You are on page 1of 24

BAB II

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI KELENJAR TIROID


Kelenjar

tiroid

terletak

pada

leher

bagian

depan,

tepat

di

bawah

kartilago

krikoid, disamping kiri dan kanan trakhea. Pada orang dewasa beratnya lebih kurang 18 gram.
Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri kanan yang dipisahkan oleh isthmus.
Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan
panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat
folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormonhormon disintesa.kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri
tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan
arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia. Lobus kanan kelenjar tiroid
mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri. Dipersarafi oleh saraf
adrenergik dan kolinergik. saraf adrenergik berasal dari ganglia servikalis dan kolinergik berasal
dari nervus vagus.
Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yaitu T3, T4 dan sedikit kalsitonin. Hormon
T3 dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan kalsitonin dihasilkan oleh parafolikuler. Bahan
dasar pembentukan hormon-hormon ini adalah yodium yang diperoleh dari makanan dan
minuman. Yodium yang dikomsumsi akan diubah menjadi ion yodium (yodida) yang masuk
secara aktif ke dalam sel kelenjar dan dibutuhkan ATP sebagai sumber energi. Proses ini disebut
pompa iodida, yang dapat dihambat oleh ATP- ase, ion klorat dan ion sianat.
Sel folikel membentuk molekul glikoprotein yang disebut Tiroglobulin yang kemudian
mengalami penguraian menjadi mono iodotironin (MIT) dan Diiodotironin (DIT). Selanjutnya
terjadi reaksi penggabungan antara MIT dan DIT yang akan membentuk Tri iodotironin atau T3
dan DIT dengan DIT akan membentuk tetra iodotironin atau tiroksin (T4). Proses penggabungan
ini dirangsang oleh TSH namun dapat dihambat oleh tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metil
kaptoimidazol. Hormon T3 dan T4 berikatan dengan protein plasma dalam bentuk PBI (protein
binding Iodine).
a)

Fungsi hormon-hormon tiroid antara adalah:


Mengatur laju metabolisme tubuh. Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan metabolisme
karena peningkatan komsumsi oksigen dan produksi panas. Efek ini pengecualian untuk otak,
lien, paru-paru dan testis

b)

Kedua hormon ini tidak berbeda dalam fungsi namun berbeda dalam intensitas dan cepatnya
reaksi. T3 lebih cepat dan lebih kuat reaksinya tetapi waktunya lebih singkat dibanding dengan
T4. T3 lebih sedikit jumlahnya dalam darah. T4 dapat dirubah menjadi T3 setelah dilepaskan dari

c)
d)
e)

folikel kelenjar.
Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan saraf dan tulang
Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin
Efek kronotropik dan Inotropik terhadap jantung yaitu menambah kekuatan kontraksi otot dan

menambah irama jantung.


f)
Merangsang pembentukan sel darah merah
g)
Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan
oksigen akibat metabolisme.
h)
Bereaksi sebagai antagonis

insulin.

Tirokalsitonin

mempunyai

jaringan

sasaran

tulang dengan fungsi utama menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat reabsorpsi
kalsium di tulang. Faktor utama yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium
serum. Kadar kalsium serum yang rendah akan menekan ;pengeluaran tirokalsitonin dan
sebaliknya peningkatan kalsium serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Faktor
tambahan adalah diet kalsium dan sekresi gastrin di lambung.
Pembentukan dan Sekresi Hormon Tiroid Ada 7 tahap, yaitu:
1.

Trapping
Proses ini terjadi melalui aktivitas pompa iodida yang terdapat pada bagian basal sel folikel.
Dimana dalam keadaan basal, sel tetap berhubungan dengan pompa Na/K tetapi belum dalam
keadaan aktif. Pompa iodida ini bersifat energy dependent dan membutuhkan ATP. Daya
pemekatan konsentrasi iodida oleh pompa ini dapat mencapai 20-100 kali kadar dalam serum
darah. Pompa Na/K yang menjadi perantara dalam transport aktif iodida ini dirangsang oleh

2.

TSH.
Oksidasi
Sebelum iodida dapat digunakan dalam sintesis hormon, iodida tersebut harus dioksidasi
terlebih dahulu menjadi bentuk aktif oleh suatu enzim peroksidase. Bentuk aktif ini adalah
iodium. Iodium ini kemudian akan bergabung dengan residu tirosin membentuk monoiodotirosin
yang telah ada dan terikat pada molekul tiroglobulin (proses iodinasi). Iodinasi tiroglobulin ini
dipengaruhi oleh kadar iodium dalam plasma. Sehingga makin tinggi kadar iodium intrasel
maka akan makin banyak pula iodium yang terikat sebaliknya makin sedikit iodium di intra sel,
iodium yang terikat akan berkurang sehingga pembentukan T3 akan lebih banyak daripada T4.

3.

Coupling
Dalam molekul tiroglobulin, monoiodotirosin (MIT) dan diiodotirosin (DIT) yang terbentuk
dari proses iodinasi akan saling bergandengan (coupling) sehingga akan membentuk
triiodotironin (T3) dan tiroksin (T4). Komponen tiroglobulin beserta tirosin dan iodium ini
disintesis dalam koloid melalui iodinasi dan kondensasi molekul tirosin yang terikat pada ikatan
di dalam tiroglobulin. Tiroglobulin dibentuk oleh sel-sel tiroid dan dikeluarkan ke dalam koloid

4.

melalui proses eksositosis granula.


Penimbunan (storage
Produk yang telah terbentuk melalui proses coupling tersebut kemudian akan disimpan di
dalam koloid. Tiroglobulin (dimana di dalamnya mengandung T3 dan T4), baru akan dikeluarkan

5.

apabila ada stimulasi TSH.


Deiodinasi
Proses coupling yang terjadi juga menyisakan ikatan iodotirosin. Residu ini kemudian akan
mengalami deiodinasi menjadi tiroglobulin dan residu tirosin serta iodida. Deiodinasi ini

dimaksudkan untuk lebih menghemat pemakaian iodium.


6. Proteolisis
TSH yang diproduksi oleh hipofisis anterior akan merangsang pembentukan vesikel yang di
dalamnya mengandung tiroglobulin. Atas pengaruh TSH, lisosom akan mendekati tetes koloid
dan mengaktifkan enzim protease yang menyebabkan pelepasan T3 dan T4 serta deiodinasi MIT
7.

dan DIT.
Pengeluaran hormon dari kelenjar tiroid (releasing)
Proses ini dipengaruhi TSH. Hormon tiroid ini melewati membran basal dan kemudian
ditangkap oleh protein pembawa yang telah tersedia di sirkulasi darah yaitu Thyroid Binding
Protein (TBP) dan Thyroid Binding Pre Albumin (TBPA). Hanya 0,35% dari T4 total dan 0,25%
dari T3 total yang berada dalam keadaan bebas. Ikatan T3 dengan TBP kurang kuat daripada
ikatan T4 dengan TBP. Pada keadaan normal kadar T3 dan T4 total menggambarkan kadar
hormon bebas. Namun dalam keadaan tertentu jumlah protein pengikat bisa berubah. Pada
seorang lansia yang mendapatkan kortikosteroid untuk terapi suatu penyakit kronik cenderung
mengalami penurunan kadar T3 dan T4 bebas karena jumlah protein pembawa yang meningkat.
Sebaliknya pada seorang lansia yang menderita pemyakit ginjal dan hati yang kronik maka kadar
protein binding akan berkurang sehingga kadar T3 dan T4 bebas akan meningkat.
Efek Primer Hormon Tiroid
Sel-sel sasaran untuk hormon tiroid adalah hampir semua sel di dalam tubuh. Efek primer
hormon tiroid adalah:

a)

Merangsang laju metabolik sel-sel sasaran dengan meningkatkan metabolisme protein, lemak,

dan karbohidrat.
b) Merangsang kecepatan pompa natrium-kalium di sel sasaran. Kedua fungsi bertujuan untuk
meningkatkan penggunaan energi oleh sel, terjadi peningkatan laju metabolisme basal,
pembakaran kalori, dan peningkatan produksi panas oleh setiap sel.
c) Meningkatkan responsivitas sel-sel sasaran terhadap katekolamin sehingga meningkatkan
d)
e)

frekuensi jantung.
meningkatkan responsivitas emosi.
Meningkatkan kecepatan depolarisasi otot rangka, yang meningkatkan kecepatan kontraksi otot

f)

rangka.
Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan dan perkembangan normal semua sel tubuh dan
dibutuhkan untuk fungsi hormon pertumbuhan.
Pengaturan Faal Tiroid
Ada 3 macam kontrol terhadap faal kelenjar tiroid :

1.

TRH (Thyrotrophin Releasing Hormone)


Hormon ini merupakan tripeptida, yang telah dapat disintesis, dan dibuat di hipotalamus. TRH
menstimulasi keluarnya prolaktin, kadang-kadang juga Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan

2.

Luteinizing Hormone (LH).


TSH ( Thyroid Stimulating Hormone)
TSH yang masuk dalam sirkulasi akan mengikat reseptor di permukaan sel tiroid (TSHReseptor-TSH-R) dan terjadilah efek hormonal sebagai kenaikan trapping, peningkatan iodinasi,

3.

coupling, proteolisis sehingga hasilnya adalah produksi hormon meningkat.


Umpan balik sekresi hormon
Kedua hormon ini mempunyai efek umpan balik di tingkat hipofisis. T3 selain berefek pada
hipofisis juga pada tingkat hipotalamus. Sedangkan T4 akan mengurangi kepekaan hipofisis
terhadap rangsangan TRH.
Tubuh memiliki mekanisme yang rumit untuk menyesuaikan kadar hormon tiroid.
Hipotalamus menghasilkan Thyrotropin-Releasing Hormone, yang menyebabkan kelenjar
hipofisa mengeluarkan TSH. TSH merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid
dalam darah mencapai kadar tertentu, maka kelenjar hipofisa menghasilkan TSH dalam jumlah
yang lebih sedikit, jika kadar hormon tiroid dalam darah berkurang, maka kelenjar hipofisa
mengeluarkan lebih banyak TSH.
EVALUASI KELENJAR TIROID

Pada pasien yang mengalami pembesaran kelenjar tiroid (goiter), pemeriksaan kelenjar
sangatlah penting dan dapat ditunjang dengan memilih tes fungsi tiroid yang optimal, seorang
ahli bedah harus mengetahui metode yang sistematis untuk melakukan pemeriksaan, yang harus
diperhatikan pada pemeriksaan adalah besar, konsistensi, penampang, perlengketan pada trakea
dari kelenjar tiroid, serta melakukan palpasi pada KGB daerah servikal.
Serum T3, T4, TSH dapat diperiksa secara akurat dengan radioimmunoassay, T4 juga
dapat diperiksa dengan metode competitive protein binding. Dengan tes sensitive TSH dapat
digunakan untuk mengetahui keadaan pasien dengan hipertiroid atau hipotiroid, Pengukuran
T3RU secara in vitro dapat secara langsung mengetahui konsentrasi dari tiroksin binding
globulin di dalam serum.
Pengukuran serum T4 dan TSH menggunakan tes sensitive tinggi TSH merupakan cara
terbaik dalam menentukan fungsi tiroid, pengukuran T3 biasanya di barengi dengan pemeriksaan
T3RU untuk mengkoreksi pertukaran ikatan protein. Sebagai contoh pada pasien yang hamil atau
sedang mengkonsumsi esterogen yang tinggi terdapat peningkatan T4 tetapi T3Runya menurun,
jadi nilai tiroid indexnya normal (T4 x T3RU). Pengukuran kadar T3 dilakukan pada pasien
dengan kecurigaan hipertiroidism.
TINJAUAN TEORITIS HIPOTIROID
2.1 Definisi
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang dikarakteristikan oleh produksi hormon tiroid yang
rendah. Ada banyak kekacauan-kekacauan yang berakibat pada hipotiroid. Kekacauan-kekacauan
ini mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan kelenjar tiroid. Karena hormon tiroid
mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan banyak proses-proses sel, hormon tiroid yang
tidak memadai mempunyai konsekuensi-konsekuensi yang meluas untuk tubuh.

a)
b)
c)
d)

2.2 Etiologi
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang sangat umum. Diperkirakan bahwa 3% sampai 5% dari
populasi mempunyai beberapa bentuk hipotiroid. Kondisi yang lebih umum terjadi pada wanita
dari pada pria dan kejadian-kejadiannya meningkat sesuai dengan umur.
Dibawah adalah suatu daftar dari beberapa penyebab-penyebab umum hipotiroid pada orangorang dewasa diikuti oleh suatu diskusi dari kondisi-kondisi ini.
Hashimoto's thyroiditis
Lymphocytic thyroiditis (yang mungkin terjadi setelah hipertiroid)
Penghancuran tiroid (dari yodium ber-radioaktif atau operasi)
Penyakit pituitari atau hipotalamus

e)
f)

Obat-obatan
Kekurangan yodium yang berat

2.3 Jenis-jenis Hipotiroid


Lebih dari 95% penderita hipotiroid mengalami hipotiroid primer atau tiroidal yang mengacu
kepada disfungsi kelenjar tiroid itu sendiri. Apabila disfungsi tiroid disebabkan oleh kegagalan
kelenjar hipofisis, hipotalamus atau keduanya hipotiroid sentral (hipotiroid sekunder) atau
pituitaria. Jika sepenuhnya disebabkan oleh hipofisis hipotiroid tersier.
a. Primer
1)
Goiter : Tiroiditis Hashimoto, fase penyembuhan setelah tiroiditis, defisiensi yodium
2)
Non-goiter : destruksi pembedahan, kondisi setelah pemberian yodium radioaktif atau radiasi
eksternal, agenesis, amiodaron
b. Sekunder :
kegagalan hipotalamus ( TRH, TSH yang berubah-ubah, T4 bebas) atau kegagalan pituitari (
TSH, T4 bebas)

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)
m)

2.4 Gejala- gejala hipotiroid


Gejala-gejala hipotiroid adalah seringkali tidak kelihatan. Mereka tidak spesifik (yang berarti
mereka dapat meniru gejala-gejala dari banyak kondisi-kondisi lain) dan adalah seringkali
dihubungkan pada penuaan. Pasien-pasien dengan hipotiroid ringan mungkin tidak mempunyai
tanda-tanda atau gejala-gejala. Gejala-gejala umumnya menjadi lebih nyata ketika kondisinya
memburuk dan mayoritas dari keluhan-keluhan ini berhubungan dengan suatu perlambatan
metabolisme tubuh.
Gejala-gejala umum sebagai berikut:
Kelelahan
Depresi
Kenaikkan berat badan
Ketidaktoleranan dingin
Ngantuk yang berlebihan
Rambut yang kering dan kasar
Sembelit
Kulit kering
Kejang-kejang otot
Tingkat-tingkat kolesterol yag meningkat
Konsentrasi menurun
Sakit-sakit dan nyeri-nyeri yang samar-samar
Kaki-kaki yang bengkak
Ketika penyakit menjadi lebih berat, mungkin ada bengkak-bengkak disekeliling mata, suatu
denyut jantung yang melambat, suatu penurunan temperatur tubuh, dan gagal jantung. Dalam
bentuknya yang amat besar, hipotiroid yang berat mungkin menjurus pada suatu koma yang
mengancam nyawa (miksedema koma). Pada seorang yang mempunyai hipotiroid yang berat,
suatu miksedema koma cenderung dipicu oleh penyakit-penyakit berat, operasi, stres, atau luka
trauma.
Kondisi ini memerlukan opname (masuk rumah sakit) dan perawatan segera dengan hormonhormon tiroid yang diberikan melalui suntikan di diagnosis secara benar, hipotiroid dapat dengan

mudah dan sepenuhnya dirawat dengan penggantian hormon tiroid. Pada sisi lain, hipotiroid
yang tidak dirawat dapat menjurus pada suatu pembesaran jantung (cardiomyopathy), gagal
jantung yang memburuk, dan suatu akumulasi cairan sekitar paru-paru (pleural effusion).
2.5 Patofisiologi
Hipotiroid dapat disebabkan oleh gangguan sintesis hormon tiroid atau gangguan pada
respon jaringan terhadap hormon tiroid. Sintesis hormon tiroid diatur sebagai berikut :
1. Hipotalamus membuat Thyrotropin Releasing Hormone (TRH) yang merangsang hipofisis
anterior.
2. Hipofisis anterior mensintesis thyrotropin (Thyroid Stimulating Hormone = TSH) yang
merangsang kelenjar tiroid.
3. Kelenjar tiroid mensintesis hormon tiroid (Triiodothyronin = T3 dan Tetraiodothyronin = T4
= Thyroxin) yang merangsang metabolisme jaringan yang meliputi: konsumsi oksigen, produksi
panas tubuh, fungsi syaraf, metabolisme protrein, karbohidrat, lemak, dan vitamin-vitamin, serta
kerja daripada hormon-hormon lain.
Hipotiroid dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila
disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan disertai oleh
peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negatif oleh HT pada
hipofisis anterior dan hipotalamus.
Apabila hipotiroid terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan
oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena tidak adanya umpan balik
negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroid yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan
menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH.

Defisiensi iodium, disfungsi hipofisis, disfungsi TRH hipotalamus


Penekanan produksi H. Tiroid (Hipotiroidisme)
TSH merangsang kelenjar tiroid untum mensekresi
Kelenjar tiroid akan membesar
Menekan struktur di leher dan dada
Disfagia, gangguan respirasi
Depresi ventilasi
Pola Napas Tidak Efektif
Laju BMR lambat
Gangguan Nutrisi Kurang dari Keb. Tubuh
Penurunan produksi panas
Perubahan suhu tubuh: hypotermi
Kekurangan Vit. B 12 dan As. Folat
Pembentukan eritrosit tidak optimal
Produksi SDM menurun
achlorhydria
Penurunan mortalitas usus
Penurunan fungsi GI
Konstipasi
Peningkatan kolesterol & trigliserida

Peningkatan arteriosklerosis
Oklusi pembuluh darah
Suplai darah ke jaringan otak menurun
Hipoksia
Perubahan pola berfikir
Anemia
Kelemahan
Intoleransi aktivitas

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
a)
b)
c)
d)
1.
2.
3.
4.
5.

2.6 Gambaran Klinis


Kelambanan, perlambatan daya pikir, dan gerakan yang canggung lambat
Penurunan frekuensi denyut jantung, pembesaran jantung (jantung miksedema), dan penurunan
curah jantung.
Pembengkakkan dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki.
Penurunan kecepatan metabolisme, penurunan kebutuhan kalori, penurunan nafsu makan dan
penyerapan zat gizi dari saluran cema
Konstipasi
Perubahan-perubahan dalam fungsi reproduksi
Kulit kering dan bersisik serta rambut kepala dan tubuh yang tipis dan rapuh
2.7 Pemeriksaan Diagnostik
Untuk mendiagnosis hipotiroidisme primer, kebanyakan dokter hanya mengukur jumlah TSH
(Thyroid-stimulating hormone) yang dihasilkan oleh kel. hipofisis.
Level TSH yang tinggi menunjukkan kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon tiroid yg
adekuat (terutama tiroksin(T4) dan sedikit triiodotironin(fT3).
Tetapi untuk mendiagnosis hipotiroidisme sekunder dan tertier tidak dapat dgn hanya
mengukur level TSH.
Oleh itu, uji darah yang perlu dilakukan (jika TSH normal dan hipotiroidisme masih disuspek),
sbb:
free triiodothyronine (fT3)
free levothyroxine (fT4)
total T3
total T4
24 hour urine free T3
2.8 Penatalaksanaan Medis dan Komplikasi
Koma miksedema adalah situasi yang mengancam nyawa yang ditandai oleh eksaserbasi
(perburukan) semua gejala hipotiroidisme termasuk hipotermi tanpa menggigil, hipotensi,
hipoglikemia, hipoventilasi, dan penurunan kesadaran hingga koma. Kematian dapat terjadi
apabila tidak diberikan HT dan stabilisasi semua gejala. Dalam keadaan darurat (misalnya koma
miksedem), hormon tiroid bisa diberikan secara intravena.
Hipotiroidisme diobati dengan menggantikan kekurangan hormon tiroid, yaitu dengan
memberikan sediaan per-oral (lewat mulut). Yang banyak disukai adalah hormon tiroid buatan
T4. Bentuk yang lain adalah tiroid yang dikeringkan (diperoleh dari kelenjar tiroid hewan).
Pengobatan pada penderita usia lanjut dimulai dengan hormon tiroid dosis rendah, karena
dosis yang terlalu tinggi bisa menyebabkan efek samping yang serius. Dosisnya diturunkan

secara bertahap sampai kadar TSH kembali normal. Obat ini biasanya terus diminum sepanjang
hidup penderita.
Pengobatan selalu mencakup pemberian tiroksin sintetik sebagai pengganti hormon tiroid.
Apabila penyebab hipotiroidism berkaitan dengan tumor susunan saraf pusat, maka dapat
diberikan kemoterapi, radiasi, atau pembedahan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
Asuhan Keperawatan Ny. N dengan Hypothyroid
Kasus
Ny. N 45 tahun dirawat dengan keluhan tidak ada nafsu makan sudah seminggu ini, suka sesak,
rambutnya rontok sangat banyak setiap kali menyisir, suaranya sudah seminggu ini parau, kuku
juga mudah rapuh, dia tidak mngerti kenapa ini terjadi? Keluhan lainnya suka merasa dingin
walaupun udara dilingkungan sangat panas. Ners Jimmy melakukan pemeriksaan fisik didapat
TD : 90/60 mmHg , Nadi : 64 x/menit , Suhu : 37,3 oC. Miksedema ; hasil rontgen thorax : efusi
pleura.
1. PENGKAJIAN
1) Data Pasien :
Nama
: Ny. N
Tempat, Tanggal Lahir
: Jakarta, 23 Februari 1968
Umur
: 45 tahun
Jenis kelamin
: Perempuan
Agama
: Islam
Suku
: Jawa
Pekerjaan
: Ibu Rumah Tangga
Status perkawinan
: Menikah
Status pendidikan
: SLTA
Diagnosa medis
: Hypothyroid
2)

Riwayat penyakit :
Keluhan Utama :
Klien datang ke Rumah Sakit hari Senin, 11 Maret 2013 dengan keluhan keluhan tidak ada nafsu
makan sudah seminggu ini, suka sesak, rambutnya rontok sangat banyak setiap kali menyisir,
suaranya sudah seminggu ini parau, kuku juga mudah rapuh.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Klien mengalami hypothyroid
Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien tidak mempunyai riwayat penyakit terdahulu
Riwayat Kesehatan Keluarga :
Keluarga klien tidak ada yang mempunyai penyakit hypothyroid

3) Pemeriksaan fisik
a. Pola Istirahat dan Tidur
Sangat malas beraktivitas, dan ingin tidur sepanjang hari
b. Sistem pencernaan
Lidah tampak menebal, nafsu makan berkurang, anoreksia, peningkatan berat badan, konstipasi,
distensi abdomen.
c. Sistem kardiovaskuler
Perbesaran jantung, disritmia, hipotensi, nadi lambat, penurunan frekuensi denyut jantung,
penurunan curah jantung
d. Sistem musculoskeletal
Parastesia dan reflek tendon menurun, gerak-gerik klien sangat lamban, lemah, cepat lelah, sakit
pada sendi dan otot, gerakan yang canggung lamban
e. Sistem neurologic
Berbicara lambat, kelopak mata turun, wajah bengkak, pusing, pucat, perlambatan daya pikir,
berbicara lambat dan terbata-bata, gangguan memori, perhatian kurang, letargi atau somnolen,
f.

bingung, hilang pendengaran.


Sistem reproduksi
Pada wanita : terjadi perubahan menstruasi seperti amenore,atau masa menstruasi yang

g.

memanjang. Pria : penurunan libido, impoten.


Sistem Integumen
Kulit kasar, tebal dan bersisik, dingin dan pucat, tidak tahan terhadap dingin, Pembengkakkan
dan edema kulit, terutama di bawah mata dan di pergelangan kaki, pertumbuhan kuku buruk,

h.

kuku menebal; rambut kering, kasar; rambut rontik dan pertumbuhannya buruk.
Emosi/psikologis
Klien sangat sulit membina hubungan sasial dengan lingkungannya, mengurung diri, depresi,
apatis, agitasi, depresi, paranoid, menarik diri.

2.

DATA FOKUS
1.
2.
3.
4.

DATA SUBJEKTIF
Klien mengeluh tidak ada nafsu makan
1.

DATA OBJEKTIF
Tanda-tanda vital :
TD : 90/60 mmHg
sudah seminggu ini
Nadi : 64 x/menit
Klien mengeluh suka sesak
Suhu : 37,3oC ,
Klien mengeluh rambutnya rontok sangat
RR : 25 x/menit kedalaman nafas dangkal,
banyak setiap kali menyisir
suara tambahan wheezing
Klien mengatakan suaranya sudah seminggu

5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.

ini parau
T3 :
Klien mengatakan kuku juga mudah rapuh
T4 :
Klien tidak mengerti kenapa ini terjadi
2. Miksedema
Klien mengeluh suka merasa dingin
3. Hasil rontgen thorax : efusi pleura.
4.
Kemungkinan klien terlihat malas
walaupun udara dilingkungan sangat panas.
Kemungkinan klien mengeluh malas beraktivitas
5. Kemungkinan lidah klien tampak menebal
beraktivitas
6. Kemungkinan klien terlihat penurunan reflek
Kemungkinan klien ingin tidur sepanjang
tendon
hari
7.
Kemungkinan klien terlihat gerak-gerik
Kemungkinan klien mengeluh konstipasi,
Kemungkinan klien mengatakan mengalami sangat lamban,
8. Kemungkinan klien terlihat lemah, cepat
penurunan berat badan
Kemungkinan klien mengeluh sakit pada lelah,
9. Kemungkinan klien terlihat gerakan yang
sendi dan otot
Kemungkinan klien mengeluh pusing
canggung lamban
Kemungkinan klien mengatakan perubahan
10. Kemungkinan klien terlihat berbicara lambat
menstruasi,

masa

menstruasi

yang dan terbata-bata


11. Kemungkinan klien terlihat kelopak mata

memanjang
15. Kemungkinan klien mengatakan tidak tahan turun dan wajah bengkak,
12. Kemungkinan klien terlihat mengalami
terhadap dingin,
perlambatan daya pikir
13. Kemungkinan klien terlihat mengalami
gangguan memori
14. Kemungkinan klien terlihat perhatian kurang,
letargi atau somnolen, bingung
15. Kemungkinan kulit klien teraba kasar, tebal,
bersisik, dingin dan pucat
16. Kemungkinan klien

terlihat

adanya

pembengkakkan dan edema kulit, terutama di


bawah mata dan di pergelangan kaki
17. Kemungkinan klien terlihat pertumbuhan
kuku buruk, kuku menebal
18. Kemungkinan terlihat rambut klien kering,
kasar; dan pertumbuhannya buruk
3. ANALISA DATA
DATA
DS :

PROBLEM
Pola napas tidak

ETIOLOGI
Depresi ventilasi

Klien mengeluh suka sesak


efektif
Klien mengatakan suaranya sudah

seminggu ini parau

Kemungkinan klien

mengatakan

kesulitan saat bernapas


DO:

Tanda-tanda vital :
RR : 25 x/menit kedalaman nafas
dangkal, suara tambahan wheezing

TD : 90/60 mmHg
Nadi : 64 x/menit
Suhu : 37,3oC

Pemeriksaan Penunjang
Hasil rontgen thorax : efusi pleura

Klien terlihat sesak napas

Kemungkinan klien terlihat


menggunakan otot bantu pernapasan

Kemungkinan
klien
terlihat
memegangi dada

Kemungkinan klien terlihat cemas


dan gelisah
DS :

Penurunan curah

Klien mengeluh suka sesak


jantung
Klien mengatakan suaranya sudah

seminggu ini parau

Kemungkinan klien mengeluh pusing


DO:

Tanda-tanda vital :
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 64 x/menit
Suhu : 37,3oC
T3 :
T4 :

Pemeriksaan Penunjang
Hasil rontgen thorax : efusi pleura

Klien terlihat pucat

Kemungkinan klien terlihat lemah,


cepat lelah,

Kemungkinan klien mengalami

Degenerasi otot
jantung
(miokarditis)

perbesaran jantung

Kemungkinan

klien

terlihat

memegangi dada
DS :

Perubahan nutrisi

Klien mengeluh tidak ada nafsu kurang dari

Peningkatan
metabolisme

makan sudah seminggu ini


kebutuhan
Klien mengeluh suka sesak
Klien mengeluh rambutnya rontok

sangat banyak setiap kali menyisir

Klien mengatakan kuku juga mudah

rapuh
Kemungkinan klien mengeluh malas

beraktivitas
Kemungkinan klien mengeluh pusing
DO :
Tanda-tanda vital :
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 64 x/menit
Suhu : 37,3oC
Pemeriksaan Penunjang
Hasil rontgen thorax : efusi pleura
Kemungkinan klien terlihat malas

beraktivitas
Kemungkinan lidah klien tampak

menebal

Kemungkinan klien terlihat lemah,

cepat lelah,
Kemungkinan kulit klien teraba kasar,
tebal, bersisik, dingin dan pucat
DS :

Perubahan proses

Klien mengatakan tidak mengerti berpikir

kenapa ini terjadi

Kemungkinan klien mengeluh pusing

Kemungkinan klien mengeluh tentang


sakit dan gejala yang dialami

Kemungkinan klien mengatakan hal


yang sama berulang
DO:

Perubahan
fisiologis :
penurunan stimulasi
SSP

Tanda-tanda vital :
TD : 90/60 mmHg
Nadi : 64 x/menit
Suhu : 37,3oC ,

Miksedema

Hasil rontgen thorax : efusi pleura.

Kemungkinan
klien
terlihat
mengalami perlambatan daya pikir

Kemungkinan
klien
terlihat

mengalami gangguan memori


Kemungkinan klien terlihat kurang
perhatian,

letargi

atau

somnolen,

bingung
4. DIAGNOSA KEPERAWATAN
DIAGNOSA
1.

TANGGAL DITEMUKAN

TANGGAL TERATASI

11 03 2013

14 03 2013

11 03 2013

14 03 2013

11 03 2013

14 03 2013

11 03 2013

14 03 2013

KEPERAWATAN
Pola napas tidak efektif b.d
depresi ventilasi

2.

Penurunan curah jantung b.d


miokarditis, pembesaran
jantung

3.

Perubahan nutrisi kurang


dari kebutuhan b.d
peningkatan metabolisme

4.

Perubahan proses berpikir


b.d perubahan fisiologis :
penurunan stimulasi SSP

5.

INTERVENSI
NO

TUJUAN DAN KRITERIA

INTERVENSI

DX
1

HASIL
Setelah dilakukan tindakan Mandiri :
keperawatan selama 3 x 241.
jam

diharapkan

Kaji frekuensi, kedalaman pernapasan dan

masalah ekspansi dada. Catat

upaya

pernapasan,

keperawatan pola napas tidak termasuk penggunaan otot bantu / pelebaran


efektif dapat teratasi dengan nasal.
kriteria hasil :

Rasional : kecepatan biasanya meningkat.

Menunjukkan pola napas

Dispnea dan terjadi peningkatan kerja napas.

efetif
Frekuensi dan kedalaman

Kedalam

bervariasi

tergantng

derajat gagal napas. Ekspansi dada terbatas

dalam keadaan normal


Paru-paru jelas/bersih
Berpartisipasi dalam

yang berhubungan dengan atelektasis atau


nyeri dada pleuritik.

aktivitas meningkatkan fungsi2.


paru

pernapasan

Auskultasi bunyi napas dan catat adanya


bunyi napas adventisius, seperti krekels,
mengi, gesekan pleural.
Rasional : bunyi napas menurun ada bila jalan
napas obstruksi sekunder terhadap perdarahan,
bekuan

atau

kolaps

jalan

napas

kecil

(atelektasis). Ronki dan mengi menyertai


obstruksi jalan napas / kegagalan pernapasan
3. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi.
Bangunkan pasien turun tempat tidur dan
ambulasi sesegara mungkin
Rasional

: duduk tinggi

memungkinkan

ekspansi paru dan memudahkan pernapasan.


Pengubahan

posisi

dan

ambulasi

meningkatkan pengisisan udara segmen paru


berbeda sehingga memperbaiki difusi gas.
4. Dorong / bantu pasien dalam napas dalam dan
latihan batuk.
Rasional : dapat meningkatkan/ banyaknya

sputum

dimana

gangguan

ventilasi

dan

ditambah ketidaknyamanan upaya bernapas.


Kolaborasi
5. Berikan oksigen sesuai indikasi
Rasional : menurunkan hipoksia yang dapat
menyebabkan

vasodilatasi

serebral

dan

tekanan meningkat/terbentuknya edema


6.

Berikan humidifikasi tambahan misalnya :


nebuliser ultrasonik
Rasional : memberikan kelembaban pada

membra mukosa
Setelah dilakukan tindakan Mandiri
keperawatan selama 3 x 24
1.
jam

diharapkan

Pantau frekuensi / irama jantung

masalah Rasional : takikardi atau disritmia dapat terjadi

keperawatan penurunan curah saat jantung berupaya untuk menigkatkan


jantung dapat teratasi dengan curahnya berespons pada demam, hipoksia dan
kriteria hasil :
Penurunan episode

asiodosis karena iskemia


2.

dispnea, angina dan disritmia


Mengidentifikasi perilaku
untuk menurunkan beban

Auskultasi bunyi jantung. Perhatikan jarak


tonus jantung, murmur, gallop S3 dan S4
Rasional : memeberikan deteksi dini dan
terjadinya komplikasi misalnya gagal jantung,

kerja jantung

tamponade jantung
3.

Dorong tirah baring dalam posisi semi-fowler


Rasional : menurunkan beban kerja jantung,
memaksimalkan curah jantung

4.

Berikan tindakan kenyamanan misalnya


gosokan punggung dan perubahan posisi dan
kativitas hiburan dalm toleransi jantung
Rasional

meningkatkan

relaksasi

dan

mengarahkan kembali perhatian


5.

Dorong penggunaan teknik manajemen stres

misalnya

bimbingan

imajinasi,

yang

latihan

pernapsan.
Rasional

perilaku

bermanfaat

mengontrol ansietas, meningkatkan relaksasi,


menurunkan beban kerja jantung
6.

Selidiki nadi cepat, hipotensi, penyempitan


tekanan nadi, peningkatan CVP, perubahan
tonus jantung, penurunan tingkat kesadaran.
Rasional : manifestasi klinis dari tamponade
jantung yang dapat terjadi pada perikarditis
bila

akumulasi

cairan

dalam

kantung

perikardia membatasi pengisian curah jantung


7.

Evaluasi keluhan lelah, dispnea, palpitasi,


nyeri dada kontinu
Rasional : manifestasi klinis dari GJK yang
dapat menyertai endokarditis atau miokarditis
Kolaborasi :

8.

Berikan oksigen sesuai indikasi


Rasional : meningkatkan kesediaan oksigen
untuk fungsi miokard dan menurunakn efek
metabolisme anaerob yang terjadi sebagai
akibat dari hipoksia dan asiodosis

9.

Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya


digitalis atau diuretik
Rasional

meningkatkan

dapat

diberikan

kontraktilitas

miokard

untuk
dan

menurunkan beban kerja jantung pada adanya


3

miokarditis
Setelah dilakukan tindakan Mandiri
keperawatan selama 3 x 241. Auskultasi bising usus dan kaji apakah ada
jam

diharapkan

masalah nyeri perut, mual atau muntah

keperawatan

perubahan Rasional

kekuarangan

kortisol

dapat

nutrisi kurang dari kebutuhan menyebabkan gejala gastrointestinal berat


dapat teratasi dengan kriteria yang mempengaruhi pencernaan dan absorpsi
hasil :

dari makanan

Menunjukkan berat badan 2.


stabil atau meningkat
Peningkatan kekuatan otot

Catat adanya kulit yang dingin atau basah,


perubahan tingkat kesadaran, nadi yang cepat,
peka rangsang, nyeri kepala, sempoyongan
Rasional

gejala

hipoglikemia

dengan

timbulnya tanda tersebut mungkin perlu


pemberian glukosa dan mengidentifikasikan
pemberian tambahan glukokortikoid
3.

Pantau pemasukan maknaan dan timbang


berat badan setiap hari
Rasional

anoreksia,

kelemahan

dan
oleh

kehilangan

pengaturan

metabolisme

kortisol

terhadap

maknana

dapat

megakibatkan penurunan berat badan dan


terjadinya malnutrisi
4. Catat muntah mengenai jumlah kejadian atau
karakteristik lainnya
Rasional

ini

dapat

membantu

untuk

menentukan derajat kemampuan pencernaaan


atau absorpsi makanan.
5. Berikan atau bantu perawatan mulut
Rasional

mulut

yang

bersih

dapat

meningkatkan napsu makan


6.

Berikan lingkungan yang nyaman untuk


makan contoh bebas dari bau tidak sedap,
tidak terlalu ramai, udara yang tidak nyaman
Rasional : dapat meningkatkan napsu makan
dan memperbaiki pemasukan makanan.

7. Berikan informasi tentang menu pilihan


Rasional : perencanaan menu yang disukai
pasien dapat menstimulasi napsu makan dan
meningkatkan pemasukan makanan.
Kolaborasi
8. Berikan cairan IV
Rasional : memenuhi kebutuhan cairan/nutrisi
sampai masukan oral dapat dimulai.
9.

Awasi pemeriksaan laboratorium, misalnya


Hb/Ht dan elektrolit
Rasional : indikator kebutuha cairan / nutrisi
dan

keefktifan

terapi

dan

terjadinya

komplikasi
10.Berikan obat sesuai indikasi
Antikolinergik : atropin, propantelin bromida
Vitamin larut dalam lemak : B12, Kalsium
Rasional : mengontorl dan meningkatkan
4

pencernaan dan absorpsi nutrien.


Setelah dilakukan tindakan1. Orienteasikan pasien terhadap waktu, tempat,
keperawatan selama 3 x 24 tanggal dan kejadian disekitar dirinya.
jam

diharapkan

masalah Rasional :meningkatkan pola pikir dan daya

keperawatan

perubahan ingat klien tentang sesuatu

proses

mengenai2.

berpikir

Berikan stimulasi lewat percakapan dan

kondisi dan pengobatan dapat aktivitas yang tidak bersifat mengancam


teratasi dengan kriteria hasil :

Rasional : memudahkan stimulasi dalam

Berpartisipasi dalam proses batas-batas toleransi pasien terhadap stres


belajar
Mengungkapkan
pemahaman tentang kondisi /
prognosis dan aturan
terapeutik
Memulai perubahan gaya

3. Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa


perubahan pada fungsi kognitif dan mental
merupakan akibat dan proses penyakit
Rasional : meyakinkan pasien dan keluarga
tentang penyebab perubahan kognitif dan

hidup yang diperlukan

mental merupakan akibat dan proses penyakit


Kolaborasi :
4. Konsultasikan dengan ahli Psikologi tentang
therapy yang cocok untuk masalah klien
Rasional : memperbaiki proses berpikir

6.

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
Hari/ Tanggal

No.DX
1 1.

Implementasi dan Hasil


Mengkaji frekuensi, kedalaman pernapasan
dan ekspansi dada. Catat upaya pernapasan,
termasuk penggunaan otot bantu / pelebaran
nasal.

2.

Mengauskultasi bunyi napas dan catat


adanya bunyi napas adventisius, seperti
krekels, mengi, gesekan pleural.

3.

Meninggikan kepala dan bantu mengubah


posisi. Bangunkan pasien turun tempat tidur
dan ambulasi sesegara mungkin

4.

Mendorong atau membantu pasien dalam


napas dalam dan latihan batuk.

5.

Memberikan oksigen sesuai indikasi

6.

Memberikan

humidifikasi

tambahan

misalnya : nebuliser ultrasonik


2 1. Memantau frekuensi / irama jantung
2.

Mengauskultasi bunyi jantung. Perhatikan


jarak tonus jantung, murmur, gallop S3 dan
S4

3.

Mendorong tirah baring dalam posisi semifowler

4.

Memberikan

tindakan

kenyamanan

misalnya gosokan punggung dan perubahan


posisi dan kativitas hiburan dalm toleransi

Paraf

jantung
5.

Mendorong penggunaan teknik manajemen


stres misalnya bimbingan imajinasi, latihan
pernapsan.

6.

Menyelidiki
penyempitan

nadi

tekanan

cepat,
nadi,

hipotensi,
peningkatan

CVP, perubahan tonus jantung, penurunan


tingkat kesadaran.
7.

Mengevaluasi keluhan lelah, dispnea,


palpitasi, nyeri dada kontinu

8.

Memberikan oksigen sesuai indikasi


Berikan obat-obatan sesuai indikasi misalnya

3 1.

digitalis atau diuretik


Mengauskultasi bising usus dan kaji apakah
ada nyeri perut, mual atau muntah

2.

Mencatat adanya kulit yang dingin atau


basah, perubahan tingkat kesadaran, nadi
yang cepat, peka rangsang, nyeri kepala,
sempoyongan

3.

Memantau

pemasukan

maknaan

dan

timbang berat badan setiap hari


4.

Mencatat muntah mengenai jumlah kejadian


atau karakteristik lainnya

5.

Memberikan atau membantu perawatan


mulut

6.

Memberikan lingkungan yang nyaman


untuk makan contoh bebas dari bau tidak
sedap, tidak terlalu ramai, udara yang tidak
nyaman

7.

Memberikan informasi tentang menu pilihan

8.

Memberikan cairan IV

9.

Mengawasi

pemeriksaan

laboratorium,

misalnya Hb/Ht dan elektrolit


10. Memberikan obat sesuai indikasi
Antikolinergik : atropin, propantelin bromida
4 1.
Orienteasikan pasien terhadap waktu,
tempat, tanggal dan kejadian disekitar
dirinya.
2.

Berikan stimulasi lewat percakapan dan


aktivitas yang tidak bersifat mengancam

3.

Jelaskan kepada pasien dan keluarga bahwa


perubahan pada fungsi kognitif dan mental
merupakan akibat dan proses penyakit

4.

Konsultasikan dengan ahli Psikologi tentang


therapy yang cocok untuk masalah klien.

1. EVALUASI
Hari / Tanggal

No. DX
1

Evaluasi
S : Klien mengatakan sudah tidak sesak
O : Tanda-tanda vital dalam keadaan normal
Klien tidak terlihat memegangi dada
Klien terlihat napas tanpa bantuan otot
tambahan

A : Masalah sudah teratasi


P : Intervensi dihentikan
S : Klien tidak mengeluh sesak
Klien mengatakan tidak pusing
Klien mengatakan tidak cepat lelah
O : Klien terlihat tidak sesak
Klien terlihat mukosa dan membran lembab
Klien terlihat tidak pucat dan tonus otot baik
A : Masalah sudah teratasi
P : Intervensi dihentikan
S : Klien mengatakan sudah napsu makan
kembali
O : Klien terlihat menghabiskan porsi
makan

Paraf

Klien terlihat tobus otot membaik


Klien terlihat rambut rontok berkurang
A : Masalah sudah teratasi
4

P : Intervensi dihentikan
S : Klien memahami tentang kondisi
penyakit klien, proses pengobatan
O : Klien terlihat tidak apatis
Klien terlihat tidak letargi
Klien dan keluarga mampu menersukan
program dari pendidikan kesehatan yang di
ajarkan di rumah
A : Masalah teratasi
P : Intervensi dihentikan

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang di karakteristikan oleh produksi hormon tiroid yang
abnormal
rendahnya.Ada
banyak
kekacauan-kekacauan
yang
berkaitan
padaHipotiroid.Kekacauan-kekacauan ini mungkin langsung atau tidak langsung melibatkan
kelenjar tiroid.Karena hormon tiroid mempengaruhi pertumbuhan.
Hormon-hormon tiroid di produsikan oleh kelenjar tiroid.Kelenjar tiroid bertempat pada bagian
bawah leher,Kelenjar membungkus sekeliling saluran udara(Trakea)dan mempunyai suatu
bentuk yang menyerupai kupu-kupu yang di bentuk oleh dua sayap dan di lekatkan oleh suatu
bagian tengah.
Kelenjar tiroid mengambil yodium dari darah ( yang kebanyakan datang dari makanan-makanan
seperti seafood,roti,dan garam) dan menggunakannya untuk memproduksi hormon-hormon
tiroid.Dua hormon yang paling penting adalah thyroxine(T4 ) dan triiodothyronine(T3) mewakili
99.9% dan 0.1% dari masing-masing gormon-hormon tiroid.