You are on page 1of 31

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan
upayapemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai
masa tua yang sehat, bahagia,berdaya guna dan produktif.
keberadaan usia lanjut ditandai dengan umur harapan hidup yang
semakin meningkat dari tahun ke tahun, hal tersebut membutuhkan upaya
pemeliharaan serta peningkatan kesehatan dalam rangka mencapai masa
tua yang sehat, bahagia, berdaya guna, dan produktif.proses menua yang
dialami oleh lansia menyebabkan mereka mengalami berbagai perasan
sedih,cemas,kesepian, dan mudah tersinggung dan depresi. Jika lansia
mengaklami gangguan tersebutmaka kondisi tersebut dapat menggangu
kegiatan sehari-hari lansia.mencegah dan merawat lansia dengan masalah
tersebut adalah hal yang sangat penting dlamupaya mendorong lansia
bahagia sejahtera di dalamkeluarga serta masyarakat.
B.

RUMUSAN MASALAH
1. apakah pengertian lansia dan batasan lansia ?
2. apakah yang dimaksud dengan proses menua ?
3. bagaimana dengan teori-teori proses menua ?
4. apakah pengertian depresi ?
5. apakah faktor predisposisi dan pencetus ?
6. apakah tanda dan gejala depresi serta ciri-ciri depresi ?
7. Bagaimana Asuhan Keperawatan Depresi pada lansia ?

C.

TUJUAN
1.

2.
a)
b)
c)
d)

f)
g)

Tujuan Umum
Untuk mengetahui tentang teori dan asuhan keperawatan pada
lansia dengan depresi
Tujuan Khusus
Untuk menetahui pengertian lansia dan batasan usia
Untuk mengetahui proses menua
Untuk mengetahui dan mengerti proses menua
Untuk mengetahui apa itu depresi
e) Untuk mengetahui faktor predisposisi dan faktor pencetus
depresi
Untuk mengetahui tanda dan gejala depresi
Untuk Mengetahui Asuhan Keperawatan depresi pada lansia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia
1. Pengertian Lansia
Menurut organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle age)
kelompok usia45-70 tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun usia tua
(old) antara 75-90 thn usia dangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Menurut prof koesmoto setyonegoro lanjut usia adalah orang yg
berumur 65 tahun keatas. Sebenarnya lanjut usia adalah suatu proses alami
yang tidakapat ditentukan oleh tuhan yang maha esa (Wahyudi
nugroho,2000).
2. Batasan-batasan Lansia
Batasan seseorang dikatakan Lanjut usia masih diperdebatkan oleh
para ahli karena banyak faktor fisik, psikis dan lingkungan yang saling
mempengaruhi sebagai indikator dalam pengelompokan usia lanjut. Proses
peneuan berdasarkan teori psikologis ditekankan pada perkembangan).
World Health Organization (WHO) mengelompokkan usia lanjut sebagai
berikut :
1. Middle Aggge (45-59 tahun)
2. Erderly (60-74 tahun)
3. Old (75-90 tahun)
4. Very old (> 91 tahun)
Menurut Birren dan Renner dalam Johanna E.P (1991; 75) usia
biologis dabat diberi batasan sebagai suatu estimasi posisi seseorang
dalam hubungannya dengan potensi jangka hidupnya. Menurut Eisdoefer
dan Wilkie dalam Johanna, EP (1993, 75) mengatakan bahwa usia biologis
adalah proses genetik yang berhubungan waktu, tetapi terlepas dari stres,
trauma dan penyakit. Seseorang dikatakan muda secara biologis apabila
secara kronologis tua, tetapi organ-organ tubuhnya, seperti jantung, ginjal,
hati, saluran pencernaan, tetap berfungsi seperti waktu muda.
Usia psikologis adalah kapasitas individu untuk adaptif dalam hal
ingatan, belajar, intelegnsi, keterampilan, perasaan, motivasi dan emosi.

Apabila hal ini masih baik dan stabil dapat dikatakan secara psikologis ia
masih dewasa. Usia sosial menekankan peran dan kebiasaan seseorang
dalam hubungannya dengan orang lain dan menjalankan perannya dengan
penuh tanggung jawab di mayarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi tua :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Herediter
Nutrisi
Status Kesehatan
Penglaman hidup
Lingkungan
Stres
3. Proses penuaan
1). Pengertian
Aging proses adalah suatu periode menarik diri yang tak
terhindarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi antara lansia
dengan orang lain di sekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk
mempersiapkan dirinya menghadapi ketidamampuan dan bahkan
kematia (Cox, 1984).
2). Teori-teori Proses Penuan
a. Teori Biologi
a) Perubahahn biologi yang berasal dari dalam (intrinsik)/ Teori
Genetika
Teori jam biologi (Biological clock theory), Proses
menua dipengaruhi oleh faktor-faktor keturunan dari

dalam. Umur seseorang seolah-olah distel seperti jam.


Teori menua yang terprogram (program aging theory),
sel tubuh manusia hanya dapat membagi diri sebanyak

50 kali.
Teori Mutasi (somatic mutatie theory), setiap sel pada

saatnya akan mengalami mutasi.


The Error Theory, Pemakaian dan rusak kelebihan
usaha dan stres menyebabkan sel-sel tubuh lelah
(terpakai).

b) Perubahan biologik yang berasalah dari luar/ekstrinsik (Teori


Non Genetika)
Teori radikal bebas, meningkatnya bahan-bahan radikal
bebas sebagai akibat pencemaran lingkungan akan
menimbulkan perubahan pada kromosom pigmen dan

jaringan kolagen.
Teori imunlogi, perubahan jaringan getah bening
akanmengakivbatkan ketidakseimbangan sel T dan
terjadi penurunan fungsi sel-sel kekebalan tubuh,

akibatnya usia lanjut mudah terkena infeksi.


b. Teori Psikologik
a) Maslow Hierareky Human Needs Theory
Teori Maslow mengungkapkan hirarki kebutuhan manusia
yang meliputi 5 hal (kebutuhan biologik, keamanan da
kenyamanan , kasih sayang, harga diri, aktualisasi diri dan
aktualisasi diri.
b) Jungs Theory of invidualsm
Teori individualism yang

dikemukakan

Carl

Jung

(1960) mengungkapkan perkembangan personality dari anakanak, remaja, dewasa muda, dewasa pertengahan hingga
dewasa tua (lansia) yang dipengaruhi baik dari internal
maupun eksternal.
c) Course of Human Life Theory
Chorlotte Buhler juga merupakan penganut teori psikologik
dengungkapkan bawa teori perkembangan dasar manusia
yang difokuskan pada identifikasi pencapaian tujuan hidup
seseorang dalam melalui fase-fase perkembangan.
d) Eight Stages of Life Theory
Teori Eight Stages of Life yang dikemukakan Erikson
(1950) adalah suatu teori perkembangan psikososial yang
terbagi atas 8 tahap, yang mempunyai tugas dan peran yang
perlu diselesaikan dengan baik :

Tahap I

Masa bayinya timbul kepercayaan dasar (basic trust)

Tahap II

Tahap penguasaan diri (autonomi)

Tahap III

Tahap inisiatip

Tahap IV

Timbulnya kemauan untuk berkarya (Industriousness)

Tahap V

Mencari identitas diri (Identy)

Tahap VI

Timbulnya keintiman (Intimacy)

Tahap VII

Mencapai kedewasaan (generativity)

Tahap VIII Memasuki

usia

lanjut

akan

mencapai

kematangan

kepribadian (ego Integrity), dia merupakan orang yang


memiliki integritas dalam kepribadian sehingga mampu
berbuat untuk kepentingan umum. Kegagalan pada tahap
ini akan menyebabkan cepat putus asa.
Demikian juga dengan teori Developmental Task yang
dikemukakan Havighurst (1972) bahwa masing-masing individu melalui
tahap-tahap perkembangan secara spesifik dan terjadi variasi/perbedaan
antara individu satu dengan lainnya.
Tahap perkembangan ini harus dilalui dengan baik sehingga
individu akan merasakan kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup.
Peran Perawat pada klien lansia sesuai Proses Penuaan. Proses
Perawatan

Kesehatan

bagi

para

Lansia

merupakan

tugas

yang

membutuhkan suatu kondisi yang bersifat komprehnsif sehingga


diperlukan suatu upaya penciptaan suatu keterpaduan antara berbagai
proses yang dapat terjadi pada lansia.
Untuk mencapai tujuan yang lebih maksimal, konsep dan strategi
pelayanan kesehatan bagi para lansia memegang peranan yang sangat
penting dalam hal ini tidak lepas dari peran perawat sebagai unsur
pelaksana.
5.
a.

Perubahan- perubahan yang terjadi pada lansia


Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem
organ

tubuh,

diantaranya

sistem

pernafasan,

pendengaran,

penglihatan,

kardiovaskuler,

sistem

pengaturan

tubuh,

muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan


integumen.
1) Sistem pernafasan pada lansia

Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga


volume udara inspirasi berkurang, sehingga pernafasan

cepat dan dangkal.


Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi

batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret.


Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya )
sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu
mengalami penurunan, kalau pada pernafasan yang tenang

kira kira 500 ml.


Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas
permukaan normal 50m), menyebabkan terganggunya

prose difusi.
Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg
menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin, sehingga O2

tidak terangkut semua kejaringan.


CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2
dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi

racun pada tubuh sendiri.


kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret
& corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga
potensial terjadinya obstruksi.

2) Sistem persyarafan.

Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.


Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
Mengecilnya syaraf panca indera.
Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf
pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan
rendahnya ketahanan terhadap dingin.
3) Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia

a) Penglihatan

Kornea lebih berbentuk skeris.


Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon

terhadap sinar.
Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi
terhadap kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam

cahaya gelap.
Hilangnya daya akomodasi.
Menurunnya lapang pandang

pandang.
Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna

&

berkurangnya

luas

hijau pada skala.


b) Pendengaran

Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :


Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga
dalam, terutama terhadap bunyi suara, antara lain nada nada
yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata kata,

50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.


Membran
timpani
menjadi
atropi
menyebabkan

otosklerosis.
Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena
meningkatnya kreatin.

c) Pengecap dan penghidu.

Menurunnya kemampuan pengecap.


Menurunnya
kemampuan
penghidu
mengakibatkan selera makan berkurang.

d) Peraba

Kemunduran dalam merasakan sakit.


Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.
4) Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.
a) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.

sehingga

b) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun


sesudah berumur 20 tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya
kontraksi dan volumenya.
c) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
d) Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi, perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke
berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65
mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
e) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi
pembuluh darah perifer (normal 170/95 mmHg ).

5) Sistem genito urinaria


a) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah
ke ginjal menurun sampai 50 %, penyaringan diglomerulo
menurun sampai 50 %, fungsi tubulus berkurang akibatnya
kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis
urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN
meningkat sampai 21 mg % ; nilai ambang ginjal terhadap
glukosa meningkat.
b) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah,
kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan
frekwensi

BAK

meningkat,

vesika

urinaria

susah

dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya


retensi urin.
c) Pembesaran prostat 75 % dimulai oleh pria usia diatas
65 tahun.
d) Atropi vulva.
e) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan
menurun juga permukaan menjadi halus, sekresi menjadi
berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan
warna.

f) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung


menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati
berjalan terus.
6). Sistem endokrin / metabolik pada lansia
a) Produksi hampir semua hormon menurun.
b) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
c) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan
hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi
dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
d) Menurunnya aktivitas tiriod

BMR

turun

dan

menurunnya daya pertukaran zat.


e) Menurunnya produksi aldosteron.
f) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron,
estrogen, testosteron.
g) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism,
depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam
mengatasi tekanan jiwa (stess).
6) Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut
a) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal
disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun,
penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi
yang buruk.
b) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari
selaput lendir, atropi indera pengecap ( 80 %), hilangnya
sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa
manis, asin, asam & pahit.
c) Esofagus melebar.
d) Lambung, rasa lapar menurun

(sensitivitas

lapar

menurun ), asam lambung menurun, waktu mengosongkan


menurun.
e) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
f) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
g) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat
penyimpanan, berkurangnya aliran darah.
7) Sistem Muskuloskeletal

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Tulang kehilangan densikusnya rapuh.


resiko terjadi fraktur.
kyphosis.
persendian besar & menjadi kaku.
pada wanita lansia > resiko fraktur.
Pinggang, lutut & jari pergelangan tangan terbatas.
Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek
( tinggi badan berkurang ).

8) Perubahan Sistem Kulit & Karingan Ikat


a) Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
b) Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan
dan hilangnya jaringan adiposa
c) Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik,
sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan
temperatur yang tinggi.
d) Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat
menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang
meproduksi pigmen.
e) Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan
penyembuhan luka luka kurang baik.
f) Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
g) Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak
serta warna rambut kelabu.
h) Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang
kadang menurun.
i) Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme
yang menurun.
j) Keterbatasan reflek

menggigil

dan

tidak

dapat

memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot.


9). Perubahan Sistem Reproduksi dan Kegiatan Sexual
a)
b)
c)
d)

selaput lendir vagina menurun/kering.


menciutnya ovarium dan uterus.
atropi payudara.
testis masih dapat memproduksi meskipun adanya

penurunan secara berangsur berangsur.


e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal
b.

kondisi kesehatan baik.


Perubahan-Perubahan Mental/ Psikologis

Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :

Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.


kesehatan umum
Ttingkat pendidikan
Keturunan (herediter)
Lingkungan
Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan

dengan teman dan famili


Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan
terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri

Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi


lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang,
kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit.
Kenangan (memory) ada dua :
1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-hari
yang lalu, mencakup beberapa perubahan
2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit),
kenangan buruk.
Intelegentia Quation :
1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal
2) berkurangnya

penampilan,persepsi

dan

keterampilan

psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan,


karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.

c.

Perubahan Spiritual
Agama
kehidupannya

atau

kepercayaan

(Maslow,1970).

makin

Lansia

terintegarsi

makin

matur

dalam
dalam

kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat dalam berpikir dan


bertindak dalam sehari-hari.
B. Depresi
1. Pengertian Depresi
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai
komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak
bahagia, serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa
dingin), tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang
berkepanjangan dpt digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena,
tanda, gejala, sindrom, keadaan emosional, reaksi penyakit/ klinik.(stuart
dan sundeer,1998).
Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan
dimanifestasikan dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang
hebat, lama dan menetap pada individu yang bersangkutan.
2. Faktor predisposisi dan faktor pencetus

Faktor Predisposisi:
a. Faktor genetik dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan afektif
melalui riwayat keluarga atau keturunan.
b. Teori agresi menyerang kedalam,menunjukan bahwa depresi
terjadi karena perasaan marah yg dtujukan kpd diri sendiri.
c. Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik
individu dengan benda atau yang sangat berarti.
d. Teori organisasi kepribadian menguraikan bagaimana konsep diri
yang negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem
keyakinan dan penilaian seseorang terhadap streror.
e. Model kognitf menyatakan bahwa depresi merupakan masalah
kognitif yg didominsi oleh evaluasi negatif seseorng terhadap diri
seseorang, dunia seseorang dan masa depan seseorang.
f. Model ketidakberdayaan yang dipelajari menunjukkan bahwa
bukan semata2 trauma menyebabkan depresi tapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yg penting

dalam kehidupannya oleh karena itu ia mengulang respon yg


adaptif.
g. Merupakan perilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial
yang mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya
keinginan positif dalam berinteraksi dengan lingkungan.
h. Model biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi
selama masa depresi. termasuk defisiensi ketokolamin, disfungsi
endokrin, hipersekresi kortisol n variasi priodik dalam irima
biologis.

Stresor Pencetus
a. Kehilangan keterikatan,yagn nyata atau yg di bayangkan,termasuk
kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan,atau harga
diri.karena elemen aktual n simbolik melibatkan konsep kehilangan
maka persepsi pasien merupakan hal yg sangat penting
b. peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sbg pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap mslh-masalah yg
dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
c. peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi
perkembangan depresi, trutama pada wanita.
d. perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat2an atau penyakit fisik
dan gangguan kesimbambngan metabolik, dapat mencetuskan
gangguan alam perasaan. diantra obat2an termsebut terdapat obat
antihipertensi

dan

penyalahgunaan

zat

yang

menyebabkan

kecanduan.kebanyakan penyakit kronik yg melemahkan tubuh juga


sering disrtai dengan depresi. depresi yg terdapat pada usia lanjut
biasnya bresfat kompleks karena untuk menegakan diagnosis sering
3)

melibtkan evaluasi dari kerusakan otak orgnik dan depresi klinik.


Tanda Dan Gejala Depresi
Frank J.Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan
bahwa ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
a. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan
yang ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.

b. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat


sedang cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika
kondisinya telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah
makan.
c. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam
faktor penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi
dilain pihak banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak
tidur.
d. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang
mengalami depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari
kemampuannya dalam setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya.
Ya,kan? saya tidak mengalami depresi?.dilain pihak, seseorang lainnya
yang mengalami depresi mungkin akan gampang letih dan lemah.
e. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk
mengatakan atau merasa,saya selalu merasah lelah atau saya capai.
Ada anggapan bahwa gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor
emosional, bukan faktor biologis.
f. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna,
tidak efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran
seperti, saya menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai
banyak kemajuan, seringkali terjadi.
g. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk
memecahkan masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi
merasa kesulitan untuk menfokuskan perhatiannya pada sebuah
masalah untuk jangka waktu tertentu. Keluhan umum yang sering
terjadi adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi..
h. Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan
alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan,
terutama kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti
misalnya menjadi gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa
juga diidentifikasi sebagai salah satu jenis perilaku merusak diri
sendiri secara tidak langsung.

i. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang
sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung.
Frank menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk setiap
orang. tetapi merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau lima
atau lebih dari tanda-tanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka
sangat mungkin seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika
seseorang mnegalami gejala pada nomor 9, yakni punya keinginan
untuk bunuh diri, maka Frank menganjurkan seseorang untuk segera
mencari bantuan profesional secepat mungkin.
4). Ciri-Ciri Depresi
Ciri-ciri tiga macam depresi (Tumlahaye,1998).
Kehilangan
Mental

semangat Patah

(ringan)
Ragu-ragu
Kemurkaan
Kasihan diri

(serius)
Kritik diri

sendiri
Fisik

Emosion
al

Kehilangan nafsu

makan
Tidak dapat tidur
Penampilan yang
tidak teratur
Ketidakpatuhan
Kesedihan
Mudah

semangat Putus asa (berat)

sendiri
Kemarahan
Kasihan diri
sendiri
Kelesuan
Kecemasan
Menangis

Keadaan

yang sulit
Penderitaan

tersinggung
Ragu-ragu akan

kesepian
kematahan

tuhan

Penolakan diri

sendiri
Kepahitan
Kasihan diri

sendiri
Pengungsian

diri
Kepasifan

Tiada harapan
Skizophegenia
Keadaan

tertinggal
Kemarahan
akan

terhadap

Tidak

senang

tuhan
Menolak

akan tuhan
Tidak berterima

akan tuhan
Mengeluh

Spiritual

sabda-

sabda tuhan

Acuh tak acuh

akan nasehat
Tidak percaya

5)

kasih dan tidak

terhadap

percaya

tuhan

terhadap tuhan

Tingkatan Depresi pada Lansia


Menurut Depkes RI tahun 2001 tingkatan depresi yaitu:
a. Depresi ringan
Suasana perasaan yang depresif, Kehilangan minat, kesenangan dan
mudah lelah, konsentrasi dan perhatian kurang, harga diri dan
kepercayaan diri kurang, perasaan salah dan tidak berguna, pandangan
masa depan yang suram, gagasan dan perbuatan yang membahayakan
diri, tidak terganggu dan nafsu makan kurang.
b. Depresi Sedang
Kesulitan nyata mengikuti kegiatan sosial, pekerjaan dan urusan rumah
tangga
c. Depresi berat tanpa gejala manik
Biasanya Gelisah, kehilangan harga diri dan perasaan tidak berguna,
keinginan bunuh diri
Gangguan depresi dibedakan dalam depresi ringan, sedang dan
berat sesuai dengan banyak dan beratnya gejala serta dampaknya terhadap
fungsi kehidupan seseorang. Menurut ICD 10, pada gangguan depresi ada
3 gejala utama yaitu:
a. Mood terdepresi (suasana perasaan hati murung/sedih),
b. Hilang minat atau gairah,
c. Hilang tenaga dan mudah lelah, yang disertai dengan gejala lain
seperti:
o
o
o
o
o
o
o

Konsentrasi menurun,
Harga diri menurun,
Perasaan bersalah,
Pesimis memandang masa depan,
Ide bunuh diri atau menyakiti diri sendiri,
Pola tidur berubah,
Nafsu makan menurun.
Tabel 2.1Pedoman Berat Ringannya Depresi

Depresi

Gejala

Gejala lain Fungsi

Keterangan

Ringan
Sedang

Utama
2
2

2
3 atau 4

Distress +
Berlangsung

Baik
Terganggu

minimal
Berat

Terganggu

minggu
Intensitas gejala

berat
sangat berat
Sumber: Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI, 2000

6)

Dampak Depresi Pada Lansia


Pada usia lanjut depresi yang berdiri sendiri maupun yang
bersamaan dengan penyakit lain hendaknya ditangani dengan sungguhsungguh karena bila tidak diobati dapat memperburuk perjalanan
penyakit dan memperburuk prognosis.
Pada depresi dapat dijumpai hal-hal seperti

dibawah ini

(Mudjaddid, 2003):
o Depresi

dapat

meningkatkan

angka

kematian

dengan penyakit kardiovaskuler.


o Pada depresi timbul ketidakseimbangan

pada

hormonal

pasien
yang

dapat memperburuk penyakit kardiovaskular. (Misal: peningkatan


hormon adrenokortikotropin akan meningkatkan kadar kortisol).
o Metabolisme serotonin yang terganggu pada depresi akan
menimbulkan efek trombogenesis.
o Perubahan suasana hati (mood) berhubungan dengan gangguan
respons imunitas termasuk perubahan fungsi limfosit dan penurunan
jumlah limfosit.
o Pada depresi berat terdapat penurunan aktivitas sel natural killer.
o Pasien depresi menunjukkan kepatuhan yang buruk pada program
pengobatan maupun rehabilitasi.

Depresi pada lansia yang tidak ditangani dapat berlangsung


bertahun-tahun dan dihubungkan dengan kualitas hidup yang jelek,
kesulitan dalam fungsi sosial dan fisik, kepatuhan yang jelek terhadap
terapi, dan meningkatnya morbiditas dan mortalitas akibat bunuh diri
dan

penyebab

lainnya

(Untzer,

2007).

Beberapa

penelitian

menunjukkan bahwa depresi pada lansia menyebabkan peningkatan


penggunaan rumah sakit dan outpatient medical services (Blazer, 2003).

7)

Skala Pengukuran Depresi Pada Lanjut Usia


Depresi dapat mempengaruhi perilaku dan aktivitas seseorang
terhadap lingkungannya. Gejala depresi pada lansia diukur menurut
tingkatan sesuai dengan gejala yang termanifestasi. Jika dicurigai terjadi
depresi, harus dilakukan pengkajian dengan alat pengkajian yang
terstandarisasi dan dapat dipercayai serta valid dan memang dirancang
untuk diujikan kepada lansia. Salah satu yang paling mudah digunakan
untuk diinterprestasikan diberbagai tempat, baik oleh peneliti maupun
praktisi klinis adalah Geriatric Depression Scale (GDS).
Alat ini diperkenalkan oleh Yesavage pada tahun 1983 dengan
indikasi utama pada lanjut usia, dan memiliki keunggulan mudah
digunakan dan tidak memerlukan keterampilan khusus dari pengguna.
Instrument GDS ini memiliki sensitivitas 84 % dan specificity 95 %. Tes
reliabilitas alat ini correlates significantly of 0,85 (Burns, 1999). Alat ini
terdiri dari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat penapisan depresi pada
lansia. GDS menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendiri
dengan menjawab ya atau tidak setiap pertanyaan, yang memrlukan
waktu sekitar 5-10 menit untuk menyelesaikannya. GDS merupakan alat
psikomotorik dan tidak mencakup hal-hal somatik yang tidak berhubungan
dengan pengukuran mood lainnya. Skor 0-10 menunjukkan tidak ada
depresi, nilai 11-20 menunjukkan depresi ringan dan skor 21-30 termasuk

depresi sedang/berat yang membutuhkan rujukan guna mendapatkan


evaluasi psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci, karena GDS hanya
merupakan alat penapisan.
8) Penatalaksanaan Depresi Pada usia Lanjut
a. Terapi fisik
1) Obat
Secara umum, semua obat antidepresan sama efektivitasnya.
Pemilihan jenis antidepresan ditentukan oleh pengalaman klinikus
dan pengenalan terhadap berbagai jenis antidepresan. Biasanya
pengobatan dimulai dengan dosis separuh dosis dewasa, lalu
dinaikkan perlahan-lahan sampai ada perbaikan gejala.
2) Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
Untuk pasien depresi yang tidak bisa makan dan minum, berniat
bunuh diri atau retardasi hebat maka ECT merupakan pilihan terapi
yang efektif dan aman. ECT diberikan 1- 2 kali seminggu pada
pasien

rawat

nginap,

unilateral

untuk

mengurangi

confusion/memory problem. Terapi ECT diberikan sampai ada


perbaikan mood (sekitar 5 - 10 kali), dilanjutkan dengan anti
depresan untuk mencegah kekambuhan.
b. Terapi Psikologik
1) Psikoterapi
Psikoterapi individual maupun kelompok paling efektif jika
dilakukan bersama-sama dengan pemberian antidepresan. Baik
pendekatan

psikodinamik

keberhasilannya.

maupun

Meskipun

kognitif

mekanisme

behavior

sama

psikoterapi

tidak

sepenuhnya dimengerti, namun kecocokan antara pasien dan


terapis dalam proses terapeutik akan meredakan gejala dan
membuat

pasien

lebih

nyaman,

lebih

mampu

mengatasi

persoalannya serta lebih percaya diri.


2) Terapi kognitif
Terapi kognitif - perilaku bertujuan mengubah pola pikir pasien
yang selalu negatif (persepsi diri, masa depan, dunia, diri tak
berguna, tak mampu dan sebagainya) ke arah pola pikir yang netral
atau positif. Ternyata pasien usia lanjut dengan depresi dapat

menerima metode ini meskipun penjelasan harus diberikan secara


singkat dan terfokus. Melalui latihan-latihan, tugas-tugas dan
aktivitas tertentu terapi kognitif bertujuan merubah perilaku dan
pola pikir.
3) Terapi keluarga
Problem keluarga dapat berperan dalam perkembangan penyakit
depresi, sehingga dukungan terhadap keluarga pasien sangat
penting. Proses penuaan mengubah dinamika keluarga, ada
perubahan posisi dari dominan menjadi dependen pada orang usia
lanjut. Tujuan terapi terhadap keluarga pasien yang depresi adalah
untuk meredakan perasaan frustasi dan putus asa, mengubah dan
memperbaiki sikap/struktur dalam keluarga yang menghambat
proses penyembuhan pasien.
4) Penanganan Ansietas (Relaksasi)
Teknik yang umum dipergunakan adalah program relaksasi
progresif baik secara langsung dengan instruktur (psikolog atau
terapis okupasional) atau melalui tape recorder. Teknik ini dapat
dilakukan dalam praktek umum sehari-hari. Untuk menguasai
teknik ini diperlukan kursus singkat terapi relaksasi.
Penanganan depresi dapat dilakukan pada lansia itu sendiri,
keluarga lansia dan masyarakat, yaitu:
a.

Diri Sendiri (Lansia)

Berfikir positif
Terbuka bila ada masalah
Menerima kondiri apa adanya
Ikut Kegiatan pengajian
Tidur yang cukup
Olahraga teratur
Optimis
Rajin beribadah
Latihan relaksasi
Ikut beraktivitas dan bekerja sesuai kemampuan

b. Keluarga

Dukung lansia tetap berkomunikasi


Ajak lansia berdiskuasi setiap minggu sekali
Mendengarkan keluahan lansia
Berikan bantuan ekonomi
Dukung kegiatan lansia
Ikut serta anak dan cucu merawat lansia
Memberikan kesempatan lansia beraktivitas sesuai dengan
kemampuan

c.

Masyarakat

Sediakan sarana posbindu untuk pelayanan kesehatan lansia


Siapkan tempat dan waktu latihan aktivitas lansia
Support group.

C. ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA DENGAN DEPRESI


1. Pengkajian
a. Identitas diri klien
b. Struktur keluarga : Genoogram
c. Riwayat Keluarga
d. Riwayat Penyakit Klien
Kaji ulang riwayat klien dan pemeriksaan fisik untuk adanya tanda dan gejala
karakteristik yang berkaitan dengan gangguan tertentu yang didiagnosis.
a. Kaji adanya depresi.
b. Singkirkan kemungkinan adanya depresi dengan scrining yang tepat,
seperti geriatric depresion scale.
c. Ajukan pertanyaan-pertanyaan pengkajian keperawatan
d. Wawancarai klien, pemberi asuhan atau keluarga.

Lakukan observasi langsung terhadap:


a.

Perilaku.

1) Bagaimana kemampuan klien mengurus diri sendiri dan melakukan


aktivitas hidup sehari-hari?
2) Apakah klien menunjukkan perilaku yang tidak dapat di-terima
secara sosial?
3) Apakah klien sering mengluyur danmondar-mandir?
4) Apakah ia menunjukkan sundown sindrom atau perseveration
phenomena?
b. Afek
1) Apakah kilen menunjukkan ansietas?
2) Labilitas emosi?
3) Depresi atauapatis?
4) lritabilitas?
5) Curiga?
6) Tidak berdaya?
7) Frustasi?
c. Respon kognitif
1) Bagaimana tingakat orientasi klien?
2) Apakah klien mengalamikehilangan ingatan tentang hal-hal yang baru
saja atau yang sudah lama terjadi?
3) Sulit mengatasi masalah, mengorganisasikan atau meng-abstrakan?
4) Kurang mampu membuat penilaian?
5) Terbukti mengalami afasia, agnosia atau apraksia?
2. Mengkaji Klien Lansia Dengan Depresi
a. Membina hubungan saling percaya dengan klien lansia
Untuk melakukan pengkajian pada lansiadengan depresi,
pertama-tama saudara harus membina hubungan saling percaya
dengan pasien lansia.
Untuk dapat membina hubngan saling percaya, dapat dilakukan
hal-hal sebagai berikut:
1) Selalu mengucapkan salam kepada pasien seperti: selamat
pagi/siang/sore/malam atau sesuai dengan konteks agama
pasien.
2) Perkenalkan nama saudara (nama panggilan) saudara,
termasuk menyampaikan bahwa saudara adalah perawat yang
akan merawat pasien.
3) Tanyakan pula nama
kesukaannya.

pasien

dan

nama

panggilan

4) Jelaskan tujuan saudara merawat pasien dan aktivitas yang


akan dilakukan.
5) Jelaskan pula kapan aktivitas akan dilaksanakan dan berapa
lama aktivitas tersebut.
6)

Bersikap empati dengan cara:


a) Duduk bersama klien, melakukan kontak mata, beri
sentuhan dan menunjukkan perhatian
b) Bicara lambat, sederhana dan beri waktu klien untuk
berpikir dan menjawab
c) Perawat mempunyai harapan bahwa klien akan lebih
baik
d) Bersikap hangat, sederhana akan mengekspresikan
pengharapan pada klien.

b. Mengkaji pasien lansia dengan depresi


Untuk mengkaji pasien lansia dengan depresi, saudara
dapat menggunakan tehnik mengobservasi prilaku pasien dan
wawancara langsung kepada pasien dan keluarganya. Observasi
yang saudara lakukan terutama untuk mengkaji data objektif
depresi. Ketika mengobservasi prilaku pasien untuk tanda-tanda
seperti:
1) Penampilan tidak rapi, kusut dan dandanan tidak rapi, kulit kotor
2)

(kebersihan diri kurang)


Interaksi selama wawancara: kontak mata kurang, tampak sedih,
murung, lesu, lemah, komunikasi lambat/tidak mau berkomunikasi.
Berikut ini adalah aspek psikososial yang perlu dikaji oleh perawat

yaitu apakah lansia mengalami kebingungan, kecemasan, menunjukkan


afek yang labil, datar atau tidak sesuai, apakah lansia mempunyai ide
untuk bunuh diri. Bila data tersebut saudara peroleh, data subjektif
didapatkan melalui wawancara dengan menggunakan skala depresi pada
lansia (Depresion Geriatric Scale).
3. Klasifikasi Data
a. Data Subjektif

1) Lansia Tidak mampu mengutarakan pendapat dan malas berbicara.


2) Sering mengemukakan keluhan somatik seperti: nyeri abdomen dan
dada, anoreksia, sakit punggung, pusing.
3) Merasa dirinya sudah tidak berguna lagi, tidak berarti, tidak ada tujuan
hidup, merasa putus asa dan cenderung bunuh diri.
4) Pasien mudah tersinggung dan ketidakmampuan untuk konsentrasi.
b. Data Objektif
1) Gerakan tubuh yang terhambat, tubuh yang melengkung dan bila
duduk dengan sikap yang merosot.
2) Ekspresi wajah murung, gaya jalan yang lambat dengan langkah yang
diseret.
3) Kadang-kadang dapat terjadi stupor.
4) Pasien tampak malas, lelah, tidak ada nafsu makan, sukar tidur dan
sering menangis.
5) Proses berpikir terlambat, seolah-olah pikirannya kosong, konsentrasi
terganggu, tidak mempunyai minat, tidak dapat berpikir, tidak
mempunyai daya khayal.
Pada pasien psikosa depresif terdapat perasaan bersalah yang
mendalam, tidak masuk akal (irasional), waham dosa, depersonalisasi dan
halusinasi. Kadang-kadang pasien suka menunjukkan sikap bermusuhan
(hostility), mudah tersinggung (irritable) dan tidak suka diganggu. Pada
pasien

depresi

juga

mengalami

kebersihan

diri

kurang

dan

keterbelakangan psikomotor.
4. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko mencederai diri berhubungan dengan depresi.
b. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif.
c. Ketidakberdayaan
d. Risiko bunuh diri
e. Gangguan pola tidur
5. Rencana Tindakan Keperawatan
a. Gangguan alam perasaan: depresi berhubungan dengan koping
maladaptif

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam


lansia merasa tidak stres dan depresi.
Kriteria Hasil:
1) Klien dapat meningkatkan harga diri
2) Klien dapat menggunakan dukungan sosial
3) Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat
N

Intervensi

Rasional

o
1

Bantu untuk memahami bahwa klien dapat Membangun motivasi

mengatasi keputusasaannya.
pada lansia
Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal Individu lebih percaya

individu
Bantu
mengidentifikasi

diri
sumber-sumber Menumbuhkan

harapan (misal: hubungan antar sesama, semangat hidup lansia


keyakinan, hal-hal untuk diselesaikan).

Klien

dapat

menggunakan
4

Kaji

dan

manfaatkan

dukungan sosial
sumber-sumber Lansia tidak merasa

ekstemal individu (orang-orang terdekat, tim sendiri


pelayanan kesehatan, kelompok pendukung,
5

agama yang dianut).


Kaji sistem pendukung keyakinan (nilai, Meningkatkan

nilai

pengalaman masa lalu, aktivitas keagamaan, spiritual lansia


6

kepercayaan agama).
Lakukan rujukan sesuai indikasi (misal: Untuk
konseling pemuka agama).

Diskusikan

tentang

obat

menangani

klien secara cepat dan


(nama,

tepat
dosis, Klien

frekuensi, efek dan efek samping minum menggunakan


obat).

obat

dengan benar dan tepat


Untuk
pemahaman

dapat

memberi
kepada

lansia tentang obat


Bantu menggunakan obat dengan prinsip 5 Prinsip 5 benar dapat

benar (benar pasien, obat, dosis, cara, waktu). memaksimalkan fungsi


9

obat secara efektif


Anjurkan membicarakan efek dan efek Menambah
samping yang dirasakan.

pengetahuan
tentang

10

lansia
efek-efek

samping obat.
Beri reinforcement positif bila menggunakan Lansia merasa dirinya
obat dengan benar.

lebih berharga

c. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan


dengan pemasukan yang tidak adekuat akibat penurunan nafsu
makan
Tujuan:
Tidak ada gangguan kebutuhan nutrisi pada klien
Kriteria hasil:
1) Nafsu makan meningkat
2) Tidak ada mual dan muntah
No
1

2
3

Intervensi
Rasional
Observasi porsi makanan yang telah di Mengkaji

intake

habiskan.

makanan yang telah di

Anjurkan makanan sedikit-sedikit tapi sering

habiskan.
Menghindari mual dan

Berikan makanan selagi hangat

muntah
Memberikan makanan
hangat dan lunak tidak
menyebabkan

mual

dan muntah.
Menghindari

Hindari makanan pantangan bagi klien.

komplikasi penyakit
Kolaborasi dengan dokter dengan pemberian Menghilangkan atau
terapi

mengurangi
pasien

c.

Resiko Bunuh Diri berhubungan dengan depresi


Tujuan:

keluhan

1) Klien tidak membahayakan dirinya sendiri


2) Pasien mempunyai alternatif penyelesaian

masalah

yang

konstruktif.
Kriteria hasil:
1) Mampu mengungkapkan ide bunuh diri
2) Mengenali cara-cara untuk mencegah bunuh diri
3) Mendemonstrasikan cara menyelesaikan masalah yang konstruktif
No
1.

Intervensi
Rasional
Diskusikan dengan pasien tentang Menggali ide dalam pikiran
ide-ide bunuh diri

klien tentang bunuh diri

Buat kontrak dengan pasien untuk Meminimalkan

resiko

tidak melakukan bunuh diri


pasien bunuh diri
Bantu pasien mengenali perasaan Menggali perasaan pasien
yang menjadi penyebab timbulnya tentang penyebab bunuh diri

ide bunuh diri


Ajarkan beberapa alternatif cara Membantu pasien
penyelesaian

yang membentuk koping adaptif

konstruktif
Bantu pasien untuk memilih cara Meringankan
yang

paling

menyelesaikan
6

masalah

tepat
masalah

dalam

masalah

untuk pasien
secara

konstruktif.
Beri pujian terhadap pilihan yang Pujian dapat menyenangkan
telah dibuat pasien dengan tepat.

perasaan pasien

Tindakan pada Keluarga


Tujuannya agar keluarga mampu:
1) Mengidentifikasi tanda-tanda perilaku bunuh diri pasien
2) Menciptakan lingkungan yang aman untuk mencegah perilaku
bunuh diri

3) Membantu pasien menggunakan cara penyelesaian masalah yang


konstruktif
Tindakan :
1) Diskusikan dengan keluarga tentang tanda-tanda perilaku klien saat
muncul ide bunuh diri
2) Diskusikan tentang cara mencegah perilaku bunuh diri pada pasien
a) Ciptakan lingkungan yang aman untuk pasien, singkirkan
semua

benda-benda

yang

memiliki

potensi

untuk

membahayakan klien (benda tajam, tali pengikat, ikat


b)
c)
d)
e)

pinggang, dan benda-benda lain yang terbuat dari kaca)


Antisipasi penyebab yang dapat membuat pasien bunuh diri
Lakukan pengawasan secara terus menerus
Anjurkan keluarga meluangkan waktu bersama klien
Mendiskusikan dengan keluarga koping positif yang pernah

dimiliki klien dalam menyelesaikan masalah


f) Anjurkan keluarga untuk membantu klien

untuk

menggunakan koping positif dalam menyelesaikan masalah


g) Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian terhadap
penggunaan koping positif yang telah digunakan oleh klien.
d. Gangguan Pola Tidur berhubungan dengan kecemasan
Tujuan:
1) Klien mampu mengidentifikasi penyebab gangguan pola tidur
2) Klien mampu memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur
Kriteria Hasil:
1) Klien mampu memahami faktor penyebab gangguan pola tidur.
2) Klien mampu memahami rencana khusus untuk menangani
atau mengoreksi penyebab tidur tidak adekuat.
3) Klien mampu menciptakan pola tidur yang adekuat dengan
penurunan terhadap pikiran yang melayang-layang (melamun).
4) Klien tampak atau melaporkan dapat beristirahat yang cukup.
No
Intervensi
Rasional
1 Bersama klien mengidentifikasi gangguan Untuk mengetahui apa
pola tidur

saja

penyebab

gangguan pola tidur


pada pasien

Diskusikan

cara-cara

utuk

memenuhi Mempermudah pasien

kebutuhan tidur (Minum air hangat atau susu untuk

memperoleh

hangat sebelum tidur, hindarkan minum yang kebutuhan tidur yang


mengandung

kafein

dan

coca

cola, baik

dengarkan musik yang lembut sebelum


3

tidur)
Anjurkan pasien untuk memilih cara yang Cara-cara yang sesuai
sesuai dengan kebutuhannya

dapat

mempermudah

pasien
Berikan lingkungan yang nyaman untuk Agar pasien
meningkatkan tidur.

dapat

kualitas tidur yang baik

Tindakan untuk Keluarga


Tujuan :
1) Keluarga mampu mengidentifikasi tanda dan gejala gangguan pola
tidur
2) Keluarga dapat membantu pasien untuk memenuhi kebutuhan tidur
Tindakan
1) Diskusikan dengan keluarga tentang tanda dan gejala gangguan
pola tidur pada pasien
2) Anjurkan keluarga untuk menciptakan lingkungan yang tenang
untuk memfasilitasi agar pasien dapat tidur.

BAB III
KESIMPULAN
Menurut organisasi kesehatan adalah usia pertengahan (midlle age)
kelompok usia45-70 tahun usia lanjut (elders) antara 60-70 tahun usia tua (old)
antara 75-90thn usia dangat tua(very old) diatas 90 tahun. Menurut prof koesmoto
setyonegoro lanjut usia adalah orang yg berumur 65 tahun keatas.

World Health Organization (WHO) mengelompokkan usia lanjut sebagai


berikut :
5. Middle Aggge (45-59 tahun)
6. Erderly (60-74 tahun)
7. Old (75-90 tahun)
8. Very old (> 91 tahun)
Aging

proses

adalah

suatu

periode

menarik

diri

yang

tak

terhindarkan dengan karakteristik menurunnya interaksi antara lansia dengan


orang lain di sekitarnya. Individu diberi kesempatan untuk mempersiapkan dirinya
menghadapi ketidamampuan dan bahkan kematia (Cox, 1984).
Perubahan- perubahan yang terjadi pada lansia. Meliputi perubahan dari
tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya sistem pernafasan,
pendengaran,

penglihatan,

kardiovaskuler,

sistem

pengaturan

tubuh,

muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.


Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai
komponen psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia,
serta komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin),
tekanan darah dan denyut nadi sedikit menurun.

DAFTAR PUSTAKA
STUAR and sundeer.1993.buku saku keperawatan jiwa.EGC.jakarta.
Tim keperawatan jiwa.1999.kumpulan proses keperawatan jiwa.fkui.jakarta
Nugroho wahyudi.2000.perawatan lanjut usia.edisi 2.EGC
http://rusari.com/askep_depresi.html