You are on page 1of 44

A.

KONSEP MANAJEMEN STRATEGI


Manajemen strategi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari ilmu
manajemen. Hadir sebagai suatu solusi untuk memberdayakan keseluruhan organisasi
(perusahaan) agar secara komprehensif dan sistematis mampu mewujudkan visi dan
misi organisasi tersebut.
Selama bertahun-tahun beragam konsep dan teori yang menjelaskan strategi
dikembangkan. Mulai dari yang menekankan perhatian pada kemampuan organisasi
untuk memaksimalkan sumber-sumber yang dimilikinya dalam menjawab peluang dan
tantangan serta berbagai ketidakpastian yang berasal dari luar organisasi, sampai pada
kajian yang menekankan pada kemampuan sumber-sumber internal organisasi untuk
mendorong terjadinya keunggulan kompetitif (competitive advantages). Namun
demikian, terlepas dari perdebatan tentang sudut pandang perencanaan strategis suatu
organisasi, kedua aliran jelas memiliki tujuan yang sama yaitu tercapainya sasaran dan
tujuan organisasi melalui cara-cara yang sistematis sehingga keberhasilan yang
mungkin terjadi dapat ditelusuri kembali.
B. Pengertian/Teori Evolusi Manajemen Strategi

Sebelum melangkah lebih jauh tentang seberapa jauh peran manajemen stratejik dalam
pengembangan organisasi, kita akan menyimak dulu pengertian dari manajemen
stratejik itu sendiri, berikut beberapa ahli yang memberikan gambaran atau teori tentang
manajemen stratejik itu sendiri.
Barney, 2007:27 Manajemen strategis (strategic management) dapat dipahami sebagai
proses pemilihan dan penerapan strategi-strategi. Sedangkan strategi adalah pola alokasi
sumber daya yang memungkinkan organisasi-organisasi dapat mempertahankan
kinerjanya.
Grant, 2008:10 Strategi juga dapat diartikan sebagai keseluruhan rencana mengenai
penggunaan sumber daya-sumber daya untuk menciptakan suatu posisi menguntungkan.

Dengan kata lain, manajamen strategis terlibat dengan pengembangan dan implementasi
strategi-strategi dalam kerangka pengembangan keunggulan bersaing.
Michael A. Hitt & R. Duane Ireland & Robert E. Hoslisson (2006,XV)
Manajemen strategis adalah proses untuk membantu organisasi dalam mengidentifikasi
apa yang ingin mereka capai, dan bagaimana seharusnya mereka mencapai hasil yang
bernilai. Besarnya peranan manajemen strategis semakin banyak diakui pada masa-masa
ini

dibanding

masa-masa

sebelumnya.

Dalam

perekonomian

global

yang

memungkinkan pergerakan barang dan jasa secara bebas diantara berbagai negara,
perusahaan-perusahaan terus ditantang untuk semakin kompetitif. Banyak dari
perusahaan yang telah meningkatkan tingkat kompetisinya ini menawarkan produk
kepada konsumen dengan nilai yang lebih tinggi, dan hal ini sering menghasilkan laba
diatas rata-rata
David 2005:5 Seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan and
mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai
obyektifnya. Hunger dan Wheelen 2006:4 Serangkaian keputusan dan tindakan
manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Dengan demikian dari definisi di atas dapat diketahui fokus manajemen strategis
terletak

dalam

memadukan

manajemen,

pemasaran,

keuangan/akunting,

produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta sistem informasi komputer untuk


mencapai keberhasilan organisasi. Manajemen strategis di katakan efektif apabila
memberi tahu seluruh karyawan mengenai sasaran bisnis, arah bisnis, kemajuan kearah
pencapaian sasaran dan pelanggan, pesaing dan rencana produk kami.Komunikasi
merupakan kunci keberhasilan manajemen strategis.
Barney, 2007:27 Manajemen strategis (strategic management) dapat dipahami sebagai
proses pemilihan dan penerapan strategi-strategi. Sedangkan strategi adalah pola alokasi
sumber daya yang memungkinkan organisasi-organisasi dapat mempertahankan
kinerjanya.

Grant, 2008:10 Strategi juga dapat diartikan sebagai keseluruhan rencana mengenai
penggunaan sumber daya-sumber daya untuk menciptakan suatu posisi menguntungkan.
Dengan kata lain, manajamen strategis terlibat dengan pengembangan dan implementasi
strategi-strategi dalam kerangka pengembangan keunggulan bersaing.
Michael A. Hitt & R. Duane Ireland & Robert E. Hoslisson (2006,XV)
Manajemen strategis adalah proses untuk membantu organisasi dalam mengidentifikasi
apa yang ingin mereka capai, dan bagaimana seharusnya mereka mencapai hasil yang
bernilai. Besarnya peranan manajemen strategis semakin banyak diakui pada masa-masa
ini dibanding masa-masa sebelumnya.Dalam perekonomian global yang memungkinkan
pergerakan barang dan jasa secara bebas diantara berbagai negara, perusahaanperusahaan terus ditantang untuk semakin kompetitif. Banyak dari perusahaan yang
telah meningkatkan tingkat kompetisinya ini menawarkan produk kepada konsumen
dengan nilai yang lebih tinggi, dan hal ini sering menghasilkan laba diatas rata-rata
David 2005:5 Seni dan pengetahuan untuk merumuskan, mengimplementasikan and
mengevaluasi keputusan lintas fungsional yang membuat organisasi mampu mencapai
obyektifnya. Hunger dan Wheelen 2006:4 Serangkaian keputusan dan tindakan
manajerial yang menentukan kinerja perusahaan dalam jangka panjang.
Dengan demikian dari definisi di atas dapat diketahui fokus manajemen strategis
terletak

dalam

memadukan

manajemen,

pemasaran,

keuangan/akunting,

produksi/operasi, penelitian dan pengembangan, serta system informasi komputer untuk


mencapai keberhasilan organisasi.Manajemen strategis di katakan efektif apabila
memberi tahu seluruh karyawan mengenai sasaran bisnis, arah bisnis, kemajuan kearah
pencapaian sasaran dan pelanggan, pesaing dan rencana produk kami.Komunikasi
merupakan kunci keberhasilan manajemen strategis.
Dari definisi tersebut terdapat dua hal penting yang dapat disimpulkan, yaitu:
1. Manajemen Strategik terdiri atas tiga proses:

2. Pembuatan Strategi, yang meliputi pengembnagan misi dan tujuan jangka


panjang, mengidentifiksikan peluang dan ancaman dari luar serta kekuatan dan
kelemahan organisasi, pengembangan alternatif-alternatif strategi dan penentuan
strategi yang sesuai untuk diadopsi.
3. Penerapan strategi meliputi penentuan sasaran-sasaran operasional tahunan,
kebijakan organisasi, memotovasi anggota dan mengalokasikan sumber-sumber
daya agar strategi yang telah ditetapkan dapat diimplementasikan.
4. Evaluasi/Kontrol strategi, mencakup usaha-usaha untuk memonitor seluruh
hasil-hasil dari pembuatan dan penerapan strategi, termasuk mengukur kinerja
individu dan organisasi serta mengambil langkah-langkah perbaikan jika
diperlukan.
5. Manajemen Strategik memfokuskan pada penyatuan/ penggabungan aspekaspek pemasaran, riset dan pengembangan, keuangan/ akuntansi, operasional/
produksi dari sebuah organisasi.
Strategik selalu memberikan sebuah keuntungan, sehingga apabila proses manajemen
yang dilakukan oleh organisasi gagal menciptakan keuntungan bagi organisasi tersebut
maka dapat dikatakan proses manajemen tersebut bukan manajemen strategik.
1. Globalisasi: Tantangan Bagi Manajemen Strategis
Organisasi-organisasi (baik yang mencari laba maupun tidak) menggunakan
proses manejemen strategis untuk memahami kekuatan-kekuatan persaingan dan untuk
mengembangkan keunggulan daya saing.
Tantangan ini semakin besar pada masa sekarang dari pada masa-masa
sebelumnya. Lingkungan persaingan yang baru sedang berkembang di abad ke-21
sebagai akibat dari revolusi teknologi (khususnya dalam e-commerce) dan
meningkatnya globalisasi. Revolusi teknologi menekankan produk inovasi dan
kemampuan untuk memproduksi barang-barang dan jasa baru dengan cepat bagi pasar.

Ekonomi global, yaitu suatu ekonomi di mana barang dan jasa mengalir relative
bebas di antara bangsa-bangsa, secara terus menerus menekan perusahaan untuk
meningkatkan daya saingnya.
Memiliki daya saing strategis dan laba diatas rata-rata adalah tantangan untuk
perusahaan sebesar AT&T dan kecil seperti halnya sebuah toko. Menurut fakta hanya 2
dari 25 perusahaan industri besar di Amerika Serikat di tahun 1900 yang masih bertahan
didalam persaingan bisnis (23 sisanya telah gagal, bergabung/merger dengan
perusahaan lainnya atau tidak lagi memiliki skala yang relatif besar dibandingkan
dengan pesaingnya).
Baru baru ini, Andrew Grove, pimpinan Intel, mengamati bahwa hanya
perusahaan paranoid yang dapat bertahan dan berhasil. Perusahaan-perusahaan ini
menyadari bahwa keberhasilan saat ini tidak menjamin tingkat daya saing strategis dan
laba diatas rata-rata dimasa mendatang. Karenanya perusahaan-perusahaan ini berusaha
terus menerus untuk berkembang, sehingga tetap bersaing. Supaya dapat bersaing secara
strategis dan memperoleh laba diatas rata-rata, perusahaan harus bisa bersaing dengan
cara yang berbeda dengan kondisi sebelumnya.
2. Konsep Dasar dalam Proses Manajemen Strategis
Manajemen strategi terdiri dari empat elemen dasar yaitu :

Environmental Scanning (Analisis Lingkungan)


Strategy Formulation (Formulasi Strategi)
Strategy Implementation (Implementasi strategi)
Evaluation and Control (Evaluasi dan Pengendalian)
Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang obyektif,

logis, sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu organisasi. Proses ini
berusaha untuk mengorganisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang
memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu.
Berdasarkan pada pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik. Intuisi terutama bermamfaat untuk membuat keputusan
dalam situasi yang amat tidak menentu.

Gambar 1.1
Elemen Dasar dalam Proses Manajemen Srategi
EnvironmentalStrategy Formulation
Strategy
Scanning
Implementation

Evaluation and
Control

Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi


seharusnya terus-menerus memonitor peristiwa dan kecenderungan internal dan
eksternal sehingga melaukan perubahan tepat waktu. Teknologi informasi dan
globalisasi adalah perubahan eksternal yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa
ini. Arus informasi yang cepat menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh
dunia dapat melihat sendiri bagaimana cara hidup orang lain.
Gambar 1.2
Model Strategi Manajemen

External

Strategy Implementation
Evaluation and Control
(implementasi Strategi)
(implementasi Strategi)

Strategy Formulation
(Formulasi Strategi)

Environmental Scanning
(Analisis Lingkungan)

Mission
Reason for existency

Societal
Environment
General Forces
Task
Environment
IndustryAnalysis
Internal

Objectives
What result to accomplish by when
Stretegies
Plan to achieve the mission &objective

Structure
Chain of commang

Policies
Broad guideline for decision making

Process to monitor performance and take corrective actio


Culture
beliefs, Expectation,
value
Resources
Assets, skills competencies, knowledge

Feedback/learning

Budgets
Cost of the programs
Procedures
Sequence of step needed to
do the job
Performance

Program
Activities needed to accomplish
a plan

Untuk memahami konsep ini, berikut ini diuraikan empat komponen utama
dalam tahap manajemen strategis, yakni:
Analisis lingkungan
Tujuan analisis lingkungan adalah untuk dapat mengerti dan memahami
lingkungan oraganisasi sehingga manajemen akan dapat melakukan reaksi secara tepat
terhadap setiap perubahan, selain itu agar manajemen mempunyai kemampuan
merespon berbagai isu kritis mengenai lingkungan yang mempunyai pengaruh yang
cukup kuat terhadap perusahaan. bisnis untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman
eksternal serta mengukur dan menetapkan kelemahan dan kekuatan internal dan
menetapkan tujuan jangka panjang.
Cara sederhana untuk melakukan analisis lingkungan adalah melalui analisis
SWOT, SWOT merupakan singkatan dari strength (kekuatan), weakness (kelemahan),
opportunity

(peluang)

dan

threats

(ancaman).

Pendekatan

ini

mencoba

menyeimbangkan kekutaan dan kelemahan internal organisasi dengan peluang dan


ancaman lingkungan eksternal organisasi.
Gambar 1.3
Environmental Variabels
Society Environment

Task Environment
(industry)

Sociocultural
Forces

Suppliers

Shareholders

Governments
Special
Interest
Groups

Economic Forces

Structure
Internal
Culture
Environment
Resources
Structure
Culture
Resources

Employees

Competitors

Lingkungan terdiri
dari lingkungan eksternal dan lingkungan internal.
Costomers
Trade Associations

Lingkungan eksternal berada di luar perusahaan sedangkan lingkungan internal berada


Creditor

di dalam perusahaan.

Political-Legal Forces

Communities

Tecnological
Forces

Lingkungan eksternal ; Memiliki dua variabel yakni peluang (opportunity) dan


acaman (threats). Terdiri dari dua bagian yaitu lingkungan tugas dan lingkungan

umum.
Lingkungan internal: Memiliki dua variabel yakni kekuatan (strength) dan
kelemahan (weakness). Mencakup semua unsur bisnis yang ada di dalam
perusahaan seperti struktur organisasi perusahaan, budaya perusahaan dan
sumber daya.
Formulasi strategi
Formulasi strategi melibatkan penetapan serangkaian tindakan yang tepat guna

mencapai tujuan perusahaan. Formulasi strategi ini meliputi pengembangan misi bisnis,
menentukan tujuan, mengembangkan strategi, dan pengaturan pedoman kebijakan.

Misi
Misi adalah tujuan atau alasan atas keberadaan arganisasi (perusahaan). Misi
juga mendefinisikan tujuan dan mengidentifikasi ruang lingkup operasional

perusahaan dalam hal penawaran produk yang dipasaarkan.


Tujuan
Tujuan adalah hasil akhir dari kegiatan yang telah direncanakan/ dirumuskan
mengenai apa yang akan diselesaikan dan kapan akan diselesakan dan tujuan
sebaiknya diukur jika memungkinkan, karena pencapaian tujuan perusahaan

harus memenuhi misi korporasi.


Strategi
Sebuah strategi korporasi adalah rencana induk yang menyatakan bagaimana
perusahaan akan mencapai misi dan tujuannya. Yang biasanya dapat
memaksimalkan

keunggulan

kompetitif

dan

meminimalkan

kompetitif

merugikan.
Perusahaan bisnis biasanya mempertimbangkan tiga jenis strategi, yaitu :
a. Strategi Korporat
Strategi korporat adalah strategi yang dilakukan dalam rangka menjawab
apakah jenis bisnis yang selama ini dilakukan masih perlu dilanjutkan atau
tidak.
b. Strategi Bisnis

Strategi pada tingkat bisnis pada dasarnya dilakukan untuk menjawab


pertanyaan yang terkait dengan bagimana posisi bisnis yang dijalankan
dibandingkan dengan pesaing yang ada di pasar.
c. Strategi Tingkat Fungsional
Strategi tingkat fungsional sering dinamakan dengan strategi langsung atau
direct strategy. Hal ini disebabkan perusahaan cenderung melakukan
persaingan pada jenis bisnis tertentu yang sedang dijalankan dan tidak pada
tingkat perusahaan maupun sektor bisnis yang diperdagangkan.

Gambar 1.4
Hierarchy of Strategy
Corporate Strategy

Business
(Division level)
Strategy
Funcional
Strategy

Kebijakan
Kebijakan

adalah pedoman

luas

untuk pengambilan keputusan

yang

menghubungkan perumusan strategi dengan pelaksanaannya Perusahaan


menggunakan kebijakan untuk memastikan bahwa seluruh karyawan perusahaan
membuat keputusan dan mengambil tindakan yang mendukung korporasi misi,
tujuan dan strategi perusahaan.

Implementasi strategi
Implementasi Strategi adalah proses di mana manajemen mewujudkan strategi
dan kebijakannya dalam tindakan melalui pengembangan program, anggaran dan
prosedur.

Program.
Program adalah pernyataan aktivitas-aktivitas atau langkah-langkah yang
diperlukan untuk menyelesaikan perencanaan sekali pakai.

Anggaran
Anggaran adalah program yang dinyatakan dalam bentuk satuan uang, setiap
program akan dinyatakan secara rinci dalam biaya, yang dapat digunakan oleh
manajemen untuk merencanakan dan mengendalikan.

Prosedur
Prosedur adalah Sistem langkah-langkah atau teknik-teknik yang berurutan yang
menggambarkan secara rinci bagaimana suatu tugas atau pekerjaan diselesaikan.
Evaluasi dan Pengendalian
Proses yang melaluinya aktivitas-aktivitas perusahaan dan hasil kinerja

dimonitor dan kinerja sesungguhnya dibandingkan dengan kinerja yang diinginkan.


Evaluasi dan pengendalian strategi merupakan tahap terakhir di dalam proses
strategi. Pada dasarnya evaluasi strategi mencakup 3 hal, yaitu: (1) Mereview faktor
internal dan eksternal yang menjadi dasar bagi strategi yang sedang berlangsung, (2)
Mengukur kinerja yang telah dilakukan, dan (3) Mengambil berbagai tindakan
perbaikan. Evaluasi strategi sangat diperlukan sebab keberhasilan perusahaan dewasa
ini tidak menjadi jaminan keberhasilan perusahaan di masa yang akan datang.
Feedback/Learning Process
Dalam model Manajemen Stratejik setiap implementasi strategi harus selalu di
ukur (test and measure) dengan sebuah evaluasi atau feedback sehingga bisa belajar
mengenai keberhasilan atau kegagalan implementasinya. Test and measure harus
menjadi sebuah standar perilaku sebenarnya.

3. Pengambilan Keputusan Manajemen Strategis


Karakteristik manajemen strategis adalah penekanan pada pengambilan
keputusan strategis. Sebagai organisasi yang tumbuh lebih besar dan lebih kompleks
dengan lingkungan disekitarnya, untuk membuat keputusan menjadi semakin rumit dan
sulit. Ada beberapa langkah untuk membuat kerangka kerja yang dapat membantu
Pengambilan keputusan terletak dlm perumusan berbagai alternatif tindakan sesuai
dengan yang sedang dalam perhatian & dalam pemilihan alternatif yang tepat.
Pengambilan keputusan tersebut dilakukan setelah evaluasi/ penilaian mengenai
efektifitasnya dlm mencapai tujuan yang dikehendaki pengambil keputusan.
4.1 Membuat Keputusan Yang Strategis
Keputusan strategis berhubungan dengan masa yang akan datang dalam jangka
panjang untuk organisasi secara keseluruhan dan mempunyai tiga karakteristik :
a.

Langka. Bukan keputusan pada umumnya, sesekali dilakukan karena sesuai


dengan tuntutan yang menyangkut masa depan perusahaan atau organisasi

sehinggamembutuhkan pertimbangan yang kuat.


b. Mempunyai konsekuensi. Keputusan yang diambil mempunyai konsekuensi
kepada pemakaian dana, perubahan perusahaan, dan berbagai hal yang berkaitan
dengan kondisi internal maupun eksternal perusahaan.
c. Direktif. Memberikan arah kepada seluruh jajaran internal organisasi untuk
melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan guna memastikan bahwa perusahaan
dapat mencapai tujuannya utamanya pada jangka panjang.
4.2 Mintzberg's Mode Pengambilan Keputusan Strategis
Beberapa keputusan strategis dibuat oleh satu orang (biasanya seorang
pengusaha atau pejabat eksekutif yang kuat chief) yang memiliki wawasan yang
cemerlang dan mampu meyakinkan orang lain untuk mengadopsi idenya. Keputusan
strategis lainnya tampaknya bisa mengembangkan dan mendorong organisasi lebih
dalam satu arah daripada yang lain.

Menurut Henry Mintzberg, pendekatan yang paling khas, atau mode, dari
pembuatan keputusan strategis ini:
Entrepreneurial mode. Strategi yang dibuat oleh satu individu yang kuat.
Fokusnya adalah peluang; masalah sekunder. Strategi dipandu oleh visi sendiri
pendiri arah dan dicontohkan oleh besar, keputusan yang berani. Tujuan

dominan adalah pertumbuhan korporasi.


Adaptive mode. Pendekatan ini ditandai dengan solusi reaktif terhadap
permasalahan yang ada, bukan proaktif mencari peluang baru. Banyak tawar
menawar terus tentang prioritas tujuan. Strategi terfragmentasi dan perusahaan

dikembangkan untuk bergerak maju secara bertahap.


Planning mode. Pengambilan keputusan dalam pendekatan ini melibatkan
pengumpulan informasi apporpriate sistematis untuk analisis situasi, generasi
strategi alternatif fesible, dan pemilihan rasional dari apportunities paling dan
solusi reaktif dari permasalahan yang ada.

4.3

Proses Pengambilan Keputusan


Argumen yang baik dapat dibuat baik dengan Entrepreneurial mode atau adaptif

mode dalam situasi tertentu. Tetapi dalam kebanyakan situasi Planning mode
merupakan pendekatan yang lebih rasional untuk pengambilan keputusan, karena
meliputi unsur-unsur dasar dari proses manajemen strategis, mode perencanaan tidak
hanya lebih analitis dan politis dari pendekatan yang lain, tetapi juga lebih tepat untuk
menangani lingkungan yang kompleks.
Ada delapan langkah proses pembuatan keputusan strategis:
1. Mengevaluasi hasil kinerja saat ini dalam hal (a) pengembalian investasi,
profitabilitas, dan sebagainya, dan (b) misi saat ini, tujuan, strategi dan
kebijakan.

2. Review tata kelola perusahaan, yaitu kinerja dewan direksi perusahaan dan
manajemen puncak.
3. Menganalisis dan menilai lingkungan eksternal untuk menentukan faktorfaktor strategis yang berpose Peluang dan Ancaman.
4. Menganalisis dan menilai lingkungan internal perusahaan untuk menentukan
faktor-faktor strategis seperti kekuatan dan Kelemahan.
5. Menganalisis faktor strategis (SWOT) untuk melihat titik permasalahan, dan
meninjau dan merevisi misi perusahaan dan tujuan yang diperlukan.
6. Menetapkan, mengevaluasi, dan memilih strategi alternatif terbaik
7. Menerapkan strategi yang dipilih melalui program, anggaran dan prosedur
8. Evaluasi menerapkan strategi melalui sistem umpan balik, dan pengendalian
kegiatan untuk memastikan dan meminimumkan penyimpangan dari rencana.
3.1 Evolusi dari Manajemen Strategis
Menurut Gluck, Kaufman dan Walleck (1982), ada empat fase evolusi
manajemen strategis:
Tahap I

: Basic Financial Planning: mengupayakan pengendalian operasional dan


manajerial

yang

baik

dengan

menggunakan

anggaran

sebagai

instrumennya.
Tahap II

: Forecast-based planning: mengupayakan sistem perencanaan yang lebih


efektif untuk mencapai pertumbuhan perusahaan, dengan memperkirakan
keadaan masa depan untuk waktu yang lebih lama.

Tahap III

: Externally oriented planning: mengupayakan peningkatan kepekaan


terhadap pasar dan persaingan dengan cara mencoba untuk berpikir
strategis.

Tahap IV

Strategic

management:

mengupayakan

untuk

mengatur

semua

sumberdaya yang ada untuk mengembangkan daya saing dan membantuk


menciptakan masa depan.
Tujuan Sebuah Perusahaan Menerapkan Sistem Manajemen Strategijuga sebagai berikut
:Memberikan Arah Pencapaian Tujuan Organisasi / Perusahaan Dalam hal ini, manajer
strategi harus mampu menunjukan kepada semua pihak kemana arah tujuan organisasi /
perusahaan. Karena, arah yang jelas akan dapat dijadikan landasan untuk pengendalian
dan mengevaluasi keberhasilan.
Membantu Memikirkan Kepentingan Berbagai Pihak Organisasi/ perusahaan harus
mempertemukan kebutuhan berbagai pihak, pemasok, karyawan, pemegang saham,
pihak perbankan, dan masyarakat luas lainnya yang terkait dengan perusahaan atau
disebut dengan istilah Stakeholder Benefits, memegang peranan terhadap sukses atau
gagalnya perusahaan.
Dapat Mengantisipasi Setiap Perubahan Kembali Secara Merata Manajemen strategi
memungkinkan eksekutif puncak untuk mengantisipasi perubahan dan menyiapkan
pedoman dan pengendalian, sehingga dapat memperluas kerangka waktu/ berpikir
mereka secara prespektif dan memahami konstribusi yang baik untuk hari ini dan hari
esok.
Berhubungan dengan Efisiensi dan Efektifitas Tanggung jawab seorang manajer bukan
hanya mengkonsentrasikan terhadap kemampuan atas kepentingan efisiensi, akan tetapi
hendaknya juga mempunyai perhatian yang serius agar bekerja keras melakukan sesuatu
secara lebih baik dan efektif.
B. Peran Manajemen Strategi
Untuk meraih segala cita-cita atau tujuan yang diinginkan oleh suatu organisasi atau
perusahaan maka penerapan manajemen stratejik justru sangat dibutuhkan guna apa

yang diinginkan bersama dapat kit capai dengan sebaik mungkin. Peran manajemen
stratejik ketika diimplementasikan dalam suatu organisasi maka setiap unit atau bagian
yang ada dalam organisasi tersebut dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya
sebaik mungkin.Apalagi melihat perkembangan zaman sekarang ini, dimana setiap
organisasi perusahaan telah melakukan ekspansi pasar guna mendapatkan keuntunga
yang banyak. Semuanya itu perlu langkah strategis dan taktik yang tepat sehingga
proses atau langkah yang diambil oleh pimpinan dapat dijalankan seefektif dan seefisen
mungkin.
Persaingan yang memunculkan daya saing erat kaitannya dengan pemahaman
mekanisme pasar (standar dan benchmarking), kecepatan dan ketepatan penyampaian
produk (barang dan jasa) yang mampu menciptakan nilai tambah.Oleh karena itu,
peningkatan daya saing organisasi bersifat unik, tetapi pada intinya dipengaruhi oleh
aspek kreativitas, kapasitas, teknologi yang diguna-kan dan jangkauan pemasaran yang
dicapai.Hal tersebut diwujudkan dari tampilan produk, produktivitas yang ting-gi dan
pelayanan yang baik.
Esensi Manajemen Strategik dalam pengembangan daya saing organisasi, baik bersifat
nirlaba maupun ber-orientasi laba dapat dijabarkan atas hal pokok berikut :
1. Pertumbuhan dan Keberlanjutan
Hal ini dicirikan oleh adanya kegiatan lebih besar dari organisasi yang nantinya
berdampak pada peningkatan kesejahteraan SDM. Pencapaian kondisi tersebut didapatkan

dari

kerjasama

antar

individu

yang

mampu

mewujudkan

sinergi

perkembangan organisasi sesuai siklus organisasi (pengenalan, pertumbuhan, kedewasaa dan pembaharuan dengan kondisi penurunan, tetap dan naik kembali) ditinjau dari
faktor internal maupun eksternal yang dipengaruhi oleh perubahan-perubahan, baik
fundamental, incremental dan radikal dari nilai-nilai keinginan konsumen, serta
persaingan yang ketat dalam kondisi yang mengandung ketidak-pastian dan penuh
risiko.

2. Berpikir Strategik
Hal ini dicirikan oleh pemahaman tentang pentingnya faktor waktu (lalu, kini dan esok),
proses kontinu (siklus) dan iteratif (sekuens pembelajaran) dalam mengidentifikasi
kegiatan yang menjanjikan ke depan yang berbasis pada pemetaan kemampuan
(superior-tas) yang dimiliki (sumber daya seperti SDA, SDM dan SDB) dengan secara
komprehensif memperhati-kan faktor-faktor makro seperti politik, ekonomi, teknologi
dan sosial budaya, disamping upaya pem-belajaran organisasi dalam menuju daya saing
secara parsial ataupun utuh. Realisasi berpikir strategik dapat ditunjukkan oleh konsep
masukan, proses dan luaran dalam mengelola perubahan menurut peluang maupun
ancaman yang ditemui sesuai dengan fase-fase berikut : pembentukan kelompok kerja,
inventarisasi kegiatan, keterlibatan unit kerja dan status kegiatan. Hal tersebut dalam
praktiknya didukung oleh konsep-konsep stra-tegi, baik yang klasik (siklus hidup
produk dan SWOT), modern (BCG/Shell, A.D. Little, McKinsey, PIMS, SRI dan
Porter) dan alternatif (PRECOM) yang dalam implementasinya sangat ditentukan oleh
besar-an dimensinya (2-5) atau tema tertentunya.
3. Manajemen Strategik
Manajemen Strategik dalam implementasinya ditentukan oleh tahapan identifikasi
lingkungan (internal dan eksternal), perumusan strategi, implementasi strategi,
pemantauan dan evaluasi strategi. Hal tersebut disusun dari sistem lingkungan yang
terdiri dari analisis lingkungan internal (kekuatan dan kelemahan : sumber daya,
kapabilitas dan kompetensi inti) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang dikenal
sebagai SWOT ataupun pendekatan peran (policy, strategik dan fungsi) untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi, baik secara luas maupun spesifik,
seperti:
1. Masuknya pendatang baru (skala ekonomi, diferensiasi produk, persyaratan
modal, biaya peralih-an pemasok, akses ke saluran distribusi, kebijakan
pemerintah dan lainnya;

2. Ancaman produk peng-ganti (biaya/harga)


3. Kekuatan tawar menawar pembeli (kuantitas, mutu dan ketersediaan)
4. kekuatan tawar menawar pemasok (dominasi, integrasi dan keunikan).
Dalam proses manajemen strategik diperlukan pernyataan-pernyataan yang terkait
dengan penetapan visi (jati diri), misi (justifikasi/pembeda) dan tujuan (target/standar)
sebagai jawaban terhadap pencanangan strategi yang telah disusun menurut
tingkatannya (korporat, bisnis dan fungsional) yang didasarkan pada muatan, konsistensi dan keterpaduannya dari suatu kerangka kerja proses pengambilan keputusan
organisasi untuk jang-ka panjang. Dalam hal ini, struktur organisasi dengan berbagai
bentuknya (sederhana, fungsional, divisional, matriks, unit bisnis strategik berperan
pen-ting dalam pencapaian tujuan dari kebijakan yang dibuat.
C. Manfaat Manajemen Strategi
Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja (frame work)
untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi terutama berkaitan
dengan persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir
secara strategik.
Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih banyak
alternatif yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih menjanjikan suatu
hasil yang menguntungkan.. Ada bebarapa manfaat yang diperoleh organisasi jika
mereka menerapkan manajemen strategik, yaitu:
1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
2. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi.
3. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif

4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan


yang semakin beresiko.
5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk
mencegah munculnya masalah di masa datang.
6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih
memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurang
D. Langkah Dalam Pengembangan Organisasi
Langkah Pertama manajemen perlu secara detail mengindentifikasi aktifitas yang perlu
dikerjakan baik langsung maupun tidak langsung sejak disusunnya proposal kegiatan
(TOR), pengujian dan penilaian, proses perencana-an program dan kegiatan,
implementasi, pengendalian dan pe-ngawasan.
Langkah Kedua yang perlu dilakukan untuk menganalisis profil/postur organisasi
adalah mencari keterkaitan (lingkage) dari berbagai aktifitas rantai kegiatan tersebut,
baik antar aktifitas pokok (fungsi utama) dan aktifitas penunjang (fungsi pelayanan)
Langkah Ketiga yaitu mencoba mencari sinergi potensial yang mungkin dapat
ditemukan diantara output yang dihasilkan oleh setiap aktifitas yang dimiliki oleh
organisasi.
E. Tahap-tahap Dalam Manajemen Strategis
Manajemen strategi merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga kegiatan antara lain
perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi
terdiri dari kegiatan-kegiatan mengembangkan misi bisnis, mengenali peluang dan
ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal,

menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih


strategi tertentu untuk dilaksanakan Isu perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis
apa yang akan dimasuki bisnis apa yang harus dihentikan, bagaimana mengalokasikan
sumber daya, apakah memperluas operasi atau diversivikasi, apakah akan memasuki
pasar internasional, apakah akan melakukan merjer atau membentuk usaha patungan,
dan bagaimana menghindari pengambilalihan perusahaan pesaing. Keputusan
perumusan strategis mengikat suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan
teknologi spesifik selama periode waktu tertentu.
Strategi menetapkan keunggulan bersaing jangka panjang. Apapun yang akan terjadi,
keputusan strategis mempunyai konsekuensi berbagai fungsi utama dan pengaruh
jangka panjang pada suatu organisasi. Implementasi strategi menuntut perusahaan untuk
menetapkan obyektif tahunan, memperlengkapi dengan kebijakan, memotivasi
karyawan dan mengalokasikan sumber daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat
dilaksanakan.Implementasi strategi termasuk mengembangkan budaya mendukung
strategi, menciptakan struktur oragnisasi yang efektif, mengubah arah usaha pemasaran,
menyiapkan anggaran, mengembangkan dan memanfaatkan sistem informasi dan
menghubungkan kompensasi karyawan dengan prestasi organisasi.Implementasi strategi
sering disebut tahap tindakan manajemen strategis.Strategi implementasi berarti
memobilisasi karyawan dan manajer untuk mengubah strategi yang dirumuskan menjadi
tindakan.Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis.Para manajer
sangat perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi
strategi berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat
dimodifikasi di masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah.
Tiga macam aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah:
1. Meninjau factor-faktor eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi yang
sekarang,
2. Mengukur prestasi,

3. mengambil tindakan korektif. Aktivitas perumusan startegi, implementasi dan


evaluasi terjadi di tiga tingkat hirarki dalam organisasi yang besar, korporasi,
divisi atau unit bisnis strategis, dan fungsional.
F. Pentingnya manajemen strategi bagi perusahaan
Beberapa alasan utama tentang pentingnya peranan strategi manajemen bagi perusahaan
atau organisasi, yaitu:
1. Memberi arah jangka panjang yang akan dituju.
2. Membantu perusahaan atau organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan
yang terjadi.
3. Membuat suatu perusahaan atau organisasi menjadi lebih aktif.
4. Mengidentifikasi keunggulan komparatif suatu perusahaan atau organisasi dalam
lingkungan yang semakin beresiko.
5. Aktivitas yang tumpang tindih akan dikurangi.
6. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.
7. Keterlibatan karyawan dalam perubahan strategi akan lebih memotivasi mereka
pada tahap pelaksanaannya.
8. Kegiatan pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan atau
organisasi tersebut untuk mencegah munculnya masalah di masa mendatang.
Dengan manajemen strategi diharapkan strategi benar-benar dapat dikelola sehingga
strategi dapat diimplementasikan untuk mewarnai dan mengintegrasikan semua
keputusan dan tindakan dalam organisasi rincian. Tahapan kegiatan untuk menjalankan
strategi adalah sebagai berikut:

1. Perumusan strategi
Perumusan strategi adalah proses memilih tindakan utama (strategi) untuk mewujudkan
misi organisasi. Proses mengambil keputusan untuk menetapkan strategi seolah-olah
merupakan konsekuensi mulai dari penetapan visi-misi, sampai terealisasinya program.
2. Perencanaan tindakan.
Langkah pertama untuk mengimplementasikan strategi yang telah ditetapkan adalah
pembuat perencanaan strategi. Inti dari apa yang ingin dilakukan pada tahapan ini
adalah bagaimana membuat rencana pencapaian (sasaran) dan rencana kegiatan
(program dan anggaran) yang benar-benar sesuai dengan arahan (visi, misi, gool) dan
strategi yang telah ditetapkan organisasi.
3. Implementasi.
Untuk menjamin keberhasilan strategi yang telah berhasil dirumuskan harus diwujudkan
dalam tindakan implementasi yang cermat. Strategi dan unsur-unsur organisasi yang
lain harus sesuai, strategi harus tercermati pada rancangan struktur budaya organisasi,
kepemimpinan dan sistem pengelolaan sumber daya manusia. Karena strategi
diimplementasikan dalam suatu lingkungan yang terus berubah, maka implementasi
yang sukses menuntut pengendalian dan evaluasi pelaksanaan.Sehingga jika diperlukan
dapat dilakukan tindakan-tindakan perbaikan yang tepat.
G. Manfaat dan Resiko Manajemen Strategi
a. Manfaat
Dengan menggunakan manajemen strategik sebagai suatu kerangka kerja (frame work)
untuk menyelesaikan setiap masalah strategis di dalam organisasi terutama berkaitan
dengan persaingan, maka peran manajer diajak untuk berpikir lebih kreatif atau berpikir
secara strategik.

Pemecahan masalah dengan menghasilkan dan Mempertimbangkan lebih banyak


alternatif yang dibangun dari suatu analisa yang lebih teliti akan lebih menjanjikan suatu
hasil yang menguntungkan.Ada bebarapa manfaat yang diperoleh organisasi jika
mereka menerapkan manajemen strategik, yaitu:
1. Memberikan arah jangka panjang yang akan dituju.
2. Membantu organisasi beradaptasi pada perubahan-perubahan yang terjadi
3. Membuat suatu organisasi menjadi lebih efektif
4. Mengidentifikasikan keunggulan komparatif suatu organisasi dalam lingkungan
yang semakin beresiko.
5. Aktifitas pembuatan strategi akan mempertinggi kemampuan perusahaan untuk
mencegah munculnya masalah di masa datang.
6. Keterlibatan anggota organisasi dalam pembuatan strategi akan lebih
memotivasi mereka pada tahap pelaksanaannya.
7. Aktifitas yang tumpang tindih akan dikurangi
8. Keengganan untuk berubah dari karyawan lama dapat dikurangi.
b. Resiko
Keterlibatan para manajer dalam proses perencanaan strategik akan menimbulkan
beberapa resiko yang perlu diperhitungkan sebelum melakukan proses manajemen
strategik, yaitu:
1. Waktu yang digunakan para manajer dalam proses manajemen strategik
mungkin mempunyai pengaruh negatif pada tanggung jawab operasional.

2. Apabila para pembuat strategi tidak dilibatkan secara langsung dalam


penerapannya maka mereka dapat mengelak tanggung jawab pribadi untuk
keputusan-keputusan yang diambil dalam proses perencanaan.
3. Akan timbul kekecewan dari para bawahan yang berpartisipasi dalam penerapan
strategi karena tidak tercap[ainya tujuan dan harapan mereka.
Untuk mengatasi resiko-resiko tersebut para manajer perlu dilatih mengamankan atau
memperkecil timbulnya resiko dengan cara:
1. Melakukan penjadwalan kewajiban-kewajiban para manajer agar mereka dapat
mengalokasikan waktu yang lebih efisien.
2. Membatasi para manajer pada proses perencanaan untuk membuat janji-janji
mereka terhadap kinerja yang benar-benar dapat dilaksananakan oleh mereka
dan bawahannya.
3. Mengatisipasi dan menanggapi keinginan-keinginan bawahan, misalnya usulan
atau peningkatan dalam ganjaran.
Sebagai

suatu

kesatuan

dalam

sebuah

organisasi

perlu

menerapkan

dan

mengembangkan kemapuan manajemen internalnya guna mencapai tujuan yang


diinginkan dengan mengarahkan segenap potensi dan strategi serta taktik yang tepat
untuk diaplikasikan.
Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang obyektif, logis,
sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu organisasi. Proses ini berusaha
untuk mengorganisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang
memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu.
Berdasarkan pada pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik.Intuisi terutama bermamfaat untuk membuat keputusan
dalam situasi yang amat tidak menentu atau sedikit preseden. Proses manajemen

strategis didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi seharusnya terus-menerus


memonitor peristiwa dan kecenderungan internal dan eksternal sehingga melaukan
perubahan tepat waktu. Teknologi informasi dan globalisasi adalah perubahan eksternal
yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa ini. Arus informasi yang cepat
menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh dunia dapat melihat sendiri
bagaimana cara hidup orang lain. Dunia menjadi tanpa perbatasan dengan warga Negara
global, pesaing global, pelanggan global, pemasok global, dan distributor global.

Manajemen adalah proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan,
pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian atau pengawasan, yang dilakukan
untuk menentukan dan mencapai tujuan yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan
SDM dan sumber daya lainnya. Sedangkan, strategi adalah rencana jangka panjang
dengan diikuti tindakan-tindakan yang ditujukan untuk mencapai tujuan tertentu.
Manajemen strategis merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan
yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya,
yang dibuat oleh pimpinan dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu
organisasi, untuk mencapai tujuan.
Adapun keterampilan yang harus dimiliki oleh seorang manajer, yakni :
a. Ketrampilan konseptual (conceptional skill)
top manager harus memiliki keterampilan untuk membuat konsep, ide, dan gagasan
demi kemajuan organisasi yang kemudian dijabarkan menjadi suatu rencana kegiatan
untuk mewujudkan gagasan atau konsepnya itu. Proses penjabaran ide menjadi suatu
rencana kerja yang kongkret itu biasanya disebut sebagai proses perencanaan.
b. Keterampilan berhubungan dengan orang lain (humanity skill)
Manajer juga perlu dilengkapi dengan keterampilan berkomunikasi atau keterampilan
berhubungan dengan orang lain, yang disebut juga keterampilan kemanusiaan. Dengan
komunikasi yang persuasif, bersahabat, dan kebapakan akan membuat karyawan merasa
dihargai dan kemudian mereka akan bersikap terbuka kepada atasan.
c. Keterampilan teknis (technical skill)
Keterampilan ini merupakan bekal bagi manajer pada tingkat yang lebih rendah.
Keterampilan teknis ini merupakan kemampuan untuk menjalankan suatu pekerjaan

tertentu, misalnya menggunakan program komputer, memperbaiki mesin, membuat


kursi, akuntansi dan lain-lain.
Selain tiga keterampilan dasar di atas, Ricky W. Griffin menambahkan dua keterampilan
dasar yang perlu dimiliki manajer, yaitu:
a. Keterampilan manajemen waktu, keterampilan yang merujuk pada kemampuan
seorang manajer untuk menggunakan waktu yang dimilikinya secara bijaksana.
b. Keterampilan membuat keputusan, kemampuan untuk mendefinisikan masalah dan
menentukan cara terbaik dalam memecahkannya. Kemampuan membuat keputusan
adalah yang paling utama bagi seorang manajer, terutama bagi kelompok manajer atas
(top manager).
Griffin mengajukan tiga langkah dalam pembuatan keputusan:

mendefinisikan masalah dan mencari berbagai alternatif yang dapat diambil untuk

menyelesaikannya.

mengevaluasi setiap alternatif yang ada dan memilih sebuah alternatif yang
dianggap paling baik.

mengimplementasikan alternatif yang telah ia pilih serta mengawasi dan


mengevaluasinya agar tetap berada di jalur yang benar.
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Perencana strategi
Pejabat eksekutif kepala
Presiden
Pemilik
Ketua dewan direksi
Direktur eksekutif
Penasehat
Dekan
Atau wirausahawan

3.

Tingkatan Strategi

Enterprise Strategy

Strategi ini berkaitan dengan respons masyarakat. Masyarakat adalah kelompok yang
berada di luar organisasi yang tidak dapat dikontrol. Di dalam, ada pemerintah dan
berbagai kelompok lain seperti kelompok penekan, kelompok politik dan kelompok
sosial lainnya. Jadi dalam strategi enterprise terlihat relasi antara organisasi dan

masyarakat luar, sejauh interaksi itu akan dilakukan sehingga dapat menguntungkan
organisasi. Strategi itu juga menampakkan bahwa organisasi sungguh-sungguh bekerja
dan berusaha untuk memberi pelayanan yang baik terhadap tuntutan dan kebutuhan
masyarakat.
b.

Corporate Strategy

Strategi ini berkaitan dengan misi organisasi, sehingga sering disebut Grand Strategy
yang meliputi bidang yang digeluti oleh suatu organisasi. Bagaimana misi itu
dijalankan, hal ini memerlukan keputusan-keputusan stratejik dan perencanaan stratejik
yang selayaknya juga disiapkan oleh setiap organisasi.
c.

Business Strategy

Strategi pada tingkat ini menjabarkan bagaimana merebut pasaran di tengah masyarakat.
Bagaimana menempatkan organisasi di hati para penguasa, para pengusaha, para donor
dan sebagainya untuk memperoleh keuntungan stratejik yang sekaligus mampu
menunjang berkembangnya organisasi ke tingkat yang lebih baik.
d.

Functional Strategy

Strategi ini merupakan strategi pendukung dan untuk menunjang suksesnya strategi lain.

Strategi functional ekonomi, mencakup fungsi-fungsi yang memungkinkan

organisasi hidup sebagai satu kesatuan ekonomi yang sehat, berkaitan dengan keuangan,
pemasaran, sumber daya, penelitian dan pengembangan.
Strategi functional manajemen, mencakup fungsi-fungsi manajemen yaitu planning,
organizing, implementating, controlling, staffing, leading, motivating, communicating,
decision making, representing, dan integrating.
Strategi isu stratejik, fungsi utamanya ialah mengontrol lingkungan, baik situasi
lingkungan yang sudah diketahui maupun situasi yang belum diketahui atau yang selalu
berubah (J. Salusu, p 101, 1996).
Tingkat-tingkat strategi itu merupakan kesatuan yang bulat dan menjadi isyarat bagi
setiap pengambil keputusan tertinggi bahwa mengelola organisasi tidak boleh dilihat
dari sudut kerapian administratif semata, tetapi juga hendaknya memperhitungkan soal
kesehatan organisasi dari sudut ekonomi (J. Salusu, p 104, 1996).
4.

Model manajemen strategi

a. Visi dan Misi


Visi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan merupakan cita-cita tentang keadaan di masa
datang yang ingin diwujudkan oleh seluruh personel perusahaan, mulai dari jenjang
yang paling atas sampai yang paling bawah. Misi adalah penjabaran secara tertulis
mengenai visi agar visi mudah dimengerti atau jelas bagi seluruh staf perusahaan.
b. Analisis Lingkungan Eksternal dan Internal
Realisasi misi perusahaan akan menjadi sulit dilakukan jika perusahaan tidak
berinteraksi dengan lingkungan eksternalnya. Oleh karena itu, tindakan untuk
mengetahui dan menganalisis lingkungan eksternalnya menjadi sangat penting karena
pada hakikatnya kondisi lingkungan eksternal berada di luar kendali organisasi. Selain
pemahaman kondisi lingkungan eksternal, pemahaman kondisi lingkungan internal
perusahaan secara luas dan mendalam juga perlu dilakukan. Oleh karena itu, strategi
yang dibuat perlu bersifat konsisten dan realistis sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Berdasarkan pemahaman lingkungan internal ini, hendaknya kelemahan dan juga
kekuatan yang dimiliki perusahaan dapat diketahui. Selain itu, perusahaan perlu
mencermati peluang yang ada dan memanfaatkannya agar perusahaan memiliki
keunggulan kompetitif.
c. Analisis Pilihan Strategi
Pada dasarnya setiap perusahaan, dalam menjalankan usahanya, mempunyai strategi.
Namun, para pimpinan perusahaan kadang-kadang tidak tahu atau tidak menyadarinya.
Bentuk strategi berbeda-beda antar-industri, antarperusahaan, dan bahkan antar-situasi.
Namun ada sejumlah strategi yang sudah umum diketahui, dimana strategi-strategi ini
dapat diterapkan pada berbagai bentuk industri dan ukuran perusahaan. Strategi-strategi
ini dikelompokkan sebagai strategi generic. Dari bermacam-macam strategi dalam
kelompok strategi generic ini akan dipilih salah satu atau kombinasi beberapa strategi
induk (grand strategy) dengan menggunakan cara-cara tertentu.
d. Sasaran Jangka Panjang
Upaya pencapaian tujuan perusahaan merupakan suatu proses berkesinambungan yang
memerlukan tahapan. Untuk menentukan apakah suatu tahapan sudah dicapai atau
belum diperlukan suatu tolak ukur, misalnya kurun waktu dan hasil yang ingin dicapai
dirumuskan secara jelas, yaitu dengan angka-angka kuantitatif. Pembuatan sasaran
jangka panjang ini mengacu kepada strategi induk yang telah ditetapkan sebelumnya.

e.
Strategi Fungsional
Langkah penting implementasi strategi induk dilakukan dengan membagi-baginya ke
dalam berbagai sasaran jangka pendek, misalnya dalam jangka waktu tahunan, secara
berkesinambungan dengan memperhatikan skala prioritas serta dapat diukur. Sasaran
jangka pendek ini hendaknya mengacu pada strategi fungisonal yang sifatnya
operasional.
Strategi fungsional yang sifatnya lebih operasional ini mengarah berbagai bidang
fungsional dalam perusahaan untuk memperjelas hubungan makna strategi utama
dengan identifikasi rincian yang sifatnya spesifik. Strategi fungsional menjadi penuntun
dalam melakukan berbagai aktivitas agar konsisten bukan hanya dengan strategi
utamanyan saja, melainkan juga dengan strategi bidang fungsional lainnya. Dalam
organisasi perusahaan yang konvesional, bidang-bidang fungsional utamanya adalah
bidang keuangan, SDM, produksi dan operasi, serta bidang pemasaran.
f.
Program, Pelaksanaan, Pengendalian dan Evaluasi
Agar sasaran yang ingin diraih dapat direalisasikan dengan strategi yang telah
ditetapkan, strategi perlu ditindaklanjuti dengan pelaksanaan (action). Pelaksanaan tidak
efektif bila tidak didahului dengan perencanaan. Perencanaan yang baik minimal
mengandung asas-asas untuk mencapai tujuan, realistis dan wajar, efisien serta
merupakan cerminan dari strategi dan kebijakan perusahaan. Pengendalian atau
pengawasan dimaksudkan untuk lebih menjamin bahwa semua kegiatan yang
diselenggarakan oleh perusahaan hendaknya didasarkan pada rencana yang telah
disepakati, sehingga sasaran tidak menyimpang. Jika hasil evaluasi pekerjaan diketahui
bahwa ada faktor X yang mengakibatkan terjadinya penyimpangan kerja dari rencana
yang ada, dan memang disebabkan salah asumsi atau oleh hal-hal lain yang sifatnya
uncontrollable, maka rencana perlu direvisi ulang.
Tahap-Tahap Manajemen Strategis
Manajemen strategi merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga kegiatan antara lain
perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi
terdiri dari kegiatan-kegiatan mengembangkan misi bisnis, mengenali peluang dan

ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal,


menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih
strategi tertentu untuk dilaksanakan.
Isu perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis apa yang akan dimasuki bisnis apa
yang harus dihentikan, bagaimana mengalokasikan sumber daya, apakah memperluas
operasi atau diversivikasi, apakah akan memasuki pasar internasional, apakah akan
melakukan merjer atau membentuk usaha patungan, dan bagaimana menghindari
pengambilalihan perusahaan pesaing. Keputusan perumusan
strategis mengikat suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan teknologi
spesifik selama periode waktu tertentu. Strategi menetapkan keunggulan bersaing
jangka panjang. Apapun yang akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi
berbagai fungsi utama dan pengaruh jangka panjang pada suatu organisasi.
Implementasi strategi menuntut perusahaan untuk menetapkan obyektif tahunan,
memperlengkapi dengan kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumber
daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan. Implementasi strategi
termasuk mengembangkan budaya mendukung strategi, menciptakan struktur oragnisasi
yang efektif, mengubah arah usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan
dan memanfaatkan sistem informasi dan menghubungkan kompensasi karyawan dengan
prestasi organisasi. Implementasi strategi sering disebut tahap tindakan manajemen
strategis. Strategi implementasi berarti memobilisasi karyawan dan manajer untuk
mengubah strategi yang dirumuskan menjadi tindakan.
Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat
perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi
berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di
masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah. Tiga macam
aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah 1) meninjau factor-faktor
eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi yang sekarang, 2) mengukur prestasi,

3) mengambil tindakan korektif.Aktivitas perumusan startegi, implementasi dan


evaluasi terjadi di tiga tingkat hirarki dalam organisasi yang besar, korporasi, divisi atau
unit bisnis strategis, dan fungsional.
Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang obyektif, logis,
sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu organisasi. Proses ini berusaha
untuk mengorganisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang
memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu.
Berdasarkan pada pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik. Intuisi terutama bermamfaat untuk membuat keputusan
dalam situasi yang amat tidak menentu atau sedikit preseden.
Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi seharusnya
terus-menerus memonitor peristiwa dan kecenderungan internal dan eksternal sehingga
melaukan perubahan tepat waktu. Teknologi informasi dan globalisasi adalah perubahan
eksternal yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa ini. Arus informasi yang cepat
menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh dunia dapat melihat sendiri
bagaimana cara hidup orang lain. Dunia menjadi tanpa perbatasan dengan warga Negara
global, pesaing global, pelanggan global, pemasok global, dan distributor global.
Tahap-Tahap Manajemen Strategis
Manajemen strategi merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga kegiatan antara lain
perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi
terdiri dari kegiatan-kegiatan mengembangkan misi bisnis, mengenali peluang dan
ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal,
menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih
strategi tertentu untuk dilaksanakan.

Isu perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis apa yang akan dimasuki bisnis apa
yang harus dihentikan, bagaimana mengalokasikan sumber daya, apakah memperluas
operasi atau diversivikasi, apakah akan memasuki pasar internasional, apakah akan
melakukan merjer atau membentuk usaha patungan, dan bagaimana menghindari
pengambilalihan perusahaan pesaing. Keputusan perumusan
strategis mengikat suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan teknologi
spesifik selama periode waktu tertentu. Strategi menetapkan keunggulan bersaing
jangka panjang. Apapun yang akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi
berbagai fungsi utama dan pengaruh jangka panjang pada suatu organisasi.
Implementasi strategi menuntut perusahaan untuk menetapkan obyektif tahunan,
memperlengkapi dengan kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumber
daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan. Implementasi strategi
termasuk mengembangkan budaya mendukung strategi, menciptakan struktur oragnisasi
yang efektif, mengubah arah usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan
dan memanfaatkan sistem informasi dan menghubungkan kompensasi karyawan dengan
prestasi organisasi. Implementasi strategi sering disebut tahap tindakan manajemen
strategis. Strategi implementasi berarti memobilisasi karyawan dan manajer untuk
mengubah strategi yang dirumuskan menjadi tindakan.
Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat
perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi
berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di
masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah. Tiga macam
aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah 1) meninjau factor-faktor
eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi yang sekarang, 2) mengukur prestasi,
3) mengambil tindakan korektif.Aktivitas perumusan startegi, implementasi dan
evaluasi terjadi di tiga tingkat hirarki dalam organisasi yang besar, korporasi, divisi atau
unit bisnis strategis, dan fungsional.

Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang obyektif, logis,
sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu organisasi. Proses ini berusaha
untuk mengorganisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang
memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu.
Berdasarkan pada pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik. Intuisi terutama bermamfaat untuk membuat keputusan
dalam situasi yang amat tidak menentu atau sedikit preseden.
Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi seharusnya
terus-menerus memonitor peristiwa dan kecenderungan internal dan eksternal sehingga
melaukan perubahan tepat waktu. Teknologi informasi dan globalisasi adalah perubahan
eksternal yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa ini. Arus informasi yang cepat
menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh dunia dapat melihat sendiri
bagaimana cara hidup orang lain. Dunia menjadi tanpa perbatasan dengan warga Negara
global, pesaing global, pelanggan global, pemasok global, dan distributor global.

Tahap-Tahap Manajemen Strategis


Manajemen strategi merupakan sebuah proses yang terdiri dari tiga kegiatan antara lain
perumusan strategi, implementasi strategi dan evaluasi strategi. Perumusan strategi
terdiri dari kegiatan-kegiatan mengembangkan misi bisnis, mengenali peluang dan
ancaman eksternal perusahaan, menetapkan kekuatan dan kelemahan internal,
menetapkan obyektif jangka panjang, menghasilkan strategi alternatif dan memilih
strategi tertentu untuk dilaksanakan.
Isu perumusan strategi termasuk memutuskan bisnis apa yang akan dimasuki bisnis apa
yang harus dihentikan, bagaimana mengalokasikan sumber daya, apakah memperluas
operasi atau diversivikasi, apakah akan memasuki pasar internasional, apakah akan

melakukan merjer atau membentuk usaha patungan, dan bagaimana menghindari


pengambilalihan perusahaan pesaing. Keputusan perumusan
strategis mengikat suatu organisasi pada produk,pasar, sumber daya, dan teknologi
spesifik selama periode waktu tertentu. Strategi menetapkan keunggulan bersaing
jangka panjang. Apapun yang akan terjadi, keputusan strategis mempunyai konsekuensi
berbagai fungsi utama dan pengaruh jangka panjang pada suatu organisasi.
Implementasi strategi menuntut perusahaan untuk menetapkan obyektif tahunan,
memperlengkapi dengan kebijakan, memotivasi karyawan dan mengalokasikan sumber
daya sehingga strategi yang dirumuskan dapat dilaksanakan. Implementasi strategi
termasuk mengembangkan budaya mendukung strategi, menciptakan struktur oragnisasi
yang efektif, mengubah arah usaha pemasaran, menyiapkan anggaran, mengembangkan
dan memanfaatkan sistem informasi dan menghubungkan kompensasi karyawan dengan
prestasi organisasi. Implementasi strategi sering disebut tahap tindakan manajemen
strategis. Strategi implementasi berarti memobilisasi karyawan dan manajer untuk
mengubah strategi yang dirumuskan menjadi tindakan.
Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Para manajer sangat
perlumengetahui kapan strategi tertentu tidak berfungsi dengan baik, evaluasi strategi
berarti usaha untuk memperoleh informasi ini. Semua strategi dapat dimodifikasi di
masa depan karena faktor-faktor eksteral dan internal selalu berubah. Tiga macam
aktivitas mendasar untuk mengevaluasi strategi adalah 1) meninjau factor-faktor
eksternal dan internal yang menjadi dasar strategi yang sekarang, 2) mengukur prestasi,
3) mengambil tindakan korektif.Aktivitas perumusan startegi, implementasi dan
evaluasi terjadi di tiga tingkat hirarki dalam organisasi yang besar, korporasi, divisi atau
unit bisnis strategis, dan fungsional.
Proses manajemen strategis dapat diuraikan sebagai pendekatan yang obyektif, logis,
sistematis untuk membuat keputusan besar dalam suatu organisasi. Proses ini berusaha
untuk mengorganisasikan informasi kualitatif dan kuantitatif dengan cara yang

memungkinkan keputusan efektif diambil dalam kondisi yang tidak menentu.


Berdasarkan pada pengalaman, penilaian, dan perasaan, intuisi penting untuk membuat
keputusan strategis yang baik. Intuisi terutama bermamfaat untuk membuat keputusan
dalam situasi yang amat tidak menentu atau sedikit preseden.
Proses manajemen strategis didasarkan pada keyakinan bahwa organisasi seharusnya
terus-menerus memonitor peristiwa dan kecenderungan internal dan eksternal sehingga
melaukan perubahan tepat waktu. Teknologi informasi dan globalisasi adalah perubahan
eksternal yang mengubah bisnis dan masyarakat dewasa ini. Arus informasi yang cepat
menghilangkan batas negara sehingga orang dari seluruh dunia dapat melihat sendiri
bagaimana cara hidup orang lain. Dunia menjadi tanpa perbatasan dengan warga Negara
global, pesaing global, pelanggan global, pemasok global, dan distributor global.
Manajemen strategi memiliki tahapan atau proses yang disusun dan terstruktur dalam
bentuk model seperti gambar di bawah ini (David, 2011:15):

Model Manajemen Strategi


Proses dan Tahapan Manajemen Strategi

David (2011:6) menjelaskan bahwa proses manajemen strategis terdiri dari tiga tahapan,
yaitu :
a. Perumusan Strategi (Strategy Formulation)
Perumusan strategi adalah tahap awal pada manajemen strategi, yang mencakup
mengembangkan visi dan misi, mengidentifikasi peluang eksternal organisasi dan
ancaman, menentukan kekuatan dan kelemahan internal, menetapkan tujuan jangka
panjang, menghasilkan strategi alternatif, dan memilih strategi tertentu untuk mencapai
tujuan.
b. Implementasi Strategi (Strategy Implemented)
Implementasi strategi adalah tahap selanjutnya sesudah perumusan strategi yang
ditetapkan. Penerapan strategi ini memerlukan suatu keputusan dari pihak yang
berwenang dalam mengambil keputusan untuk menetapkan tujuan tahunan, menyusun
kebijakan, memotivasi karyawan, dan mengalokasikan sumber daya sehingga strategi
yang dirumuskan dapat dilaksanakan. Pada tahap ini dilakukan pengembangan strategi
pendukung budaya, merencanakan struktur organisasi yang efektif, mengatur ulang
usaha pemasaran yang dilakukan, mempersiapkan budget, mengembangkan dan utilisasi
sistem informasi serta menghubungkan kompensasi karyawan terhadap kinerja
organisasi.
c. Evaluasi Strategi (Strategy Evaluation)
Evaluasi strategi adalah tahap akhir dalam manajemen strategis. Manajer sangat
membutuhkan untuk tahu kapan strategi tertentu tidak bekerja dengan baik; Evaluasi
strategi adalah alat utama untuk memperoleh informasi ini. Hal tersebut dapat dilakukan
dengan penilaian atau melakukan proses evaluasi strategi. Dalam penilaian strategi
terdapat tiga aktivitas penilaian yang mendasar, yaitu: Peninjauan ulang faktor-faktor
eksternal dan internal yang menjadi landasan bagi strategi saat ini, Pengukuran kinerja,

dan 3). Pengambilan langkah korektif. Penilaian strategi sangat diperlukan oleh suatu
perusahaan karena strategi yang berhasil untuk saat ini tidak selalu berhasil untuk di
masa yang akan datang.
A.

Pengertian SWOT

Analisis SWOT secara sederhana mudah dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan
dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan
eksternalnya. Jika hal ini digunakan dengan benar, maka dimungkinkan bagi suatu
perusahaan untuk mendapatkan sebuah gambaran menyeluruh mengenai situasi
perusahaan itu dalam hubungannya dengan masyarakat, lembaga-lembaga yang lain.
Sedangkan pemahaman mengenai faktor-faktor eksternal, (terdiri atas ancaman dan
kesempatan), yang digabungkan dengan suatu pengujian mengenai kekuatan dan
kelemahan akan membantu dalam mengembangkan sebuah visi tentang masa depan.
Prakiraan seperti ini diterapkan dengan mulai membuat program yang kompeten atau
mengganti program-program yang tidak relevan dengan program yang lebih inovatif
dan relevan
Analisa SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan
strategi perusahaan. Analisa ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities), namun secara bersamaan dapat
meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).
Menurut Johnson (1989) dan Bartol (1991), SWOT adalah perangkat umum yang
didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan
sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan.
Analisa SWOT adalah analisa yang sangat dikenal dalam proses pembuatan strategi
bisnis. Penulis mencoba membahas dengan melihat dan memantau pada media yang
pernah dikunjungi yaitu Riau Pos, Koran Riau, Media Online Riau Terkini dan
Tabloid Azam, dalam hal ini mencakup strategi media dan manajemen surat kabar.
1.

Strenghts (S)

Mencerminkan kekuatan yang dimiliki oleh media. Dalam kasus Riau Pos tetap eksis
dengan banyaknya persaingan media yang juga berkualitas, namun tetap dapat
mengalahkan media-media yang baru dan lebih murah. Inilah yang dimiliki Riau Pos
yang memiliki segmen pasar sendiri, dan telah teruji puluhan tahun lamanya. Kekuatan
lainnya adalah adanya dukungan dari masyarakat dan pemerintah yang loyal.
Begitu juga dengan media yang lain, kekuatan yang paling mencolok adalah kekuatan
nilai berita yang berbeda dan mempunyai segmen pasar tersendiri pula. Selain itu,
media tersebut juga telah memiliki jaringan dan infrastruktur yang luas mencakup
segenap wilayah tanah air sehingga memudahkan untuk melakukan ekspansi dan
penetrasi pasar.
2.

Weaknesses (W)

Mencerminkan kelemahan yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Dalam kasus media
Riau Pos kelemahan yang dimiliki adalah nilai dari beritanya. Begitu pula dengan media
yang lainnya, juga memiliki kelemahan baik itu kelemahaan dari strategi pemasaran
maupun dari system. Hal ini boleh jadi merupakan titik lemah ketika selera masyarakat
baik itu masyarakat menengah kebawah maupun menengah keatas.
3.

Opportunities (O)

Mencerminkan peluang yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Dalam kasus media,
peluang yang mereka miliki adalah jumlah penduduk Indonesia khusunya Propinssi
Riau yang sangat besar dan ini merupakan pasar yang potensial untuk pemasaran media.
Dalam kasus Koran Riau, karena ini adalah media baru maka peluang yang dimiliki
adalah kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi yang kritis dan informasi
yang sesuai dengan faktanya. Dan permintaan masyarakat yang tinggi akan produk yang
murah namun berkualiatas.
4.

Threats (T)

Mencerminkan ancaman potensial yang dihadapi oleh suatu perusahaan. Dalam kasus
media, pada dasarnya semua perusahaan baik itu perusahaan besar maupun perusahaan
kecil memiliki ancaman. ancaman yang paling potensial bagi media pada umumnya

adalah apabila system pemerintah yang berubah-ubah, bagaimana jika fungsi media
dikembalikan kembali pada masa pada zaman pemerintah yang otoriter. Pembatasan
iklan pada media tentu akan sangat berdampak negatif pada perusahaan dan pemasaran
media. Selain itu, ancaman lainnya adalah kesadaran masyarakat yang makin tinggi
akan munculnya beragam kampanye dan propaganda yang ada pada media tersebut.
B. Analisis SWOT
Secara umum, analisis SWOT pada tiap media massa dapat dilakukan, seperti yang
diterangkan dibawah ini:
a. Strengths ( Kekuatan / Kelebihan)

Tersedianya dan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.


Tersedianya undang-undang pers.
Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana media massa.
Adanya promosi yang dapat dilakukan.

b. Weaknesses (Kelemahan/Kekurangan)

Pelayanan terhadap masyarakat.


Mutu/ kualitas sebagian Sumber Daya Manusia (SDM).
Belum optimalnya fungsi pers.
Kurangnya kepedulian pihak swasta terhadap pers.

c. Opportunities (Peluang /Kesempatan)

Adanya partisipasi dan dukungan masyarakat.


Adanya dukungan pemerintah.
Adanya dunia usaha/industri yang bersedia bekerjasama.
Kebutuhan masyarakat terhadap informasi.

d. Threats ( Ancaman)
Perilaku dan budaya masyarakat yang kurang mendukung kerja media.
Masih adanya krisis ekonomi yang melemahkan kemampuan masyarakat secara
finanasial.
Belum mempunyai dukungan dari pemerintahan yang otoriter
Image sebagian Masyarakat bahwa media tidak menjanjikan masa depan yang lebih
baik.
Analisis SWOT merupakan salah satu analisis pilihan (strategic chice) yang sudah
sangat populer. Dalam bahasan ini, analisis SWOT akan digunakan sebagai instrument

analisis yang dapat memkaiinstrumen lain yang lebih sesuai atau memadai dengan
lokus-lokus yang telah di tentukan dalam simulasi.
Uji kekuatan dan kelemahan pada dasarnya merupakan audit internal tentang seberapa
efektif performa institusi. Sementara peluang dan ancaman berkonsentrasi pada konteks
eksternal atau lingkungan tempat sebuah institusi beroperasi.
Analisa SWOT bertujuan untuk menemukan aspek-aspek penting dari hal-hal tersebut
di atas: kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman. Tujuan pengujian ini adalah untuk
memaksimalkan kekuatan, meminimalkan kelemahan, mereduksi ancaman dan
membangun peluang.
Aktivitas SWOT dapat diperkuat dengan menjamin analisa tersebut berfokus pada
kebutuhan pelanggan dan konteks kompetitif tempat beroperasi. Ini adalah dua variable
kunci dalam membangun atau mengembangkan strategi jangka panjang institusi.
Strategi ini harus dikembangkan dengan berbagai metode yang dapat memungkinkan
institusi mampu mempertahankan diri dalam menghadapi kompetisi serta mampu
memaksimalkan daya tariknya bagi para pelanggan.
Jika pengujian tersebut dipadukan dengan pengaduan visi dan nilai, maka akan
ditemukan sebuah identitas yang berbeda dari para pesaingnya. Begitu sebuah identitas
disitingtif mampu dikembangkan dalam sebuah perusahaan, maka karakteristik mutu
dalam perusahaan tersebut akan menjadi lebih mudah diidentifikasi. Kemudian perlu
adanya suatu strategi yang dapat meningkatkan kualitas, penjualan, ataupun tingkat
kepercayaan masyarakat.
Strategi

pada

hakekatnya

adalah

perencanakan

(planning)

dan

manejemen

(management) untuk mencapai suatu tujuan. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut,
strategi tidak berfungsi sebagai peta jalan yang hanya menunjukkan arah saja, tetapi
harus menunjukkan bagaimana taktik operasionalnya.
Tidak ada strategi yang terbaik bagi suatu perusahaan sebab setiap perusahaan harus
menyusun strategi menurut kompetensi inti yang dipunyai untuk mencapai tujuan.
Bahkan dalam suatu perusahaan, strategi yang berbeda dibutuhkan untuk perusahaan
yang dimiliki agar unggul dalam persaingan. Menurut Kotler dan Amstrong (1996) ada
tiga strategi bersaing untuk menang adalah :

a.
Kepemimpinan biaya rendah
Disini perusahaan bekerja keras untuk mencapai biaya produksi terendah untuk
sehingga dapat menetapkan harga lebih rendah ketimbang pesaingnya dan berhasil
merebut pangsa pasar yang lebih besar dari pesaingnya.
b.
Diferensiasi
Disini perusahaan memusatkan perhatian pada penciptakan line product dan program
pemasaran berbeda sehingga akhirnya muncul sebagian pemimpin pasar.
c.
Fokus
Disini perusahaan memusatkan perhatiannya pada usaha melayani beberapa segmen
pasar yang baik dan bukan mengejar seluruh pasar.
Perusahaan yang melakukan dengan baik salah satu strategi diatas kemungkinan akan
memperoleh kinerja yang baik. Dan strategi yang lain yang dapat dilakukan juga dapat
dengan strategi-strategi SWOT :
Strategi SO
Strategi ini dibuat berdasarkan lembaga, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan
untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya.
Strategi ST
Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk
mengatasi ancaman.
Strategi WO
Strategi diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara
meminimalkan kelemahan yang ada.
Strategi WT
Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defisit dan berusaha meminimalkan
kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Tidak ada satu cara terbaik untuk
melakukan analisa SWOT. Yang paling utama adalah membawa berbagai macam
pandangan/perspektif bersama-sama sehingga akan terlihat keterkaitan baru dan
implikasi dari hubungan tersebut.
SWOT ini biasa digunakan untuk menganalisis suatu kondisi dimana akan dibuat
sebuah rencana untuk melakukan sesuatu atau memutuskan sebuah strategi,sebagai
contoh, program kerja strategi. Analisis ini digunakan untuk:
1. Memasuki sebuah industri baru

2. Memutuskan meluncurkan produk baru


3. Menganalisis posisi perusahaan pada peta persaingan usaha dalam kurun waktu
tertentu
4. Melihat sejauh mana kekuatan dan kelemahan perusahaan
5. Membuat keputusan ketika memecahkan masalah yang akan terjadi berkaitan
dengan ancaman dan peluang yang muncul
Tujuan Penerapan SWOT di Perusahaan
Penerapan SWOT pada suatu perusahaan bertujuan untuk memberikan suatu pandangan
agar perusahaan menjadi lebih fokus, sehingga dengan penempatan analisa SWOT
tersebut nantinya dapat di jadikan sebagai bandingan pikir dari berbagai sudut pandang,
baik dari segi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman yang mungkin bisa
terjadi di masa-masa yang akan datang.
Tujuan lain diperlukannya analisis SWOT adalah dimana setiap produk yang beredar
dipasaran pasti akan mengalami pasang surut dalam penjualan atau yang dikenal dengan
istilah daur hidup produk (life cycle product). Konsep daur hidup produk dirujuk
berdasarkan keadaan realita yang terjadi di pasar, bahwa konsumen memiliki tingkat
kejenuhan dalam memakai suatu produk.
2.3 Faktor Eksternal dan Internal dalam Perspektif SWOT
1. a) Faktor Eksternal
Faktor eksternal ini mempengaruhi terbentuknya Opportunities and Threats (O and T).
Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi-kondisi yang terjadi diluar perusahaan
yang mempengaruhi dalam pembuatan keputusan perusahaan. Faktor ini mencakup

lingkungan industri (industry environment) dan lingkungan bisnis makro (macro


environment), ekonomi, politik, hukum, tekonologi, kependudukan, dan sosial budaya.
1. b) Faktor Internal
Faktor internal ini mempengaruhi terbentuknya Strengths and Weaknesses (S and W).
Dimana faktor ini menyangkut dengan kondisi yang terjadi dalam perusahaan, yang
mana ini turut mempengaruhi terbentuknya pembuatan keputusan (decision making)
perusahaan. Faktor Internal ini mencakup meliputi semua macam manajemen
fungsional: pemasaran, keuangan, operasi, sumber daya manusia, penelitian dan
pengembangan, sistem informasi manajemen, dan budaya perusahaan (corporate
culture).
2.4 Contoh Kasus Analisis Swot dalam Prespektif Manajemen Pengambilan
Keputusan
Analisis SWOT ini merupakan sebuah penyelidikan tentang situasi dan kondisi dalam
suatu lingkungan. Contohnya adalah:
Ada sebuah organisasi yang akan membuat program kerja, untuk itu mereka harus tahu
tentang kondisi organisasi mereka dan lingkungan dimana organisasi itu berada. Untuk
itu mereka melakukan analisis SWOT,
1. Pertama S, yaitu dengan mengetahui kekuatan organisasi. Kekuatan bisa
diartikan sebagai kondisi yang menguntungkan untuk organisasi tersebut.
Misalnya, pengurus yang setia terhadap organisasi, atau kas organisasi yang
banyak, dll.
2. Kedua W, yaitu dengan mengetahui kelemahan organisasi. Kelemahan bisa
diartikan sebagai suatu kondisi yang merugikan untuk organisasi tersebut.
Misalnya, kondisi anggota yang tidak aktif, dana yang tak ada, dll.

3. Ketiga O, yaitu dengan mengetahui kesempatan organisasi. Dalam hal ini bisa
diartikan sebagai suatu hal yang bisa menguntungkan jika dilakukan namun jika
tidak diambil bisa merugikan, atau sebaliknya. Misalnya, sumber dana ada bila
diminta.
4. Keempat T, yaitu dengan mengetahui ancaman organisasi. Ancaman bisa
diartikan sebagai suatu hal yang akan menghambat atau mengancam selama
perjalanan kepengurusan. Misalnya, banyak pengurus dan anggota yang tidak
aktif.
Setelah dilakukan analisis SWOT maka jadi mengetahui kondisi nyata apa yang terjadi
di lingkungan internal dan external organisas, maka dapat mulai membuat rencana
program kerja yang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan dan mampu untuk
dilaksanakan oleh pengurus tersebut.
Ketika anda membuat analisis SWOT ketika memasuki sebuah industri,harus diingat
bahwa

dalam

sebuah

industri

ada

dua

faktor

penting

yang

harus

anda

pertimbangkan,yaitu:
1. Faktor internal perusahaan,yaitu:
1. Pemasok (supplier),dan
2. Konsumen (pasarnya).
2. Faktor eksternal perusahaan,yaitu:
1. Masuknya produk pesaing baru sebagai ancaman bisnis anda,
2. Munculnya

produk

pengganti

menggantikan prouk anda

(substitutive

product)

yang

bisa