You are on page 1of 4

Asuhan keperawatan hepatoma

salah satu kanker yang paling sering terjadi di dunia.


Hepatocellualer carcinoma (HCC) adalah keganasan utma pada heptosit,
biasanya menyebabkan kematian dalam 6 -20 bulan. Hepatocellular carsinoma
sering muncul dalam penetapan sirosis, muncul 20 30 tahun setelah awal
kerusakan ke hati. Namun, 25 % pasien tidak memiliki riwayat atau faktor
resiko untuk mengembanngan sirosis. Kompliksasi dari hepatocelluler
carcinoma adalah kegagalan hepatik, kematian terjadi dari kaheksia, pariceal
pendarahan, atau pada kondisi yang jarang, tumor pecah dan pendarahan ke
dalam peritoneum.
Hepatocelluler carsinoma terjadi lebih sering pada pria daripada wanita. Pada
amerika serikat, 74% dari kasus hepatocelluler carsinoma terjadi pada pria.
Faktor usia saat pengakan diagnosis sangat berpariasi menurut distribusi
geografis di amerika serikat dan eropa. Rata-rata diagnosis usia 65 tahun dan
jarang di diagnosis pada orang yang berusia lebih muda dari 40 tahun.
Sementara itu, di afrika dan asia, diagnosis secara substansial lebih muda,
terjadi di dekade ke empaat dan ke lima kehidupan. Diagnosis pada usia yamg
lebih muda berhubungan dengan riwayat penyakit hhepatitis B dan C pada
masa yang lalu.
ETIOLOGI DAN EPIDEMIOLOGI
Penyebab pasti dari peatoma masih belum di ketahui, tetapi terdapat data
penting prediosposis penyebeb utama dari hepatoma, yaitu sirosis hepatis.
Kondisi sirosis hepatis biasanya berhubun dengan Hepatitis B , Hepatitis C,
Henakromatis, aflatokin, dan penyebab lain.
........................................................................................................
..............................................
Terminal,pasien, dan keluaraga membutuhkan dukungan perawat atau ahli
spritual sesuai dengan keyakinan pasien.
Pemeriksaan fisik, surfei umum bisa terlihat sakit ringan, gelisah sampai
sangat lemah. TTV biasa normal atau bisa di dapatkan perubahan, seperti
takikardi dan peningkatan pernafasan.
Pada pemeriksaan fisik fokus didapatkan:
Inspeks

: ikterus merupakan tanda khas, terutama pada sklera.pasien


terlihat kelelahan
(fague),asites,adema perifer, dan di
dapatkan
perdarahan
dari
muntah
(hematemasis), dan melena.

Auskultasi : biasanya bisisng usus normal.


Perkusi

: nyeri ketuk pada kuadran kanan atas.

Palpasi
: hepatosplenomegali. Nyeri palpasi pada kuadran kanan atas
mungkin ada.

Pengkajia Pemeriksaan Diagnostik


Pemeriksaan Darah
1.

2.
3.

4.
5.

Pemeriksaan biblirubin total, aspartat aminotransferase ( AST ) ,


faspatase alkali, albumin, dan waktu prothrombin menunjukan hasil
yang konsiten dengan sirosis.
Alpha-fetopretoin ( AFP ) meningkat pada 75% kasus.
Radiografi.
a. Foto toraks, di lakukan untuk mendeteksi adanya metastasi paru.
b. CT Scan. Di lakukan untuk tersangka hapetocelluler carcinoma
karena meningkatnya AFP. Setiap tes memiliki 70 80%
kesempatan
untuk
menemukan lesi
soliter.
CT scan
konveresional meningkatkan jumlah nodul tumor yang
terdeteksi. Sayangnya, dalam nodular sirosis hati, kepekaan CT
scan untuk mendeteksi Hepatocelluler carsinoma rendah. CT
scan memiliki manfaat tambahan dalam mendeteksi penyakit
akstrahepatik, terutama limfadenopati.
c. MRI dapat mendeteksi lesi lebih kecil dan juga dapat di gunakan
untuk menentukan darah vena portal. Sensivitas MRI secara
keseluruhan di anggap mirip dengan triphasis CT scan. Namun,
pada pasien pada penyakit sirosis nodular hati, MRI telah terbukti
memiliki sensivitas dan spesifitas yang lebih baik. Biaya tinggi
dan membaatasi akses ke MRI membuatnya secara luas
terbatas.
USG. Untuk mencari tanda-tanda sirosis
dalam atau pada
permukaan hati. Sensivitas USG untuk mendeteksi nodul rendah.
Biopsi. Biopsi sering di perlukan untuk memebuat diagnosis. Secara
umum, core biopsi lebih di sukai dari biopsi jarum halus. Biopsi
umumnya di peroleh melalui perkutaneus di bawah bimbingan
ultrasonograpic atau CT. Sebelum mendapatkan biopsi, paracentesis
volume besar mungkin berguna pada pasien dengan asites masif;
selain itu, tarnfusi trombosit mingkin di perlukan pada pasien
dengan sirosis dengan trombositreponia berat ( <50.000 ). Resiko
pendarahan tidak berkolerasi dengan peningkatan dalam waktu
prothrombin .

Pengkajian Penatalaksanaan Medis

Penatalaksanaan medis tergantung padanukuran, jumlah, dan lokasi


tumor; ada atau tidaknya sirosis; operasi berbasis resiko pada tingkat
komordibitas sirosis dan penyakit; performa keseluruhan sttatus
kepatenan vena prontal; dan adanya penyakit metastasis.
Sebelum mengadakan terapi definitif, yang terbaik adalah untuk
mengobati komplikasi dari sirosis dengan diuretik, paratencesis untuk
asites , loktulosa untuk ensefalopi, orsudiol untuk pruritus, terapi
akseloris untuk pendarahan verises, dan antibiotik untuk peritonitis
bakteri spontan.
Pengobatan dengan kemoterapi sistemik dapat di gunakan untuk
penyakit lanjut. Untuk pasien dengan karsinoma hepatoselular lanjut
uag bikan kandidat untuk reseksi bedah, transpaltasi hati,atau tumor
lokal ablasi, kemoterapi sistemik teap merupakan terapi utama. Hanya
sekitar 5% dari Hepatocelluler carcinoma pasien cocok untuk
transpaltasi; pasien ini mungkin memiliki 75% untuk ketahanan hidup
selama 5 tahun dengan tingkat kekambuhan tumor 15% pada 5 tahun.
Pengebotan dan kemoterapi sistemik dapat di gunakan untuk penyakit
lanjut. Untuk pasien dengan karsinoma hepatoseluler lanjut yang buakn
kandidat untuk reseksi bedah, transpaltasi hati, atau tumor lokal ablasi,
kemoteraoi sistemikm tetap merupakan terapi untama. Sayangnya,
hepatocelluler carcinoma termasuk penyakit yang relatif tahan
kemoterapi sehingga metode ini merupakan pengobatan yang tidak
memuaskan. Resistensi terhadap kemoterapi di sebabkan oleh ekspresi
universal dari gen protein multi-obat pada permikaan sel-sel ganas,
yang menyebabkan efluks ( effluks ) aktif dari agen komoterapi.
Kemoterapi biasanya tidak dapat toleransi dengan baik dan tampaknya
kurang mujarab pada pasien dengan karsinoma hepatoseluler dengan
disfungsi hepatik. Paien dengan usia muda dengan sirosis kompensasi
baik karena hepatitis kronis B dan C infeksi memiliki hasil yang lebih
baik dengan kemoterapi daripada pasien yang lebih tua dengan alkohol
sirosis da penyakit komordibitas lain. Agen yang paling aktif adalah
doxarubicin, cisplatin, dan fluorourasil.
Kemoterapi kemoimunoterapi menggunakan kombinasi kemoterapi dan
immunomodulatory agen, seperti interferon-slpha, untuk mencoba
mencapai tingkat respons tumor yang lebih baik. Papiaf adalah
kombinasi cisplati, intrferon-alfa, doxorubicin, dan infudsional 5fluorourasil yang berhubungan dengan tingkat respons 26%, lebih tinggi
daripada tingkat respon dengan agen kemoterapi tunggal. Kandidat
terbaik untuk terapi ini adalah paien muda tanpa sirosis hati dan normal
tingkat bilirubin.

Chemeoembolization adalah pengiriman konsentrasi tinggi dari agen


kemoterapi langgsung ke tumor karsinoma hepatoseluler melalui arteri
hepatika, yang menyediakan tumor dengan sebagian besar suplai
darah. Agen embolizing seperti selulosa , mikrosfer, lipoidal, yang di
gunakan untuk menyampaikan kemoterapi intra-arteri ( mitomycin,
doxorubicin, cisplatin ) untuk tumor melalui aarteri hepatika. Morbiditas
dari prosedur ini sangat regantung pada sejauh mana progeresivitas
sirosis. Secara umum, pasien dengan trombosit vena prontal,
ensepalopati, atau obstruksi biller bukanlah merupakan calon
chemoeembolization.

Terapi Bedah

1. Hepatektomi parsial
Di amerika serikat, reaksi mungkin 5% dari pasien. Secara umum,
hepatocelluler carcinoma memiliki lesi soliter pada sebagian lobus hati
sehingga dengan intervensi hepatektomi parsial pada sebagian lobus hati
memberikan hasil terbaik untuk aptimalisasi fungsi hati yang tersisa.
2. Tranpaltasi
Banyak pasien tidak di calonkan pada hepatektomi parsial karena luasnya
penyakit hati. Beberapa pasien ini baik kandidat untuk nranspaltasi hati
karena
memiliki
potensi
untuk
menghilngkan
kanker,
serta
menyembuhkan penyakit hati yanhg mendarasinya.
3. Ablasi Tumor Lokal
Suntikan etanol Intratumoral untuk asam asetat, terapi panas ( melalui
radioterapi atau laser ablation ) , atau dingin ( cryoablation dengan
nitrogen cair ) dapat di gunakan untu kengontrol tumor secara kecil lebih
kecil dari 4 5 cm. Teknik teknik ini sering di lakukan secara parkutaneus
sebagai prosedur rawat jalan.