You are on page 1of 7

Seminar Nasional Ke III

Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Analisis Morfotektonik Daerah Garut Selatan dan Sekitarnya


Berdasarkan Metode Geomorfologi Kuantitatif
Akhmad Rafighian1, Iyan Haryanto2, Emi Sukiyah3dan Edy Sunardi4
1Fakultas Teknik Geologi, Universitas Padjadjaran
2Jalan Raya Bandung-Sumedang KM. 21 Jatinangor, Sumedang, 45363, Indonesia
Email : akhmadrafighian@gmail.com

Abstrak
Penelitian ini bertujuan menentukan tingkat aktivitas tektonik yang berkembang di daerah
Garut Selatan menggunakan metode perhitungan geomorfologi kuantitatif. Berdasarkan
analisis citra satelit DEM SRTM (Digital Elevation Model Shuttle Radar Topography
Mission) di daerah penelitian terdapat pegunungan yang berindikasi terdapatnya aktivitas
tektonik. Daerah penelitian dibagi menjadi 11 Daerah Aliran Sungai (DAS). Aspek-aspek
dimensi dan bentukan DAS dianalisis menggunakan morfometri untuk mengidentifikasi
keaktifan tektonik wilayah penelitian. Dari hasil statistik beberapa metode juga dapat
mengindikasi struktur yang berkembang di wilayah penilitian.
Kata Kunci : geomorfologi kuantitatif, morfotektonik

Pendahuluan
Daerah penelitian berada di 107,36BT
107,72BT dan 7,39LS 7,64LS, berada di
daerah Garut Selatan.
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan
untuk mengetahui tingkat aktivitas tektonik aktif
yang sedang berlangsung di daerah penelitian.
Hasil penelitian didapat melalui perhitungan dan
analisis geomorfologi kuantitatif
Aspek geomorfologi kuantitatif yang dikaji
berupa sungai, lembahan dan pegunungan di
daerah penelitian. Oleh sebab itu daerah penelitian
dibagi menjadi beberapa daerah aliran sungai
(DAS) yang masing masingnya akan dihitung
nilai morfologi kuantitatifnya
Metode Penelitian
Untuk mengetahui tingkat aktivitas tektonik
di
daerah
penelitian
diperlukan
studi
morfotektonik. Dalam studi morfotektonik
analisis
morfometri
digunakan
untuk
mengidentifikasi karakteristik bentuk wilayah

serta kaitannya dengan aktivitas tektonik yang


berkembang.
Dari penelitian ini data yang diperoleh
berupa data sekunder yang diperoleh melalui
beberapa metode perhitungan.
Analisis Geomorfologi Kuantitatif
Morfometri DAS
Morfometri
atau
karakteristik
dari
geomorfologi DAS merupakan nilai kuantitatif
dari parameter-parameter yang terkandung pada
suatu daerah aliran sungai (DAS). Morfometri
Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah istilah yang
digunakan untuk menyatakan keadaan jaringan
alur sungai secara kuantitatif, keadaan yang
dimaksud adalah untuk analisa aliran sungai,
antara lain meliputi :
1.) Luas DAS
Garis batas antara DAS adalah punggung
permukaan bumi yang dapat memisahkan dan
membagi air hujan ke masing-masing DAS. DAS
merupakan tempat pengumpulan presipitasi ke

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

suatu sistem sungai. Luas daerah aliran dapat


diperkirakan dengan mengukur daerah tersebut
pada peta topografi dan citra inderaan jauh 3D.
2.) Panjang DAS
Panjang DAS adalah sama dengan jarak
datar dari muara sungai ke arah hulu sepanjang
sungai induk. Sedangkan lebar DAS adalah
perbandingan antara luas DAS dengan panjang
sungai induk.
Lebar (W) = Luas DAS (A) / Panjang
(Lb) Sungai Induk
3.) Kemiringan atau Gradien Sungai

Keterangan :
Dd = indeks kerapatan sungai (km/km2)
L = jumlah panjang sungai termasuk anak-anak
sungainya (Km)
A = Luas DAS (km2)
6.) Bentuk Daerah Aliran Sungai
Pola sungai menentukan bentuk suatu DAS.
Bentuk DAS mempunyai arti penting dalam
hubungannya dengan aliran sungai, yaitu
berpengaruh terhadap kecepatan terpusat aliran.
Menurut Gregari dan Walling (1975).

Gradien atau kemiringan sungai dapat


diperoleh dengan persamaan sebagai berikut:
G = J.Vertikal/J.Horisontal
Keterangan :

Rc = 4A/P2
Keterangan :
Rc = Basin circularity

A = Luas DAS (m2)

P = Keliling (m)

= 3,14

G = Gradien Sungai
J. Vertikal = Beda tinggi antara hulu dengan hilir
(m)
J. Horisontal = Panjang sungai induk (m)
4.) Orde dan Tingkat Percabangan Sungai
Untuk menghitung tingkat percabangan
sungai dapat digunakan rumus:

7.) Nisbah Perpanjangan Sungai


Schumm
(dalam
Seyhan,
1981),
mengatakan bahwa nisbah perpanjangan (Re)
adalah nisbah antara garis tengah suatu lingkaran
yang mempunyai luas sama dengan luas DAS,
dengan panjang sungai utama.
Re = (2(/) ) / Lb

Rb = Nu/Nu+1
Keterangan :

Keterangan:

Rb = Indeks tingkat percabangan sungai

Re = Nisbah perpanjangan

Nu = jumlah alur sungai untuk orde ke u

A = Luas DAS

Nu + 1 = jumlah alur sungai untuk orde ke u + 1

Lb = panjang sungai induk

5.) Kerapatan Sungai

Morfometri Non DAS

Kerapatan aliran sungai menggambarkan


kapasitas penyimpanan air permukaan dalam
cekungan-cekungan seperti danau, rawa dan
badan sungai yang mengalir di suatu DAS.

1.) Mountain Front Sinuosity (Smf) / Sinusitas


Muka Pegunungan (Smf)

Dd = L/A

Sinusitas
muka
pegunungan
(Smf)
merupakan rangkaian pegunungan yang terdapat
pada bagian depan atau muka yang menghadap ke
daerah dataran. Muka pegunungan tersebut
merupakan kumpulan kenampakan bentang alam

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

yang terdiri dari gawir, sungai yang mengikis


gawir tersebut dan bentuk lahan baru. Muka
pegunungan pada umumnya merupakan bidang
sesar atau zona sesar dan dapat terbentuk pada
semua jenis sesar, yaitu sesar naik, normal, dan
mendatar.
Persamaan untuk
pegunungan (Smf ) adalah:

menghitung

muka

Smf = Lmf / Ls
Keterangan:
Lmf = Panjang lekukan muka pegunungan pada
bagian bagian bawah
Ls

= Jarak lurus muka pegunungan

Hasil Penelitian
Daerah penelitian dibagi menjadi 14 DAS, sebagaimana gambar berikut ini:

Gambar 1. Peta pembagian daerah aliran sungai

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

hasil perhitungan aspek morfometri masing


masing DAS ialah sebagai berikut:
A (km2)
78,86
44,59
36,27
69,57
55,67
71,24
89,13
128,4
44,71
71,12
37,61

DAS
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Lb (km)
13,13
13,01
14,89
17,97
18,84
13,74
19,85
23,02
12,67
14,54
9,58

W (km)
5,40
3,04
2,43
3,50
2,95
5,18
4,49
5,58
3,53
4,37
3,93

DAS

61

22

45

10

59

10

107

21

94

21

98

23

133

38

298

76

18

78

18

10

171

27

11

57

10

Tabel 3. Jumlah orde sungai

Tabel 1. Hasil perhitungan luas, lebar dan panjang


DAS
Nilai gradient sungai (G) untuk masing masing
DAS yaitu:

Orde

Berikut merupakan nilai tingkat percabangan


sungai (Rb) tiap DAS:
DAS

Rb1/2

Rb2/3

Rb3/4

Rb4/5 Rb5/6

2,77

3,67

DAS

J.V

J.H

4,5

10

425

12800

0.033203125

5,9

575

13260

0.043363499

5,09

3,5

950

12160

0.078125

4,48

5,75

1075

15710

0.068427753

4,26

5,75

1250

12690

0.098502758

3,5

4,75

875

12220

0.071603928

3,92

4,22

1300

19590

0.066360388

4,33

3,6

1012

20710

0.048865282

10

6,33

5,4

725

10890

0.066574839

11

5,7

10

938

13550

0.069225092

Tabel 4. Nilai Rb tiap DAS

11

450

8640

0.052083333

Karena tidak semua DAS memiliki orde ke4, 5 dan 6, maka nilai yang dirata ratakan hanya
nilai Rb1/2 dan Rb2/3 dimana nilainya ialah 4,58
dan 5,14. Nilai Rb tersebut menandakan bahwa
daerah ini kemungkinan terkena deformasi
struktur yang berkembang di daerah penelitian.

Tabel 2. Hasil perhitungan nilai gradien sungai


Pada tiap DAS, sungai dikelompokan
berdasarkan orde menggunakan metode Strahler
(1975). Berikut merupakan jumlah sungai dengan
orde tertentu untuk masing masing DAS:

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Nilai kerapatan sungai (Dd), nisbah bentuk sungai (Rc) dan nisbah panjang sungai (Re):
DAS

A (km2)

L (km)

Dd
(km/km2)

P (km)

P2 (km2)

Rc

Lb

Re

78,86

181,5

2,301547

39,88

1590,414

0,622782

13,13

0.783

44,59

107,3

2,406369

39,42

1553,936

0,360408

13,01

0.568

36,27

95,98

2,646264

37,08

1374,926

0,331328

14,89

0.559

69,57

185,6

2,667817

52,06

2710,244

0,322406

17,97

0.599

55,67

168,5

3,026765

45,11

2034,912

0,34361

18,84

0.663

71,24

178,8

2,509826

38,8

1505,44

0,594361

13,74

0.7795

89,13

259,9

2,915965

49,65

2465,123

0,454125

19,85

0.544

128,4

432,1

3,365265

58,37

3407,057

0,473342

23,02

0.618

44,71

122,4

2,737643

36,36

1322,05

0,424763

12,67

0.693

10

71,12

216,3

3,041339

43,42

1885,296

0,473807

14,54

0.702

11

37,61

98,24

2,612071

28,83

831,1689

0,568334

9,58

0.801

Rata rata nilai Dd adalah 2,748 termasuk


dalam kategori sedang yang berada pada jarak
0.25 10 km/km2.
Nilai sinuitas muka pegunungan (Smf) dari
beberapa garis pada pegunungan di tiap wilayah
DAS ialah:

DAS

Lmf

Ls

Smf

10,34

8,53

1,212192

10,82

6,96

1,554598

10,05

3,38

2,973373

7,59

4,76

1,594538

7,08

4,74

1,493671

6,32

4,94

1,279352

12,31

7,17

1,716876

11,7

7,99

1,46433

7,33

4,48

1,636161

10

9,81

6,56

1,495427

11

7,47

4,17

1,791367

Delineasi Lembahan, Struktur Geologi dan Citra


DEM
Hasil penarikan kelurusan lembahan/sungai
menghasilkan diagram rosette sebagai berikut:

Gambar 2. Diagram rosette kelurusan lembahan

Diagram rosette penarikan kelurusan DEM


sebagai berikut:

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Rata rata nilai Rb1/2 ialah 4,58 dan Rb2/3


ialah 5,14. Nilai Rb tersebut menandakan bahwa
kemungkinan DAS di daerah penelitian dikontrol
oleh tektonik aktif.
3.) Kerapatan Pengaliran (Dd)

Gambar 3. Diagram rosette kelurusan regional

Diagram rosette kelurusan struktur geologi


di daerah penelitian adalah sebagai berikut:

Rata rata nilai Dd ialah 2,748 dan masuk


kategori sedang karena rentangnya berada dalam
jarak 0,25 10 km/km2. Hal ini menandakan
bahwa secara keseluruhan DAS di daerah
penelitian memiliki kemampuan menampung air
yang cukup baik dan memiliki permeabilitas tanah
yang baik pula.
Dari ketiga aspek tersebut dapat
disimpulkan bahwa daerah penelitian yang
berlokasi di Garut Selatan ini terpengaruh oleh
deformasi dan aktivitas tektonik, dan gaya yang
terjadi cukup tinggi dilihat dari nilai Smf.

Gambar 4. Diagram rosette kelurusan citra DEM

Dari diagram rosette dapat dilihat bahwa


arah struktur geologi di daerah penelitian dominan
ke arah relative Barat Daya Timur Laut.
Aktifitas tektonik dapat diketahui melalui
analisis morfotektonik berdasarkan data/informasi
yang diperoleh dari kegiatan pengolahan/analisis
citra inderaan jauh di studio dan kegiatan
pengecekan serta pengukuran berbagai elemen
geologi dan geomorfologi di lapangan.
Kegiatan analisis morfotektonik DAS
dilakukan melalui penilaian secara kuantitatif
terhadap berbagai indek geomorfik, yaitu dengan
melakukan berbagai perhitungan morfometri DAS
dan morfometri lembah/gunung (non-DAS).
Perhitungan morfometri DAS dan morfometri
lembah/gunung yang dilakukan untuk mengetahui
hubungan antara kondisi morfotektonik dan
tingkat aktifitas tektonik di daerah penelitian
adalah sebagai berikut :

Kesimpulan
Kegiatan analisis morfotektonik DAS
dilakukan melalui penilaian secara kuantitatif
terhadap berbagai indek geomorfik, yaitu dengan
melakukan berbagai perhitungan morfometri DAS
dan morfometri lembah/gunung (non-DAS).
Perhitungan morfometri DAS dan morfometri
lembah/gunung yang dilakukan untuk mengetahui
hubungan antara kondisi morfotektonik dan
tingkat aktifitas tektonik di daerah penelitian
adalah sebagai berikut :
1. Sinuitas Muka Gunung
2. Rasio Cabang Sungai
3. Kerapatan Pengaliran
Dari ketiga aspek tersebut dapat
disimpulkan bahwa daerah memiliki pengaruh
deformasi dan aktivitas tektonik yang cukup kuat,
dapat dilihat dari nilai Dd, Rb dan Smf. Nilai Smf
menandakan bahwa aktivitas tektonik masuk ke
dalam kategori aktif.

1.) Sinusitas Muka Gunung (Smf)


Rata rata nilai Smf ialah 1,655.
Berdasarkan klasifikasi Dorrnkamp maka nilai
Smf termasuk ke dalam tektonik aktif.
2.) Rasio Cabang Sungai (Rb)

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan

Seminar Nasional Ke III


Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Pustaka
Bull and McFadden. 1977. Tectonic
Geomorphology North And South Of The Garlock
Fault, California. Geosciences Department
University of Arizona.
Brodie, Kate; Fettes, Douglas; Harte, Ben;
Schmid, Rolf. 2007. Structural Terms Including
Fault Rock Terms. International Union of
Geological Sciences
Keller, E.A., Pinter, N., 2002. Active
Tectonics. Earthquakes, Uplift, and
Landscape. Prentice Hall, New Jersey. 362
pp.
Rickard.
1972.
Classification
of
Translational Fault Slip: Discussion. Geological
Society of America Bulletin, V. 83, hal. 25452546.
Schmidt Victor A, Harbert William. The
Living Machine: Plate Tectonics. Planet Earth
and the New Geosciences (third ed.). ISBN
0787242969.
Shirey, S. B.; Richardson, S. H. 2011.
"Start of the Wilson Cycle at 3 Ga Shown by
Diamonds from Subcontinental Mantle". Science
333 (6041): 434436.
Simandjuntak.
2004.
Tektonika.
Bandung. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Geologi bandung
Van Bemmelen, R.W., 1949. The Geology
of Indonesia. The Hague Martinus Hifhoff, vol.
IA

Peran Geologi dalam Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Kebencanaan