You are on page 1of 43

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

LAPORAN KASUS

FAKULTAS KEDOKTERAN

Agustus 2016

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

DEMAM BERDARAH DIPUSKESMAS ANTANG


PERUMNAS

OLEH :
Nur Indah Preatiwi
Indra Rizal Rasyid
Reskiani Ashar
Ahmad Yani
Supardi H.

: 10542 0169 10
: 10542 0210 10
: 10542 0189 10
: 10542 0209 10
: 10542 0180 10

Pembimbing/Suvervisor:
dr. Wiwik, M.Kes.

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Keadaan Geografis
Puskesmas Antang Perumnas berdiri pada Tahun 1992 dan merupakan salah
satu dari 4 puskesmas yang ada di Kecamatan Manggala dengan wilayah meliputi
Kelurahan Manggala. Luas wilayah Puskesmas Antang Perumnas sekitar 521 Ha
yang pembagian wilayahnya terdiri dari 12 RW, 66 ORT dan memilki satu Puskesmas
Pembantu (Pustu) dan satu Poskesdes.
Adapun batas wilayah kerja Puskesmas Antang Perumnas adalah :
1.

Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Biringkanaya

2.

Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Persiapan Bangkala dan


Kelurahan Tamangapa

3.

Sebelah Timur berbatasan dengan kabupaten Gowa dan Kabupaten Maros

4.

Sebelah Barat berbatasan dengan Kelurahan Antang.

Gambar.1 : Peta wilayah kerja Puskesmas Antang Perumnas

B.

Keadaan Demografis
Pada tahun 2015 jumlah penduduk Kelurahan Manggala sebanyak + 20.421
jiwa, dengan rincian sebagai berikut :
Tabel 1
Distribusi Penduduk di Wilayah Kerja
Puskesmas Antang Perumnas Tahun 2015
Kelurahan

Jumlah KK

Jenis Kelamin
Laki-Laki
Perempuan

Manggala
4.638
10.134
Sumber : Data Kantor Kelurahan Manggala
C.

10.287

Jumlah
20.421

Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian


Tingkat pendidikan penduduk di wilayah kerja Puskesmas Antang Perumnas
bervariasi mulai dari tingkat Perguruan Tinggi, SLTA, SLTP, Tamat SD, Tidak Tamat
SD, hingga tidak sekolah.
Tabel 2
Distribusi Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan
Puskesmas Antang Perumnas Tahun 2015
Pendidikan
Yang belum masuk TK
Yang sedang TK/Play Group
Yang Tidak pernah sekolah
Yang sedang sekolah
Pernah SD tetapi tidak tamat
Tamat SD/ sederajat
Tidak tamat SLTP
Tamat SMP/ sederajat
Tamat SMA/ sederajat
Tamat D1 / sederajat
Tamat D2 / sederajat
Tamat D3 / sederajat

Jenis Kelamin
LakiPerempuan
Laki
159
177
205
218
1154
1310
1599
1698
361
420
535
617
1212
1141
818
823
1242
1135
539
572
182
307
153
149

Jumlah
336
423
2464
3297
781
1152
2353
1641
2377
1111
489
302

Tamat S1 / sederajat
Tamat S2 / sederajat
Tamat S3 / sederajat
Tamat SLTB A
Tamat SLTB B
Tamat SLTBC
TOTAL
Sumber : Data Kantor Kelurahan Manggala

1259
401
10
102
119
84
10.134

1045
212
10
151
157
145
10.287

2304
613
20
253
276
229
20.421

Adapun mata pencaharian penduduk adalah :


Tabel 3
Distribusi Penduduk berdasarkan Jenis Pekerjaan
Puskesmas Antang Perumnas Tahun 2015
Pekerjaan
Buruh tani
Pegawai Negeri Sipil
Pengrajin industry rumah tangga
Pedagang keliling
Peternak
Montir
Dokter swasta
Bidan Swasta
Perawat swasta
Pembantu rumah tangga
TNI
POLRI
Pensiunan PNS/TNI/POLRI
Pengusaha kecil dan menengah
Pengacara
Notaris
Dukun kampung terlatih
Jasa pengobatan alternative
Dosen swasta
Pengusaha besar

Jenis Kelamin
LakiPerempuan
Laki
292
201
1589
1594
35
40
144
146
5
5
55
0
4
4
35
324
198
266
1965
790
55
15
4
5
499
57

40
326
66
132
2299
811
30
5
6
5
550
55

Jumlah
493
3183
75
290
10
55
8
10
75
650
264
398
4264
1601
85
20
10
10
1049
112

Arsitektur
Seniman/artis
Karyawan perusahaan swasta
Karyawan perusahaan pemerintah
TOTAL
Sumber : Data Kantor Kelurahan Manggala
D.

65
105
904
805

45
95
906
880
16.467

110
200
1810
1685

Kesehatan Lingkungan
1. Sarana Air Bersih : Terdapat 116 Keluarga yang menggunakan Sumur Bor
2. Jamban : Dari keseluruahan jumlah Rumah yang ada di lingkungan puskesmas,
rata- rata memiliki jamban keluarga.
3. Pengolahan Limbah Rumah Tangga : Tidak semua jumlah Rumah dilakukan
pemeriksaan, dari 4740 rumah yang ada, hanya 58 rumah yang dilakukan
pemeriksaan dan keseluruhan yang diperiksa memenuhi syarat.
4. Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan TPM : Dari semua tempat-tempat umum
dan tempat pengolahan makanan yang diperiksa, didapatkan keseluruhannya
memenuhi syarat. Namun, dari jumlah keseluruhan tidak semuanya dilakukan
pemeriksaan, seperti : pada tempat umum TK SMP hanya di lakukan
pemeriksaan pada setengah dari jumlah yang ada, begitupun pada TPM, hanya
setengah dari jumlah pedagang kaki lima dan pedagang keliling yang dilakukan
pemeriksaan.

E.

Perilaku Masyarakat
1. Sebagian masyarakat masih ada sekitar 37,24 % yang tidak menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat
2. Dari jumlah tersebut, yang paling besar adalah Merokok, dimana terdapat 66,
13% yang masih merokok
3. Untuk konsumsi sayur dan buah keseluruahan masyarakat sudah melakukan,
begitupun dengan kebiasaan cuci tangan.

F.

Sumber Daya Tenaga

Jumlah tenaga kesehatan di Puskesmas Antang Perumnas yaitu sebanyak 38


orang. Distribusi tenaga kesehatan tersebut terbagi atas:
1. Kepala puskesmas: 1 orang
2. Kepala Tatausaha : 1 orang
3. Dokter umum
: 1 orang
4. Dokter gigi
: 2 orang
5. Perawat
: 13 orang
6. Bidan
: 5 orang
7. Rekam medis
: 1 orang
8. Perawat gigi
: 2 orang
9. Nutrisionis
: 2 orang
10. Survailans
: 1 orang
11. Analis
: 1 orang
12. Penyuluh
: 1 orang
13. Sanitarian
: 2 orang
14. Apoteker
: 1 orang
15. Staf
: 2 orang
G.

Sarana dan Prasarana

UGD

Poli Umum

Apotik

Laboratorium

Poli Gigi

Ruang Rekam Medis

PelayananHomecare

Poli Gizi

Konsultasi

H.

Pojok Ramah Anak

Gedung Rawat Inap

Ruang Tunggu

Poli KIA/KB

Toilet

Ambulance/Puskel

Program Pokok Puskesmas Antang Perumnas


1.

UpayaKesehatan Masyarakat esensial dan Keperwatan Kesehatan


Masyarakat meliputi : Pelayanan promosi Kesehatan termasuk UKS, Pelayanan
KIA/KB, pelayan Gizi yang bersifat UKM, Pencegahan pengendalian penyakit
(Kusta, TB, HIV, Malaria, Campak, Difteri)

2.

UpayaKesehatan Masyarakat Pengembangan meliputi : Pelayanan


Kesehatan

Jiwa,

Pelayanan

Kesehatan

Gizi,

Pelayanan

Tradisional

Komplementer, Pelayanan Kesehatan kerja, Pelayanan Kesehatan Haji, Pelayanan


Kesehatan Lansia.
3.

Upaya Kesehatan Perorangan meliputi : Pelayanan Umum, Pelayanan


kesehatan gigi dan mulut, Pelayanan KIA/KB bersifat UKP, Pelayanan gawat
darurat,pelayanan persalilnan, Pelayanan laboratorium,Pelayanan kefarmasian,
Konseling Gizi, Konseling sanitasi, Konseling HIV/AIDS

4.

Jaringan Pelayanan Puskesmas dan Jejaring Pelayanan Kesehatan


meliputu : Pusekesmas pembantu, Puskesmas Keliling, Badan Kelurahan Siaga,
Poss Kesehatan Kelurahan.
Jenis-Jenis Pelayanan yang tersedia di Puskesmas :
a. Upaya Kesehatan Masyarakat
1. Pelayanan Promosi Kesehatan
2. Pelayanan Kesehatan Lingkungan
3. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak serta Keluarga Berencana
4. Pelayanan Gizi Masyarakat
5. Pelayanan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
6. Pelayanan Kesehatan Masyarakat
7. Pelayanan Lansia
8. Pelayanan Upaya Kesehatan Sekolah
9. Pelayanan Kesehatan Jiwa
10. Pelayanan Kesehatan Olahraga
11. Pelayanan Kesehatan Kerja
12. Pelayanan Kesehatan Indera
b. Upaya Kesehatan Perorangan
1. Pelayanan Rawat Jalan (Poli Umum, Poli Gigi, Poli KIA/KB, Imunisasi)
2. Pelayanan Konseling Gizi/HIV-AIDS/TB

3. Pelayanan Kefarmasian
4. Pelayanan Laboratorium
5. Pelayanan Gawat Darurat
6. Pelayanan Home Care
7. Pelayanan Rawat Inap
8. Pelayanan Persalinan
9. Pelayanan Telemedicine
10. Pelayanan pengaduan
11. Pelayanan Ambulance
12. Pelayanan Kesehatan Haji
c. Upaya Kesehatan di Jaringan Pelayanan Puskesmas
1. Pelayanan Puskesmas Pembantu
2. Pelayanan Puskesmas Keliling
3. Pelayanan Poskeskel (Pos Kesehatan Kelurahan)
d. Pelayanan Administratif
1. Surat Keterangan Sakit
2. Surat Keterangan Berbadan Sehat
3. Surat Keterangan Lahir
4. Surat Rujukan
5. Surat Visum
6. Legalisir berkas
e. Pelayanan bagi Mahassiswa Praktik
1. Pembimbingan selama praktik
2. Rekomendasi selesai penelitian/pengambilan data/magang dll

BAB II
LAPORAN KASUS
A. Anamnesis
Identitas Pasien
Nama
: Nn. A
Jenis Kelamin : Perempuan
Usia
: 24 tahun
Alamat
: Jl. Lasuloro Dalam /Blok IV No. 87
Masuk RS
: 23 agustus 2016
Pulang
: 26 agustus 2016
Anamnesis dilakukan tanggal 23 agustus 2016, pukul 06.05, secara auto dan
alloanamnesis
Keluhan Utama : Demam
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke UGD Puskesmas dengan keluhan demam yang dirasakan sejak
empat hari yang lalu. Demam dirasakan terutama sore hari, dan sifat demam naik
turun, kadang disertai menggigil. Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala, nyeri
menelan, dan nyeri uluhati yang disertai muntah. Selama demam, pasien hanya BAB
satu kali, BAK lancar.
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat menderita tifoid saat umur 12 tahun

Riwayat Penyakit Keluarga dan Lingkungan


Tidak ada yang mengalami keluhan serupa

Keadaan Lingkungan Rumah dan Sekitar Rumah Serta Gaya Hidup


Keadaan rumah tampak pengap dikerenakan ukuran rumah yang tidak terlalu besar
tapi dipenuhi dengan barang. Keadaan lingkungan rumah yang cukup bersih, tidak
terdapat genangan-genangan air yang bisa menjadi tempat bersarangnya nyamuk.
B. Pemeriksaan fisik
Keadaan Umum : Tampak Lemas
Kesadaran
: Composmentis
Tanda vital
:
Tekanan darah : 110/80 mmHg
Nadi
: 80 x/menit
RR
: 28 x / menit
Suhu
: 38,5 C
Pemeriksaan status generalis :
Kepala
: Tidak tampak kelainan
Mata
: Mata cekung (-), konjungtiva anemis (-),sclera ikterik (-)
THT
: Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1, lidah tampak kotor.
Leher
: Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
Thorax
: Bentuk normal.
Paru
:
Inspeksi : Dalam keadaan statis simetris, dalam keadaan dinamis tidak
ada ketinggalan gerak.
Palpasi : Stem fremitus paru kanan sama dengan paru kiri
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru, batas paru normal
Auskultasi: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-)
Jantung
:
Inspeksi : Iktus kordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
Auskultasi: S1,S2 tunggal, regular, gallop(-), murmur (-)
Abdomen
: Bentuk datar, nyeri tekan epigastrium (+), turgor baik
Inspeksi

(<3 detik), bising usus normal tidak meningkat


: Datar

Palpasi

: Nyeri tekan epigastrium (+), hepar dan lien tidak

teraba, turgor baik


Perkusi
: Timpani
Auskultasi
: Bising usus normal (3x/menit)
Ekstremitas
: Akral hangat, petekie (+), Rumple leed (+).
C. Daftar masalah
- Demam 4 hari terutama sore hari, sifatnya naik turun, kadang disertai

D.
E.
F.

G.

menggigil
- Nyeri kepala
- Nyeri menelan
- Nyeri uluhati, disertai muntah
- Lidah tampak kotor
- Rumple Leed (+)
Diagnosis
Diagnosis
: Susp. Demam Berdarah
Hasil pemeriksaan Laboratorium tanggal 23 Agustus 2016
- Trombosit : 83.000 mm3
- Leukosit
: 2.300 mm3
Penatalaksanaan
- Ivfd RL 20 tpm
- Antasida 2x1
- Amoxicilin 3x1
- Gliseril Guaikolat 3x1
- Paracetamol 3 x 1
- Ranitidin 2 x 1
- Domperidon 3 x 1
Prognosis
Ad vitam
: ad bonam
Ad functionam : ad bonam
Ad sanationam : dubia ad bonam
Follow Up
Tanggal 24 Agustus 2016
S : Demam berkurang, batuk (+), nyeri uluhati (+)
O : KU : Tampak lempas
TD: 120/70 mmHg, nadi 71 x/ menit, RR 28 x/menit, Suhu : 37C.
A : Demam Berdarah
P:
- Infus RL 40 tetes / menit
- Antasida 2x1
- Amoxicilin 3x1

-Gliseril Guaikolat 3x1


-Paracetamol 3 x 1
-Ranitidin 2 x 1
-Domperidon 3 x 1
-Hasil Lab
Trombosit : 50.000 mm3
Hematokrit : 41 %
Tanggal 25 Agustus 2016
S : Demam (-),Batuk (+), pusing (-), menggigil (-), mual(-), nyeri menelan (-), nyeri
ulu hati (+)
O : ku : tampak lemas
TD: 110/60 mmHg, nadi 59 x/ menit, RR 28 x/menit, Suhu : 37C
A : Demam Berdarah
P:
- Infus RL 40 tetes / menit
- Antasida 2x1
- Amoxicilin 3x1
-Gliseril Guaikolat 3x1
-Paracetamol 3 x 1
-Ranitidin 2 x 1
-Domperidon 3 x 1
-Metyl prednisolon 2x1
-Cek trombosit dan hematokrit
-Hasil lab
Trombosit : 75.000 mm3
Hematokrit : 41 %
Tanggal 26 Agustus 2016
S : Keluhan tidak ada
O : ku : Tampak baik
TD: 110/60 mmHg, nadi 80 x/ menit, RR 24 x/menit, Suhu : 36,6C,
A : Demam Berdarah
P:
-Aff Infus
- Antasida 2x1
-Gliseril Guaikolat 3x1
-Metyl prednisolon 2x1
-Boleh pulang

BAB III
PEMBAHASAN
Berdasarkan Hasil pemeriksaan yang di dapatkan pada pasien yaitu berupa
demam yang dirasakan sejak empat hari yang lalu, Demam dirasakan terutama sore
hari, dan sifat demam naik turun, kadang disertai menggigil. Pasien juga
mengeluhkan nyeri kepala, nyeri menelan, dan nyeri uluhati yang disertai muntah,
selama demam, pasien hanya BAB satu kali, BAK lancar, rumple leed (+), trombosit
83.000 mm3, leukosit 2.300 mm3, hematokrit 41 % .
Maka pasien ini di diagnosis dengan Demam Berdarah Dengue yang mana
sesuai dengan teori bahwa pasien yang menderita DBD menggambarkan gejala
berupa demam tinggi yang mendadak, terus-menerus berlangsung selama 2-7 hari,
naik turun (demam bifasik), perdarahan di bawah kulit seperti petekie, purpura,
ekimosis dan perdarahan konjungtiva yang muncul pada hari pertama demam tetapi
dapat pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam. Pemeriksaaan laboratorium
didapatkan berupa trombositopenia (< 100.000/ul) dan kadar hemokonsentrasi (kadar
Ht lebih 20% dari normal).

Dan berdasarkan kriteria derajat DBD menurut WHO, dalam kasus ini
merupakan derajat 1. Sehingga diberikan terapi DBD derajat 1 tanpa peningkatan
hematokrit. Dimana pada pasien ini dirawat selam3 hari dan diberi pengobatan sesuai
dengan terapi DBD derajat 1 dan ditambah dengan pengobatan simptomatik.
Adapun masalah yang diangkat dalam kasus ini yaitu mengenai pola perilaku
dari pasien yang menyebabkan terjangkit Demam Berdarah Dengue. Dalam hal ini
dikaitkan dengan faktor lingkungan, vector/penjamu (nyamuk), kebiasaan hidup dari
pasien (host) itu sendiri.
Tinjauan berdasarkan lingkungan didapatkan dari hasil kunjungan ke rumah
pasien didapatkan beberapa hal yang diduga menjadi tempat bersarangnya nyamuk
DBD. Dimana, rumah pasien yang tampak penuh dengan perabot, ventilasi dan
penerangan yang kurang baik, dan banyaknya pakaian-pakaian yang digantung.
Sehingga pada pasien ini dapat disimpulkan bahwa mobilitasnya kurang baik.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan bahwa mobilitas penduduk juga
berperan dalam perkembangbiakan nyamuk DBD. Sehingga, kami menduga bahwa
hal ini merupakan salah satu kemungkinan penyebab berkembangbiaknya nyamuk
DBD di lingkungan pasien sehingga pasien terjangkit DBD.
Sedangkan, sanitasi di rumah pasien dapat disingkirkan sebagai faktor yang
mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk DBD. Karena dari hasil survei di rumah
pasien langsung dilihat bahwa tidak ada bak yang biasa menjadi sarang
perkembangbiakan nyamuk DBD. Dan tempat pasien mencuci juga merupakan
tempat yang kering dan tidak kotor.

Tinjauan berdasarkan host (pasien) dapat dinilai dari gaya hidup pasien itu
sendiri. Menurut pengakuan pasien, pasien sering berkunjung ke rumah temannya
yang banyak nyamuknya dan bahkan sampai menginap di sana. Hal ini bisa saja
menjadi sumber penyebab pasien terkena penyakit DBD. Namun bukan merupakan
hal yang pasti, karena teman pasien tidak terjangkit DBD sedangkan mengenai
lingkungan di sekitarnya tidak diketahui.
Tinjauan berdasarkan vektor/penjamu pasti selalu berpengaruh terhadap
kejadian penyakit DBD. Tersedianya tempat-tempat perkembangbiakan menyebabkan
jumlah vektor semakin bertambah sehingga resiko kejadian penyakit menjadi
meningkat. Awalnya perkembangbiakan vektor hanya meningkat pada musim
penghujan menjadi berbeda ketika lingkungan dan jaga hidup (host) mengalami
perubahan.
Lingkungan yang banyak menyediakan tempat perkembangbiakan nyamuk
DBD seperti bak mandi yang tidak di jaga kebersihannya, saluran pembuangan (got)
yang tidak tertutup, genangan-genangan air di lingkungan rumah yang tersedia secara
alamiah dan tidak ditanggulangi menyebabkan nyamuk tetap muncul bahkan di saat
musim kemarau. Selain itu gaya hidup yang kurang bersih, seperti pakaian yang
digantung berhari-hari, pencahayaan dan ventilasi rumah yang kurang baik
menjadikan rumah menjadi sarang yang baik untuk nyamuk DBD berkembangbiak.
Dimana diketahui bahwa setelah nyamuk betina menghisap darah sebagai
sumber protein untuk telur-telurnya, ia memerlukan waktu 2-3 hari istirahat untuk
menetaskan telur barunya yang diletakkan di air-air bersih. Sehingga lingkungan dan

gaya hidup sangat mempengaruhi besarnya perkembangan vektor yang menjadi


penyebab terjadinya DBD.

BAB IV
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Demam Dengue (DD) dan Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit
menular yang disebabkan oleh virus genus Flavivirus famili Flaviviridae, mempunyai
4 jenis serotipe yaitu den-1, den-2, den-3 dan den-4 melalui perantara gigitan nyamuk
Aedes aegypti.
B. Cara Penularan
Virus yang ada di kelenjar ludah nyamuk ditularkan ke manusia melalui
gigitan. Kemudian virus bereplikasi di dalam tubuh manusia pada organ targetnya
seperti makrofag, monosit, dan sel Kuppfer kemudian menginfeksi sel-sel darah putih
dan jaringan limfatik. Virus dilepaskan dan bersirkulasi dalam darah. Di tubuh
manusia virus memerlukan waktu

masa tunas intrinsik 4-6 hari sebelum

menimbulkan penyakit. Nyamuk kedua akan menghisap virus yang ada di darah
manusia. Kemudian virus bereplikasi di usus dan organ lain yang selanjutnya akan
menginfeksi kelenjar ludah nyamuk.
Virus bereplikasi dalam kelenjar ludah nyamuk untuk selanjutnya siap-siap
ditularkan kembali kepada manusia lainnya. Periode ini disebut masa tunas ekstrinsik
yaitu 8-10 hari. Sekali virus dapat masuk dan berkembang biak dalam tubuh nyamuk,
nyamuk tersebut akan dapat menularkan virus selama hidupnya.
C. Ciri dan Sifat Nyamuk Aedes Egypty
Sifat-sifat
a. Sifat-sifat Nyamuk Aedes Aegypti
1) Berwarna hitam dan belang-belang (loreng) putih pada seluruh tubuhnya

2) Berkembangiak di tempat penampungan air dan barang-barang yang


memungkinkan air tergenang mis :
Bak mandi/wc, tempayan, drum
Tempat minumburung
Vas bunga, pot tanaman air
Kaleng, ban bekas,botol
3) Nyamuk Aedes Aegypti tidak dapat berkembangbiak di selokan/got atau
kolam yang airnya langsung berhubungan dengan tanah
4) Biasanya menggigit (menghisap darah) pada pagi hari sampai sore hari
5) Mampu terbang sampai 100 m
b. Sifat-sifat Jentik Aedes Aegypti
1) Ukuran 0,5 1 cm
2) Selalu bergerak aktif dalam air
3) Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas,
kemudian turun kembali ke bawahdan seterusnya
4) Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegaklurus dengan permukaan air
c. Sifat-sifat telur Nyamuk Aedes Aegypti
1) Ukurannya sangat kecil : 0,7 mm
2) Warna hitam
3) Tahan sampai 6 bulan di tempat kering
Ciri-ciri
Ciri-ciri nyamuk Aedes aegypty pembawa virus dengue ini adalah badannya
kecil serta memiliki garis-garis putih putih pada kaki dan badannya. Ciri-ciri nyamuk
Aedes albopictus hampir sama seperti nyamuk Aedes aegypty yaitu juga terdapat
bercak-bercak putih di kaki dan badannya. Kebanyakan penyakit DBD di Indonesia
ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypty.
1. Morfologi
Telur berwarna putih saat pertama kali di keluarkan, lalu menjadi coklat
kehitaman. Telur berbenuk oval, panjang kurang lebih 0,5 mm, dan di letakan di
dinding wadah. Telur menetas menjadi larva. Toraks larva nyamuk lebih lebar
dari kepalanya. Kepalanya berkembang baik dengan antena dan mata majemuk,
serta sikat mulut yang menonjol. Abdomen terbagi dalam 10 ruas dan hanya 9

ruas yang jelas, dan ruas terakhir dilengkapi dengan tabung udara (sifon) yang
bentunnya silinder. Pada sifon terdapat satu pasang Subventratuft, dan pada perut
ruas terakhir mempunyai sederet comb (gigi sisir).
Larva berubah menjadi pupa. Pupa nyamuk berbentuk koma, kepala dan
torak menjadi satu membentuk sefalotoraks dengan sepasang trompet respirasi
pada bagian dorsa. Jika ada gangguan pupa akan bergerak ke atas dan kebawah
dengan gerakan yang menyentak-nyentak.
Pupa berubah menjadi nyamuk dewasa. Aedes aegypti dapat di bedakan
dengan nyamuk lain dengan melihat ujung abdomen meruncing dan emmpunyai
sersi yang menonjol. Bagian mesonotum terdapat rambut post spirakel. Corak
putih pada dorsal dada Aedes aegypti berbentuk seperti alat musik harpa putih
(WHO, 1999) sedangkan Aedes albopictus berbentuk lurus. Nyamuk mempunyai
probosis berwarna gelap pada bagian kepala yang panjangnya melibih panjang
kepala. Probosis nyamuk betina digunakan untuk menghisap darah, sedangkan
pada nyamuk jantan hanya untuk bahan-bahan cair seperti cairan tumbuhan dan
buah-buahan. Palpus terdapat dikiri ndan kanan probosis yang terdiri atas 5 ruas
dan sepasang antena yang terdiri dari 15 ruas. Antena pada nyamuk jantan
berambut lebat (plumose) dan pada nyamuk betina jarang (pilose). Sayap nyamuk
panjang dan langsing mempunyai vena yang permukaannya ditumbuhi sisik-sisik
sayap yang letaknya mengikuti vena. Nyamuk mempunyai 3 pasang kaki
(heksapoda) yang melekat pada toraks dan tiap kaki terdiri atas 1 ruas femur, 1
ruas tibia, dan 5 ruas tarsus.
2. Siklus hidup
Tahapan siklus nyamuk Aedes aegypti. meliputi :
a. Telur
Telur nyamuk Aedes aegypti. memiliki dinding bergaris-garis dan
membentuk bangunan seperti kasa. Telur berwarna hitam dan diletakkan satu
persatu pada dinding perindukan. Panjang telur 1 mm dengan bentuk bulat oval
atau memanjang, apabila dillihat dengan mikroskop bentuk seperti cerutu. Telur
o
o
dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu - 2 C sampai 42 C dalam keadaan

kering. Telur ini akan menetas jika kelembaban terlalu rendah dalam waktu 4
atau 5 hari . Gambar telur nyamuk Aedes aegypti. dapat dilihat pada
Gambar berikut ini:

Gambar Telur Nyamuk Aedes aegypti


b. Larva
Perkembangan larva tergantung pada suhu, kepadatan populasi,
o
dan ketersediaan makanan. Larva berkembang pada suhu 28 C sekitar 10
o
hari, pada suhu air antara 30 - 40 C larva akan berkembang menjadi pupa
dalam waktu 5 - 7 hari. Larva lebih menyukai air bersih, akan tetapi tetap
dapat hidup dalam air yang keruh baik bersifat asam atau basa. Larva
beristirahat

di

air

membentuk

sudut

dengan

permukaan

dan

menggantung hampir tegak lurus. Larva akan berenang menuju dasar tempat
atau wadah apabila tersentuh dengan gerakan jungkir balik. Larva mengambil
oksigen di udara dengan berenang menuju permukaan dan menempelkan
siphonnya diatas permukaan air.
Larva Aedes aegypti memiliki empat tahapan perkembangan yang
disebut instar meliputi : instar I, II, III dan IV, dimana setiap pergantian
instar ditandai dengan pergantian kulit yang disebut ekdisis. Larva instar IV

mempunyai ciri siphon pendek, sangat gelap dan kontras dengan warna
tubuhnya. Gerakan larva instar IV lebih lincah dan sensitif terhadap
rangsangan cahaya. Dalam keadaan normal (cukup makan dan suhu air 25
o
27 C) perkembangan larva instar ini sekitar 6-8 hari . Gambar larva Aedes
aegypti. dapat dilihat pada Gambar dibawah ini:

Gambar Larva nyamuk A. aegypti


c. Pupa.
Pupa Aedes aegypti. berbentuk bengkok dengan kepala besar
sehingga menyerupai tanda koma, memiliki siphon pada thorak untuk bernafas
.

Pupa

nyamuk

Aedes aegypti.

bersifat

aquatik

dan

tidak

seperti

kebanyakan pupa serangga lain yaitu sangat aktif dan seringkali disebut
akrobat (tumbler). Pupa Aedes aegypti. tidak makan tetapi masih memerlukan
oksigen untuk bernafas melalui sepasang struktur seperti terompet yang kecil
pada thorak . Pupa pada tahap akhir akan membungkus tubuh larva dan
mengalami metamorfosis menjadi nyamuk Aedes aegypti dewasa.

Gambar Pupa Nyamuk Aedes aegypti.


d. Imago (nyamuk dewasa).
Pupa membutuhkan waktu 1 3 hari sampai beberapa minggu
untuk menjadi nyamuk dewasa. Nyamuk jantan menetas terlebih dahulu dari
pada nyamuk betina. Nyamuk betina setelah dewasa membutuhkan darah
untuk dapat mengalami kopulasi.
Dalam meneruskan keturunannya, nyamuk Aedes aegypti. betina hanya
kawin satu kali semumur hidupnya. Biasanya perkawinan terjadi 24 28 hari
dari saat nyamuk dewasa. Siklus secara nyamuk Aedes aegypti dalam dilihat
pada gambar dibawah ini:

Gambar Siklus hidup Aedes aegipty


3. Bionomik

a. Tempat perindukan atau berkembang biak


Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan Republik Indonesia
tahun 2005, tempat perkembangbiakan utama nyamuk Aedes aegypti adalah
tempat-tempat penampungan air bersih di dalam atau di sekitar rumah, berupa
genangan air yang tertampung di suatu tempat atau bejana seperti bak mandi,
tempayan, tempat minum burung, dan barang-barang bekas yang dibuang
sembarangan yang pada waktu hujan akan terisi air yang langsung
berhubungan dengan tanah.
Menurut penelitian

tempat

perindukan

utama

tersebut

dapat

dikelompokkan menjadi: (1) Tempat Penampungan Air (TPA) untuk


keperluan sehari-hari seperti drum, tempayan, bak mandi, bak WC, ember,
dan sejenisnya, (2) Tempat Penampungan Air (TPA)bukan untuk keperluan
sehari-hari seperti tempat minuman hewan, ban bekas, kaleng bekas, vas
bunga, perangkap semut, dan sebagainya, dan (3) Tempat Penampungan Air
(TPA) alamiah yang terdiri dari lubang pohon, lubang batu, pelepah daun,
tmpurung kelapa, kulit kerang, pangkal pohon pisang, dan lain-lain.
b. Perilaku menghisap darah
Berdasarkan data dari depkes RI, nyamuk betina membutuhkan protein
untuk memproduksi telurnya. Oleh karena itu, setelah kawin nyamuk betina
memerlukan darah untuk memenuhi kebutuhan proteinnya. Nyamuk betina
menghisap darah manusia setiap 2-3 hari sekali. Nyamuk betina menghisap
darah pada pagi dan sore hari dan biasanya pada jam 09.00-10.00 dan 16.0017.00 WIB. Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering
menggigit lebih dari satu orang. Posisi mengisap darah nyamu Aedes aegypti
sejajar dengan permukaan kulit manusia. Jarak terbang nyamuk Aedes aegypti
sekitar 100 meter.
c. Perilaku istirahat
Berdasarkan data dari Depkes RI, setelah selesai menghisap darah,
nyamuk betina akan beristirahat sekitar 2-3 hari untuk mematangkan telurnya.
Nyamuk Aedes aegypti hidup domestik, artinya lebih meyukai tinggal di
dalam rumah daripada di luar rumah. Tempat beristirahat yang disenangi

nyamuk ini adalah tempat-tempat yang lembab dan kurang terang seperti
kamar mandi, dapur, dan WC. Di dalam rumah nyamuk ini beristirahat di
baju-baju yang digantung, kelambu, dan tirai. Sedangkan di luar rumah
nyamuk ini beristirahat pada tanaman-tanaman yang ada di luar rumah.
d. Penyebaran
Menurut Depkes RI, nyamuk Aedes aegypti tersebar luas di daerah
tropis dan sub tropis. Di Indonesia, nyamuk ini tersebar luas baik dirumahrumah maupun tempat-tempat umum. Nyamuk ini dapat hidup dan
berkembang biak sampai ketinggian 1000 m. Nyamuk ini tidak dapat
berkembang biak, karena pada ketinggian tersebut suhu udara terlalu rendah,
sehingga tidak memungkinkan bagi kehidupan nyamuk tersebut.
e. Variasi musim
Menurut Depkes Ri, pada saat musim hujan tiba, tempat perkembangbiakan
nyamuk Aedes aegypti yang pada musim kemarau tidak terisi air, akan mulai
terisi air. Telur-telur yang tadinya belum sempat menetas akan menetas. Selain
itu, pada musim hujan semakin banyak tempat penampungan air alamiah yang
berisi air hujan dapat digunakan sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk
ini. Oleh karena itu, pada musim hujan populasi nyamuk Aedes aegypti akan
meningkat. Bertambahnya populasi nyamuk in merupakan salah satu faktor
yang menyebabkan peningkatan penularan penyakit dengue.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Fathi, Soedjajadi Keman, dan
Chatarina U.W tentang Peran Faktor Lingkungan dan Perilaku terhadap Penularan
DBD beberapa faktor penyebab DBD yaitu :
1. Kepadatan penduduk
Kepadatan penduduk turut menunjang atau sebagai salah satu faktor resiko
penularan penularan penyakit DBD. Semakin padat penduduk, semakin mudah
nyamuk Aedes menularkan virusnya dari satu orang ke orang yang lainnya.
Pertimbuhan penduduk yang tidak memiliki pola tertentu dan urbanisasi yang

tidak terencana serta tidak terkontrol merupakan salah satu factor yang berperan
dalam munculnya kembali kejadian luar biasa penyakit DBD.
2. Mobilitas Penduduk.
Mobilitas penduduk ikut berperan dalam terjadinya penyakit DBD. Karena
mempengaruhi

kepadatan

penduduk.

Juga

mempengaruhi

ventilasi

dan

pencahayaan rumah-rumah dilingkungan yag berperan dalam perkembangbiakan


nyamuk Aedes.
3. Sanitasi Lingkungan.
Sanitasi lingkungan berperan dalam terjadinya penyakit DBD dan
berperan besar

dalam perkembangbiakkan nyamuk Aedes, terutama apabila

terdapat terdapat banyak kontainer penampungan air hujan yang berserakan dan
terlindung dari sinar matahari, apabila berdekatan dengan rumah penduduk.
4. Keberadaan Kontainer.
Terdapat hubungan yang bermakna antara keberadaan container dengan
kejadian penyakit DBD. Disamping itu, letak, macam, bahan, warna, bentuk
volume dan penutup kontainer serta asal air yang tersimpan dalam container
sangat mempengaruhi nyamuk Aedes betina untuk menentukan pilihan tempat
bertelurnya.
Keberadaan kontainer sangat berperan dalam kepadatan vektor nyamuk
Aedes, karena semakin banyak kontainer akan semakin banyak tempat perindukan
danakan semakin padat populasi nyamuk Aedes. Semakin banyak populasi
nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula resiko terinfeksi virus DBD dengan
waktu penyebaran lebih cepat sehingga jumlah kasus penyakit DBD cepat
meningkat yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya KLB penyakit DBD.
Dengan demikian program pemerintah berupa penyuluhan kesehatan masyarakat
dalam penanggulangan penyakit DBD antara lain dengan cara menguras, dan
mengubur (3M) sangat tepat dan perlu dukungan luas dari masyarakat dalam
pelaksanaannya.
5. Kepadatan Vektor.
Data kepadatan vektor nyamuk Aedes yang diukur dengan parameter
Angka Bebas Jentik (ABJ) yang diperoleh dari kesehatan kota. Tampak kepadatan
vektor memiliki peran dalam dalam terjadinya penyakit DBD. Hal ini

menyantakan bahwa semakin tinggi angka kepadatan vektor akan meningkatkan


resiko penularan penyakit DBD.
D. Gejala Utama
1. Demam
Demam tinggi yang mendadak, terus menerus berlangsung selama 2 7
hari, naik turun (demam bifosik). Kadang kadang suhu tubuh sangat tinggi
sampai 400C dan dapat terjadi kejang demam. Akhir fase demam merupakan fase
kritis pada demam berdarah dengue. Pada saat fase demam sudah mulai menurun
dan pasien seakan sembuh hati hati karena fase tersebut sebagai awal kejadian
syok, biasanya pada hari ketiga dari demam.

2. Tanda tanda perdarahan


Jenis perdarahan terbanyak adalah perdarahan bawah kulit seperti petekie,
purpura, ekimosis dan perdarahan conjuctiva. petekie merupakan tanda
perdarahan yang sering ditemukan. Muncul pada hari pertama demam tetapi dapat
pula dijumpai pada hari ke 3,4,5 demam. Perdarahan lain yaitu, epitaxis,
perdarahan gusi, melena dan hematemesis.
3. Hepatomegali
Pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit bervariasi dari
hanya sekedar diraba sampai 2 4 cm di bawah arcus costa kanan. Derajat

hepatomegali tidak sejajar dengan beratnya penyakit, namun nyeri tekan pada
daerah tepi hepar berhubungan dengan adanya perdarahan.10
4. Syok
Pada kasus ringan dan sedang, semua tanda dan gejala klinis menghilang
setelah demam turun disertai keluarnya keringat, perubahan pada denyut nadi dan
tekanan darah, akral teraba dingin disertai dengan kongesti kulit. Perubahan ini
memperlihatkan gejala gangguan sirkulasi, sebagai akibat dari perembasan
plasma yang dapat bersifat ringan atau sementara. Pada kasus berat, keadaan
umum pasien mendadak menjadi buruk setelah beberapa hari demam pada saat
atau beberapa saat setelah suhu turun, antara 3 7, terdapat tanda kegagalan
sirkulasi, kulit terabab dingin dan lembab terutama pada ujung jari dan kaki,
sianosis di sekitar mulut, pasien menjadi gelisah, nadi cepat, lemah kecil sampai
tidak teraba. Pada saat akan terjadi syok pasien mengeluh nyeri perut.
E. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium

meliputi kadar hemoglobin, kadar hematokrit,

jumlah trombosit. Trombositopenia umumnya dijumpai pada hari ke 3-8 sejak


timbulnya demam. Hemokonsentrasi dapat mulai dijumpai mulai hari ke 3 demam.
Pada DBD yang disertai manifestasi perdarahan atau kecurigaan terjadinya
gangguan koagulasi, dapat dilakukan pemeriksaan hemostasis (PT, APTT, Fibrinogen,
D-Dimer, atau FDP). Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan adalah albumin,
SGOT/SGPT, ureum/ kreatinin. Hasil laboratoris berikut yang merupakan faktor
resiko terjadinya DSS: Peningkatan hematokrit >20%, platelet <40000/mm3, aPTT
>44 detik, PT >14 detik, TT > 16 detik. Pemeriksaan lain yang dapat dikerjakan
adalah albumin, SGOT/SGPT, ureum/ kreatinin.
Untuk membuktikan etiologi DBD, dapat dilakukan uji diagnostik melalui
pemeriksaan isolasi virus, pemeriksaan serologi atau biologi molekular. Di antara tiga
jenis uji etiologi, yang dianggap sebagai baku emas adalah metode isolasi virus.
Namun, metode ini membutuhkan tenaga laboratorium yang ahli, waktu yang lama
(lebih dari 12 minggu), serta biaya yang relatif mahal. Oleh karena keterbatasan ini,

seringkali yang dipilih adalah metode diagnosis molekuler dengan deteksi materi
genetik virus melalui pemeriksaan reverse transcriptionpolymerase chain reaction
(RT-PCR). Pemeriksaan RT-PCR memberikan hasil yang lebih sensitif dan lebih
cepat bila dibandingkan dengan isolasi virus, tapi pemeriksaan ini juga relatif mahal
serta mudah mengalami kontaminasi yang dapat menyebabkan timbulnya hasil positif
semu. Pemeriksaan yang saat ini banyak digunakan adalah pemeriksaan serologi,
yaitu dengan mendeteksi IgM dan IgG-anti dengue. Imunoserologi berupa IgM
terdeteksi mulai hari ke 3-5, meningkat sampai minggu ke 3 dan menghilang setelah
60-90 hari. Pada infeksi primer, IgG mulai terdeteksi pada hari ke 14, sedangkan pada
infeksi sekunder dapat terdeteksi mulai hari ke 2.
Salah satu metode pemeriksaan terbaru yang sedang berkembang adalah
pemeriksaan antigen spesifik virus Dengue, yaitu antigen nonstructural protein 1
(NS1). Antigen NS1 diekspresikan di permukaan sel yang terinfeksi virus Dengue.
Masih terdapat perbedaan dalam berbagai literatur mengenai berapa lama antigen
NS1 dapat terdeteksi dalam darah. Sebuah kepustakaan mencatat dengan metode
ELISA, antigen NS1 dapat terdeteksi dalam kadar tinggi sejak hari pertama sampai
hari ke 12 demam pada infeksi primer Dengue atau sampai hari ke 5 pada infeksi
sekunder Dengue. Pemeriksaan antigen NS1 dengan metode ELISA juga dikatakan
memiliki sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi (88,7% dan 100%). Oleh karena
berbagai keunggulan tersebut, WHO menyebutkan pemeriksaan deteksi antigen NS1
sebagai uji dini terbaik untuk pelayanan primer.
Pemeriksaan radiologis (foto toraks PA tegak dan lateral dekubitus kanan)
dapat dilakukan untuk melihat ada tidaknya efusi pleura, terutama pada hemitoraks
dan pada keadaan perembesan plasma hebat, efusi dapat ditemukan pada kedua
hemitoraks. Asites dan efusi pleura dapat pula dideteksi dengan USG. Pemeriksaan
laboratorium yang sering ditemukan pada pasien DHF adalah trombositopenia (<
100.000/ul) dan hemokonsentrasi (kadar Ht lebih 20% dari normal). Trombositopenia
umumnya dijumpai pada hari ke 3-8 sejak timbulnya demam. Hemokonsentrasi dapat
mulai dijumpai mulai hari ke 3 demam.

F. Patofisiologi
1. Sistim vaskuler
Patofisiologi primer

DBD dan

DSS adalah peningkatan akut

permeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang


ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan
darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat, hal ini
didukung penemuan post mortem meliputi efusi pleura, hemokonsentrasi dan
hipoproteinemi. Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan
bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator kerja
singkat. Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi
diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit. Perubahan
hemostasis pada DBD dan DSS melibatkan 3 faktor: perubahan vaskuler,
trombositopeni dan kelainan koagulasi. Hampir semua penderita DBD mengalami
peningkatan fragilitas vaskuler dan trombositopeni, dan banyak diantaranya
penderita menunjukkan koagulogram yang abnormal.
2. Sistim respon imun
Setelah virus dengue masuk dalam tubuh manusia, virus berkembang biak
dalam sel retikuloendotelial yang selanjutnya diikuiti dengan viremia yang
berlangsung 5-7 hari. Akibat infeksi virus ini muncul respon imun baik humoral
maupun selular, antara lain anti netralisasi, antihemaglutinin, anti komplemen.
Antibodi yang muncul pada umumnya adalah IgG dan IgM, pada infeksi dengue
primer antibodi mulai terbentuk, dan pada infeksi sekunder kadar antibodi yang
telah ada meningkat (booster effect).

Gambar 5. Tingkat Antibodi terhadap Infeksi Virus Dengue


3. Perubahan Patofisiologi DBD
Patofisiologi DBD dan DSS seringkali mengalami perubahan, oleh karena
itu muncul banyak teori respon imun seperti berikut. Pada infeksi pertama terjadi
antibodi yang memiliki aktifitas netralisasi yang mengenali protein E dan
monoclonal antibodi terhadap NS1, Pre M dan NS3 dari virus penyebab infeksi
akibatnya terjadi lisis sel yang telah terinfeksi virus tersebut melalui aktifitas
netralisasi atau aktifasi komplemen. Akhirnya banyak virus dilenyapkan dan
penderita mengalami penyembuhan, selanjutnya terjadilah kekebalan seumur
hidup terhadap serotip virus yang sama tersebut, tetapi apabila terjadi antibodi
yang nonnetralisasi yang memiliki sifat memacu replikasi virus dan keadaan
penderita menjadi parah; hal ini terjadi apabila epitop virus yang masuk tidak
sesuai dengan antibodi yang tersedia di hospes. Pada infeksi kedua yang dipicu
oleh virus dengue dengan serotipe yang berbeda terjadilah proses berikut : Virus
dengue tersebut berperan sebagai super antigen setelah difagosit oleh monosit
atau makrofag. Makrofag ini menampilkan Antigen Presenting Cell (APC).
Antigen ini membawa muatan polipeptida spesifik yang berasal dari Mayor
Histocompatibility Complex (MHC II). Antigen yang bermuatan peptida MHC II

akan berikatan dengan CD4+ (TH-1 dan TH-2) dengan perantaraan TCR ( T Cell
Receptor ) sebagai usaha tubuh untuk bereaksi terhadap infeksi tersebut, maka
limfosit T akan mengeluarkan substansi dari TH-1 yang berfungsi sebagai imuno
modulator yaitu INF gama, Il-2 dan CSF (Colony Stimulating Factor). Dimana
IFN gama akan merangsang makrofag untuk mengeluarkan IL-1 dan TNF alpha.
IL-1 sebagai mayor imunomodulator yang juga mempunyai efek pada endothelial
sel termasuk di dalamnya pembentukan prostaglandin dan merangsang ekspresi
intercellular adhesion molecule 1 (ICAM 1).

Gambar 6. Respon Imun


Sedangkan CSF (Colony Stimulating Factor) akan merangsang neutrophil,
oleh pengaruh ICAM 1 Neutrophil yang telah terangsang oleh CSF akan mudah
mengadakan adhesi. Neutrophil yang beradhesi dengan endothel akan
mengeluarkan lisosim yang akan menyebabkan dinding endothel lisis dan
akibatnya endothel terbuka. Neutrophil juga membawa superoksid yang termasuk
dalam radikal bebas yang akan mempengaruhi oksigenasi pada mitochondria dan

siklus GMPs. Akibatnya endothel menjadi nekrosis, sehingga terjadi kerusakan


endothel pembuluh darah yang mengakibatkan terjadi gangguan vaskuler
sehingga terjadi syok. Antigen yang bermuatan MHC I akan diekspresikan
dipermukaan virus sehingga dikenali oleh limfosit T CD8+, limfosit T akan
teraktivasi yang bersifat sitolitik, sehingga semua sel mengandung virus
dihancurkan dan juga mensekresi IFN gama dan TNF alpha.
4.

Patogenesis
Virus dengue masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes
aegypti atau Aedes albopictus. Organ sasaran dari virus adalah organ RES
meliputi sel kupffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus limfaticus, sumsum
tulang serta paru-paru. Data dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa sel-sel
monosit dan makrofag mempunyai peranan besar pada infeksi ini. Dalam
peredaran darah, virus tersebut akan difagosit oleh sel monosit perifer. Virus DEN
mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi di dalam sel tersebut. Infeksi
virus dengue dimulai dengan menempelnya virus genomnya masuk ke dalam sel
dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk komponenkomponennya, baik komponen perantara maupun komponen struktural virus.
Setelah komponen struktural dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel. Proses
perkembangan biakan virus DEN terjadi di sitoplasma sel. Semua flavivirus
memiliki kelompok epitop pada selubung protein yang menimbulkan cross
reaction atau reaksi silang pada uji serologis, hal ini menyebabkan diagnosis
pasti dengan uji serologi sulit ditegakkan. Kesulitan ini dapat terjadi diantara ke
empat serotipe virus DEN. Infeksi oleh satu serotip virus DEN menimbulkan
imunitas protektif terhadap serotip virus tersebut, tetapi tidak ada cross protektif
terhadap serotip virus yang lain. Secara in vitro antibodi terhadap virus DEN
mempunyai 4 fungsi biologis: netralisasi virus; sitolisis komplemen; Antibody
Dependent Cell-mediated Cytotoxity (ADCC) dan Antibody Dependent
Enhancement.

Virion dari virus DEN ekstraseluler terdiri atas protein C (capsid), M


(membran) dan E (envelope), sedang virus intraseluler mempunyai protein premembran atau pre-M. Glikoprotein E merupakan epitop penting karena : mampu
membangkitkan antibodi spesifik untuk proses netralisasi, mempunyai aktifitas
hemaglutinin, berperan dalam proses absorbsi pada permukaan sel, (reseptor
binding), mempunyai fungsi biologis antara lain untuk fusi membran dan
perakitan virion. Antibodi memiliki aktifitas netralisasi dan mengenali protein E
yang berperan sebagai epitop yang memiliki serotip spesifik, serotipe-cross
reaktif atau flavivirus-cross reaktif. Antibodi netralisasi ini memberikan proteksi
terhadap infeksi virus DEN. Antibodi monoclonal terhadap NS1 dari komplemen
virus DEN dan antibodi poliklonal yang ditimbulkan dari imunisasi dengan NS1
mengakibatkan lisis sel yang terinfeksi virus DEN. Antibodi terhadap virus DEN
secara in vivo dapat berperan pada dua hal yang berbeda :
a. Antibodi netralisasi atau neutralizing antibodies memiliki serotip spesifik
yang dapat mencegah infeksi virus.
b. Antibodi non netralising serotipe memiliki peran cross-reaktif dan dapat
meningkatkan infeksi yang berperan dalam patogenesis DBD dan DSS.

Gambar 8. Antibody Dependent Enhancement

Gambar 7. Patogenesis Perdarahan pada DBD


G. Penegakan Diagnosis
Berdasarkan kriteria WHO 2009, diagnosis DBD ditegakkan bila semua hal
ini terpenuhi:
1. Klinis
Gejala klinis yang harus ada yaitu :
a. Demam tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas berlangsung terus menerus
selama 2-7 hari.
b. Terdapat manifestasi perdarahan yang meliputi : uji bendung positif; petekie,
ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa, epistaksis dan perdarahan gusi;
hematemesis dan melena.
c. Pembesaran hati
d. Syok, ditandai dengan nadi cepat dan lemah sampai tidak teraba, penyempitan
tekanan nadi 20 mmHg, hipotensi sampai tidak terukur, kaki dan tangan
dingin, kulit lembab, waktu pengisian kapiler memanjang atau lebih dari 2
detik dan pasien tampak gelisah.
2. Laboratorium

PERSANGKAAN DBD

a. Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ ml).


b. Adanya kebocoran plasma karena peningkatan permeabilitas kapiler, dengan
manifestasi berikut :

Peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai umur


dan jenis kelamin.

Penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan,


dibandingkan
dengan nilai hematokrit sebelumnya.
BAGAN I

TATALAKSANA KASUS TERSANGKA DBD

Tanda

kebocoran

plasma

seperti:

efusi

pleura,

asites,

hipoproteinemia, hiponatremia.
Dua kriteria klinis pertama ditambah satu kriteria laboratorium ( atau hanya
peningkatan hematokrit) cukup untuk menegakkan diagnosis DBD.
Terdapat 4 derajat spektrum klinis DBD (WHO, 1997), yaitu:
-

Derajat 1 : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya

manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.


Derajat 2 : Seperti Kedaruratan
derajat 1, disertai perdarahan spontan di kulit dan

perdaran lain.
Derajat 3 : Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah,
tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di

sekitar mulut kulit dingin dan lembab, tampak gelisah.


Derajat 4 : Syok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak

terukur.
H. Penatalaksanaan
Prinsip pengobatan meliputi: atasi segera hipovolemi, lanjutkan penggantian
cairan yang masih terus keluar dari pembuluh darah selama 12-24 jam , atau paling
lama 48 jam, koreksi keseimbangan asam-basa, beri darah segar bila ada perdarahan
hebat.

Klinis membaik
Ht tidak naik
Trombosit baik

Segera bawa ke rumah sakit

Gejala klinis:
Demam 2-7 hari
Uji Torniquet (+) atau perdarahan spontan
Lab:
Ht tak meningkat / Ht < 42 vol%
Trombositopenia (ringan)

Infus : RL/RD/RA 6-7 ml/kgBB/jam

PULANG (Lihat kriteria pulang)

Kesadaran menurun
Nadi terasa lembut
Tekanan nadi < 20 mmHg
Distres pernafasan/sianosis
Kulit dingin dan lembab
Ekstremitas dingin,
Diuresis < 1 ml/kgBB/jam

I. Komplikasi
1. Perdarahan gastrointestinal masif,
2. Ensepalopati,
3. Edema paru dan efusi pleura.
Kesadaran membaik

J. Prognosis Nadi teraba kuat


Tekanandari
nadi
> 20 mmHg
Tergantung
beberapa
faktor seperti, lama dan beratnya renjatan, waktu,
Tidak sesak nafas/sianosis
metode, adekuat tidaknya penanganan; ada tidaknya rekuren syok yang terjadi
Ekstremitas hangat
terutama dalam
6 jamcukup
pertama
pemberian infus dimulai, panas selama renjatan, tandaDiuresis
1 ml/kgBB/jam
tanda serebral.
K. Cara Mencegah Penyakit DBD
Prinsip dasar pencegahan penyakit demam berdarah adalah dengan memutus
rantai kehidupan nyamuk termasuk telur, jentik dan nyamuk aedes aegypti dewasa.
Cara Memberantas Nyamuk Aedes Aegypti
Pemberantasan sarang nyamuk 4M dan 4M plus :
Melaksanakan 4M, yaitu:
1. Menguras tempat penampungan air bersih sekurang-kurang seminggu sekali.
2. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air dan
3. Mengumpul, mengubur atau memanfaatkan barang-barang bekas yang dapat
menampung air.
4. Memantau jentik nyamuk secara berkala.
Melaksanakan 4M Plus. Yang dimaksud dengan Plus disini adalah tambahan dari 4M
di atas, yaitu :

Mengganti air vas bunga, minuman burung seminggu sekali.

Perbaiki saluran dan talang air yang tidak lancer/rusak.

Menutup lobang pada potongan bamboo, pohon dll, misalnya dengan tanah atau
bahan lain.

Membersihkan/ mengeringkan tempat-tempat yang memungkinkan menampung


air seperti pelepah pinang, kelapa, pisang disekitar rumah, kebun, kuburan dan
rumah kosong.

Menaburkan bubuk abate (pembunuh jentik) ditempat yang sulit dikuras


(penampungan air wudhu masjid, mushola, tendon air dll).

Memelihara ikan pemakan jentik.

Memasang kasa nyamuk di rumah.

Membuat rumah cukup pencahayaan dan ventilasi.

Hindari kebiasaan menggantung pakaian dalam rumah.

Tidur menggunakan kelambu.

Menggunakan obat nyamuk seperlunya untuk menghindari gigitan nyamuk.


Khusus pemberantasan nyamuk dewasa dapat dilakukan dengan Fogging

(pengasapan) massal dalam suatu pemukiman tertentu. Yang dimaksud dengan


Fogging (Pengasapan) yaitu:

Salah satu upaya pengendalian nyamuk dewasa

Memutus rantai penularan (ada kasus)

Merupakan kegiatan favorit yang diharapkan masyarakat

Belum tentu efektif (lokasi, waktu, dosis, alat, kondisi setempat) dan tdk efisien
(mahal)

Hanya membunuh nyamuk dewasa, bila masih ada jentik / pupa, maka keesokan
hari akan muncul nyamuk baru

H. Faktor Lingkungan dan Perilaku Masyarakat


Apabila semua faktor lingkungan yang meliputi kepadatan penduduk,
mobilitas penduduk, sanitasi lingkungan, keberadaan kontainer, kepadatan vektor, dan
semua faktor perilaku masyarakat yang meliputi pengetahuan, sikap terhadap
penyakit DBD, tindakan pembersihan sarang nyamuk, pengasapan dan penyuluhan
tentang penyakit DBD dianalisis. Faktor determinan adalah:
1. Host (manusia). Demam berdarah dengue merupakan penyakit yang senantiasa
ada sepanjang tahun di negeri kita, oleh karena itu disebut penyakit endemis.
Penyakit ini menunjukkan peningkatan jumlah orang yang terserang setiap 4-5
tahun. Kelompok umur yang sering terkena adalah anak-anak umur 4-10 tahun,
walaupun dapat pula mengenai bayi dibawah umur 1 tahun. Akhir-akhir ini
banyak juga mengenai orang dewasa muda umur 18-25 tahun. Laki-laki dan
perempuan sama-sama dapat terkena tanpa terkecuali.
Cara hidup nyamuk terutama nyamuk betina yang menggigit pada pagi
dan siang hari, kiranya menjadi sebab mengapa anak balita mudah terserang
demam berdarah. Nyamuk Aedes yang menyenangi tempat teduh, terlindung
matahari, dan berbau manusia, oleh karena itu balita yang masih membutuhkan
tidur pagi dan siang hari seringkali menjadi sasaran gigitan nyamuk. Sarang
nyamuk selain di dalam rumah, juga banyak dijumpai di sekolah, apalagi bila
keadaan kelas gelap dan lembab. Sasaran berikutnya adalah anak sekolah yang
pada pagi dan siang hari berada di sekolah. Disamping nyamuk Aedes aegypti

yang senang hidup di dalam rumah, juga terdapat nyamuk Aedes albopictus yang
dapat menularkan penyakit demam berdarah dengue. Nyamuk Aedes albopictus
hidup di luar rumah, di kebun yang rindang, sehingga anak usia sekolah dapat
juga terkena gigitan oleh nyamuk kebun tersebut di siang hari tatkala sedang
bermain. Faktor daya tahan anak yang belum sempurna seperti halnya orang
dewasa, agaknya juga merupakan faktor mengapa anak lebih banyak terkena
penyakit demam berdarah dengue dibandingkan orang dewasa.
Di perkotaan, nyamuk sangat mudah terbang dari satu rumah ke rumah
lainnya dari rumah ke kantor, atau tempat umum seperti tempat ibadah, dan lainlain. Oleh karena itu, orang dewasa pun menjadi sasaran berikutnya setelah anakanak. Terutama dewasa muda (18-25 tahun) sesuai dengan kegiatan kelompok ini
pada siang hari di luar rumah. Walaupun demikian, pada umumnya penyakit
demam berdarah dengue dewasa lebih ringan daripada anak.
2. Agent ( penyakit).
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), bahasa medisnya disebut
Dengue Hemmorhagic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus
dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, yang mana
menyebabakan gangguan pada pembuluh darah kapiler dan pada system
pembekuan darah, sehingga menyebabkan perdarahan-perdarahan.
Penyakit ini banyak ditemukan didaerah tropis seperti Asia Tenggara,
India, Brazil, Amerika termasuk di seluruh pelosok Indonesia, kecuali di tempattempat ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan air laut.
3. Environment (Lingkungan)
Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) berkembangbiak dengan baik
di daerah tropis pada lingkungan yang bisa dijadikan sebagai tempat
berkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti seperti bak air yang tidak tertutup,
barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan seperti kaleng, wadahwadah alat rumah tangga yang tidak tepakai lagi, ban bekas, dll. Oleh karena itu
langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu 3M :

a. Menguras bak mandi atau tempat penyimpanan air bersih sekurang


kurangnya sekali seminggu.
b. Menutup rapat bak mandi atau tempat penyimpanan air bersih.
c. Mengubur barang barang bekas yang dapat menampung air hujan.