You are on page 1of 16

A.

DEFINISI
Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan berupa muara uretra yang terletak di sebelah ventral
penis dan sebelah prokimal ujung penis.

Hipospadia merupakan salah satu dari kelainan congenital paling sering pada genitalia laki laki,
terjadi pada satu dalam 350 kelahiran laki-laki, dapat dikaitkan dengan kelainan kongenital lain
seperti anomali ginjal, undesensus testikulorum dan genetik seperti sindroma klinefelter.

B.

ANATOMI DAN FISIOLOGI


ORGAN REPRODUKSI PRIA
Dibedakan menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.

Organ reproduksi luar terdiri dari :


Penis merupakan organ kopulasi yaitu hubungan antara alat kelamin jantan dan betina untuk
memindahkan semen ke dalam organ reproduksi betina. Penis diselimuti oleh selaput tipis yang
nantinya akan dioperasi pada saat dikhitan/sunat.

Penis terdiri dari:


Akar (menempel pada dinding perut)
Badan (merupakan bagian tengah dari penis)
Glans penis (ujung penis yang berbentuk seperti kerucut).Lubang uretra (saluran tempat
keluarnya semen dan air kemih) terdapat di umung glans penis.
Terdapat 2 rongga yang berukuran lebih besar disebut korpus kavernosus, terletak bersebelahan.
Rongga yang ketiga disebut korpus spongiosum, mengelilingi uretra.Jika terisi darah, maka penis
menjadi lebih besar, kaku dan tegak (mengalami ereksi).
Scrotum merupakan selaput pembungkus testis yang merupakan pelindung testis serta mengatur
suhu yang sesuai bagi spermatozoa.
Organ reproduksi dalam terdiri dari :
Testis merupakan kelenjar kelamin yang berjumlah sepasang dan akan menghasilkan sel-sel
sperma serta hormone testosterone. Dalam testis banyak terdapat saluran halus yang disebut
tubulus seminiferus. Testis terletak di dalam skrotum.Testis memiliki 2 fungsi, yaitu
menghasilkan sperma dan membuat testosteron (hormon seks pria yang utama).

Epididimis merupakan saluran panjang yang berkelok yang keluar dari testis. Berfungsi untuk
menyimpan sperma sementara dan mematangkan sperma.
Vas deferens merupakan saluran panjang dan lurus yang mengarah ke atas dan berujung di
kelenjar prostat. Berfungsi untuk mengangkut sperma menuju vesikula seminalis.
Saluran

ejakulasi merupakan

saluran

yang

pendek

dan

menghubungkan

vesikula

seminalis dengan urethra.


Vesikula seminalis merupakan tempat untuk menampung sperma sehingga disebut dengan
kantung semen, berjumlah sepasang. Menghasilkan getah berwarna kekuningan yang kaya akan
nutrisi bagi sperma dan bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran
reproduksi wanita.
Urethra merupakan saluran panjang terusan dari saluran ejakulasi dan terdapat di
penis. Uretra punya 2 fungsi yaitu Bagian dari sistem kemih yang mengalirkan air kemih dari
kandung kemih. Bagian dari sistem reproduksi yang mengalirkan semen.

Kelenjar pada organ reproduksi pria


1.

Kelenjar Prostat merupakan kelenjar yang terbesar dan menghasilkan getah putih yang

bersifat asam.
2.

Kelenjar Cowpers/Cowpery/Bulbourethra merupakan kelenjar yang menghasilkan getah

berupa lender yang bersifat alkali. Berfungsi untuk menetralkan suasana asam dalam saluran
urethra.

C.

ETIOLOGI
Penyebabnya sebenarnya sangat multifaktor dan sampai sekarang belum diketahui penyebab
pasti dari hipospadia. Namun, ada beberapa faktor yang oleh para ahli dianggap paling
berpengaruh antara lain :
1.

Gangguan

dan

ketidakseimbangan

hormon

Hormon yang dimaksud di sini adalah hormon androgen yang mengatur organogenesis kelamin
(pria). Atau bisa juga karena reseptor hormon androgennya sendiri di dalam tubuh yang kurang
atau tidak ada. Sehingga walaupun hormon androgen sendiri telah terbentuk cukup akan tetapi
apabila reseptornya tidak ada tetap saja tidak akan memberikan suatu efek yang semestinya. Atau
enzim yang berperan dalam sintesis hormon androgen tidak mencukupi pun akan berdampak
sama.
2.

Genetika
Terjadi karena gagalnya sintesis androgen. Hal ini biasanya terjadi karena mutasi pada gen yang
mengode sintesis androgen tersebut sehingga ekspresi dari gen tersebut tidak terjadi.

3.

Lingkungan
Biasanya faktor lingkungan yang menjadi penyebab adalah polutan dan zat yang bersifat
teratogenik yang dapat mengakibatkan mutasi.

D.

MANIFESTASI KLINIS
1. Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan yang dangkal di bagian bawah penis yang
menyerupai meatus uretra eksternus.
2. Preputium (kulup) tidak ada dibagian bawah penis, menumpuk di bagian punggung penis.
3. Adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang mengelilingi meatus dan membentang hingga ke
glans penis, teraba lebih keras dari jaringan sekitar.
4. Kulit penis bagian bawah sangat tipis.
5. Tunika dartos, fasia Buch dan korpus spongiosum tidak ada.
6. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar dari glans penis.

7. Chordee dapat timbul tanpa hipospadia sehingga penis menjadi bengkok.


8. Sering disertai undescended testis (testis tidak turun ke kantung skrotum).
9. Kadang disertai kelainan kongenital pada ginjal.
10. Lubang penis tidak terdapat di ujung penis, tetapi berada di bawah penis
11. Penis melengkung ke bawah
12. Penis tampak seperti berkerudung karena kelainan pada kulit depan penis
13. Jika berkemih, anak harus duduk.
14. Pada kebanyakan penderita terdapat penis yang melengkung ke arah bawah yang akan tampak
lebih jelas pada saat ereksi. Hal ini disebabkan oleh adanya chordee yaitu suatu jaringan fibrosa
yang menyebar mulai dari meatus yang letaknya abnormal ke glands penis. Jaringan fibrosa ini
adalah bentuk rudimeter dari uretra, korpus spongiosum dan tunika dartos. Walaupun adanya
chordee adalah salah satu ciri khas untuk mencurigai suatu hipospadia, perlu diingat bahwa tidak
semua hipospadia memiliki chordee.
E.

PATOFISIOLOGI
Hypospadia terjadi karena tidak lengkapnya perkembangan uretra dalam utero. Terjadi karena
adanya hambatan penutupan uretra penis pada kehamilan minggu ke 10 sampai minggu ke 14.
Gangguan ini terjadi apabila uretra jatuh menyatu ke midline dan meatus terbuka pada
permukaan ventral dari penis. Propusium bagian ventral kecil dan tampak seperti kap atau
menutup.
PERKEMBANGAN

EMBRIONIK

DARI

HIPOSPADIA

Perkembangan dari penis dan skrotum dipengaruhi oleh testis. Tanpa adanya testis, maka struktur
wanita seperti klitoris, labia minora dan labia mayora dominan, tetapi dengan adanya testis,
klitoris membesar menjai penis, sulkus antara labia minora terbentuk menjadi uretra dan labia
mayora berkembang menjadi skrotum, ke dalam sana testis kemudian turun. Hipospadia terjadi
jika sel testis yang berkembang secara premature berhenti memproduksi androgen, karena itu
menimbulkan interupsi konversi penuh dari genitalia eksterna menjadi bentuk laki laki.

F.

KLASIFIKASI
KLASIFIKASI HIPOSPADIA

1.

Tipe

hipospadia

yang

lubang

uretranya

didepan

atau

di

anterior

a. Hipospadia Glandular
b.

HipospadiaSubcoronal
2. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di tengah

a.

Hipospadia

Mediopenean

b.

Hipospadia

Peneescrotal

3. Tipe hipospadia yang lubang uretranya berada di belakang atau posterior


a.

Hipospadia

Perineal

Tipe hipospadia berdasarkan letak orifisium uretra eksternum/ meatus :


1. Tipe

sederhana/

Tipe

anterior

Terletak di anterior yang terdiri dari tipe glandular dan coronal. Pada tipe ini, meatus
terletak pada pangkal glands penis. Secara klinis, kelainan ini bersifat asimtomatik dan tidak

memerlukan suatu tindakan. Bila meatus agak sempit dapat dilakukan dilatasi atau meatotomi.

2.

Tipe
Middle

penil/

yang

terdiri

dari

Tipe

distal

penile,

proksimal

Middle

penile,

dan

pene-escrotal.

Pada tipe ini, meatus terletak antara glands penis dan skrotum. Biasanya disertai dengan kelainan
penyerta, yaitu tidak adanya kulit prepusium bagian ventral, sehingga penis terlihat melengkung
ke bawah atau glands penis menjadi pipih. Pada kelainan tipe ini, diperlukan intervensi tindakan
bedah secara bertahap, mengingat kulit di bagian ventral prepusium tidak ada maka sebaiknya
pada bayi tidak dilakukan sirkumsisi karena sisa kulit yang ada dapat berguna untuk tindakan
bedah selanjutnya.

3.

Tipe
Posterior

Posterior
yang

terdiri

dari

tipe

scrotal

dan

perineal.

Pada tipe ini, umumnya pertumbuhan penis akan terganggu, kadang disertai dengan skrotum
bifida,

meatus

uretra

terbuka

lebar

dan

umumnya

testis

tidak

turun.

Klasifikasi hipospadia yang digunakan sesuai dengan letak meatus uretra yaitu tipe glandular,
distal

penile,

penile,

penoskrotal,

skrotal

dan

perineal.

Semakin ke proksinal letak meatus, semakin berat kelainan yang diderita dan semakin rendah
frekuensinya. Pada kasus ini 90% terletak di distal di mana meatus terletak di ujung batang penis
atau di glands penis. Sisanya yang 10% terletak lebih proksimal yaitu ditengah batang penis,
skrotum atau perineum. Berdasarkan letak muara uretra setelah dilakukan koreksi korde, Brown
membagi

hipospadia

(1)

anterior

Hipospadia

(2)

Hipospadia

dalam
:

tipe

Medius

glanular,

bagian

subkoronal,

midshaft,

dan

dan
penis

penis

:
distal.
proksimal

(3) Hipospadia Posterior : penoskrotal, scrotal, dan perineal.


MASALAH PADA HIPOSPADIA
1.

Masalah psikologis pada anak karena merasa malu akibat bentuk penis yang berbeda dengan
teman bermainnya.

2.

Masalah reproduksi karena bentuk penis yang bengkok menyebabkan penis susah masuk ke
dalam vagina saat kopulasi, cairan semen yang disemprotkan melalui saluranuretra pada tempat
abnormal.

3.

Kesulitan penentuan jenis kelamin terutama jika meatu uretra terletak di perineum dan skrotum
terbelah dengan disertai kriptorkismus.

4.

Biaya yang cukup besar karena prosedur operasi yang bertahap

5.

Kemungkinan adanya kelainan congenital yang lain seperti kelainan ginjal sehingga perlu
dianjurkan untuk pemerikaan foto polos abdomen dan pielografi intravena.

G.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Meskipun dapat di diagnosis dengan menggunakan prenatal fetal ultrasonography, Hipospadia
biasanya di diagnosis pada saat bayi baru lahir dengan pemeriksaan fisik. Pada pemeriksaan fisik
didapatkan meatus urethra externus terletak lebih proksimal, kadang-kadang disetai dengan atau
tanpa chordee. Bila tidak terdapat chordee maka pengobatan dapat ditangguhkan sampai umur 34 tahun untuk memastikan bahwa betul-betul tidak ada chordee yang terjadi. Bila pada umur 4
tahun tak ada chordee, maka anak tersebut dapat di sirkumsisi.
Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu urethtroscopydan cystoscopy untuk
memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal.Excretory urography dilakukan
untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.

H.

PENATALAKSANAAN
Dikenal banyak tehnik operai hipospadia, yang umumnya terdiri dari beberapa tahap yaitu :
1.

Operasi

pelepasan

chordee

dan

tunneling

Dilakukan pada usia 1,5-2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi chordee dari muara
uretra sampai ke glands penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan menjadi lurus tetapi
meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat keberhasilan eksisi dilakukan tes ereksi
buatan intraoperatif dengan menyuntikkan NaCL 0,9% kedalan korpus kavernosum.
2.

Operasi

uretroplasty

Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis bagian ventral
yang di insisi secara longitudinal pararel di kedua sisi.
Tujuan
1.
2.

pembedahan

Membuat

normal

Perbaikan

fungsi
untuk

perkemihan

:
dan

kosmetik

fungsi
pada

sosial,

serta
penis.

Ada banyak variasi teknik, yang populer adalah tunneling Sidiq-Chaula, Teknik Horton dan
Devine.
1.

Teknik

tunneling

Sidiq-Chaula

dilakukan

operasi

tahap:

a. Tahap pertama eksisi dari chordee dan bisa sekaligus dibuatkan terowongan yang berepitel
pada glans penis. Dilakukan pada usia 1 -2 tahun. Penis diharapkan lurus, tapi meatus masih
pada tempat yang abnormal. Penutupan luka operasi menggunakan preputium bagian dorsal dan
kulit

penis

b. Tahap kedua dilakukan uretroplasti, 6 bulan pasca operasi, saat parut sudah lunak. Dibuat
insisi paralel pada tiap sisi uretra (saluran kemih) sampai ke glans, lalu dibuat pipa dari kulit
dibagian tengah. Setelah uretra terbentuk, luka ditutup dengan flap dari kulit preputium dibagian
sisi yang ditarik ke bawah dan dipertemukan pada garis tengah. Dikerjakan 6 bulan setelah tahap
pertama

dengan

harapan

bekas

luka

operasi

pertama

telah

matang.

2. Teknik Horton dan Devine, dilakukan 1 tahap, dilakukan pada anak lebih besar dengan penis
yang sudah cukup besar dan dengan kelainan hipospadi jenis distal (yang letaknya lebih ke ujung
penis). Uretra dibuat dari flap mukosa dan kulit bagian punggung dan ujung penis dengan
pedikel

(kaki)

kemudian

dipindah

ke

bawah.

Mengingat pentingnya preputium untuk bahan dasar perbaikan hipospadia, maka sebaiknya
tindakan penyunatan ditunda dan dilakukan berbarengan dengan operasi hipospadi.
PRINSIP

TERAPI

DAN

MANAGEMEN

PERAWATAN

1.

Koreksi

bedah.

2.

Persiapan

prabedah

3.
Anak

Penatalaksanaan
harus

pasca
dalam

bedah
tirah

baring

Baik luka penis dan tempat luka donor harus dijaga tetap bersih dan kering
Perawatan
Pemeriksaan

kateter
urin

untuk

memeriksa

kandungan

bakteri

Masukan cairan yang adekuat untuk mempertahankan aliran ginjal dan mengencerkan toksin
Pengangkatan jahitan kulit setelah 5-7 hari
I.

EPIDEMIOLOGI
Hipospadia terjadi pada setiap 350 kelahiran bayi laki-laki hidup. Makin proksimal letak meatus,
makin berat kelainan nya dan makin jarang frekuensinya. Klasifikasi dari hipospadiyang sering

dipakai adalah glandular, distal penile, penile, penoskrotal, scrotal, dan perineal. Yang distal
frekuensinya sampai 90% sedang yang penile, skotal, dan perineal hanya 10%.
Di Amerika Serikat angka kejadian sekitar 3-8 diantara 1000 kelahiran bayi laki-laki dan
angkanya meningkat 2 kali lipat dari tahun 1970 hingga tahun 1993. Sedangkan sejak tahun
1998-2004 jumlah pasien yang telah di tangani Profesor Chaula sebanyak 350 orang. Di
Indonesia juga terjadi peningkatan insidens hipospadia, dari yang ada pada hahun 2006, Rumah
Sakit Umum (RSU) Dr Kariadi Semarang rata-rata menangani enam pasien hipospadia dalam
sebulan atau lebih banyak dibanding tahun sebelumnya yang rata-rata empat pasien perbulan.
Hipospadia terjadi 1:300 kelahiran bayi laki-laki hidup di Amerika Serikat. Kelainan ini terbatas
pada uretra anterior. Pemberian estrogen dan progestin selama kehamilan diduga meningkatkan
insidensinya. Jika ada anak yang hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20% anggota
keluarga yang lainnya juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial namun tidak
ditemukan ciri genetik yang spesifik.

J.

KOMPLIKASI
Komplikasi yang biasa terjadi antara lain striktur uretra (terutama pada sambungan meatus uretra
yang

sebenarnya

dengan

uretra

yang

baru

dibuat)

1.
2.

atau

fistula.
Infertility

Resiko

hernia

inguinalis

3. Gangguan psikososial
Komplikasi paska pembedahan:
Komplikasi awal yang terjadi adalah perdarahan, infeksi, jahitan yang terlepas, nekrosis flap, dan
edema.
Komplikasi lanjut
1.

Stenosis sementara karena edema atau hipertropi scar pada tempat anastomosis.

2.

Kebocoran traktus urinaria karena penyembuhan yang lama.

3.

Fistula uretrocutaneus

K.

4.

Striktur uretra

5.

Adanya rambut dalam uretra


PROGNOSIS
Prognosis baik jika mendapatkan penanganan intensif dan cepat.
Usia muda lebih baik prognosisnya dibanding usia lebih tua.

L.

PENCEGAHAN
Umumnya tidak dapat dicegah, karena penyakit ini adalah kelainan kongenital yang belum
diketahui pasti penyebabnya.

M.

ASUHAN

KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
1.

Fisik

a.

Pemeriksaan

genetalia

b. Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada ginjal.
c.

Kaji

d.
e.

fungsi

Adanya

lekukan

Melengkungnya

f.

penis

ke

Terbukanya

perkemihan

pada
bawah

ujung

dengan

uretra

atau

penis
tanpa

pada

ereksi
ventral

g. Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, dysuria, drinage.


2.

Mental

a.
b.

Sikap
Sikap

pasien

c.

pasien

sewaktu

dengan

adanya

diperiksa

rencana

Tingkat

d.

Tingkat

DIAGNOSA

kecemasan

pengetahuan

keluarga

KEPERAWATAN

pembedahan

YANG

dan
SERING

pasieN
MUNCUL

1. Kurangnya pengetahuan orang tua berhubungan dengan diagnosa, prosedur pembedahan dan
perawatan
2.
3.

setelah

Risiko

infeksi
Nyeri

berhubungan
berhubungan

operasi.
dengan
dengan

pemasangan

kateter.
pembedahan

4.

Kecemasan

orang

tua

berhubungan

dengan

prosedur

pembedahan

5. Risiko injuri berhubungan dengan pemasangan kateter atau pengangkatan kateter.


INTERVENSI

DAN

1.

IMPLEMENTASI

Diagnosa

dan

Tujuan : memberikan pengajaran dan penjelasan pada orang tua sebelum operasi tentang
prosedur pembedahan, perawatan setelah operasi, pengukuran tanda-tanda vital, dan pemasangan
kateter.
a.

Kaji

tingkat

pemahaman

orang

tua.

b. Gunakan gambar-gambar atau boneka untuk menjelaskan prosedur, pemasangan kateter


menetap, mempertahankan kateter, dan perawatan kateter, pengosongan kantong urin, keamanan
kateter,

monitor

urine,

warna

dan

kejernihan,

dan

perdarahan.

c. Jelaskan tentang pengobatan yang diberikan, efek samping dan dosis serta waktu pemberian.
d. Ajarkan

untuk

ekspresi

perasaan

dan

perhatian

tentang

kelainan

pada

penis.

e. Ajarkan orang tua untuk berpartisipasi dalam perawatan sebelum dan sesudah operasi (pre dan
post)
2. Diagnosa 2
Tujuan

a.

mencegah

Pemberian

b.

Monitor

c.

Kaji

air

intake
gaya

d.

minum

dan

output

gravitasi

Kaji

f.

urine,

Gunakan

yang

(pemasukan

urine

atau

Monitor

e.

infeksi
adekuat

dan
berat

pengeluaran)
jenis

urine

tanda-tanda
drainage,

teknik

vital

purulen,

aseptik

untuk

bau,

warna

perawatan

kateter

g. Pemberian antibiotik sesuai program


Diagnosa 3
Tujuan

a.
b.
c.
d.

meningkatkan

Pemberian
Perhtikan
Monitor

setiap
adanya

Pengaturan

analgetik
saat

yaitu

kink-kink
posisi

posisi

(tekukan
tidur

rasa

nyaman

sesuai

program

kateter
pada

anak

tetap

kateter)
sesuai

atau
atau

tidak

kemacetan
kebutuhannya

4.

Diagnosa

Tujuan
a.

Pastikan

:
kateter

pada

5
mencegah

anak

terbalut

dengan

benar

injuri
dan

tidak

lepas

b. Gunakan restrain atau pengaman yang tepat pada saat anak tidur atau gelisah.
c. Hindari alat-alat tenun atau yang lainnya yang dapat mengkontaminasi kateter dan penis.
Perencanaan

pemulangan

1. Ajarkan tentang perawatan kateter dan pencegahan infeksi dengan disimulasikan.


2. Jelaskan tanda dan gejala infeksi saluran kemih dan lapor segera ke dokter atau perawat.
3. Jelaskan pemberian obat antibiotik dan tekankan untuk kontrol ulang (follow up).
N.

SATUAN ACARA PENYULUHAN

SATUAN ACARA PENYULUHAN


Tema

: hipospadia

Sub Tema

: Pencegahan hipospadia

Waktu Pertemuan

: 60 menit

Hari, Tanggal

: Kamis, 29 Oktober 2012

Pukul

: 08.00 WIB- 09.00 WIB

Sasaran

: Ny .Toni

Tempat

: Kediaman Ny. Toni

I. Tujuan Instruksional Umum :


Setelah malakukan penyuluhan diharapkan Ny.Toni dapat mengerti tentang hipospadia
II. Tujuan Instruksional Khusus :
a. Ny.Toni mengetahui definisi hipospadia dengan benar
b. Ny.Toni jelas terhadap penyebab hipospadia dengan benar
c. Ny.Toni dapat memahami tanda dan gejala hipospadia dengan benar
d. Ny.Toni dapat mengetahui cara pencegahan hipospadia dengan benar
III. Pokok materi
a. Definisi hipospadia

b. Penyebab hipospadia
c. Tanda dan gejala hipospadia
d. Pencegahan hipospadia
IV. Metode

: Ceramah dan tanya jawab

V. Kegiatan penyuluhan:
Kegiatan
Pendahuluan dan
Apresiasi
Isi

Penutup

Penyuluh
Memperkenalkan diri dan
memberikan kesempatan audience
memberikan pendapatnya
Materi tentang hipospadia :
Definisi hipospadia
Penyebab hipospadia
Tanda dan gejala hipospadia
Pencegahan hipospadia

Audience
Memberikan pendapat
yang diketahuinya

waktu
10 Menit

Mendengarkan

35 Menit

Evaluasi kesimpulan pemberian pesan Mendengarkan dan


dan mengucapkan salam
bertanya
penutup/tahapan terminasi

15

menit

VI.
VII.
-

Media
Evaluasi

: Power Point
: Memberikan pertanyaan kepada Ny.Toni secara lisan.

Bagaimana pencegahan penyakit hipospadia?

Yogyakarta, 06 Oktober 2012


Pembimbing

Diah Pujiastuti S. Kep . Ns

O.

Penyuluh

Windayona Hadi Prasetya

JOURNAL
HypospadiasN. Djakovic, J. Nyarangi-Dix, A. zturk, and M. Hohenfellner
Department of Urology, University of Heidelberg, Medical
Heidelberg, GermanyReceived 30 May 2008; Accepted 9 September 2008

Center,

69120,

Academic Editor: Miroslav L. Djordjevic Copyright 2008 N. Djakovic et al.


This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution License,
which permits unrestricted use, distribution, and reproduction in any medium, provided the
original work is properly cited.
Abstract
The great possibility of variations in the clinical presentation of hypospadia, makes its therapy
challenging. This has led to the development of a number of techniques for hypospadia repair.
This article assesses past and present concepts and operative techniques with the aim of
broadening our understanding of this malformation. Materials and Methods. The article not only
reviews hypospadia in general with its development and clinical presentation as well as historical
and current concepts in hypospadiologie on the basis of available literature, but it is also based
on our own clinical experience in the repair of this malformation. Results and Conclusion. The
fact that there are great variations in the presentation and extent of malformations existent makes
every hypospadia individual and a proposal of a universal comprehensive algorithm for
hypospadia repair difficult. The Snodgrass technique has found wide popularity for the repair of
distal hypospadias. As far as proximal hypospadias are concerned, their repair is more
challenging because it not only involves urethroplasty, but can also, in some cases, fulfil the

dimensions of a complex genital reconstruction. Due to the development of modern operating


materials and an improvement in current surgical techniques, there has been a significant
decrease in the complication rates. Nonetheless, there still is room and, therefore, need for
further improvement in this field.
Conclusion
Hypospadia surgery is challenging. The fact that there are wide variations in the presentation and
extent of malformations as well as tissue characteristics existent makes every hypospadia
individual and aproposal of a universal comprehensive algorithm for hypospadia repair
difficult.The Snodgrass technique has found wide popularity for the repair of distal hypospadias.
As far as proximal hypospadias are concerned, their repair is complex and could in fact be seen
as a form of genital reconstruction. This repair not only involves urethroplasty, but also has its
goal in achieving good cosmetic results with a straight normal-proportioned penis and an
orthotopic meatus in addition to the functional urethra. Even though the complication rates have
decreased, thanks to modern operating materials and an improvement of current surgical
techniques, there still is room and therefore need for further improvement in this field.

DAFTAR

PUSTAKA

Closkey JC & Bulechek. 1996. Nursing Intervention Classification. 2nd ed. Mosby Year Book.
IDAI,
2005,
Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak, Badan Pnerbit IDAI, Jakarta. Johnson M, dkk. 2000.
Nursing Outcome Classification (NOC). Second edition. Mosby. NANDA. 2005-2006. Nursing
Diagnosis: Deffinition & Classification. Philadhelphia. Mansjoer A, dkk. 2000. Kapita Selekta
Kedokteran
Jilid
2.
Media Aesculapius. Jakarta Purnomo, Basuki B, 2003, Dasar-Dasar Urologi, Jakarta , Sagung
Seto atzel, pincus dkk. 1990. Kapita Selekta Pediatri. Jakarta : EGC.
Markum, A.H. 1997. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Balai Penerbit FKUI.
Rosenstein, Beryl J. 1997. Intisari Pediatri Panduan Praktis Pediatri Klinik Edisi II. Jakarta :
Hipokrates.

Diposkan 9th November 2012 oleh Windayona Hadi Prasetya