You are on page 1of 5

PENDAHULUAN

Sistem informasi merupakan sebuah sistem yang mempunyai kemampuan untuk mengumpulkan informasi dari
berbagai sumber. Tujuan pengembangan sistem informasi manajemen adalah merancang dan membangun sistem
dari proses manual menjadi sebuah sistem yang mudah digunakan oleh pengguna (user). Pengolahan data dengan
menggunakan sistem manual (tanpa menggunakan program aplikasi khusus atau komputer) sering ditemukan
berbagai kesulitan, seperti hasil yang tidak sesuai dengan yang direncanakan atau diinginkan, membutuhkan banyak
waktu, banyak ditemukan kekeliruan, hasil laporan yang kurang informatif, serta membutuhkan banyak biaya karena
proses yang lama. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem informasi manajemen untuk mempermudah
penggunaan informasi bagi pengguna (user).
Sistem Informasi Manajemen merupakan sistem informasi yang mengevaluasi, menganalisa, dan proses data
organisasi untuk menghasilkan informasi yang berarti dan berguna berdasarkan yang manajemen dapat mengambil
keputusan yang tepat untuk memastikan pertumbuhan masa depan organisasi.

TINJAUAN PUSTAKA
SISTEM INFORMASI
Sistem informasi memuat berbagai informasi penting mengenai orang, tempat, dan segala sesuatu yang ada di
dalam atau di lingkungan sekitar organisasi. Informasi sendiri mengandung suatu arti yaitu data yang telah diolah ke
dalam suatu bentuk yang lebih memiliki arti dan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan. Data sendiri
merupakan fakta-fakta yang mewakili suatu keadaan, kondisi, atau peristiwa yang terjadi atau ada di dalam atau di
lingkungan fisik organisasi. Data tidak dapat langsung digunakan untuk pengambilan keputusan, melainkan harus
diolah lebih dahulu agar dapat dipahami, lalu dimanfaatkan dalam pengambilan keputusan (BPKP, 2007).
Informasi harus dikelola dengan baik dan memadai agar memberikan manfaat yang maksimal. Penerapan
sistem informasi di dalam suatu organisasi dimaksudkan untuk memberikan dukungan informasi yang dibutuhkan,
khususnya oleh para pengguna informasi dari berbagai tingkatan manajemen. Sistem informasi yang digunakan oleh
para pengguna dari berbagai tingkatan manajemen ini biasa disebut sebagai Sistem Informasi Manajemen. Sistem
informasi mengandung tiga aktivitas dasar di dalamnya, yaitu: aktivitas masukan (input), pemrosesan (processing),
dan keluaran (output). Tiga aktivitas dasar ini menghasilkan informasi yang dibutuhkan organisasi untuk
pengambilan keputusan, pengendalian operasi, analisis permasalahan, dan menciptakan produk atau jasa baru.
Masukan berperan di dalam pengumpulan bahan mentah (raw data), baik yang diperoleh dari dalam maupun dari
lingkungan sekitar organisasi. Pemrosesan berperan untuk mengkonversi bahan mentah menjadi bentuk yang lebih
memiliki arti. Sedangkan, keluaran dimaksudkan untuk mentransfer informasi yang diproses kepada pihak-pihak
atau aktivitasaktivitas yang akan menggunakan. Sistem informasi juga membutuhkan umpan balik (feedback), yaitu
untuk dasar evaluasi dan perbaikan di tahap input berikutnya.
Dewasa ini, sistem informasi yang digunakan lebih berfokus pada sistem informasi berbasis komputer
(computer-based information system). Harapan yang ingin diperoleh di sini adalah bahwa dengan penggunaan
teknologi informasi atau sistem informasi berbasis komputer, informasi yang dihasilkan dapat lebih akurat,
berkualitas, dan tepat waktu, sehingga pengambilan keputusan dapat lebih efektif dan efisien. Meskipun sistem
informasi berbasis komputer menggunakan teknologi komputer untuk memproses data menjadi informasi yang
memiliki arti, ada perbedaan yang cukup tajam antara komputer dan program komputer di satu sisi dengan sistem
informasi di sisi lainnya. Komputer dan perangkat lunak komputer yang tersedia merupakan fondasi teknis, alat, dan
material dari sistem informasi modern. Komputer dapat dipakai sebagai alat untuk menyimpan dan memproses
informasi. Program komputer atau perangkat lunak komputer merupakan seperangkat instruksi operasi yang
mengarahkan dan mengendalikan pemrosesan informasi.
TEORI KETENAGAKERJAAN

Tenaga kerja merupakan penduduk yang berada dalam usia kerja. Menurut UU No. 13 tahun 2003 Bab I pasal
1 ayat 2 disebutkan bahwa tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan
barang dan atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat. Secara garis besar
penduduk suatu negara dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu tenaga kerja dan bukan tenaga kerja.
Sedangkan menurut DR Payaman Siamanjuntak dalam bukunya Pengantar Ekonomi Sumber Daya Manusia
tenaga kerja adalah penduduk yang sudah atau sedang bekerja, yang sedang mencari pekerjaan, dan yang
melaksanakan kegiatan lain seperti bersekolah dan mengurus rumah tangga. Secara praksis pengertian tenaga kerja
dan bukan tenaga kerja menurut dia hanya dibedakan oleh batas umur.
Jadi yang dimaksud dengan tenaga kerja yaitu individu yang sedang mencari atau sudah melakukan pekerjaan
yang menghasilkan barang atau jasa yang sudah memenuhi persyaratan ataupun batasan usia yang telah ditetapkan
oleh Undang-Undang yang bertujuan untuk memperoleh hasil atau upah untuk kebutuhan hidup sehari-hari.
Ada beberapa konsep ketenagakerjaan yang berlaku secara umum menurut Nainggolan (2009), yaitu sebagai
berikut:
1.

2.

3.

4.

5.

Tenaga Kerja (manpower) atau penduduk usia kerja (UK).


Tenaga kerja adalah penduduk usia kerja (berusia 15 tahun ke atas) atau jumlah seluruh penduduk
dalam suatu negara yang dapat memproduksi barang dan jasa jika ada permintaan terhadap tenaga mereka,
dan jika mereka mau berpartisipasi dalam aktivitas tersebut.
Angkatan Kerja (labor force).
Angkatan kerja adalah bagian dari tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat atau berusaha untuk
terlibat, atau berusaha terlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa, maka yang merupakan angkatan
kerja adalah penduduk yang kegiatan utamanya selama seminggu yang lalu bekerja (K) dan penduduk yang
sedang mencari pekerjaan (MP). Angkatan kerja yang masuk kategori bekerja apabila minimum bekerja
selama 1 jam selama seminggu lalu untuk kegiatan produktif sebelum pencacahan dilakukan. Mencari
pekerjaan adalah seseorang yang kegiatan utamanya sedang mencari pekerjaan, atau sementara sedang
mencari pekerjaan dan belum bekerja minimal 1 jam selama seminggu yang lalu. Jadi angkatan kerja dapat
diformulasikan melalui persamaan identitas sebagai berikut: AK = K + MP.
Penjumlahan angka angka angkatan kerja dalam bahasa ekonomi disebut sebagai penawaran
angkatan kerja (labour supply). Sedangkan penduduk yang berstatus sebagai pekerja atau tenaga kerja
termasuk ke dalam sisi permintaan (labour demand).
Bukan Angkatan Kerja (unlabour force).
Bukan angkatan kerja adalah penduduk yang berusia (15 tahun ke atas), namun kegiatan utama selama
seminggu yang lalu adalah sekolah, mengurus rumah tangga dan lainnya. Apabila seseorang yang sekolah,
mereka bekerja minimal 1 jam selama seminggu yang lalu, tetapi kegiatan utamanya adalah sekolah, maka
individu tersebut tetap termasuk adalam kelompok bukan angkatan kerja. Mereka yang tercatat lainnya
jumlahnya tidak sedikit dan mungkin sebagian besar masuk ke dalam transisi antara sekolah untuk
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi atau tiuak dalam ketegori bukan angkatan kerja
(BAK). Jadi jumlah usia kerja (UK) apabila dilihat melalu persamaan identias adalah sebagai berikut: UK =
AK + BAK
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (labour force participation rate).
Tingkat partisipasi angkatan kerja adalah menggambarkan jumlah angkatan kerja dalam suatu kelompok
umur sebagai persentase penduduk dalam kelompok umur tersebut, yaitu membandingkan angkatan kerja
dengan tenaga kerja.
Tingkat Pengangguran (unemployment rate).
Tingkat pengangguran adalah angka yang menunjukkan berapa banyak dari jumlah angkatan kerja sedang
aktif mencari pekerjaan, yaitu membandingkan jumlah orang yang mencari pekerjaan dengan jumlah
angkatan kerja.

Jumlah orang yang bekerja tergantung dari besarnya permintaan (demand) dan lapangan pekerjaan yang
tersedia di dalam masyarakat. Permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh kegiatan perekonomian dan tingkat upah.
Besar penempatan (jumlah orang yang bekerja atau tingkat employment) dipengangaruhi oleh faktor kekuatan

penyediaan dan permintaan tersebut, sedangkan besarnya penyediaan dan permintaan tenaga kerja dipengaruhi oleh
tingkat upah (Nainggolan, 2009). Pada ekonomi ekonomi klasik bahwa penyediaan atau penawara tenaga kerja akan
meningkat ketika upah naik, sebaliknya permintaan tenaga kerja akan berkurang ketika upah turun.
KLASIFIKASI KERJA
Klasifikasi tenaga kerja adalah pengelompokan akan ketenagakerjaan yang sudah tersusun berdasarkan kriteria
yang sudah di tentukan. Berikut klasifikasi kerja menurut Pius Partanto dkk, (2001), yaitu:
A. Berdasarkan Penduduknya
1. Tenaga Kerja, adalah seluruh jumlah penduduk yang dianggap dapat bekerja dan sanggup bekerja jika
tidak ada permintaan kerja. Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja, mereka yang dikelompokkan sebagai
tenaga kerja yaitu mereka yang berusia antara 15 tahun sampai dengan 64 tahun.
2. Bukan Tenaga Kerja, adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada
permintaan bekerja. Menurut Undang-Undang Tenaga Kerja No. 13 Tahun 2003, mereka adalah penduduk
di luar usia, yaitu mereka yang berusia di bawah 15 tahun dan berusia di atas 64 tahun. Contoh kelompok
ini adalah para pensiunan, para lansia (lanjut usia) dan anak-anak.
B. Berdasarkan Batas Kerja
1. Angkatan kerja, adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai
pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan.
2. Bukan angkatan kerja, adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya
bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kelompok ini adalah: anak sekolah dan
mahasiswa, para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan para pengangguran sukarela.
C. Berdasarkan Kualitas Kerja
1. Tenaga kerja terdidik, adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang
tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Contohnya: pengacara, dokter,
guru, dan lain-lain.
2. Tenaga kerja terlatih, adalah tenaga kerjayang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan
melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini dibutuhkan latihan secara berulang-ulang
sehingga mampu menguasai pekerjaan tersebut. Contohnya: apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lainlain.
3. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih, adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan
tenaga saja. Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga, dan sebagainya
KESEMPATAN KERJA
Pembangunan ekonomi setiap negara membutuhkan sumber daya. Salah satu sumber daya yang diperlukan
adalah manusia. Sumber daya manusia berperan penting dalam proses pembangunan, karena sumber daya manusia
merupakan penggerak faktor-faktor produksi. Kesempatan kerja berhubungan dengan lapangan pekerjaan yang
tersedia atau kesempatan yang tersedia untuk bekerja akibat dari suatu kegiatan ekonomi, maka definisi dari
kesempatan kerja adalah mencakup lapangan pekerjaan yang sudah di isi dan semua lapangan pekerjaan yang masih
terbuka. Lapangan pekerjaan yang yang terbuka menimbulkan kebutuhan akan tenaga kerja. Kebutuhan tenaga kerja
ini dibutuhkan oleh setiap perusahaan untuk melakukan kegiatan ekonomi perusahaan tersebut pada tingkat upah,
posisi (jabatan), dan syarat kerja tertentu. Data kesempatan sulit diperoleh, maka yang digunakan adalah besarnya
jumlah orang yang bekerja pada daerah tertentu.
Tingginya kesempatan kerja di suatu daerah akan berpengaruh pada pembangunan ekonominya, dengan
demikian jumlah penduduk indonesia yang cukup besar akan menentukan percepatan laju pertumbuhan
ekonominya. Kesempatan kerja yang tersedia dan kualitas tenaga kerja yang digunakan akan menentukan proses
pembangunan ekonomi untuk menjalankan kegiatan ekonominya yang berupa proses produksi.
Permintaan tenaga kerja adalah hubungan antara tingkat upah dan kuantitas tenaga kerja yang dikehendaki oleh
perusahaan untuk di perkerjakan (Arfida, 2003). Suatu kurva permintaan tenaga kerja menggambarkan jumlah
maksimum tenaga kerja yang suatu perusahaan bersedia untuk memperkerjakannya pada setiap kemungkinan
tingkat upah dalam jangka waktu tertentu. Kurva permintaan tenaga kerja dapat dilihat sebagai gambaran bagi setiap

kemungkinan jumlah tenaga kerja dengan tingkat upah maksimum di mana pihak perusahaan bersedia untuk
memperkerjakan.
Permintaan tenaga kerja berkaitan dengan produk marginal tenaga kerja. Produk marginal tenaga kerja adalah
peningkatan jumlah hasil produksi dari satu unit tenaga kerja (Mankiw, 2006). Penambahan jumlah tenaga kerja
akan menurunkan produk marginal tenaga kerja, dengan asumsi perusahaan berada pada pasar persaingan sempurna
(tingkat harga adalah konstan). Semakin banyak pekerja yang dipakai maka kontribusi setiap pekerja tambahan
semakin sedikit tingkat produktifitasnya, perilaku ini disebut penurunan produk marginal (diminishing marginal
product).
Menurut Sumarsono (2003), permintaan tenaga kerja dipengaruhi:
1.

2.

Perubahan tingkat upah akan mempengaruhi tinggi rendahnya biaya produksi perusahaan. Apabila
digunakan asumsi bahwa tingkat upah naik, maka akan terjadi hal hal berikut:
a) Naiknya tingkat upah akan meningkatkan biaya produksi perusahaan, yang selanjutnya akan
meningkatkan pula harga per unit barang yang diproduksi. Biasanya para konsumen akan memberikan
respon yang cepat apabila terjadi kenaikan harga barang, yaitu mengurangi konsumsi atau bahkan tidak
lagi mau membeli barang yang bersangkutan. Akibatnya banyak produksi barang yang tidak terjual,
dan terpaksa produsen menurunkan jumlah produksinya. Turunnya target produksi, mengakibatkan
berkurangnya tenaga kerja yang dibutuhkan. Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena
pengaruh turunnya skala produksi disebut dengan efek skala produksi atau scale effect.
b) Apabila upah naik (asumsi harga dari barang barang modal lainya tidak berubah), maka pengusaha ada
yang lebih suka menggunakan teknologi padat modal untuk proses produksinya dan menggantikan
kebutuhan akan tenaga kerja dengan kebutuhan akan barang-barang modal seperti mesin dan lain-lain.
Penurunan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan karena adanya penggantian atau penambahan
penggunaan mesin-mesin disebut dengan efek substitusi tenaga kerja atau substitution effect.
Faktor-faktor lain yang mempengaruhi permintaan tenaga kerja
a) Naik turunnya permintaan pasar akan hasil produksi dari perusahaan yang bersangkutan. Apabila
permintaan hasil produksi perusahaan meningkat, maka produsen cenderung untuk menambah
kapasitas produksinya. Untuk maksud tersebut produsen akan menambah penggunaan tenaga kerjanya.
b) Apabila harga barang-barang modal turun, maka biaya produksi akan turun dan tentunya
mengakibatkan pula harga jual perunit barang akan turun. Pada keadaan ini produsen cenderung untuk
meningkatkan produksi barangnya karena permintaan bertambah banyak. Disamping itu permintaan
tenaga kerja dapat bertambah besar karena peningkatan kegiatan perusahaan. Keadaaan ini
menyebabkan bergesernya kurva permintaan tenaga kerja ke arah kanan. Pergeseran ini karena
pengaruh skala produksi atau scale effect. Efek selanjutnya akan terjadi bila harga barang-barang
modal turun adalah efek substitusi. Keadaan ini dapat terjadi karena produsen cenderung untuk
menambah jumlah barang modal (mesin) sehingga terjadi kapital intensif dalam proses produksi. Jadi
secara relatif penggunaan tenaga kerjanya akan berkurang.

MASALAH KETENAGAKERJAAN
Salah satu masalah mendasar yang dihadapi Indonesia disepanjang perjalanan menjadi bangsa yang merdeka
menurut Jannes E. W dan Ironi P. D (2005) adalah masalah pengangguran, dimana pemerintah dengan berbagai
upaya yang telah dilakukan untuk mengurangi akan tingkat pengangguran. Upaya yang ditempuh pemerintah dalam
persoalan pengganguran dari waktu ke waktu ditempuh melalui berbagai pendekatan pembangunan bertumpu pada
pertumbuhan ekonomi (productioncontered development). Namun pada kenyataanya masalah ketenagakerjaan di
Indonesia masih banyak yang belum bisa diatasi oleh pemerintah.
Permasalahan yang timbul dalam dunia ketenagakerjaan di Indonesia adalah sebagai berikut (Cosmas, 1997):
1.

Perluasan lapangan pekerjaan. Masalah perluasan lapangan merupakan masalah yang mendesak, selama
pelita IV sebenarnya cukup banyak diciptakan lapangan kerja. Namun, angkatan kerja bertambah melebihi
kemampuan penciptaan lapangan kerja, sehingga jumlah pengganguran dan setengah penganguran masih
cukup besar. Untuk replika ke V tantangan perluasan lapangan pekerjaan tersebut menjadi semakin besar

2.

3.

4.

karena angkatan kerja Indonesia diperkirakan akan bertambah dan terus bertambah. Sebagian besar dari
mereka terdiri dari angkatan kerja usia muda, wanita dan berpendidikan relatif tinggi (sekolah menegah).
Oleh karenanya diharapkan dalam masa perkembangan ini diciptakan lapangan kerja baru diberbagai sektor
untuk dapat menampung pertambahan angkatan kerja yang semakin banyak akibat pertumbuhan penduduk
yang sangat cepat.
Peningkatan mutu dan kemampuan kerja. Mutu dan kemampuan tenaga kerja Indonesia keseluruhan relativ
masih tergolong rendah. Untuk meningkatkanya telah dilakukan melalui berbagai program pendidikan dan
latihan yang selaras dengan tuntutan perkembangan pembangunan dan teknologi agar dapat didayagunakan
seefektif dan semaksimal mungkin. Namun demikian, secara keseluruhan mutu dan kemampuan tenaga
kerja Indonesia masih tergolong rendah yang tercermin dari rendahnya produktivitas kerja, baik tingkatnya
maupun pertumbuhanya. Dalam era modernisasi peningkatan mutu dan kemampuan kerja tidak hanya
berkaitan dengan besarnya jumlah angkatan kerja yang harus dididik dan dilatih, tetapi juga berkaitan
dengan kesesuain serta kualitas hasil pendidikan dan latihan dengan kebutuhan lapangan kerja dan
persyaratan kerja. Permasalahan ini kadang-kadang bersifat dilematis mengingat terbatasnya sumber daya
yang tersedia. Namun demikian disinilah letak tantangan yang harus dihadapi, yaitu bagaimana dengan
sumber daya yang terbatas kita dapat meningkatkan mutu dan kemampuan tenaga kerja Indonesia secara
merata, sehingga dapat dicapai peningkatan produktivitas dan mutu tenaga kerja Indonesia. Menyadari
akan masih rendahnya mutu tenaga kerja Indonesia maka diperlukan akan adanya peningkatan pendidikan
formal, pendidikan formal yang bersifat umum maupun kejuruan dalam upaya membangun dan
mengembangkan pengetahuan, bakat, kepribadian dan sikap mental, kreatifitas penalaran dan kecerdasan
seseorang. Itu semua merupakan fondasi dari semua sumber daya manusia di masa sekarang. Di samping
pendidikan formal, jalur latihan kerja juga sangat penting perananya dalam peningkatan mutu tenaga kerja
Indonesia. Latihan kerja merupakan proses pengembangan keahlian dan keterampilan kerja yang langsung
dikaitkan dengan pekerjaan dan persyaratan kerja atau dengan kata lain, latihan kerja erat hubunganya
dengan pengembangan profesionalisme tenaga kerja, dan berfungsi sebagai suplemen atau komplemen dari
pendidikan formal, selanjutnya dari keduanya disusun dan dikembangkan secara terpadu sebagai satu
kesatuan sistem pembinaan sumber daya manusia.
Penyebaran tenaga kerja
Penyebaran dan pendayagunaan kerja, telah dikembangkan melalui berbagai program dan kebijakan yang
tujuan untuk meningkatkan pendayagunaan serta penyebaran tenaga kerja yang lebih merata baik secara
sektoral maupun regional. Secara sektoral pembangunan sektor-sektor di luar sektor pertanian terus
ditingkatakan untuk dapat memperbesar perananya baik menghasilkan nilai lebih atau penyerapan tenaga
kerja. Namun demikian, meninggat sebagian angkatan kerja Indonesia mutunya relatif masih rendah dan
berasal dari sektor pertanian. Sektor regional kita masih menghadapi masalah penyebaran angkatan kerja
yang bertumpuk di pulau Jawa. Penyebaran angkatan kerja yang kurang merata baik secara sektoral
maupun regional menyulitkan penyediaan dan pendayahgunaan tenaga kerja secara maksimal, sehingga
menimbulkan situasi pasar kerja paradoksal sesuatu yang bersifat bertolak belakang. Untuk maksud
penyebaran tenaga kerja secara regional, kebijakan dan program yang dikembangkan antara lain program
kerja antardaerah, transmigrasi, pengupahan dan sebagaianya. Sedang untuk penyebaran tenaga kerja
secara sektoral dilakukan melalui latihan kerja dan permagangan. Di samping itu juga diperlukan
pengembangan sistem informasi ketenagakerjaan dan pasar kerja.
Perlindungan Tenaga Kerja
Perlindungan tenaga kerja yang dimaksudkan agar tenaga kerja dapat bekerja lebih produktif, sehat dan
sejatera, sehingga mereka dapat hidup layak bersama keluarganya. Hal ini penting mengingat perubahan
struktur ekonomi dan lapangan kerja yang semakin cepat, akan membawa dampak negatif bagi tenaga
kerja, di mana perubahan tersebut tidak memihak kepada tenaga kerja. Para tenga kerja sering merasa
dirugikan atupun dieksploitasi oleh pemimpin atau para pengusaha yang semena-mena mentapkan
kebijakan bagi para karyawan maupun para buruh, minimnya upah dan jaminan akan keselamatan kerja
sering menjadi masalah dalam dunia tenaga kerja Indonesia. Perlu adanya peningkatan kondisi lingkungan
kerja dimaksudkan untuk menciptakan kondisi lingkngan kerja yang aman dan sehat, sehingga para pekerja
dapat bekerja dengan tenang dan produktif sesuai dengan pasal 27 ayat (2) UUD 1945 apabila tenaga kerja
dapat hidup layak, maka motivasi dan produktivitas kerjanya akan meningkat.