You are on page 1of 18

ANTIBIOTIK GOLONGAN KUINOLON

Antibiotik golongan quinolon merupakan obat antibiotik yang dapat


menjadi sesuatu yang sangat berbahaya bagi ibu hamil karena penggunaan
antibiotic ini dapat berpotensi menyebabkan kecacatan. Sebab antibiotic ini
bekerja untuk menghambat pembentukan inti sel. Bila dikonsumsi berlebihan
pada saat hamil maka akan mampu memicu gangguan pertumbuhan tulang
pada janin.
Salah satu efek negarif dari penggunaan obat antibiotic jenis quinolon
ini adalah terganggunya pertumbuhan tulang pada bayi dan tentu akan
mempengaruhi postur tubuh anak. Risiko lainnya adalah tidak menutupnya
tulang belakang atau yang sering disebut spina bifida. Selain pada ibu hamil,
bayi dan anak-anak juga tidak disarankan mendapatkan antibiotic ini.
Golongan obat ini diturunkan dari asam nalidiksat (antiseptik saluran
kemih). Berbeda dengan asam nalidiksat, quinolon mempunyai daya
antibakteri yang lebih kuat dan spektrum antibakteri yang lebih lebar sehingga
dapat digunakan untuk infeksi sistemik dan dapat diberikan per oral. Yang
termasuk golongan ini antara lain adalah Asam Nalidiksat, Siprofloksasin,
Ofloksasin,

Moksifloksasin,

Levofloksasin,

Pefloksasin,

Norfloksasin,

Sparfloksasin, Lornefloksasin, Flerofloksasin dan Gatifloksasin.


Asam Nalidiksat adalah prototip antibiotika golongan Kuinolon lama yang
dipasarkan sekitar tahun 1960. Walaupun obat ini mempunyai daya antibakteri
yang baik terhadap kuman gram negatif, tetapi eliminasinya melalui urin
berlangsung terlalu cepat sehingga sulit dicapai kadar pengobatan dalam
darah.
Karena itu penggunaan obat Kuinolon lama ini terbatas sebagai
antiseptik saluran kemih saja.
Pada awal tahun 1980, diperkenalkan golongan Kuinolon baru dengan
atom Fluor pada cincin Kuinolon ( karena itu dinamakan juga Fluorokuinolon).
Perubahan struktur ini secara dramatis meningkatkan daya bakterinya,
memperlebar spektrum antibakteri, memperbaiki penyerapannya di saluran
cerna, serta memperpanjang masa kerja obat.

Golongan Kuinolon ini digunakan untuk infeksi sistemik. Yang termasuk


golongan ini antara lain adalah Spirofloksasin, Ofloksasin, Moksifloksasin,
Levofloksasin,

Pefloksasin,

Norfloksasin,

Sparfloksasin,

Lornefloksasin,

Flerofloksasin dan Gatifloksasin.

1. Mekanisme Kerja Kuinolon


Pada saat perkembang biakkan kuman ada yang namanya replikasi dan
transkripsi dimana terjadi pemisahan double helix dari DNA kuman menjadi 2
utas DNA. Pemisahan ini akan selalu menyebabkan puntiran berlebihan pada
double helix DNA sebelum titik pisah.Hambatan mekanik ini dapat diatasi
kuman dengan bantuan enzim DNA girase. Peranan antibiotika golongan
Kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan bersifat
bakterisidal, sehingga kuman mati.
2. Efek Samping dan Interaksi Obat
Golongan antibiotika Kuinolon umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Efek
sampingnya yang terpenting ialah pada saluran cerna dan susunan saraf
pusat.
Manifestasi pada saluran cerna,terutama berupa mual dan hilang nafsu
makan, merupakan efek samping yang paling sering dijumpai.
Efek samping pada susunan syaraf pusat umumnya bersifat ringan berupa
sakit kepala, vertigo, dan insomnia.
Efek samping yang lebih berat dari Kuinolon seperti psikotik, halusinasi,
depresi dan kejang jarang terjadi. Penderita berusia lanjut, khususnya
dengan arteriosklerosis atau epilepsi, lebih cenderung mengalami efek
samping ini.
Enoksasin menghambat metabolisme Teofilin dan dapat menyebabkan
peningkatan kadar Teofilin. Siprofloksasin dan beberapa Kuinolon lainnya
juga memperlihatkan efek ini walaupun tidak begitu dramatis.

3. Penggunaan Klinik
a. Infeksi saluran kemih
Seperti Prostatitis, Uretritis, Servisitis dan Pielonfritis.
b. Infeksi saluran cerna
Seperti demam Tifoid dan Paratifoid
c. Infeksi saluran nafas bawah
Seperti Bronkitis, Pneumonia, Sinusitis
d. Penyakit yang ditularkan melalui hubungan kelamin
Gonore
e. Infeksi jaringan lunak dan tulang
Seperti Osteomielitis. Untuk infeksi pasca bedah oleh kuman
enterokokus Ps. aeroginosa atau stafilokokus yang resisten terhadap
Beta Laktam atau Aminoglikosid.
4. Spektrum Antibakteri
Kuinolon aktif terhadap beberapa kuman Gram-Negatif antara lain
: E. Coli, Proteus, Klebsiella, dan Enterobacter. Kuinolon ini bekerja
dengan menghambat subunit A dari Enzim DNA graise Kuman, Akibatnya
reflikasi DNA terhenti.
Flurokuinolon lama ( Siproflaksin, Ofoflaksin, Norfloksasin )
mempunyai daya antibakteri yang sangat kuat terhadap E. Coli, Klebsiella,
Enterobacter, Proteus, H. Influenzae, Providencia, Serratia, Salmonelle, N.
Meningitis, n. Gonorrhoeae, B. Catarrhalis dan Yersinia Entericolitia, tetapi
terhadap kuman Gram-Fositif daya antibakteinya kurang baik.

Flurokuinolon Baru ( Moksifloksasin, Levloksasin ) mempunyai


daya antibakteri yang baik terhadap kuman Gram Positif dan kuman
Gram-Negatif, serta kuman atipik ( Mycoplasma, chlamdya ), Uji klinik
menunjukan bahwa flurikuinolon baru ini efektif untuk bakterial bronkitis
kronis.
5. Resistensi
Resistensi terhadap kinolon dapat trejadi melalui 3 Mekanisme, yaitu :

Mutasi Gen gyr A yang menyababkan subunit A dari DNA graise kuman
berubah sehingga tidak dapat diduduki molekul obat lagi.

Perubahan pada permukaan sel kuman yang mempersulit penetrasi obat


kedalam sel.

Peningkatan Mekanisme Pemompaan obat keluar sel (efflux).

6.Farmakokinetik
Asam Nalidiksat diserap baik melalui saluran cerna tetapi dengan
cepat dieksresikan dengan cepat melaliu Ginjal. Flurokinolon diserap lebih
baik melalui saluran cerna dibandingkan dengan asam nalidiksat.
Pefloksasin adalah Flurokuinolon yang absorpsinya paling baik dan masa
paruh eliminasinya paling panjang. Bioavailabilitasnya pada pemberian
peroral sama dengan pemberian parenteral. Penyerapan Siproflaksin dan
Flurokiunolon lainnya akan terhambat bila diberikan bersama Antasida.
Sifat Flurokuinolon yang menguntungkan ialah bahwa golongan obat ini
mampu mencapai kadar tinggi dalam prostat, dan cairan serebrospinalis
bila ada Meningitis, Sifat lainnya yang mengunutngkan adalah masa paruh
eliminasinya panjang sehingga obat cukup diberikan 2 kali dalam sehari.
7.Sediaan di Pasaran
a. Spirofloksasi

Siprofloksasin merupakan agen antibakteri spektrum luas. Diabsorbsi


baik secara oral dan dapat secara intravena. Dieliminasi oleh ginjal dan
(sebagian besar) dalamm bentuk yang tidak berubah. Siprofloksasin
mempunyai substituent 6-fluoro yang sangat memperkuat potensi antibakteri
melawan bakteri gram (+) dan terutama bakteri gram (-) (E. coli, P.aeruginosa,
Salmonella, Campylobacter). Efek samping jarang terjadi, meliputi mual,
muntah, ruam, pusing, dan sakit kepala. Konvulsi bisa terjadi karena kuinolon
merupakan antagonis asam -aminobutirat (GABA). Antibiotika Kuinolon ini
tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan Spirofloksasin 250 mg, 500
mg, 750 mg bahkan ada yang 1.000 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus
dengan kandungan Spirofloksasin 200 mg/100 ml.
b. Ofloksasin
Ofloksasin merupakan derivat flouroquinolon yang memiliki efektivitas
dan spektrum yang luas sebagai antibiotik, namun ofloksasin juga dapat
berperan sebagai fotosensitiser sehingga menyebabkan fotohemolisis.
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Ofloksasin 200 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Ofloksasin 200 mg/100 ml.
c. Moksifloksasin
Antibiotika

Kuinolon

ini

tersedia

dalam

bentuk

tablet

dengan

Moksifloksasin kandungan 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Moksifloksasin 400 mg/250 ml.
d. Levofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
Levofloksasin 250 mg dan 500 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan
kandungan Levofloksasin 500 mg/100 ml.
e. Pefloksasin

Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan


Pefloksasin 400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan
Pefloksasin 400 mg/125 ml dan ampul dengan kandungan Pefloksasin 400
mg/5 ml.
f. Norfloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
400 mg.
g. Sparfloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
200 mg.
h. Lornefloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
400 mg.
i. Flerofloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
400 mg. Juga tersedia dalam bentuk infus dengan kandungan 400 mg/100
ml.
j. Gatifloksasin
Antibiotika Kuinolon ini tersedia dalam bentuk tablet dengan kandungan
400 mg. Juga tersedia dalam bentuk vial untuk ijeksi dengan kandungan 400
mg/40 ml.
Untuk pemilihan antibiotika Kuinolon dan dosis/cara pakainya yang tepat ada
baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter.

ANTIBIOTIK GOLONGAN SULFONAMIDA


1.

Pendahuluan
Sulfonamida merupakan kelompok zat antibakteri dengan rumus dasar
yang sama,yaitu H2N-C2H-SO2NHR, dan R adalah bermacam- macam
substituen. Pada prinsipnya senyawa- senyawa ini dapat digunakan untuk
menghadapi berbagai infeksi. Namun setelah ditemukannya antibiotika dan
zat-zat lain yang lebih efektif (tetapi kurang toksis) maka sejak tahun 1980-an
indikasi dan penggunaanya semakin berkurang, juga karena banyak kuman
telah menjadi resisten terhadap sulfonamida. Meskipun demikian dari sudut
pandang sejarah senyawa ini penting karena merupakan kelompok obat
pertama yang digunakan secara efektif terhadap infeksi bakteri sistemis.

2.

Aktifitas dan mekanise kerja


Obat ini memilik kerja bakteriostatis yang luas terhadap bakteri gram
postif dan gram negatif; terhadap Pseudomonas , Proteus dan
streptococcus faecalis tidak aktif.
Mekanisme kerjanya berdasarkan pencegahan sintesis (dihidro)folat
dalam kuman dengan cara antagonisme saingan denga PABA. Banyak jenis
bakteri membutuhkan asam folat untuk membangun asam-asam intinya DNA
dan RNA. Asam folat ini dibentuknya sendiri dari bahan-pangkal PABA(=paraaminobenzoid acid) yang terdapat dimana-mana dalam tubuh manusia.

3.

Kombinasi Sulfonamida
a. Trisulfa, adalah kombinasi dari tiga sulfonamida, biasanya sulfadiazin,
sulfamerazin dan sulfamezatin dalam perbandingan yang sama. Karena
dosis tiap obat hanya sepertiga dari dosis biasanya dan daya larutnya

masing-masing tidak saling dipengaruhi, maka bahaya kristaluria sangat


diperkecil. Pemberian bikarbonat tidak diperlukan lagi, cukup denngan
minum air lebih dari1,5 liter sehari selama pengobatan.
b. Kotrimoksazol adalah suatu kombinasi dari sulfametoksazol = trimetropin
dalam perbandingan 5:1 (400+80 mg). Trimetropin memiliki daya kerja
antibakteriil yang merupakan sulfonamida dengan menghambat enzim
dihidrofolat reduktase. Afinitasnya terhadap enzim bakteri ini 50.000 kali
lebih besar dibanding dengan afinitasnya terhadap enzim manusia yang
merupakan dasar dari daya kerja selektivitasnya. Disamping sebagai obat
malaria, trimetropim memiliki spektrum kerja antibakteriil yang mirip
sulfonamida, efekif terhadap sebagian besar kuman Gram-positif dan
Gram-negatif dan banyak digunakan terhadap infeksi saluran kemih.
c. Kombinasi sulfadoksin + pirimetamin (Fansidar) digunakan sebagai
profilaksis dan pengobatan malaria tropika yang disebabkan oleh
plasmodium falciparum yang resisten terhadap klorokuin.
d. Kombinasi sulfonamida + penisilin memperlihatkan efek adisi. Sesuai
aturan dasar dari penggabungan kemoterapeutika sebetulnya penisilin
tidak dapat dikombinasi dengan bekteriostatika. Kombinasi ini jarang
digunakan lagi.
e. Sulfasalazin adalah senyawa molekuler dari sulfapiridin dan aminosalisilat
yang berkhasiat antiradang kuat dan dalam usus diuraikan menjadi
komponennya. Khusus digunakan pada rematik dan penyakit radang usus,
p.crohn dan colitis ulcerosa, yakni masing-masing radang usus halus dan
usus besar yang bersifat menahun dan mudah kambuh. Keduan gangguan
ini dianggap termasuk penyakit auto-imun pada mana antibodies dari
4.

sistem imun tubuh menyerang dan merusak jaringan / organ sendiri.


Penggunaan
Sulfonamida adalah kemoterapeutika berspektrum luas yang ditahun
1950-an sampai dengan 1970-an banyak digunakan terhadap bermacammacam penyakit infeksi oleh baik kuman gram-positif maupun negatif dengan
sukses. Sejak tahun 1980-an , penggunaannya sudah banyak sekali
berkurang karena telah ditemukan berbagai antibiotik baru dengan efek
bakterisid yang lebih efektif dan aman. Penggunaan oral sulfonamid dan
senyawa-senyawa kombinasinya yakni sebagai

a.

Infeksi saluran kemih: sulfametizole, sulfafurazol, dan kotrimoksazol sering


digunakan sebagai desinfektan gangguan saluran kemih bagian atas yang

b.

menahun.
Infeksi mata: sulfasetamida, sulfadikramida, dan sulfametizole digunakan
sebagai infeksi mata disebabkan oleh kuman-kuman yang peka terhadap

c.

sulfonamid.
Radang usus: sulfasalazin: khusus digunakan pada penyakit radang usus

d.
e.

kronis Crohn dan Colitis.


Malaria topica : Fansidar
Radang otak : berkat daya penetrasinya yang baik ke dalam CCS obatobat sulfa sampai beberapa tahun lalu dianggap sebagai obat terbaik
untuk mengobati atau mencegah radang otak, terutama sulfadiazin.
Timbulnya banyak resistensi dengan pesat menyebabkan obat ini telah

f.

diganti dengan ampisilin atau rifampisin.


infeksi lain : silversulfadiazin banyak digunakan untuk pengobatan luka
bakar. Kotrimoksazol sama efektifnya dengan ampisilin pada tifus perut,
infeksi saluran nafas bagian atas, radang paru-paru (pada pasien AIDS)
serta penyakit kelamin gonorhoe.

5.

Efek Samping
Kerusakan parah pada sel-sel darah, yang berupa antara lain
agranulositosis dan anemia hemolitis. Reaksi alergi , gangguan saluran
cerna(mual,muntah, diare dan sebagainya). Bahaya kristaluria

6.

Dosis
1. Sulfonamide kerja singkat rata-rata digunakan 50-100 mg/kg bobot badan
per hari secara oral
2. Sulfonamide kerja sedang rata-rata digunakan 25-50 mg/kg bobot badan
per hari secara oral
3. Sulfonamide kerja panjang rata-rata digunakan 10-20 mg/kg bobot badan
per hari secara oral

7.

Interaksi Obat

Sulfonamid dapat berinteraksi dengan antikoagulan oral, antidiabetik


sulfonylurea dan fenitoin. Penggunaan sulfonamide sebagai obat pilihan
pertama dan untuk pengobatan penyakit infeksi tertentu makin terdesak oleh
perkembangan

obat

meningkatkanjumlah

antimikroba
mikroba

yang

lain

yang

resisten

lebih

terhadap

efektif
sulfa.

serta
Namun

peranannya meningkat kembali dengan di temukannya kotrimoksazol.

8.

Kontra Indikasi
Tidak digunakan pada pasien penyakit ginjal, insufiensi jantung, porfiria
akut, defisiensi bawaan dari glukosa-6-fosfat-dehidrigenase, kerusakan
parenkim hati, hipersensitifitas terhadap sulfonamide, wanita hamil, dan bayi
baru lahir.
9. Klasifikasi Sulfonamida
Berdasarkan kecepatan absorpsi dan ekskresi:
Keterangan:

Sulfonamida dengan absorpsi dan ekskresi cepat :

Sulfisoksazol

Merupakan prototip golongan ini dengan efek antibakteri kuat.

Distribusinya hanya sampai cairan ekstrasel, sebagian terikat pada protein


plasma

Kadar puncak dalam plasma 2-4 jam setelah dosis oral 2-4 gram.

95% diekskresi melalui urin dalam 24 jam setelah dosis tunggal

Kadar dalam urin jauh lebih tinggi dari kadar dalam plasma sehingga daya
kerjanya sebagai bakterisida.

Kadar dalam SSP hanya 1/3 dari kadar darah.

Kelarutannya dalam urin lebih tinggi daripada sulfadiazin sehingga resiko


kristal

uria

dan

hematuria

jarang

terjadi.

Sulfametoksazol

Merupakan derivat dari sulfisoksazol yang absorpsi dan ekskresinya lebih


lambat, sering dikombinasi dengan trimetoprim.

Sulfadiazin

Diabsorpsi cepat di sal. Cerna

Kadar maksimum dalam darah setelah 3-6 jam.

Sukar larut dalam urin sehingga dapat timbul kristal uria. Harus banyak
minum sehingga jml urin min. 1200 ml atau ditambah Na bikarbonat.

Untuk mencegah kristaluria dikombinasi dengan sulfamerazin dan


sulfamezatin yang disebut trisulfapirimidin (trisulfa).

Sulfonaminda yang Sedikit Diabsorpsi :

Sulfasalazin

Absorpsi di sal. cerna sangat lambat.

Digunakan utk terapi ulcerative colitis (ringan-sedang) dan regional


enteritis.

Sulfonamida untuk topikal :

Sulfasetamid

Adalah turunan sulfanilamida

Larutan

garamnya

digunakan

untuk

infeksi

mata

Ag-sulfadiazin

untuk mencegah infeksi luka bakar.

Sulfonamida kerja panjang :

Sulfadoksin

Masa kerjanya 7-9 hari.

Digunakan

untuk

kombinasi

dengan

pirimetamin

(sulfadoksin:

pirimetamin=500 mg:25 mg) untuk anti malaria yang resisten terhadap


klorokuin

ANTI AMOBA
Amuba adalah parasit yang terdapat dalam makanan dan minuman yang
tercemar, kemudian masuk terlelan oleh manusia, dan menetap di usus, yang
dapat menimbulkan infeksi pada usus.

Anti amuba adalah obat-obatan yang digunakan untuk mencegah penyakit


yang diakibatan oleh parasit bersel tunggal (protozoa) yang disebut entamoeba
hystolytika (disentri amuba)
Ciri-cirinya :
a.
Diare berlendir dan berdarah
b.
Kejang
c.
Nyeri perut
d.
Mules pada saat BAB
BENTUK AMUBA:
1.

Bentuk kista : bentuk tidak aktif dari amuba yang memiliki cairan pelindung

yang ulet dan tahan terhadap getah lambung


2.
Bentuk minuta(kecil) : makanan yang terinfeksi kista amuba akan pecah
menjadi bagian aktif( tropozoit)
3.
Bentuk histolitika: tropozoit melewati dinding usus dan menerobos ke organ
lainnya
PENGGOLONGAN OBAT :
1.

Obat amuba kontak : yang meliputi senyawa metrokonazol dan tinidazol,

dengan jenis antibiotik tetrasiklin dan aminoglikosida


2.
Obat amuba jaringan : yang terdiri dari senyawa nitro-mikonazol
MACAM-MACAM AMUBIASIS :
1.
Amubiasis usus: hampir sama dengan disentri basiller (sigelosis) dengan
ciri diare akut, mual, muntah, sakit kepala, anorexia
2.
Amubiasis jati : ditandai dengan radang ada hati ( hepatitis amuba)
KOMPLIKASI :
1.
Perforasi dinding usus ( pembocoran)
2.
Peroitonitis dan pendarahan
ANTI JAMUR ( FUNGISTATIKA)
Anti jamur adalah obat yang digunakan untuk mengobati penyakit yang
diakibatkan oleh jamur, penyakit jamur dapat terjadi pada ;
1.
2.

Kulit oleh dermatofit ( jamur yang hidup di atas kulit)


Selaput lendir, broncis, usus, dan vagina oleh sejenis ragi yang disebabkan

oleh candidas albicans ( yang berwarna putih)


Penyakit jamur dapat meluas karena pemakaian antibiotik sprektum luas atau
kortikosteroid yang tidak tepat
Jamur adalah tumbuhan yang tidak memilik klorofil
Jamur yang tidak merugikan :
1.

Jamur pada tempe

2.
3.

Jamur pada oncom


Jamur pada keju

Jamur yang merugikan :


1.
2.

Mycose umum ( sistemik)


Mycose permukaan ( topikal)

Mycose topikal (permukaan) dapat terjadi pada kulit, rambut.


1.
Kutu air ( anteletes foot, tinea pedis)
Thricopyton dan dermatopitose yang berperan
2.
Kuku kapur ( arms horn nail)
Denagn ciri-ciri :
a.
Kuku menebal
b.
Mengeras
c.
Regas
d.
Berwarna keputih-putihan
e.
Mudah patah
f.
Adakalanya tidak lurus
Penularannya: dapat terjadi pada lansia, terutama pada saat sirkulasi darah pasa
jari kaki tidak baik, penularan dari kuku ke kuku
3.
Panu ( pytiriasis versicolor)
Yang disebabkan oleh jamur mallaize furfur,
Pengobatan oleh larutan salisilat 5-10%
4.
Ketombe ( dundruff)
Dengan ciri : jatuhnya serpihan putih dari kulit kepala
Penyebab:
1.
Stres
2.
Imun rendah
3.
Hygine kurang
4.
Lemak meningkat
Pengobatan : sampo yang mengandung ketokonazol 2%
5.

Candidas mulut : terjadi di mukosa mulut dengan muncul bintik putih

Amubiasis adalah suatu infeksi usus besar yang disebabkan oleh Entamoeba
histolytica, suatu parasit bersel tunggal. Parasit ini memiliki 2 (dua) bentuk dalam
siklus hidupnya, yaitu bentuk aktif (trofozoit) dan bentuk pasif (kista).

Antiamuba bekerja sebagai amubisid yaitu membunuh amuba untuk


mengobati amubiasis.
Berdasarkan tempat kerjanya, antiamuba yang dipasarkan di Indonesia adalah
antiamuba yang bekerja pada lumen usus dan jaringan yaitu Metronidazol dan

turunannya seperti Tinidazol, Nimorazol dan Ornidazol.


Berdasar tempat kerja

Amubisid jaringan: amuba didinding usus, hati, jaringan ekstra intestinal


lainnya->emetin, dehidroemetin, klorokuin

Amubisid

luminal/kontak:

dilumen

usus->yodoklrohidroksikuin,

kiniofon,glikobiarsol,tetrasiklin, paromomisin

Amubisid jaringan& luminal: metronidazol

Emetin
membunuh E.hystolityca secara langsung
Farmako Kinetik: diserap baik dari tempat injeksi lalu dimetabolisme dan dieksresi
secara lambat, sehingga emetin sudah ditemukan diurin 20-40 menit setelah
suntikan dan masih ditemukan 40-60 hari setelah pengobatan dihentikan
Efek samping:
Lokal: nyeri tempat suntikan, kekakuan, lemah otot tempat suntikan
Sistemik: merupakan akumulasi dari obat
- Pada GIT: mual, muntah, diare
- Pada neuromuskuler: lemah, neyeri dan kaku otot rangka terutama
leher&anggota gerak
- Pada cardiovaskuler: hipotensi, nyeriprekordial, tachicardi dll
- Hati hati pada geriatri, lemah
Indikasi: untuk amubiasis jaringan
KI: hamil, penykait jantung &penyakit ginjal
Sedianan &Dosis: tersedia dalam 20,30,&60 mg/ampul IM. Tidak boleh untuk IV.
Pada anak 1mg/kgbb/hari selama 5 hari, terapi ulang baru boleh stelah 6-8 mg dari
pemberian pertama. Dosis dewasa 1-1,5 mg/kgbb/hari dg dosis maksimal 90 mg/hr

dlm dosis terbagi 2x/hr. pemberian ulang setelah 2 minggu


Metronidazole
Punya efek amubisid, anti giardia lamblia &trikonomiazid
Amubisid langsung
Invitro thd E.hystolitica, semua parasit musnah dalam 24 jam. Pada biakan
trikomonas vaginalis, kadar metro 2,5 ug/mL dapat menghancurkan parasit 99%
dalam 24 jam. Tropozoit giardia lamblia juga dipengaruhi langsung pd kadar 150ug/mL
Tinidazol efek sma, tapi t1/2 lebih panjang
F.kinetik: absorbsi peroral baik. 1 jam setelh 500mg diberikan oral, kadar plasma
10ug/mL. untuk protozoa & bakteri sensitif hanya diperlukan kadar plasma 8 ug/mL,
t1/2 8-10 jam. Diekresi lewat urin, air liur, ASI &cairan vagina &seminalis dalam kadar
rendah. Urin mungkin berwarna gelap karena mengandung pigmen yg larut air
Efek samping: sakit kepla, mual, mulut kering, kecap logam, lidah berselaput,
glositis, stomatitis,vertigo, ataksia, parestesia, flushing, pruritus, disuria dll.kadang
dijumpai netropenia
KI: hamil sebaiknya dihindarkan, walaupun belum ada bukti efek teratogeniknya
Indikasi: amubiasis, trikonomiasis &infeksi bakteri anaerob, giardiasis, profilakis
bedah abdomen, kolitis pseudomembranosa oleh clostridium defficile
Sediaan & dosis
- Sediaan: tablet 250 mg& 500mg,tablet vagina 500mg
Dosis:
- Amubiasis 3x 750 mg/hr po. Pada anak 30-50 mg/kgbb/hari dalam 3 dosis

- Trikonomiasis vagina: 3x250 mg selama 7-10 hari, bisa diulang setelah 4-6
minggu, dpt diberikan bersama tablet vagina 500mg/x/hr
Dosis giardiasis: 3x250 mg selama 7hari
Tinidazol: tersedia 500mg tablet
Giardiasis: 1,5g dosis tunggal waktu makan
Disentri amuba&abses hati: 2g/x/hari selama 3 hari, anak 60mg/kgbb/hr
Trikonomiasis : 2g dosis tunggal
Infeksi anaerob: peritonitis, abses abdomen,a bses otak 500mg/12 jam IV
Klorokuin
Indikasi : abses hati
Absorbsi cepat shg tidak berefek pada amubiasis intetstinal
Dosis: 4x250 mg pada 2hari I, dilanjutkan 2x250 mg selama 2-3 minggu

Metronidazol sebagai antiamuba efektif untuk amubiasis intestinal dan


ekstraintestinal. Namun efeknya lebih jelas pada jaringan sebab sebagian besar
Metronidazol mengalami penyerapan di usus halus.
Tinidazol memperlihatkan spektrum antiamuba yang sama dengan Metronidazol.
Perbedaannya dengan Metronidazol adalah pada waktu paruhnya yang lebih
panjang sehingga dapat diberikan sebagai dosis tunggal per hari.
Amubiasis dinyatakan berhasil bila pada pemeriksaan laboratorium berkala dalam
waktu 1, 3 dan 6 bulan tidak ditemukan lagi adanya amuba bentuk histolytica dan

kista.
Hilangnya gejala klinik amubiasis belum merupakan jaminan penderita sembuh dari
penyakit amubiasis.
Penting untuk mencegah terjadinya infeksi ulang dan ini dapat dilaksanakan dengan
pemberian anti amuba yang bekerja sekaligus di jaringan dan lumen usus disertai
dengan peningkatan higiene perorangan dan kesehatan lingkungan.

NAMA ANGGOTA KELOMPOK 3 :

FERLY DHIA MAULDY KHAIRUNNISA


IRTAMA KHOIRUL ANISA
NURUL MAHBUBAH
RABIA ADHAWIYAH