You are on page 1of 11

Applications of Raman Spectroscopy in Archaeometry: An Investigation of

pre-Columbian Peruvian Textiles

Tekstil

adalah hal yang paling

impresif dalam berkontribusi pada budaya


andes kuno, khususnya budaya Paracas da
budaya Huari, yang tinggal di pantai selata
peru pada 1000 SM-200 M dan 700-1100
M. Tekstil pada periode tersebut biasanya
terbuat dari kain wol atau serat kapas,
tekstil dari beberapa kebudayaan memiliki

Red) dan UV-VIS absorption. Prosedur


yang

digunakan

pada

studi

biasanya

bersifat destruktif atau merusak sampel


seperti

pada

kasus

wouter

yang

mengandalkan pemecahan spectrum yang


embuat warna pada artefak yang akan di
identifikasi

menjadi

ringkih

karena

manipulasi spectrum.

karakteritik yang rumit dan memiliki pola

Kekuatan warna tekstil salah satunya di

yang penuh dengan warna serta bisa

pengaruhi oleh faktor iklim. Peninggalan

bertahan

tekstil ini di temukan di daerah yang kering

selama

berabad-abad.

Pada

penelitian sebelumnya, tekstil paracas di uji

menggunakan HPLC (high performance

terlingdung dari matahari seama 7 abad.

liquid

Namun

chromatography)

untuk

gersang, tekstil
warnanya

itu

tertimbun

masih

tetap

dan
utuh.

mengidentifi- kasi indigo, luteolin, asam

Keutuhan itulah yang masih menjadi

carminic, alizarin, dan purpurin ; beberapa

pertanyaan.

pewarna

tersebut

telah

berhasil

di

identifikasi dengan menggunakan metode


spektrosko-

pi

seperti

FTIR

(Spektrofotometer Fourier Transform Infra

Menurut International Union of Pure


and Applied Chemistry (IUPAC), mordant
adalah subtansi yang dapat memperbaiki
zat pewarna pada suatu material dengan

cara mengkombinasikan dengan pewarna


yang tidak larut/menggumpal

pada arkeometri , ketika beberapa sampel

Raman spektroskopi sangan penting dan


memiliki teknik yang paling baik dala
arkeometri, mengingat bahwa teknik ini
tidak invasive dan tidak merusak sifat asli
dan

memiliki

menunjukan

kemampuan

banyak

informasi

untuk
pada

komposisi dan struktur kimia artefak


arkeologi.Namun kelemahan dari teknik ini
adalah

pada

kecerahannya

Raman spektrokopi bisa di eksplorasi

apabila

mengamati benda yang telah terkikis,


benda yang telah tertimbun atau benda
yang tak terlindungi pada lingkungan
terbuka selama berabad-abad. Ini adalah
situasi umu yang biasa ditemukan maka
ada teknik tambahan yang biasa digunakan

yang akan di invesigasi telah terkikis


seperti pada kasus Peruvian Archaeological
Fibers , maka kita memperlajari tenatnag
teknik spektrokopi yang tidak destruktif.
Material dan Metode
Serat warna merah dan biru panjangnya
adalah 5 dan 8 cm ,masing-masing berasal
dari situs local di Uquira,di lembah asia
yang lokasinya berada di 100km dari
selatan

Lima.

Mereka

mempelajari

bagaimana caya mencegah kotoran yang


ada di permukaan mereka, itu akan mudah
di dapatkan apabla kita bisa memilih area
observasi dengan raman mikroskopi.

yaitu SERS (Surface-enhanced Raman

Serat pada zaman dahulu dan zaman

Spectroscopy). Spektrum SERS memiliki

modern telah di analisa dengan raman

kecerahan

mikroskopi, Fourier Transform Infrared

yang

permukaannya,sehingga

baik

pada

memungkinkan

spectroscopy

(FTIR),

dan

Scanning

observasi tentang pita raman yang banyak

Electron Microscopy (SEM). Hasil dari

timbul karena emisi dasar.

SEM mikrografis terlihat bahwa seratny di

Kelemahan dari teknik ini adalah


faktanya substrat dari SERS secara umum
tidak mudah untuk di olah . Pada teknik ini

lapisi oleh au (Ca 2 nm),dan hal ini cocok


dengan quartz microbalance.
Untuk mengetahui hubungan serat

dalam

dengan kecerahan pewarna, serat wol

memproduksi dan mengolah substrat SERS

alpaca kuno di celupkan ke dalam indigo

yang terbuat dari asam nitrik yang di

sintetik menggunakan tangki pencelupan

etching pada permukaan Cu.

pada temperature 30 derajat Celsius.

cara

murah

dan

mudah

Setelah di lakukan proses pencampuran

tangki tetap melakukan pengadukan pada

yang di pasang dengan CCD Peltier Cooled

temperature yang konstan yaitu 30 derajat

Detector(Renishaw,

celcius dengan 1 h. Seratnya dikeringkan di

mikroskope optic leica (DM2500 M).

udara agar pewarna dapat melakukan reoksidasi

400)

dan

FTIR pada kasus ini mencari tahu buker


(alpha) dengan KBr optics dan DTGS

Pengukuran SERS (dan SERRS) pada


pewarna

600

sintetik

dilakukan

dengan

detector , semuanya berfungsi untuk


absorpsi dan pada mode ATR. Pada

tembaga asam nitric yang di etse pada

spectrum

disk.Tembaga

di

Platinum bergetar pada sebuah berlian.

pisahkan dari asamnya lalu di bilas dengan

Hasil spectralnya adalah 4 cm-1 dan 128

air yang terdeionisasi. Pada semua kasus

scans telah di tambahkan ke FTIR dan data

konsentrasi pewarna ca 1. 10-3 mol/L dan

raman telah di analisa mengunakan Grams

setelah pewarnanya di berikan cahaya,

AI package.

dari

disk

tersebut

solusinya adalah membilas disk logam


tersebut denan air yang terdeionisasi , dan
di keringkan di bawah aliran N2 dan
langsung memasuki tahapan mikroskop
raman.

ATR

sebuah

Bruker

ATR

Gambar SEM didapatkan dengan sebuaj


jel JSM-7401 F Fied Emission Gun
Scanning Electron Microscope atau biasa
di sebut FEG SEM engunakan LEI ( Lower
Secondary

Electron

Image)

dengan

Fiber kuno adalah bagian yang sangat

konfigurasi deteksi pada 1.0kV dan dengan

kecil yang di ambil dan di tempatkan pada

jarak kerja sebesar 7.7-8.1 mm dengan

permukaan tembaga aktif SERS (serat

perbesaran 250x sampai 15000 kali. EDS

biru), atau pada lapisan Ag di permukaan

diukur menggunakan

(serat merah). Pada kasus ini ekstraksi

Noran System Six Fitted to a Pioneer

pelarut pada serat biru tidak efektif

Detector

berdasarkan bukti pada FT-Raman yang

FEG_SEM. Analisa yang telah di buat

menunjukan warnanya nila/indigo.

adalah menggunakan tegangan sebesar

Spektrum Raman menghasilkan


panjang sebesar 632.8 nm (He-Ne laser)
dan 785 nm pada laser diode Renishaw
dengan menggunakan reflex mikroskope,

dan

di

Thermo Scientific
pasangkan

dengan

15.0kV (serat merah) da 20.0 kV (untuk


serat biru)

Gbr 1. Serat merah

Grafik 1

Ini adalah grafik hasil FT-Raman


dengan komposisi a adalah kapas,b serat
wol kuno, c serat biru kuno, dan d serat
Gbr 2. Serat Biru
Hasil dan Diskusi

merah kuno. Lebar utamanya terbentang


dari

1630-1730

cm-1,

dan

memiliki

kontribusi yang sangat signifikan dari


protein amide 1 bergetar, dan memiliki titik
tegah di 1660, ini adalah karakteritik dari
peyesuaian

alfa

helix

yang

memiliki

strukturan sangat sensitive untuk berubah.

Table hasil dari pita raman dan infrared pada spectrum


kain wol kuno

Grafik 2

Ini adalah grafik hasil dari FTIR dengan


komposisi a,b,c,dan d sama seperti grafik
1. Pada spectrum FTIR dapat di lihat
pertambahan intensitas pada pita 1034 cm-1
,dapat di tentukan S-O adalah pecahan dari

referensi. Walaupun bisa terdeteksi oleh


serat

biru

menggunakan

FT-Raman

spektroskopi,kuliatas spectrumnya mepengaruhi fiber dan zat pewarna menjadi


terkikis. Hal ini yang membuat sulit untuk
memakai Raman spectroskopi saja.

SO3- asam siteic ,lalu berikatan dedngan


oksidasi dari grup cysteine pada serat wol.
Pada FTIR bagian ini di dominasi oleh
amide 1

Grafik 4

Ini adalah grafik spectrum raman pada


warna
Grafik 3

indigo

dengan

(a0panjang

gelompang awal 632.8 nm,b 1064 nm, c

Ini adalah grafik hasil dari spectrum

serat biru kuno 1064 nm. Terlihat jelas

raman dengan a adalah pewarna carmine

pada grafik dengan menggunakan serat

dan b adalah serat merah kuno dengan

biru kuno membuat cahaya asarnya sangat

panjang gelombang awal 1064 nm. Pada

kuat di bandingkan dengan garis a,

percobaan ini di tembakan laser dengan

walaupun eksitasi pada NIR sangat kecil

panjang gelombang 1064 nm ,efek raman

namun warna masih bisa di deteksi.

berkontribusi pada intensitas raman karena


telah merekam spektrumnya.Pewarna yang
sama bisa di deteksi apa bisa terdapat pada

Grafik 6

Ini adalah grafik yang sama denga


grafik 5 namun dengan a. carmine dan b
adalah serat merah kuno dengan panjang
gelombang 488 nm

Grafik 5

Ini adalah grafik microspectrofluorimetry


dengan a. indigo, b wol kuno dengan
sintetik indigo, c. serat biru kuno dengan
panjang gelombang awal 632.8 nm. Pada
pecobaan

kali

membandingkan

ini

digunakan

dengan

metode

untuk
yang

Grafik 7

sebelumnya sudah dicoba, pada akhirnya


hasilnya adalah sama spectrum serat merah
pada grafik 5 hasilnya sama dengan yang
ada di sample refereni. Begitupun yang
terjadi pada serat biru yang ada pada grafik
6. Bisa di Tarik kesimpulan bahwa Raman
mikroskopi

sama

efektifnya

microspectrofluorimetry.

dengan

Ini

adlaah

grafik

Spektrum

SERS(panjang gelombang awal 628.8 nm)


pada

permukaan

tembaga

dengan

a.

alizarin, b cermine, c indigo, d indigo


ceramine, e luteolin dan f adalah purpurin.
Etching dengan bahan kimia membuat
permukaan lebih kasar pada level nano,
dan ini cocok dengan SERS. Pada grafik di
atas hanya luteolin yang tidak cocok
dengan litelatur selain itu semua cocok
dengan litelatur.

Grafik 8

Ini adalah grafik Spektrum Raman


dengan

a.

pewarna

alizarin

panjang
Grafik 9

gelombang awal 1064 nm ), b SERS


(panjang gelombang awal 632.8 nm ) dari

Ini adalah grafik yang sama dengan

alizarin pada permukaan tembaga. Pada

grafik 8 namun dengan a. pewarna

studi terdahulu telah memiliki litelatur

purpurin (panjang gelombang awal 457

tentang spectrum SERS dari alizarin yang

nm) dan b. SERS (panjang gelombang

di dapat dari koloid Ag. Spektrum SERS

awal 632.8 nm) dari purpurin pada

Alizarin

litelatur

permukaan tembaga. Pada percobaan kali

ternyata sama dengan salah satu spectrum

ini juga memiliki konklusi yang sama

yang di lampirkan pada jurnal ini,dengan

seperti

pendekatan absorpsi geometrinya sama dan

perbedaannya adalah pada percobaan ini

memiliki bagian dasar yang sama. Berarti

menggunakan purpurin bukan Alizarin dan

pada percobaan ini pula bisa di tarik

logam yang di gunakan adalah Cu yang di

kesimpulan

lapisi

yang

terdapat

percobaan

pada

yang

memakai

pada

dengan

percobaan

Ag.

Pada

grafik

AKhirnya

photoreduced Ag di buat untuk alizarin

perbandingan antara spectrum SERS dari

yang bertujuan untuk mendeteksi warna

Cu yang di etching denan Spektrum aman

pada serat dan spektrumnya juga sama

dari Al3+ -luteolin complex mengkonfirmasi

dengan hasil yang ada di litelatur.

bahwa hipotesis spectrum benar-benar

sama/

terbukti.

Ini adalah grafikk Spektrum SERRS


dengan (panjang gelombang awal 632.8
nm) dan a) adalah ceramine dan b adalah
serat merah kuno.

Table 2

Ini adalah table dari percobaan Pita


Raman dan Pita SERS pada alizarin dan
purpurin
Grafik 11

Ini adalah grafik a.warna indigo yang


mengalami reduksi di dalam, dan b adalah
serat biru kuno dengan keadaan reduksi di
dalam.
Kedua serat itu baik biru dan merah di
tes menggunakan permukaan Cu yang telah
di etching dan hasilnya sama dengan
modifikasi pada Ag, namun untuk serat
merah efisiensi pada permukaan yang di
lapisi perak jauh lebih besar dari pada yang
di lapisi tembawa. Dari grafik 10 dan 11
Grafik 10

terlihat

dengan

jelas

pertambahan

permukaan dari raman , ini menandakan

di tes menggunakan 6 komposisi sintetik

Identifikasi yang pasti dari indigo pada

(alizarin,

serat

luteolin, dan purpurin).

biru

mengkonfirmasi

atau

memastikan point penting yang di buat


oleh raman spectroskopi pada grafik 4 dan
memperkuat

bahwa

ceramine

sebagai

representasi dari warna serat merah .

membenarkan bahwa raman mikroskopi


golden

standart

untuk

mengidentifikasi pewarna pada sampel


tekstil kuno,walaupun sample yang akan di
investigasikan sudah terkikis tidak seperti
keadaan semulanya. Kecerahan adalah
kelemahan pada raman spektroskopi , maka
dua

pendekatan

kolaborasikan

lainnya

yaitu

mulai

di

microspectrofluori-

metry dan SERS. Pada microspectrofluorimetry ,spectrum photoluminescence di


koreksi dari pewarna serat dan carmine
standar, dan pewarna indigo yang telah
terekan menggunakan mikroskope raman.
Pengukuran SERS dan SERRS
menggunakan asam nitric yang di etching
dengan

carmine,

Itu adalah hasil yang bisa di sampaian


dari aplikasi raman mikroskopi untuk
arkeometri.

Ketika

beberapa

laser

substrat dari SERS tidak mudah untuk

Hasil pada investigasi pertama


menjadi

indigo

menghasikan garis yang terbatas dan ketika

Kesimpulan

bisa

ceramine,

tembaga

pada

permukaannya

menunjukan bahwa keuntungan memakai


koloid ag lebih mudah di siapkan dan
haarganya lebih murah. Kefektifan dari
permukaan pewarna yang di pelajari sudah

dicari.Ketika

keadaan

tersebut

maka

spectrum PL bisa d koreksi dengan


menggunakan cahaya putih. Substrat pada
SERS efisiensinya bisa di tingkatkan
dengan cara menambahkan permukaan Cu
dengan perak nitrat.

Referensi Sumber gambar


a edia.liveauctiongroup.net/i/10940/11378164_2.jpg?v=8CE66F1866C13C0
b http://benoitfelten.com/wp-content/uploads/2013/01/06012013-IMG_1065.jpg
c https://c1.staticflickr.com/1/41/86759396_6caab1cef4_b.jpg

Referensi Teori
a Bracewell, R. N. (2000), The Fourier Transform and Its Applications (3rd ed.),
Boston: McGraw-Hill, ISBN 0-07-116043-4.
b Bracewell, R. N. (2000), The Fourier Transform and Its Applications (3rd ed.),
Boston: McGraw-Hill, ISBN 0-07-116043-4.
c Journal of Archaeological Science: Applications of raan spectroscopy in
archaeometry : An investigation of pre-Columbian peruvilian textiles

Reyan Qowi Dzakyprasetyo 1506741631


Mitsal Shafiq Sulasno

1506669803