You are on page 1of 19

LAPORAN KASUS

PADA An.M DENGAN THYPOID DIRUANG MAWAR RS.GUNTUR GARUT


PENGKAJIAN
Tanggal masuk RS

: 09-09-2016

Jam masuk RS

: 20.45 WIB

Tanggal pengkajian

: 15-05-2011

Jam pengkajian

: 9.00 WIB

1.

IDENTITAS KLIEN

Nama Klien

: An. M

Tempat/tgl lahir

: GARUT 06-05-2011

Umur

: 5 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Suku

: Sunda

Bahasa yang dimengerti

: Indonesia

Dx Medis

: Thypoid

No Rekam Medis

: 08-46-25

Data penanggung jawab


Nama ayah/ibu/wali

: Tn.K

Pekerjaan ayah/ibu/wali

: wiraswasta

Alamat ayah/ibu/wali

: Kp.bojong gedang 001/003 ds. Maripari Sukawening


Garut

2.

KELUHAN UTAMA

Pasien mengeluh panas badan


3.

RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG


Pada tanggal 09 september 2016 pukul 20.53 WIB klien di bawa ke IGD RS.guntur

dengan keluhan panas sejak 4 hari yang lalu,disertai bintik bintik merah, panas timbul
mendadak, panas

dirasakan pada seluruh badan, panas berkurang kurang stelah pasien

meminum obat dan dikompres hangat di ketiak, di IGD pasien mendapatkan terapy Infus
asering 20 tpm/ (Paracetamol 125mg 3x11/2cth(oral), mucos 3x ,(oral ) dionicol forte 3x1
cth (oral ) goforan 2x700mg (iv) .Tanda tanda vital Nadi di IGD; 110 x/mnt, suhu; 38.5 C,
RR ; 16x/mnt. BB: 12Kg

Pasien dibawa ke bangsal wanita sekitar jam 21.00 WIB. Pada saat di ruangan Kondisi
klien tampak lemas,akral hangat,pusing,pasien mual,tidak mau makan, tanda tanda vital; S:
38.0C, N: 100x/m, R:20x/m.
4.

RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU

1. Prenatal
Selama kehamilan ibu klien melakukan ANC ke bidan secara teratur sesuai dengan
anjuran dari bidan, selama hamil tidak ada keluhan dan penyakit yang diderita ibu klien
2. Perinatal dan post natal
An. M lahir spontan ditolong bidan, BBL 3,2kg, langsung menangis.
3. Penyakit yang pernah diderita
Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah sakit yang mengharuskan dirawat di RS,
ini adalah pertamakalinya dirawat di RS.
4. Hospitalisasi/tindakan operasi
Klien belum pernah mengalami hospitalisasi sebelum sakit yang sekarang.
5. Injuri/kecelakaan
Ibu klien mengatakan anaknya belum pernah mengalami kecelakaan.
6. Alergi
Ibu klien mengatakan anaknya tidak mempunyai riwayat alergi demikian juga dengan
keluarga, tidak ada yang mempunyai riwayat alergi.
7. Imunisasi
Ibu klien mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
8. Pengobatan
Apabila klien sakit ibu klien membawa ke bidan atau dokter.
5.

RIWAYAT SOSIAL

1. Yang mengasuh
Yang mengasuh klien adalah ibunya sendiri
2. Hubungan dengan anggota keluarga
Hubungan dengan keluarga dan orang lain baik, komunikasi masih belum lancar karena
masih dalam taraf perkembangan.
3. Hubungan dengan teman sebaya
Hubungan dengan teman sebaya baik
4. Pembawaan secara umum

Klien nampak aktip , kooperatif, tidak takut dengan petugas


6.

RIWAYAT KELUARGA

1. Sosial ekonomi
Ibu klien sebagai seorang ibu rumah tangga dan bapak klien sebagai wiraswasta.
2.. rumah
Ibu klien mengatakan lingkungan rumahnya cukup bersih dan ventilasi udara cukup,
lantai rumah dari semen, jumlah jendela 5 buah, tidak ada sumber polusi yang dekat dengan
rumahnya.
3. Penyakit keluarga
Tidak ada anggota keluarga, saudara yang mempunyai penyakit menular ataupun
menurun.
7.

PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI

1.Personal sosial
Pada usia 5 tahun sesuai DDST klien sudah bisa memakai baju, gosok gigi dengan bantuan
ibunya, cuci dan mengeringkan tangan, menyebutkan nama temanya.
2.Motorik halus
Pada usia 5 tahun sesuai DDST klien sudah bisa membuat menara dari 6 kubus,meniru garis
vertikal.
3. Bahasa
Pada usia 5 tahun sesuai DDST klien sudah bisa bicara cukup mengerti, menyebut 4 gambar,
mengatakan 2 nama kegiatan
4. Motorik kasar
Pada usia 5 tahun sesuai DDST klien sudah bisa melompat dan melempar bola lengan ke atas
Interpretasi
Pertumbuhan dan perkembangan normal

8.

PENGKAJIAN POLA KESEHATAN KLIEN

1. Pemeliharaan kesehatan :
Selama ini apabila anaknya sakit atau ada anggota keluarga yang sakit maka akan
priksa ke bidan kalau tidak sembuh dibawa ke dokter ataupun di bawa ke rumahsakit
2. Nutrisi

Saat ini klien mendapatkan diet bubur kasar ,ibu klien mengatakan klien susah makan
sejak sebelum sakit biasanya hanya makan pagi dan sore saja dan paling hanya 8- 10 sendok
makan, pada saat dikaji ibu klien mengatakan klien makan hanya 1-3 sendok. Ibu klien
mengatakan anaknya muntah.
3. Cairan
Sebelum sakit klien minum susu 1-3 gelas perhari, selama sakit klien minum susu 1
gelas dan kadang minum air putih serta mendapatkan terapi cairan IV asering.
4. Aktivitas
Sebelum sakit klien tidak ada keluhan dalam aktifitasnya, dapat bermain dengan
teman-teman sebayanya di rumah, sekarang klien hanya tiduran, tidak bisa beraktifitas seperti
biasanya, ADL dibantu oleh ibunya dan perawat.
5. Tidur dan istirahat
Sebelum sakit klien tidur sekitar pukul 19.30 s.d 05.00, tidur siang 2x dengan
konsistensi 1 jam , pada saat sakit klien tidur sekitar jam 20.00 sampai jam 05.00, tidur siang
sekitar 3 jam dengan konsistensi 1 jam.
6. Eliminasi
Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-6x/hari
Pada saat dikaji klien BAB 1x konsistensi padat dan BAK 3-4x/hari
7. Pola hubungan
Hubungan dengan orang tua baik, dengan orang lain dan perawat baik.
8. Koping atau temperamen dan disiplin yang diterapkan
Orang tua klien memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bermain bersama
teman-temannya asalkan tidak melebihi waktunya beristirahat.
9. Kognitif dan persepsi
Tidak ada keluhan tentang penglihatan, penciuman, pendengaran dan perabaan, klien
berumur 4,6 tahun kemampuan kognitifnya baik,
10. Konsep diri
Ibu klien mengatakan pingin anaknya cepat sembuh karena tidak tega melihat
anaknya sakit.
11. Seksual dan menstruasi :
Klien berjenis kelamin perempuan usia 5 tahun, belum mengalami menstruasi.
12.

Nilai :

Tidak ada nilai-nilai keluarga yang bertentangan dengan kesehatan.


9.

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaaan umum : lemah


1.Tingkat kesadaran : composmentis.
S: 3880C, N: 100x/m,
R:20x/m. BB; 12 kg
TB; 105 cm ,
LLA ; 18 cm
LK; 49 cm LD; 60cm
2. Kulit : Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan bersih, turgor kulit
menurun,
3. Kepala : Bentuk mesochepal, warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.
4. Mata : Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis.
5.Telinga :Simetris, discharge (-) bersih, bentuk normal.
6. Hidung :Simetris, discharge (-), bentuk normal,
7Mulut : Simetris, mukosa bibir kering, gigi normal, bersih, karies (-),Lidah kotor/ putih
8. Leher : JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran limponodi.
9. Dada : bunyi napas vesikuler, tidak ada retraksi dingding dada,tampak simetris, bunyi
jantung reguler,
10. Abdomen :
terlihat mendatar, bising usus 10x/menit bunyi timpani
12. Genetalia :
Tak ada keluhan.
13.Muskuleskeletal :
Tak ada keluhan, pergerakan sendi sesuai jenis, ROM baik.
14. Neurologi :
Normal, tak ada keluhan.

10. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG


a.Lab darah
Tanggal

:09 -09-2016

Nama

: An.M

Umur

:5 tahun

No rm

: 08-46-25
Pemeriksaan
Hematologi
Hemoglobin

hasil

Nilai rujukan

satuan

12.9

Gr/dl

Leukosit
LED

11.100

Trombosit
Hematokrit
Eritrosit

343.000
39.4%

Pria : 14-18
Wanita :12-16
4.000-10.000/m3
< 10mm
< 20mm
150.000-450.000
35%-45%

1/80
1/80
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip
1/320
Negatip

Negatip
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip
Negatip

Pemeriksaan widal
Salmonela typhi H
Salmonela pharatypi ah
Salmonela pharatypi bh
Salmonela pharatypi ch
Salmonela typi O
Salmonela pharatypi ao
Salmonela pharatypi bo
Salmonela pharatypi co

C. Terapi
Tanggal

Per-oral
Paracetamol 125 mg
Dionicol 500 mg 3x1 cth
Mucos 3x1/4

Per mm3
Per mm3
%

Per-interal
cefotaxime 2x700 mg
infus /asering 20tpm

Ket

1.

ANALISA DATA
No Data
Etiologi
Problem
1
DS : ibu Klien mengatakan anaknya badan nya Proses
infekksi Hipertermi
panas
salmonella thypi
DO :
klien tampak lemas,
akral teraba hangat
Suhu: 3880C
Nadi: 100x/ menit
2

RR: 20x/ menit


DS:

Proses inflamasi

nyeri

P: ibu pasien mengatakan anak nya nyeri bila


untuk beraktifitas/bergerak hilang apabila saat
beristirahat.
Q : ibu pasien mengatakan nyeri anak nya
seperti ditusuk-tusuk
R: ibu Pasien mengatakan nyeri anak nya pada
perut bagian kanan atas.
S: Skala nyeri 4
T: nyeri timbul hingga 5 menit
DO:
Wajah pasien tampak menahan nyeri
N :100x/mnt
S : 38 C
RR: 20x/mnt
Ps lemah, ps

tampak gelisah, ps

merintih

kesakitan
Nafsu makan menurun, mual (+)
Konjungtiva anemis
Akral hangat
3

Pasien menangis
DS : - ibu klien mengatakan klien makan susah Anoreksia ( mual dan Resiko
nutrisi
hanya 1-3 sendok.
muntah)
kurang
dari
Ibu klien mengatakan anaknya muntah 2-3x
kebutuhan
setiap makan
ibu Klien mengatakan anaknya badan nya

panas
DO :
klien muntah
BB : 11 kg
Porsi makan dari RS hanya dimakan 1-3
sendok

2.

3.

PRIORITAS MASALAH
1.
infeksi salmonella thypi
2.
3.
anoreksia ( mual & muntah)

Hipertermi berhubungan dengan proses


Nyeri b.d proses inflamasi
Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d

RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnoses
Tujuan
intervensi
1 Hipertermi
Setelah dilakukan tindakan Mengobserfasi tanda tanda vital
berhubungan
keperawatan selama 2 x 24
Pantau aktifitas kejang
dengan
proses jam diharapkan suhu tubuh
ifeksi salmonella normal
engan
KH: Pantau hidrasi
thypi
Mempertahaankan
suhu
Berikan kompres air biasa
tubuh dalam batas normal
Pemberian terapi 0bat anti piretik sesuai
2

program
Nyeri b.d proses Setelah dilakukan tindakan a.monitor KU
inflamasi

keperawatan selama 2x24 b.kaji tingkat nyeri intensitas dan skala


jam

diharapkan

nyeri nyeri

berkurang,dengan KH:

c.jelaskan penyebab nyeri

Skala nyeri menjadi 3

d.ajarkan teknik distraksi relaksasi(nafas

Pasien nampak lebih rileks dalam)


Pasien
mengontrol nyeri
3

mampu e.posisikan pasien senyaman mungkin


f.kolaborasi dengan tim medis pemberian

obat analgesik
Resiko
nutrisi Setelah dilakukan tindakan Kaji pola dan kebiasaan makan
kurang
dari keperawatan selama 2 x 24
Observasi adanya muntah
kebutuhan
b.d jam kebutuhan nutrisi
anoreksia ( mual, adekuat dengan kriteria Menganjurkan keluarga untuk memberi
muntah)
hasil :
makanan dalam porsi kecil tapi sering dan
Klien tidak muntah
3.
Porsi
makan
yang tidak merangsang produksi asam (biskuit)
disediakan habis
Memberikan terapi pemberian cairan dan

nutrisi sesuai program


Memberikan terapi pemberian anti
emetik sesuai program
1.
1.

IMPLEMENTASI
Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi
Tgl
Implementasi
Respon pasien
15-05-2011 Mengukur tanda tanda vital
S: 37,80 C, N: 100x/m, R:20x/m.

Ttd

Memantau aktifitas kejang


Menganjurkan keluarga untuk
memberikan sedikit minum tapi

Pasien tidak mengalami kejang

sering
Klien sedikit-sedikit mau minum

memberikan kompres hangat


memberikan

terapi

sesuai

program
Pasien dikompres pake air hangat

16-05-2011

Mengukur

Terapi diberikan
kembali tanda S: 36,8C, N: 100x/m, R:20x/m.

tanda vital
Memantau

kembali aktifitas
Pasien tidak mengalami kejang

kejang
Menganjurkan kembali keluarga
untuk memberikan sedikit minum

Klien sedikit-sedikit mau minum

tapi sering
memberikan kompres hangat
memberikan

kembali

sesuai program

terapi
Pasien sudah tidak dikompres
Terapi diberikan

2. Nyeri b.d proses inflamasi


Tgl
Implementasi
15-05-2011
Monitor KU / TTV
Mengkaji skala nyeri

Respon pasien
Keadaan pasien lemah
N : 100 x/mnt

Ttd

Memberikan posisi yang nyaman. R : 20 x/mnt


Mengajarkan teknik relaksasi
Memberikan

motivasi

S : 37 C

untuk

kompres air hangat pada bagian Skala nyeri 4


yang sakit
Memberikan terapi obat analgesik
-terapi masuk
1.

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual, muntah)


Tgl
Implementasi
Respon pasien
15-05-2011
Mengkaji pola dan kebiasaan Klien makan hanya 1-3sdm
makan
Mengobservasi

adanya klien sudah muntah 1x

muntah
Menganjurkan keluarga untuk Ibu klien mengatakan anaknya masih
susah makan
memberi makanan dalam porsi
kecil tapi sering dan tidak
merangsang

produksi

asam

(biskuit)
Memberikan terapi pemberian
cairan

dan

nutrisi

sesuai

program

Infus RL terpasang 20tpm

Memberikan terapi pemberian


anti emetik sesuai program

16-05-2011

Terapi diberikan
Mengkaji kembali pola dan Klien menghabiskan porsi dari RS
kebiasaan makan
Mengobservasi

kembali
Klien sudah tidak muntah terus

adanya muntah
Menganjurkan kembali pada
keluarga

untuk

memberi

makanan dalam porsi kecil tapi

Klien terlihat makan biskuit,pisang

Ttd

sering dan tidak merangsang


produksi asam
Memberikan kembali terapi
pemberian cairan dan nutrisi
sesuai program
Memberikan kembali terapi
pemberian obat anti emetik Infus RL terpasang 20 tpm
sesuai program

Terapi diberikan
2.

EVALUASI
Hari / tanggal
Rabu
18-05-2011

SOAP
S: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak panas
O: klien masih tampak lemas,
klien sudah tdak muntah
Suhu: 36 C
Nadi: 90x/ menit
RR: 20x/ menit
A: masalah teratasi sebagian
P: pertahankan intervensi

Ttd

Rabu
18-05-2011

S: ibu Pasien mengatakan ,anak nya sudah tidak nyeri


perut
O: pasien nampak rileks
A: Masalah teratasi
P: pertahankan intervensi
Motivasi pasien untuk tetap melakukan teknik
relaksasi distraksi (nafas dalam) bila nyeri timbul
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

Rabu
18-5-2011

S:
- S: ibu klien mengatakan ,klien setiap habis makan
sudah berkurang muntah nya.
O: klien masih muntah 1x
BB : 11kg
Porsi makan dari RS hanya dimakan porsi
A: masalah teratasi
P: pertahankan intervensi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.T DENGAN THYPOID


DI RUANG INAYAH KAMAR 11
PKU MUHAMMADIYAH GOMBONG

Disajikan Sebagai Tugas


Pada Pembelajaran Anak
Program Pendidikan S1 Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Gombong

Oleh :
Pupupt Dwi Utmi
( A1.0800462 )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


GOMBONG
2011

PENGESAHAN
Lembar pengesahan :
Laporan Kasus
ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.T DENGAN THYPOID DI RUANG INAYAH
KAMAR 11 PKU MUHAMMADIYAH GAMBONG

Telah disetujui pada hari / tanggal :

Pembimbing

lahan

Mahasiswa

( Tulo Bariyem, S.Kep )

(Puput Dwi

Utami)

Pembimbing Akademik

(Tyas, S.kep.Ns)

BAB I
PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang
Di Indonesia demam thypoid jarang dijumpai secara epidemic , tetapi lebih sering
bersifat seporadis, terpencar-pencar di suatu daerah, dan jarang menimbulkan lebih dari satu
kasus pada orang-orang serumah. Pasien anak yang ditemukan berumur diatas 1 tahun.
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan
bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan
mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
Masa inkubasi demam thypoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60
hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita
tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
BP RSUD Kebumen adalah salah satu Rumah Sakit daerah yang mengelola berbagai
penyakit, termasuk penyakit thipoid. Bangsal Melati adalah salah satu bangsal di BP RSUD
Kebumen yang mengelola pasien anak. Di Bangsal Melati pada bulan april terdapat 10 pasien
anak yang menderita penyakit thypoid.
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada
umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu
badan yang meningkat.
Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam
remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan
kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput
kecoklatan yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan
dkk. 2001)

2.

Konsep Dasar

1.

Definisi
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella
Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
( Bruner and Sudart, 1994 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella Thypi
( Arief Maeyer, 1999 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid
dan paratyphoid abdominalis
( Syaifullah Noer, 1996 ).
Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid
fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis
(.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik
yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara
pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
(Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah
suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang
dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

2.

ETIOLOGI
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier.
Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi
salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
C.PATOLOGI ANATOMI
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus
(kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor
(usus besar ), rektum dan anus.

Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak

di usus halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan
makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya 6 cm,
merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan
yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot
melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa
(sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum.

Duodenum

disebut juga usus dua belas jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke
kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selapu
t lendir yang membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran
empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus).

Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar,
kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas
adalah yeyenum dengan panjang 23 meter dari ileum dengan panjang 4 5 m. Lekukan
yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan
peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena
mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang
membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas
yang tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang
bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada
bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk
mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan
mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub
mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi
oleh epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang
memegang peranan aktif dalam pencernaan.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disanasini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium
terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan
dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa
sentimeter. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat
peradangan pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyers adalah sel-sel dari jaringan limfe
dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum.
( Evelyn C. Pearce, 2000)
D.PATOFISIOLOGI
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal
dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan
melalui Feses.
Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan

hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut
kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang
tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian
kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam
jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai selsel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam
sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada
patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam
disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat
pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.
E..KOMPLIKASI
a. Komplikasi intestinal
1) Perdarahan usus
2) Perporasi usus
3) Ilius paralitik
b. Komplikasi extra intestinal
1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,
tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer,
sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.

F.PENATALAKSANAAN
1.

Perawatan

1.

Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus.

2.

Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada
komplikasi perdarahan.

2.

Diet
Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2.

Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3.

Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.