You are on page 1of 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang

Autismeadalahkumpulankondisikelainanperkembangan
yang ditandai dengan kesulitan berinteraksi sosial, masalah
komunikasiverbaldannonverbal,disertaidenganpengulangan

tingkah laku dan ketertarikan yang dangkal dan obsesif.


Kelainan perkembangan ini dapat secara pasti dideteksi saat
anak berusia 3 tahun dan pada beberapa kasus pada usia 18
bulan, tapi tandatanda yang mengarah ke gangguan ini
sebenarnya sudah dapat terlihat sejak umur 1 tahun, bahkan
padabayiusia8bulan.

Autisme membawa dampak pada anak dan juga pada


keluarga.Dampakpadaanakdapatberupaprestasisekolahyang
buruk, gangguan sosialisasi, status pekerjaan yang rendah.
Adapun dampak pada keluarga adalah timbulnya stress dan
depresiyangberatpadaorangtuadanpengasuhnyasehingga
mempengaruhikeharmonisankeluarga.Olehkarenagangguan
Autismeinibersifatkronik,yangmemerlukantenagadanbiaya
yangtidakringandalamusahapenanggulangannya,dantidak
dapat memberikan garansi akan tercapainya hasil pengobatan
yangdiharapkan.Halinitentuakanmenimbulkanketakutandan
pukulanyangluarbiasabagiorangtuabilaanaknyadidiagnosis
sebagaianakautistik.

Anak dengan autisme memerlukan bantuan, bimbingan,


dan pengertian baik dari orang tuanya, pembimbing, maupun
sistempendidikandimanaanakituberada.Anakanakinidapat
memperoleh keuntungan dari programprogram intervensi
apabilaterdeteksidinidancepatditangani.
1.2. Tujuan

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi Autisme

Autismeadalahkumpulankondisikelainanperkembangan
yang ditandai dengan kesulitan berinteraksi sosial, masalah
komunikasi verbal dan nonverbal, disertai dengan 2
pengulangan tingkah laku dan ketertarikan yang dangkal dan
1

obsesif. Autismemerupakansuatugangguanspektrum,artinya
gejalayangtampakbisasangatbervariasi.Tidakadaduaanak
yangmemilikidiagnosisyangsamayangmenunjukkanpoladan
variasiperilakuyangsamapersis.Autismesesungguhnyaadalah
sekumpulan gejala klinis atau sindrom yang dilatarbelakangi
olehberbagaifaktoryangsangatbervariasidanberkaitansatu
sama lain dan unik karena tidak sama untuk masingmasing
kasus.

2.2. Epidemiologi Autisme


Prevalensi autism pada anak 10/10.000 kelahiran hidup. Insidensi pada laki laki
lebih banyak dari pada perempuan, 4 : 1.
2.2. Etiologi / Faktor Resiko Autisme
Penelitian paling akhir dari penyebab autisme menunjukkan hubungan autisme
dengan genetik yang bersifat multigen. Diduga ada kaitannya dengan neurotransmitter
serotonin. Terdapat kelainan anatomi pada daerah limbik dan perkembangan
serebelum serta batang otak yang tidak terbentuk sempurna. Dengan pemeriksaan
positron emission tomography (PET) daerah tersebut memperlihatkan aktifitas fisik
yang rendah.
Genetik dan Keturunan
Resiko rekurensi ASD (2 19%) diantara suatu keluarga, dan resiko lebih
tinggi terdapat pada bayi kembar.. Kehamilan jarak berdekatan, usia kehamilan
(maternal) atau parernal, dan kelahiran prematur yang ekstrim (<26 minggu usia
gestasi) juga keluarga yang megalamu gangguan dalam belajar, ganggua psikiatri,
dan gangguan sosial, telah ditentukan sebagai faktor resiko.
Gangguan Neurobiologik
Kejang yang sering dapat SUGGEST peranan faktor biologis pada penderita ASD.
Jumlah daerah pada otak yang terkena oleh autisme menunjukkan DIVERSE
Genetic and Familial Factors
There is a high recurrence risk (2-19%) for ASD among siblings, as well as a higher

concordance rate (37-90%) in twin studies. Closer spacing of pregnancies, advanced


maternal or paternal age, and extremely premature birth (<26wk gestational age) as
well as family members with learning problems, psychiatric disorders, and social
disability, have been identified as risk factors. Multiple genes are viewed as involved
in autism with studies supporting a role for both common (>5% of general population)
and rare genetic variations contributing to the disorder. For example, Timothy
syndrome, characterized by dysmorphic facies, congenital heart disease, prolonged
QT interval, and developmental delay, is caused by a mutation in the L-type calcium
channel Ca v 1.2 and also has ASD features. In addition, ASD is associated with
multiple abnormalities of mitochondrial DNA.
Neurobiologic Factors
The high rates of seizure disorder suggest a role for neurobiologic factors in ASD.
The number of different areas of the brain affected by autism suggests a diverse and
widely distributed set of affected neural systems. Postmortem studies reveal various
abnormalities, particularly within the limbic system. Structural MRI reveals an overall
increase of brain size, and diffusion tensor imaging studies suggest aberrations in
white matter tract development. Functional MRI identifies difficulties in tasks
involving social and affective judgments and differences in the processing of face and
nonface stimuli. Poor neuronal connectivity in various brain regions also is reported.
Elevated peripheral levels of serotonin are a replicated neurochemical finding of
unclear significance. A role for dopamine is suggested given the problems with
overactivity and stereotyped mannerisms and the positive response of such behaviors
to antipsychotic medications.
Neuropsychological correlates of ASD include impairments in executive functioning
(e.g., simultaneously engaging in multiple tasks), weak central coherence (integrating
information into meaningful wholes), and deficits in theory of mind tasks (taking the
perspective of another person). The empathizing-systemizing personality theory
describes the autistic mind in terms of impaired empathy alongside intact or even
superior systemizing (the drive to analyze or construct systems).
Environmental exposures early in the 1st trimester of pregnancy that have been linked
to ASD in epidemiologic studies include thalidomide, misoprostol, rubella infection,
valproic acid, and the organophosphate insecticide chlorpyrifos. Prenatal folic acid
supplementation may reduce the risk of ASD. There has been concern about vaccines
as a postnatal environmental cause for ASD. The focus has been on either the
measles-mumps-rubella vaccine or the thimerosal preservative as a causative factor.
All available data have not supported either hypothesis.
Neuropathology Factors
The head circumference in ASD is normal or slightly smaller than normal at birth
until 2mo of age. Afterward, children with ASD show an abnormally rapid increase in
head circumference from 6-14mo of age, increased brain volume in 2-4yr olds,
increased volume of the cerebellum, cerebrum, and amygdala, and marked abnormal
growth in the frontal, temporal, cerebellar, and limbic regions of the brain. Early,
accelerated brain growth during the first several years of life is followed by
abnormally slow or arrested growth, resulting in areas of underdeveloped and
abnormal circuitry in parts of the brain. Areas of the brain responsible for higher-order
cognitive, language, emotional, and social functions are most affected.
Neurobiologi

Abnormalitas pada Electroencephalograpghic (EEG) dan kejang ada pada 20 25%


pada individu dengan autisme. Tingginya tingkat epilepsi menunjukkan peran faktor
neurobiologis pada autisme. Prosedur magnetic resonance imaging (MRI) telah
mengidentifikasi kesulitan dalam pekerjaan yang melibatkan penilaian sosial dan
afektif. Secara structural MRI menunjukkan keseluruhan ukuran otak meningkat pada
autisme dan aberasi pada white matter
2.4. Klasifikasi Autisme
Klasifikasi Autisme dapat dibagi berdasarkan berbagai pengelompokan kondisi
1. Klasifikasi berdasarkan saat munculnya kelainan
1. Autisme infantil; istilah ini digunakan untuk menyebut anak autis yang
kelainannya sudah nampak sejak lahir
2. Autisme fiksasi; adalah anak autis yang pada waktu lahir kondisinya normal,
tanda-tanda autisnya muncul kemudian setelah berumur dua atau tiga tahun
2. Klasifikasi berdasarkan intelektual
a. Autis dengan keterbelakangan mental sedang dan berat (IQ dibawah 50).
Prevalensi 60% dari anak autistik
b. Autis dengan keterbelakangan mental ringan (IQ 50-70)
Prevalensi 20% dari anak autis
c. Autis yang tidak mengalami keterbelakangan mental (Intelegensi diatas 70)
Prevalensi 20% dari anak autis
3. Klasifikasi berdasarkan interaksi sosial:
1. Kelompok yang menyendiri; banyak terlihat pada anak yang menarik diri,
acuh tak acuh dan kesal bila diadakan pendekatan sosial serta menunjukkan
perilaku dan perhatian yang tidak hangat
2. Kelompok yang pasif, dapat menerima pendekatan sosial dan bermain dengan
anak lain jika pola permainannya disesuaikan dengan dirinya
c. Kelompok yang aktif tapi aneh : secara spontan akan mendekati anak yang lain,
namun interaksinya tidak sesuai dan sering hanya sepihak.
4. Klasifikasi berdasarkan prediksi kemandirian:
a. Prognosis buruk, tidak dapat mandiri (2/3 dari penyandang autis)
b. Prognosis sedang, terdapat kemajuan dibidang sosial dan pendidikan
walaupun problem perilaku tetap ada (1/4 dari penyandang autis)

c. Prognosis baik; mempunyai kehidupan sosial yang normal atau hampir normal
dan berfungsi dengan baik di sekolah ataupun ditempat kerja. (1/10 dari
penyandang autis)
2.5. Patofisiologi Autisme
2.6. Manifestasi Klinis Autisme
A. Gangguan Perkembangan Dengan Gejala Khas
Gejala gangguan komunikasi
Terlambat bicara, tidak bicara sama sekali
Terganggu bagasa ekspresif dan reseptif
2.7. Diagnosis Autisme
Sistem diagnostik yang paling banyak digunakan, International
Classification of Diseases ( edisi ke sepuluh, ICD-10, adalah sistem diagnostik
yang terbaru) dipublikasikan oleh World Health Organization, dan Diagnostic
and Statistical Manual (edisi ke empat, dengan revisi tulisan, DSM-IV-TR,
merupakan diagnostik terbaru yang tersedia, meskipun revisi juga sudah ada)
oleh Americal Psychiatric Association. Keduanya incorporate trias
ketidakseimbanan sosial, khususnya tiga kelompok gejala Penurunan kualitatif
dalam interaksi sosial, penurunan kualitatif dalam komunikasi dan
Pembatasan kepentingan/ perilaku repetitif
Anak dengan autisme sering kali tidak terdiagnosis hingga usia 3 4 tahun,
saat adanya gangguan interaksi sosial reciprocal. Kriteria diagnosis menurut
American Psychiatric Assosiation adalah :
Penurunan Kualitatif Dalam Interaksi Sosial (minimal 2)
Penurunan perilaku nonverbal seperti kontak mata
Gagal untuk mengembangkan hubungan dengan teman sebaya
Kurangnya usaha untuk berbagi
Kurangnya timbal balik sosial atau emosional
Gangguan Kualitatif Dalam Komunikasi (minimal 1)
Keterlambatan berbicara, ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan
percakapan
Stereotip dan berulang ulang/ kurangnya bahasa berpura pura/ bermain
imitatif meniru
Pembatasan kepentingan/ perilaku repetitive (minimal1)
Preokupasi dengan satu hal
Inflexibleadherencetononfunctionalroutinesorrituals

Sikap motoric berulang (manerisme)


Preokupasi persisten dengan objek tertentu
DSM5
Deficitkomunikasisosialdaninteraksisosialdiluarkontekssecarapersisten:
1.Defisitdalamtimbalbaliksosialemosional;mulaidaripendekatansosialabnormal
dankegagalankembalinormaldansebagainyapercakapanmelaluipengurangan

berbagikepentingan,emosi,danmempengaruhidanresponterhadaptotalkurangnya
inisiasiinteraksisosial.
-

Pendekatansosialabnormal
Gagalkembalinormaldalampembicaraan
Berkurangnyarasainginberbagi
Berkurangnyaberbagiemosi/afek
Kurangnyainteraksisosial
Kegagalanuntukterlibatdalampermainansosialyangsederhana

2.Defisitdalamperilakukomunikatifnonverbaldigunakanuntukinteraksisosial;
mulaidarikomunikasiverbaldannonverbalkurangterintegrasi,melaluikelainan
padakontakmatadanbahasatubuh,ataudefisitdalampemahamandanpenggunaan
komunikasinonverbal,totalkurangnyaekspresiwajahataugeraktubuh.
3

Adabeberapainstrumenscreeninguntukautisme: 1.CARS
ratingsystem(ChildhoodAutismRatingScale),dikembangkan
olehEric
Schoplerpadaawal1970an,berdasarkanpengamatanterhadap
perilaku.Di5
dalamnyaterdapat15nilaiskalayangmengandungpenilaian
terhadaphubungananakdenganorang,penggunaantubuh,
adaptasiterhadapperubahan,responpendengaran,dan
komunikasiverbal.
.

ChecklistforAutisminToddlers(CHAT)digunakanuntuk
screeningautismepadausia18bulan.Dikembangkanoleh
SimonBaronCohenpadaawal1990anuntukmelihatapakah
autismedapatterdeteksipadaanakumur18bukan.alat
screeninginimenggunakankuesioneryangterbagi2sesi,satu
melaluipenilaianorangtua,yanglainmelaluipenilaiandokter
yangmenangani.

AutismScreeningQuestionnaireadalah40poinskalaskreening
yangtelahdigunakanuntukanakusia4tahunkeatasuntuk
mengevaluasikemampuanberkomunikasidanfungsisosialnya.
Adapununtukmenegakkandiagnosisautismedapatdigunakan
kriteriadiagnostik

menurutDSMIV,sepertiyangterteradibawahini. A.Harus
ada6gejalaataulebihdari1,2dan3dibawahini:
a)Gangguankualitatifdariinteraksisosial(minimal2gejala)

Gangguanpadabeberapakebiasaannonverbalseperti

2.

kontakmata,ekspresiwajah,posturtubuh,sikaptubuhdan
pengaturaninteraksisosial

Kegagalanmembinahubunganyangsesuaidengan

3.

tingkatperkembangannya

Tidakadausahaspontanmembagikesenangan,

4.

ketertarikan,ataupunkeberhasilandenganoranglain(tidakada
usahamenunjukkan,membawa,ataumenunjukkanbarangyang
iatertarik)

Tidakadatimbalbaliksosialmaupunemosional

5.

6
.

b)Gangguankualitatifdarikomunikasi(minimal1gejala)

Keterlambatanatautidakadanyaperkembangan
bahasayangdiucapkan(tidakdisertaidenganmimikataupun
sikaptubuhyangmerupakanusahaalternatifuntukkompensasi)

Padaindividudengankemampuanbicarayang

cukup.terdapatkegagalandalamkemampuanberinisiatif
maupunmempertahankanpercakapandenganoranglain.

Penggunaanbahasayangmeniruataurepetitifatau

bahasaidiosinkrasi

Tidakadanyavariasudanusahauntukpermainan

imitasisosialsesuaidengantingkatperkembangan
.

c)Adanyasuatupolayangdipertahankandandiulangulang

dariperilaku,minatdanaktivitas(minimal1gejala)

Kesibukan(preokupasi)dengansatuataulebihpola

ketertarikanstereotipikyangabnormalbaikdalamhalintensitas
maupunfokus

Tampakterikankepadarutinitasmaupunritual

spesifikyangtidakberguna

Kebiasaanmotorikyangstereotipikdanrepetitif

(misalnyamengibaskanataumemutarmutartanganataujari,
ataugerakantubuhyangkompleks)
obyek

Preokupasipersistendenganbagiandarisuatu

B.Keterlambatanataufungsiyangabnormaltersebutterjadi
sebelumumur3tahun,denganadanyagangguandalam3bidang
yaitu:interaksisosial;
penggunaanbahasauntukkomunikasisosial;bermainsimbol
atauimajinasi.7
C.KelainantersebutbukandisebabkanolehpenyakitRettatau
gangguandisintegratif(sindromHeller)
2.8. Penatalaksanaan Autisme Pada Anak
Intervensi intensif secara individu, termasuk perilaku, edukasi dan komponen
psikologis, merupakan penatalaksanaan yang paling efektif dari gangguan autis. Lebih
cepat penatalaksanaan dilakukan meningkatkan likelihood dari hasil yang dicapai.
Skrining regular pada bayi dan balita untuk gejala dan tanda gangguan autisme sangat
penting karena memungkinkan identifikasi awal pada pasien
Individu dengan autisme dan gangguan perkembangan berfasif biasanya
menguntungkan dari program terapi dalam berperilaku. Anak autis seharusnya
ditempatkan pada program khusus ini setelah terdiagnisus.
The National Autism Center telah memprakarsai Standar Proyek Nasional, yang
memiliki tujuan membangun satu set standar evidence based untuk intervensi
pendidikan dan perilaku untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme. Proyek
ini telah diidentifikasi didirikan, muncul, dan perawatan yang belum terkenal.
Edukasi Khusus

Diet
anak-anak dengan ASD secara signifikan lebih mungkin mengalami masalah GI dan
alergi makanan. Menurut sebuah penelitian, anak-anak dengan ASD yang 6 sampai 8
kali lebih mungkin untuk melaporkan sering gas / kembung, sembelit, diare, dan
kepekaan terhadap makanan daripada anak-anak TD. Para peneliti juga menemukan
hubungan antara gejala GI dan perilaku maladaptif pada anak dengan ASD. Ketika
anak-anak ini memiliki gejala GI sering, mereka menunjukkan iritabilitas buruk,
penarikan sosial, stereotypy, dan skor hiperaktif dibandingkan dengan mereka tanpa
gejala sering. [125, 126]
Individu dengan gangguan autis atau kondisi terkait membutuhkan 3 makanan
seimbang setiap hari. konsultasi diet mungkin berguna untuk mengevaluasi manfaat
dari diet khusus, termasuk yang kurang gluten dan kasein. Vitamin B-6 dan
magnesium antara vitamin dan mineral hipotesis untuk membantu beberapa pasien.
[127]
Dalam randomisasi, double-blind, plasebo controlled trial, 3 bulan pengobatan dengan
suplemen vitamin / mineral yang diproduksi peningkatan yang signifikan secara
statistik dalam status gizi dan metabolik anak autis. Selain itu, kelompok suplemen
memiliki perbaikan secara signifikan lebih besar daripada kelompok plasebo di skor
Perubahan yang Parental Global Impressions-Revisi (PGI-R) rata-rata. [128]
Medikasi
Meskipun 70% anak dengan autisme menerima medikasi, hanya sedikit bukti bahwa
efek menguntungkan lebih besar daripada efek samping [129] Tidak ada agen
farmakologis yang efektif dalam pengobatan manifestasi perilaku inti gangguan
autistik, tetapi obat mungkin efektif dalam mengobati masalah perilaku terkait dan
gangguan komordibitas.
Generasi kedua agen antipsikotik risperidone dan aripiprazole memberikan efek
menguntungkan pada perilaku menantang dan berulang pada anak-anak dengan
gangguan spektrum autisme, meskipun pasien mungkin mengalami efek samping
yang signifikan. [132]
Terapi Eksperimental
terapi sekretin
Beberapa laporan anekdotal menunjukkan bahwa sekretin, hormon gastrointestinal
yang dapat berfungsi sebagai neurotransmitter, adalah intervensi yang efektif untuk
gejala autisme. Hal ini menyebabkan beberapa studi ilmiah sekretin untuk anak-anak
dengan gangguan spektrum autisme. [143, 144, 145] Namun, 2 ulasan dari percobaan
ini gagal menunjukkan bahwa secretin memiliki efek menguntungkan pada anak-anak
ini. [146, 147]
Terapi oksigen hiperbarik
efek menguntungkan dari terapi oksigen hiperbarik telah dilaporkan pada 6 pasien
dengan autisme. Risiko prosedur ini harus ditimbang terhadap manfaat bagi pasien.
Dikendalikan uji klinis dan penelitian lain diperlukan untuk mengkonfirmasi nilai
potensi intervensi ini.
oksitosin intranasal
Penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis intranasal tunggal hormon oksitosin
meningkatkan aktivitas di daerah otak yang berhubungan dengan reward, persepsi

sosial, dan kesadaran emosional dan sementara meningkatkan pengolahan informasi


sosial pada anak-anak dengan gangguan spektrum autisme (ASD). [148, 149]
Dalam studi dari 17 anak-anak berfungsi tinggi dan remaja dengan ASD, pusat-pusat
otak yang berhubungan dengan reward dan emosi pengakuan merespon lebih selama
tugas sosial ketika anak-anak menerima oksitosin bukan plasebo.
Meskipun penelitian perilaku pada anak-anak dan orang dewasa menunjukkan bahwa
dosis tunggal intranasal oksitosin meningkatkan interaksi sosial dan pemahaman
pidato afektif, hasil dari uji klinis memeriksa efek dari pemerintahan sehari-hari obat
telah dicampur.
Google Translate for Business:Translator ToolkitWebsite TranslatorGlobal Market
Finder

Management
General
The cornerstone of management is to establish contact and
communication with the child so as to prevent him from
sliding into utter isolation. Providing a structured predictable
environment employing play, language therapy and
interpersonal exercises helps. It should revolve around the
following three strategies:
1. Management of abnormal behavior (behavior modification)
6.

Help for the family

7.

Arrangements for educational and social services.


Pharmacothrapy
There is no medication to treat autism as such. However,
specific symptoms (aggression, temper tantrum) may warrant
medication.Neuroleptics (olanzapine, risperidone), dopamine
antagoists (haloperidol) may be selectively employed to relieve
comorbidity.

Penatalaksanaanpadaautismeharussecaraterpadu,meliputi
semuadisiplinilmuyangterkait:tenagamedis(psikiater,dokter
anak,neurolog,dokterrehabilitasimedik)dannonmedis

(tenagapendidik,psikolog,ahliterapibicara/okupasi/fisik,
pekerjasosial).Tujuanterapipadaautisadalahuntuk
mengurangimasalahperilakudanmeningkatkankemampuan
belajardanperkembangannyaterutamadalampenguasaan
bahasa.Dengandeteksisedinimungkindandilakukan
manajemenmultidisiplinyangsesuaiyangtepatwaktu,
diharapkandapattercapaihasilyangoptimaldariperkembangan
anakdenganautisme.

Manajemenmultidisiplindapatdibagimenjadiduayaitunon
medikamentosadanmedikamentosa.
1.Nonmedikamentosaa.Terapiedukasi
Intervensidalambentukpelatihanketerampilansosial,
keterampilanseharihariagaranakmenjadimandiri.Tedapat
berbagaimetodepenganjaranantaralainmetodeTEACHC
(TreatmentandEducationofAutisticandrelated
CommunicationHandicappedChildren)metodeinimerupakan
suatuprogramyangsangatterstrukturyangmengintegrasikan
metodeklasikalyangindividual,metodepengajaranyang
sistematikterjadwaldandalamruangkelasyangditatakhusus.
8
.

TerapiperilakuIntervensiterapiperilakusangatdiperlukanpada
autisme.Apapunmetodenyasebaiknyaharussesegeramungkin
danseintensifmungkinyangdilakukanterpadudenganterapi
terapilain.MetodeyangbanyakdipakaiadalahABA(Applied
BehaviourAnalisis)dimanakeberhasilannyasangattergantung
dariusiasaatterapiitudilakukan(terbaiksekitarusia25
tahun).

TerapiwicaraIntervensidalambentukterapiwicarasangatperlu
dilakukan,mengingattidaksemuaindividudenganautisme
dapatberkomunikasisecaraverbal.Terapiiniharusdiberikan
sejakdinidandenganintensifdenganterapiterapiyanglain.

Terapiokupasi/fisikIntervensiinidilakukanagarindividu
denganautismedapatmelakukangerakan,memegang,menulis,
melompatdenganterkontroldanteratursesuaikebutuhansaat
itu.

SensoriintegrasiAdalahpengorganisasianinformasisemua
sensoriyangada(gerakan,sentuhan,penciuman,pengecapan,
penglihatan,pendengaran)untukmenghasilkanresponyang
bermakna.Melaluisemuainderayangadaotakmenerima
informasimengenaikondisifisikdanlingkungansekitarnya,
sehinggadiharapkansemuagangguanakandapatteratasi.

AIT(AuditoryIntegrationTraining)Padaintervensiautisme,
awalnyaditentukansuarayangmengganggupendengaran
denganaudimeter.Laludiikutidenganseriterapiyang
mendengarkansuarasuarayangdirekam,tapitidakdisertai
dengansuarayang
9
menyakitkan.Selanjutnyadilakukandesentisasiterhadapsuara
suarayang
menyakitkantersebut.g.Intervensikeluarga
Padadasarnyaanakhidupdalamkeluarga,perlubantuan
keluargabaikperlindungan,pengasuhan,pendidikan,maupun
doronganuntukdapattercapainyaperkembanganyangoptimal
dariseoranganak,mandiridandapatbersosialisaidengan
lingkungannya.Untukitudiperlukankeluargayangdapat
berinteraksisatusamalain(antaranggotakeluarga)dansaling
mendukung.Olehkarenaitupengolahankeluargadalam
kaitannyadenganmanajementerapimenjadisangatpenting,
tanpadukungankeluargarasanyasulitsekalikitadapat
melaksanakanterapiapapunpadaindividudenganautisme.
2.MedikamentosaIndividuyangdestruktifseringkali
menimbulkansuasanayangtegangbagilingkunganpengasuh,

saudarakandungdanguruatauterapisnya.Kondisiini
seringkalimemerlukanmedikasidenganmedikamentosayang
mempunyaipotensiuntukmengatasihalinidansebaiknya
diberikanbersamasamadenganintervensiedukational,perilaku
dansosial.a)Jikaperilakudestruktifyangmenjaditargetterapi,
manajementerbaikadalah
dengandosisrendahantipsikotik/neuroleptiktapidapatjuga
denganagonisalfaadrenergikdanantagonisreseptorbeta
sebagaialternatif.Neuroleptik
NeuroleptiktipikalpotensirendahThioridazindapat
menurunkanagresifitasdanagitasi.
10
8.

NeuroleptiktipikalpotensitinggiHaloperidoldapat
menurunkanagresifitas,hiperaktifitas,iritabilitasdan
stereotipik.

9.

NeuroleptikatipikalRisperidonakantampak
perbaikandalamhubungansosial,atensidanabsesif.
Agonisreseptoralfaadrenergik
Klonidin,dilaporkandapatmenurunkanagresifitas,
impulsifitasdan
hiperaktifitas.Betaadrenergikblocker
Propanololdipakaidalammengatasiagresifitasterutamayang
disertaidenganagitasidananxietas.

b)JikaperilakurepetitifmenjaditargetterapiNeuroleptik
(Risperidon)danSSRIdapatdipakaiuntukmengatasiperilaku
stereotipiksepertimelukaidirisendiri,resistenterhadap
perubahanhalhalrutindanritualobsesifdengananxietas
tinggi.

c)JikainatensimenjaditargetterapiMethylphenidat(Ritalin,

Concerta)dapatmeningkatkanatensidanmengurangi
destruksibilitas.
.

d)JikainsomniamenjaditargetterapiDyphenhidramine
(Benadryl)danneuroleptik(Tioridazin)dapatmengatasi
keluhanini.

e)JikagangguanmetabolismemenjadiproblemutamaGanguan
metabolismeyangseringterjadimeliputigangguanpencernaan,
alergimakanan,gangguankekebalantubuh,keracunanlogam
beratyangterjadiakibatketidakmampuananakanakiniuntuk
membuangracundari
11
dalamtubuhnya.Intervensibiomedisdilakukansetelahhasiltes
laboratoriumdiperoleh.Semuagangguanmetabolismeyangada
diperbaikidenganobatobatanmaupunpengaturandiet.

BAB III
KESIMPULAN
Terapi pada gangguan autistic adalah terapi non farmakologis. Terapi ini
termasuk terapi dalam perilaku, edukasional dan psikologik. Tidak ada agen
farmakologis yabg efektif dalam gejala perilaku pada gangguan autisme.

Meskippun medikasi mungkin efektif pada gangguan komorbid, termasuk


gangguan melukai diri sendiri dan gangguan gerak.

DAFTAR PUSTAKA
Autisme merupakan kegagalan perkembangan yang kompleks muncul pada 3 tahun

a complex developmental disability


appearing in first 3 years of life. It is a sort of poorly understood psychosis in which the child is highly withdrawn
and seemingly living in an isolated world of his own with
complete failure to react to other people, communication
problems, extreme aloofness and obsessive desire for
sameness in routine and surroundings. In addition, there may
be mental retardation, seizures or learning disabilities. Autism
is not caused by bad parenting.
pertama kehidupan. Autismis

The following details pertain to autism.

NINDSAutismInformationPage,(2006).NationalInstitute
ofNeurologicalDisordersandStroke(NINDS).Available:
http://www.ninds.nih.gov/disorders/autism/autism.htm#What_is
(Accessed:2006,September25).

AutismSpectrumDisorders(PervasiveDevelopmental
Disorders),(2006).NationalInstituteofMentalHealth

(NIMH).Available:
http://www.nimh.nih.gov/publicat/autism.cfm(Accesed:2006,
September24).
.

LivingwithAutism,(2005).AutismSocietyofAmerica
(ASA).Available:http://www.autism
society.org/site/PageServer?pagename=allaboutautism
(Accesed:2006,September25).
Brook M. GI Troubles Common, Linked to Negative Behaviours in Autism.
Medscape Medical News. Avaible at http://www.medscape.com/viewarticle/814364.
(Accesed: ) 125
Chaidez V, Hansen RL, Hertz-Piccioto I. Gastrointestinal Problem in Children with
Autism, Developmental Delays or Typical Development. J Autism Dev Disord.
Hidayat.(2004),AplikasiMetodeTEACCHdanMultisensoriFernalddalam
OptimasiKemampuanKognitifdanPrilakuAdaptifAnakAutis,(makalah)\

World Health Organization. (2016). Autism spectrum disorders.


[online] Available at:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/autism-spectrumdisorders/en/ [Accessed 10 Oct. 2016].
AmericanPsychiatricAssociation,DiagnostikandStatisticalManualofMental
Disorders,WashingtonDC.:AmericanPsychiatricAssociationPublisher.

CDC - Facts about Autism Spectrum Disorders - NCBDDD. (2016).


Facts About ASDs. [online] Available at:
http://www.cdc.gov/ncbddd/autism/treatment.html [Accessed 19
Oct. 2016].
Pennington, M., Cullinan, D. and Southern, L. (2014). Defining
Autism: Variability in State Education Agency Definitions of and
Evaluations for Autism Spectrum Disorders. Autism Research and
Treatment, 2014, pp.1-8.