You are on page 1of 27

LAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP KELUARGA
I.

DEFINISI KELUARGA
Friedman (1998) mendefinisikan bahwa keluarga adalah kumpulan 2 orang atau
lebih yang hidup bersama dengan keterikatan aturan dan emosional dan individu
mempunyai peran masing-masing yang merupakan bagian dari keluarga (Suprajitno,
2004)
Depkes RI (1988) mendefinisikan keluarga merupakan unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan
tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan
(Nasrul Effendy. 1998)

II.

STRUKTUR KELUARGA
Struktur keluarga terdiri dari bermacam-macam, diantaranya adalah:
1. Patrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis arah.
2. Matrilineal : adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dalam
beberapa generasi dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ibu.
3. Matrilokal : adalah Sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri.
4. Patrilokal : adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
5. Keluarga kawinan : adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembinaan,
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
hubungan dengan suami atau istri.

III. TIPE/BENTUK KELUARGA


1. Keluarga inti (Nuclear family) adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anakanak
2. Keluarga besar (Extended family) adalah keluarga inti ditambah dengan sanak
saudara misalnya nenek, kakek, keponakan, saudara sepupu, paman, bibi, dan
sebagainya.
3. Keluarga berantai (serial family) adalah keluarga yang terdiri dari wanita dan pria
yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga inti.
4. Keluarga duda/janda (Single family) adalah keluarga yang terjadi karena perceraian
atau kematian.
5. Keluarga

berkomposisi

(composite)

adalah

keluarga

yang

perkawinannya

berpoligami dan hidup secara bersama.


6. Keluarga kabitas (cohabitation) adalah dua orang menjadi satu tanpa pernikahan
tetapi membentuk suatu keluarga.

IV. PEMEGANG KEKUASAN DALAM KELUARGA


1. Patrilokal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah di pihak
ayah.
2. Matrilokal, yang dominan memegang kekuasaan dalam keluarga adalah di pihak
ibu.
3. Equalitarian, yang memegang kekuasaan dalam keluarga adalah ayah dan ibu.

V.

FUNGSI KELUARGA
Ada beberapa fungsi yang dapat dijalankan keluarga sebagai berikut:
1. Fungsi biologis

a. Untuk meneruskan keturunan


b. Memelihara dan membesarkan anak
c. Memenuhi kebutuhan gizi keluarga
d. Memelihara dan merawat anggota keluarga
2. Fungsi psikologis
a. Memberikan kasih sayang dan rasa aman
b. Memberikan perhatian diantara anggota keluarga
c. Membina pendewasaan kepribadian anggota keluarga
d. Memberikan identitas keluarga
3. Fungsi sosialisasi
a. Membina sosialisasi pada anak
b. Meneruskan nilai-nilai budaya keluarga
4. Fungsi ekonomi
a. Mencari sumber-sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga
b. Pengaturan penggunaan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan
keluarga
c. Menabung untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan keluarga di masa yang akan
datang misalnya pendidikan anak-anak, jaminan orang tua dan sebagainya.
5. Fungsi pendidikan
a. Menyekolahkan anak untuk memberikan pengetahuan, keterampilan, dan
membentuk perilaku anak sesuai dengan bakat dan minat yang dimilikinya.
b. Mempersiapkan anak untuk kehidupan dewasa yang akan datang dalam
memenuhi peranannya sebagai orang dewasa.
c. Mendidik anak sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangannya.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

Pengertian
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) adalah suatu alat atau benda yang dimasukan ke

dalam rahim yang efektif, reversible, dan berajngka panjang, dapat dipakabi oleh semua
perempuan usia produktif (saifuddin, 2006).
AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu alat yang dimasukaan ke dalam rahim wanita
untuk tujuan kontrasepsi. AKDR adalah suatu usaha pencegahan kehamilan dengan
menggunakan secarik kertas, diikat dengan benang lalu dimasukan ke dalam rongga panggul.
AKDR atau IUD atau Spiral adalah suatu benda kecil yang terbuat dari plastic yang lentur,
mempunyai lilitan tembaga atau juga mengandung hormon dan dimasukan ke dalam rahim
melalui vagina dan mempunyai benang (Handayani, 2010).
Alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR/IUD) adalah suatu alat kontrasepsi yang
dimasukkan dalam rahim yang bentuknya bermacam-macam, terdiri dari plastic, ada dililit (CU),
ada pula yang tidak tapi ada pula yang dililit tembaga bercampur dengan perak, selain itu ada
pula yang dibatangnya berisi hormone progesterone (Saifiddin, 2006).
B.

Konseling pra pemasangan

Profil IUD
1. Sangat efektif
2. Haid menjadi lebih lama dan lebih banyak
3. Pemasangan dan pencabutan memerlukan pelatihan
4. Dapat dipakai semua pasangan usia reproduktif
5. Tidak boleh dipakai pada perempuan yang tertular IMS
6. Penggolongan IUD

1. Un. Medicated devicer


1. Inert devicer
2. First generation devicer
Misalnya :
1. Brafenberg ring
2. Ota ring
3. Marqulles cell
4. Lippes loop (dianggapa sebagai IUD sementara)
5. Sraf T. Coil
6. Delta loop: medifiel lipper loop D: penambahan benang cronic catgut pada lengan atas,
terutama untuk insersi post partum.
7. Medicoted devices
1. Bio octive devices
2. Secon generation devices
3. IUD Yang Mengandung Logam :
1. AKDR CU generasi pertama
2. CUT -200
3. CU-7
4. MCCU 250
5. AKDR CU generasi kedua
6. CU-T 380 A
7. CU-T380 Ag

8. CU-T 220 C
9. Nova T
10. Micu-375
11. IUD Yang Mengandung hormone : progesterone/levonorgesterol
1. Progestagent : AL 2a T dengan daya kerja 1 tahun
2. ING -20 : mengandung levonorgenal
Penggolongan lain dari IUD berdasarkan
1. Kontigurasi
2. Regiditas
3. Luas permukaan
4. Membahan awal
5. Cara Kerja IUD
1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ketuba falopii
2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
3. Mencegah sperma dan ovum bertemu
4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
Keuntungan IUD
1. Sebagai kontrasepsi efektif tinggi
2. AKDR segera efektif setelah pemasangan
3. Metode angka panjang
4. Sangat efektif karena tidak perlu mengingat-ingat lagi

5. Tidak mempengaruhi hubungan seksualitas


6. Meningkatkan kenyaman sexual karena tidak perlu takut untuk hamil
7. Tidak ada efek samping hormonal dengan CU AKDR (CUT- 380 A)
8. Tidak mempengaruhi ASI
9. Dapat dipasang segera setelah persalinan atau abortus
10. Dapat digunakan sampai menopause dan tidak ada interaksi dengan obat- obat.
Kerugian IUD
1. Perubahan siklus haid
2. Haid lebih lama dan banyak
3. Tidak mencegah IMS
4. Sedikit nyeri dan perdarahan
5. Tidak dapat di gunakan wanita IMS
6. Klien tidak dapat melepas AKDR oleh dirinya sendiri
7. Tidak mencegah kehamilan Ektopik
Persyaratan Pemakaian IUD
1. Yang dapat menggunakan IUD
1. Usia produktif
2. Menginginkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang
3. Tidak menghendaki metode hormonal
4. Resiko rendah IMS
5. Tidak menyukai untuk mengingat- ingat minum pil setiap hari

6. Yang tidak diperkenankan menggunakan AKDR


1. Sedang hamil
2. Perdarahan vagina yang tidak diketahui
3. Sedang menderita infeksi alat genetalia
4. Kelainan bawaan uterus yang abnormal
5. Kanker alat genetalia
6. Ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm
2. Waktu Penggunaan IUD
1. Setiap waktu dalam siklus haid, yang bisa dipastikan klien tidak hamil
2. Hari pertama sampai ke-7 siklus haid
3. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4 minggu pasca
persalina. Setelah 6 bulan apabila menggunakan metode amenorea laktasi (MAL).
Perlu diingat, angka ekspulsi tinggi pada pemasangan segera atau selama 48 jam
pasca persalinan.
4. Setelah abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila tidak ada gejala infeksi.
5. Selama 1 sampai 5 hari setelah senggama yang tidak dilindungi.
3. Petunjuk bagi klien
1. a.
2. b.

Kembali memeriksakan diri setelah 4 sampai 6 minggu pemasangan AKDR.


Selama bulan pertama menggunakan AKDR, periksalah benang AKDR

secara rutin terutama setelah haid.


3. c.

Setelah bulan pertama pasca pemasangan, hanya perlu memerikasa

keberadaan benang setelah haid apabila mengalami :


1. Kram/kejang di perut bagian bawah.

2. Perdarahan (spotting) diantara haid atau setelah senggama.


3. Nyeri setelah senggama atau apabila pasangan mengalami tidak nyaman selama melakukan
hubungan seksual.
d.

Copper T-380A perlu dilepas setelah 10 tahun pemasangan, tetapi padat dilakukan lebih awal

apabila diinginkan.
e.

Kembali ke klinik apabila :

1. Tidak dapat meraba benang AKDR.


2. Merasakan bagian yang keras dari AKDR.
3. AKDR terlepas.
4. Siklus terganggu atau meleset.
5. Terjadi pengeluaran dari vagina yang mencurigakan.
6. adanya infeksi

1. Penapisan pasien
Tabel 2.1
AKDR (Semua jenis Pelepasan Tembaga Dan progestin)
Apakah hari pertama haid terakhir 7 hari yang lalu.
Apakah klien (atau pasangan) mempunyai pasangan seks lain.

Ya

Tidak

Apakah pernah mengalami infeksi menular seksual (IMS).


Apakah pernah mengalami penyakit radang panggul atau kehamilan ektopik.
Apakah pernah mengalami haid banyak (> 1-2 pembalut tiap 4 jam).
Apakah pernah mengalami haid lama (> 8 hari).
Apakah pernah mengalami dismenorea berat yang membutuhkan analgetik dan/
istirahat baring.
Apakh pernah mengalami perdarahan/bercak antara haid atau setelah sanggama.
Apakah pernah mengalami gejala jantung valvular atau kongenital.

Tujuan utama penapisan klien sebelum pemakaian suatu metode kontrasepsi ( misalnya pil,
suntik, atau AKDR) adalah untuk menentuka apakah ada :
1. Kehamilan
2. Keadaan yang mebutuhkan perhatian khusus
3. Masalah (misalnya DM, atau tekanan darah tinggi) yang membutuhkan pengamatan dan
pengelolaan lebih lanjut.
Untuk sebagia besar klien keadaan ini dapat diselesaikan dengan cara anamnesis terarah,
sehingga masalah utama dapat dikenali atau kemungkinan hamil dapat disingkirkan. Sebagiab
besar cara kontrasepsi, kecuali AKDR dan kontrasepsi mantap tidak membutuhkan pemerikasaan
fisik maupun panggul. Pemeriksan laboratorium untuk klien keluarga berencana atau klien baru
umumnya tidak diperluka karena :
1. Sebagian besar klien keluarga berencana berusia muda (umur 16-35 tahun) dan umumnya
sehat.
2. Pada wanita, masalah kesehatan peproduksi yang membutuhkan perhatian (misalnya
kanker genitalia dan payudara, fibroma uterus) jarang didapat sebelum umur 35 atau 40
tahun.

3. Pil kombinasi dosis rendah yang sekarang tersedia (berisi estrogen dan progestin) lebih
baik dari produk sebelumnya karena efeksampingnya lebih sedikit dan jarang
menimbulkan masalah medis.
4. Pil progestin, suntikan, atau susuk bebas dari efek yang berhubungan dengan estrogen
dan dosis progestin yang dikeluarkan perhari bahkan lebih rendah dari pil kombinasi.
Tanyakan kepada klien hal-hal dibawah ini, bila semua jawaban klien adalah TIDAK, klien yang
bersangkutan boleh atau bisa memakai kontrasepsi yang dipilih.
C. Konseling pasca pemasagan
1. Efek Samping
1. Amenore
Periksa apakah sedang hamil jika tidak, jangan dilepas AKDR,lakukan konseling dan selidiki
penyebab amenorea apabila dikehendaki.apabila hamil,jelaskan dan sarankan untuk melepas
AKDR apabila talinya terlihat dan kehamilan kurang dari 13 minggu, apabila benang tidak
terlihat, atau kehamilan lebih dari 13 minggu, AKDR jangan dilepas.apabila klien sedang hamil
dan inginmempertahankan kehamilanya tanpa melepas AKDR, jelaskan akan adanya
kemungkinan terjadinya kegagalan kehamilan dan infeksi serta perkembangan kehamilan harus
lebih diamati dan diperhatikan.

1. Kejang
Pastikan dan tegaskan adanya penyakit radang panggul dan penyebab lain dari kekejangan.
Tanggulangi penyebab apabila ditemukan.apabila tidak ditemukan berikan analgesik untuk
sedikit meringankan. Pabila klien mengalami kejang yang berat, lepas AKDR dan bantu klien
menentukan alat kontrasepsi yang lain.
1. Perdarahan pervaginam yang hebat dan tidak teratur

Pastikan dan tegaskan adanya infeksi pelvik dan kehamilan ektopik. Apabila tidak ada kelainan
patologis, perdarahan berkelanjutan serta perdarahan hebat, lakukan konseling dan pemantauan.
Beri ibu profen (800 mg, 3x sehari selama satu minggu) untuk mengurangi perdarahan dan
berikan tablet besi (1 tablet setiap hari selama 1-3 bulan). AKDR memungkinkan dilepas apbila
klien menghendaki. Apabila klien menghendaki. Apabila klien telah memakai AKDR selama
lebih dari 3 bulan dan diketahui menderita anemi (Hb< 7g/%) anjurkan untuk melepas AKDR
dan bantuan memilih metode lain yang sesuai.
1. Benang yang hilang
Pastikan adanya kehamilan atau tidak. Tanyakan apakah AKDR terlepas. Apabila tidak hamil dan
AKDR tidak lepas,berikan kondom. Periksa talinya di dalam endoserviks dan kavum uteri
(apabila memungkinkan adanya peralatan dan tenaga terlatih) setelah masa haid berikutnya.
Apabila tidak ditemukan rujuklah kedokter, lakukan x-ray atau pemeriksaan ultrasound, apabila
tidak hamil dan AKDR yang hilang tidak ditemukan, pasanglah AKDR baru atau bantulah klien
menentukan metode lain.
1. Adanya pengeluaran cairan dari vagina/di curigai adanya PRP.
Pastiakn pemeriksaan untuk IMS. Lepaskan AKDR apabila ditemukan menderita atau dicurigai
menderita gonorhoe atau infeksi klamidial, lakukan pengobatan yang memadai. Bila PRP, obati
dan lepas AKDR sesudah 48 jam. Apabila AKDR dikeluarkan, beri metode lain sampai
masalahnya teratasi.

1. Komplikasi
1. Merasakan sakit/kejang selama 3 hari setelah pemasangan
2. Perdarahan berat atau anemi
3. Perforasi :
1. IUD ditarik kembali

2. Observasi KU dan VS evaluasi perdarahan


3. Anjurkan masuk RS dan beri antibiotic
4. Segera rujuk
2. Kunjungan Ulang
Setelah 1-2 minggu pemasangan, dilakukan pemeriksaan pertama, 3 bulan pemeriksaan kedua,
setiap 6 bulan sampai dengan 1 tahun dan bila ada keluhan atau masalah (saifuddin, 2006).
D. Pemasangan IUD
1. Persiapan alat
1. Steril
1. Speculum cocor bebek
2. Tenakulum
3. Sonde uterus
4. Korentang/forcep
5. Gunting
6. Mangkuk berisi larutan antiseptik
7. Sarung tangan
8. Cairan antiseptic
9. Kain kasa atau kapas
10. Copper T 380 A IUD
11. Tidak steril :
1. Senter

2. Tempat sampah
3. Waskom berisi larutan clorin 0,5 %

2. Pemasangan IUD T 380 A


1. Menjelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan dan mempersilahkan klien
mengajukan pertanyaan
2. Memastikan klien telah mengosongkan kandung kencingnya
3. Menggunakan sarung tangan untuk melakukan pemeriksaan genetalia eksterna
untuk melihat adanya ulkus, pembengkakan kelenjar getah bening, pembengkakan
kelenjar bartolini dan kelenjar skene
4. Melakukan pemeriksaan speculum untuk memeriksa adanya cairan vagina,
serviks dan pemeriksaan mikroskopis (bila diperlukan)
5. Melakukan pemeriksaan panggul untuk menentukan besar, posisi, konsistensi dan
mobilitas uterus, adanya nyeri goyang servik dan tumor pada adneksa atau kavum
doublasi.
6. Memasukkan lengan IUD dalam kemasan steril
7. Memasukkan speculum dan mengusap vagina dan servik dengan larutan
antiseptic sebanyak 2 kali/lebih
8. Memasang tenakulum untuk menjepit servik secara hati-hati pada posisi vertical
am 10` atau jam 2, jepit dengan pelan hanya pada satu tempat untuk mengurangi
sakit.
9. Memasukkan sonde uterus sekali masuk untuk mengurangi resiko infeksi dan
untuk mengukur posisi uterus serta panjang uterus (tidak menyentuh dinding
vagina)
10. Memasang IUD yang telah diatur letak leher sesuai panjang atau kedalam uterus

11. Menarik tenakulum sehingga kavum uteri, kanalis serviks dan vagina berada
dalam satu garis lurus
12. Memasukkan IUD kekanalis servikalis dengan mempertahankan posisi leher biru
dalam arah horizontal
13. Mendorong tabung inserter sampai terasa ada tahanan dari fundus uteri
14. Memegang serta tahan tenakulum dan pendorong dengan satu tangan sedang
tangan lain menarik tabung inserter sampai pangkal pendorong
15. Mengeluarkan pendorong dengan tetap memegang dan menahan tabung inserter
dengan pelan dan hati-hati sampai ada tahanan fundus
16. Mengeluarkan sebagian tabung inserter dari kanalis servikalis, pada waktu benang
tampak tersembul keluar dari lubang kanalis servikalis sepanjang 3-4 cm, potong
benang tersebut dengan menggunakan gunting untuk mengurangi resiko IUD
tercabut keluar.
17. Melepas tenakulum, bila ada perdarahan banyak dari tempat bekas jepitan
tenakulum, tekan dengan kasa sampai perdarahan berhenti.
18. Membuang alat-alat pakai pada tempat dan rendam dalam larutan klorin
19. Mencuci tangan
20. Meminta klien menunggu di klinik selama 15-30 menit setelah pemasangan IUD
E.

Informed Choice

Klien yang informed choice akan lebih baik dalam menggunakan KB, karena :
1 Informed choice adalah suatu kondisi peserta atau calon peserta KB yang memilih
kontrasepsi di dasari oleh pengetahuan yang cukup setelah mendapat informasiyang
lengkap melalui KIP/K.

2.Memberdayakan klien untuk melakukan informed choice adalah kunci yang baik untuk
menuju pelayanan Kb yang berkualitas.
3.

Bagi calon peserta KB baru, informed choice merupakan proses memahami

kontrasepsi yang akan dipakai.


4.Bagi peserta KB apabila mengalami gangguan efeksamping, komplikasi dan kegagalan
tidak terkejut karena sudah mengerti tentang kontrasepsi yang akan dipilihnya.
5.Bagi peserta KB tidak akan terpengaruh oleh rumoryang timbul dari kalangan
masyarakat.
6.Bagi peserta KB yang mengalami gangguan efeksamping, komplikasi akan cepat
berobat ketempat pelayanan.
7. Bagi peserta KB yang informed choice berarti akan terjaga pemakaian kontrasepsinya.
F. Informed consent
Setiap pemasangan alat kontrasepsi harus memperhatikan hak-hak reproduksi individu
dan pasangannya,sehingga harus diawali dengan pemberian informasi yang lengkap. Informasi
ynga diberikan kepada calon atau klien KB tersebut. Dalampemberian informasi ini penting
adanya komunikasi verbal antara dokter/bidan dan klien. Ada anggapan banyak klien sering
melupakan informasi lisan yang telah diberikan oleh dokter/bidan. Oleh karena itu untuk
mencegah hal tersebut perlu diberikan pula informasi tertulis dan jika perlu di bacakan kembali.
Pengertian persetujuan tindakan medis adalah persetujuan yang diberikan oleh klien atau
keluarganya atas dasar informasi dan penjelasan mengenai tindakan medis yang akan dilakukan
terhadap klien tersebut. Setiap tindakan medis yang mengandung resiko harus dengan
persetujuan tertulis yang diandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan, yaitu klien
yang bersangkutan dalam keadaan sadar atau sehat mental.

ASUHAN KEBIDANAN KESEHATAN MASYARAKAT

I.

PENGKAJIAN
PENGKAJIAN UMUM
Tanggal : 07 November 2014
A. Data Subyektif
Kepala keluarga :
Nama

: Tn.Hardi Wahyuanto

Umur

: 43 Tahun

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: TR

Jam : 18.00 WIB

Alamat

: Ds. Palaan RT 02 RW 04

Jumlah Anggota Keluarga

No

Jenis
kelamin

Nama

1 Tn. Hardi Laki-laki

Keadaan
Kedudukan
kesehatan waktu
Umur
dalam
Pekerjaan
kunjungan
Pendidikan
keluarga
pertama/imunisasi
yang didapat
43 th

KK

RT

Baik

SLTP

2 Ny. Muji Perempuan 39 th

Istri

IRT

Baik

SLTP

Perempuan 15 th

Anak

Baik

SD

Perempuan 15 th

Anak

Baik

SD

astutik
3
4

Yuyun
Yurike

Genogram Keluarga Tn. B

Keterangan :
= Laki laki
= Perempuan
1.

Rumah

Jenis rumah

: tersendiri

Letak

Dinding

: tembok

Atap

: genteng

Lantai

: keramik

Cahaya

: terang

Jl. Angin

: cukup

Jendela

: ada

Kebersihan

: bersih

2.

3.

Air minum
Asal

: PDAM dan Sumur

Nilai air

: bersih

Pembuangan sampah
Diangkat mobil sampah.

4.

5.

6.

Jamban dan Kamar Mandi


Jenis jamban

: leher angsa

Jarak dengan sumber air

: + 8 meter

Kebersihan

: bersih

Kamar mandi

: ada/bersih

Pekarangan dan selokan


Pengaturan

: teratur

Kebersihan

: bersih

Tanaman peneduh

: ada

Kandang ternak

: ayam

PENGKAJIAN KHUSUS (KASUS)


A. DATA SUBYEKTIF
1. Biodata
Nama

: Ny.Muji astutik

Nama suami : Tn. Hardi

Umur

: 39 tahun

Umur

: 43 tahun

Agama

: Islam

Agama

: Islam

Pendidikan

: SLTP

Pendidikan

: SLTP

Pekerjaan

: IRT

Pekerjaan

: RT

Alamat

: Ds. Palaan 02/04

2. Pengkajian/Anamnesis
a. Keluhan utama
Ibu mengatakan sakit di perut bagian bawah dan sering keputihan
b. Riwayat kesehatan / keadaan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah atau tidak sedang menderita penyakit seperti TBC,
kencing manis, darah tinggi, jantung, kuning, lever, sesak nafas dan kanker payudara
atau kandungan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Dalam keluarga tidak ada yang menderita penyakit seperti TBC, kencing manis, darah
tinggi, jantung, kuning, lever, sesak nafas, dan kanker payudara atau kandungan.

d. Riwayat Psikososial
-

Hubungan antar anggota keluarga baik

Hubungan dengan masyarakat dan tenaga kesehatan baik

Ibu merasa bingung harus memilih alat kontrasepsi apa karena ini baru pertama
kali ibu akan menggunakan alat kontrasepsi

e. Latar belakang sosial budaya


Kebiasaan keluarga yang menghambat tidak ada
f. Dukungan dari keluarga
Suami telah menganjurkan ibu untuk ikut KB untuk mengatur jarak kehamilan.
g. Keadaan umum sekarang menurut sistem tubuh
Sistem tubuh berfungsi secara normal dan haid ibu teratur tiap bulan.
h. Keadaan gizi
Baik

B. Data Obyektif
1. Tanda-tanda vital dan keadaan fisik
Tensi

: 120/80 mmHg

Nadi

: 80 x/menit

RR

: 20 x/menit

Suhu

: 368 0C

KU

: Baik

Kesadaran

: composmentis

BB

: 55 Kg

TB

: 156 cm

2. Pemeriksaan Umum
a. Inspeksi
Kepala

: rambut bersih, penyebaran merata, tidak rontok

Muka

: tidak pucat

Mata

: simetris, bersih tidak ada sekret, konjungtiva tidak anemis,


sklera tidak ikterus, palpebra tidak odem

Telinga

: simetris, bersih, tidak ada serumen

Hidung

: simetris, bersih, tidak ada sekret, tidak ada polip, tidak ada
pernafasan cuping hidung

Mulut

: bibir simetris, lembab, lidah bersih, gigi bersih, tidak ada caries,
tidak ada stomatitis, tidak ada tonsilitis

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada pembeasaran


kelenjar limfe, tidak ada peninggian vena jugularis.

Dada

: penarikan otot intercosta tidak berlebihan, payudara simetris,


putting susu menonjol.

Perut

: terdapat luka bekas operasi

Genetalia

: vulva bersih, tidak ada flour albus, tidak odem, tidak varises,
tidak ada condiloma acuminate atau condilomatalata.

Anus

: bersih, tidak ada hamemoroid

Ekstremitas atas

: simetris, tidak odem, tidak varises, pergerakan sendi bebas

Ekstremitas bawah : simetris, tidak odem, tidak varises, pergerakan sendi bebas
b. Palpasi
Kepala

: tidak ada massa atau benjolan abnormal

Leher

: tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada pembesaran kelenjar


limfe, tidak ada peninggian vena jugularis.

Payudara

: tidak ada massa atau benjolan abnormal, nyeri tekan (-).

Abdomen

: tidak ada massa atau benjolan abnormal, nyeri tekan (-)

Ekstremitas : tidak odem -/c. Auskultas


Dada : tidak ada ronchi/wheezing
d. Perkusi
Tidak dilakukan

C. Data Subyektif
Hasil kunjungan atau pemeriksaan
Ibu mengatakan sakit pada pertu bagian bawah dan sering keputihan

II.

IDENTIFIKASI DIAGNOSA/MASALAH
No
1

Diagnosa/Masalah
P20002

dengan

keputihan

Dasar

masalah DS : Ibu mengatakan sakit pada perut


bagian bawah dan sering keputihan
DO : T

: 120/80 mmHg

: 368 0C

: 80 x/menit

RR

: 20 x/menit

Abdomen: terdapat luka bekas

operasi, tidak ada massa atau


benjolan abnormal
-

Payudara : tidak ada massa atau


benjolan abnormal

III.

ANTISIPASI MASALAH POTENSIAL


Tidak ada

IV.

INDENTIFIKASI KEBUTUHAN TINDAKAN SEGERA


Tidak ada

V.

INTERVENSI
Tanggal : 15-02-2007

Jam : 20.00 WIB

Dx

: P20002 dengan masalah sering keputihan.

Tujuan

: setelah dilakukan asuhan kebidanan dalam waktu 1 x 30 menit


diharapkan ibu dapat mengerti

Kriteria hasil : -

Ibu mengerti dengan penjelasan petugas tentang kontrasepsi


Ibu bisa memahami tentang bahaya menggunakan alat kontrasepsi
IUD

Intervensi:
1. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R\ membina hubungan saling percaya antara klien dan petugas.
2. Jelaskan pengertian alat kontrasepsi IUD kepada ibu
R\ agar ibu mengerti dengan alat kontrasepsi tersebut
3. Jelasakan cara mengontrol alat kontrasepsi IUD
R\ Supaya ibu mengerti dan bias mengontrol sendiri

4.Jelaskan Bahay alat kontrasepsi IUD


R/ Supaya ibu mengerti dan lebih kooperatif
VI.

IMPLEMENTASI
Tanggal : 07 November 2014
Dx

Jam : 18.00 WIB

: P20002 dengan masalah sering keputihan


1. Melaakukan pendekatan pada klien dan keluarga
2. Menjelaskan pengertian alat kontrasepsi IUD kepada ibu
3. Menjelasakan cara mengontrol alat kontrasepsi IUD
4. Jelaskan Bahaya alat kontrasepsi IUD

VII.

EVALUASI
Tanggal : 07 November 2014

Jam : 18.00 WIB

Dx

: P20002 dengan masalah sering keputihan

: Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan petugas tentang kontrasepsi


: Ibu tampak mengerti dengan penjelasan petugas dengan bahaya alat kontrasepsi
tersebut

: Masalah teratasi

: Anjurkan ibu untuk segera ke tenaga kesehatan terdekat untuk penanganan lanjut