You are on page 1of 4

1. a.

Jika Hukum bangsa-bangsa dipergunakan untuk menunjukkan pada kebiasaan dan


aturan hukum yang berlaku dalam hubungan antara raja-raja zaman dahulu. Sedangkan
Hukum antar bangsa atau hukum antar negara menunjukkan pada kompleks kaedah
dan asas yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa atau
negara. Hukum antar negara terbatas untk mengatur hubungan antara negara yang sat
dan negara yang lain. Perbedaannya jika pengertian hukum bangsa-bangsa menunjuk
kepada adanya anggota masyarakat bangas-bangsa dan belum adanya negara
kebangsaan, sedangkan istilah hukum antar bangsa ditandai adanya negara
kebangsaan. Menurut saya kedua tertib hukum itu bisa diterapkan dalam relasi
internasional, hal ini karena berdasarkan ruang lingkup dari aturan kedua tertib hukum
tersebut. Jika hukum antar bangsa mengatur hubungan diantara bangsa yang satu
dengan yang lain sedangkan hukum antar bangsa mengatur hubungan antara negara
yang satu dengan yang lain yang dimana keduanya mencakup ruang lingkup
internasional.
b. Dalam teoritik komponen masyarakat internasional dipahami sebagai berikut:
Teori klasik meyatakan, bahwa hanya negara yang menjadi komponen masyarakat
internasional, karena hukum internasional terutama berkenaan dengan hak-hak,
kewajiban, dan kepentingan negara-negara. Sedangkan teori monisme yang
dikembangkan oleh hans kelsen menyatakan hanya individu yang menjadi pemegang
hak dan kewajiban internasional, karena dalamp emahaman terakhir individulah yang
menjadi subjek sebagai hukum, baik nasional mauppun internasional.
Namun berdasarkan kedua teori tersebut berdasrkan praktiknya komponen masyarakat
internasional dapat disimpulkan terdiri dari:
a. Negara : Negara berdasar teori klasik dinyatakan sebagai satu-satunya komponen
masyarakat internasional, karena hukum internasional dimaksudkan untuk mengatur
hubungan antar negara.
b. Organisasi Internasional : Organisasi internasional tidak diragukan lagi merupakan
komonen masyarakat internasional
c. Palang Merah Internasional : karena keberadaan organisasi internasional ini di
dalam hubungan dan hukum internasional menjadi sangat unik dan di samping itu juga
menjadi sangat strategis, maka Palang Merah Interasional dianggap menjadi
komponen masyarakat internasional.
d. Tahta Suci Vatikan: Tahta Suci Vatikan di akui sebagai komponen masyarakat
internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929, antara pemerintah
Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. Tugas
dan kewenangan Tahta Suci Vatikan tidak seluas Negara, namun sebatas bidang
kerohanian dan kemanusiaan. Sehingga hanya memiliki kekuatan moral saja.
e. Kaum Pemberontak : apabila pemberontakan tersebut bersenjata dan terus
berkembang bahkan meluas ke negara-negara lain, maka salah satu sikap yang dapat
diambil oleh dunia Internasional adalah mengakui eksistensi atau menerima kaum
pemberontak sebagai pribadi yang berdiri sendiri.
f. Individu : individu diakui sebagai komponen masyarakat internasional karena untuk
melidungi hak-hak minoritas

2. a. Hukum internasional belum bisa dikatakan sepenuhnya efektif. Dalam hukum


internasional ada yang dinamakan dengan tanggung jawab internasional. Ini
merupakan bentuk kongkrit sebagai implikasi dari hukum yang dilanggar. Artinya,
ketika suatu negara melakukan pelanggaran maka ia harus mematuhi apa yang telah
digariskan dalam hukum internasional. bagi pelanggar hukum internasioal harus
melakukan tanggung jawab internasional yaitu peraturan hukum dimana hukum
internasional mewajibkan kepada person hukum internasional pelaku tindakan yang
melanggar kewajiban-kewajiban internasional yang menyebabkan kerugian pada
person hukum internasional lainnya untuk melakukan kompensasi. Meskipun
demikian terakadang masih saja kita temukan ada negara-negara yang tidakdikenai
sanksi terhadap apa yang telah ia lakukan. Hal itu bisa di sebabkan beberapa hal :
seperti kurang berfungsinya organisasi-organisasi internasional, adanya
ketergantungan negara-negara kecil terhadap negara-negara besar apabila yang
melanggar adalah negara yang memiliki power yang lebih besar, ataupun
ketergantungan organisasi internasional tertentu terhadap suatu negara tertentu.
Artinya, pelaksanaan hukum internasional belum bisa dikatakan berjalan secara
efektif, karena semua serba sarat dengan nilai dan interest. Namun bukan berarti
hukum tidak bisa dijalankan. Hukum internasional bisa dijalankan, akan tetapi pada
batas-batas tertentu tidak bisa secara penuh efektif. Hal ini dikarenakan komposisi dan
strukutur sistem internasional yang memang secara hirarkis turut mempengaruhi.
Kecenderungan yang muncul dalam peng-implementasian hukum internasional adalah
ketika pelanggaran dilakukan oleh negara-negara besar yang memiliki power dan
memberikan kontribusi terhadap negara dan organisasi internasional atau menjadi
patron dalam sistem internasional, maka sanksi yang akan dikenakan pun bisa saja
tidak sesuai dengan yang seharusnya. Sebaliknya ketika yang melanggar adalah negara
kecil dan secara hirarkis memiliki power yang lemah maka bisa saja dengan mudah
dikenai sanksi .
b. Yang dimaksud dengan Pacta sur servanda adalah asas kepastian hukum dalam
perjanjian, yaitu para pihak dalam perjanjian memiliki kepastian hukum dan oleh
karenanya dilindungi secara hukum, sehingga jika terjadi sengketa dalam pelaksanaan
perjanjian, maka hakim dengan keputusannya dapat memaksa agar pihak yang
melanggar itu melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai perjanjian. Sedangkan
Opinio Juris sive Necessitatis adalah pengakuan subyektif dari negara-negara yang
melakukan kebiasaan internasional tertentu dan kehendak untuk mematuhi kebiasaan
internasional tersebut sebagai sebuah hukum yang memberikan hak dan kewajiban
bagi negara-negara tersebut.
Dalam statuta Mahkamah Internasional, tata urutan sumber-sumber hukum material
yang dinyatakan dalam Pasal 38 Ayat (1) Statuta Internasional Court of Justice adalah:
1.traktat (Treaty) dan konvensi internasional 2.kebiasaan internasional, 3. prinsipprinsip hukum umu yang diakui oleh bangsa-bangsa beradab dan 4. keputusankeputusan yudisial dan opini-opini hukum yang berkualifikasi tinggi dari berbagai
bangsa, sebagai alat tambahan bagi penetapan kaidah hukum.

Tata urutan tersebut dalam praktik umumnya diikuti. Bahwa urutan-urutan sumber
hukum tersebut tiga dari sumber hukum yaitu pertama, kedua dan ketiga merupakan
sumber hukum utama sedangkan sumber hukum keempat merupakan sumber hukum
tambahan.
Adanya dua penggolongan tersebut, secara teori menunjukkan bahwa Mahkamah
Internasional akan memprioritaskan sumber hukum utama terlebih dahulu dibanding
sumber hukum tambahan. Namun perlu diketahui bahwa pemberian nomor 1, 2, 3
tidak menunjukan herarki dari sumber hukum tersebut. Artinya bahwa ketiga sumber
hukum tersebut mempunyai kedudukan yang sama tingginya atau yang satu tidak lebih
tinggi atau lebih rendah kedudukannya dari sumber hukum yang lain.
3. a. Menurut teori Dualisme, hukum internasional dan hukum nasional, merupakan dua
sistem hukum yang secara keseluruhan berbeda. Hukum internasional dan hukum
nasional merupakan dua sistem hukum yang terpisah, tidak saling mempunyai
hubungan superioritas atau subordinasi. Berlakunya hukum internasional dalam
lingkungan hukum nasional memerlukan ratifikasi menjadi hukum nasional. Kalau
ada pertentangan antar keduanya, maka yang diutamakan adalah hukum nasional
suatu negara.
Sedangkan menurut teori Monisme, hukum internasional dan hukum nasional saling
berkaitan satu sama lainnya. Menurut teori Monisme, hukum internasional itu adalah
lanjutan dari hukum nasional, yaitu hukum nasional untuk urusan luar negeri.
Menurut teori ini, hukum nasional kedudukannya lebih rendah dibanding dengan
hukum internasional. Hukum nasional tunduk dan harus sesuai dengan hukum
internasional. (Burhan Tsani, 1990; 26).
b. Indonesia tidak konsisten dalam menentukan hubungan hukum internasional dan
hukum nasional. Setidaknya terdapat empat parameter dalam menunjukan hal
tersebut.Parameter pertama adalah tempat hukum internasional dalam suatusistem
hukum nasional. Parameter kedua adalah pemberlakuan hukum internasional
dalam lingkup hukum nasional. Parameter ketiga adalah penerapan hukum
internasional

oleh

lembaga

peradilan.

Terakhir, parameter keempat yaitu

pertentangan antara hukum nasional dan hukum internasional


. Berdasarkan ketidak konsistenan Indonesia dalam mengambil sikap terhadap hukum
internasional dan hukum nasional, maka sangat sulit untuk menentukan Apakah
Indonesia menganut aliran monisme atau dualisme. Namun jika melihat dari
pengertian monisme yang memiliki definisi Hukum internasional dan hukum nasional
merupakan bagian yang saling berkaitan dengan satu sistem hukum pada umumnya.
Sehingga penulis menganggap bahwa pada praktiknya Indonesia cenderung menganut
paham Monisme karena dalam paham Monisme menganggap bahwa HI dan HN

memiliki keterkaitan dan Indonesia mengaplikasikan hal tersebut baik dalam


peraturan tertulis maupun di dalam pelaksanaannya.
Indonesia mengakui HI sebagai HN dalam hal tertentu sepanjang tidak bertentangan
dengan ketentuan atau Undang Undang yang berlaku di Indonesia. Sebagai
tambahan, Indonesia juga menjunjung azas Pacta Sunt Servanda karena Indonesia
berpedoman bahwa para pihak yang melaksanakan perjanjian harus melaksanakannya
dengan itikad baik (Pasal 4 ayat (1). Pengujian di atas menekankan pada konsep
hukum internasional dan hukum nasional yang menunjukan bahwa saat ini hukum
internasional dan hukum nasional tidak dapat dipisahkan dan saling berkaitan.