You are on page 1of 13

PAPER

MATA KULIAH
KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM
KONSERVASI BURUNG RANGKONG
BADAK (Buceros rhinoceros)

NAM :
A
NIM
:

ACHMAD FAQIH SHAAB


16/401934/PBI/01383

PROGRAM PASCASARJANA FAKULTAS


BIOLOGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017
BAB I
PENDAHULUAN

Burung Rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali


karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar dengan struktur
tambahan di bagian atasnya yang disebut balung (casque). Di Indonesia,
ukuran tubuh rangkong berkisar antar 40 cm sampai 150 cm, dengan
rangkong terberat mencapai 3,6 kg. Warna bulu didominasi oleh warna
hitam untuk bagian badan dan putih pada bagian ekor, sedangkan warna
pada bagian leher dan kepala cukup bervariasi. Paruh dan mahkota akan
berubah warna menjadi oranye dan merah seiring dengan bertambahnya usia
dan juga akibat dari seringnya rangkong menggesekkan paruh ke kelenjar
penghasil warna oranye merah yang terletak di bawah ekornya (Anggraini et
al. 2000; Kumara 2006; MacKinnon et al. 2010).
Rangkong termasuk dalam family Bucerotidae. Mayoritas rangkong
banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (01000
mdpl). Di daerah pegunungan (> 1000 mdpl) rangkong sudah mulai jarang
ditemukan. Jenis rangkong yang besar seperti Buceros rhinoceros mendiami
pohon-pohon yang sangat besar, karena itu rangkong tetap ada di dan
mendiami pohon di hutan sampai pohon tersebut mati/tumbang. Rangkong
Papan Buceros bicornis mendiami tajuk pohon bagian atas dari hutan yang
didominasi famili Dipterocarpaceae dan hutan yang didominasi oleh
tumbuhan yang rutin menggugurkan daun, yang memiliki ketinggian antara
600-2000 meter (Kumara 2006; Myers 2009). Partasamitra (2011)
menyatakan bahwa diseluruh dunia rangkong mempunyai sebaran mulai
dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan
Kepulauan Solomon. Sebagian besar hidup di hutan hujan tropis dan hanya
beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika.
Dengan semakin meningkatnya pembukaan hutan menjadi perkebunan
dan pertanian, mengakibatkan semakin berkurangnya habitat bagi satwa
terutama burung rangkong. Selain tekanan terhadap habitatnya, rangkong
juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk
diperdagangkan sebagai binatang peliharaan, dan sebagai hiasan rumah.
Bahkan balung dari Rangkong Gading Rhinoplax vigil telah di ekspor ke
China sebagai simbol keberuntungan (IUCN Red List, 2007). Menurut

Daftar Merah IUCN, rangkong badak termasuk spesies yang hampir


mengalami kelangkaan. CITES juga mengklasifikasikan satwa burung ini ke
dalam kategori Appendix II (spesies yang dilarang untuk perdagangan
komersial internasional karena hampir mengalami kelangkaan, kecuali jika
perdagangan tersebut tunduk pada peraturan ketat, sehingga pemanfaatan
yang tidak sesuai dapat dihindari). Di Indonesia, seluruh jenis rangkong
dilindungi Undang-Undang melalui Peraturan Perlindungan Binatang Liar
No 226 tahun 1931, Undang-Undang No 5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, SK Menteri Kehutanan No
301/Kpts-II/1991 tentang Inventarisasi Satwa Dilindungi, Peraturan
Pemerintah No 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa
(BirdLife International. 2014).
Menurut Pratasasmita (2011), rangkong yang hidup di hutan hujan
tropis umumnya bersifat frugivorous (pemakan buah). Buah beringin
(Ficus) yang berbuah sepanjang tahun di huta tropis Indonesia adalah pakan
penting bagi Rangkong. Jenis buah-buahan lain yang dikonsumsi oleh
Rangkong adalah buah pala hutan (Myristicaceae) yang kaya akan protein
dan lipid, dan kenari-kenarian (Burseraceae). Selain pakan berupa buahbuahan, Rangkong juga memakan invertebrata dan vertebrata kecil. Selain
untuk memenuhi kebutuhannya pada saat perkembangbiakan, invertebrata
dan vertebrata tersebut dikonsumsi sebagai pakan pengganti di saat
ketersediaan buah mulai menipis. Didukung oleh postur tubuh yang
memungkinkan, Rangkong memiliki kemampuan terbang yang cukup jauh.
Dengan kapasitas perut yang cukup besar, burung Rangkong dapat
memencarkan biji hampir ke seluruh bagian hutan tropis sehingga dapat
menjaga dinamika hutan (Muchtar 2007).

BAB II
PEMBAHASAN

.1 Deskripsi Burung rangkong


Dalam Bahasa Inggris, burung rangkong dinamakan hornbill, karena
paruhnya yang berbentuk seperti tanduk sapi. Memiliki paruh kuning
berpangkal merah dengan tanduk berwarna merahkuning yang melengkung
ke atas. Bulu didominasi warna hitam dan putih, sementara kaki berwarna
abu-abu kehijauan, dan ekor berwarna putih mencolok dengan garis hitam
lebar melintang. Iris berwarna merah untuk rangkong badak jantan, dan
putih sampai biru untuk rangkong badak betina (Factsheet WWF. 2011).
Burung rangkong diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Subphylum

: Vertebrata

Class

: Aves

Ordo

: Coraciiformes

Super ordo

: Neognathae

Family

: Bucerotidae

Genus

: Buceros

Spesies

: Buceros rhinoceros

(MacKinnon et al. 2010)

Gambar 1.

Rangkong Badak
(Buceros rhinoceros)
Sumber: BirdLife International. 2014.

Terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar luas di seluruh


dunia. Di Indonesia terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus yaitu:
Annorhinus,

Penelopides,

Berenicornis,

Rhyticeros,

Anthracoceros,

Buceros, dan Rhinoplax yang tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9


jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya
(1 jenis) (Sukmantoro et al. 2007).
Tabel 1. Daftar burung rangkong di Indonesia beserta daerah penyebaran
dan statusnya.
No

Nama
Ilmiah

Nama Inggris

Nama
Indonesia

Rhinoplax
vigil
(Buceros
vigil)
Anthracoce
ros
albirostris
Rhyticeros
cassidix
Rhyticeros
undulatus
(Aceros
undulatus)
Rhyticeros
corrugatus
Rhyticeros
everitti
Rhyticeros
plicatus
Annorhinus
galeritus
Penelopide
s exhalarus
Berenicorni
s cornatus
Anthracoce
ros
malayanus
Buceros
rhinoceros
Buceros
bicornis

Hermeted
Hornbill

Enggang Raja

Asian Piet
Hornbill

2
3
4

5
6
7
8
9
10
11
12
13

Daerah
Penyebara
n
S, K

Status
(CITES
)
I

Kengkareng
Perut Putih

J, S

II

Knobbed
Hornbill
Wreathred
Hornbill

Julang
Sulawesi
Julang Jambul
Coklat

Sul

II

J, K, S

II

Wrinkled
Hornbill
Sumba Hornbill

Julang Jambul
Hitam
Julang Sumba

S, K

II
II

Blythis Hornbill

Julang Irian

Bush-created
Hornbill
Sulawesi
Hornbill
White-croowned
Hornbill
Black Hornbill

Kengkareng
Ekor Abu
Julang Kecil
Sulawesi
Enggang
Jambul Putih
Kengkareng
Hitam

NT
(Sumba)
Maluku,
Irian
S, K
Sul

II

S, K

II

S, K

II

Rhinoceros
Hornbill
Great Hornbill

Rangkong
Badak
Rangkong
Papan

J, S, K

II

II
II

Sumber (Sukmantoro et al. 2007).


Keterangan:
I

= Spesises mendekati kepunahan, pemanfaatan spesises perlu


perlakuan intensif yang ketat

II

= Spesies langka, pemanfaatan spesies perlu pengawasan intensif

= Sumatera

= Kalimantan

= Jawa

NT

= Nusa Tenggara

Sul

= Sulawesi

.4 Ekologi dan Habitat Rangkong


Tipe burung terdiri dari tipe burung hutan (forest birds), burung hutan
kayu terbuka (open woodland birds), burung lahan budidaya (cultivated
birds), burung pekarangan rumah (rural area birds), burung pemangsa
(raptor birds) dan burung air atau perairan (water birds). Menurut
MacKinnon et al. (2010), burung rangkong dapat dijumpai di hutan dataran
rendah dan perbukitan. Hutan dataran rendah pada tajuk utamanya di
dominasi oleh jenis-jenis tumbuhan dari suku Dipterocarpaceae, tetapi
jenis-jenis Leguminoceae seperti Kempas kompassia dan Merbau intsia,
membentuk tajuk yang menjulang tinggi dan lebih menonjol. Batangnya
yang besar dan tidak bercabang didukung oleh akar banir, seluruhnya dihiasi
oleh tumbuhan yang merambat, epifit dan pohon ara yang melimpah. Pada
hutan perbukitan Dipterocarpaceae mendominasi punggung bukit. Sisi
bukit yang terjal ditutupi oleh hutan campuran kaya dengan relung burung.
Tanah longsor yang sering terjadi membentuk susunan komunitas tumbuhan
dalam berbagai tahap suksesi yang berbeda. Hutan ini merupakan hutan
yang paling kaya dengan beranekaragam burung termasuk rangkong
(Anggraini et al. 2000; Kumara 2006; Partasasmita 2011).

Gambar 2. Ekosistem burung rangkong


Sumber: Partasasmita R 2011.

Ketersediaan pohon yang berfungsi sebagai tempat sarang merupakan salah


satu hal yang sangat penting bagi burung rangkong untuk membesarkan
anak dan mendukung eksistensinya agar tidak mengalami kepunahan. Salah
satu syarat pohon yang dijadikan habitat sarang burung rangkong adalah
ukuran diameter batang yang sesuai dengan ukuran tubuh burung rangkong
(Kumara 2006).

Gambar 2. Pohon sebagai sarang burung rangkong


Sumber: Partasasmita R 2011.

Burung

rangkong

merupakan

frugivorous

disamping

juga

mengkonsumsi beberapa jenis binatang seperti kumbang sehingga ada yang


mengelompokkannya sebagai binatang omnivora. Salah satu sumber
makanan yang disukai burung rangkong yaitu tumbuhan Ficus, dengan
melimpahnya tumbuhan Ficus maka burung rangkong akan berpindah ke
habitat tersebut secara berkelompok. Selama ini yang menjadi makanan
pokok bagi burung rangkong adalah buah ara dari pohon Ficus yang

merupakan pohon kunci bagi kelestarian burung rangkong (Anggraini et al.


2000; Kumara 2006).
.3 Gangguan dan Ancaman terhadap Burung Rangkong Badak
Burung adalah salah satu jenis satwa yang sangat terpengaruh
keberadaannya akibat alih guna lahan hutan, terutama pada lahan-lahan
monokultur seperti perkebunan kelapa sawit dan karet. Hilangnya pohon
hutan dan tumbuhan semak, menyebabkan hilangnya tempat bersarang,
berlindung dan mencari makan berbagai jenis burung. Sementara, burung
memiliki peran penting dalam ekosistem antara lain sebagai penyerbuk,
pemencar biji, pengendali hama. Burung juga seringkali digemari oleh
sebagian orang dari suara dan keindahan bulunya. Sampai saat ini Sumatera
masih memiliki kawasan berhutan, meskipun sebagian besar sudah
terfragmentasi dan mengalami tekanan yang cukup tinggi (Anggraini et al.
2000; Kumara 2006).
Kerusakan hutan yang terjadi pada kawasan hutan di Indonesia
khususnya Sepanjang Pulau Sumatera dan Borneo disebabkan oleh berbagai
faktor yang sebagian besar dikarenakan oleh aktivitas manusia dan sebagian
lainnya dikarenakan bencana alam, kebakaran hutan yang kini telah menjadi
fenomena tahunan, telah memakan banyak korban, pertumbuhan penduduk
yang tidak seimbang dengan persediaan lahan akan mendorong terjadinya
penjarahan pada kawasan hutan. Meningkatnya pembukaan hutan menjadi
perkebunan dan pertanian, mengakibatkan semakin berkurangnya habitat
bagi satwa terutama brung rangkong. Penebangan hutan secara tidak lestari
telah banyak menghancurkan kawasan hutan di Pulau Sumatera dan Borneo
(MacKinnon et al. 2010; Kumara 2006; Sulandari et al. 2013). Selain
tekanan terhadap habitatnya, rangkong juga mendapatkan ancaman lainnya
seperti perburuan liar untuk diperdagangkan, dan binatang peliharaan.
Sebenarnya, rangkong badak mampu bertahan hidup di dalam kawasan
hutan yang kayunya dipanen dengan sistem pengelolaan yang baik dan
bertanggung jawab, serta aktivitas perburuan dikontrol secara ketat,
sehingga pada akhirnya satwa ini tidak mengalami kelangkaan yang
berujung pada kepunahan (Poonswad 1993; Sukmantoro et al. 2007).

Gangguan terhadap burung terbagi atas gangguan langsung pada


populasi burung dan gangguan tidak langsung atau tekanan pada habitat
burung. Gangguan langsung terhadap burung yaitu dengan membunuh
burung untuk bahan makanan, bulu, minyak, olahraga berburu. Sedangkan
gangguan tidak langsung adalah perubahan atau modifikasi lingkungan
alami oleh manusia menjadi lahan pertanian, kebun, perkotaan, jalan raya,
dan industry (Myers 2009; Kumara 2006; Poonswad 1993).
.4 Upaya Dalam Konservasi Rangkong Badak
Menurut UU No.7 tahun 1999 tentang pengawetan tumbuhan dan
satwa, seluruh jenis rangkong (Bucerotidae) merupakan satwa yang
dilindungi. Menurut Daftar Merah IUCN, rangkong termasuk spesies yang
hampir mengalami kelangkaan. CITES juga mengklasifikasikan satwa
burung ini ke dalam kategori Appendix II (spesies yang dilarang untuk
perdagangan komersial internasional karena hampir mengalami kelangkaan,
kecuali jika perdagangan tersebut tunduk pada peraturan ketat, sehingga
pemanfaatan yang tidak sesuai dapat dihindari) (BirdLife International
2014; IUCN 2007).
Saat ini di Indonesia dukungan penuh mengenai konservasi burung
Rangkong Badak ini telah dilakukan, konservasi dan upaya pelestarian
burung Rangkong Badak dilakukan sebagai dukungan untuk melestarikan
dan memelihara habitat Rangkong Badak tersebut. Beberapa upaya yang
dilakukan untuk pelestarian burung Rangkong Badak yaitu WWF bersama
dengan pemerintah Indonesia, organisasi konservasi lainnya, dan komunitas
lokal, mendukung program konservasi rangkong badak, baik di Pulau
Sumatera maupun di Borneo. Dukungan diberikan untuk pengelolaan
kawasan-kawasan konservasi seperti taman nasional dan hutan lindung,
sebagai sebuah upaya untuk melestarikan dan memelihara habitat rangkong
badak. WWF juga bekerja sama dengan sektor-sektor bisnis untuk
memastikan bahwa perusahan-perusahaan yang beroperasi di kawasan
konservasi dan atau kawasan yang mengandung keanekaragaman hayati
bernilai tinggi, menerapkan praktik pengelolaan yang baik dan ramah
lingkungan. WWF juga memberikan informasi kepada masyarakat lokal

mengenai pentingnya konservasi rangkong dan upaya mencegah perburuan


untuk tujuan komersil.
Konservasi yang dilakukan di Eco Green Park diantaranya adalah
dengan penangkaran dan rehabilitasi burung Rangkong Badak. Hasil
observasi di Eco Green Park terdapat beberapa burung Rangkong Badak dan
berdasarkan pengamatan morfologi burung Rangkong Badak mempunyai
morfologi yang berbeda seperti bentuk paruh, jenis kelamin, warna iris,
ukuran tubuh burung Rangkong Badak, sehingga perlu dilakukan
pendekatan secara molekular untuk memastikan apakah burung Rangkong
Badak di Eco Green satu sub-spesies atau tidak. Selain itu pendekatan
secara molekuler dapat juga digunakan untuk konservasi secara genetik.
Sampai saat ini Eco Green Park belum melakukan konservasi secara genetik
pada burung Rangkong Badak, strategi konservasi ini merupakan suatu
langkah yang digunakan untuk menyelamatkan sumberdaya genetik suatu
spesies dari kepunahan, sehingga perlu dilakukannya pendekatan secara
molekular dengan teknik DNA barcode (IUCN 2007; Poonswad 1993;
Sulandari et al. 2013).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Terdapat 45 jenis burung rangkong yang tersebar luas di seluruh
dunia. Di Indonesia terdapat 13 jenis yang terdiri dari 7 genus yaitu:

10

Annorhinus,

Penelopides,

Berenicornis,

Rhyticeros,

Anthracoceros,

Buceros, dan Rhinoplax yang tersebar luas di hutan-hutan Sumatera (9


jenis), Jawa (3 jenis), Kalimantan (8 jenis), Sulawesi (2 jenis) dan Irian Jaya
(1 jenis). Ketersediaan pohon yang berfungsi sebagai tempat sarang
merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi burung rangkong, Salah
satu syarat pohon yang dijadikan habitat sarang burung rangkong adalah
ukuran diameter batang yang sesuai dengan ukuran tubuh burung rangkong.
Selama ini yang menjadi makanan pokok bagi burung rangkong adalah buah
ara dari pohon Ficus yang merupakan pohon kunci bagi kelestarian burung
rangkong. Meningkatnya pembukaan hutan menjadi perkebunan dan
pertanian, mengakibatkan semakin berkurangnya habitat bagi satwa
terutama burung rangkong. Selain tekanan terhadap habitatnya, rangkong
juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk
diperdagangkan, dan binatang peliharaan. Rangkong badak mampu bertahan
hidup di dalam kawasan hutan yang kayunya dipanen dengan sistem
pengelolaan yang baik dan bertanggung jawab, serta aktivitas perburuan
dikontrol secara ketat, sehingga pada akhirnya satwa ini tidak mengalami
kelangkaan yang berujung pada kepunahan. Menurut Daftar Merah IUCN,
rangkong termasuk spesies yang hampir mengalami kelangkaan. CITES
juga mengklasifikasikan satwa burung ini ke dalam kategori Appendix II
(spesies yang dilarang untuk perdagangan komersial internasional karena
hampir mengalami kelangkaan, kecuali jika perdagangan tersebut tunduk
pada peraturan ketat, sehingga pemanfaatan yang tidak sesuai dapat
dihindari). Beberapa upaya yang dilakukan untuk pelestarian burung
Rangkong Badak yaitu WWF bersama dengan pemerintah Indonesia,
organisasi konservasi lainnya, dan komunitas lokal. Dukungan diberikan
untuk pengelolaan kawasan-kawasan konservasi seperti taman nasional dan
hutan lindung, sebagai sebuah upaya untuk melestarikan dan memelihara
habitat rangkong badak. Konservasi yang dilakukan di Eco Green Park
diantaranya adalah dengan penangkaran dan rehabilitasi burung Rangkong
Badak.
3.2 Saran

11

Saran yang dapat diberikan pada kelestarian kahidupan semua jenis


burung rangkong ialah, saling menjaga kelestarian hutan alam Indonesia
agar habitat-habitat jenis satwa yang dilindungi tidak terancam. Kerjasama
yang dilakukan antara pemerintah dengan lembaga konservasi dan
masyarakat lokal dapat ditingkatkan agar suatu kawasan dapat dikendalikan
ekosistemnya demi menjaga kelestarian organisme didalamnya.

DAFTAR PUSTAKA
Anggraini, K., M. Kinnaird & T. OBrien. 2000. The Effect of Fruit
Availability and Habitat Disturbance on An Assemblage of
Sumatran Hornbill. Bird Conservation International 10:189-202.
Hadiprakarsa YY, dan Maya DP. 2009. Sebaran Rangkong. Zamrud
Khatulistiwa Bertabur Rangkong, 1(III): 4-7.
BirdLife International. 2014 Species factsheet: Buceros
rhinoceros. The IUCN Red List of Threatened Species. Version
2014.2. International Union for Conservation of Nature.

International Union Conservation of Natural and Nature Reserve (IUCN).


2007. Red List Data Book of Endangered Species. USA.
Kumara, I. 2006. Karakteristik Spasial Habitat Burung Rangkong Di Taman

12

Nasional Danau Sentarum. Tesis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian


Bogor. Bogor.
MacKinnon, J., K. Phillipps and van Balen.2010. Burung-Burung di
Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Bogor: Puslitbang LIPI. Bogor.
Myers, S. 2009. Birds of Borneo. Princeton University Press. New Jersey.
Partasasmita R. 2011. Ekologi Burung Pemakan Buah dan Peranannya
Sebagai Penyebar Biji. Diakses tanggal 18 November 2016. http://www.
scribd.com/ doc/ 8757129/Ekologi-Burung-Pemakan- Buah.
Poonswad, P., 1993. Identification of Asian hornbills. In:
Poonswad, P. & A. C. Kemp (eds.), Manual to the Conservation
of Asian Hornbills. Hornbill Project Thailand, Bangkok. Pp. 26
75.

Sukmantoro, W., M. Irham., W, Novarino, F. Hasudungan,.N, Kemp dan M,


Muchtar. 2007. Daftar Burung Indonesia no. 2. Indonesia
Ornithologist Union. Bogor.
Sulandari, S., Sutrisno, H., Irham, M., Arida, E.A., Haryoko, T.,
Fitriana, Y.S., Dharmayanthi, A.B. & Natalia, I. 2013. DNA
Barcode Fauna Indonesia. Jakarta: Kencana.

13