You are on page 1of 25

ARTHROPODA

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

:Resti Triani Agustini


: B1J013208
: IV
:5
: Ezza Jidastya Sugadang

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Klasifikasi makhluk hidup bertujuan untuk membantu dalam mengenali atau
mempelajari makhluk hidup yang begitu banyak dan beraneka ragam sifat serta
ciricirinya. Manfaat klasifikasi adalah untuk mengetahui jenis-jenis makhluk hidup
dan hubungan antar makhluk hidup sehingga menjadi lebih mudah diketahui
kekerabatan antar makhluk hidup yang beraneka ragam. Makhluk hidup yang
diklasifikasikan dalam satu kelompok atau takson tertentu memiliki persamaanpersamaan sifat dan ciri-ciri. Identifikasi merupakan tugas untuk mencari dan
mengenal ciri-ciri taksonomik individu yang beraneka ragam dan memasukkannya
ke dalam suatu takson (Kotellat et al., 1993).
Identifikasi penting dalam mencari kebenaran terhadap suatu species.
Tahapan

dalam

klasifikasi

adalah

pencanderaan

ciri-ciri

makhluk

hidup,

pengelompokkan berdasarkan ciri-ciri, dan pemberian nama takson (Kotellat et al.,


1993). Identifikasi adalah tugas untuk mencari dan mengenal ciri-ciri taksonomi
individu yang beraneka ragam dan memasukkannya dalam suatu takson (Mayr,
1969). Klasifikasi hewan adalah pengelompokan berdasarkan kesamaan bentuk dan
fungsi pada tubuh hewan.Tujuan klasifikasi itu sendiri adalah untuk memudahkan
mengenali jenis- jenis hewan serta memudahkan komunikasi di dalam biologi.
Klasifikasi hewan bersifat dinamis. Hal itu disebabkan beberapa kemungkinan
seperti adanya perkembangan pengetahuan tentang hewan, penggunaan karakter
yang berbeda dalam klasifikasi.Klasifikasi hewan didasarkan atas persamaan dan
perbedaan karakter tertentu pada hewan yang bersangkutan (Mayr, 1969).
Kingdom animalia meliputi organisme mulai dari filum Porifera sampai
dengan filum Chordata yang secara garis besar dikelompokkan menjadi hewan
Vertebrata dan Avetebrata atau Invertebrata.Kelompok hewan tidak bertulang
belakang (invertebrata) merupakan kelompok hewan yang lebih rendah tingkatannya
dibandingkan kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) (Waluyo, 2012).
Menurut Mayr (1969), di dunia ini terdapat 40 phyla hewan avertebrata. Terdapat
berbagai parameter untuk mengelompokkan hewan-hewan avertebrata diantaranya
dikelompokkan atas dasar banyaknya sel penyusun tubuh, hewan avertebrata dibagi
atas 2 kelompok yaitu avertebrata bersel satu (uniseluler, Protozoa) yang dapat hidup

secara soliter atau berkoloni dan avertebrata bersel banyak (Metazoa) yang dapat
berkonstruksi seluler, jaringan atau organ. Berdasarkan konstruksi tubuh, struktur
tubuh hewan avertebarata dapat berupa kontruksi seluler (pada Porifera),
berkontruksi jaringan (Cnidaria dan Ctenophora) dan berkonstruksi organ (Metazoa).
Hampir 90 % dari seluruh jenis hewan yang diketahui orang adalah
Arthropoda.Arthropoda merupakan invertebrate yang berkontruksi tubuh organ
dianggap berkerabat dekat dengan Annelida, contohnya adalah Peripatus di Afrika
Selatan. Hewan ini adalah jenis cacing beludru yang dianggap setengah cacing dan
setengah

Arthropoda.

dunia hewan mencakup

Arthropoda

adalah

filum

paling

besar

dalam

dan

hewan

sejenis

serangga, laba-laba, udang, lipang

lainnya. Arthropoda adalah nama lain hewan berbuku-buku. Arthropoda biasa


ditemukan di laut, air tawar, darat, dan lingkungan udara, termasuk berbagai bentuk
simbiosis dan parasit. Hampir dari 90% dari seluruh jenis hewan yang diketahui
orang

adalah Arthropoda.

Arthropoda memiliki

beberapa

karakteristik

yang

membedakan dengan filum yang lain yaitu : Tubuh bersegmen; segmen biasanya
bersatu menjadi dua atau tiga daerah yang jelas, anggota tubuh bersegmen
berpasangan (asal penamaan Arthropoda), simetri bilateral, eksoskeleton berkitin;
secara berkala mengalir dan diperbaharui sebagai pertumbuhan hewan, ekskresi
melintas keluar lewat anus, respirasi dengan insang atau trakea dan spirakel, tidak
ada silia atau nefridia (Rusyana, 2011).
B. Tujuan
Tujuan praktikum acara Arthropoda, antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota Filum Arthropoda
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Filum Arthropoda.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Identifikasi berhubungan dengan ciri-ciri taksonomik dalam jumlah sedikit
(idealnya satu ciri), akan membawa spesimen ke dalam satu urutan kunci identifikasi,
sedangkan klasifikasi berhubungan dengan upaya mengevaluasi sejumlah besar ciriciri (idealnya seluruh ciri yang dimiliki). Proses mengidentifikasi yaitu dimulai
dengan mengenali sifat dan tanda yang terdapat pada tubuh individu yang akan
diidentifiaksi dan disesuaikan dengan bagian-bagian nomor yag ada, kemudian
dilanjutkan pada nomor utama yang tercantum di belakang bagian-bagian yang
sesuai dengan sifat atau tanda yang ada pada benda/individu yang diidentifikasi
tersebut sehingga didapat nama spesiesnya. Jika yang diidentifikasi adalah hewan
akan didapat sub kelasis, ordo, subordo, famili, genus, subgenus dan spesies.
Langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mengadakan identifikasi terhadap
individu yaitu pencanderaan sifat-sifat, pengelompokkan berdasarkan ciri-ciri dan
pembagian nama kelompok. Mendeskripsikan tiap ciri baik secara morfologi,
anatomi, fisiologi, biokimia maupun genetika, spesies yang harus diteliti harus
diperhatikan dan dijadikan sebagai data utama (Mayr, 1969).
Langkah selanjutnya yaitu dibandingkan dengan data acuan yang telah ada
ketika suatu pola kemiripan maka masukkan spesies tersebut pada kelompok acuan.
Langkah terakhir yaitu setelah dikelompokkan, kelompok-kelompok tersebut akan
diberi nama sesuai dengan karakteristik umum spesies yang ada di dalamnya. Bila
diidentifkasi sudah masuk tahap yang spesifik, maka persamaan yang dimiliki oleh
suatu spesies yang berbeda ciri akan dimasukkan pada kelompok yang berbeda pula.
Misal, objek utama: merpati, objek acuan: bebek dan ayam. Merpati dapat
dikelompokkan dengan bebek dan ayam berdasarkan bentuk tubuh (adanya paruh,
sayap dan merupakan hewan ovipar). Terakhir, setelah dikelompokkan, maka
kelompok tersebut akan diberikan nama sesuai dengan karakteristik umum spesiesspesies yang ada di dalamnya (Eahran, 2000).
Determinasi yaitu membandingkan suatu tumbuhan dengan satu tumbuhan lain
yang sudah dikenal sebelumnya (dicocokkan atau dipersamakan) karena di dunia ini
tidak ada dua benda yang identik atau persis sama, maka istilah determinasi (Inggris
to determine yang berarti menentukan, memastikan) dianggap lebih tepat daripada
istilah identifikasi (Inggris to identify yang berarti mempersamakan). Dalam

melakukan identifikasi maupun determinasi digunakan kunci determinasi (Rifai,


1976).
Menurut Jasin(1989), Kunci determinasi adalah kunci jawaban yang
digunakan untuk menetapkan identitas suatu individu.Bentuk kunci determinasi yang
paling umum dipakai adalah kunci analisis atau disebut juga kunci dikotomi
(tersusun menggarpu). Kunci dikotomi ini disusun atas dasar pengelompokkan ciriciri makhluk hidup menjadi dua kelompok yang berbeda. Dengan menggunakan
dasar persamaan dan perbedaan ciri-ciri makhluk hidup tersebut, selanjutnya
dilakukan pengelompokkan lagi menjadi dua kelopok sehingga akhirnya diperoleh
ciri-ciri yang tidak dapat dibedakan dalam kelompok-kelompok lagi. Dalam
penyusunan tabel dikotomi, pada setiap nomor selalu disusun dua pertanyaan a dan b
yang tiap kali merupakan pertanyaan kebalikan. Pada akhir tiap pertanyaan
didapatkan nomor baru yang menunjukkan arah berikutnya. Di sana terdapat
pertanyaan a dan b lagi dan seterusnya. Pada suatu ketika akan sampai pada a dan b
yang di belakangnya. Kunci dikotom terdiri dari sederetan pernyataan yang terdiri
dari dua baris dengan ciri yang berlawanan (Lewis, 2008).Kunci identifikasi
merupakan suatu alat yang diciptakan khusus untuk memperlancar proses identifikasi
makhluk hidup. Kunci identifikasi dibuat secara bertahap dengan memilih dua sifat
yang saling bertentangan. Langkah dari pembuatan kunci identifikasi dengan cara
menentukan spesies yang akan dibuat kunci identifikasinya. Melihat dari karakter
morfologi yang dimiliki spesies tersebut, ada dua karakter yang berlainan untuk
membedakan dengan spesies lainnya, serta menggunakan referensi buku sebagai
pedoman dalam pembuatan kunci identifikasi. Menurut Clifford & Stephenson
(1975) proses pembuatan kunci identifikasi harus memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1. Ciri yang dimasukkan mudah diobservasi
2. Menggunakan karakter positif dan mencakup seluruh variasi dalam grupnya
3. Deskripsi karakter menggunakan istilah umum yang dapat dimengerti oleh orang
4. Kalimat yang digunakan harus singkat
5. Mencantumkan nomor couplet
6. Pembuatan kunci identifikasi dimulai dari ciri umum terlebih dahulu, kemudian
ciri khusus dari sautu organisme.

Klasifikasi merupakan proses menemukan sekumpulan model atau fungsi yang


menggambarkan dan membedakan konsep atau kelas-kelas data. Tujuannya adalah
agar model tersebut dapat digunakan untuk memprediksi kelas dari suatu objek atau
data yang label kelasnya tidak diketahui. Verifikasi merupakan tahap terakhir dari
identifikasi. Verifikasi dalam arti yang ketat (strong verifiable) yaitu sejauh mana
kebenaran suatu proposisi (duga-dugaan) itu mendukung pengalaman secara
meyakinkan. Verifikasi dapat juga diartikan sebagai suatu bentuk pengecekan
kembali semua dokumen melalui pengujian terhadap dokumen secara administratif
dengan pedoman dan kriteria yang berlaku.(Mayr, 1969).
Arthropoda merupakan filum besar yang anggotanya meliputi 4/5 dari jumlah
hewan yang ada. Arthropoda (Yunani: Arthros = sendi; podos = kakii).Ciri-ciri umum
yang dimiliki arthopoda adalah tubuhnya simetri bilateral, terdiri atas segmensegmen yang saling berhubungan dibagian luar dan memiliki tiga lapisan germinal
sehingga merupakan hewan tripoblastik.Tubuhnya memiliki kerangka luar dan
dibedakan atas kepala, dada, serta perut yang terpisah atau bergabung menjadi
satu.Setiap segmentubuh memiliki sepasang alat gerak atau tidak ada.Tubuh
bersegmen, mempunyai kulit keras terbuat dari zat kitin yang berfungsi sebagai
eksoskelet. Kulit akan mengalami pengelupasan (eksdisis) dalam interval waktu
tertentu, bernafas dengan insang atau trakea. Hidup pada habitat aquatik dan
terrestrial.Respirasinya

menggunakan paru-paru

buku, trakea,

atau

dengan

insang.Pada spesies terestial bernapas menggunakan trakea atau pada arachinida


menggunakan paru-paru buku atau menggunakan keduanya yaitu paru-paru dan
trakea.Ekskresi dengan menggunakan tubukus Malpighi atau kelenjar koksal.Saluran
pencernaan sudah lengkap, terdiri atas mulut, usus, dan anus, sarafnya merupakan
system saraf tangga tali.Berkelamin terpisah, fertilisasi terjadi secara internal, dan
bersifat ovipar.Perkembangan individu baru terjadi secara langsung melalui stadium
larva (Moore, 2006). Arthropoda terdiri dari sub filum yang peranannya besar bagi
kehidupan manusia, yaitu Trilobita, Chelicerata, Crustacea, myriapoda,dan hexapoda.
Hanya kelas Crustacea yang habitatnya aquatik, sedangkan empat kelas lainnya pada
umumnya merupakan organisme terestrial terutama di habitat khusus dalam
ekosistem perkebunan (Brotowidjoyo, 1990).Trilobita diperkirakan hidup pada era
Palaeosoic, terutama semasa kala (periode) Cambrian dan Ordovician, kira-kira 600150 juta tahun yang lalu. Hanya fosilnya saja yang dikenal (Ross, 1982)
1. Chelicerata

Chelicerata berasal dari bahasa Yunani chele berarti capit dan keros yang
artinya tanduk. Kelompok Chelicerata ini dikenal karena anggotanya mempunya
alat mulut berupa chelicera yang terdiri dari dua segmen chelicerae merupakan
pelengkap pasangan paling anterior dari prosomal dan biasanya digunakan untuk
makan. Chelicerata meliputi berbagai jenis laba-laba, kalajengking, tungau, dan
mimi. Kebanyakan anggotanya berukuran kecil dan terdapat di daerah yang
kering dan hangat, namun beberapa hidup di peraianan. Chelicerata termasuk
dalam filum Arthropoda. Banyak jenis Chelicerata yang mempunyai kelenjar
racun yang terdapat dirahang atau taring racun sebagai sarana untuk membunuh
mangsa, kemudian menghisap cairan tubuh atau jaringan lunaknya. Gigitan atau
sengatan berbagai jenis laba-laba atau kalajengking menimbulkan kesakitan
bahkan kematian. Beberapa jenis tungau merupakan hama tumbuhan dan jenis
lainnya, juga sebagai parasit pada manusia dan ternak atau menjadi inang
perantara berbagai protozoa dan virus yang menyebabkan penyakit tertentu.
Tubuh biasanya terdiri atas cephalothorax dan abdomen yang tampak jelas,
kecuali pada Acarina. Pada cephalothorax terdapat enam pasang apendik bersendi
, yaitu sepasang chelicerae, sepasang pedipalpi dan empat pasang kaki. Antena
dan mandibel tidak. Chelicerata merupakan sufilum dari Merostomata,
Arachnida, Xiphosura, kelompok yang punah Eurypterida dan Chasmataspidida
dan juga Pycnogonida (Sharma, 2012).
Merostomata adalah kelompok hewan-hewan laut dengan bentuk mirip
cakram dengan organ mirp ekor (telson) yang lancip dan agak panjang. Anggota
kelas ini adalah mimi yang merupakan hewan prasejarah yang telah ada sejak
jaman dahulu kala. Kelas Arachnida memiliki chelisera sebagai alat makan, di
dekatnya biasanya terdapat pedipalpi yang berfungsi sebagai alat potong. Alat
potong ini mengalami modifikasi menjadi capit pada kalajengking. Kelas ini
beranggotakan ordo opiliones, scorpiones, araneae, dan acari. Ordo piliones
beranggotakan dady longlegs, scorpiones beranggotakan kalajengking, araneae
beranggotakan laba-laba, sedangkan acari beranggotakan kutu dan kutu busuk.
Kelas Pynognida ini adalah kelompok untuk laba-laba laut. Hewan mirip labalaba berukuran kecil yang hidup di laut. Mereka umumnya adalah parasit pada
hewan lain atau predator pemakan anemone (Hickman, 2001).
2. Crustacea

Subfilum ini merupakan hewan akuatik (air) yang terdapat di air laut dan air
tawar. Kata Crustacea berasal dari bahasa latin yaitu kata Crusta yang berarti
cangkang yang keras. Ilmu yang mempelajari tentang crustacean adalah
karsinologi.Jumlah udang di perairan seluruh dunia diperkirakan sebanyak 343
spesies yang potensial secara komersil.Keseluruhan dari jumlah itu, 110 spesies
termasuk didalam famili Penaidae. Udang digolongkan kedalam Filum Arthropoda
dan merupakan Filum terbesar dalam Kingdom Animalia. Klasifikasi Crustacea
dibagi menjadi 2 sub-kelas, yaitu Entomostraca (udang-udangan rendah)dan
Malacostrata (udang-udangan besar). Entomostraca umumnya berukuran kecil
danmerupakan zooplankton yang banyak ditemukan di perairan laut atau air tawar
(Demarjati et al., 1990).
3. Myriapoda
Hewan-hewan dalam kelas ini memiliki banyak kaki.Myriapoda merupakan
subfilum yang terdiri dari kelas Chilopoda dan Diplopoda.Subfilum ini memiliki
ruas-ruas tubuh dengan jumlah kaki satu pasang atau dua pasang setiap ruasnya.
Chilopoda disebut juga dengan centipede. Tubuhnya secara dorsoventrral pipih,
terdiri dari 15-173 segmen, masing-masing dengan satu pasang kaki, kecuali pada
dua buah segmen terakhir dan satu segmen dibelakang kepala. Segmen dibelakang
kepala terdapat sepasang cakar racun yang disebut maxilleped yang berguna untuk
membunuh mangsanya.Antenanya panjang memiliki kira-kira 12 segmen.Makanan
Chilopoda adalah insekta, molusca, dan bintang kecil lainnya.Alat pencernaan
makanannya sempurna artinya dari mulut sampai dengan anus ada.Kedalam
pencernaan makanan ini menempel dua buah saluran Malpighi yang berfungsi
sebagai alat eksresi.Respirasi dengan menggunakan trachea yang bercabang-cabang
dengan lubang yang terbuka pada hampir setiap segmen. Alat reproduksi terpisah,
pembuahan terjadi secara internal dan alat reproduksi ini dihubungkan dengan
beberapa kelenjar accessories.Telur yang telah dibuahi diletakkan dibawah batu,
dibawah sampah, atau ditutupi oleh tanah. Chilopoda menarik sedikit perhatian
sebagian karena, meskipun beberapa spesies berwarna cerah, sebagian besar hewan
uncharismatic, bahkan dibandingkan dengan lainnya.myriapoda dengan 15 atau lebih
pasang kaki dan satu pasang kaki per segmen, berbeda dengan kaki seribu (kelas
Diplopoda), yang memiliki dua pasang per segmen (Sisto, 2014).

Diplopoda disebut millipede. Tubuhnya subsilindris, dan terdiri atas 25 atau


lebih dai 100 segmen tergantung pada spesiesnya. Hampir setiap segmen memiliki
dua pasang kaki.Diperkirakan bahwa segmen tersebut merupakan gabungan dari dua
buah segmen.Satu atau dua kaki pada segmen yang ke tujuh mengalami modifikasi
sebagi organ kopulasi.Bagian-bagian mullut terdiri atas sepasang mandibula dan
sepasang maxilla.Hewan ini juga mempunyai sepasang antenna dan mata.Pada
bagian antena terdapat rambut-rambut pencium serta sepasang kelenjar pembau pada
tiap-tiap segmennya, terbuka kearah ventral.Kelenjar bau atau kelenjar repugnatorial
memiliki racun yang disebut asam hydrocianin.Pada beberapa spesiesdaerah ini
dapat menyebarkan zat tersebut hampir satu meter.Di daerah tropis ada yang dapat
menyebabkan kebutuhan pada anak-anak. Tabung pernafasan umumnya tidak
bercabang dan keluar sebagai tonjolan dari sebuah kantung yang terbuka tepat
disebelah depan kakinya. Eksresi dengan menggunakan dua atau empat saluran
Malphigi. Jantung merupakan pembuluh dorsal dengan ostila lateral, dari bagian ini
akan keluar arteri-arteri kebagian kepala. Diplopoda bergerak sangat lambat
meskipun memiliki kaki yang banyak.Beberapa diantara hewan-hewan yang
termasuk Diplopoda dapat menggabungkan dirinya menjadi bentuk seperti bola atau
spiral. Hal ini terjadi bila hewan terzebut diganggu. Hewan ini hidup pada tempat
yang gelap, lembab, dan pada yang banyak mengandung tumbuh-tumbuhan yang
yang telah membusuk sebagai makanannya.Alat reproduksinya terpisah (derumah
dua), telur yang telah dibuahi diletakkan pada tanah yang lembab. Hewan yang baru
menetas mempunyai beberapa segmen dengan tiga pasang kaki (Alan, 1994)
4. Insekta
Subfilum ini termasuk dalam filum arthropoda.Insecta sering disebut serangga
atau heksapoda.Heksapoda berarti hewan berkaki enam.Diperkirakan jumlah insecta
lebih dari 900.000 jenis yang terbagi dalam 25 ordo. Anggota insekta sangat
beragam, tetapi memiliki ciri khusus,yaitu kakinya berjumlah enam buah,sehingga
disebut juga hexapoda ( hexa = enam, podos = kaki ). Tubuh terbagi menjadi tiga
bagian yaitu kepala, dada, dan perut.Insekta merupakan satu-satunya invertebrata
yang dapat terbang, dengan ukuran tubuh yang beragam.Dengan habitat yang sangat
luas insekta mempunyai peranan yang penting dalam kehidupan manusia.peranan
yang menguntungkan antara lain: penyerbukan tanaman oleh lebah atau insekta lain,

tetapi ada juga yang merugikan, misalnya wereng coklat menyerang hektaran
tanaman padi. secara umum karakteristik insekta yaitu tubuh terbagi menjadi tiga
bagian, yaitu kaput (kepala), toraks (dada), dan abodemen (perut).memiliki sepasang
kaki pada setiap segmen toraks, sehingga jumlah kakinya tiga pasang dan berfungsi
untuk berjalan .kebanyakan insekta memiliki sayap pada segmen kedua dan segmen
ketiga di daerah dada, pada jenis lain sayapnya tereduksi bahkan ada yang tidak
memiliki sayap.makanan insekta ada yang berupa sisa organisme lain, ada yang
hidup sebagai parasit dalam tubuh (tumbuhan, hewan bahkan manusia), serta
bersimbiosis dengan organisme lain.alat pernapasan insekta berupa trakea.alat ekresi
berupa tubulus malpighi yang terletak melekat pada bagian posterior saluran
pencernaan .sistem sirkulasinya terbuka.organ kelamin insekta berumah dua artinya
insekta jantan dan insekta betina terpisah, alat kelaminnya terletak pada segmen
terakhir dari abodemen .fertilasi terjadi secara internal. insekta mengalami ekdisis
pada tahap tertentu selama perkembangan hidupnya (Johnson, 1992).
Berdasarkan ada tidaknya sayap, insekta dikelompokkan menjadi dua sub kelas,
yaitu Insekta tidak bersayap, Insekta ini dikelompokkan dalam sub kelas Apterygota
dan insekta bersayap dikelompokkan dalam sub kelas Pterygota. Sub kelas
Apterygota ini memiliki ciri-ciri, yaitu tidak bersayap, tidak mengalami
metamorfosis (ametabola), tipe mulutnya menggigit, batas antara kepala, dada, dan
perut tidak jelas, antenanya panjang tidak beruas-ruas, contoh speciesnya yaitu kutu
buku (Lepisma sacharina), kutu buku dapat merusak buku karena dapat
mengeluarkan enzim selulase.Sub kelas Pterygota memiliki ciri-ciri, yaitu memiliki
sayap, mengalami metamorphosis, tipe mulutnya bervariasi (Johnson, 1992).
Berdasarkan asal tumbuhnya sayap sub kelas Pterygota dibedakan menjadi dua
kelompok, yaitu Eksopterygota, adalah kelompok Insekta yang sayapnya berasal dari
tonjolan

luar

dinding

tubuh.Berdasarkan

tipe

sayap,

tipe

mulut,

dan

metamorfosisnya, eksopterygota dibedakan menjadi beberapa ordo yaitu ordo


Isoptera (Insekta bersayap sama), ordo Orthoptera (Insekta bersayap lurus) , ordo
Hemiptera (memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan satu pasang seperti
berkulit dan sayap belakang transparan), ordo Odonata (memiliki dua pasang sayap
tipis seperti selaput). Endopterygota, adalah kelompok Insekta yang sayapnya berasal
dari tonjolan kearah dalam dinding tubuh. Berdasarkan tipe sayap, tipe mulut, dan

metamorfosisnya, endoptrygota dibedakan menjadi beberapa ordo yaitu ordo


Coleoptera (memiliki dua pasang sayap, yaitu sayap depan dan sayap belakang.
Sayap depan tebal dan permukaan luarnya halus yang mengandung zat tanduk
sehingga disebut elytra, sedangkan sayap belakang tipis seperti selaput), ordo
Hymenoptera (memiliki , ordo Diptera(memiliki satu pasang sayap depan dan sayap
belakang mengalami redukasi membentuk halter sebagai alat keseimbangan), ordo
Lepidoptera (memiliki dua pasang sayap yang bersisik halus) (Johnson, 1992).
Preparat yang digunakan dalam praktikum yaitu
1. Nephila pilipes (Golden Orb Spider) adalah spesies umum laba-laba yang dapat
ditemukan di hutan primer dan sekunder dari Singapura (Kuntner, 2012). Spesies
ini dikenal masyarakat karena kemampuannya untuk membangun jaringlaba-laba
besar, spektakuler dengan sutra yang lebih kuat dari kevlar. Namun, sehingga
dengan jaring besar

berarti mangsa lebih mudah tertangkap, namun rentan

terhadap parasite. Seperti semua laba-laba dari keluarga Nephilidae, betina


mengalami gigantisme dengan ukuran besar laba-laba betina dewasa, mencapai
panjang tubuh 40mm ke 50mm (Robinson, 1973). Klasifikasi menurut Fabricius
(1787),
Kingdom:
Phylum:
Class:
Order:
Suborder:
Family:
Genus:
Species:

Animalia
Arthropoda
Arachnida
Araneae
Araneomorphae
Nephilidae
Nephila
N. pilipes

2. Argiope appensa
Hewan ini adalah spesies laba-laba yang tergolong familia Araneidae.Spesies ini
juga merupakan bagian dari genus Argiope dan ordo Araneae.Laba-laba ini
ditemukan di beberapa pulau di Samudera Pasifik Barat.Telah diperkenalkan ke
Hawaii, dan ditemukan di Taiwan dan New Guinea.Habitat spesies ini mendiami
berbagai habitat, dari pantai ke hutan.Betina mencapai panjang tubuh hingga 7 cm
dan mencolok hitam dan kuning, sedangkan jantan berwarna coklat hanya mencapai
sekitar 2 cm. Di Hawaii mereka disebut laba-laba kebun sebagai Hawaii '. Di Guam,

Argiope appensa sering disamakan dengan Argyrodes argentatus. Penduduk setempat


ada merujuk mereka sebagai laba-laba pisang.Klasifikasi menurut Fabricius (1787),
Kerajaan:
Filum:
Kelas:
Ordo:
Famili:
Genus:
Spesies:

Animalia
Arthropoda
Arachnida
Araneae
Araneidae
Argiope
Argiope appensa

3. Yutuk (Undur-undur laut)


Yutuk adalah salah satu ordo decapoda yang dapat ditemukan di pantai berpasir
Kebumen yang memiliki sebaran dan kelimpahan yang relatif tinggi (Mursyidin,
2007). Undur-undur laut atau dikenal sebagai yutuk yang ditemukan di pantai
Kebumen terdapat 3 jenis, yaitu Emerita emeritus, Hippa adactyla, dan Albunea
symmysta.Jenis Emerita emeritus merupakan jenis undur-undur laut paling banyak
ditemukan di pantai berpasir Kebumen.
Klasifikasi Hippa adactyla menurut Fabricius (1787),
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Famili

: Hippidae

Genus

: Hippae

Spesies

: Hippa adactyla
Hippa adactyla merupakan spesies lain dari yutuk yang termasuk Crustaceae

dengan karapas yang menutupi tubuh, Antennal flagela terdiri dari 3-7 (biasanya 5)

artikel. Pereopod Saya dactylus flattish. Pereopods II dan III masing-masing dengan
dactyli indent yang berbeda dipotong menjadi sudut kanan tepi dorsal. Telson dengan
margin lateral yang hampir lurus; apex sempit bulat. Karapas dan perut umumnya
abu-abu kebiruan, margin dan pegunungan di karapas dan anteriordari somit perut
coklat kemerahan atau coklat kebiruan dengan berbagai teratur berbentuk, putih atau
pucat dengan tanda coklat.Segmen distal pedunculus mata putih, dengan tanda
coklat.Peduncles Antennular dan flagella abu-abu atau kebiruan coklat.Pereopod
Icoklat umumnya kebiruan, kadang-kadang dengan tanda putih tidak teratur
berbentuk, margin segmen kadang kemerahan coklat.Pereopods II dan III putih
dactyli.
Klasifikasi Emerita emeritus menurut Fabricius (1787),
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Famili

: Hippidae

Genus

: Emerita

Spesies

: Emerita emeritus

Emerita sp.

termasuk kedalam subphyllum

Crustacea,

yang

secara umum berkerabat dengan udang (shrimp), kepiting (crab), lobster, dan teritip
(barnacle).Hewan ini mempunyai struktur tubuh (morfologi)

yang

sangat khas.Secara umum hewan ini dilengkapi dengan karapaks


dua antena seperti sisir yang.Yang

mempunya

bentuk

menyerupai

huruf

V.

Kedua antena ini digunakan untuk menangkap makanan.MakananEmerita sp.


adalah plankton dan detritus yang terbawa dalam air, sehingga sering disebut filter
feeder.Emerita sp. termasuk juga kedalam family Hippoidea, yang memiliki ciri-

ciri khusus: tubuh sangat pendek dan melengkung; abdomen bilateral simetris, lunak,
pipih dorsoventral, atau sedikit membulat; ujung posterior abdomen terlipat ke
arah ventral

dan

ke

depan;

cephalothoraks tumbuh sangat baik,

rata

atau lebih kurang silindris; rostrum kecil atau mereduksi; telson di bawah thoraks,
memanjang dan meruncing; kaki pertama chelate atau subchelate; kaki kelima benarbenar tereduksi dan melipat, serta selalu berada di bawah karapaks. Emerita sp.
mempunyai sistem reproduksi yang

dilengkapi

dengan

spermatophore

dengan siklus hidup dari larva sampai dewasa dapat mencapai 1 2 tahun (Harvey,
1993).
Bentuk dari karapas sangat mirip antara genus Hippa, ukuran panjang dan
lebar, jumlah setose pit yang berkisar antara 25-45 tiap pinggirnya, alur-alur ada
yang bergerigi dan lurus, pada anterior terdapat jumlah lobe yang berbeda, pada
Emerita terdapat duri pada samping kiri dan kanan anterior (Boyko, 2002). Pareopod
I-IV. Bentuk pareopod pada Hippa memanjang (subchaeta) dan ujungnya tidak
terdapat capit sedangkan pada Emerita pada ujungnya pipih dan pendek.
Antenna.Jumlah dari article pada antena samping berkisar antara 1-6 berbeda untuk
Genus Emerita yang mempunyai antena yang panjang yang sering tersimpan
menggulung ditorak.Daktil. Pada famili Hippidae bentuk daktil hampir sama
membulat dan meruncing pada ujungnya, terdapat pada pareopod II IV. Secara
keseluruhan Hippdae memiliki 27 spesies di wilayah Pasifik Barat Indonesia,
sedangkan dalam penelitian ini hanya menggunakan enam spesies yang berasal dari
Indonesia saja (Sumatera, Jawa, Sulawesi, Bali, Tual dan Gili Meno). Perairan
Indonesia adalah tempat yang paling potensial bagi kehidupan kepiting pasir. Genus
Hippa adalah yang paling bersifat regional serta menghuni hampir di semua wilayah
Pesisir Barat Sumatera, pesisir selatan Jawa dan hampir keseluruhan bagian Sulawesi
hingga menuju selatan Tual, sedangkan untuk E.emeritus dan H. adactyla hanya
dijumpai di pesisir Sumatra dan Selatan Jawa. Adapun faktor yang dapat
menjelaskan pola persebaran selain dari habitat adalah sejarah geografi, iklim,
ketersediaan makanan dan kompetisi.Selain itu adanya pengaruh dari tahapan larva
yang berbeda-beda dari masing-masing spesies, tidak menutup kemungkinan
terbentuknya spesies baru dan meningkatnya biodiversitas. Menurut Harvey (1993),
larva Emerita melayang dipermukaan perairan dan terbawa arus selama 23-43
hari.Emerita mempunyai tahapan larva planktonik yang panjang, sehingga

memungkinkan persebaran menjadi luas. Hal tersebut juga dipengaruhi arus laut
sehingga larva yang ikut terbawa arus laut akan tersebar sesuai dengan kondisi
dimana ia tinggal (Tam et al., 1996), sedangkan untuk larva dari Hippa belum ada
penelitian dilakukan untuk lamanya tahapan larva dipermukaan perairan.Klasifikasi
Albunea symmista menurut Linneaus (1758),
Kingdom

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Subfilum

: Crustacea

Kelas

: Malacostraca

Ordo

: Decapoda

Family

: Albuneidae

Genus

: Albunea

Spesies

: Albunea symmista

Spesies ini secara luas didistribusikan di Asia, pertama kalinya ditemukan di


Taiwan. spesies yang bekerabat dengan A. groeningi dan A. occulta. Habitat spesies
ini yaitu di daerah berpasir dan intertidal dengan kedalaman mencapai 1,5 m.
Persebarannya dari pantai timur India ke seluruh Asia tenggara sejauh selatan
Taiwan, Filipina, Jawa di Indonesia, Queensland dan Pulau Lord Howe di Australia
(Boyko, 2002).
Berdasarkan habitatnya, undur-undur laut Emeritaemeritus dan Hippa adactyla
berada di zonaintertidal.Sementara A lbunea terdapat di zona sub-tidal, zona yang
lebih dalam, sehingga jumlah Albunea yang tertangkap sangat sedikit dibandingkan
Emeritaemeritus ataupun Hippa adactyla.Selain itu, dominasi Emerita emeritus
dapat dikaitkan dengan ketahanan fisiknya. Umumnya, undur-undur laut genus
Emerita ditemukan,baik di daerah tropis maupun daerah subtropis.Oleh karena itu,
daya tahan tubuh genus Emerita eenderung lebih kuat dibandingkan dengan genus
Hippa yang hanya ditemukan di daerah tropis. Hal ini dikuatkan oleh Hanson (1965)

yang menyatakan bahwa genus Emeritaditemukan, baik di daerah tropis maupun di


daerah sub-trapis, sedangkan genus Hippahanya ditemukan di daerah tropis.
4. Hemiscolopendra sp.
Klasifikasi menurut Jasin (1989),
Kingdom

: Animalia

Sub Kingdom

: Invertebrata

Phylum

: Arthropoda

Classis

: Chilopoda

Ordo

: Centipedes

Familia

: Scolopendridae

Genus

: Hemiscolopendra

Species

: Hemiscolopendra sp.

Hemiscolopendra adalah salah satu contoh dari subfilum Myriapoda, yang


dikenal sebagai kelabang Amerika Utara.Spesies ini memiliki ukuran kecilmenengah dan tidak agresif.Spesies ini memiliki ocelli (mata) dan memiliki 21
pasang alat gerak.Hemiscolopendra dapat dibedakan dari Scolopendra dengan
memiliki lebih spinosus proceses coxopleural. Tubuh panjang dengan 21-23 segmen
berwarna hitam, biasa dikenal dengan kelabang hitam berkepala merah.Mempunyai
antenna dengan 17-31 segmen, hewan muda yang baru menetas memiliki banyak
segmen dan kaki. Spesies ini masuk ke dalam kelas Chilopoda yang dapat bergerak
dengan cepat dan gesit.Biasanya disebut dengan sebutan centipoda. Bertempat
tinggal di darat dan merupakan hewan terrestrial yang aktif memakan hewan lain
sehingga dapat juga disebut sebagai hewan karnivora. Bernafas dengan trakea.Tubuh
hewan ini pipih dan dan segmen terlihat dengan jelas. Masing-masing segmen
terdapat sepasang kaki pada bagian ventral. Hewan ini memiliki antena yang panjang
pada kepalanya. Hewan ini juga dilengkapi dengan sepasang rahang beracun yang
berfungsi untuk mengeluarkan racun guna meracuni mangsanya. Tubuhnya cukup
panjang berwarna cokelat gelap kehijau-hijauan. Alat kelaminnya terpisah, alat
kelamin terdapat pada bagian akhir segmen. Hewan ini sangat berbahaya (Soemadji,
1995).
5. Saturnia sp.

Spesies ini merupakan kupu-kupu yang juga uanggota ordo Lepidoptera.


Serangga yang mempunyai sayap yg bersisik.Ukuran serangga ini ada yang kecil dan
ada yang besar.Jumlah sayapnya empat buah dan tertutup sisik.Badan dan kakinya
juga tertutup sisik. Antenanya ada yang seperti sikat dan ada yang seperti
benang.Bagian mulutnya dilengkapi dengan alat menggigit dan pengisap seperti
belalai yang disebut proboscis. Badan larva ini terdiri dari 13 segmen mempunyai 3
pasang kaki pada thoraks dan ada juga kaki pada bagian perut yang disebut kaki
semu.Tiap pasang kaki semu terikat pada segmen perut ke 6,7,8,9 dan 12, pada ujung
kaki semu terdapat semacam kait dari kitin.Sumber makanan lainnya adalah buahbuahan yang busuk (Johnson, 2002). Klasifikasi dari spesies ini menurut Johnson
(1992),
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insekta

Ordo

: Lepidoptera

Family

: Satyrinae

Genus

: Saturina

Spesies

: Saturina sp.

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara 2 yaitu bak preparat, kaca
pembesar, mikroskop, dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu Emerita emeritus, Hippa adactyla, Albunea
symmista, Nephila pilipes, Argiope appensa, Hemiselopendra, dan Saturnia sp.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Spesimen hewan anggota Vermes dan Mollusca yang telah disiapkan
diidentifikasi ciri-ciri morfologinya.
2. Proses identifikasi hewan dilakukan dengan menggunakan kunci identifikasi.
3. Kunci identifikasi sederhana dan fenogram dibuat berdasarkan karakter
spesimen yang diamati.
4. Laporan sementara disusun.

BAB IV.HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan

Nephila pilipes

Bagian dorsal

Klasifikasi:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas
: Arachnida
Ordo
: Araneae
Family : Nephilidae
Genus : Nephila
Spesies : Nephila pilipes

1 4

Keterangan :
1. Pedipalpus
2. Ekstrimitas
3. Prosoma
4. Ophistosoma
5. Spinneret
6. Chelicerata
7. Mata

Bagian ventral

Argiope appensa

7
1
2
3
4

Bagian Dorsal
7
1 87

5 6 8 95
4

Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum
: Arthrpoda
Kelas
: Arachnida
Ordo
: Araneae
Famili
: Araneidae
Genus
: Argiope
Spesies : Argiope appensa
Keterangan :
8. Pedipalpus
9. Ekstrimitas
10. Prosoma
11. Ophistosoma
12. Spinneret
13. Chelicerata
14. Mata
3

121
1 4

B. pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan, arthropoda mempunyai ciri-ciri yaitu tubuhnya
tersusun atas eksoskeleton yang terdiri dari zat kitin, mempunyai kaki beruas-ruas
dan mengalami tagmatisasi yakni metamer atau segmennya terspesialisasi sehingga
menjadi suatu struktur dengan fungsi tertentu, system peredaran darah filum ini yaitu
system terbuka dan system pencernaan sudah lengkap. Berdasarkan Bricelt (jumlah
kaki dalam satu segmen) ordo Arthropoda dibedakan menjadi Uniramous dan
biramous.Uniramous merupakan hewan yang memiliki lebih dari satu pasang kaki
dalam satu segmen serta segmen tidak bercabang.Sedangkan biramous memiliki
cabang pada segmen dan hanya terdapat satu pasang alat gerak dalam satu segmen.
Filum arthropoda terbagi menjadi beberapa sub filum Trilobita yang paling
primitif, Chelicerata dengan ciri khusus yaitu adanya chelicera yang merupakan
organ untuk makan dan tidak mempunyai antena, kelas chelicerata yaitu
merostomata dengan contohnya adalah Mimi lan mintuno, kelas Arachnida yang
memiliki 2 ordo yaitu Scorpionidae dengan contoh spesies Heterometrus dan
Aranaedengan contoh Nephilla pilipes dan Argiope appensa, Kelas Pygnognida yang
merupakan kelas dengan anggota laba-laba laut.
Nephila pilipes dengan nama local Garang gati dan Argiope appensa dengan nama
local kementul merupakan dua spesies yang digunakan dalam praktikum, kedua
spesies ini memiliki ciri yaitumemiliki ciri yaitu mempunyai tiga pasang segmen,
dan bagian tubuhnya terbagi menjadi prosoma (Cephalotoraks) dan Opistosoma
(abdomen), mempunyai pedipalpus, spinneret dan chelicera serta mata. Argiope
appensa memiliki abdomen yang lebih pendek daripada Nephilla pilipes.
Subfilum Crustacea yang memiliki ciri mempunyai antenna, maxilla dan
biramous, terbagi menjadi beberapa kelas yaitu Branchiopoda, contohnya Udang
(Macrobrachium rosenbergii ), Malacostrata dengan contohnya yaitu Scylla sp., dan
yutuk dengan berbagai spesies yaitu Emerita emeritus, Albunea symmista dan Hippa
adactyla. Kelas Maxillopoda dengan contoh teritip dan cephalocarida.Preparat yang
digunakan dari subfilum ini yakni Yutuk dengan spesies Emerita emeritus, Albunea
symmista dan Hippa adactyla.Ketiga spesies tersebut memiliki perbedaan pada
jumlah pleopoda dan ukuran tubuhnya.Albunea dan Hippa memiliki 4 pasang
pleopod sedangkan Emerita memiliki 3 pasang pleopod.Morfologi dari yutuk yaitu

bagian tubuhnya terdiri dari cephalotoraks dan abdomen, terdapat mata, antenna,
antennule, rostrum, maxilla, mandibulla, maxillipeds pereiopod, pleopod yang
berfungsi untuk menyimpan telur, uropod untuk menggali pasir dan telson.
Hexapoda mempunyai ciri bagian tubuhnya terdiri dari kepala, thoraks, dan
abdomen dan memiliki tiga pasang alat gerak.Subfilum ini terbagi menjadi beberapa
ordo yaitu Lepidoptera, Hymenoptera, Coleoptera, Odonata, Hemiptera dan
Homoptera.Preparat yang digunakan dalam praktikum kali ini yaitu mewakili ordo
Lepidoptera yakni kupu-kupu dengan spesies Saturina sp., preparat ini memiliki ciri
yaitu sayapnya merupakan tipe sayap membranous bersisik, dengan tipe mulut
penghisap. Morfologi preparat ini yakni antenna, mulut, dan sayap serta bagian
abdomen.Selain itu spesies ini memiliki 3 macam mata yakni mata facet sebagai
fotoreseptor dan ocelli yang berdungsi untuk melihat.
Myriapoda memiliki ciri yaitu uniramous atau banyak kaki dan memiliki empat
segmen

kepala.Subfilum

ini

memiliki

kelas

yakni

Chilopoda

dan

diplopoda.Chilopoda memiliki ciri yaitu dalam satu segmen hanya terdapat satu
pasang kaki.Contoh spesiesnya yaitu Kelabang (Hemiscolopendra sp.) yang
digunakan dalam praktikum.Berdasarkan pengamatan Hemiscolopendra memiliki
morfologi yaitu adanya antenna, tegum, ekstrimitas yang banyak telson, maxilla,
mandibulla, mata dan maxiliped.Ordo Diplopoda memiliki ciri yakni dalam satu
segmen terdapat dua pasang kaki sehingga jumlah kaki lebih banyak.Contohnya
adalah Julius sp.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan dapat disimpulkan,
1. Arthropoda terdiri dari sub filum yang peranannya besar bagi kehidupan
manusia, yaitu Trilobita, Chelicerata, Crustacea, myriapoda, dan hexapoda.
2. Nephilla pilipes dan Argiope appensa merupakan spesies yang mewakili sub
filum Chelicerata kelas Arachnida. Emerita emeritus, Albunea symmista dan
Hippa adactyla merupakan spesies yutuk yang merupakan subfilum crustacea
kelas Malacostrata yang memiliki perbedaan pada ukuran tubuh dan pleiopod.
Subfilum insectra, ordo Lepidoptera yakni kupu-kupu dengan spesies Saturina
sp. Kelabang (Hemiscolopendra sp.) merupakan anggota sub filum myriapoda
dengan kelas chilopoda.
B. Saran
Preparat yang digunakan sebaiknya mewakili semua sub filum, serta penjelasan
dari asisten sebaiknya lebih lengkap

DAFTAR REFERENSI

Alan, W. 1994.Arthropods of Human and Domestic Animals.A Guide to


PreliminaryIdentification. 1st. Ed. Chapman & Hall
Boyko CB, Harvey AW. 2002. Case 3106. Remipes pacificus Dana 1852 (currently
Hippa pacifica; Crustacea, Anomura): proposed precedence over Remipes
marmoratus Jacquinot. 59:12-16.
Brotowidjoyo, Mukayat Djarubito. 1994. Zoologi Dasar. Erlangga : Jakarta
Reece, Campbell, N. A, J. B & L. G. Mitchell. 2004. Biologi. Edisi kelima, jilid
2.Erlangga : Jakarta.
Clifford and Stephenson. 1975. An Introduction to Numerical Clasification. New
York: Academic Press.
Eahran. M.C. 2000. Classfication of Definition. Armico, Bandung.
Enright, Robert D, Elizabeth A. Gassin & Ching Ru-Wu. 1992. Forgiveness : a
developmental view. Journal of Moral Education, Vol. 21, No. 2.USA : University
of Wisconsin, Madison.
Fabricius, J. C. 1787. Mantissa insectorum sistens eorum species nuper detectas:
adjectis characteribus genericis, differentiis specificis, emendationibus,
observationibus..Proft Hafniae. 1, pp 1-348.
Hanson A.J. 1965. Life history of the sand crab Hippa cubensis saussure living on a
small island. University of British Columbia.80 p.
Harvey AW. 1993. Larva settlement and metamorphosis in sand crab Emerita
talpoida (Crustacea : Decapoda : Anoumura). J Mar Biol. 117:575-581.
Hickman, Cleveland.et al. 2001. Integreted Principles of Biology eleventh edition.Mc
Graw Hill.
Jasin, Maskoeri. 1992. Zoologi Invertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya.
Johnson, N. F :& Triplehorn, C. A. 1992. An introduction to the study of insect. 6 th
ed. New York, NY : Reinhart and Winston.
Kimball, JW. 2010. Biologi. Jilid 3.Jakarta:Erlangga.
Kottelat et al. 1993.Freshwater fishes of Western Indonesia and Sulawesi. Periplus
Editions, Hong Kong, pp. 66
Kuntner, Matja; Zhang, Shichang; Gregori, Matja; Li, Daiqin .2012. Nephila
Female Gigantism Attained through Post-maturity Molting. Journal of
Arachnology 40.3: 345347.
Lewis George. 2008. An Essay on the Influence of Authority in Matters of Opinion,
Biblio Bazaar. LTD. London.
Linnaeus, C.1758. Systema naturae per regna tria naturae, secundum classes, ordines,
genera, species, cum characteribus, differentiis, synonymies locis. 1: 824 pp.

Mashar, Ali dan Yusli Wardiatno. 2013. Aspek Pertumbuhan Undur-Undur Laut,
Emerita Emeritus dariPantai Berpasir Kabupaten Kebumen. Jurnal Biologi
Trapis. Vol.13 No.1.
Moore, Janet. 2006. An Introduction Invertebrates Second Edition.Cambridge
University Press : New York
Mursyidin DH. 2007_ Kandungan asam lemak omega 6 pada ketam pasir (mole
crab) di Pantai Selatan Y ogyakarta.Bioscientiae 4 (2) : 79-84.
Robinson, M. H. 1973. Ecology and behavior of the giant wood spider Nephila
maculata (Fabricius) in New Guinea. Smithsonian Contributions to Zoology,
149:1-76.
Rusyana, Adun. 2011. Zoologi Invertebrata. Alfabeta, Bandung.
Sharma, Prashant P., Evelyn E. Schwager, Cassandra G. Extavour, & Gonzalo
Giribeta. 2012. Evolution of the chelicera: a dachshund domain is retained in
thedeutocerebral appendage of Opiliones (Arthropoda, Chelicerata). Evolution
and Development 14 (6):522533.
Sisto, Joseph De. 2014. A First Survey of the Centipedes of Great Smoky Mountains
National Park. Holster Scholar Projects. 16.
Soemadji, dkk. 1995. Materi Pokok Zoologi. Universitas Terbuka. Jakarta:
Depdikbud .
Tam YK, Kornfield, Ojeda FP. 1996. Divergence and zoogeography of mole crabs,
Emerita spp. (Decapoda: Hippidae), in the Americas. Marine Biology.125:489497.