You are on page 1of 17

KATA PENGANTAR

Om Swastiastu
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang
Maha Esa, karena atas Rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas sistem pencernaan.
Tugas ini kami susun sebagai tugas akademik pada semester dua.
Adapun tujuan penulisan tugas adalahuntuk mencapai tingkat kelulusan pada semester
dua. Penulisan tugas ini merupakan suatu standar pemberian nilai pada mata pelajaran yang
bersangkutan selain itu penulisan tugas ini adalah untuk mengetahui bagaimana Asuhan
Keperawatan pada penyakit apendiksitis.
Materi yang kami gunakan di dalam tugas ini kami dapatkan dari beberapa sumber
seperti buku ,browsing dan di internet.
Kami menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna.Maka dari itu, penyampaian
kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan. Sebagai bahan koreksi untuk
penyempurnaan penulisan tugas ini.
Kami juga berharap agar tugas ini bermanfaat bagi pembaca agar pembaca
mendapatkan pengetahuan tambahan mengenai asuhan keperawatan pada penyakit apendiksitis.
Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.
OM SANTHI SANTHI SHANTI OM

Denpasar, 15 April 2010

Penulis

DAFTAR ISI
1

Halaman judul
Kata Pengantar.......1
Daftar isi . ..2
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.......3
1.2 Rumusan Masalah........3
1.3 Tujuan.............................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Dasar Penyakit ....4
2.1.1 Definisi..4
2.1.2 Epideimologi.....4
2.1.3 Etiologi.........................4
2.1.4 Faktor Prediposisi.....5
2.1.5 Patofisiologi......5
2.1.6 Klasifikasi.....7
2.1.7 Gejala klinis..7
2.1.8 Pemeriksaan fisik.............8
2.1.9 Pemeriksaan Penunjang....8
2.1.10 Prognosis.......9
2.1.11 Teraphy ..............9
2.1.12 Penatalaksanaan...........9
2.1.13 Pencegahan...11
2.2 Konsep dasar Asuhan Keperawatan ......12
2.2.1 Pengkajian....12
2.2.2 Pemeriksaan Fisik....12
2.2.3 Diagnose keperawatan.13
2.2.4 Intervensi..13
2.2.5 Evaluasi15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan....16
3.2 Saran..16
Daftar Pustaka ...17

BAB I
PENDAHULUAN
2

1.1 LATAR BELAKANG


Sistem pencernaan terdiri dari saluran pencernaan ditambah organ-organ
pencernaan tambahan (aksesori). Fungsi utama sistem pencernaan adalah untuk
memindahkan zat gizi atau nutrien, air, dan elektrolit dari makanan yang kita makan ke
dalam lingkungan internal tubuh. Makanan sebagai sumber ATP untuk menjalankan
berbagai aktivitas bergantung energi, misalnya transportasi aktif, kontraksi, sintesis, dan
sekresi. Makanan juga merupakan makanan sumber bahan untuk perbaikan, pembaruan,
dan penambahan jaringan tubuh. Sistem pencernaan tidak dapat melaksanakan
fungsinya jika dalam keadaan terganggu.Walaupun sistem pencernaan mempunyai
manfaat yang sangat besar dalam kehidupan kita, akan tetapi tidak jarang juga kelainan
pada sistem ini juga dapat mengakibatkan kematian. Salah satunya adalah apendisitis,
penyakit ini merupakan penyakit bedah mayor yang paling sering terjadi dan tindakan
bedah segera mutlak diperlukan pada apendisitis akut untuk menghindari komplikasi
yang umumnya berbahaya seperti peritonitis generalisata. Pada makalah ini akan
dibahas lebih lanjut mengenai sistem pencernaan dan gangguannya, khususnya
apendisitis Di dalam keperawatan kita mempelajari tentang asuhan keperawatan dari
berbagai penyakit yang ada. Dalam makalah ini di jelaskan tentang asuhan keperawatan
tentang penyakit apendiksitis.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1.
2.
3.
4.
5.

Bagaimana pengertian penyakit apendiksitis?


Bagaimana asuhan keperawatan pada penyakit apendikstitis?
Apa etiologi dari apendiksitis?
Adakah faktor predisposisi yang mempengaruhi?
Apakah patofisiologi dari penyakit apendiksitis?

1.3 TUJUAN
1.
2.
3.
4.
5.

Tujuan dari pebuatan makalah ini adalah


Mengetahui pengertian penyakit apendiksitis
Mengetahui bagaimana asuhan keperawatan pada penyakit apendeksitis
Mengetahui etiologi dari apendiksitis
Mengetahui faktor prediposisi yang mempengaruhi
Untuk mengetahui patofisiologi dari penyakit apendiksitis

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KONSEP DASAR PENYAKIT

2.1.1 DENIFISI
Appendiksitis adalah merupakan peradangan pada appendik periformil. yaitu saluran
kecil yang mempunyai diameter sebesar pensil dengan panjang 2-6 inci. Lokasi appendik pada
daerah illiaka kanan,dibawah katup illiocaecal,tepatnya pada dinding abdomen dibawah titik Mc
burney.
2.1.2 EPIDEMIOLOGI
Apendisitis paling sering ditemukan pada usia 20 sampai 40 tahun. Penyakit ini jarang
ditemukan pada usia yang sangat muda atau orang tua, dikarenakan bentuk anatomis apendiks
yang berbeda pada usia tersebut
2.1.3 ETIOLOGI
Appendiksitis disebabkan oleh penyumbatan lumen appendik oleh hyperplasia Folikel
lympoid Fecalit, benda asingstriktur karena Fibrasi karena adanya peradangan sebelumnya atau
neoplasma.Obstruksi tersebut menyebabkan mucus yang memproduksi mukosa mengalami
bendungan.Namun elastisitas dinding appendik mempunyai keterbatasan sehingga
menyebabkan tekanan intra lumen.Tekanan yang meningkat tersebut akan menghambat aliran
limfe yang akan menyebabkan edema dan ulserasi mukosa.Pada saat inilah terjadi Appendiksitis
akut local yang ditandai oleh adanya nyeri epigastrium.
1. Ulserasi pada mukosa.
2. Obstruksi pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras)
3. Pemberian barium
4. Berbagai macam penyakit cacing.
5. Tumor.
6. Striktur karena Fibrosis pada dinding usus.

2.1.4 FAKTOR PREDIPOSISI


Adapun faktor predisposisi dari Appendiksitis yaitu:
Makanan yang tercemar polusi udara
Makan makanan yang pedas/ mengandung cabai yang berlebihan
4

2.1.5 PATOFISIOLOGI

Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat disebabkan


oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak adanya fekalit
dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur karenan fibrosis
akibat adanya peradangan sebelunnya.Sebab lain misalnya : keganasan ( Karsinoma
Karsinoid )
Obsrtuksi apendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung,
makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks
oedem serta merangsang tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu
persarafan appendiks sama dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan
sebagai rasa sakit disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah, kemudian timbul
gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu, peradangan yang timbul
meluas dan mengenai peritomium parietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit
dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu maka timbul alergen dan ini disebut dengan
appendisitis gangrenosa. Bila dinding apendiks yang telah akut itu pecah, dinamakan
appendisitis perforasi. Bila omentum usus yang berdekatan dapat mengelilingi apendiks
yang meradang atau perforasi akan timbul suatu masa lokal, keadaan ini disebut sebagai
appendisitis abses. Pada anak anak karena omentum masih pendek dan tipis, apendiks
yang relatif lebih panjang , dinding apendiks yang lebih tipis dan daya tahan tubuh yang
masih kurang, demikian juga pada orang tua karena telah ada gangguan pembuluh
darah, maka perforasi terjadi lebih cepat. Bila appendisitis infiltrat ini menyembuh dan
kemudian gejalanya hilang timbul dikemudian hari maka terjadi appendisitis kronis
(Junaidi ; 1982).

2.1.6 KLASIFIKASI
6

1. Acute appendicitis tanpa komplikasi. (cataral appendicitis)


Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mucosa saja. Appendix kadang tampak
normal, atau hanya hiperemia saja. Bila appendix tersebut dibuka, maka akan tampak mukosa
yang menebal, oedema dan kemerahan. Kondisi ini disebabkan invasi bakteri dari jaringan
limpoid ke dalam dinding appendix. Karena lumen appendix tak tersumbat. Maka hal ini hanya
menyebabkan peradangan biasa.
Bila jaringan limpoid di dinding appendix mengalami oedema, maka akam mengakibatkan
obstruksi lumen appendix, yang akan mempengaruhi feeding sehingga appendix menjadi
gangrena, seterusnya timbul infark. Atau hanya mengalami perforasi (mikroskopis), dalam hal
ini serosa menjadi kasar dan dilapisi eksudat fibrin Post appendicitis acute, kadang-kadnag
terbentuk adesi yang mengakibatkan kinking, dan kejadian ini bisa membentuk sumbatan pula
2.

Acute appendicitis dengan komplikasi:

Peritonitis.
Abses atau infiltrat.

Merupakan appendicitis yang berbahaya, karena appendix menjadi lingkaran tertutup


yang berisi fecal material, yang telah mengalami dekomposisi. Perbahan setelah terjadinya
sumbatan lumen appendix tergantung daripada isi sumbatan. Bila lumen appendix kosong,
appendix hanya mengalami distensi yang berisi cairan mucus dan terbentuklah mucocele.
Sedangkan bakteria penyebab, biasanya merupakan flora normal lumen usus berupa aerob
(gram
+
dan
atau
gram

)
dan
anaerob
Pada saat appendix mengalami obstruksi, terjadi penumpukan sekresi mucus, yang akan
mengakibatkan proliferasi bakteri, sehingga terjadi penekanan pada moukosa appendix, dikuti
dengan masuknya bakteri ke dalam jaringan yang lebih dalam lagi. Sehingga timbulah proses
inflamasi dinding appendix, yang diikuti dengan proses trombosis pembuluh darah setempat.
Karena arteri appendix merupakan end arteri sehingga menyebabkan daerah distal kekurangan
darah, terbentuklah gangrene yang segera diikuti dengan proses nekrosis dinding appendix.
Dikesempatan lain bakteri mengadakan multiplikasi dan invesi melalui erosi mukosa, karena
tekanan isi lumen, yang berakibat perforasi dinding, sehingga timbul peritonitis. Proses
obstruksi appendix ini merupakan kasus terbanyak untuk appendicitis. Dua per tiga kasus
gangrene
appendix,
fecalith
selalu
didapatkan
Bila kondisi penderita baik, maka perforasi tersebut akan dikompensir dengan proses
pembentukan dinding oleh karingan sekitar, misal omentum dan jaringan viscera lain, terjadilah
infiltrat atau (mass), atau proses pultulasi yang mengakibatkan abses periappendix .
2.1.7 GEJALA KLINIS
Gejala utama terjadinya apendisitis adalah adanya nyeri perut. Nyeri perut yang klasik
pada apendisitis adalah nyeri yang dimulai dari ulu hati, lalu setelah 4-6 jam akan dirasakan
berpindah ke daerah perut kanan bawah (sesuai lokasi apendiks). Namun pada beberapa
keadaan tertentu (bentuk apendiks yang lainnya), nyeri dapat dirasakan di daerah lain (sesuai
posisi apendiks). Ujung apendiks yang panjang dapat berada pada daerah perut kiri bawah,
punggung, atau di bawah pusar. Anoreksia (penurunan nafsu makan) biasanya selalu menyertai
apendisitis. Mual dan muntah dapat terjadi, tetapi gejala ini tidak menonjol atau berlangsung
cukup lama, kebanyakan pasien hanya muntah satu atau dua kali. Dapat juga dirasakan
keinginan untuk buang air besar atau kentut. Demam juga dapat timbul, tetapi biasanya
kenaikan suhu tubuh yang terjadi tidak lebih dari 1oC (37,8 38,8oC). Jika terjadi peningkatan
suhu yang melebihi 38,8oC. Maka kemungkinan besar sudah terjadi peradangan yang lebih luas
di daerah perut (peritonitis).
2.1.8 PEMERIKSAAN FISIK
7

Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada tidaknya


distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi jantung.

Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan leukosit yang


merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan splenomegali.

Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan keluhan sakit
pinggang.

Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan dalam


pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau tidak.

Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran kelenjar


getah bening.

2.1.9 PEERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit yang


merupakan tanda adanya infeksi.

Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca


pembedahan.

2.1.10 PROGNOSIS
Mortalitas adalah 0.1% jika appendicitis akut tidak pecah dan 15% jika pecah pada atau
emboli paru orangtua. Kematian biasanya berasal dari sepsis aspirasi; prognosis membaik
dengan diagnosis dini sebelum rupture dan antibiotic yang lebih baik. Morbiditas meningkat
dengan rupture dan usia tua. Komplikasi dini adalah sepsis. Infeksi luka membutuhkan
8

pembukaan kembali insisi kulit yang merupakan predisposisi terjadinya robekan. Abses
intraabdomen dapat terjadi dari kontaminasi peritonealis setelah gangren dan perforasi. Fistula
fekalis timbul dari nekrosis suatu bagian dari seccum oleh abses atau kontriksi dari jahitan
kantong. Obstruksi usus dapat terjadi dengan abses lokulasi dan pembentukan adhesi.
Komplikasi lanjut meliputi pembentukan adhesi dengan obstruksi mekanis dan hernia. Dengan
diagnosis yang akurat serta pembedahan, tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat
kecil. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi
komplikasi. Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat.
2.1.11 THERAPY/TINDAKAN PENANGANAN
Apendektomi terbuka
Laparoskopi apendektomi
2.1.12 PENATALAKSANAAN
Tidak ada penataksanaan appendicsitis, sampai pembedahan dapat di lakukan. Cairan intra vena
dan antibiotik diberikan intervensi bedah meliputi pengangkatan appendics dalam 24 jam
sampai 48 jam awitan manifestasi. Pembedahan dapat dilakukan melalui insisi kecil/laparoskop.
Bila operasi dilakukan pada waktunya laju mortalitas kurang dari 0,5%. Penundaan selalu
menyebabkan ruptur organ dan akhirnya peritonitis. Pembedahan sering ditunda namun karena
dianggap sulit dibuat dan klien sering mencari bantuan medis tapi lambat. Bila terjadi perforasi
klien
memerlukan
antibiotik
dan
drainase
Penatalaksanaan apendiksitis menurur Mansjoer, 2000 :
1. Sebelum operasi
o Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi
o

Pemasangan kateter untuk control produksi urin.

Rehidrasi

Antibiotic dengan spectrum luas, dosis tinggi dan diberikan secara intravena.

Obat-obatan penurun panas, phenergan sebagai anti menggigil, largaktil untuk


membuka pembuluh pembuluh darah perifer diberikan setelah rehidrasi
tercapai.

Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi.

2. Operasi
o

Apendiktomi.

Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,maka abdomen


dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika.

Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV,massanya mungkin mengecil,atau


abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka waktu beberapa hari.
Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan operasi elektif sesudah 6 minggu
sampai 3 bulan.
9

3. Pasca operasi
o Observasi TTV.
o

Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi cairan lambung
dapat dicegah.

Baringkan pasien dalam posisi semi fowler.

Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan, selama pasien
dipuasakan.

Bila tindakan operasilebih besar, misalnya pada perforasi, puasa dilanjutkan


sampai fungsi usus kembali normal.

Berikan minum mulai15ml/jam selama 4-5 jam lalu naikan menjadi 30 ml/jam.
Keesokan harinya berikan makanan saring dan hari berikutnya diberikan
makanan lunak.

Satu hari pasca operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di tempat tidur
selama 2x30 menit.

Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar.

Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang ditandai
dengan :
o
o

Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas terdapat
tanda-tanda peritonitis

Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat


pergeseran ke kiri.

Sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah klien dipersiapkan, karena


dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Persiapan dan
pembedahan harus dilakukan sebaik-baiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tiggi
daripada
pembedahan
pada
apendisitis
sederhana
tanpa
perforasi.
Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang telah mereda ditandai
dengan :
o
o

Umumnya klien berusia 5 tahun atau lebih.


Keadaan umum telah membaik dengan tidak terlihat sakit, suhu tubuh tidak
tinggi lagi.

Pemeriksaan lokal abdomen tidak terdapat tanda-tanda peritonitis dan hanya


teraba massa dengan jelas dan nyeri tekan ringan.

Laboratorium hitung lekosit dan hitung jenis normal.

10

Tindakan yang dilakukan sebaiknya konservatif dengan pemberian antibiotik dan


istirahat di tempat tidur. Tindakan bedah apabila dilakukan lebih sulit dan perdarahan
lebih banyak, lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu
sejak serangan sakit perut.Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi
abses dengan atau tanpa peritonitis umum.

2.1.13 PENCEGAHAN

Penceghan pada appendiks yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi dan


peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus harus dikaji, sebab obstruksi oleh
fekalit dapat terjadi karena tidak kuat diit serat. Parawatan dan pengobatan penyakit cacing juga
dapat menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis
menurunkan resiko terjadinya gangrene, perforasi, dan peritonitis

11

2.3 KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


2.2.1 PENGKAJIAN
2. Identitas Pasien
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
3. Riwayat Keperawatan
o Riwayat Kesehatan saat ini : keluhan nyeri pada luka post operasi
apendektomi, mual muntah, peningkatan suhu tubuh, peningkatan
leukosit.

Riwayat Kesehatan masa lalu

4. Pemeriksaan Fisik
o Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada
tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi
jantung.

Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan


leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan
splenomegali.

Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan


keluhan sakit pinggang.

Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan


dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau
tidak.

12

Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya pembesaran


kelenjar getah bening.

5. Pemeriksaan Penunjang
o Pemeriksaan darah rutin : untuk mengetahui adanya peningkatan leukosit
yang merupakan tanda adanya infeksi.

Pemeriksaan foto abdomen : untuk mengetahui adanya komplikasi pasca


pembedahan.

2.2.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada abdomen kuadran kanan bawah post operasi
appenditomi
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pematasan gerak skunder terdapat nyeri
3. Resiko tinggi infeksi berhubungn dengan prosedur invasive appendiktomi
4. Resiko kehilangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan
secara oral
2.2.3 RENCANA KEPERAWATAN
Dx:1Nyeri berhubungan dengan luka insisi pada daerah mesial abdomen post operasi
appendiktomi
TUJUAN
Nyeri kriteria:
-tampak rilek dan dapat tidur dengan tenang
INTERVENSI
1.
2.
3.
4.
5.

Kaji skalanyeri lokasi, karakteristik dan laporkan perubahan nyei dengan tepat
Pertahankan istirahat dengan posisi semi powler
Dorong ambulasi dini
Berikan aktifitas hiburan
Kolaborasi tim dokter dalam pemberian analgetika

RASIONAL
1. Berguna dalam pengawasan dan keefisienan obat, kemajuan penyembuhan,perubahan
dan karakteristik nyeri.
2. Menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan posisi terlentang
3. Meningkatkan kormolisasi fungsi organ
4. Meningkatkan relaksasi
5. Menghilangkan nyeri
Dx:2 Intoleransi aktivitas berhubungan dengan pembatasan gerak skunder terhadap nyeri
TUJUAN
13

Toleransi aktivitas engan kriteria:


-

Klien dapat bergerak tanpa pembatasan


Tidak berhati hati dalam bergerak

INTERVENSI
1.
2.
3.
4.

Catat respon emosi terhadap mobilitas


Erikan aktivitas sesuai engan keadaan klien
Berikan klien untuk latihan gerakan gerak pasif dan aktif
Bantu klien dalam melakukan aktivitas yng memberatkan

RASIONAL
1.
2.
3.
4.

Immobilisasi yang dipaksakan akan memperbesar kegelisahan


Meningkatkan kormolitas organ sesuai dengan yang diharapkan
Memperbaiki mekanika tubuh
Menghindari hal yang dapat memperparah keadaan

Dx:3 Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasive appendiktomi


TUJUAN
Infeksi tidak terjadi dengan kriteria:
Tidak terdapat tanda tanda nfeksi
INTERVENSI
1.
2.
3.
4.

Ukur tanda tanda vital


Observasi tanda- tanda infeksi
Lakukan perawatan luka dengan menggunakan teknik septik dan aseptik
Observasi lika insisi

RASIONAL
1.
2.
3.
4.

Untuk menekteksi secara dini gejala awal terjadinya infeksi


Deteksi dini terhadap infeksi akan mempermudah dalam penangan
Menurunkan terjadinya resiko infeksidan penyebar bakteri
Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan perkembangan luka

Dx:4 Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan pembatasan pemasukan cairan
secara oral
TUJUAN
Kekurangan volume cairan tidak terjadi dengan kriteria hasil tidak terjadi dehidrasi
INTERVENSI
1. Ukur dan catat intake da output cairan tubuh
2. Awasi vital sign: evaluasi nadi, pengisian kapiler, turgor kulit dan membrane mukosa
3. Kolaborasi dengan tim dokter untuk pemberian cairan intraverna
RASIONAL
1. Dokementasi yang akurat akan membantu dlam mengidentifikasi pengeluaran cairan
atau kebutuhan pengganti
2. Indikator hidrasi volume cairan sirkulasi dan kebutuhan intervensi
14

3. Mempertahankan volume sirkulasi bila pemasukan oral tidak cukup dan meningkatkan
fungsi ginjal

2.2.4 EVALUASI
Dx.1: Nyeri psien berkurang, skala nyeri 0, pasien tampak rileks dan tidur dengan tenang
Dx.2: Pasien dapat melakukan aktivitas yang dapat ditoleransi, pasien dapat bergerak bebas
tanpa pembatasan gerak, pasien idak berhati hati dalam bergerak
Dx.3: Tidak muncul tanda tanda infeksi, tidak ada kemarahan, tidak bengkat, tidak nyeri, tidak
panas, dan tidak kehilangan fungsi
Dx.4: Kebutuhan cairan terpenuhi, tidak terjadi dehidrasi

15

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dari pembahasan diatas dapat kami simpulkan appendiksitis merupakan peradangan
pada apendiksitis periformil, yaitu saluran kecil yang mempunyai daimeter sebesar pensil
dengan panjang 2-6 inci. Lokasi apendiks pada iliaka kanan di bawah katup illiocaecal, tepatnya
pada dinding abdomen di bawah titik Mc Burney. Apendiksitis sering terjadi pada usia tertentu
dengan range 20-30 tahun. Pada wanit adan laki-laki insidennya sama terjadi kecusli pada usia
pebertas. Dan usia 25 tahun lebih banyak terjadi dari pada laki-laki dengan perempuan dengan
perbandingan 3 : 2
3.2 SARAN
Penceghan pada appendiks yaitu dengan menurunkan resiko obstruksi dan
peradangan pada lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus harus dikaji, sebab obstruksi oleh
fekalit dapat terjadi karena tidak kuat diit serat. Parawatan dan pengobatan penyakit cacing juga
dapat menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat terhadap gejala dan tanda apendiksitis
menurunkan resiko terjadinya gangrene, perforasi, dan peritonitis

16

DAFTAR PUSTAKA

1. Barbara Engram, Askep Medikal Bedah, Volume 2, EGC, Jakarta


2. Carpenito, Linda Jual, Diagnosa Keperawatan, Edisi 8, EGC, 2000, Jakarta.
3. Doenges, Marlynn, E, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi III, EGC, 2000, Jakarta.
4. Elizabeth, J, Corwin, Biku saku Fatofisiologi, EGC, Jakarta.
5. Ester, Monica, SKp, Keperawatan Medikal Bedah (Pendekatan Gastrointestinal),
EGC, Jakarta.
Peter, M, Nowschhenson, Segi Praktis Ilmu Bedah untuk Pemula. Bina Aksara Jakarta

17