You are on page 1of 29

LABORATORIUM PILOT PLANT

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017


MODUL

: Falling Film Evaporator

PEMBIMBING

: Rispiandi ST., MT.

Praktikum

: 5 Oktober 2016

Penyerahan

: 13 Oktober 2016

(Laporan)
Oleh :
Kelompok

:5&6

Nama

: 1. Ghina Haifa

Kelas

141411012

2. Harindiarto Rahmaana

141411013

3. Intan Larasati Dewi

141411014

4. Khoirin Najiyyah Sably

141411015

5. Lutfi Arif Rachman

141411016

: 3A

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Falling film evaporator merupakan suatu jenis alat untuk meningkatkan konsentrasi
suatu larutan dengan mekanisme evaporasi. Alat ini telah lama digunakan misalnya pada
produksi pupuk organik, proses desalinasi, industri kertas, dan bubur kertas, industri
bahan pangan dan bahan biologi, dan lain-lain. Peningkatan konsentrasinya dilakukan
dengan penguapan pelarut yang umumnya air. Proses ini sering digunakan untuk
penguapan larutan kental, larutan sensitif terhadap panas, larutan yang mudah
terdekomposisi, dan penguapan perbedaan temperatur rendah.
Falling film evaporator memiliki waktu tertahan yang pendek, dan menggunakan
gravitasi untuk mengalirkan liquid yang melalui pipa. Dewasa ini, falling film
evaporator sangat meningkat penggunaanya di dalam proses industri kimia untuk
memekatkan fluida terutama fluida yang sensitif terhadap panas (misalnya sari buah dan
susu) karena waktu tertahan pendek, sehingga cairan tidak mengalami pemanasan
berlebih selama mengalir melalui evaporator.
1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:
a.
Mengoperasikan peralatan Falling Film Evaporator dengan
b.

pemanasan langsung dan pemanasan tidak langsung


Memilih temperature dan tekanan yang optimum untuk umpan

c.
d.

yang digunakan
Menghitung koefisien perpindahan panas pada FFE
Menerapkan efisiensi penggunaan kukus (steam) sebagai catu
kalor

BAB II
LANDASAN TEORI
1

Evaporasi
Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga
didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Tujuan dari
evaporasi itu sendiri yaitu untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut
yang tak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Dalam kebanyakan
proses evaporasi, pelarutnya adalah air. Evaporasi tidak sama dengan pengeringan,
dalam evaporasi sisa penguapan adalah zat cair, kadang-kadang zat cair yang sangat
viskos, dan bukan zat padat. Begitu pula, evaporasi berbeda dengan distilasi, karena
disini uapnya biasanya komponen tunggal, dan walaupun uap itu merupakan
campuran, dalam proses evaporasi ini tidak ada usaha untuk memisahkannya
menjadi fraksi-fraksi. Biasanya dalam evaporasi, zat cair pekat itulah yang
merupakan produk yang berharga dan uapnya biasanya dikondensasikan dan
dibuang (Frayekti, no date).
Proses evaporasi terdiri dari dua peristiwa yang berlangsung :
1 Interface evaporation, yaitu transformasi air menjadi uap air di permukaan
2

tanah. Nilai ini tergantung dari tenaga yang tersimpan.


Vertikal vapour transfers, yaitu perpindahan lapisan yang penuh dengan
uap air dari interface ke uap (atmosfer bebas).

Menurut Frayekti (no date), Besar kecilnya penguapan dari permukaan air bebas
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:
a
b
c

Kelembaban udara (semakin lembab semakin kecil penguapannya)


Tekanan udara
Kedalaman dan luas permukaan, semakin luas semakin

penguapannya
Kualitas air, semakin banyak unsur kimia, biologi dan fisika, penguapan

e
f

semakin kecil.
Kecepatan angin
Topografi, semakin tinggi daerah semakin dingin dan penguapan semakin

g
h

kecil
Sinar matahari
Temperatur

besar

Evaporasi dapat diartikan sebagai proses penguapan daripada liquid (cairan)


dengan penambahan panas (Robert B. Long, 1995 dalam Frayekti, no date). Panas

dapat disuplai dengan berbagai cara, diantaranya secara alami dan penambahan
steam. Evaporasi didasarkan pada proses pendidihan secara intensif, yaitu :

Pemberian panas ke dalam cairan.


Makin tinggi tekanan makin besar panas yang dibutuhkan, sehingga tekanan
perlu diturunkan untuk mendapatkan kondisi operasi yang optimal.

Pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap.


Peristiwa bubbling yaitu terbentuknya nukleat sebagai awal pembentukan
gelembung.

Pemisahan uap dari cairan.


Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan
kalor ke dalam zat cair mendidih (Warren L. Mc Cabe, 1999 dalam
Frayekti ,no date). Perbedaan evaporasi dengan proses lain adalah:
a

Evaporasi dengan pengeringan.


Evaporasi tidak sama dengan pengeringan, dalam evaporasi sisa
penguapan adalah zat cair , kadang-kadang zat cair yang sangat viskos, dan
bukan zat padat. Perbedaan lainnya adalah, pada evaporasi, cairan yang
diuapkan dalam jumlah yang relatif banyak, sedangkan pada pengeringan
sedikit.

Evaporasi dengan distilasi.


Evaporasi berbeda pula dari distilasi, karena uapnya biasa dalam
komponen tunggal, dan walaupun uap itu dalam bentuk campuran, dalam
proses evaporasi ini, tidak ada usaha untuk memisahkannya menjadi fraksifraksi

komponen.

Selain

itu,

evaporasi

biasanya

digunakan

untuk

menghilangkan pelarut-pelarut volatil, seperti air, dari pengotor non-volatil.


Contoh pengotor non-volatil seperti lumpur dan limbah radioaktif. Sedangkan
distilasi digunakan untuk pemisahan bahan-bahan non-volatil.
c

Evaporasi dengan kristalisasi.


Evaporasi lain dari kristalisasi dalam hal pemekatan larutan dan bukan
pembuatan zat padat atau kristal. Evaporasi hanya menghasilkan lumpur kristal
dalam larutan induk (mother liquor). Evaporasi secara luas biasanya digunakan untuk
mengurangi volume cairan atau slurry atau untuk mendapatkan kembali pelarut pada

recycle. Cara ini biasanya menjadikan konsentrasi padatan dalam liquid semakin
besar sehingga terbentuk kristal.
2

Evaporator
Menurut Frayekti (no date), Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi
mengubah sebagian atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk
cair menjadi uap. Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, yaitu untuk menukar
panas dan untuk memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya
terdiri dari tiga bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi (tempat di mana
cairan mendidih lalu menguap), dan pemisah untuk memisahkan uap dari cairan
lalu dimasukkan ke dalam kondensor (untuk diembunkan/kondensasi) atau ke
peralatan lainnya. Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat
berupa padatan atau larutan berkonsentrasi.
Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa komponen
volatil (mudah menguap). Evaporator biasanya digunakan dalam industri kimia dan
industri makanan. Pada industri kimia, contohnya garam diperoleh dari air asin
jenuh (merupakan contoh dari proses pemurnian) dalam evaporator. Evaporator
mengubah air menjadi uap, menyisakan residu mineral di dalam evaporator. Uap
dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan garamnya. Pada sistem
pendinginan, efek pendinginan diperoleh dari penyerapan panas oleh cairan
pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan membutuhkan energi panas).
Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air minum, memisahkannya dari air
laut atau zat kontaminasi lain.

2.2.1 Prinsip Kerja


Evaporator adalah alat untuk mengevaporasi larutan sehingga prinsip
kerjanya merupakan prinsip kerja atau cara kerja dari evaporasi itu sendiri. Prinsip
kerjanya dengan penambahan kalor atau panas untuk memekatkan suatu larutan
yang terdiri dari zat terlarut yang memiliki titik didih tinggi dan zat pelarut yang
memiliki titik didih lebih rendah sehingga dihasilkan larutan yang lebih pekat
serta memiliki konsentrasi yang tinggi (Frayekti, no date).
1

Pemekatan larutan didasarkan pada perbedaan titik didih yang sangat

2
3

besar antara zat-zatnya.


Titik didih cairan murni dipengaruhi oleh tekanan.
Dijalankan pada suhu yang lebih rendah dari titik didih normal.

Titik didih cairan yang mengandung zat tidak mudah menguap

(misalnya: gula) akan tergantung tekanan dan kadar zat tersebut.


Beda titik didih larutan dan titik didih cairan murni disebut Kenaikan
titik didih (boiling)

Proses evaporasi dengan skala komersial di dalam industri kimia dilakukan


dengan peralatan yang namanya evaporator. Ada empat komponen dasar yang
dibutuhkan dalam evaporasi yaitu : evaporator, kondensor , injeksi uap, dan
perangkap uap.
2 Tipe-Tipe Evaporator
Menurut Frayekti (no date), evaporator dapat dibedakan berdasarkan :
Tipe evaporator berdasarkan banyak proses
1 Evaporator efek tunggal (single effect)
2 Evaporator efek ganda
Tipe evaporator berdasarkan bentuknya
1 Evaporator Sirkulasi Alami/paksa
2 Falling Film Evaporator
3 Rising Film (Long Tube Vertical) Evaporator
4 Plate Evaporator
5 Multi-effect Evaporator
6 Horizontal-tabung Evaporator
7 Vertikal-tabung Evaporator
Tipe evaporator berdasarkan metode pemanasan
1 Submerged combustion evaporator
2 Direct fired evaporator
3 Steam heated evaporator
3

Falling Film Evaporator (FFE)


Evaporator jenis FFE, biasanya berbentuk tabung dengan panjang (4-8 meter)
yang dilapisi dengan steam jacket. Distribusi larutan yang seragam sangat penting.
Larutan yang masuk akan memperoleh gaya gerak karena arah pengumpanan larutan
yang menurun. Kecepatan gerakan larutan akan mempengaruhi karakteristik dari
medium pemanas yang juga mengalir menurun. Tipe ini cocok untuk menangani
larutan kental sehingga sering digunakan untuk industri kimia, makanan, dan
fermentasi (Frayekti, no date).
Proses
Cairan yang akan dipekatkan dimasukkan melalui bagian atas kolom,
kemudian akan mengalir ke bagian tube yang telah dipanaskan, Pada bagian
bawah dilengkapi dengan sebuah pompa untuk mensirkulasikan cairan keatas

untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan. Permasalahan utama dari alat


jenis FFE ini adalah bagaimana cara mendistribusikan liquid secara merata ke
tube bagian dalam sebagai film (Edahwati, 2009).
Dalam hal ini dapat dipasangkan:
- Plate yang berlubang pada bagian atas tube
- Spider distributor pada masing-masing tube
- Spray nozzle pada masing-masing tube

Gambar 2.3.1 Falling Film Evaporator


4

Perhitungan Teoritikal Falling Film Evaporator Sistem Curah


Menurut Ginanjar dkk (2001), Kinerja suatu evaporator ditentukan oleh beberapa
faktor antara lain :

Konsumsi uap

Ekonomi uap atau rasio penguapan

Kadar kepekatan, konsentrasi produk, dan distilat atau kondensat dari


umpan
Persentase produk
Untuk tujuan teknik, karakteristik evaporator yang perlu diperhatikan yaitu :

Neraca massa dan neraca energi


Koefisien perpindahan panas
Effisiensi

Pada dasarnya evaporator adalah alat dimana pertukaran panas terjadi. Laju
perpindahan panas dinyatakan dalam persamaan umum berikut :
Q = U A Tlm
Dimana,
Q
A
U

= Laju Alir Kalor (Watt)


= Luas Permukaan (m2)
= Koefisien Pindah panas Keseluruhan (W/m2.K)

Tlm = Perbedaan Suhu Logaritmik (K)

BAB IV
Hasil dan Data Pengamatan
4.1 Data Pengamatan
Luas penampang perpindahan kalor (A)

= 0.21 m2

Volume tubeside

= 1.9 L

Volume shellside

= 0.14 L

Tekanan operasi maksimum

= 10 barg

Temperatur operasi maksimum

= 200oC

Tebal tabung evaporasi sst 1.4435

= 1.8 mm

Tabel 4.1.1 Data dari Perrys Chemical Engineering Handbook


Pengukuran [Tekanan max]
18
16
14
12
Dan interpolasinya

Tebal [mm]
1.24
1.65
2.10
2.77

(Xw/Kw) [m2.K/KW]
0.083
0.109
0.141
0.176

*Didapat interpolasi tebal 1.8mm Xw/Kw=0.12 m2.K/KW


Tabel 4.1 Data Pengamatan Catu Kalor Air Panas
Laju
Alir
Umpan
(L/h)

50

70

F Air
Panas
(kg/h)

F
Distilat
(kg/h)

F
Produk
(kg/h)

TI 07
(C)
(umpan
masuk)

TI 04
(C)
(air
panas
masuk)

TI 06
(C)
(air
panas
keluar)

TI 10
(C)
(uap
produk)

TI 11
(C)
(produk
pekat)

0.25
0.5
0.75

22.596
12.255
6.409

0
0
0

273.6
273.6
273.6

26.8
26.9
27.0

121.5
125.9
128.4

24.6
24.9
24.6

71.4
87.1
83.8

20.623

273.6

27.0

134.9

25.1

0.25

42.353

331.2

26.8

139.8

0.5

42.535

331.2

24.8

0.75

36.197

331.2

36.404

331.2

P Air
Panas
(Bar)

DHL
Umpan

Produk

Destilat

90
87
81

0.299
0.299
0.299

0.349
0.361
0.349

0
0
0

98.7

79

0.299

0.377

24.8

74.5

60

0.299

0.365

143

25.3

27.4

85

0.299

0.3385

26.8

42

25.0

95.3

90

0.299

0.351

26.8

144

24.2

98.4

92

0.299

0.3387

Tabel 4.2 Data Pengamatan Catu Kalor Steam

Laju
Alir

P Steam

Umpan

(Bar)

(L/h)

50

70

Steam
(kg/h
)

TI 07

TI 08

TI 06

TI 10

Distilat

Produk

(C)

(C)

(C)

(C)

(kg/h)

(kg/h)

(umpan

(steam

(steam

(uap

masuk)

masuk)

keluar)

produk)

0,25

10,80

273,6

27,7

106,4

23,9

58,5

DHL

TI 11
(C)
(produk)

Umpan

Produk

Destilat

96

0,299

0,414

0,5

10,91

10,8

273,6

27,6

102,7

24,2

56,6

98

0,299

0,356

0,01

0,75

9,60

24

273,6

27,3

96,8

24,1

53,1

98,5

0,299

0,365

0,004

16,89

86

273,6

27,2

91,3

23,8

49,8

99

0,299

0,38

0,007

0,25

15

9,9

331,2

33,6

91,5

23,5

47,3

97

0,299

0,326

0,5

71,52

331,2

33,7

103

23,7

49,9

82

0,299

0,296

0,75

25,6

10,8

331,2

28,1

110,8

23,1

57,4

96

0,299

0,377

0,01

35,76

15,6

331,2

28

111,9

23,4

59,8

98

0,299

0,351

0,005

4.2 Pengolahan Data


Q = (m3 x Cp2 x dT2) + (m4 x ) + ( m4 x Cp3 x dT3)
m3

: Laju massa produk (kg/h) didapat dari pengambilan data dengan cara
pengukuran berat air pada waktu tertentu

Cp2

: Kapasitas panas pada suhu air umpan masuk (kJ/kg K) didapat dari tabel 1.1

dT2

: Suhu produk dikurangi suhu umpan

m4

: Laju massa distilat (kg/h) didapat dari pengambilan data dengan cara
pengukuran berat air pada waktu tertentu

Cp3

: Kapasitas panas pada suhu air distilat (kJ/kg K) didapat dari tabel 1.1

dT3

: Suhu produk dikurangi suhu distilat

Tabel 4.3 Kalor yang dilepas air panas dan kalor yang diterima umpan

Laju
Alir
Umpan
(L/h)

Cp
Umpan
masuk
(kJ/Kg.
C)

Cp
Produk
pekat
(kJ/Kg.
C)

Cp Air
Panas
(kJ/Kg.
C)

(kj/kg)

dT1
(TI 04TI06)
(C)

dT2
(TI 11TI 07)
(C)

dT3
(TI 10TI 07)
(C)

30.940

60.77

31.073

2282

96.9

63.2

44.6

30.987

59.354

31.121

2290.5

101

60.1

60.2

31.034

56.522

31.169

2305.5

103.8

54

56.8

31.034

55.578

31.169

2310.5

109.8

52

71.7

30.94

46.61

30.94

2356

115

33.2

47.7

30.94

58.41

30.94

2295.5

117.7

58.2

0.6

30.94

60.77

30.94

2282

117

63.2

68.5

30.94

61.714

30.94

2277

119.8

65.2

71.6

Qumpan
(kJ/h)

534992.
7
509527.
1
458508.
7
441526.
9
340206.
9
596386.
8
647622.
8
668117.1

50

70

Qairpana
s
(kJ/h)

Efisiensi
Kalor

150551.6

3.553551

157162.6

3.242039

161767.1

2.834375

171117.8

2.580251

249063.8

1.365943

254911.4

2.339585

253395.3

2.55578

259459.5

2.575035

Tabel 4.4 Kalor yang dilepas steam dan kalor yang diterima umpan
Laju
Alir
Umpan
(L/h)

Cp

P
Steam
(Bar)

F
steam
(kg/h)

H steam
(kJ/Kg)

Produk
pekat
(kJ/Kg.
C)

50

70

Cp

dT2 (TI

dT3 (TI

Umpan

11-TI

10-TI

(kJ/Kg.

(kj/kg)

07)

07)

(C)

(C)

C)

Q
umpan
(kJ/h)

Qsteam
(kJ/h)

Efisiensi kalor

0,25

10,80

2698,68

63,60

31,364

2267

68,3

30,8

586103

29146

20,10937786

0,5

10,91

2688,207

64,55

31,317

2262

70,4

29

647860

29326

22,09173108

0,75

9,60

2778,65

64,78

31,176

2260,7

71,2

25,8

701682

26675

26,30480324

16,89

2658,47

65,02

31,128

2259,5

71,8

22,6

932187

44899

20,76205324

0,25

15

2670,097

64,07

34,149

2269,5

63,4

13,7

748226

40051

18,68161944

0,5

71,52

2688,79

56,99

34,196

2303

48,3

16,2

547038

192302

2,844677074

0,75

25,6

2700,89

63,60

31,553

2267

67,9

29,3

754193

69143

10,90776622

35,76

2700

64,55

31,506

2262

70

31,8

797742

96552

8,262307189

4
3.5
3

Efisiensi 2.5

0.25 BAR

0.75 BAR

0.5 BAR
1 BAR

1.5
1
45

50

55

60

65

70

75

Laju alir ( LPM )

Gambar 4.1 Grafik laju alir terhadap efisiensi dengan media pemanas air panas

30
25
20

Efisiensi 15

0.25 bar

10

0.75 bar

0.5 bar
1 bar

5
0
45

50

55

60

65

70

75

Laju Alir (LPM)

Gambar 4.2 Grafik laju alir terhadap efisiensi dengan media pemanas steam

Tabel 4.5 Penentuan koefisien perpindahan panas (air panas)


Laju
alir
umpa
n
(L/h)

50

70

Qse(kJ/s)

t1 (C)

T1(C)

t2(C)

T2(C)

a/b

ln (a/b)

Tm

U
(kW/m2C)

1/h

30.9396
30.9868
31.034
31.034
25.3175
3
94.8542
8
109.507
6
113.516

60.77
59.354
56.522
55.578

31.0736
31.1213
31.169
31.169

2282
2290.5
2305.5
2310.5

96.9
101
103.8
109.8

63.2
60.1
54
52

44.6
60.2
56.8
71.7

534992.7
509527.1
458508.7
441526.9

150551.6
157162.6
161767.1
171117.8

3.553551
3.242039
2.834375
2.580251

139.8

24.8

26.8

60

39.9

3.686376

10.82364

11.13855

10.92855

143

25.3

26.8

85

38.66667

3.654978

10.57918

42.69585

42.48585

142

25

26.8

90

28.88889

3.363457

8.589046

60.71278

60.50278

144

24.2

26.8

92

20

2.995732

6.676164

80.96752

80.75752

Tabel 4.6 Penentuan koefisien perpindahan panas (steam)


Laju
Alir

P Steam

Umpan

(Bar)

Qse (kJ/s)

t1

T1

t2

T2

(C)

(C)

(C)

(C)

a/b

ln (a/b)

Tm

U
(kW/m2C)

1/h

(L/jam)

50

70

0,25

154,710

106,4

23,9

27,7

96

1,092

0,088

75,352

9,777

9,657

0,5

171,815

102,7

24,2

27,6

98

1,018

0,017

74,448

10,990

10,870

0,75

187,502

96,8

24,1

27,3

98,5

0,934

-0,068

71,922

12,414

12,294

246,469

91,3

23,8

27,2

99

0,852

-0,160

69,502

16,887

16,767

0,25

196,715

91,5

23,5

33,6

97

0,788

-0,239

65,390

14,325

14,205

0,5

98,5378

103

23,7

33,7

82

1,189

0,173

63,642

7,373

7,253

0,75

190,292

110,8

23,1

28,1

96

1,134

0,126

77,697

11,663

11,543

194,775

111,9

23,4

28

98

1,125

0,117

79,159

11,717

11,597

100
90
80
70
60

Axis Title

50

0.25 bar

40

0.5 bar
0.75 bar

30

1 bar

20
10
0
45

50

55

60

65

70

75

Laju Alir (LPM)

Gambar 4.3 Grafik laju alir terhadap perpindahan panas dengan media pemanas air
panas

20
18
16
14

U (kW/m2.O C)

0.25 bar

12

0.5 bar
0.75 bar

10

1 bar

8
6
45

50

55

60

65

70

75

Laju Alir (LPM)

Gambar 4.4 Grafik laju alir terhadap perpindahan panas dengan media pemanas air
steam

4.2. Pembahasan
Oleh Ghina Haifa (141411012)
Pada paktikum kali ini dilakukan proses evaporasi

menggunakan

alat

Falling Film Evaporator. Evaporasi adalah suatu proses penguapan sebagian dari
pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi.
Proses evaporasi bertujuan untuk memekatkan konsetrasi dari suatu larutan yang
terdiri dari komponen pelarut yang mudah menguap dan zat terlarut yang tidak
mudah menguap. Pemanasan yang digunakan yaitu pemanasan secara langsung
(menggunakan steam) dan pemanasan secara tidak lngsung (menggunakan air
panas).
Prinsip kerja dari FFE yaitu umpan dimasukkan melaui bagian atas kolom
dan secara gravitasional. Umpan akan turun dan membasahi dinding bagian dalam
kolom dan dinding-dinding bagian luar tabung-tabung penukar panas dan dalam
kolom sebagian lapisan tipis sehingga disebut film. Maka panas yang diberikan oleh
medium pemanas di dalam penukar panas akan dipakai untuk memanaskan larutan
mencapai titik didihnya, penguapan pelarut dan membawa temperatur uap dari titik
temperatur di atasnya. Sehinggga di dalam kolom evaporator akan terdapat campuran
antara larutan pada temperatur penguapan pelarut. Karena temperatur pada tangki
pemisah dan pendingin (kondensor) lebih rendah dari pada temperatur pada bagian
bawah kolom maka sistem pada bagian kolom tersebut akan mengalami penurunan
tekanan, sehingga kondisi seperti vakum terjadi oleh karena campuran tersebut akan
terhisap menuju tangki pemisah dimana bagian campuran yang berupa larutan
produk yang lebih berat dan pekat turun menuju tangki pengumpul produk, sehingga
uap pelarut menuju kondensor dikondensasikan dan turun menuju tangki destilat.
Umpan yang digunakan berupa air baku yang dievaporasi dengan pemanas
berupa steam dan air panas, sehingga akan didapatkan air yang lebih pekat sebagai
produk, dan air yang tidak teruapkan sebagai distilat. Percobaan pertama (Run 1)
dilakukan dengan menggunakan pemanas steam dengan laju alir umpan sebesar 50
L/jam dan 70 L/jam dan memvariasikan tekanan yaitu 0,25 bar, 0,5 bar, 0,75 bar, 1
bar, dan 1,25 bar. Pada percobaan pertama menggunakan pemanas steam, kontak
antara larutan umpan dan steam terjadi secara Co-Current karena steam dan aliran

umpan memiliki arah aliran yang searah. Sedangkan pada percobaan kedua (Run 2)
dilakukan dengan menggunakan pemanas air panas dengan laju alir umpan dan
variasikan tekanan yang sama pada Run 1. Kontak antara larutan umpan dan air
panas terjadi secara Counter-Current. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel
dari larutan umpan, produk, dan distilat untuk dilakukan pengukuran nilai DHL.
Daya hantar listrik (DHL) adalah kemampuan air untuk menghantarkan listrik yang
diakibatkan adanya ion-ion yang terkandung di dalam air. Semakin banyak ion-ion
yang terkandung di dalam air maka semakin besar nilai daya hantar listriknya,
sehingga dapat dikatakan air tersebut memiliki kualitas yang buruk. Selain itu,
dilakukan pula pengamatan pada tempeatur masukan dan keluaran.
Berdasarkan hasil praktikum diperoleh hasil yaitu nilai DHL poduk baik pada
pemanas steam maupun pemanas air panas memiliki nilai yang lebih besar dari nilai
DHL umpan. Hal tersebut menunjukan bahwa kepekatan larutan produk meningkat
karena ketika dilakukan pemanasan komponen pelarut (air) dari larutan umpan telah
teruapkan. Selanjutnya diperoleh Pengaruh laju alir umpan terhadap effisiensi
penggunaan steam dan air panas yang ditunjukan pada grafik 4.1 dan 4.2. Dari grafik
tersebut terlihat bahwa pada laju alir (70 L/jam) dengan umpan pemanas steam
maupun pemanas air panas, efisiensi cenderung menurun. Seharusnya semakin tinggi
laju alir, maka efisiensi steam maupun air panas semakin meningkat. Hal tersebut
dapat terjadi akibat kontak perpindahan panas yang berlangsung lebih singkat karena
laju alir umpan yang dinaikkan, sedangkan besarnya aliran steam/ air panas yang
dibuat tetap.
Diperoleh pula hasil Pengaruh laju alir umpan terhadap koefisien perpindahan
panas (U). Koefisien perpindahan panas (U) dapat menunjukan bahwa besarnya
panas yang digunakan untuk menguapkan pelarutnya. Berdasarkan grafik 4.3 dan
4.4, Semakin tinggi nilai koefisien perpindahan panas maka semakin baik proses
evaporasi yang terjadi, karena menunjukan perpindahan panas yang terjadi
berlangsung secara baik. Selain itu, diperoleh nilai efisiensi yang paling baik. Untuk
pemanas steam yaitu sebesar 26,3% pada kondisi tekanan 0,75 bar dan laju alir
umpan 50Liter/jam. Sedangkan pemanas air panas yaitu sebesar 3,55% pada kondisi
tekanan 0,25 bar dan laju alir umpan 50Liter/Jam. Efisiensi yang diproleh pada poses
menggunakan air panas memiliki nili sangat kecil. Hal tersebut dapat dikarenakan

media pemanas dan larutan umpan merupakan larutan yang sama dengan komposisi
air yang dominan serta komposisi zat pekat yang terlarut berjumlah sedikit. Selain itu
pada proses juga tidak ada destilat yang diperoleh.
Oleh Harindiarto Rahmaana (141411013)
Pada praktikum ini dilakukan percobaan proses evaporasi menggunakan
evaporator berjenis falling film evaporator. Evaporasi sendiri merupakan proses
peningkatan konsentrasi suatu larutan yang berada pada satu campuran larutan
melalui proses penguapan. Evaporasi dilakukan dengan maksud untuk memekatkan
konsetrasi dari suatu larutan yang terdiri dari komponen pelarut dan zat terlarut
dengan perbedaan tingkat volatilitas atau dapat dikatakan perbedaan titik didih
(biasanya zat terlarut memiliki titik didih lebih tinggi dibandingkan pelarutnya).
Pada praktikum ini dilakukan proses evaporasi melalui 2 sumber pemanas,
yakni pemanas steam dan pemanas air panas. Pada proses evaporasi menggunakan
steam, proses yang dilakukan adalah menutup seluruh aliran yang berasal dari air
dingin yang digunakan sebagai bahan baku air panas, yang dapat diketahui alirannya
melalui skema alat. Pada rangkaian instrument evaporator, terdapat calandria yang
merupakan jenis evaporator, pompa piston, pompa sentrifugal, heat exchanger
berjenis double pipe, sebuah panel control, sebuah control valve, condenser, dan
penampung produk baik produk pekat maupun produk hasil kondensasi. Pada
pemanasan menggunakan steam, steam tidak dilewatkan pada DPHE dan langsung
dialirkan menuju calandria melalui bagian atas calandria. Sedangkan feed yang
merupakan air baku dialirkan menggunakan pompa piston dan memasuki calandria
melalui bagian atas calandria, sehingga sistem perpindahan panas yang terjadi
adalah secara co-current. Pada pemanasan menggunakan air panas, pertama-tama
aliran steam yang menuju calandria harus terlebih dahulu ditutup dan membuka
aliran steam menuju DPHE. (sistem aliran dapat dilihat melalui skema alat)
Kemudian air yang digunakan sebagai bahan baku air panas dialirkan menuju DPHE
dengan bantuan pompa sentrifugal. Peran pompa sentrifugal selain untuk
mengalirkan air dingin yang merupakan bahan baku air panas, juga berfungsi untuk
mengalirkan air panas yang keluar dari DPHE menuju calandria (karena posisi
DPHE berada dibawah calandria), menyebabkan air panas memasuki calandria

melalui bagian bawah calandria, sehingga sistem perpindahan panas yang terjadi
adalah secara counter current. Proses evaporasi tersebut dilakukan didalam kolom
calandria berbentuk shell and tube, dengan aliran umpan memasuki calandria
melalui tube sedangkan aliran pemanas memasuki calandria melalui shell.
Pada proses evaporasi yang terjadi, dilakukan pengambilan sampel dari
larutan umpan, produk, dan distilat untuk pengukuran nilai DHL. Nilai DHL dapat
diketahui sebagai nilai konsentrasi dari suatu larutan. Berdasarkan pengukuran yang
dilakukan, terjadi peningkatan nilai DHL pada larutan produk dari nilai DHL
umpannya , serta terjadi penurunan nilai DHL pada larutan distilat dari nilai DHL
umpannya. Dengan hasil yang diperoleh, dapat diketahui bahwa proses evaporasi
berjalan sesuai dengan teori ketika konsentrasi / kepekatan larutan produk akan
meningkat karena sejumlah komponen pelarut (air) dari larutan umpan telah
teruapkan karena telah melalui proses pemanasan. Setelah pengukuran nilai DHL
pada setiap keadaan, kemudian dilakukan pengukuran suhu pada beberapa titik di
instrument evaporator. Dengan memperoleh nilai suhu, dapat diperoleh nilai kalor
panas dan nilai koeffisien transfer panas secara keseluruhan melalui metoda
persamaan neraca energi. Jika dibandingkan nilai U antara pemanasan dengan steam
dan pemanasan dengan air panas, maka U air panas cenderung bernilai lebih besar
dari U steam. Hal tersebut dapat dikarenakan jumlah panas yang dibutuhkan untuk
menguapkan pelarutnya lebih banyak, juga dikarenakan terdapatnya pengukuran nilai
kalor pemanasan air menggunakan steam. Berdasarkan grafik antara laju alir umpan
terhadap nilai U dengan pemanas steam maupun air panas, nilainya cenderung tidak
tetap. Hal tersebut dapat dikarenakan temperatur steam yang tidak tetap dan umpan
yang mengalir tidak konsisten dikarenakan tangki umpan yang harus diisi ulang pada
keadaan tertentu.
Berdasarkan grafik antara laju alir umpan terhadap efisiensi perpindahan
kalor, baik dengan pemanasan menggunakan steam ataupun dengan air panas, terlihat
bahwa terjadinya penurunan efisiensi ketika laju alir dinaikkan. Hal tersebut dapat
terjadi karena kontak perpindahan panas yang berlangsung lebih singkat karena laju
alir umpan yang dinaikkan ketika besarnya aliran steam / air panas yang dibuat tetap.
Efisiensi terbaik yang didapatkan pada penggunaan pemanas steam berlangsung pada
kondisi tekanan 0,75 bar dan laju alir umpan 50Liter/Jam, yaitu sebesar 26,3%.

Sedangkan efisiensi terbaik yang didapatkan pada penggunaan pemanas berupa air
panas berlangsung pada kondisi tekanan 0,25 bar dan laju alir umpan 50Liter/Jam,
yaitu sebesar 3,55%.
Oleh Intan Larasati Dewi (141411014)
Falling film evaporator merupakan salah satu alat yang digunakan untuk
melangsungkan proses evaporasi dengan metode falling film. Penggunaan falling
film evaporator akan menghasilkan proses penguapan yang lebih efektif karena
umpan yang berbentuk lapisan (film) akan lebih mudah menguapkan pelarutnya yang
artinya produk berupa larutan yang lebih pekat akan lebih mudah terbentuk.
Penggunaan falling film evaporator juga sebagai pengganti evaporator dengan
tekanan vakum, dimana lapisan umpan yang tipis akan menaikkan tekanan parsial
larutan dan pada akhirnya proses evaporasi dapat dilakukan dengan suhu yang lebih
rendah. Evaporasi merupakan suatu proses penguapan sebagian dari pelarut sehingga
didapatkan larutan zat cair pekat yang konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi
dilakukan dengan maksud untuk memekatkan konsetrasi dari suatu larutan yang
terdiri dari komponen pelarut yang mudah menguap dan zat terlarut yang tidak
mudah menguap, karena adanya proses pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih
dari komponen yang mudah dan tak mudah diuapkan. Proses evaporasi berbeda
dengan distilasi, karena dalam proses evaporasi tidak ada usaha untuk memisahkan
menjadi fraksi-fraksi komponen (Frayekti, no date).
Prinsip kerja dari falling film evaporator yaitu umpan dimasukkan melaui
bagian atas kolom dan secara gravitasional. Umpan akan turun dan membasahi
dinding bagian dalam kolom dan dinding-dinding bagian luar tabung-tabung penukar
panas dan dalam kolom sebagian lapisan tipis sehingga disebut film. Maka panas
yang diberikan oleh medium pemanas di dalam penukar panas akan dipakai untuk
memanaskan larutan mencapai titik didihnya, penguapan pelarut dan membawa
temperatur uap dari titik temperatur di atasnya. Sehinggga di dalam kolom
evaporator akan terdapat campuran antara larutan pada temperatur penguapan
pelarut. Karena temperatur pada tangki pemisah dan pendingin (kondensor) lebih
rendah dari pada temperatur pada bagian bawah kolom maka sistem pada bagian
kolom tersebut akan mengalami penurunan tekanan, sehingga kondisi seperti vakum

terjadi oleh karena campuran tersebut akan terhisap menuju tangki pemisah dimana
bagian campuran yang berupa larutan produk yang lebih berat dan pekat turun
menuju tangki pengumpul produk, sehingga uap pelarut menuju kondensor
dikondensasikan dan turun menuju tangki destilat.
Pada praktikum ini dilakukan percobaan falling film evaporator menggunakan
steam dan air panas. Praktikum ini bertujuan untuk mengoperasikan peralatan
Falling Film Evaporator dengan pemanasan langsung, memilih temperature dan
tekanan yang optimum untuk umpan yang digunakan, menghitung koefisien
perpindahan panas pada FFE, menerapkan efisiensi penggunaan kukus (steam)
sebagai catu kalor, dan menjelaskan piranti pengendalian tekanan secara elektronis
pada sistem control.
Praktikum Falling Film Evaporator (FFE) ini, umpan yang digunakan berupa
air yang dievaporasi dengan pemanas berupa steam dan air panas sehingga akan
didapatkan air yang lebih pekat sebagai produk dan air yang tidak teruapkan sebagai
distilat. Proses evaporasi terjadi pada kalandria yang berbentuk shell and tube
sehingga pada saat proses dilakukan, aliran umpan akan masuk melalui bagian tube
dari bagian atas kalandria menuju bagian bawahnya karena pengaruh gravitasi,
sedangkan pada bagian shell akan dimasukkan steam melalui bagian atas kalandria
pada run 1 dan air panas melalui bagian bawah kalandria pada run 2. Berdasarkan
praktikum, ketika pemanas berupa steam digunakan, kontak yang terjadi antara
larutan umpan dengan steam terjadi secara co-current karena uap yang telah
berkontak dengan umpan akan berubah menjadi fasa cair dan akan turun searah
dengan turunnya umpan, sehingga apabila steam dialirkan dari bawah kalandria,
maka uap yang telah berubah fasa akan menahan aliran steam yang masuk sehingga
kontak perpindahan panas menjadi tidak optimal. Sedangkan kontak antara larutan
umpan dan air panas terjadi secara counter current. Aliran umpan yang telah
dievaporasi tersebut terdiri dari cairan produk pekat beserta uap hasil pemanasan.
Produk yang lebih pekat akan berbentuk cairan, sedangkan uap akan masuk kedalam
kondensor dan berubah menjadi kondensat (air) sebagai distilat.
Sampel diambil dari larutan umpan, produk, dan distilat dan dilakukan
pengukuran nilai DHL. DHL merupakan parameter yang menunjukkan nilai
kepekatan atau konsentrasi dari larutan. Berdasarkan praktikum, peningkatan DHL

terjadi pada larutan produk dari nilai DHL umpan, dan terjadi pula penurunan nilai
DHL pada larutan distilat dari nilai DHL umpan. Dapat dikatakan bahwa proses
evaporasi berjalan sesuai dengan teori dimana konsentrasi atau kepekatan larutan
produk akan meningkat karena sejumlah komponen pelarut dari larutan umpan telah
teruapkan pada saat proses pemanasan.
Berdasarkan perhitungan dan terlihat pula pada gambar 4.1 dan gambar 4.2,
nilai koefisien perpindahan panas keseluruhan (U) air panas cenderung lebih besar
daripada nilai U steam. Hal tersebut dapat disebabkan oleh jumlah panas yang
dibutuhkan untuk menguapkan pelarut lebih banyak dan perlunya pemanasan air
menggunakan steam terlebih dahulu.
Berdasarkan grafik antara laju alir umpan terhadap efisiensi perpindahan kalor,
baik dengan pemanasan menggunakan steam ataupun dengan air panas, cenderung
terjadi penurunan efisiensi ketika laju alir dinaikkan. Hal tersebut dapat dikarenakan
kontak perpindahan panas yang berlangsung lebih singkat karena laju alir umpan
yang dinaikkan, sedangkan besarnya aliran steam atau air panas dibuat tetap.
Efisiensi terbaik yang didapatkan pada saat pemanas steam digunakan yaitu pada
kondisi tekanan 0,75 bar dan laju alir umpan 50 L/jam, yaitu sebesar 26,3%,
sedangkan pada penggunaan pemanas berupa air panas, efisiensi terbaik didapatkan
ketika kondisi tekanan 0,25 bar dan laju alir umpan 50 L/jam, yaitu sebesar 3,55%.
Pada saat penggunaan pemanas berupa air panas, efisiensi yang didapatkan sangat
rendah dibandingkan dengan ketika penggunaan pemanas steam. Hal tersebut dapat
terjadi karena media pemanas dan larutan umpan merupakan larutan yang sama
dengan komposisi air yang dominan serta komposisi zat pekat yang terlarut
berjumlah sedikit, sehingga jumlah panas yang digunakan menjadi kurang efisien
karena suhu terjadinya penguapan pada larutan umpan terjadi pada nilai yang hampir
berdekatan dengan suhu air panas yang dapat dicapai.
Pada gambar 4.3 dan 4.4, dapat dilihat bahwa semakin tinggi nilai koefisien
perpindahan panas maka semakin baik proses evaporasi karena menunjukkan
perpindahan panas yang baik. Pada pemanasan menggunakan steam, nilai koefisien
perpindahan panas tertinggi terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar dan laju alir
umpan 50 L/jam dengan nilai koefisien perpindahan panas sebesar 16,887 kW/m 2 oC.
Pada pemanasan menggunakan air panas, nilai koefisien perpindahan panas tertinggi

terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar dan laju alir umpan 70 L/jam dengan nilai
koefisien perpindahan panas sebesar 95,52 kW/m2 oC.
Pada pemanasan dengan steam dan air pemanas diperoleh grafik yang
cenderung menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alir umpan, maka semakin
rendah koefisien perpindahan panasnya. Hal ini menunjukkan bahwa apabila laju alir
umpan terlalu tinggi, maka pelarut yang di evaporasi akan semakin berkurang. Hal
ini terjadi karena perpindahan panas hanya berlangsung sebentar sehingga tidak
maksimal.
Oleh Khoirin Najiyyah Sably (141411015)
Pada praktikum ini dilakukan operasi penguapan pada falling film evaporator
menggunakan steam (pemanasan langsung) dan air panas (pemanasan tidak
langsung). Praktikum ini bertujuan untuk menghitung koefisien perpindahan panas
pada falling film evaporator, menerapkan koefisien penggunaan kukus (steam)
sebagai sumber panas, dan menjelaskan piranti pengendalian tekanan secara
elektronis pada sistem kontrol.
Falling film evaporator merupakan salah satu alat yang digunakan untuk
melangsungkan proses evaporasi dengan metode falling film. Penggunaan falling
film evaporator akan menghasilkan proses penguapan yang lebih efektif karena
umpan yang berbentuk lapisan (film) akan lebih mudah menguapkan pelarutnya yang
artinya produk berupa larutan yang lebih pekat akan lebih mudah terbentuk.
Penggunaan falling film evaporator juga sebagai pengganti evaporator dengan
tekanan vakum, dimana lapisan umpan yang tipis akan menaikkan tekanan parsial
larutan dan pada akhirnya proses evaporasi dapat dilakukan dengan suhu yang lebih
rendah. Hal ini akan membuat kalor yang dibutuhkan untuk peroses penguapan lebih
sedikit sehingga akan lebih menghemat steam yang dibutuhkan. Proses evaporasi
kali ini beraliran co-current dimana umpan dan steam masuk pada aliran yang sama,
dan aliran counter current pada pemanasan tidak langsung
Prinsip kerja dari Falling Film Evaporator yaitu umpan dimasukkan melalui
bagian atas kolom secara gravitasional. Jika vakum tidak dioperasikan turun dan
membasahi dinding bagian dalam kolom dan dinding-dinding bagian luar tabungtabung penukar panas dan dalam kolom sebagian lapisan tipis (film), maka panas

yang diberikan oleh medium pemanas di dalam penukar panas akan dipakai untuk
memanaskan larutan mencapai titik didihnya. Penguapan pelarut membawa
temperatur uap dari titik temperatur di atasnya, sehinggga di dalam kolom evaporator
akan terdapat campuran antara larutan pada temperatur penguapan pelarut atau
sedikit lebih tinggi atau rendah dari uap pelarut. Karena temperatur pada tangki
pemisah dan pendingin (kondensor) lebih rendah daripada temperatur pada bagian
bawah kolom maka sistem pada bagian kolom tersebut akan mengalami evakuasi
yang dalam arti sebenarnya terjadi penurunan tekanan sehingga kondisi seperti
vakum terjadi karena campuran tersebut akan terhisap menuju tangki pemisah
dimana bagian campuran yang berupa larutan produk yang lebih berat dan pekat
turun menuju tangki pengumpul produk, sehingga uap pelarut menuju kondensor
dikondensasikan dan turun menuju tangki destilat.
Pada praktikum ini bahan yang akan dipekatkan adalah air kran. Pada dasarnya
air memiliki parameter yang dapat dijadikan nilai untuk menentukan kualitas air
tersebut, salah satunya adalah daya hantar listrik (DHL). Daya hantar listrik adalah
kemampuan air untuk menghantarkan listrik yang diakibatkan adanya ion-ion yang
terkandung di dalam air. Semakin banyak ion-ion yang terkandung di dalam air maka
semakin besar nilai daya hantar listriknya, sehingga dapat dikatakan air tersebut
memiliki kualitas yang buruk. Pemekatan air ini menggunakan falling film
evaporator type Shell and Tube Evaporator dengan pemanasan langsung dan tidak
langsung dimana umpan dialirkan pada dinding tube dan pemanas pada shell.
Pemanasan secara langsung akan terjadi perpindahan panas antara steam dan umpan
secara langsung. Sedangkan pada pemanasan secara tidak langsung, perpindahan
panas yang terjadi secara dua tahap, yaitu pertama steam akan akan memanaskan
fluida pemanas, dan selanjutnya fluida pemanas akan memanaskan umpan. Umpan
dipompa menggunakan pompa jenis piston yang akan memompakan umpan dengan
kecepatan yang lambat sehingga proses pembentukan film pada dinding FFE akan
lebih optimal
Percobaan dilakukan dengan menggunakan pemanas steam dan air pemanas
dengan memvariasikan tekanan yaitu 0,25 bar, 0,5 bar, 0,75 bar, 1 bar, dan 1,25 bar
dengan laju alir umpan sebesar 50 L/jam dan 70 L/jam.

Pengaruh laju alir umpan terhadap efisiensi penggunaan steam dan air panas
Pada gambar 4.1 dan gambar 4.2 dapat dilihat pengaruh laju alir umpan terhadap
efisiensi penggunaan steam dan air panas. Pada laju alir 70 L/jam dengan umpan
pemanas steam maupun pemanas air panas, efisiensi penggunaan steam cenderung
menurun. Menurut literatur mengatakan bahwa semakin tinggi laju alir, maka
efisiensi steam maupun air panas semakin meningkat. Tetapi pada praktikum ini
didapatkan semakin tinggi laju alir, efisiensi yang didapatkan cenderung menurun.
Hal ini disebabkan pada laju alir 50 L/jam kontak antara umpan dan pemanas
cenderung lebih lama dibandingkan dengan laju alir umpan 70 L/jam sehingga terjadi
perpindahan panas yang optimal pada laju alir 50 L/jam. Pada pengamatan pada saat
praktikum efisiensi terbaik didapatkan pada media pemanas steam pada laju alir
umpan 50 L/jam sebesar 26,3%, pada media pemanas air panas didapatkan efisiensi
terbaik pada laju alir 50 L/jam sebesar 3,55%.
Pengaruh laju alir umpan terhadap koefisien perpindahan panas (U)
Pada gambar 4.3 dan 4.4 dapat dilihat pengaruh laju alir umpan terhadap
koefisien perpindahan panas (U). Semakin tinggi nilai koefisien perpindahan panas
maka semakin baik proses evaporasi yang terjadi, karena menunjukan perpindahan
panas yang terjadi berlangsung secara baik. Pada pemanasan menggunakan steam,
nilai koefisien perpindahan panas tertinggi terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar
dan laju alir umpan 50 L/jam dengan nilai koefisien perpindahan panas sebesar
16,887 kW/m2 oC. Pada pemanasan menggunakan air panas, nilai koefisien
perpindahan panas tertinggi terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar dan laju alir
umpan 70 L/jam dengan nilai koefisien perpindahan panas sebesar 95,52 kW/m2 oC.
Pada pemanasan dengan steam dan air pemanas diperoleh grafik yang cenderung
menunjukkan bahwa semakin tinggi laju alir umpan, maka semakin rendah koefisien
perpindahan panasnya. Hal ini menunjukkan bahwa apabila laju alir umpan terlalu
tinggi, maka pelarut yang di evaporasi akan semakin berkurang. Hal ini terjadi
karena perpindahan panas hanya berlangsung sebentar sehingga tidak maksimal.

Oleh Lutfi Arif Rachman (141411016)


Pada praktikum ini, dilakukan praktik evaporasi dengan menggunakan
evaporator jenis Falling Film Evaporator (FFE). Evaporasi merupakan suatu proses
penguapan sebagian dari pelarut sehingga didapatkan larutan zat cair pekat yang
konsentrasinya lebih tinggi. Evaporasi dilakukan dengan maksud untuk memekatkan
konsetrasi dari suatu larutan yang terdiri dari komponen pelarut yang mudah
menguap dan zat terlarut yang tidak mudah menguap, karena adanya proses
pemisahan berdasarkan perbedaan titik didih dari komponen yang mudah dan tak
mudah diuapkan. Proses evaporasi berbeda dengan distilasi, karena dalam proses
evaporasi tidak ada usaha untuk memisahkan menjadi fraksi-fraksi komponen
(Frayekti, no date).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan, digunakan larutan umpan berupa air
baku yang dievaporasi dengan pemanas berupa steam dan air panas, sehingga akan
didapatkan air yang lebih pekat sebagai produk, dan air yang tidak teruapkan sebagai
distilat. Proses evaporasi tersebut dilakukan didalam kolom kalandria berbentuk
shell and tube. Sehingga pada saat proses dilakukan, aliran umpan akan masuk
melalui bagian tube dari bagian atas kalandria menuju bagian bawahnya karena
pengaruh gravitasi, sedangkan pada bagian shell akan dimasukkan steam pada bagian
atas kalandria pada run 1 dan air panas melalui bagian bawah kalandria pada run 2.
Berdasarkan proses yang teramati, saat pemanas berupa steam, kontak antara larutan
umpan dan steam terjadi secara Co-Current karena uap yang telah berkontak dengan
umpan akan berubah menjadi fasa cair dan akan turun searah dengan turunnya
umpan, sehingga apabila steam dialirkan dari bawah kalandria, maka uap yang telah
berubah fasa akan menahan aliran steam yang masuk sehingga kontak perpindahan
panas menjadi tidak optimal. Sedangkan kontak antara larutan umpan dan air panas
terjadi secara Counter Current. Aliran umpan yang telah dievaporasi tersebut terdiri
dari cairan produk pekat beserta uap hasil pemanasan. Produk yang lebih pekat akan
berbentuk cairan, sedangkan uap akan masuk kedalam kondensor sehingga akan
terbentuk kondensat (air) sebagai distilat.
Dilakukan pengambilan sampel dari larutan umpan, produk, dan distilat untuk
dilakukan pengukuran nilai DHL, dimana nilai DHL tersebut akan menunjukkan
nilai kepekatan / konsentrasi dari larutan. Berdasarkan percobaan yang dilakukan,
terjadi peningkatan nilai DHL pada larutan produk dari nilai DHL umpannya , serta

terjadi penurunan nilai DHL pada larutan distilat dari nilai DHL umpannya. Sehingga
dapat dikatakan, proses evaporasi berjalan sesuai dengan teori dimana konsentrasi /
kepekatan larutan produk akan meningkat karena sejumlah komponen pelarut (air)
dari larutan umpan telah teruapkan ketika dilakukan pemanasan.
Berdasarkan data yang didapatkan, didapatkan nilai dari koefisien perpindahan
panas keseluruhan (U) melalui perhitungan. Jika dibandingkan nilai U antara
pemanasan dengan steam dan pemanasan dengan air panas, maka U air panas
cenderung bernilai lebih besar dari U steam. Hal tersebut dapat dikarenakan jumlah
panas yang dibutuhkan untuk menguapkan pelarutnya lebih banyak, juga
dikarenakan perlunya pemanasan air menggunakan steam terlebih dahulu.
Berdasarkan grafik antara laju alir umpan terhadap nilai U dengan pemanas steam
maupun air panas, nilainya cenderung tidak tetap. Hal tersebut dapat dikarenakan
temperatur steam yang tidak tetap.
Berdasarkan grafik antara laju alir umpan terhadap efisiensi perpindahan kalor,
baik dengan pemanasan menggunakan steam ataupun dengan air panas.
Kecenderungan yang terlihat adalah terjadinya penurunan efisiensi ketika laju alir
dinaikkan. Hal tersebut dapat terjadi akibat kontak perpindahan panas yang
berlangsung lebih singkat karena laju alir umpan yang dinaikkan, sedangkan
besarnya aliran steam/ air panas yang dibuat tetap. Menurut pengamatan praktikan,
efisiensi terbaik yang didapatkan pada penggunaan pemanas steam berlangsung pada
kondisi tekanan 0,75 bar dan laju alir umpan 50Liter/Jam, yaitu sebesar 26,3%.
Sedangkan efisiensi terbaik yang didapatkan pada penggunaan pemanas berupa air
panas berlangsung pada kondisi tekanan 0,25 bar dan laju alir umpan 50Liter/Jam,
yaitu sebesar 3,55%. Besarnya efisiensi perpindahan panas yang didapatkan oleh
praktikan terbilang sangat rendah saat menggunakan pemanas berupa air panas. Hal
tersebut dapat dikarenakan media pemanas dan larutan umpan merupakan larutan
yang sama dengan komposisi air yang dominan serta komposisi zat pekat yang
terlarut berjumlah sedikit. Sehingga jumlah panas yang digunakan menjadi kurang
efisien karena suhu terjadinya penguapan pada larutan umpan terjadi pada nilai yang
hampir berdekatan dengan suhu air panas yang dapat dicapai.

4.3. Kesimpulan

a) Falling Film Evaporator dengan pemanasan langsung, yaitu proses Evaporasi


dengan memasukan umpan kedalam Shell and Tube Evaporator dalam bentuk
film dibagian dalam tube yang mendapatkan panas secara langsung dari steam
yang berada pada shellnya. Pada media pemanas menggunakan air panas
perpindahan panas yang terjadi secara dua tahap, yaitu pertama steam akan akan
memanaskan fluida pemanas, dan selanjutnya fluida pemanas akan memanaskan
umpan.
b) Operasi optimum proses Evaporasi ini bergantung pada :

Tekanan operasi (tekanan steam),

Laju alir umpan yang mempengaruhi waktu tinggal umpan dalam kalindria
(evaporator).

Temperatur umpan masuk kedalam kalindria (evaporator).

c) Effisiensi optimum didapatkan pada media pemanas steam pada laju alir umpan
50 L/jam sebesar 26,3%, pada media pemanas air panas didapatkan efisiensi
terbaik pada laju alir 50 L/jam sebesar 3,55%.
d) Koefisien perpindahan panas optimum menggunakan media pemanas steam nilai
koefisien perpindahan panas tertinggi terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar
dan laju alir umpan 50 L/jam dengan nilai koefisien perpindahan panas sebesar
16,887 kW/m2 oC. Pada media pemanasan menggunakan air panas, nilai
koefisien perpindahan panas tertinggi terjadi pada kondisi tekanan steam 1 bar
dan laju alir umpan 70 L/jam dengan nilai koefisien perpindahan panas sebesar
95,52 kW/m2 oC.

DAFTAR PUSTAKA
Budiman,

Ganjar

dkk.

2001.

Penguapan

Lapis

Tipis.

Online

dalam

http://www.angelfire.com/ak5/process_control/evaporator.html .[ 10 Oktober
2016 ].
Edahwati,
Luluk.

2009.

Alat

Industri

Kimia.

Online

dalam

http://eprints.upnjatim.ac.id/3218/6/luluk_edah_alat.PDF. [ 10 Oktober 2016 ].


Frayekti,
Melly
C.
no
date.
EVAPORATOR.
Online
dalam
https://www.academia.edu/19684637/Makalah-evaporator-melly. [ 10 Oktober
2016 ].
Geankoplis, Christie J. 1978. Transport Processes and Unit Operations 3rd ed.
London : Prentice-Hall International, Inc.