You are on page 1of 9

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga tim penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta
salam tak lupa kami haturkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga dan para
sahabatnya yang telah menghantarkan kami dari zaman jahiliyah ke zaman yang terang
benderang.
Makalah yang berjudul Minyak Atsiri ini disusun dalam rangka pemenuhan tugas mata
kuliah Farmakognosi dan juga untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa dan mahasiswi
terhadap Minyak Atsiri dalam bidang farmasi.
Kami sering menemukan kekeliruan yang sering menghambat kami dalam proses
penulisan. Oleh karenanya kami sebagai tim penulis mohon maaf apabila terdapat kekeliruan
dalam makalah ini. Kritik dan saran yang sifatnya membangun, demi penyempurnaan makalah
ini sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, 15 November 2016

DAFTAR ISI
Kata Pengantar.................................................................................................1
Daftar Isi..........................................................................................................2
Bab I Pendahuluan...........................................................................................3
Bab II Pembahasan..........................................................................................4
A. Golongan Hidrokarbon .......................................................................6
B. Golongan hidrokarbon teroksigenasi...................................................7
1. Minyak atsiri alkohol ....................................................................7
2. Aldehida.........................................................................................8
3. Keton..............................................................................................8
Bab III Penutup................................................................................................9
3.1 Kesimpulan.........................................................................................9
3.2 Saran...................................................................................................9

BAB I
PENDAHULUAN
Tumbuhan merupakan makhluk hidup yang memiliki banyak manfaat untuk kehidupan.
Banyak kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi dari bagian-bagian tumbuhan tanpa terkecuali
senyawa yang terdapat di dalamnya. Senyawa-senyawa tersebut dapat dibedakan menjadi
metabolit primer dan metabolit sekunder. Metabolit primer adalah senyawa yang dihasilkan oleh
makhluk hidup untuk metabolisme sel dan biasanya bersifat essensial sedangkan metabolit
sekunder adalah senyawa metabolik yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan
berbeda setiap spesiesnya. Selain itu, metabolit sekunder dihasilkan ketika kondisi lingkungan
tidak menguntungkan seperti adanya serangan hama dan penyakit.
Dalam dunia farmasi, senyawa-senyawa tersebut dapat digunakan sebagai sediaan obat
yang kemudian dikenal dengan herbal dan dapat pula digunakan sebagai zat tambahan (perasa,
pewarna, pengisi, pengikat, dll). Salah satu contohnya adalah dari metabolit sekunder yaitu
minyak atsiri.
Minyak atsiri ataupun juga sering disebut sebagai minyak esteris merupakan salah satu
sisa metabolisme yang disintesa dalam sel kelenjar jaringan tanaman. Minyak atsiri dapat
dihasilkan dari tanaman yaitu dari bagian seperti daun, buah atau kulit buah, akar atau rhizome,
batang atau kulit batang, dan bunga. Sifat dari minyak atsiri antara lain berbau wangi seperti
tanaman penghasilnya, mempunyai rasa getir, dan mudah menguap pada suhu ruangan.
Minyak atsiri digolongkan menjadi minyak atsiri hidrokarbon, aldehid, keton, fenol, eter
fenolat, oksida sineol, dan lain lain. Minyak atsiri didapatkan dengan isolasi, ekstraksi, dan
distilasi bagian-bagian dari tumbuhan yang kemudian diolah menjadi berbagai bentuk sediaan
dan siap untuk digunakan. Minyak atsiri banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku obat dan
aromaterapi juga digunakan sebagai bahan baku industri parfum dan pewangi.

BAB II
PEMBAHASAN
Minyak atsiri (volatile oil) ataupun juga sering disebut sebagai minyak esteris (minyak
esensial) merupakan salah satu sisa metabolisme yang disintesa dalam sel kelenjar (glandular
cell) jaringan tanaman. Minyak atsiri dapat dihasilkan dari tanaman yaitu dari bagian seperti
daun, buah atau kulit buah, akar atau rhizome, batang atau kulit batang, dan bunga.
Menurut (Guenther, 1987), minyak atsiri memiliki sifat fisik seperti berbau wangi sesuai
aroma tanaman penghasilnya, mempunyai rasa getir (pungent taste), mudah menguap pada suhu
kamar tanpa mengalami dekomposisi, larut dalam pelarut organik seperti (alkohol, eter,
petroleum, serat benzena), dan tidak larut dalam air. Sifat fisik yang lain dari minyak atsiri
adalah, minyak atsiri umumnya tidak berwarna, tetapi semakin lama menjadi gelap karena
mengalami oksidasi dan pendamaran.
Sedangkan sifat kimia minyak atsiri yaitu tergantung pada berbgai hal seperti tanaman
penghasil, kondisi iklim, tempat tumbuh, metode ekstraksi, umur panen, dan cara penyimpanan
minyak.
Di dalam tumbuhan sendiri, minyak atsiri terutama terdistribusi pada daun dan bunga.
Berdasarkan kategori familinya, minyak atsiri terakumulasi pada bagian khusus, misalnya
trikoma glanduler (Lamiaceae), pada sel parenkim yang termodifikasi (Piperaceae), pada sel
minyak atau vittae (Apiaceae), pada kelenjar minyak (Rutaceae, Pinaceae). Pada tumbuhan
dengan famili Coniferaceae, minyak atsiri terdapat hampir pada seluruh jaringan. Pada famili
Rosaceae minyak atsiri terutama terdapat pada batang dan daun juga. Pada familia tumbuhan
yang lain, minyak atsiri mungkin terakumulasi pada tempat-tempat tertentu yang berlainan.
Minyak atsiri di Indonesia sangat potensial dikembangkan. Hal ini dikarenakan Indonesia
memiliki lebih dari 160 jenis tanaman yang dapat menghasilkan minyak atsiri. Sedangkan dalam
dunia perdagangan terdapat 80 jenis minyak atsiri dan Indonesia memiliki 40 jenis, tetapi baru
12 yang masuk perdagangkan Internasional. Contoh minyak atsiri yang dihasilkan di Indonesia
adalah nilam, sereh wangi, kenanga, pala, jahe, lada, akar wangi, serta cengkeh.
Komoditas minyak atsiri sangat dibutuhkan dalam berbagai industri seperti industri parfum,
kosmetika, obat-obatan, serta industri makanan dan minuman.

Contoh jenis minyak atsiri dan tanaman penghasilnya yang sudah berkembang di
Indonesia:
No
1
2
3
4

Nama minyak
Nilam
Serai wangi
Akar wangi
Kenanga

5
6

Cendana
Kayu putih

Daun cengkeh

Gagang cengkeh

Bunga cengkeh

10
11

Pala
Lada

12

Jahe

Nama dagang
Patchouli Oil
Citronella Oil
Vetiver Oil
Cananga Oil
Sandalwood Oil
Cajuput Oil
Clove leaf Oil
Clove Stem Oil
Clove bud Oil
Nutmeg Oil
Black papper oil
Ginger Oil

Nama tanaman
Pogestemon cablin
Andropgon nardus
Vetiveria zizanoides
Canangium

Kegunaan/fungsi
Parfum, sabun
Parfum, sabun
Parfum, sabun
Parfum, sabun

odoratum
Santalum album
Melaleuca

Parfum, sabun
Farmasi

leucadendron
Syzigium

Rokok,

aroamticum
Syzigium

parfum,

farmasi, makanan

aroamticum
Syzigium

Rokok,

aroamticum
Myristica fragrans
Piper nigrum

farmasi, makanan
Makanan, rokok
Makanan,

Zingiber officinale

minuman
Makanan,

parfum,

minuman

Minyak atsiri biasanya terdiri dari berbagai campuran persenyawaan kimia yang
terbentuk dari unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan oksigen (O). Pada umumnya komponen
kimia minyak atsiri dibagi menjadi dua golongan yaitu, hidrokarbon, dan hidrokarbon
teroksigenasi.

A.

Golongan hidrokarbon
Terdiri dari unit-unit isoprene. Dominan menentukan aroma dan sifat khas setiap jenis

minyak atsiri. Mudah mengalami oksidasi dan resinifikasi karena cahaya dan udara.
Persenyawaan yang termasuk golongan ini terbentuk dari unsur Karbon (C) dan Hidrogen (H).
5

Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri dari monoterpen (2
unit isopren), sesquiterpen (3 unit isopren), diterpen (4 unit isopren) dan politerpen, parafin,
olefin, dan hidrokarbon aromatik. Contoh senyawa (C5H8)n (unit isoprene) golongan ini antara
lain: Ocimene, myocene, cyonene, pinene, sylvestrene, limonene, camphene, phelandrene,
fenchene, geraniolene, endesniol, caryophilene, santalene.
Minyak atsiri kelompok ini komponen penyusunnya sebagian besar terdiri dari senyawasenyawa hidrokarbon, misalnya minyak terpentin diperoleh dari tanaman-tanaman golongan
pinus (famili Pinaceae). Komponen terpentin sebagian besar berupa asam-asam resin (hingga
90%), ester-ester dari asam-asam lemak, dan senyawa inert yang netral disebut resena. Terpentin
larut dalam alkohol, eter, kloroform, dan asam asetat glasial dan bersifat optis aktif.
Minyak terpentin dihasilkan di Indonesia dan diekspor sebagai salah satu sumber devisa.
Salah satu komponen utama penyusun minyak terpentin adalah -pinena yang bervariasi dari
70-85%. Perlu dilakukan derivatisasi -pinena sehingga dapat lebih bermanfaat dan bernilai
ekonomi lebih tinggi, misalnya sebagai bahan baku obat-obatan dan parfum. Pada umumnya
minyak terpentin tersusun oleh campuran isomer tidak jenuh, hidrokarbon monoterpena bisiklis
(C10H16) yaitu (a) -pinena, (b) -pinena, (c) karena, dan (d) d-longifolena.
Minyak terpentin dapat digunakan dalam berbagai macam bidang industri. Kegunaan
minyak terpentin dapat dijelaskan sebagai berikut :

Minyak terpentin dalam industri kimia dan farmasi seperti dalam sintesis kamfer,
terpineol dan terpinil asetat, sebagai obat luar, melebarkan pembuluh darah kapiler, dan
merangsang keluarnya keringat. Terpentin jarang digunakan sebagai obat dalam.
(Gunawan D, Mulyani S. Ilmu obat alam (Farmakognosis) jilid 1. Penebar Swadaya :

B.

Jakarta, 2004:106-27 )
Minyak terpentin dapat digunakan sebagai thiner (pengencer) dalam industri cat dan

pernis.
Minyak terpentin juga digunakan dalam industri perekat dan pelarut lilin.
Golongan hidrokarbon teroksigenasi

Komponen kimia dari golongan persenyawaan ini terbentuk dari unsure Karbon (C), Hidrogen
(H) dan Oksigen (O). Persenyawaan yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan
6

alkohol, aldehid, keton, ester, eter, dan fenol. Ikatan karbon yang terdapat dalam molekulnya
dapat terdiri dari ikatan tunggal, ikatan rangkap dua, dan ikatan rangkap tiga.
Persenyawaannya menyebabkan bau yang khas pada minyak atsiri.
Mempunyai sifat yang lebih tahan dan stabil terhadap proses oksidasi dan resinifikasi
dibandingkan golongan hidrokarbon. Mempunyai nilai kelarutan yang tinggi dalam alkohol
encer (kecuali beberapa aldehid).
Senyawa terpen memiliki aroma kurang wangi, sukar larut dalam alkohol encer dan jika
disimpan dalam waktu lama akan membentuk resin. Golongan hidrokarbon teroksigenasi
merupakan senyawa yang penting dalam minyak atsiri karena umumnya aroma yang lebih
wangi. Fraksi terpen perlu dipisahkan untuk tujuan tertentu, misalnya untuk pembuatan parfum,
sehingga didapatkan minyak atsiri yang bebas terpen.
1.

Minyak atsiri alkohol (R OH)

Senyawa alkohol yang terdapat dalam minyak atsiri terdiri dari 2 jenis, yaitu, alkohol alifatis,
contohnya geraniol, sitronellol, nerol, menthol, farnesol, fenil etil alkohol, benzil alkohol, metil
alkohol, dll. Alkohol siklis, contohya thimol, eugenol, vanillin, carvacrol.
Minyak pipermin dihasilkan oleh daun tanaman poko atau Mentha piperita Linn. Daun poko
segar mengandung minyak atsiri sekitar 1%, juga mengandung resin dan tanin. Sementara daun
yang telah dikeringkan mengandung 2% minyak permen. Sebagai penyusun utamanya adalah
mentol. Pada bidang farmasi digunakan sebagai anti gatal, bahan pewangi dan pelega hidung
tersumbat. Sementara pada industri digunakan sebagai pewangi pasta gigi. (Gunawan D,
Mulyani S. Ilmu obat alam (Farmakognosis) jilid 1. Penebar Swadaya : Jakarta, 2004:106-27 )

2.

Aldehida (R CHO)

Aldehida-aldehida yang terdapat di dalam minyak atsiri terdiri dari aldehida asiklik dan siklik.
Aldehida asiklik misalnya sitral (geranial), dan sintrinelal. Aldehida aromatik meliputi
benzaldehida (Oleum Amygdalarum), sinamil aldehida (Oleum Cassiae), vanillin (Vanilla,
Benzoin, Tolusasem) dan kuminil aldehida (p-isopropilbenzaldehida).
7

3. Keton (R CO R)
Senyawa keton yang terkandung dalam minyak atsiri, contohnya champor, vione, carvone,
asetofenon, menthonene, dll.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari hasil tentang pembahasan Minyak Atsiri, maka dapat diambil kesimpulan :
1. Minyak atsiri (volatile oil) atau yang biasa disebut minyak esteris (minyak esensial)
merupakan salah satu sisa metabolisme yang disintesa dalam sel dalam jaringan tanaman.
2. Sifat fisik minyak atsiri meliputi memiliki aroma khas atau bau wangi sesuai aroma
tanaman penghasilnya, mudah menguap pada suhu kamar, sedangkan sifat kimia minyak
atsiri sendiri tergantung pada tanaman penghasil, kondisi iklim, tempat tumbuh, metode
ekstraksi, umur panen, dan cara penyimpanan minyak.
3. Komponen kimia minyak atsiri terbagi menjadi dua golongan yaitu, hidrokarbon, dan
hidrokarbon teroksigenasi.
4. Senyawan yang termasuk golongan Hidrokarbon terbentuk dari unsur karbon dan
hidrogen. Jenis hidrokarbon yang terdapat dalam minyak atsiri sebagian besar terdiri dari
monoterpen, sesquiterpen, diterpen, politerpen, parafin, olefin, dan hidrokarbon aromatik.
Untuk golongan Hidrokarbon teroksidasi, dibentuk dari unsur karbon, hidrogen dan
oksigen. Yang termasuk dalam golongan ini adalah persenyawaan alkohol, aldehid, keton,
ester, eter, dan fenol.
3.2 Saran
1. Perlunya perhatian lebih dan pengembangan minyak atsiri di Indonesia, mengingat
Indonesia sangat potensial dengan memiliki banyak tanaman yang mengandung minyak
atsiri, namun hanya ada beberapa saja yang di perdagangkan di Internasional.