You are on page 1of 3

Ateis Intelektual

Oleh: Andriansyah*
Kita bukan sedang belajar agama, jadi jangan bawa-bawa agama,
Indonesia bukan negara agama, jadi jangan bawa-bawa agama, kalau bahas
agama di masjid bukan di ruang kelas. Lebih kurang seperti itulah kondisi
agama dalam cara pikir yang sudah malfunction (kegagalan pemakaian) dari
fitrahnya untuk memahami agama yang benar (Islam). Ketiadaan agama sama
dengan ketiadaan Tuhan. tentu di zaman modern kalimat seperti diatas menjadi
trending topics yang sering dibicarakan. Kalimat diatas menjadi alasan tepat
mengesampingkan agama dalam ranah publik. Ibarat sabda suci, kalimat-kalimat
di atas merupakan sebuah pembenaran untuk penyucian agama dengan
memisahkannya dari ranah publik dan meletakkannya di tempat yang sangat
strategis. Hasilnya, Agama bak aib yang enggan disebut di ranah publik kecuali
di mesjid/mushalla. Pertanyaannya, tepatkah cara berpikir seperti itu?
Niat ingin menyucikan agama ke tempat tertinggi, berbanding terbalik
dengan realita yang malah menempatkan agama di pojok ruang dan hanya
digunakan ketika ada maunya. Menjadi ironi ketika hal ini dipraktikkan oleh
muslim yang dikenal sebagai intelektual. Itulah salah satu tanda Muslim
Keblinger. Barisan Muslim keblinger ini tidak akan segan-segan mengosongkan
nilai agama dari ranah publik, apalagi dalam konteks bernegara. Dalihnya pun
sangat mainstream, kita ini bukan negara agama, tapi negara Pancasila. Dalih
seperti itu sudah tidak laku lagi, kecuali untuk muslim yang ikut-ikutan keblinger.
Karena faktanya Indonesia bukan negara yang anti-agama dan Indonesia
melindungi yang menjalankan agamanya dengan konstitusi UUD 1945 Pasal 29
ayat 1 dan 2.
Peminggiran agama dengan alasan menempatkan agama di tempat
khusus dan suci ini akhirnya menciptakan situasi dan kondisi menjadi tidak
beragama dalam kondisi dan situasi tertentu. Pola pikir ateis ini yang entah
secara sadar maupun secara tidak sadar telah memicu masalah keimanan serius
bagi muslim. Prof Wan Mohd Nor Wan Daud mengatakan Ateisme merupakan
salah satu gejala negatif besar dalam Islam (Lihat: Prof Wan Mohd Nor Wan
Daud. Krisis Otoritas, Ateisme, dan Ekstremisme. Jurnal Islamia Republika edisi
21 Juli 2016, hal. 18). Namun, perlu dipahami yang menjadi masalah serius
dalam hal ini adalah mendadak ateis ini dilakukan tanpa sadar dan terus
disebarkan dengan keyakinan bahwa dirinya merasa benar. Sebagaimana
penyakit yang dirasakan manusia, wajar karena disadari dan bisa di obati,
namun menjadi tidak wajar apabila sedang sakit tapi tidak sadar bahwa dirinya
sedang sakit. Bagi muslim, implementasi dari keimanan akan tercermin seiring
dengan perbuatan maupun lisan. Maka salah satu kecelakaan iman yang sangat
besar jika seorang muslim menjadi plin plan dalam beriman, terkadang beriman
(saat di masjid) terkadang menjadi ateis (ketika diluar masjid).
Memahami Ateis
Menarik disimak Ateisme menurut defini dari Julian Baggini dalam
Atheism: A Very Short Introduction, Oxford, Oxford University Press, 2003, adalah
keyakinan bahwa tidak ada Tuhan atau dewa-dewa, (Lihat: Irfan Habibie. Sains
Ateis Dalam Kurikulum. Jurnal Islamia Republika, edisi 21 Maret 2013, hal.23) hal
ini dalam kondisi sadar sangat tidak mungkin terjadi pada seorang muslim yang

mengakui Allah SWT sebagai Tuhan. Ketika menolak Tuhan otomatis menolak
kebenaran dan kebaikan, begitu argumen awalnya. Namun, menurut Baggini
menolak keyakinan akan adanya wujud Tuhan atau dewa-dewa tidak menjadi
penghalang mempercayai moralitas. Menurut Baggini tidak ada yang
menghalangi ateis mempercayai moralitas, makna hidup dan kemanusiaan..
Secara gamblang pola pikir seperti ini juga merupakan dasar pemisahan
terhadap Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, lantaran berkeyakinan bermoral
tidak harus berTuhan. Walhasil, nilai hidup dan moralitas
terpisah dari
keimanan kepada Tuhan. Disinilah dimulainya fase-fase ateis-nisasi intelektual
pada pemikiran. Agama dipraktekkan hanya di tempat tertentu dan waktu
tertentu. Tidak semua ilmu berasal dari Tuhan. Akhirnya terbentuklah pola pikir
Ateis Intelektual, berilmu tapi tidak beriman.
Akarnya? tentu saja tidak akan jauh dari pengaruh filsafat MaterialismeSekularisme, filsufnya Francis Bacon (1620), John Locke (1704), Ludwig Feurbach
(1872), Karl Marx (1883), dll. Ludwig Feurbach dalam The Essence of Christianity,
1989, menyatakan prinsip filsafat yang paling tinggi adalah manusia. (Lihat:
Adnin Armas, M.A dan Dr. Dinar Dewi Kania. Sekularisasi Ilmu, dalam Dr. Adian
Husaini, et. al. Filsafat Ilmu, GIP, 2013). Pemikiran yang menjadikan materi
sebagai standar tolak ukur kebenaran ini akhirnya menjadi dasar menolak Tuhan
dalam memandang dunia lantaran wujudnya tidak terbukti dengan materi.
Menjadikan manusia sebagai sumber tertinggi pun akan berakhir dalam
kebingungan, karena tidak adanya sebuah ketetapan pasti tentang segala hal.
Intelektual Ateis yang terpengaruh pemikiran menyesatkan ini biasanya
disebabkan karena lemahnya dasar keilmuan Islam dan inferiority complex (tidak
percaya diri). Merasa peradaban Barat yang kacau spiritualnya lebih unggul,
silau terhadap kelimuan Barat dan dibutakan untuk melihat potensi Islam yang
pernah berjaya mensejahterakan sepertiga bagian dunia. Ibnu Khaldun dalam
Mukaddimah mengatakan pihak yang kalah akan mengikuti pihak yang
menang.
Yakin Dengan Islam
Dengan berpegang teguh pada prinsip rumput tetangga lebih hijau dari
rumput sendiri akan membuahkan pemikiran yang lebih mencintai keilmuan
asing, bahkan bisa sampai mencaci keilmuan sendiri. Gempuran pemikiran
menyesatkan ini juga terus tumbuh subur dengan iklim globalisasi. Melalui
berbagai media, penanaman benih pemikiran berbahaya terus berlangsung.
Secara sistematis, upaya untuk ateis-nisasi ini dapat ditemukan dalam bukubuku pelajaran sekolah. Dalam pelajaran Biologi, teori Evolusi Charles Robert
Darwin (1882) yang menjelaskan asal usul manusia dari Kera dan teori alam
semesta tercipta dengan sendirinya, tidak ada kaitannya dengan Tuhan pun
masih diajarkan. Penanaman nilai-nilai materialisme-sekularisme, dan ateisme
dalam ranah intelektual pendidikan ini lah yang menjadi pokok permasalahan
hingga terbentuknya pola pikir ateis intelektual.
Jika keilmuan yang salah ini terus dipelihara, maka bukan tidak mungkin
intelektual yang meminggirkan agama ini menjadi hal biasa. Dengan alasan
jangan bawa-bawa agama akhirnya tidak beragama. Perlu di ingat masalah
keimanan bukan seperti sandal yang bisa di lepas pasang, jika sudah
bersyahadat maka harus konsisten mempertahankan, jangan melepasnya

dimanapun dan kapanpun. Bahaya jika bisa menjadi ateis lantaran pemikiran
keliru yang dipelihara. Karena itulah sebagai muslim, dalam berpikir dan berilmu
harus melekat didalamnya keimanan kepada Allah SWT. Islam merupakan agama
yang kaffah/menyeluruh (QS. Al Baqarah: 208) yang mengatur seluruh sendi
kehidupan mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Sangat berbahaya jika muslim
malu menunjukkan keislamannya di ranah publik. Tentunya kita tidak mau
menjadi ateis. Maka, mulai sekarang sudah bisa diperbaiki pola pikir pemisahan
agama dalam beberapa lini kehidupan. Kalau memang yakin Islam yang paling
benar, yakinlah dengan ber-Islam secara benar dan menyeluruh hidup juga akan
menjadi benar. Waullahu alambisshawab.

*Penulis adalah mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP UNSYIAH, Banda Aceh.


Email: andrianrebel@gmail.com