You are on page 1of 70

LAPORAN KASUS RGB

SEORANG LAKI-LAKI USIA 33 TAHUN DENGAN COMBUTIO LISTRIK


GRADE II 42% DAN GRADE III 3%

Oleh:
Dokter Muda Stase Bedah
Periode : 07September 2015- 31 Oktober 2015

Pembimbing:
dr. Darmawan Ismail, Sp.BTKV

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/ RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

Luka bakar adalah suatu bentuk kerusakan atau kehilangan jaringan yang
disebabkan adanya kontak dengan sumber panas seperti api, air panas, bahan kimia,
listrik dan radiasi. Kulit dengan luka bakar akan mengalami kerusakan pada
epidermis, dermis, maupun jaringan subkutan tergantung faktor penyebab dan
lamanya kontak dengan sumber panas/penyebabnya. Luka bakar bisa berasal dari
berbagai sumber, dari api, matahari, uap, listrik, bahan kimia, dan cairan atau benda
panas. Luka bakar bisa saja hanya berupa luka ringan yang bisa diobati sendiri atau
kondisi berat yang mengancam nyawa yang membutuhkan perawatan medis yang
intensif.
Sedangkan luka listrik adalah luka yang disebabkan oleh trauma listrik, yang
merupakan jenis trauma yang disebabkan oleh adanya persentuhan dengan benda
yang memiliki arus listrik, sehingga dapat menimbulkan luka bakar sebagai akibat
berubahnya energy listrik menjadi energi panas. Secara umum ada 2 jenis tenaga
listrik, yaitu tenaga listrik alam dan tenaga listrik buatan.
Perkiraan kematian akibat luka bakar akibat listrik adalah 1000 kematian per
tahun dan sedikitnya terdapat 3000 kasus per tahun. Dalam studi kasus kematian,
hanya sekitar 55% yang menunjukan electrical mark. Luka listrik biasanya dapat
diamati di titik masuk (entry point) maupun titik keluar (exit point).
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan ledakan.
Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memilik iresistensi paling
rendah, dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya
tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Sering kali
kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baik kontak dengan sumber arus maupun
ground.
Arus yang melalui otak, baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan
penurunan kesadaran segera karena depolarisasi saraf otak. Arus bolak balik (AC)
dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel jika jalurnya melalui dada. Aliran listrik yang
lama mengakibatkan kerusakan iskemik otak yang diikuti dengan gangguan nafas.

Arus DC cenderung menyebabkan kontraksi otot yang kuat, yang sering kali
mendorong jauh/melempar korbannya dari sumber arus. Arus listrik bertegangan
tinggi bisa membunuh jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya, sehingga
terjadi luka bakar pada daerah otot yang luas.
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala, dan paling
sering keluar dari kaki. Arus listrik yang mengalir dari lengan kelengana tau dari
lengan ke tungkai bisa melewati jantung, karena itu lebih berbahaya dari pada arus
listrik yang mengalir dari tungkai ke tanah. Letak titik masuk arus listrik (point of
entry) dan letak titik keluar bervariasi sehingga efek dari arus listrik tersebut
bervariasi dari ringan sampai berat. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh
lebih berbahaya dari pada jika masuk dari sebelah kanan. Bahaya terbesar bisa timbul
jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut. Bumi dianggap
sebagai kutub negatif.
Tersengat Arus listrik dapat menyebabkan fibrilasi ventrikel, paralisis
respiratorik, paralisis pusat nafas, dan luka bakar. Dalziel (1961) memperkirakan pada
manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke
tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Paparan arus yang dihasilkan oleh sumber
tegangan rendah (termasuk sumber listrik rumah tangga) dapat menyebabkan luka
bakar di tisu cutaneus disebabkan transformasi energy listrik kepada energi termal.
Luka bakar harus segera dilakukan penanganan, yaitu dengan menghindari
dan mematikan api pada tubuh, menyingkirkan baju, perhiasan, dan benda-benda lain
yang membuat efek tourniquet, rendam luka bakar dengan air atau menyiramnya
dengan air mengalir untuk mencegah kerusakan jaringan yang lebih luas, melakukan
evaluasi awal yaitu dengan penilaian ABC (Airway, Breathing, Circulation), yang
diikuti dengan pendekatan khusus pada komponen spesifik luka bakar pada survey
sekunder. Resusitasi cairan secara intravena untuk menjaga dan mengembalikan
perfusi jaringan tanpa menimbulkan edema, penggantian darah, perawatan luka bakar,
pemberian nutrisi sesuai dengan kebutuhan pasien dengan hipermetabolik, early
exicision and grafting (e&g), escharotomi, dan pemberian antimikroba.

BAB II
STATUS PASIEN
A. ANAMNESIS
1. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Pekerjaan
Alamat
Tanggal Masuk
Tanggal Periksa
Status Pembayaran

: Tn. A
: 33 tahun
: Laki-laki
: TNI
: RT/RW 001/042Depok, Sleman, Yogyakarta
: 29 September 2015
: 30 September 2015
: BPJS

2. Keluhan Utama
Luka bakar di seluruh tubuh setelah terkena listrik.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dibawa oleh keluarga ke RS Dr.Moewardi dengan keluhan luka
bakar di seluruh tubuh. Sebelumnya, 4 jam yang lalu saat pasien sedang
mengecat gapura, lengan atas kiri belakang pasien terkena kabel listrik dan
pasien tersetrum. Pingsan (+). Setelah kejadian, pasien mengeluh luka bakar di
lengan atas kiri, dada, perut, punggung atas dan bawah, tungkai atas kanan dan
kiri, dan tungkai bawah kiri. Oleh penolong, pasien dibawa ke RS. Panti
Waluyo,

dirawat

luka,

diinfus,

diinjeksi

obat-obatan.

menggunakan BPJS, maka pasien dirujuk ke RSDM.


4. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat alergi
Riwayat penyakit jantung
Riwayat asma
Riwayat diabetes
Riwayat trauma sebelumnya

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

5. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat alergi
Riwayat penyakit jantung
Riwayat asma
Riwayat diabetes

: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal
: Disangkal

Karena

ingin

6. Riwayat Kebiasaan
Nutrisi
: Pasien makan 3 kali sehari dengan gizi seimbang.
Olahraga
: Pasien rutin melakukan aktivitas olahraga
Merokok
: (+)
7. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien berobat dengan fasilitas BPJS.
8. General Survey
Primary Survey
a. Airway :
Bebas
b. Breathing
:
Spontan, frekuensi pernafasan 20x/menit
Inspeksi
: Pengembangan dinding dada kanan = kiri
Palpasi
: Fremitus raba kanan = kiri, krepitasi (-), NT (-)
Perkusi
: Sonor/sonor
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), suara tambahan (-/-)
c. Circulation

: Tekanan darah 125/74 mmHg, nadi 84 x/menit,

CRT<2 detik
d. Disability
:GCS E3V5M6, reflek cahaya (+/+),pupil isokor
(3mm/3mm), lateralisasi (-/-)
e. Exposure
:
Suhu 36,6C, Jejas (+) lihat status lokalis
Secondary Survey
a. Keadaan umum :
b. Kepala
:

Composmentis
Combutio (+) grade I 2%, bula

(-)
c. Mata
d. Telinga

Alis mata terbakar (+)


Sekret (-/-), darah (-/-), nyeri

:
:

tekan mastoid (-/-), nyeri tragus (-/-).


e. Hidung
:
Bulu hidung terbakar (+), bloody
rhinorrhea (-/-)
f. Mulut
:

Maloklusi (-), gusi berdarah (-),

lidah kotor(-), jejas(-), gigi goyang (-), gigi tanggal (-),


maxilla goyang (-).
g. Leher
:

Pembesaran

tiroid

(-),

pembesaran limfonodi (-), nyeri tekan (-), JVP tidak


meningkat.
h. Thorak

Combutio (+) grade IIa 15%,

bula (-), bentuk normochest, ketertinggalan gerak (-).

i. Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak tampak.

Palpasi

: Ictus cordis teraba, tidak kuat angkat.

Perkusi

: Batas jantung kesan tidak melebar.

Auskultasi

: Bunyi jantung I-II intensitas normal, regular, bising(-)


j. Pulmo

Inspeksi

: Pengembangan dada kanan = kiri.

Palpasi

: Fremitus raba kanan = kiri, nyeri tekan (-/-)

Perkusi

: Sonor/sonor.

Auskultasi

: Suara dasar vesikuler (+/+) normal, suara tambahan(-/-)


k. Abdomen

Inspeksi

: Combutio (+) grade IIa 15%, bula (-), distended (-)

Auskultasi

: Bising usus (+) normal

Perkusi

: Timpani

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), defance muscular (-)


l. Genitourinaria :

BAK normal, BAK darah (-),

BAK nanah (-), nyeri BAK(-).


m. Muskuloskletal: Jejas (-), nyeri (-)
n. Ekstremitas
:
Jejas (+), lihat status lokalis
Akral dingin

o. Status

Oedema

_ _

_
Lokalis

i. Regio Kepala
Inspeksi : Combutio (+) grade I 2%
ii. Regio Thoraks
Inspeksi : Combutio (+) grade IIa 15%
iii. Regio Abdomen
Inspeksi : Combutio (+) grade IIa 15%
iv. Regio Humerus Sinistra Posterior
Inspeksi : Combutio (+) grade III 2%, bula (-)

v.Regio Femur Dextra Medial


Inspeksi : Combutio (+) grade IIa 1%, bula (-)
vi. Regio Ekstremitas Inferior Sinistra
Inspeksi : Combutio (+) grade IIa 9%, bula (-)

9. Foto Klinis Pasien

B. ASSESMENT 1
Combutio listrik grade I 2%
Combutio listrik grade II 40 %
Combutio listrik grade III 2%
C. PLANNING 1
1. Inf. RL, target cairan: 4 x 60 x 44 = 10.560 cc/ 24 jam
8 jam pertama: 5280 cc
16 jam kedua: 5280 cc
2. Inj. Ceftriaxon
3. Inj. ATS 1500 IU
4. Inj. Metamizole 1gr
5. Inj. Ranitidin 50 mg
6. Cek laboratorium darah
7. Ro. Thorax
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG

a. Hasil pemeriksaan laboratorium (29 September 2015)


Pemeriksaan
Hematologi Rutin
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
Golongan darah
HBsAg
Hemostasis
PT
APTT
INR
Kimia Klinik
Gula darah sewaktu
Creatinin
Ureum
Elektrolit
Natrium darah
Kalium darah
Chlorida darah

Hasil

Satuan

Nilai Normal

14.7
42
15.5
139
5.05
B
Non reactive

g/dl
%
ribu/ul
ribu/ul
ribu/ul

13.5 17.5
33 45
4.5 11
150 450
4.50 5.90

14.5
26.9
1.200

Detik
Detik

10.0 15.0
20.0 40.0

130
1.0
34

mg/dl
mg/dl
mg/dl

60 - 140
0.9 1.3
< 50

138
2.7

mmol/L
mmol/L

136 145
3.3 5.1

114

mmol/L

98 106

Non reactive

b. Foto rontgen thoraks AP (29 September 2015)

Kesimpulan: Cor dan pumo tak tampak kelainan


E. ASSESMENT II
Combutio listrik grade I 2%
Combutio listrik grade II 40 %
Combutio listrik grade III 2%
F. PLANNING II
Resusitasi cairan
MRS RGB/ HCU Bedah
Monitor VS/EKG/Urin Output (product dan warnanya)
Awasi tanda-tanda compartement syndrome
G. LAPORAN OPERASI

Tn. A,33 Thn


Dx pre op : Combustio listrik 44%
Dx post op : Combustio listrik 44%
Tindakan : Debridement + medikasi
TIM
: ADH / IUS / NDR / dr. Amru Sungkar Sp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasien posisi supine dalam GA
Buka balutan lama
Toilet medan operasi dan tutup dengan doek steril berlubang
Dilakukan cuci luka dengan NaCl 0,9%
Dilakukan debridement
Kontrol perdarahan
Tutup luka dengan tulle, kassa kering dan plastic verban.
10

Operasi selesai.

11

H. FOLLOW UP
Tanggal

12

30
Sept201
5

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 102/60
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
RR: 88x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
saturasi 96%
grade II 40%
EKG:Irama sinus - Post debridement a.i
Regio humerus:
combutio listrik
I:luka op tertutup
grade III 2%
kasa(+),rembes(-)
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Balance Cairan:
urin jernih kuning
produk 50 cc/jam

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/72
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
RR: 86x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit
combutio listrik
EKG: Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes

Bedah
Plastik
HCU
Bedah

1Okt
2015
Bedah
Plastik

13

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak

Infus RL 20 tpm
Injceftriaxone 1gr/12jam
Inj metamizole 1gr/8jam
Inj ranitidin 50 mg/ 12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak
- Medikasi

(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Balance Cairan:
urin jernih kuning
produk 160cc/jam

Laporan Operasi (1 Oktober 2015)


Tn.A, 33Thn
Dx pre op : Post debridement a.i combutio listrik grade I 2%, grade II 40%, grade III 2%
Dx post op : Post debridement a.i combutio listrik grade I 2%, grade II 40%, grade III 2%
Tindakan
: Debridement + Medikasi
TIM
: dr. Ndaru/dr. Amru Sungkar Sp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasien posisi supine dalamGA
Buka balutan lama
Toilet medan operasi dan tutup dengan doek steril berlubang
Identifikasi luka bakar, cuci luka dengan NaCl0,9%
Dilakukandebridement pada luka bakar di humerus,femur (D), extremitas inferior (S),
thorax dan abdomen
Olesi dengan fibro
Tutup luka dengan tulle, kasa lembab, dan kasa kering
Operasi selesai
Instruksi Post OP:
Masuk HCU bedah
Awasi KUVS, balance cairan
Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj ketorolac 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Lanjutkan terapi

14

2 Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD:
combutio listrik
110/80mmHg
grade I 2%
RR: 84x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD:
combutio listrik
109/75mmHg
grade I 2%
RR: 88x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup

Bedah
Plastik
HCU
Bedah

3Okt
2015
Bedah
Plastik

15

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak 2000 kkal

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak 2000 kkal

kasa (+), rembes


(-)

4Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/75
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
RR: 88x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio Humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/60
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
RR: 88x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio Humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup

Bedah
Plastik

5Okt
2015
Bedah
Plastik

16

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak 2000 kkal

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak 2000 kkal
- Pro Escharotomi

kasa (+), rembes


(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Laporan Operasi (5Oktober 2015)
Tn.A, 33Thn
Dx pre op : Post debridement a.i combutio listrik grade I 2%, grade II 40%, grade III 2%
Dx post op : Post debridement a.i combutio listrik grade I 2%, grade II 40%, grade III 2%
Tindakan
: Debridement + Escharotomi
TIM
: dr. Ndaru/dr. Mujiran/dr. Amru Sungkar Sp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasien posisi supine dalamGA
Buka balutan lama
toilet medan operasi dan tutup dengan doek steril berlubang
Identifikasi luka bakar, cuci luka dengan NaCl0,9%
Dilakukan debridement pada luka bakar di humerus,femur (D), extremitas inferior (S),
thorax dan abdomen
Dilakukan escharotomi
Kontrol pendarahan dengan Adrenalin
Tutup luka dengan tulle, kasa lembab, kasa kering dan elastik banded
Operasi selesai
Instruksi Post OP:
Masuk HCU bedah
Awasi KUVS, balance cairan
Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj ketorolac 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Lanjutkan terapi
6Okt
2015
Bedah
Plastik

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/60
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
RR: 88x/menit, - Post debridement a.i
Nadi: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio Humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%

17

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet lunak 2000 kkal

Regio femur (D): - Post Escharotomi


I: luka op tertutup
DPH 1
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
7
Nyeri post
Okt2015 op (+)
BedahP
lastik

8 Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM TD: 116/60


mmHg
Nadi: 88x/menit, RR: 20x/menit,
Saturasi 99%
EKG:Irama sinus Regiohumerus:
I: luka op tertutup
kasa(+),
rembes(+)
Regiofemur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)

- Cek DR3

Post debridement a.i combutio listrik


grade I 2%
Post debridement
a.icombutio listrik grade II 40%
Post debridement
a.icombutiolistrikgra
de III 42%
Post Escharotomi
DPH 2

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 118/70
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 80x/menit, - Post debridement a.i
18

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Injmetamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin
+EKG+tanda sindrom
kompartemen
Diet TKTP

InfusRL 20 tpm
Injceftriaxone 1gr/12jam
Injmetamizole 1gr/8jam
Inj ranitidin 50 mg/ 12jam

BedahP
lastik

9 Okt
2015
BedahP
lastik

Nyeri post
op (+)

RR: 18x/menit
combutio listrik
Saturasi 99%
grade II 40%
EKG: Irama sinus - Post debridement
Regiohumerus:
a.icombutiolistrik
I: luka op tertutup
grade III 2%
kasa(+),
Post Escharotomi
rembes(+)
DPH 3
Regiofemur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)

- Balance cairan
- Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
Pro medikasi 9/10/15

KU sedang, CM TD:
118/70mmHg
Nadi: 80x/menit, RR: 20x/menit
EKG:Irama sinus
Regiohumerus: I: luka op tertutup
kasa(+),
rembes(-)
Regiofemur (D):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes

Post debridement a.i


combutio listrik
grade I 2%
Post debridement a.i
combutio listrik
grade II 40%
Post debridement
a.icombutiolistrik
grade III 2%
Post Escharotomi
DPH 4

19

InfusNaCl 0,9% 20 tpm


Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Injmetamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- OP hari ini

(-)
Laporan Operasi (9Oktober 2015)
Tn.A, 33Thn
Dx pre op : Combustio listrik grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Dx post op : Combustio listrik grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Tindakan
: Medikasi
TIM
: dr. Thomas/dr. Yusuf/dr. Ndaru/dr. AmruSungkarSp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasienposisi supine dalamGA
Buka balutan lama
Toiletmedanoperasidantutupdengandoeksterilberlubang
Kompres luka bakar dengan NaCl 0.9%
Identifikasi luka combustio grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Tutup dengan tulle, kassa lembab, kassa kering
Tutup dengan kassa gulung + elastic verban
Operasiselesai
Instruksi Post OP:
Masuk HCU bedah sampai stabil
Bila BU (+) diet TKTP
Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam

Injmetamizole 1 gr/ 8 jam

10Okt
2015

Inj ranitidin 50 mg/12jam


Medikasi selanjutnya sesuai jadwal
Nyeri post KU sedang, CM - Post debridement a.i
TD:120/70mmHg
combutio listrik
op (+)
Nadi: 92x/menit,
grade I 2%
BedahP
RR: 20x/menit, - Post debridement a.i
lastik
EKG:Irama sinus
combutio listrik
Regiohumerus:
grade II 40%
I: luka op tertutup - Post debridement
kasa(+),
a.icombutiolistrik
rembes(-)
grade III 2%
Regiofemur (D):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op
tertutupkasa (+),
20

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Injmetamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
Diet TKTP

rembes (-)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
11Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/75
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I: luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),
grade III 2%
rembes(-)
Regiofemur (D):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD:121/75
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I: luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),
grade III 2%
rembes(-)
Regiofemur (D):
I: luka op
tertutupkasa (+),

BedahP
lastik

12Okt
2015
BedahP
lastik

21

Infus NaCl 0,9% 20 tpm


Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet TKTP
- Pro medikasi 12/10/15

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Injmetamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- OP hari ini

rembes (-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op
tertutupkasa (+),
rembes (-)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Laporan Operasi (12Oktober 2015)
Tn.A, 33Thn
Dx pre op : Combustio listrik grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Dx post op : Combustio listrik grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Tindakan
: Medikasi
TIM
: dr. Andi/dr. Yusuf/dr. Dayat/dr. AmruSungkarSp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasienposisi supine dalamGA
Buka balutan lama
Toiletmedanoperasidantutupdengandoeksterilberlubang
Kompres luka bakar dengan NaCl 0.9%
Identifikasi Combustio listrik grade I 2% grade II 40% dan grade III 2%
Oles silio, tutup dengan tulle, kassa lembab, kassa kering
Tutup dengan kassa gulung + elastic verban
Operasiselesai
Instruksi Post OP:
Masuk HCU bedah sampai stabil
Bila BU (+) diet TKTP
Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam

Injmetamizole 1 gr/ 8 jam

Inj ranitidin 50 mg/12jam


Medikasi selanjutnya sesuai jadwal
13 Okt
Nyeri post KU sedang, CM - Post debridement a.i
2015
op (+)
TD: 118/70
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
BedahP
Nadi: 80x/menit, - Post debridement a.i
lastik
RR: 18x/menit
combutio listrik
Saturasi 99%
grade II 40%
- Post debridement
22

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Injmetamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom

EKG: Irama sinus


Regiohumerus:
I: luka op tertutup
kasa(+),
rembes(+)
Regiofemur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)
Regiothorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+),
rembes(+)

a.icombutiolistrik
grade III 2%

kompartemen
- OP hari ini

Laboratorium Darah (13 Oktober 2015)


Pemeriksaan
Rutin
Hemoglobin

Hasil

Satuan

Nilai Normal

10.5

g/dl

13.5 17.5

Hematokrit

31

33 45

Leukosit

7.6

ribu/ul

4.5 14.5

Trombosit

235

ribu/ul

150 450

Eritrosit

3.67

ribu/ul

4.50 5.90

2.0

g/dl

3.5 5.2

Natriumdarah

128

mmol/L

136 - 145

Kaliumdarah

3.5

mmol/L

3.3 5.1

Kalsium

1.02

mmol/L

1.17 1.29

Kimia Klinik
Albumin
Elektrolit

14 Okt

Nyeri post
OP (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 120/70
combutio listrik
23

- Infus RL 1500 cc/24 jam


- Inj ceftriaxone 1gr/12 jam

2015

mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
saturasi 96%
grade II 40%
EKG:Irama sinus - Post debridement a.i
Regio humerus:
combutio listrik
I:luka op tertutup
grade III 2%
kasa(+),rembes(-)
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Bedah
Plastik

15 Okt
2015
Bedah
Plastik

Nyeri post
op (+)

Inj metamizole 1 gr/ 8 jam


Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin
+EKG+tanda sindrom
kompartemen
Diet TKTP

KU sedang, CM - Post debridement a.i TD: 110/70


combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i RR: 24x/menit
combutio listrik
EKG: Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus:
Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes

Infus NaCl 0,9% 20 tpm


Injceftriaxone 1gr/12jam
Inj metamizole 1gr/8jam
Inj ranitidin 50 mg/ 12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
Diet lunak
Medikasi

24

(-)
16 Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD:
combutio listrik
110/80mmHg
grade I 2%
Nadi: 84x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD:
combutio listrik
109/75mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,

Bedah
Plastik

17Okt
2015
Bedah
Plastik

25

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet TKTP
- Operasi Debridement +
STSG

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet TKTP

abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
18 Okt
2015

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/75
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio Humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Nyeri post
op (+)

KU sedang, CM - Post debridement a.i


TD: 110/60
combutio listrik
mmHg
grade I 2%
Nadi: 88x/menit, - Post debridement a.i
RR: 20x/menit,
combutio listrik
EKG:Irama sinus
grade II 40%
Regio Humerus: - Post debridement a.i
I:luka op tertutup
combutio listrik
kasa(+),rembes(-)
grade III 2%
Regio femur (D):
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)
Regio extremitas
inferior (S):
I: luka op tertutup

Bedah
Plastik

19Okt
2015
Bedah
Plastik

26

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet TKTP
- Pro Debridement 19/10/15

Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj metamizole 1 gr/ 8 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Balance cairan
Awasi produk urin +EKG
+tanda sindrom
kompartemen
- Diet TKTP
- Operasi Debridement +
STSG

kasa (+), rembes


(-)
Regio thorak,
abdomen:
I: luka op tertutup
kasa (+), rembes
(-)

Laporan Operasi (19Oktober 2015)


Tn.A, 33Thn
Dx pre op : Raw surface regio femur (S) & shoulder (S)
Dx post op : Raw surface regio femur (S) & shoulder (S)
Tindakan
: Debridement + STSG
TIM
: dr. Yusuf/dr. Warji/dr. Ndaru/dr. Amru Sungkar Sp.B, Sp.BP-RE(K)
Pasien posisi supine dalamGA
Toilet medan operasi dan tutup dengan doek steril berlubang
Identifikasi luka : Raw surface regio femur (S) & shoulder (S)
Dilakukan : donor STSG dari lateral regio femur (S), diletakkan pada raw surface, fiksasi
dengan jahitan di beberapa tempat
Tutup STSG dengan tulle, kassa lembab berlapis, kassa owl, dan kassa kering tutup
elastic band
Medikasi luka regio cruris D/S + abdomen + thorax inferiro dengan sibro
Operasi selesai
Instruksi Post OP:
Masuk HCU bedah sampai stabil
Bila BU (+) diet TKTP
Infus RL 20 tpm
Inj ceftriaxone 1gr/12 jam
Inj ranitidin 50 mg/12jam
Medikasi selanjutnya sesuai jadwal

27

28

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI KULIT
Kulit adalah organ tubuh yang terluas yang terletak paling luar dan
membatasi dari lingkungan hidup manusia, juga merupakan organ essensial dan
vital serta sebagai sarana komunikasi non verbal antara individu. Kelembutan kulit
bervariasi, begitu juga ketebalan dan elastisitasnya. Luas kulit orang dewasa
adalah satu setengah sampai dua persegi. Tebalnya antara satu setengah sampai
lima millimeter, tergantung dari letak, umur, jenis kelamin, suhu dan keadaan gizi.
Fungsi utama kulit yaitu proteksi, absorpsi, ekskresi, pengindraan sensori,
termoregulasi, pembentukan pigmen, produksi vitamin D serta untuk ekspresi
emosi.

Gambar 1. Anatomi kulit


29

Secara histologis, kulit tersusun atas beberapa lapis yaitu lapisan epidermis,
lapisan dermis serta lapisan subkutis.
1. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang tersusun atas epitel
squamos yang terdiri atas terutama oleh keratinosit. Epidermis tidak memiliki
pembuluh darah, sehingga mendapatkannya melalui difusi dari dasar dermis,
menuju ke membrane basalis yang memisahkan epidermis dan dermis.
a. Stratum Korneum
Disebut juga lapisan tanduk. Merupakan lapisan kulit yang paling luar,
terdiri atas sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya
berubah menjadi keratin (zat tanduk)
b. Stratum Lusidum
Merupakan lapisan yang terdiri dari sel-sel gepeng tidak berinti dengan
protoplasma yang berubah menjadi protein eleidin. Lapisan ini tampak jelas
pada telapak tangan dan kaki.
c. Stratum granulosum
Terdiri dari dua sampai tiga lapis sel gepeng dengan sitoplasma yang kasar
yang terdiri atas keratohialin.
d. Stratum basalis
Merupakan dasar epidermis, berproduksi dengan cara mitosis. Terdiri atas
dua jenis sel yaitu sel kolumnair dan melanosit.
2. Dermis
Lapisan dermis jauh lebih tebal daripada epidermis, terbentuk oleh
jaringan elastic dan fibrosa dengan elemen selular, kelenjar dan rambut ssebagai
adneksa kulit. Terdiri atas dua bagian yaitu pars papilaris dan pars retikularis.
3. Subkutis
Lapisan ini merupakan kelanjutan dermis, terdiri atas jaringan ikat
longgar berisi sel-sel lemak.
B. DEFINISI DAN ETIOLOGI

30

Luka bakar atau combusio adalah kasus emergency yang sering ditemukan
dalam dunia kedokteran.Etiologi dari luka bakar dapat terjadi karena factor
thermal, kimia, listrik dan radiasi.
Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan
ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi
paling rendah, dalam hal ini cairan.Kerusakan terutama pada pembuluh darah,
khususnya

tunika intima,

sehingga

menyebabkan

gangguan

sirkulasi

ke

distal.Seringkali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baikkontak dengan


sumber arus maupun ground.
Cedera listrik bisa terjadi akibat tersambar petir atau menyentuh kabel
maupun sesuatu yang menghantarkan listrik dari kabel yang terpasang. Cedera
bisa berupa luka bakar ringan sampai kematian, tergantung kepada:
1. Jenis aliran listrik
Kejadian kecelakaan karena tersengat arus listrik pada manusia lebih
sering dikarenakan arus bolak-balik (AC) dibandingkan arus searah (DC).
Manusia lebih sensitif terhadap arus AC dibandingkan arus DC (sekitar 4-6
kali). Arus DC menyebabkan satu kontraksi otot. Sedangkan arus AC
menyebabkan kontraksi yang kontinyu (tetani) dapat mencapai 40-110
kali/detik, sehingga menyebabkan luka yang lebih parah. Pada tegangan rendah,
arus searah tidak berbahaya dibanding arus bolak-balik dengan ampere yang
sama. Sebaliknya, pada tegangan tinggi, arus searah lebih berbahaya. Efek AC
pada tubuh manusia sangat tergantung kepada kecepatan berubahnya arus
(frekuensi), yang diukur dalam satuan siklus/detik (hertz). Arus frekuensi
rendah (50-60 hertz) lebih berbahaya dari arus frekuensi tinggi dan 3-5 kali
lebih berbahaya dari DC pada tegangan dan kekuatan yang sama. AC sebesar
60 hertz menyebabkan otot terpaku pada posisinya, sehingga korban tidak dapat
melepaskan genggamannya dari sumber listrik. Akibatnya korban terkena
sengatan listrik lebih lama sehingga terjadi luka bakar yang berat. Arus DC
dipakai dalam industri yang menggunakan proses elektrolisa, misalnya pada
pemurnian dan pelapisan atau penyepuhan logam. Juga digunakan pada telepon

31

(30-50 volt) dan kereta listrik (600-1500 volt). Arus AC digunakan di rumahrumah dan pabrik, biasanya menggunakan tegangan 110 volt atau 220 volt.
2. Tegangan (Voltage)
Dikenal ada 2 macam tegangan :
a. Tegangan rendah (low voltage)
b. Tegangan tinggi (high voltage)
Batasnya ditetapkan pada 1000 volt. Tegangan tinggi dapat menyebabkan
kematian mendadak akibat dari henti jantung (cardiac arrest), tetapi untuk
tagangan rendah (110-380 V, arus searah 50-60 Hz) kematian biasanya akibat
dari fibrilasi ventrikel.
3. Kuat arus (Intensitas)
Kekuatan arus listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama
dengan 1/1,000 ampere. Kuat arus dapat dihitung dari tegangan (volt) dibagi
dengan tahanan (Ohm). 10 mA dapat menimbulkan rasa tidak enak (unpleasant
sensation). 10-60 mA dapat menghilangkan kontrol otot-otot dan dapat
menyebabkan asfiksia. Kuat arus lebih dari 60 mA dan berlangsung lebih dari 1
detik dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Arus 60-80 mA atau 200-250 mA
pada DC adalah berbahaya bagi manusia. Jika arus langsung mengalir ke
jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker, maka bisa terjadi gangguan irama
jantung meskipun arus listriknya jauh lebih rendah (kurang dari 1 mA). Lobl O
mengatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas atas ketahanan
seseorang, pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran. Kematian
akan terjadi pada kuat arus sebesar 100 mA atau lebih.
4. Ketahanan tubuh terhadap arus listrik (Resistensi)
Resistensi adalah kemampuan tubuh untuk menghentikan atau
memperlambat aliran arus listrik (satuan: Ohm). Tahanan tubuh manusia
terhadap arus listrik tergantung dari banyaknya kandungan air pada jaringan
tersebut. Urutan tahanan jaringan dimulai dari yang paling rendah adalah saraf,
pembuluh darah, otot, kulit, tendo, dan tulang. Tahanan kulit + 500-10.000
Ohm. Kulit yang kering mempuyai tahanan antara 2000-3000 Ohm, sedangkan
kulit yang basah mempunyai tahanan sekitar 500 Ohm. Resistensi kulit yang
32

tertusuk atau tergores atau resistensi selaput lendir yang lembab (misalnya
mulut, rektum atau vagina), hanya separuh dari resistensi kulit utuh yang
lembab.Resistensi dari kulit telapak tangan atau telapak kaki yang tebal adalah
100 kali lebih besar dari kulit yang lebih tipis.
Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak
yang dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan
luka bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai
dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik.
Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka
bakar.
5. Aliran arus listrik (path of current)
Aliran arus listrik adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh
arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. Letak titik masuk arus
listrik (point of entry) dapat pada setiap titik dari tubuh korban, tetapi karena
adanya titik keluar yangg juga dapat berbeda-beda, maka efek dari arus listrik
tersebut bervariasi dari yang ringan sampai berat. Jaffe (1928) mengatakan
bahwa apabila arus listrik masuk dari sebelah kiri bagian tubuh lebih berbahaya
daripada apabila masuk dari sebelah kanan. Schridde (1936) mendapatkan 88%
kematian setelah adanya kontak antara konduktor dengan tangan kiri. Bahaya
terbesar bisa timbul apabila jantung atau otak berada dalam posisi aliran dari
arus listrik tersebut.
Arus listrik paling sering masuk melalui tangan, kemudian kepala dan
paling sering keluar dari kaki. Arus yang melewati kepala bisa menyebabkan:
a. Kejang.
b. Pendarahan otak.
c. Kelumpuhan pernapasan.
d. Perubahan psikis (misalnya gangguan ingatan jangka pendek, perubahan
kepribadian, mudah tersinggung dan gangguan tidur)
e. Irama jantung yang tidak beraturan.
f. Kerusakan pada mata bisa menyebabkan katarak.
Duff dan McCaffrey (2001) menyebutkan bahwa jalur yang sering dilewati arus
listrik adalah melalui tangan ke tangan, tangan ke kaki, dan kepala ke kaki.

33

Tedeschi et.al. menggambarkan beberapa variasi aliran arus listrik yg masuk


kedalam tubuh korban.

Gambar 2. Aliran Arus Listrik


6. Lamanya terkena arus listrik
Semakin lama terkena listrik maka semakin banyak jumlah jaringan
yang mengalami kerusakan. Seseorang yang terkena arus listrik bisa mengalami
luka bakar yang berat. Pada tegangan yang rendah, arus listrik dapat
menimbulkan spasme otot-otot dan menyebabkan korban menggenggam
konduktor, sehingga arus listrik akan mengalir dalam beberapa saat. Pada
keadaan ini dapat menjadikan korban berada dalam keadaan syok yang
mematikan. Sedangkan tegangan tinggi, seseorang mungkin dapat segera
terlempar/melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh, oleh
karena arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan
timbulnya kontraksi otot, termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut.
C. KARAKTERISTIK LISTRIK
Karakteristik listrik serta sifat berbagai jaringan menentukan derajat
kerusakan dan memberikan prediksi mengenai kemungkinan yang terjadi,
morbiditas bahkan mortalitas. Beberapa karakteristik listrik yang perlu diketahui
antara lain adalah tegangan(voltage), arus listrik, resistensi dan konduksi

Tegangan adalah gaya elektromotif atau perbedaan potensial listrik. Semakin


besar tegangan listrik yang dialirkan ke jaringan yang memiliki resistensi relatif
tetap, semakin besar arus yang dialirkan.
34

Arus listrik (electric current) adalah aliran litrik, ada dua yaitu arus bolak balik
(alternating current, AC) dan satu arah (direct current, DC).
Arus DC tegangan tinggi menimbulkan spasme muscular, menyebabkan korban
terpental menjauhi sumber arus. Hal ini mengakibatkan waktu paparan dengan
arus relatif singkat, namun diikuti kemungkinan timbulnya taruma tumpul.
Arus AC lebih berbahaya, karena menyebabkan kontraksi muskular kontinu,
tetani, dan timbul bila serat-serat otot mendapat stimulasi 40-110 kali per detik.
Biasanya semakin tinggi tegangan dan kekuatannya, maka semakin besar
kerusakan yang ditimbulkan oleh kedua jenis arus listrik tersebut.Kekuatan arus
listrik diukur dalam ampere. 1 miliampere (mA) sama dengan 1/1,000 ampere.
Pada arus serendah 60-100 mA dengan tegangan rendah (110-220 volt), AC 60
hertz yang mengalir melalui dada dalam waktu sepersekian detik bisa
menyebabkan irama jantung yang tidak beraturan, yang bisa berakibat fatal.
Arus bolak-balik lebih dapat menyebabkan aritmia jantung dibanding arus
searah. Arus dari AC pada 100 mA dalam seperlima detik dapat menyebabkan
fibrilasi ventrikel dan henti jantung.
Efek yang sama ditimbulkan oleh

DC

sebesar

300-500

mA.

Jika arus langsung mengalir ke jantung, misalnya melalui sebuah pacemaker,


maka bisa terjadi gangguan irama jantung meskipun arus listriknya jauh lebih

rendah (kurang dari 1 mA).


Resistensi dan konduksi. Resistensi adalah tahanan jaringan atau oposisi
terhadap aliran listrik, sedangkan konduksi adalah kapasitas jaringan
menyampaikan (mengalirkan arus listrik).
Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh, akan menurun
besarnya pada tulang, lemak, urat saraf, otot, darah dan cairan tubuh.
Tahanan kulit rata - rata 500 - 10.000 ohm.
Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya, hal ini
bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut, kelenjar
keringat dan lemak.Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang
kering.Menurut hitungan Cardieu, bahwa berkeringat dapat menurunkan
tahanan sebesar < 1,000 ohm.

35

Arus listrik banyak yang melewati kulit, karena itu energinya banyak yang
dilepaskan di permukaan. Jika resistensi kulit tinggi, maka permukaan luka
bakar yang luas dapat terjadi pada titik masuk dan keluarnya arus, disertai
dengan hangusnya jaringan diantara titik masuk dan titik keluarnya arus listrik.
Tergantung kepada resistensinya, jaringan dalam juga bisa mengalami luka
bakar.
Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam
atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat
meningkat. Pertimbangkan tentang transitional resistance, yaitu suatu
tahanan yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara
konduktor dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi, misalnya baju, sarung
tangan karet, sepatu karet, dan lain-lain.
D. KLASIFIKASI LUKA BAKAR
Berdasarkan American Burn Association's, Luka bakar diklasifikasikan
berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat berat ringannya luka bakar.
1. Berdasarkan kedalamannya
a. Luka bakar derajat I (superficial burns)
Luka

bakar

derajat

ini

terbatas

hanya

sampai

lapisan

epidermis.Gejalanya berupa kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari


dermis, nyeri, hangat pada perabaan dan pengisian kapilernya cepat.Pada
derajat ini, fungsi kulit masih utuh.Contoh dari luka bakar derajat 1 adalah
bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama atau tersiram air panas.
Proses penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar derajat ini tidak
menghasilkan jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar pasien
merasa nyaman dengan mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa gel
lidah buaya.

36

Gambar 3.Luka Bakar Derajat I


b. Luka bakar derajat II ( partial thickness burns)
Luka bakar derajat ini merupakan luka bakar yang kedalamannya
mencapai batas dermis.Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan
dermis (superficial partial thickness).Luka bakar derajat II superficial ini
tampak eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan ditandai adanya bulla berisi
cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas
dindingnya meningkat.Luka ini mereepitelisasi dari struktur epidermis yang
tersisa pada rete ridge, folikel rambut dan keringat dalam 7-14 hari secara
spontan.Setelah penyembuhan, luka bakar ini dapat memiliki sedikit
perubahan warna kulit dalam jangka waktu yang lama.

37

Gambar 4.Luka Bakar Derajat IIA


Luka bakar derajat II yang mengenai bagian reticular dermis (deep
partial thickness) tampak lebih pucat, tetapi masih terasa nyeri jika di tusuk
dengan jarum (pin prick test).Luka bakar ini sembuh dalam 14-35 hari
dengan reepitelisasi dari folikel rambut, dan keratinosit kelenjar keringat,
seringkali parut berat muncul sebagai akibat dari hilangnya dermis.

Gambar 5.Luka bakar derajat IIB


c. Luka bakar derajat III (full-thickness)
Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis
sampai ke lemak subkutan.Luka bakar ini ditandai dengan eskar yang keras,
tidak nyeri, dan warnanya hitam, putih atau merah ceri.Tidak ada sisa
epidermis ataupun dermis sehingga luka harus sembuh dengan reepitelisasi
dari tepi luka.Full thickness memerlukan eksisi dengan skin grafting.

38

Gambar 6. Luka bakar derajat III

d. Luka bakar derajat IV


Luka bakar derajat ini hingga mencapai organ di bawah kulit seperti
otot, dan tulang.

Tabel 1. Kategori derajat luka bakar

39

Gambar 7. Luka bakar derajat IV

2. Luas Luka Bakar


Wallace membagi tubuh atas bagian bagian 9 % atau kelipatan dari 9
terkenal
atau Rule of

Kepala dan leher

9%

Lengan

18 %

Badan Depan

18 %

18 %

36 %

Badan Belakang
Tungkai

40

Genitalia/perineum -

1%

Total

100 %

dengan nama Rule of Nine


Wallace.

Gambar 8. Rules of nine


Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak
tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak anak
dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan
pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

41

Gambar 9. Rules of nine sesuai umur


3. Kriteria Berat Ringannya (American Burn Association)
a. Luka Bakar Ringan.
-

Luka bakar derajat II <15 %

Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak

Luka bakar derajat III < 2 %

b. Luka bakar sedang


-

Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa

Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak

Luka bakar derajat III < 10 %

c. Luka bakar berat


-

Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa

Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak.

Luka bakar derajat III 10 % atau lebih

-Luka

bakar

mengenai

tangan,

wajah,

telinga,

mata,

genitalia/perineum.
-Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain.

E. PATOGENESIS
42

kaki

dan

Pada luka bakar terjadi perubahan lokal berupa nekrosis koagulatif pada
epidermis, dermis dan jaringan di bawahnya, dengan kedalaman tergantung pada
temperatur bahan dan durasi pajanan.
Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan bahan penyebab dan kedalaman
luka. Bahan yang dapat menyebabkan luka bakar adalah api, sclad (cairan panas),
kontak dengan bahan padat yang panas, bahan kimia, dan listrik. Sedangkan
kedalaman luka dapat dibagi menjadi :
Derajat 1:

Luka terbatas pada epidermis (eritema)

Derajat 2 superfisial

Luka

pada

epidermis

hingga dermis superfisial


atau papila dermis (bullae).
Derajat 2 dalam :

Luka pada epidermis hingga

dermis dalam
ataureticular dermis (bullae).
Derajat 3:

Luka mencapai seluruh dermis dan

jaringansubkutan di bawahnya. (warna kulit putih


hinggacoklat kehitaman, tanpa bullae).

Tabel 2. Penilaian derajat luka bakar

43

Gambar 10. Penampang kedalaman luka bakar


Pada luka yang melibatkan sebagian tebal lapisan kulit (derajat 1 dan 2)
bisertai rasa nyeri, sedangkan derajat 3 biasanya rasa nyeri minimal atau tidak
ada.1 Berdasarkan gambaran histologis, pada luka bakar terdapat tiga zona yaitu
zona koagulasi, zona stasis, dan zona hiperemia. Pada zona koagulasi terjadi
nekrosis jaringan dan kerusakan yang ireversibel. Zona stasis berada di sekitar
zona koagulasi, dimana terjadi penurunan perfusi jaringan dengan kerusakan dan
kebocoran vaskuler. Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi,
jaringannya masih viable dan proses penyembuhan berawal dari zona ini.

Gambar 11. Zona luka bakar Jackson dan efeknya terhadap resusitasi adekuat
dan inadekuat

44

Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan endotel dan epitel
akibat cedera termis yang melepaskan mediator-mediator

proinflamasi dan

berkembang menjadi Systemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS), kondisi


ini hampir selalu berlanjut dengan Multi-system Organ Dysfunction Syndrome
(MODS). MODS terjadi karena gangguan perfusi jaringan yang berkepanjangan
akibat gangguan sirkulasi mikro. Berdasarkan konsep SIRS, paradigma
penatalaksanaan luka bakar fase akut berubah, semula berorientasi pada gangguan
sirkulasi makro menjadi berubah orientasi pada proses perbaikan perfusi (srkulasi
mikro) sebagai end-point dari prosedur resusitasi.
Pelepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya di tempat terjadinya luka
bakar memiliki efek sistemik jika luka bakar mencapai 30% luas permukaan
tubuh. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai efek sistemik tersebut anatara
lain berupa:

Gangguan Kardiovaskular, berupa peningkatan permeabilitas vaskular yang


menyebabkan keluarnya protein dan cairan dari intravaskular ke interstitial.
Terjadi vasokonstriksi di pembuluh darah sphlancnic dan perifer. Kontraktilitas
miokardium menurun, kemungkinan disebabkan adanya TNF. Perubahan ini
disertai dengan kehilangan cairan dari luka bakar menyebabkan hipotensi
sistemik dan hipoperfusi organ

Gangguan sistem respirasi, mediator inflamasi menyebabkan bronkokonstriksi,


dan pada luka bakar yang berat dapat timbul respiratory distress syndrome

Gangguan metabolik, terjadi peningkatan basal metabolic rate hingga 3 kali


lipat. Hal ini, disertai dengan adanya hipoperfusi sphlancnic menyebabkan
dibutuhkannya pemberian makanan enteral secara agresif untuk menurunkan
katabolisme dan mempertahankan integritas saluran pencernaan.

Gangguan imunologis, terdapat penuruanan sistem imun yang mempengaruhi


sistem imun humoral dan seluler.
Masalah pada luka bakar berdasarkan kronologi dibagi menjadi:
1 Fase akut :

Deteriorasi

airway,

berlangsung selama 0-48 jam (72 jam)


45

breathing,

circulation;

2 Fase subakut

SIRS dan MODS, berlangsung sampai

Jaringan

21 hari.
3 Fase lanjut

parut

(hipertrofik,

keloid,

kontraktur), berlangsungsampai 8-12 bulan.


Masalah yang timbul pada luka bakar fase akut terutama berkaitan dengan
gangguan jalan napas (cedera inhalasi), gengguan mekanisme bernapas dan
gangguan sirkulasi. Ketiga hal tersebut menyebabkan gangguan perfusi jaringan
yang dapat menyebabkan kematian.
Cedera inhalasi merupakan gangguan mukosa saluran napas akibat kontak
dengan sumber termis, toxic fumes, dan zat toksik lainnya. Dugaan kuat mengenai
adanya cedera inhalasi bila dijumpai riwayat luka bakar yang disebabkan api,
terperangkap di ruang tertutup, luka bakar pada wajah dan leher, bulu hidung
terbakar, sputum dan air liur mengandung karbon.2 Kerusakan mukosa dapat pula
disebabkan oleh minyak panas, air panas, bahan kimia yang mengenai muka, leher,
dada bagian atas. Pada cedera inhalasi terjadi edema mukosa dari orofaring dan
laring hingga membran alveoli. Hal ini dapat menyebabkan obstruksi yang
ditandai dengan stridor, suara serak, sulit bernapas, gelisah. Bronkospasme dapat
terjadi bila reaksi inflamasi melibatkan otot polos bronkus.

Tabel 3. Tanda dan Gejala cedera inhalasi


Gangguan mekanisme bernapas pada luka bakar dapat terjadi pada pasien
dengan eskar melingkar di dada yang menyebabkan gangguan proses ekspansi
rongga toraks sehingga compliance paru berkurang.

46

Gangguan sirkulasi pada luka bakar terjadi melalui mekanisme perubahan


integritas membran mikrovaskuler, perubahan hukum Starling, gangguan perfusi
(syok seluler), dan evaporative heat loss. Setelah cedera termis, terjadi pelepasan
histamin diikuti pelepasan histmain dan aktivasi komplemen yang menyebabkan
perlekatan leukosit PMN dengan endotel. Endotel inflamatif akan melepaskan
radikal bebas yang diikuti oleh peroksidasi lipid yang mengaktivasi asam
arakidonat. Hal ini menyebabkan aktivasi kaskade koagulasi dan pelepasan sitokin
(IL1, IL6, TNFa). Proses inflamasi mengakibatkan perubahan morfologi endotel
dan peningkatan permeabilitas kapiler. Peningkatan permeabilitas kapiler ini
mengakibatkan perpindahan cairan dari intravaskuler ke ruang interstisium.
Gangguan perfusi merupakan penyebab hipoksemia. Kerusakan organ yang
terjadi sangat tergantung pada waktu karena tiap organ memiliki batas toleransi
tertentu untuk kondisi hipoksia. Sel-sel glia memiliki waktu 4 menit, sel-sel
tubulus ginjal memiliki waktu iskemik 8 jam, sel otot polos 4 jam, otot lurik 8-10
jam.
F. GEJALA DAN TANDA KLINIS
Menurut Henderson, bahwa gejala klinis yang utama pada luka bakar yaitu
lepuh yang merupakan tanda khas luka bakar superfisial. Disini cairan tercurah
dari jaringan cedera yang lebih dalam sehingga permukaan superfisial yang
terbakar (mati) akan terangkat. Lepuh atau bullae pada luka bakar sering pecah
dan meninggalkan suatu permukaan merah kasar yang mengeluarkan cairan serous
dan dapat berdarah. Luka bakar yang superfisial terasa nyeri karena ujung saraf
terpapar dan mengalami inflamasi.
Luka bakar yang dalam, gejala klinisnya pada pandangan pertama kulit
mungkin terlihat hampir normal.Kemudian setelah diperhatikan, tampak kulit
tersebut mengkilap pembuluh-pembuluh darahnya mudah dilihat, tetapi darah
dalam pembuluh darah tersebut tidak dapat diperah keluar karena sudah
mengalami koagulasi. Kulit amat kaku ketika disentuh.Bagian tersebut terasa tidak
enak.Tetapi tidak nyeri, karena sebagian besar ujung saraf sudah mati. Luka

47

sayatan pada bagian tersebut tidak akan berdarah. Kadang-kadang terjadi


pengarangan dan karbonisasi (gosong).
Gejala-gejala klinis lain selain diatas, yaitu adanya tanda-tanda distress
pernapasan seperti serak, ngiler, ketidakmampuan menangani sekresi.Tanda-tanda
cedera inhalasi seperti pernapasan cepat dan sulit, krakles, stridor, batuk pendek.
G. PENGARUH LISTRIK TERHADAP TUBUH
Berdasarkan aspek resistensi dan konduksi ini, dibedakan menjadi dua
jenis arus, yaitu arus langsung (direk) dan tidak langsung (indirek) yang
membedakan dua jenis luka bakar listrik.
1. Arus langsung (direk)
Terjadi saat seseorang menyentuh sebuah konduktor yang terhubung dengan
arus listrik. Dampak jaringan listrik diuraikan berikut ini:
Kulit
Kulit adalah jaringan yang merupakan resistor (namun tidak sebaik tulang),
bukan konduktor yang baik (tidak sebaik saraf, pembuluh darah, dan otot).
Karenanya sebagian besar energi listrik diserap oleh kulit terutama di daerah
yang memiliki lapisan keratin tebal (telapak tangan, telapak kaki) dan diubah
menjadi energi panas menimbulkan luka bakar (efek thermal)
Dalam keadaan basah kulit menjadi konduktor yang baik, sehingga tidak ada
energi yang diserap, namun langsung diteruskan ke jaringan dibawahnya.
Kondisi ini menyebabkan electric shock (lectrocotion) pada jaringan yang
letaknya lebih dalam diertai gangguan jantung (aritmia ventricular, cardiac
arrest) tanpa luka bakar sama sekali di permukaan (misal pada bathtub

injury).
Saraf
Saraf merupakan jaringan tubuh yang didesain untuk menghantarkan aliran
listrik.
Jaringan saraf mengalami kehilangan konduktivitas nya karena mengalami

nekrosis koagulasi.
Sistem otot dan pembuluh darah
Sistem otot dan pembuluh darah mengandung air dan kadar elektrolit dengan
konsentarsi tinggi sehingga berperan baik sebagai konduktor.
48

Otot mengantarkan arus listrik jauh lebih banyak, sekaligus memanasakan


jaringan sekitarnya.Kerusakan otot periosteal dapat terjadi meski otot yang
terletak superficial terlihat normal.
Pembuluh darah mengalami kerusakan paling berat, disebabkan difusi panas
melalui tunika intima.Kerusakan pada pembuluh darah berupa erosi endotel
(diikuti gangguan integritas endotel), adhesi leukosit-trombosit dan
terbentuknya trombus-trombus, trombosis menyebabkan terganggunya aliran

sirkulasi.
Tulang, lemak dan tendon
Tulang, lemak dan tendon merupakan resistor yang baik sehingga tidak
menghantarkan listrik namun lebih menimbulkan panas dan mengalami

koagulasi.
2. Arus tidak langsung (indirek)
Arc (percikan listrik)
Flash
Step voltage
Sebab kematian karena arus listrik yaitu :
a. Fibrilasi ventrikel
Bergantung pada ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961) memperkirakan
pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari
lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. Yang paling berbahaya adalah
jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki
yang berlawanan/kanan. Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan
yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal
dunia.
b. Paralisis respiratorik
Akibat spasme dari otot-otot pernafasan, sehingga korban meninggal karena
asfiksia, sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap
berdenyut sampai timbul kematian. Terjadi bila arus listrik yang memasuki
tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan, tetapi masih di
batas bawah yang dapat menimbulkan fibrilasi ventrikel. Menurut Koeppen,
spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA, sedangkan
ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 75-100 mA.
49

c. Paralisis pusat nafas


Jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak, disebabkan juga oleh
trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek
hipertermias. Bila aliran listrik diputus, paralisis pusat pernafasan tetap ada,
jantung pun masih berdenyut, oleh karena itu dengan bantuan pernafasan
buatan korban masih dapat ditolong. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala
merupakan jalur arus listrik.
d. Luka bakar
Paparan arus yang dihasilkan oleh sumber tegangan rendah (termasuk
sumber listrik rumah tangga) dapat menyebabkan lukabakar di tisu cutaneus
disebabkan transformasi energi listrik kepadaenergytermal. Luka bakar dapat
berupa eritema lokal sehinggalukabakarderajatberat. Tingkat keparahan luka
bakar tergantung pada intensitas arus, permukaan daerah, dan durasi
paparan.
H. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada pasien luka bakar adalah anamnesis singkat
dikarenakan luka bakar merupakan bagian dari kegawat daruratan biasanya
anamnesis dilakuakan secara auto dan alloanamnesis. Anamnesis yang sering
ditanyakan adalah, berat badan pasien, umur, sudah berapa lama setelah terapar
ledakan, terkena ledakan apa, seberapa besar ledakan, penanganan apa yang
sudah dilakukan dan lain lain seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,
riwayat penyakit dahulu riwayat penyakit keluarga, riwayat pekerjaan, sosial,
ekonomi, dan kejiwaan, gaya hidup menyusul.
2. Pemeriksaan Fisik
Primary survey
A (Airway) Jalan nafas
Edema mukosa dapat terjadi pada pasien luka bakar atau trauma
inhalasi, obstruksi pada saluran napas atas (pharynx / larynx) dapat berkembang

50

dengan cepat terutama pada anak. Trauma inhalasi harus dicurigai pada siapa
pun dengan luka bakar dan diasumsikan sampai terbukti sebaliknya, pada siapa
pun yang terbakar dalam ruang tertutup. Inspeksi dari mulut dan pharynx harus
dilakukan lebih awal, dan intubasi endotracheal dilakukan jika perlu. Suara
serak dan bunyi wheezing pada ekspirasi adalah tanda-tanda edema saluran
napas yang serius atau trauma inhalasi. Produksi lendir berlebihan dan dahak
karbon yaitu dahak bercampur flek hitam juga tanda-tanda positif trauma
inhalasi. Tingkat karboksihemoglobin harus didapatkan dan peningkatan tingkat
gejala

atau

keracunan

karbon

monoksida

(CO)

adalah

berdasarkan

kemungkinan trauma inhalasi. Penurunan rasio dari tekanan oksigen arteri


(PaO2) dan persentase oksigen terinspirasi (FiO2), adalah salah satu indikator
yang paling awal pasien telah menghirup asap. Bila pasien positif trauma
inhalasi sebaiknya pasien dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas
pusat luka bakar (burn centre) dengan dilakukan intubasi terlebih dahulu untuk
memastikan jalan nafas tetap terbuka.
B (Breathing) Kemampuan bernafas
Jika jalan napas baik dan pasien dapat bernapas, pemberian oksigen
dengan sungkup atau nasal kanul mungkin dapat mencukupi.Tetapi jika pasien
tidak dapat bernapas akibat obstruksi jalan napas atas atau akibat penurunan
kesadaran, dapat diberikan intubasi endotrakeal.Trakeostomi emergensi harus
dihindari kecuali jika hal itu benar-benar dibutuhkan.Jika curiga terdapat
trauma pada vertebra servikalis, manipulasi jalan napas harus dilakukan dengan
tetap meimobilisasi leher dan kepala pada axis tubuh sampai vertebra servikal
terevaluasi sepenuhnya.
C (Circulation)
Sirkulasi perifer yang adekuat harus ditemukan dengan cepat setelah
terjadinya luka bakar dengan meraba pulsasi di perifer.Semua pakaian pasien
harus dilepaskan.Cincin, jam dan perhiasan harus dilepaskan pada anggota
tubuh yang mengalami cedera, konstriksi pada bagian yang bengkak akibat

51

jeratan perhiasan dapat mengakibatkan iskemia di bagian distal. Pada luka


bakar, permeabilitas pembuluh darah meningkat, sehingga terjadi perpindahan
cairan dari pembuluh darah ke jaringan intersitial, akibatnya dapat
menimbulkan syok hipovolemik.Semakin luas area luka bakar, semakin berat
syok hipovolemik yang terjadi.Resusitasi cairan harus diberikan secepatnya.
D (Disability/Drugs)
Apakah ada gangguan ekstremitas atau gerakan lain, dan apakah ada
penggunaan obat-obatan
E (Exposure)
Bagaimana tampak keseluruhan dari unjung rambut sampai ujung kaki
Secondary survey
Kepala

: Apakah ada deformitas

Wajah

: Adakah luka bakar di wajah bagian depan dan kiri dan kanan

Rambut

: Adakah terbakar

Mata

: Apakah ada bagian mata yang mengalami gangguan atau cacat

THT

: Apakah ada jelaga dan ada kelainan pendengaran atau


mengeluarkan darah

Paru

: Simetris, fremitus, vesikuler, rhonki, wheezing

Jantung

: BJ I-II, murmur, gallop

Abdomen

: Apakah Datar, lemas, bagaimana bunyi usus

Ekstremitas

: Akral hangat atau dingin, apakah ada edema

Status Lokalis
Status lokalis merupakan pembahasan derajat luka bakar sesuai regio yang
terkena.
3. Pemeriksaan Penunjang

Hitung darah lengkap


Peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan
perpindahan atau kehilangan cairan.
Elektrolit serum

52

Kalium meningkat karena cedera jaringan atau kerusakan SDM dan

penurunan fungsi ginjal. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air.


Alkalin fosfat
Peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitial atau ganguan

pompa natrium.
Urine
Adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan

dalam dan kehilangan protein.


Foto rontgen dada untuk memastikan cedera inhalasi
Scan paru untuk menentukan luasnya cedera inhalasi
EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar

listrik.
BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal.
Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi.
Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap.
Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema

cairan.
Fotografi luka bakar dapat memberikan catatan untuk penyembuhan luka
bakar selanjutnya.

I. PEMERIKSAAN

DAN

PENATALAKSANAAN

BERDASARKAN

PENDEKATAN SISTEM
1. Respon Sistemik
Perubahan patofisiologik yang disebabkan oleh luka bakar yang berat
selama awal periode syok luka bakar mencakup hipoperfusi jaringan dan
hipofungsi organ yang terjadisekunder akibat penurunan curah jantung dengan
diikuti oleh fase hiperdinamik sertahipermetabolik.Insidensi, intensitas dan
durasi perubahan patofisiologik pada luka bakar sebanding dengan luasnya luka
bakar yang terlihat pada seberapa luas permukaan tubuh yangterkena.Kejadian
sistemik

awal

sesudah

ketidakstabilanhemodinamik

luka
akibat

bakar
hilangnya

yang
integritas

berat
kapiler

adalah
dan

kemudian terjadinya perpindahan cairan, natrium, serta protein dari ruang


intravascular kedalam ruang interstisial.
a. Trauma pada kepala dan leher

53

Trauma kepala merupakan hal yang lazim dijumpai pada trauma akibat
listrik tegangan tinggi. Korban menunjukkan manifestasi berupa luka
bakar dan kerusakan neurologik. Pada korban sengatan petir tidak jarang

dijumpai fraktur basilaris.


Pada trauma akibat petir, ruptur membran timpani terjadi, umumnya

sekunder dari fraktur basilaris.


Fraktur servikal perlu dicurigai bila korban jatuh dari ketinggian.
b. Respon Kardiovaskuler
Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada
volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan
dan berkurangnya volume vascular,maka curah jantung akan terus menurun
dan terjadi perubahan tekanan darah, keadaan inimerupakan awitan syok
luka

bakar. Sebagai

melepaskankatekolamin

respon,
yang

system

saraf

meningkatkan

simpatik
resistensi

akan
perifer

(vasokonstriksi) dan frekuensi denyut nadi, selanjutnya vasokonstriksi


pembuluh darah menyebabkan penurunan curah jantung.
c. Efek pada Cairan, Elektrolit, dan Volume Darah
Volume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi
syok luka bakar. Disamping itu, kehilangan cairan akibat evaporasi lewat
luka bakar dapat mencapai 3-5L atau lebih selama periode 24 jam sebelum
permukaan kulit yang terbakar ditutup. Selama syok luka bakar, biasanya
klien mengalami hiponatrium, hiperkalemia, dan atauhipokalemia. Pada saat
luka bakar, sebagian besar sel darah merah dihancurkan dan sebagian yang
lainnya mengalami kerusakan sehingga terjadi anemia. Walaupun demikian,
nilaihematokrit klien dapat meninggi akibat kehilangan plasma.
d. Respon Pulmoner
Pada klien yang mengalami luka bakar biasanya disertai dengan kerusakan
pulmoner,

yang

ditandai

dengan

cedera inhalasi,

berikut

adalah

klasifikasinya cedera saluran napas atas,cedera inhalasi dibawah glotis, yang


mencakup keracunan karbon monoksida dan defek restriktif. Cedera saluran
napas atas terjadi akibat panas langsung atau edema, bentuknya obstruksimekanis saluran atas yang menyerang faring dan laring.Cedera inhalasi

54

dibawah glotisterjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak


sempurna atau gas berbahaya, cedera inimenyebabkan hilangnya fungsi silia,
hipersekresi, edema mukosa yang berat, dan kemungkinan bronkospasme.
Keracunan karbon monoksida akan mengakibatkan seseorang tidak
mampumemenuhi kebutuhan oksigen yang adekuat kepada jaringan, hal ini
karena afinitas hemoglobin terhadap karbon monoksida 200 kali lebih besar
sdaripada afinitasnya terhadap oksigen. Sedangkan defek restriktif terjadi
kalau timbul edema dibawah luka bakar full thickness yang melingkar pada
leher dan toraks.Abnormalitas paru tidak selalu tampak dengan segera.Lebih
dari separuh korban luka bakar yang menderita gangguan paru pada mulanya
tidak memperlihatkan gejala dan tanda-tanda pulmonary. Indicator
kemungkinan terjadinya kerusakan paru mencakup hal berikut:
Riwayat yang menunjukan bahwa luka bakar terjadi dalam daerah yang

tertutup.
Luka bakar pada wajah atau leher
Rambut hidung yang gososng
Suara yang menjadi parau, perubahan suara, batuk yang kering, stridor,

sputum yang penuh jelaga.


Sputum yang berdarah
Pernafasan yang berat atau takipnea (pernafasan yang cepat) dan tanda

penurunan oksigen (hipoksemia) yang lain.


Eritema dan pembentukan lepuh pada mukosa oral atau faring.
e. Respon Sistemik Lainnya
Fungsi renal dapat berubah sebagai akibat dari berkurangnya volume
darah, destruksi sel-sel darah merah pada lokasi cedera akan menghasilkan
hemoglobin bebas dalam urin. Jika terjadi kerusakan di otot (akibat luka
bakar listrik), mioglobin akan dilepaskan dari sel-sel otot dan diekskresikan
melalui ginjal, bila aliran darah yang melewati tubulus renal tidak cukup
maka hemoglobin akan menyumbatnya sehingga timbul komplikasi nekrosis
akut tubuler dan gagal ginjal. Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah
akibat luka bakar, kehilangan integritaskulit diperparah lagi dengan
pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal, hal ini membuat seseorang

55

yang menderita luka bakar berisiko tinggi mengalami sepsis. Selain itu,
hilangnya kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur
suhu, sehingga seorang yang menderita luka bakar dapat memperlihatkan
suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam pertama pasca-luka bakar,
namun kemudian akan mengalami hipertermia sekalipun tidak disertaiinfeksi
karena hipermetabolisme menyetel kembali suhu tubuh inti. Ada dua
komplikasi gastrointestinal yang potensial yaitu: ileus paralitik (tidak
adanya peristalsis usus) dan ulkus curling, berkurangnya peristalsis dan
bising usus merupakanmanifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka
2.

bakar.
Petunjuk praktis (Guidelines) American Burn Association (ABA) untuk
luka bakar listrik
Pemeriksaan EKG
Standar
Pemeriksaan EKG dilakukan pada semua penderita (baik tegangan tinggi

ataupun rendah)
Petunjuk Praktis
Dewasa atau anak-anak yang terpapar pada listrik tegangan rendah tanpa
kelainan EKG, tidak ada riwayat gangguan kesadaran dan tidak ada
indikasi rawat lainnya dapat dipulangkan dari ruang emergensi.
Semua penderita dengan riwayat gangguan kesadaran atau riwayat
disritmia sebelum atau pada saat masuk ruangan emergensi harus
dilakukan pemeriksaan telemetri. Penderita yang menunjukkan iskemia
pada pemeriksaan EKG harus dirawat dan dilakukan pemantauan fungsi
jantung.
Kadar enzim kreatinin kinase termasuk fraksi MB bukan indikator yang
baik untuk menggambarkan cedera jantung pasca trauma listrik dan

jangan digunakan sebagai sarana untuk disposisi penderita


Opsi
Penderita dihadapkan pada kemunkinan disritmia yang bersifat fatal.
Pemantauan fungsi jantung merupakan hal yang penting dalam manjemen
luka bakar listrik. Tidak ada data yang menunjang, berapa lama
pemantauan dilakukan, apakah dalam 24-48 jam.

56

Evaluasi dan manajemen ekstrimitas atas


Standar
Insufisiensi data untuk menempatkan managemen ini sebagai standar
Petunjuk Praktis
Penderita dengan listrik tegangan tinggi pada ekstrimitas atas harus
dirujuk ke sentrum luka bakar, sesuai dengan kriteria rujukan penderita
Indikasi dekompresi bedah adalah kasus-kasus dengan disfungsi
neurologik

progresif,

vascular

compromise,

peningkatan

tekan

intrakompartemen dan ancaman gangguan sistemik akibat mionekrosis.


Dekompresi yang dikerjakan adalah fasiotomi dan penilaian komponen
muscular. Tindakan dekompresi carpal tunnel dilakukan berdasarkan
indikais kasus per kasus.

Opsi
Ada beberapa metode yang dapat dikerjakan dalam menentukan dan
menilai kerusakan ekstrimitas, antara lain:
- Peningkatan kompartmen dismaping kondisi klinik. Peningkatan di
atas 30 mmHg atau tissue pressure mencapai 10-20mmHg di atas
tekanan diastolik menunjukkan adanya peningkatan komprtmen dan
-

merupakan indikasi melakukan tindakan dekompresi.


Scan menggunakan Technetium 99m pyrophosphate dapat digunakan
Penilaian menggunakan USG Doppler dapat digunakan untuk menilai

perfusi jaringan
3. Penatalaksanaan
a. Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemuikan pasien luka
bakar di tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran.
Maksudnya adalah membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan
memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kemudian lepaskan semua bahan
yang dapat menahan panas (pakaian, perhiasan, logam), hal ini untuk
mencegah luka yang semakin dalam karena tubuh masih terpajan dengan
sumber. Bahan yang meleleh dan menempel pada kulit tidak boleh
dilepaskan.Air suhu kamar dapat disiramkan ke atas luka dalam waktu 15

57

menit sejak kejadian, namun air dingin tidak boleh diberikan untuk
mencegah terjadinya hipotermia dan vasokonstriksi.
b. Resusitasi jalan napas
Resusitasi jalan napas bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen
yang adekuat. Pada luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan
intubasi dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi
obstruksi.Sebelum

dilakukan

intubasi,

oksigen

100%

diberikan

menggunakan face mask.Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi


jalan napas, fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan
bronchoalveolar lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi diperdebatkan
karena dianggap terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar dibandingkan
intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan akan
lama menggunakan endotracheal tube (ETT) yaitu lebih dari 2 minggu pada
luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi.Kemudian dilakukan pemberian
oksigen

2-4

L/menit

melalui

pipa

endotrakeal.

Terapi

inhalasi

mengupayakan suasana udara yang lebih baik di saluran napas dengan cara
uap air menurunkan suhu yang menigkat pada proses inflamasi dan
mencairkan sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Terapi
inhalasi dengan Ringer Laktat hasilnya lebih baik dibandingkan NaCl
0,9%.Dapat juga diberikan bronkodilator bila terjadi bronkokonstriksi seperti
pada cedera inhalasi yang disebabkan oleh bahan kimiawi dan listrik.Pada
cedera inhalasi perlu dilakukan pemantauan gejala dan tanda distres
pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak, gelisah, takipnea, pernapasan
dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan, dan stridor. Pemeriksaan
penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial dan foto
toraks.
c. Resusitasi cairan
Syok pada luka bakar umum terjadi dan merupakan faktor utama
berkembangnya SIRS dan MODS. Tujuan resusitasi cairan pada syok luka
bakar adalah:

58

Preservasi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh


vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan

Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan

Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin


survival seluruh sel

Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan


stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.

Jenis Cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid (isotonik),
cairan hipertonik dan koloid.
i.

Larutan kristaloid
Larutan kristaloid terdiri dari cairan dan elektrolit. Contoh larutan
kristaloid adalah Ringer laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit
mendekati kadarnya dalam plasma atau memiliki osmolalitas hampir
sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak banya
dipertahankan di ruang intravaskuler karena cairan ini banyak keluar ke
ruang interstisial. Pemberian 1L Ringer laktat akan meingkatkan volume

ii.

intravaskuler 300 ml.


Larutan hipertonik
Larutan hipertonik dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan
penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid.Larutan
garam hipertonik tersedia dalam beberapa konsentrasi yaitu NaCl 1,8%,
3%, 5%, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan
intraseluler sehingga akan cairan akan berpindah dari intraseluler ke
ekstravaskuler.

iii.

Larutan

garam

hipertonik

meningkatkan

volume

intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari intraseluler.


Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES, Hetastarch,
Hespan, Hemacell) dan Dextran. Molekul koloid cukup besar sehingga
tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh karena itu sebagian besar
akan tetap dipertahankan di ruang intravaskuler. Pada luka bakar dan

59

sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan


berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema
interstisium yang ada.
HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substituted amilopectin sintetik,
HES berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T1/2 dalam
plasma selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping
koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah klinis.HES
dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah
interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran
cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan bahwa
HES memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein
complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan
permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi ini diharapkan dapat mencegah
terjadiinya SIRS.
Dasar pemilihan cairan
Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan
adalah

efek

hemodinamik,

distribusi

cairan

dihubungkan

dengan

permeabilitas kapiler, oxygen carrier, pH buffering, efek hemostasis,


modulasi respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi, praktis dan efisiensi.
Jenis cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih
menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang berpendapat kristaloid
adalah cairan yang paling aman digunakan untuk tujuan resusitasi awal pada
kondisi klinis tertentu. Sebagian berpendapat koloid bermanfaat untuk
entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masing-masing
cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sulit untuk
mengambil keputusan untuk diterapkan secara umum sebagai protokol.
Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan cairan di kompartemen interstisial
secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi
dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid.
Penentuan jumlah cairan

60

Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga


sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1L cairan kristaloid akan
meningkatkan volume intravaskuler 300ml. Kristaloid hanya sedikit
meningkatkan cardiac outout dan memperbaiki transpor oksigen.
Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama
Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau Ringer asetat,
menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau
kasus luka bakar >25-30% atau dijumpai keterlambatan >2jam. Dalam <4
jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%x BBkg)] ml.
70% adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal
kehilangan cairan tubuh yang dapat menimbulkan gejala klinik sindrom
syok.
Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas
<25-30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan <2jam. Kebutuhan dihitung
berdasarkan rumus Baxter: 3-4 ml/kgBB/ % luas LB.
Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum
digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini
mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat
diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas dan tanpa
keterlambatan.
Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut:
Penatalaksanaan 24 jam pertama

Pada 24 jam pertama separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam


pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan
orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi
maka kebutuhan cairan 4ml ditambah 1% dari kebutuhan. Bila dijumpai
hipertermia, kebutuhan cairan ditambah 1% dari kebutuhan.

Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3


mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah
teteasan dibagi rata dalam 24 jam.
61

Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral


(minimal 6-12cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah
produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam) dan
hari1-2 (1-2 ml/kgBB/jam). Jika produksi urin <0,5ml/kgBB/jam maka
jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Jika produksi urin
>1ml/kgBB/jam maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya.

Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan
sedimen).

Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas


cairan lembung melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan
pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400ml gangguan
berat

Penatalaksanaan 24 jam pertama

Penatalaksanaan 24 jam kedua dengan pemberian cairan yang


mengandung glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis cairan yang
dapat diberikan adalah Glukosa 5% atau 10% 1500-2000ml. Batasi
Ringer laktat karena dapat memperberat edema interstisial.

Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah


produksi urin (1-2ml.kgBB/jam). Jika jumlah cairan sudah mencukupi
namun produksi urin <1-2ml/kgBB/jam, berikan vasoaktif sampai
5mg/kgBB.

Pemantauan analisa gas darah, elektrolit.

Penatalaksanaan setelah 48 jam

Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance

Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4ml/kgBB/jam),


hemoglobin dan hematokrit.10

d. Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas,
mekanisme bernapas dan resusitasi cairan dilakuakan. Tindakan meliputi

62

debridement, nekrotomi dan pencucian luka. Tujuan perawatan luka adalah


mencegah degradasi luka dan mengupayakan proses epitelisasi.Untuk bullae
ukuran kecil tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar (>5cm)
dipecahkan tanpa membuang lapis epidermis di atasnya. Untuk eskar yang
melingkar dan mengganggu aliran atau perfusi dilakukan eskarotomi.
Pencucian luka dilakukan dengan memandikan pasien dengan air hangat
mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa lembab steril
dengan atau tanpa krim pelembab. Perawatan luka tertutup dengan oclusive
dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle berfungsi
sebagai penutup luka yang memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan
krim antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi pada luka.
e. Penggunaan antibiotik
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai
profilaksis infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Penggunaan
antibiotik sebagai profilaksis masih merupakan suatu kontroversi.Dalam 3-5
hari pertama populasi kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram
positif non-patogen. Sedangkan hari 5-10 adalah bakteri Gram negatif
patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih dalam keadaan
steril sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal yang
dapat digunakan adalah silver sulfadiazin, povidone-iodine 10%, gentamicin
sulfate, mupirocin, dan bacitracin/polymixin.

63

Tabel 4. Agen penybab infeksi pada luka bakar.


f. Tatalaksana nutrisi
Pemberian nutrisi enteral dini melalui pipa nasogastrik dalam 24 jam
pertama pascacedera bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi mukos
usus. Pemberian nutrisi enteral dilakukan dengan aman bila Gastric residual
volume (GRV) <150ml/jam, yang menandakan pasase saluran cerna baik.
Penentuan kebutuhan energi basal (Harris-Benedict):
Laki-laki

: 66,5 + 13,7 BB + 5TB 6,8 U

Perempuan

: 65,5 + 9,6 BB + 1,8 TB 4,7 U

Kebutuhan energi total = KEB x AF x FS


Keterangan:
AF: aktivitas fisik (peningkatan persentase terhadap keluaran
energi, tirah baring/duduk 20%, aktivitas ringan 30%, sedang 4050%, berat 75%)
FS: faktor stress besarnya sesuai dengan luas luka bakar
Penentuan kebutuhan nutrien:
Protein : 1,5-2,15 g/kgBB/hari
Lemak : 6-8 g/kgBB/hari
Karbohidrat: 7-8 g/kgBB/hari.
64

Tabel 5. Penghitungan kalori dengan rumus Harris Benedict


Namun ada metode penghitungan kebutuhan kalori yang lebih mudah
dengan menggunakan quick methode yaitu 25-30 kkal / kgBB/ hari. Metode
ini lebih mudah dan praktis serta menghindari jumlah kalori yang berlebihan
jika menggunakan rumus Harris -Benedict.
Metode lainnya dalah modifikasi rumus Harris-Benedict yang
dilakukan oleh Long:
Men
BMR = (66.47 13.75 weight 5.0 height = 6.76 age) x (activity factor) x
(injury factor)
Women
BMR = (655.10 9.56 weight + 1.85 height = 4.68 age) x (activity factor) x
(injury factor)
Activity factor
Confined to bed: 1.2
Out of bed: 1.3
Injury factor
Minor operation: 1.20
Skeletal trauma: 1.35

65

Major sepsis: 1.60


Severe thermal burn: 1.5
Tabel 6. Modifikasi Long terhadap Harris-Benedict
g. Eksisi dan grafting
Luka bakar derajat dua dalam dan tiga tidak dapat mengalami
penyembuhan spontan tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang
sudah mati ini akan menjadi fokus inflamasi dan infeksi. Eksisi dini dan
grafting saat ini dilakukan oleh sebagian besar ahli bedah karena memiliki
lebih banyak keuntungan dibandingkan debridement serial.2 Setelah
dilakukan eksisi, luka harus ditutup, idealnya luka ditutup dengan kulit
pasien sendiri. Pada luka bakar seluas 20-30%, biasanya dapat dilakukan
dalam satu kali operasi dengan penutupan oleh autograft split-thickness yang
diambil dari bagian tubuh pasien. Sebagian besar ahili bedah melakukan
eksisi pada minggu pertama, biasanya dalam satu kali operasi dapat
dilakukan eksisi seluas 20%. Eksisi tidak boleh melebihi kemampuan untuk
menutup luka baik dengan autograft, biologic dressing atau allograft.
4. Komplikasi
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat
perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan
grafting.1 Komplikasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis
dan MODS. Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu
atrofi mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa , motilitas usus menurun dan
ileus. Pada ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal
yang menurun. Skin graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini
disebabkan oleh hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu
luka bakar, dapat terjadi jaringan parut berupa jaringan parut hipertrofik, keloid
dan kontraktur.
DAFTAR PUSTAKA

66

Akbar, AM, Masoud A, Davood M, Zohreh K, Seddigh A. (2008). A Survey on 30


Mounth Electrical Burns in Shiraz University ofMedical Sciences Burn
Hospital. Burns, 34: 111-113.
Arnold BD, Purdue GF,Kowalske K. (2004). Electrical injury: a 20 year review. J
Burn care Rehabil, 25: 479-484
Arnoldo B, Klein M, Gibran NS. (2006). Practice Guideline for the managementof
electrical injuries. J Burn care Res,27: 439-447
Christian S., Trohman R. G. (2006) Electrocution and Life-ThreateningElectrical
Injuries. Ann Intern Med, 145: 531-537.
Cooper MA (1995). Emergent care of lightning and electrical injuries. Seminars in
Neurology, 15.
Cushing

TA.

(2015).

Electrical

Injuries

in

Emergency

Medicine.

http://emedicine.medscape.com- diaksesOktober 2015


Cushing, TA. (2010) Electrical Injuries.
http://emedicine.medscape.com/article/770179-overview- diakses Oktober 2015
Docov

W.

(2008).

Characteristics

of

lethal

electrical

injuries

incentral

andnortheastern Bulgaria for a 27-Year Period (1980-2006). Eplasty (Serial on


The Internet), 8(2): 101-105.
Duff K, McCaffrey RJ. (2001). Electrical Injury and lightning injury: a review oftheir
mechanisms and neuropsychological, psychiatric, and neurological sequel.
Neuropsychology Review, 11: 101-16.
Dzhokic G, Jovchevska J, Dik A. (2008). Electrical Injuries: Etiology,
Pathophysiology and Mechanism of Injury. Macedonian Journal of Medical
Sciences, (2):54-58.
Edlich

RF. (2013).

Electrical

Burn

Injuries.http://emedicine.medscape.com

diaksespada Oktober 2015.


Edlich RF. (2013).Electric Injuries.
http.//www.bmj.com/cgi/content/full/328/7453/1427 diakses Oktober 2015
Edlich RF. (2013).Electric injury. http.//www.emedicine.com/derm/topic859.html
diakses Oktober 2015

67

Fish RM. (2004) Electrical injuries. In: Tintinalli JE, Kelen GD, StapczynskiJS, Ma
OJ, Cline DM, eds. Emergency Medicine: A Comprehensive Study Guide. 6th
ed. New York: McGraw-Hill.
Goldman

RD,

Einarson A.,

Koren

G.

(2003).

Electrical

shock

during

pregnancy.Canfan Physician (Serial on Internet), 49(2): 297-298.


Heimbach DM, Holmes JH. Burns. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TR,
Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE, editors. (2007). Schwartzs principal
surgery. 8th ed. USA: The McGraw-Hill Companies
Hoediyanto. (2008).Trauma Listrik. Surabaya: Bagian Ilmu Kedokteran Forensik
Universitas Airlangga.
Jacob L. Heller, MD. (2010).Anatomy of Skin.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8600.html

diakses

diakses

diakses

diakses

Oktober 2015
Jacob L. Heller, MD. (2010).First Degree Burn.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8601.html
Oktober 2015
Jacob L. Heller, MD. (2010).Second Degree Burn.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8602.html
Oktober 2015
Jacob L. Heller, MD. (2010).Third Degree Burn.
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/imagepages/8603.html
Oktober 2015
Jensen PJ et al. (1987). Electrical Injury Causing Ventricular Arrhythmias. BrHeart J,
57: 279-83.
Lee RC, Zhang D, Hannig. (1998) Biophysical injury mechanism in electrical shock
trauma. Am J Cardiol, 82: 1125-7
Lee RC, Zhang D, Hannig. (2000). Biophysical injury mechanism in electrical shock
trauma.Ann Rev of Biomed Engineer, 2: 477-509
Lee RC. Injury by Electrical Forces: Pathophysiology: Manifestation and Therapy.
http.//www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed diakses Oktober 2015

68

Lippestad C, Eriksen J, Vagenes P, Hovik B. Electric Injury. Physiopathology And


Priciple Treatment
Maertinez, JA, Nguyen T. (2000). Electical Injuries. Southern MedicalJournal, 93:
1165
Mahan LK, Stump ES. (2004).Krauses Food, Nutrition & Diet Therapy.11 th edition.
Matarese LE, Gottschich MM. (2003).Contemporary Nutrition SupportPractice: A
Clinical Guide. 2nd edition.
Blackwell N, Hayllar J. (2002). A three year prospective audit of 212 presentations to
the emergency department after electrical injury with a management protocol.
Postgrad Med J, 78: 283-285.
Noer, Sjaifudin. (2006).Penanganan Luka Bakar. Surabaya: AirlanggaUniversity
Press.
S Homma, L D Gillam and A E Weyman.(1990). Echocardiographic observations in
survivors of acute electrical injury. Chest J, 97: 103-5.
SjamsuhidajatR, De JongW. eds. (2007).Buku Ajar Ilmu Bedah.Jakarta: EGC, pp 7383.
Sjamsuhidajat R, De Jong W. 2005.Buku Ajar Ilmu Bedah.Edisi ke-2. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Sudjatmiko G. (2011). Petunjuk Praktis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi. Jakarta:
Yayasan Khasanah Kebajikan.
Yepta M. (2003).Luka bakar. Edisi 2. Jakarta: BalaiPenerbit FKUI

69