proses untuk membuat satu theme yang
mengandung feature yang berasal dari dua atau lebih theme. Dengan
kata lain, proses ini akan menambahkan feature dari dua atau lebih
theme ke dalam sebuah theme. Dalam proses ini, attribute yang
mempunyai nama yang sama akan tetap di simpan dan digunakan. Lihat
Gambar berikut.

Clip
Clip merupakan suatu proses untuk membuat sebuah theme baru dengan
meng-overlay-kan feature dari dua buah theme. Salah satu dari dua
theme tersebut haruslah merupakan poligon theme yang disebut overlay
theme. Proses clip menggunakan sebuah clip theme yang berfungsi
sebaga cookie cutter untuk mengclip sebuah input theme, namun
dalam prosesnya tidak mengubah attribute theme tersebut.
Lihat
Gambar berikut.

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Input Theme

Output Theme

Intersect
Proses Intersect digunakan untuk mengintegrasikan dua buah spasial
data. Dalam prosesnya, sebuah input theme akan integrasikan dengan
sebuah overlay theme untuk menghasilkan sebuah output theme. Output
theme mengandung feature dari overlay theme dan hanya feature dari
input theme yang overlaid dengan feature dari overlay theme. Feature
lainnya akan dihilangkan. Lihat Gambar berikut.

Input Theme

III 14

Clip Theme

LAPORAN AKHIR

Intersect Theme

Output Theme

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Union
Proses Union akan menghasilkan sebuah theme baru dengan mengoverlay-kan dua buah poligon theme yang mengandung seluruh feature
dan attribute (full extent) dari dua buah polygon theme tersebut. Lihat
Gambar berikut.

Input Theme

III 15

Union Theme

Output Theme

Assign Data by Location


Proses Assing Data by Location akan melakukan sebuah spasial join dari
dua buah theme yang ditentukan berdasarkan hubungan spasial (spatial
relationship) antara feature dari kedua buah theme tersebut. Lihat
Gambar berikut.

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

III 16

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

Diagram Alir Proses Analisa


Spasial

LAPORAN AKHIR

III 17

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

1.3.4. Pemahaman GPS


GPS

(Global

Positioning

System)

merupakan

sistem

navigasi satelit yang dikembangkan oleh Departemen


Pertahanan Amerika Serikat (US DoD = United States
Department

of

Defense).

GPS

memungkinkan

kita

mengetahui posisi geografis kita (lintang, bujur, dan


ketinggian di atas permukaan laut).Jadi dimanapun kita
berada di muka bumi ini, kita dapat mengetahui posisi kita
dengan tepat.
GPS terdiri dari 3 segmen yaitu segmen angkasa, kontrol/pengendali, dan
pengguna.
a. Segmen Angkasa: terdiri dari 24 satelit yang beroperasi dalam 6
orbit pada ketinggian 20.200 km dan inklinasi 55 derajat dengan
periode 12 jam (satelit akan kembali ke titik yang sama dalam 12
jam). Satelit tersebut memutari orbitnya sehingga minimal ada 6
satelit yang dapat dipantau pada titik manapun di bumi ini. Satelit
tersebut mengirimkan posisi dan waktu kepada pengguna seluruh
dunia.
b. Segmen Kontrol/Pengendali: terdapat pusat pengendali utama yang
terdapat di Colorado Springs, dan 5 stasiun pemantau lainnya dan 3
antena yang tersebar di bumi ini. Stasiun pemantau memantau
semua satelit GPS dan mengumpulkan informasinya. Stasiun
pemantau kemudian mengirimkan informasi tersebut kepada pusat
pengendali utama yang kemudian melakukan perhitungan dan
pengecekan

orbit satelit.

mengumpulkan

Memantau

informasinya.

semua satelit GPS

Stasiun

pemantau

dan

kemudian

Informasi tersebut kemudian dikoreksi dan dilakukan pemuktahiran


dan dikirim ke satelit GPS.
c. Segmen Pengguna: Pada sisi pengguna dibutuhkan penerima GPS
(selanjutnya kita sebut perangkat GPS) yang biasanya terdiri dari
penerima, prosesor, dan antenna, sehingga memungkinkan kita

III 18

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

dimanapun kita berada di muka bumi ini (tanah, laut dan udara)
dapat menerima sinyal dari satelit GPS dan kemudian menghitng
posisi kecepatan dan waktu.
Cara kerja GPS adalah sebagai berikut:
a. Setiap satelit mentransmisikan dua sinyal yaitu L1 (1575.42 MHz)
dan L2 (1227.60 MHz). Sinyal L1 dimodulasikan dengan dua sinyal
pseudo-random

yaitu

kode

(Protected)

dan

kode

C/A

(coarse/aquisition). Sinyal L2 hanya membawa kode P. Setiap satelit


mentransmisikan kode yang unik sehingga penerima (perangkat
GPS) dapat mengidentifikasi sinyal dari setiap satelit. Pada saat fitur
Anti-Spoofing diaktifkan, maka kode P akan dienkripsi dan
selanjutnya dikenal sebagai kode P(Y) atau kode Y. Perangkat GPS
yang dikhususkan buat sipil hanya menerima kode C/A pada sinyal
L1

(meskipun

pada

perangkat

GPS

yang

canggih

dapat

memanfaatkan sinyal L2 untuk memperoleh pengukuran yang lebih


teliti.
b. Perangkat GPS menerima sinyal yang ditransmisikan oleh satelit
GPS. Dalam menentukan posisi, kita membutuhkan paling sedikit 3
satelit untuk penentuan posisi 2 dimensi (lintang dan bujur) dan 4
satelit untuk penentuan posisi 3 dimensi (lintang, bujur, dan
ketinggian). Semakin banyak satelit yang diperoleh maka akurasi
posisi kita akan semakin tinggi. Untuk mendapatkan sinyal tersebut,
perangkat GPS harus berada di ruang terbuka.
Perangkat GPS menerima sinyal dari satelit dan kemudian melakukan
perhitungan sehingga pada tampilan umumnya kita dapat mengetahui
posisi (dalam lintang dan bujur), kecepatan, dan waktu. Disamping itu juga
informasi tambahan seperti jarak, dan waktu tempuh. Posisi yang
ditampilkan merupakan sistem referensi geodetik WGS-84 dan waktu
merupakan referensi USNO (United States Naval Observatory Time).
GPS dipergunakan pada berbagai bidang antara lain, sistem navigasi
pesawat, laut dan darat, pemetaan dan geodesi, survei, sistem penentuan
lokasi, pertanian, eksplorasi sumber daya alam, dan masih banyak lagi.
Teknologi GPS dapat digunakan oleh siapa saja, yang kita butuhkan hanya

III 19

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN

membeli perangkat penerima GPS dan selanjutnya informasi posisi dapat


kita dapatkan tanpa membayar apapun.
GPS memiliki dua tingkat ketelitian:
Sistem posisi standar (standard positioning system/SPS). SPS
disediakan umum (sipil). Tingkat akurasi yang dihasilkan adalah 100
m untuk posisi horisontal dan 150 meter untuk posisi vertikal.
Sistem

posisi

presisi

(precision

positioning

system/PPS).

PPS

digunakan oleh Departemen Pertahanan AS dan tidak disediakan


untuk umum.
Sejak Mei 2000, Pemerintah AS telah meningkatkan akurasi untuk
SPS dengan menon-aktifkan SA (selective availability) hingga 20
meter untuk posisi horisontal.

III 20

LAPORAN AKHIR

PEMBUATAN PETA RAWAN BENCANA KOTA PADANGSIDIMPUAN