You are on page 1of 12

Atom adalah bagian terkecil dari suatu unsur yang sudah tidak dapat dibagi lagi.

Sedangkan yang dimaksud dengan ion adalah atom atau gugus (kumpulan) atom
yang bermuatan listrik. Ion yang bermuatan positif disebut kation sedangkan yang
bermuatan negative disebut anion. Ion dapat terbentuk pada reaksi kimia ketika
elektron berubah menjadi ion positif, sedang atom yang menerima elektron berubah
menjadi ion negatif.
Anion adalah ion bermuatan negatif, misalnya ion yang tertarik ke anoda
(elektroda positif) dalam elektrolisis. Tabung hampa elektronik, anoda menarik
elektron dari katoda, dalam alat elektronik vakum, elektron dipancarkan anoda dan
mengalir ke katoda. Kation adalah ion yang bermuatan positif, yaitu ion yang
tertarik ke katoda selama elektolisis. Dalam alat elektronik vakum, elektron
dipancarkan oleh katoda atau mengalir ke anoda.
Pemisahan anion dan kation dalam suatu larutan dapat dilakukan dengan reaksi
pengendapan yaitu dengan prinsip analisa kualitatif. Analisa tersebut kation mulamula dipisahkan berdasarkan perbedaan kelarutan senyawa. Pemisahan dan
pengkajian lebih lanjut dilakukan dalam tiap golongan.
Ada tidaknya kation dan anion dalam suatu larutan, maka kita dapat menggunakan
suatu analisa, yaitu analisa kuantitatif. Analisa kuantitatif mengacu pada
seperangkat prosedur laboratorium yang dapat digunakan untuk memindahkan dan
menguji adanya ion dalam larutan. Analisa ini dikatakan kuantitatif karena adanya
penentuan jenis ion yang ada dalam campuran. Analisa tak harus selalu
menyatakan senyawa yang menghasilkan ion atau banyak ion (kuantitatif).
Dibandingkan dengan seperangkat prosedur laboratorium lainnya, analisa
kuantitatif menggambarkan keseluruhan konsep pertimbangan.
Dua kation yang larut membentuk endapan serupa dengan kelarutan yang cukup
berlainan dapat dipisahkan dengan pengendapan selektif, yang dilakukan dengan
pemilihan seksama dari konsentrasi anion yang diperlukan, yang seringkali dapat
dikendalikan dengan memanfaatkan pengaruh ion sekutu. Tetapan keseluruhan
untuk menambah sederet ligan disebut tetapan kestabilan.
1.

Tujuan Praktikum

Praktikum acara Identifikasi Kation dan Anion ini bertujuan untuk:


a.

Mengetahui larutan untuk identifikasi ion Al3+ dan SO42-.

b.
Mengetahui perbedaan dari larutan pekat dan larutan encer untuk identifikasi
ion Al3+ dan SO42-.
2.

Waktu dan Tempat

Praktikum kimia dasar acara ini dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 15
November 2011 pukul 10.00 12.30 WIB bertempat di Laboratorium Ilmu Nutrisi
dan Makanan Ternak, Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas
Maret Surakarta.
Tinjauan Pustaka
Ikatan ion terbentuk oleh pemindahan satu atom yang memberikan satu atau lebih
dari elektron terluar ke atom lain yang kehilangan elektron menjadi ion positif
(kation) atom yang mendapatkan elektron menjadi ion negatif (anion). Ikatan terjadi
tarikan antara ion yang berlawanan
(Petrucci, 1990).
Ion adalah atom atau gugus (kumpulan) atom yang bermuatan listrik. Ion yang
bermuatan positif disebut kation sedangkan yang bermuatan negative disebut
anion. Ion dapat terbentuk pada reaksi kimia ketika elektron berubah menjadi ion
positif, sedang atom yang menerima elektron berubah menjadi ion negatif
(Syariffudin,1997).
Anion adalah ion bermuatan negatif, misalnya ion yang tertarik ke anoda (elektroda
positif) dalam elektrolisis. Dalam tabung hampa elektronik, anoda menarik elektron
dari katoda, dalam alat elektronik vakum, elektron dipancarkan anoda dan mengalir
ke katoda. Kation adalah ion yang bermuatan positif, yaitu ion yang tertarik ke
katoda selama elektolisis. Dalam alat elektronik vakum, elektron dipancarkan oleh
katoda atau mengalir ke anoda (Anonim, 2007).
Ikatan ion terjadi akibat gaya tarik menarik antara ion positif dan ion negatif. Atom
yang mempunyai energi ionisasi rendah memberikan ikatan ion dengan atom yang
mempunyai afinitas elektron tinggi atau antara atom-atom yang mempunyai
kelektronegatifan yang tinggi. Jika struktur ion stabil dan muatan ion kecil
mengakibatkan atom dengan mudah membentuk suatu ion (Brady, 1990).
Pemurnian endapan melalui pencucian, kadang-kadang digunakan larutan pencuci
yang banyak mengandung ion senama, bukan sekedar air murni. Hal ini dilakukan
untuk mengurangi kelarutan dari endapan tersebut. Teknnik lain yang dapat lebih
dipahami melalui prinsip-prinsip kesetimbangan dengan 2 atau lebih ion dalam
larutan, yang masing-masing dapat diendapkan oleh pereaksi yang sama, dan
dipisahkan oleh reaksi tersebut. Jelasnya salah satu ion mengendap, sedangkan ion
yang lain tetap dalam larutan. Syarat utama untuk keberhasilan pengendapan
reaksi adalah adanya perbedaan nyata dalam kelarutan senyawa - senyawa yang
dipisahkan (Petrucci, 1996).
Anion terbentuk jika anion memperoleh satu atau lebih elektron. Ion yang terbentuk
mempunyai lebih banyak elektron daripada protonnya, sedangkan atom yang

melepaskan satu atau beberapa electron membentuk ion yang bermuatan positif
yang disebut kation.(Stanley,1988).
Alat, Bahan, dan Cara Kerja
1.
a.
2.

Alat
Tabung reaksi
Bahan

a.

Larutan Al2(SO4)3

b.

Larutan NaOH

c.

Larutan NH3

d.

Larutan BaCl2

e.

Larutan H2SO4 pekat

f.

Larutan HCl encer

g.

Larutan HCl pekat

h.

Larutan HNO3 encer

i.

Larutan HNO3 pekat

j.

Aquadest

3.

Cara Kerja

a.

Ion Al3+

1.
Menyiapkan 2 tabung reaksi yang telah diberi label dan mengisi 5 ml larutan
Alumunium Sulfat pada masing-masing tabung reaksi
2.
Menambahkan tetes demi tetes larutan NaOH ke dalam tabung pertama
sebanyak 8 tetes.
3.

Menambahakan larutan NaOH berlebih (5 tetes)

4.
Mengamati perubahan yang terjadi, lalu mengulangi percobaan 2 dan 3 pada
tabung ke-2 dengan mengganti larutan NaOH menjadi larutan NH3.
5.

Membandingkan perubahan yang terjadi pada masing-masing tabung.

b.

Ion SO42-

1.
Menyiapkan 4 tabung reaksi yang telah diberi label dan mengisi masingmasimng tabung reaksi dengan larutan alumunium sulfat sebanyak 3 ml.
2.
Menambahkan 3 ml larutan barium klorida ke dalam masing-masing tabung
tersebut.
3.

Menambahkan larutan HCl encer pada tabung 1

4.

Menambahkan larutan HNO3 encer pada tabung 2

5.

Menambahkan larutan HCl pekat pada tabung 3

6.

Menambahkan larutan HNO3 pekat pada tabung 4

7.

Mengamati perubahan yang terjadi pada masing-masing tabung reaksi.

Hasil Pengamatan
1.

Hasil Pengamatan

Tabel 6.1 Data Pengamatan Identifikasi Ion Al3+


Tabung
Larutan
Endapan
Warna
Keterangan
1
NaOH
Tepung
Tepung
Putih pekat
Putih pekat
20 tetes
40 tetes
2
NH3

Tepung
Tepung
Putih pekat
Putih pekat
5 tetes
10 tetes
Sumber : Laporan sementara
Tabel 6.2 Data Pengamatan Identifikasi Ion SO42Tabung
Larutan
Endapan
Warna
Keterangan
1
2
3
4
HCl encer
HNO3 encer
HCl pekat
HNO3 pekat
Tepung
Tepung
Tepung
Tepung
Putih pekat

Putih pekat
Putih pekat
Putih pekat
12 tetes
13 tetes
5 tetes
2 tetes
Sumber: Laporan sementara
2.

Analisis Hasil Pengamatan

a.

Data identifikasi ion Al3+

1)

Identifikasi Al3+ + NaOH 20 tetes

Reaksi : Ion Al3+ + 3NaOH(aq) Al(OH)3 + 3Na(s)


Pada percobaan ini terjadi endapan.
2)

Identifikasi Al3+ + NaOH 40 tetes

Reaksi : Ion Al(OH)3+ + NaOH(aq) Al(OH)3 + Na(s)


Pada percobaan ini terjadi endapan.
3)

Identifikasi Al3+ + NH3 5 tetes

Reaksi : Ion Al3+ + NH3(aq) + H2O Al(OH)4 + NH4 (s)


Pada percobaan ini terjadi endapan.
4)

Identifikasi Al3+ + NH3 10 tetes

Reaksi : Ion Al(OH)3+ + NH3(aq) + H2O Al(OH)4 + NH4 (s)


Pada percobaan ini terjadi endapan.
b.
1)

Identifikasi Ion SO42


Identifikasi Ion SO42- + HCl

Reaksi BaSO4 + HCl(aq) BaCl2 + SO42-

HCl encer terbentuk endapan (Tepung) keruh

HCl pekat terbentuk endapan (Tepung) keruh dan ada banyak uap

2)

Identifikasi Ion SO42- + HNO3

Reaksi BaSO4 + HNO3(aq) BaCl + SO42-

HNO encer terbentuk endapan (Tepung) bening

HNO pekat terbentuk endapan (Tepung) bening ada sedikit uap

Pembahasan
Hasil percobaan identifikasi ion Al3+ dengan menggunakan larutan NaOH dan
larutan NH3 diperoleh endapan. Endapan terbanyak diperoleh pada saat
penambahan dengan larutan NaOH dan NH3 encer. Pada penambahan larutan
NaOH dan NH3 pekat diperoleh endapan yang lebih sedikit. Hal ini disebabkan bila
suatu larutan semakin pekat maka kemampuannya dalam mengikat dan bereaksi
dengan ion semakin besar. Sehingga endapan semakin sedikit. Bila suatu larutan
semakin encer maka kemampuannya dalam mengikat ion semakin kecil. Sehingga
endapan semakin banyak. Bila koefisisn semakin besar, maka jumlah senyawa
tersebut juga semakin besar. Sehingga terbukti bahwa larutan encer menghasilkan
lebih banyak endapan daripada larutan pekat. Pekat dan encer dilihat dari besar
konsentrasi larutan.
Pada identifikasi ion SO42-, ditambahkan larutan HCl encer dan pekat serta HNO3
encer dan pekat. Penambahan masing-masing larutan dihasilkan endapan yang
jumlahnya berbeda antara tabung yang satu dengan tabung yang lain. Penambahan
HCl, tabung yang ditetesi HCl pekat jumlah endapannya lebih banyak dibandingkan
dengan tabung yang ditetesi HCl encer. Ini disebabkan karena HCl pekat
mempunyai konsentrasi lebih tinggi pada saat bereaksi lebih kuat dengan barium,
sehingga jumlah endapan barium klorida yang dihasilkan akan lebih banyak.
Sedangkan pada HCl encer, konsentrasinya lebih rendah sehingga jumlah endapan
yang berbentuk sedikit. Selain terbentuk endapan juga terbentuk banyak uap. Pada
penambahan HNO3, jumlah endapan yang terbentuk HNO3 encer lebih banyak
dibandingkan pada penambahan HNO3 pekat. Ini disebabkan karena kemampuan
melarutkan HNO3 pekat lebih kuat dibandingkan HNO3 encer, sehingga jumlah
larutan pada tabung dengan penambahan HNO3 encer lebih banyak jika
dibandingkan dengan tabung pada penambahan HNO3 pekat. Dari penambahan ini
hanya terbentuk sedikit uap.
Kesimpulan
Hasil praktikum acara VI ini dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:
1.
Bila larutan semakin encer, maka endapan yang dihasilkan semakin banyak.
Bila larutan semakin pekat, maka endapan yang dihasilkan semakin sedikit.

2.
Identifikasi dengan ion Al3+bterjadi endapan, baik Al3+ + NaOH maupun
Al3+ + NH3.
3.
Larutan amonia bersifat basa lemah bila dicampurkan dengan larutan
aluminium sulfat membentuk endapan keruh berupa butiran tepung.
4.
Identifikasi ion SO42- dengan HCl pekat encer serta HNO3 pekat dan encer
menghasilkan endapan tepung berwarna putih.
5.
Pada penambahan HCl pekat endapannya lebih banyak daripada penambahan
HCl encer. Sedangkan penambahan HNO3 encer jumlah endapannya lebih sedikit
daripada HNO3 pekat

Kimia analisis adalah salah satu cabang dari ilmu kimia yang berfokus pada analisis
cuplikan material untuk mengetahui komposisi, struktur, dan fungsi kimiawinya.
Kimia analisis telah dimanfaatkan secara luas dalam berbagai macam disiplin ilmu
seperti kedokteran, farmasi, arkeologi, forensik, pemantauan kualitas lingkungan
dan lain sebagainya. Secara tradisional, kimia analitik dibagi menjadi dua jenis,
yaitu kimia analisis kuantitatif dan kimia analisis kualitatif. Suatu pengujian untuk
menentukan seberapa banyak jumlah suatu unsur atau senyawa dalam cuplikan,
maka disebut dengan analisis kuantitatif. Suatu analisis dibatasi untuk
mengidentifikasi keberadaan satu atau lebih unsur atau senyawa kimia baik organik
maupun anorganik disebut dengan analisis kualitatif.Reaksi pengendapan banyak
diterapkan dalam analisis kuantitatif. Analisis tersebut, kation mula-mula
dipisahkan berdasarkan perbedaan kelarutan senyawa. Kation yang larut terbentuk
endapan serupa dengan kelarutan yang cukup berlainan dapat dipisahkan dengan
pengendapan selektif yang dilakukan dengan pemilihan seksama dari konsentrasi
anion yang diperlukan.

Ilmu farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang sediaan obat dan zat-zat yang terkandung di
dalamnya, serta cara-cara pengolahannya. Jadi sangatlah perlu bagi seorang farmasis, untuk
mengetahui tentang seluk beluk tentang pengidentifikasian dan pemisahan suatu zat dalam suatu
sampel. Untuk itu pengetahuan tentang analisis kualitatif sangat esensial untuk dijadikan salah
satu keahlian bagi seorang farmasist. Inilah yang menjadi sebab praktikum ini dilaksanakan
Faktor pendorongnya praktikum analisis kualitatif ini dilakukan karena praktikan harus
mengetahui dan mengenal cara-cara analisis kualitatif. Praktikum diperlukan untuk mendukung
pengetahuan farmasis tentang analisa kualitatif, selain pengetahuan teori. Perlunya diadakan

pengenalan terhadap anion sebagai dasar dalam malakukan analisa pada kegiatan-kegiatan
praktikum di farmasi. Kita dapat lebih mengenal sifat-sifatnya dan cara-cara analisanya dengan
bantuan praktikum.
Perlunya diadakan pengenalan terhadap anion sebagai dasar dalam malakukan analisa pada
kegiatan-kegiatan praktikum di farmasi. Kita dapat lebih mengenal sifat-sifatnya dan cara-cara
analisanya dengan bantuan praktikum.
Dalam hal ini pemeriksaan atau pemisahan anion merupakan salah satu cara analisis kualitatif.
Dengan memakai reagensia golongan secara sistematik, dapat ditetapkan keberadaan suatu
anion.
Pengetahuan tentang analisa ini akan memberi manfaat ke depan untuk mengetahui seberapa
aman sebuah produk digunakan, apakah mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi
kesehatan manusia. Hal inilah yang mendasari dilakukannya percobaan analisa kualitatif anion.
Dalam kimia analisis kuantitatif dikenal suatu cara untuk menentukan ion (kation/anion)
tertentu dengan menggunakan pereaksi selektif dan spesifik. Pereaksi selektif adalah
pereaksi yang memberikan reaksi tertentu untuk satu jenis kation/anion tertentu.
Dengan menggunakan pereaksi-pereaksi ini maka akan terlihat adanya perubahanperubahan kimia yang terjadi, misalnya terbentuk endapan, terjadinya perubahan
warna, bau dan timbulnya gas (G. Svehla : 1985).
Reaksi identifikasi yang lebih sederhana dikenal sebagai reaksi spesifik untuk golongan
tertentu. Reaksi golongan untuk anion golongan III adalah AgNO 3 yang hasilnya adalah
endapan coklat merah bata (Ismail Besari : 1982).
Anion kompleks halida seperti anion kompleks berbasa banyak seperti oksalat misalnya
(CO(C2O4)3)3- dan anion oksa dari oksigen (Ismail Besari : 1982).
Klorat, Bromat dan iodat merupakan ion yang bipiramidal yang terutama dijumpai pada
garam lokal alkali. Anion okso logam transisi jarang digunakan, yang paling dikenal
adalah kalium permanganat (KMnO4) dan kromat (CrO4) atau dikenal sebagai
pengoksida (Ismail Besari : 1982).
Kimia analisis dapat dibagi dalam 2 bidang, yaitu analisis kualitatif dan analisis
kuantitatif. Analisis kualitatif membahas tentang identifikasi zat-zat. Urusannya adalah
unsur atau senyawa apa yang terdapat dalam suatu sampel. Sedangkan analisis

kuantitatif berurusan dengan penetapan banyaknya satu zat tertentu yang ada dalam
sampel (A.L. Underwood : 1993).
Anion berinti banyak dijumpai pada anion okso yang berinti 2, 3 atau 4 atom oksigen
yang terikat pada atom inti dan menghasilkan atom deskret. Namun demikian, mungkin
hanya terdiri dari 2 atom oksigen dan menghasilkan ion dengan jembatan oksigen
seperti ion bikarbonat yang terbentuk dari CrO 4 yang diasamkan (Ismail Besari : 1982).
Metode untuk mendeteksi anion tidaklah sistematik seperti pada metode untuk
mendeteksi kation. Sampai saat ini belum pernah dikemukakan suatu skema yang
benar-benar memuaskan, yang memungkinkan pemisahan anion-anion yang umum ke
dalam golongan utama, dan dari masing-masing golongan menjadi anggota golongan
tersebut yang berdiri sendiri. Pemisahan anion-anion ke dalam golongan utama
tergantung pada kelarutan garam pelarutnya. Garam kalsium, garam barium, dan
garam zink ini hanya boleh dianggap berguna untuk memberi indikasi dari
keterbatasan-keterbatasan metode ini. Skema identifikasi anion bukanlah skema yang
kaku, karena satu anion termasuk dalam lebih dari satu sub golongan (G. Svehla :
1985).
Untuk memudahkan menganalisa anion, diusahakan dulu dalam bentuk senyawa yang
mudah larut dalam air. Umumnya garam-garam natrium mudah larut dalam garam
karbonat dari logam-logam berat sukar larut dalam air, sehingga apabila zat yang akan
dianalisa berupa zat yang sukar larut atau memberi endapan dengan Na 2CO3, maka
dibuat dahulu berupa ekstrak soda, kemudian dipisahkan dari endapan yang
mengganggu tersebut (Anonim : 2011).
Analisa kualitatif menggunakan dua macam uji, reaksi kering dan reaksi basah. Reaksi
kering dapat diterapkan untuk zat-zat padat dan reaksi basah untuk zat dalam larutan.
Reaksi kering ialah sejumlah uji ynag berguna dapat dilakukan dalam keadaan kering,
yakni tanpa melarutkan contoh. Petunjuk untuk operasi semacam ialah pemanasan, uji
pipa tiup, uji nyala, uji spektroskopi dan uji manik. Reaksi basah ialah uji yang dibuat
dengan zat-zat dalam larutan. Suatu reaksi diketahui berlangsung dengan terbentuknya
endapan, dengan pembebasan gas dan dengan perubahan warna. Mayoritas reaksi
analisis kualitatif dilakukan dengan cara basah (G. Svehla : 1985).

Kimia analisis secara garis besar dibagi dalam dua bidang yang disebut analisis
kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif membahas identifikasi zat-zat.
Urusannya adalah unsur atau senyawaan apa yang terdapat dalam suatu sampel atau
contoh.

Pada

pokoknya

tujuan

analisis

kualitatif

adalah

memisahkan

dan

mengidentifikasi sejumlah unsur Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan


banyak suatu zat tertentu yang ada dalam sampel atau contoh (Underwood,1986).
Metode dalam melakukan analisis kualitatif ini dilakukan secara konvensional, yaitu
memakai cara visual yang berdasarkan kelarutan. Pengujian kelarutan dilakukan
pertama-tama dengan mengelompokkan ion-ion yang mempunyai kemiripan sifat.
Pengelompokan dilakukan dalam bentuk pengendapan di mana penambahan pereaksi
tertentu mampu mengendapkan sekelompok ion-ion. Cara ini menghasilkan 6 kelompok
yang namanya disesuaikan dengan pereaksi pengendap yang digunakan untuk
mengendapkan kelompok ion tersebut. Kelompok ion-ion tersebut adalah: golongan
klorida (I), golongan sulfide (II), golongan hidroksida (III), golongan sulfide (IV),
golongan karbonat (V), dan golongan sisa (VI) (Anonim,2010).
Dalam metode analisis kualitatif ini, kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya
pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan untuk
mengetahui jenis anion / kation (Wiro, 2009).
Dalam analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus mengikuti prosedur
kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan atau diubah dalam bentuk suatu
larutan. Untuk zat padat kita harus memilih zat pelarut yang cocok. Ion-ion logam pada
golongan-golongan diendapakan satu persatu, endapan dipisahkan dari larutannya
dengan cara disaring atau diputar dengan sentrifuge, endapan dicuci untuk
membebaskan dari larutan pokok atau dari filtrat dan tiap-tiap logam yang mungkin ada
harus dipisahkan. Kation-kation diklasifikasikan dalam 5 golongan berdasarkan sifatsifat kation itu terhadap beberapa reagensia (Cokrosarjiwanto,1977).
Banyak reaksi-reaksi yang menghasilkan endapan berperan penting dalam analisa
kualitatif. Endapan tersebut dapat berbentuk kristal atau koloid dan dengan warna yang
berbeda-beda. Pemisahan endapan dapat dilakukan dengan penyaringan atau pun
sentrifus. Endapan tersebut jika larutan menjadi terlalu jenuh dengan zat yang
bersangkutan. Kelarutan suatu endapan adalah sama dengan konsentrasi molar dari

larutan jenuhya. Kelarutan bergantung pada berbagai kondisi eperti tekanan, suhu,
konsentrasi bahan lain dan jenis pelarut. Perubahan kelarutan dengan perubahan
tekanan tidak mempunyai arti penting dalam analisa kualitatif, karena semua pekerjaan
dilakukan dalam wadah terbuka pada tekanan atmosfer. Kenaikan suhu umumnya
dapat memperbesar kelarutan endapan kecuali pada pada beberapa endapan, seperti
kalsium sulfat, berlaku sebaliknya. Perbedaan kelarutan karena uhu ini dapat digunaan
sebagai dasar pemisahan kation. Misalnya, pemisahan kation Ag, Hg(I), dan Pb dapat
dilakukan dengan mengendapkan ketiganya sebagai garam klorida kemudian
memisahkan Pb dari Ag dan Hg(I) dengan memberikan air panas. Kenaikan suhu akan
memperbesar kelarutan Pb sehingga endapan tersebut larut sedngkan kedua kation
lainnya tidak. Kelarutan bergantung juga pada sifat dan konsentrasi bahan lain yang
ada dalam campuran larutan itu. Bahan lain tersebut dikenal dengan ion sekutu dan ion
asing. Umumnya kelarutan endapan berkurang dengan adanya ion sekutu yang
berlebih dan dalam prakteknya ini dilakukan dengan memberikan konsentrasi pereaksi
yang berlebih. Tetapi penambahan pereaksi berlebih ini pada beberapa senyawa
memberikan efek yang sebaliknya yaitu melarutkan endapan. Hal ini terjadi karena
adanya pembentukan kompleks yang dapat larut denga ion sekutu tersebut
(Masterton,1990).
Anonim. (2010). Penuntun Praktikum Kimia Analisis. Universitas Muslim Indonesia. Makassar.
Besari, Ismail, dkk. (1982), Kimia Organik untuk Universitas, Edisi I, Armico Bandung, Bandung.
Direktorat jendral POM. (1979). Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.
L. Underwood, A., (1993), Analisis Kimia Kualitatif , Edisi IV, Penerbit Erlangga, Jakarta.
Svehla,
G.
(1985). VOGEL
: Buku Teks Analisis Anorganik
Kualitatif Makro dan Semimikro ,Bagian 1, Edisi V, PT. Kalma Media Pustaka, Jakarta.