You are on page 1of 17

1.

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
A.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN KEJANG DEMAM


Tujuan Pembelajaran :
Setelah mengikuti pembelajaran mahasiswa dapat :
Menjelaskan definisi kejang demam
Menyebutkan penyebab kejang demam pada anak
Menyebutkan tanda dan gejala kejang demam
Menjelaskan patofisiologi kejang demam
Menyebutkan komplikasi kejang demam
Menyebutkan pemeriksaan penunjang pada klien dengan kejang demam
Menjelaskan penatalaksanaan klien dengan kejang demam
Menjelaskan asuhan keperawatan pada anak dengan kejang demam
KONSEP DASAR TEORITIS
PENGERTIAN
Apa yang dimaksud dengan Kejang Demam?, Kejang demam merupakan kejang yang
terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf
pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk
beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif
untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari
biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir
kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.
Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rektal
lebih dari 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (diluar rongga
kepala). Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures (1980), kejang demam
adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan
dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi
intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi
yang berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan
dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.
(Kejang Demam. Info Kesehatan, MER-C. Maret 2004)
Kejang demam, dalam istilah medis dikenal sebagai febrile konvulsi, adalah bangkitan
kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rectal > 38oC), yang disebabkan
oleh suatu proses ekstrakranium (di luar susunan saraf pusat). Penyakit ini paling sering
terjadi pada anak, terutama pada golongan umur 6 bulan sampai 4 tahun.
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan
listrik. Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran
sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang.
Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi
dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis
(peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan
lainnya. Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi
reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan
terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf.
Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak
menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (> 15 menit) sangat
berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.

(Artikel Medis. ThreeInOne. Hal. 5)


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (rectal
> 38oC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Anak yang pernah
mengalami kejang tanpa demam kemudian kejang demam kembali tidak termasuk
dalam kejang demam. Kejang demam biasanya terjadi pada anak umur 6bln - 5th. Bila
anak berumur kurang dari 6bln atau lebih dari 5th mengalami kejang didahului demam
perlu dipikirkan kemungkinan lain, misalnya infeksi susunan saraf pusat, epilepsy yang
kebetulan terjadi bersamaan dengan demam.Beberapa faktor penting pada kejang
demam adalah demam, umur, dan genetic.
Kejang demam adalah terbebasnya sekelompok neuron secara tiba-tiba yang
mengakibatkan suatu kerusakan kesadaran, gerak, sensasi atau memori yang bersifat
sementara (Hudak and Gallo,1996).
Kejang demam adalah serangan pada anak yang terjadi dari kumpulan gejala dengan
demam (Walley and Wongs edisi III,1996).
Kejang demam adalah bangkitan kejang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal
di atas 38 c) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium. Kejang demam sering
juga disebut kejang demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di
bawah 5 tahun. Kejang ini disebabkan oleh adanya suatu awitan hypertermia yang
timbul mendadak pada infeksi bakteri atau virus. (Sylvia A. Price, Latraine M. Wikson,
1995
Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, otitis media, pneumonia,
gastroenteritis, dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang
paling tinggi, kadang-kadang demam yang tidak begitu tinggi sudah dapat
menyebabkan kejang. Bila kejang telah terjadi pada demam yang tidak tinggi, anak
mempunyai risiko tinggi untuk berulangnya kejang. Kejang demam dibedakan menjadi
dua yaitu kejang demam sederhana dan kejang demam kompleks. Kejang demam
sederhana berlangsung singkat, kurang dari 10 menit, tonik klonik, serangan akan
berhenti sendiri, tanpa gerakan fokal atau berulang dalam waktu 24 jam. Kejang
demam kompleks cirinya kejang berlangsung > 15 menit; kejang fokal atau parsial satu
sisi, atau kejang umum didahului kejang partial; berulang atau lebih dari 1 kali dalam
24 jam.
(Natalina Soesilawati, dr. Sp.A. RS. Mitra Keluarga)
Kejang disebabkan oleh pelepasan hantaran listrik yang abnormal di otak. Gejala-gejala
yang timbul dapat bermacam-macam tergantung pada bagian otak yang terpengaruh,
tetapi umumnya kejang berkaitan dengan suatu sensasi aneh, kekakuan otot yang
tidak terkendali, dan hilangnya kesadaran.
Kejang dapat terjadi akibat adanya kelainan medis. Rendahnya kadar gula darah,
infeksi, cedera kepala, keracunan, atau overdosis obat-obatan dapat menyebabkan
kejang. Selain itu, kejang juga dapat disebabkan oleh tumor otak atau kelainan saraf
lainnya. Kurangnya oksigen ke otak juga dapat menyebabkan kejang. Pada beberapa
kasus, penyebab kejang mungkin tidak diketahui. Kejang yang terjadi berulang
mungkin merupakan suatu indikasi akan adanya suatu kondisi kronik yang dikenal
sebagai epilepsi.
Kejang demam merupakan kejang yang cukup sering dijumpai pada anak-anak yang
berusia dibawah 5 tahun. Kejang demam dapat timbul bila seorang anak mengalami

demam tinggi, biasanya suhu tubuh meningkat dengan cepat mencapai 39 derajat
Celsius atau lebih. Walaupun hal ini sangat mengkhawatirkan bagi orang tua, kejang
seperti ini umumnya terjadi singkat dan jarang menimbulkan masalah, kecuali bila
demam yang terjadi berkaitan dengan infeksi serius seperti meningitis. Anak yang
mengalami kejang demam tidak mempunyai kecenderungan untuk mengalami epilepsi.
(Kejang Demam. Tips-tips, Pediatrik.Com. 24 April 2004)
Febrile convulsions are seizures (sometimes known as fits) that occur in a child with a
high fever of over 39oC (102.2oF). These most typically occur during the early stages
of a viral infection such as a respiratory infection, while the temperature is rising
rapidly.
Febrile convulsions can be frightening but theyre rarely serious.
(Dr Trisha Macnair. Febrile convulsions. Health, BBC)
In children between 6 months and 5 years, fever can trigger seizures, called febrile
convulsions. These usually happen during the first few hours of a febrile illness. The
child may look peculiar for a few moments, then stiffen out, twitch and roll his eyes.
He will be unresponsive for a short time, and his skin may appear a little darker than
usual during the episode. The entire convulsion usually will last no more than three or
four minutes and may be over in a few seconds, but it can seem like a lifetime to a
frightened parent. It is reassuring to know that febrile convulsions almost always are
harmless, although he should be examined by your pediatrician as soon as possible,
particularly if this is the first time it has occurred or if it is more severe or prolonged
than others he has had. You need to be sure that the seizure is due to fever and not to a
more serious condition such as meningitis.
(Febrile convulsions. Medical Library, American Academy of Pediatrics.)
A febrile convulsion is a common medical condition when a convulsion or fit is brought
on by an elevated temperature. Babies and young children often have illnesses that are
accompanied by fever - this is a normal part of growing up. Most children with fever
suffer only minor discomfort. However, in about 3-4% of infants and toddlers fever
brings on a convulsion. These kinds of convulsions are not harmful to the child and do
not cause brain damage.
(Febrile convulsions. Kids health info for parents, Royal Childrens Hospital.
Melbourne Australia
Umum ditemui pada anak-anak dalam rentang usia 3 bulan hingga 6 tahun. Lebih
detail; 2-4% pada usia dibawah 5 tahun, 4% pada 6 bulan pertama kelahiran, 90%
diantara 6 bulan hingga 3 tahun, dan 6% pada usia diatas 3 tahun. (Lihat: Febrile
convulsion. PRODIGY Guidance, U.K. National Health Service. April 2002.)
Kejang demam terjadi dalam waktu singkat, umumnya pada rentang waktu dibawah 15
menit. Lebih detail; 78% dialami kurang dari 6 menit, 50% terjadi dibawah 3 menit.
sekitar 5% terjadi diatas 30 menit. Diatas rentang waktu 15 menit, serangan tersebut
perlu diwaspadai, karena tergolong serangan kompleks yang bisa terjadi lebih dari 1
kali dalam kurun waktu 24 jam.
Kejang terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan (demam) yang tinggi dan cepat
hingga mencapai suhu luar tubuh 38oC atau lebih.
Wujud kejang dapat berupa (bola) mata berbalik ke atas disertai kekakuan atau
kelemahan. Atau, terjadi gerakan sentakan berulang tanpa didahului kekakuan pada

anggota gerak. (Lihat: Nanny Selamihardja. Tetaplah Tenang Jika Anak Kejang
Demam. Terapi, Intisari. Mei 2001.)
Untuk kasus kejang demam kompleks, biasanya penderita memiliki kelainan neurologis
dan atau memiliki riwayat kejang bahkan epilepsi dalam keluarganya
Penderita biasanya akan tidur pulas atau nyenyak setelah mengalami kejang demam.
Secepatnya menurunkan panas badan adalah hal utama menghindari kejang.
Longgarkan pakaian yang ketat atau yang berbahan dasar dengan sifat memerangkap
panas.
Gunakan kompres air hangat dan perbanyak minum air putih untuk merangsang
turunnya panas badan penderita, hindari penggunaan air dingin dan kompres alkohol.
Obat penurun panas dapat pula digunakan bila dibutuhkan. (Lihat: Anak Demam Perlu
Kompres?. Keluarga, Bali Post dan Bagaimana Menolong Anak Kejang?. Bias Wanita,
Pusat Data dan Informasi PERSI. 16 Feb 2004.).
Hindari penggunaan kopi sebagai anti kejang, gunakan obat pencegah kejang yang
diberikan lewat dubur jika penderita tidak dapat mengkonsumsi obat.
Bila terjadi kejang, jangan menahan gerakan-gerakan anak seperti memegangi tangan
atau kakinya. Segera miringkan anak apabila kejang telah berhenti.
Keadaan ini tidak identik dengan epilepsi, dimana serangan kejang terjadi berulangulang tanpa demam. Ada sekitar 15% kasus epilepsi yang didahului dengan gejala
kejang demam. Namun, kurang dari 5% anak kejang demam berkembang menjadi
epilepsi.
Tetap monitor suhu tubuh penderita selama 16 hingga 24 jam sejak awal serangan.
Karena kemungkinan serangan ulang masih mengintainya.
Yang paling penting, tetap tenang dan tidak panik saat menghadapi gejala dan serangan
kejang demam yang terjadi pada penderita.
Kejang demam yang banyak dialami anak balita yang memiliki sifat bawaan mudah
mendapatkan gangguan kesehatan tersebut. Tidak seperti epilepsi, pencetus kejang
demam pada umumnya demam tinggi. Bila kejang demam terjadi, tenanglah. Namun
bila serangan itu berlanjut lebih dari lima menit, segeralah mencari bantuan dokter.
Orangtua disarankan tetap waspada terhadap kemungkinan serangan kejang demam.
Kalau serangan datang, orang tua hendaknya tetap tenang. Menulis dan mngatakan
untuk tetap tetang memang tidak semudah melakukannya saat kita berhadapan dengan
penderita, apalagi bila penderita adalah buah hati tercinta. Namun hal tersebut teramat
sangat penting, untuk menghindari hal-hal bodoh yang kelak justru akan berakhir
dengan kesal tak berkesudahan. Sebab emosi atau kebingungan tidak akan
menyelesaikan masalah dengan cepat!
B. KLASIFIKASI KEJANG DEMAM
Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :
- Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana) : kejang menyeluruh yang
berlangsung
<
15
menit
dan
tidak
berulang
dalam
24
jam.
- Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks) :
kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung > 15 menit, dan
atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).

Lalu apa yang membedakan kejang demam ini dengan epilepsi? Walaupun gejalanya
sama yaitu kejang dan berulang, namun pada anak yang menderita epilepsi, episode
kejang tidak disertai dengan demam.
Kejang yang merupakan pergerakan abnormal atau perubahan tonus badan dan tungkai
dapat diklasifikasikan menjadi 3 bagian yaitu : kejang, klonik, kejang tonik dan kejang
mioklonik.
a. Kejang Tonik
Kejang ini biasanya terdapat pada bayi baru lahir dengan berat badan rendah dengan
masa kehamilan kurang dari 34 minggu dan bayi dengan komplikasi prenatal berat.
Bentuk klinis kejang ini yaitu berupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan
tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau
ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi. Bentuk kejang
tonik yang menyerupai deserebrasi harus di bedakan dengan sikap epistotonus yang
disebabkan oleh rangsang meningkat karena infeksi selaput otak atau kernikterus
b. Kejang Klonik
Kejang Klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan
multifokal yang berpindah-pindah. Bentuk klinis kejang klonik fokal berlangsung 1 3
detik, terlokalisasi dengan baik, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak
diikuti oleh fase tonik. Bentuk kejang ini dapat disebabkan oleh kontusio cerebri akibat
trauma fokal pada bayi besar dan cukup bulan atau oleh ensepalopati metabolik.
c. Kejang Mioklonik
Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat
anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat. Gerakan tersebut menyerupai reflek
moro. Kejang ini merupakan pertanda kerusakan susunan saraf pusat yang luas dan
hebat. Gambaran EEG pada kejang mioklonik pada bayi tidak spesifik.
C.

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA KEJANG DEMAM


BERULANG
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara
lain:
Usia
<
15
bulan
saat
kejang
demam
pertama
Riwayat
kejang
demam
dalam
keluarga
- Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal
Riwayat
demam
yang
sering
- Kejang pertama adalah complex febrile seizure
Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka
besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam. Risiko berulangnya kejang
demam adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2
faktor risiko, dan dapat mencapai 100% dengan = 3 faktor risiko.

Bagaimana jika anak anda demam yang disebabkan oleh imunisasi?Walaupun


imunisasi dapat menimbulkan demam, namun imunisasi jarang diikuti kejang demam.
Suatu penelitian yang dilakukan memperlihatkan risiko kejang demam pada beberapa
jenis imunisasi sebagai berikut :
DTP : 6-9 per 100.000 imunisasi. Risiko ini tinggi pada hari imunisasi, dan menurun
setelahnya.
MMR : 25-34 per 100.000 imunisasi. Risiko meningkat pada hari 8-14 setelah
imunisasi.
Kejang demam pasca imunisasi tidak memiliki kecenderungan berulang yang lebih
besar daripada kejang demam pada umumnya. Dan kejang demam pasca imunisasi
kemungkinan besar tidak akan berulang pada imunisasi berikutnya. Jadi kejang demam
bukan merupakan kontra indikasi imunisasi.
Sebenarnya, apa sih yang terjadi dalam tubuh saat anak mengalami kejang demam?
Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme
basal 10% - 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan
keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan
listrik.
Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di
dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang. Kejang tersebut
kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang
disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan
pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.
Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi
apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan
sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya
tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung
lama (> 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari
otak.
Melihat paparan kejadian dalam tubuh diatas, saya tarik benang merah gejala yang bisa
anda lihat saat anak mengalami Kejang Demam antara lain : anak mengalami demam
(terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang terjadi secara tiba-tiba), kejang
tonik-klonik atau grand mal, pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit
(hampir selalu terjadi pada anak-anak yang mengalami kejang demam).
Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung
selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan
berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau
rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar
kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.
D. ETIOLOGI
Kejang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi patologis, termasuk tumor otak, trauma,
bekuan darah pada otak, meningitis, ensefalitis, gangguan elektrolit, dan gejala putus
alkohol dan obat gangguan metabolik, uremia, overhidrasi, toksik subcutan dan anoksia
serebral. Sebagian kejang merupakan idiopati (tidak diketahui etiologinya).
1) Intrakranial
Asfiksia : Ensefolopati hipoksik iskemik
Trauma (perdarahan) : perdarahan subaraknoid, subdural, atau intra ventrikular
Infeksi : Bakteri, virus, parasit

Kelainan bawaan : disgenesis korteks serebri, sindrom zelluarge, Sindrom Smith


Lemli Opitz.

2) Ekstra kranial
Gangguan metabolik : Hipoglikemia, hipokalsemia, hipomognesemia, gangguan
elektrolit (Na dan K)
Toksik : Intoksikasi anestesi lokal, sindrom putus obat.
Kelainan yang diturunkan : gangguan metabolisme asam amino, ketergantungan
dankekurangan produksi kernikterus.
3) Idiopatik
Kejang neonatus fanciliel benigna, kejang hari ke-5 (the fifth day fits)
E. Patofisiologi
Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel / organ otak diperlukan energi yang
didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting adalah
glucose,sifat proses itu adalah oxidasi dengan perantara pungsi paru-paru dan
diteruskan keotak melalui system kardiovaskuler.
Berdasarkan hal diatas bahwa energi otak adalah glukosa yang melalui proses oxidasi,
dan dipecah menjadi karbon dioksidasi dan air. Sel dikelilingi oleh membran sel. Yang
terdiri dari permukaan dalam yaitu limford dan permukaan luar yaitu tonik. Dalam
keadaan normal membran sel neuron dapat dilalui oleh ion NA + dan elektrolit lainnya,
kecuali ion clorida.
Akibatnya konsentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi NA+ rendah.
Sedangkan didalam sel neuron terdapat keadaan sebaliknya,karena itu perbedaan jenis
dan konsentrasi ion didalam dan diluar sel. Maka terdapat perbedaan membran yang
disebut potensial nmembran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial
membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim NA, K, ATP yang terdapat pada
permukaan sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah dengan perubahan konsentrasi ion
diruang extra selular, rangsangan yang datangnya mendadak misalnya mekanis,
kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya. Perubahan dari patofisiologisnya membran
sendiri karena penyakit/keturunan. Pada seorang anak sirkulasi otak mencapai 65 %

dari seluruh tubuh dibanding dengan orang dewasa 15 %. Dan karena itu pada anak
tubuh dapat mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dalam singkat terjadi
dipusi di ion K+ maupun ion NA+ melalui membran tersebut dengan akibat terjadinya
lepasnya muatan listrik.
Lepasnya muatan listrik ini sedemikian besarnya sehingga dapat meluas keseluruh sel
maupun membran sel sekitarnya dengan bantuan bahan yang disebut neurotransmitter
sehingga mengakibatkan terjadinya kejang. Kejang yang yang berlangsung singkat
pada umumnya tidak berbahaya dan tidak meninggalkan gejala sisa.
Tetapi kejang yang berlangsung lama lebih 15 menit biasanya disertai apnea, NA
meningkat, kebutuhan O2 dan energi untuk kontraksi otot skeletal yang akhirnya terjadi
hipoxia dan menimbulkan terjadinya asidosis.
F. MANIFESTASI KLINIK
Terjadinya bangkitan kejang pada bayi dan anak kebanyakan bersamaan dengan
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi di luar
susunan saraf pusat : misalnya tonsilitis, otitis media akut, bronkhitis, serangan kejang
biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam berlangsung singkat dengan
sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik.
Kejang berhenti sendiri, menghadapi pasien dengan kejang demam, mungkin timbul
pertanyaan sifat kejang/gejala yang manakah yang mengakibatkan anak menderita
epilepsy.
untuk itu livingston membuat kriteria dan membagi kejang demam menjadi 2 golongan yaitu :
1. Kejang demam sederhana (simple fibrile convulsion)
2. Epilepsi yang di provokasi oleh demam epilepsi trigered off fever
Disub bagian anak FKUI, RSCM Jakarta, Kriteria Livingstone tersebut setelah
dimanifestasikan di pakai sebagai pedoman untuk membuat diagnosis kejang demam
sederhana, yaitu :
1. Umur anak ketika kejang antara 6 bulan & 4 tahun
2. Kejang berlangsung hanya sebentar saja, tak lebih dari 15 menit.
3. Kejang bersifat umum,Frekuensi kejang bangkitan dalam 1th tidak > 4 kali
4. Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam
5. Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal

6. Pemeriksaan EEG yang dibuat sedikitnya seminggu sesudah suhu normal tidak
menunjukkan kelainan.
G. PENATALAKSANAAN ANAK DENGAN KEJANG DEMAM
Saat anak mengalami Kejang Demam, hal hal penting yang harus kita lakukan antara
lain :
- Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.
- Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau
tajam
- Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat
mengalir
keluar
dari
mulut
- Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya
sendiri.
- Hubungi dokter anak anda
Akhirnya timbul pertanyaan bagaimana cara mencegah agar anak tidak mengalami
Kejang Demam, seperti yang saya tulis diatas kejang bisa terjadi jika suhu tubuh naik
atau turun dengan cepat. Pada sebagian besar kasus, kejang terjadi tanpa terduga atau
tidak dapat dicegah. Dulu digunakan obat anti kejang sebagai tindakan pencegahan
pada anak-anak yang sering mengalami kejang demam, tetapi hal ini sekarang sudah
jarang dilakukan.
Pada anak-anak yang cenderung mengalami kejang demam, pada saat mereka
menderita demam bisa diberikan diazepam (baik yang melalui mulut maupun melalui
rektal).
Dengan penanggulangan yang tepat dan cepat, perjalanan penyakitnya baik dan tidak
menimbulkan kematian.
Pada umumnya kejang pada BBLR merupakan kegawatan, karena kejang merupakan
tanda adanya penyakit mengenai susunan saraf pusat, yang memerlukan tindakan
segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut.
Penatalaksanaan Umum terdiri dari :

a. Mengawasi bayi dengan teliti dan hati-hati


b. Memonitor pernafasan dan denyut jantung
c. Usahakan suhu tetap stabil
d. Perlu dipasang infus untuk pemberian glukosa dan obat lain
e. Pemeriksaan EEG, terutama pada pemberian pridoksin intravena
Bila etiologi telah diketahui pengobatan terhadap penyakit primer segera dilakukan.
Bila terdapat hipogikemia, beri larutan glukosa 20 % dengan dosis 2 4 ml/kg BB
secara intravena dan perlahan kemudian dilanjutkan dengan larutan glukosa 10 %
sebanyak 60 80 ml/kg secara intravena. Pemberian Ca glukosa hendaknya disertai

dengan monitoring jantung karena dapat menyebabkan bradikardi. Kemudian


dilanjutkan dengan peroral sesuai kebutuhan. Bila secara intravena tidak mungkin,
berikan larutan Ca glukosa 10 % sebanyak 10 ml per oral setiap sebelum minum susu.
Bila kejang tidak hilang, harus pikirkan pemberian magnesium dalam bentuk larutan
50% Mg SO4 dengan dosis 0,2 ml/kg BB (IM) atau larutan 2-3 % mg SO4 (IV)
sebanyak 2 6 ml. Hati-hati terjadi hipermagnesemia sebab gejala hipotonia umum
menyerupai floppy infant dapat muncul.
Pengobatan dengan antikonvulsan dapat dimulai bila gangguan metabolik seperti
hipoglikemia atau hipokalsemia tidak dijumpai. Obat konvulsan pilihan utama untuk
bayi baru lahir adalah Fenobarbital (Efek mengatasi kejang, mengurangi metabolisme
sel yang rusak dan memperbaiki sirkulasi otak sehingga melindungi sel yang rusak
karena asfiksia dan anoxia). Fenobarbital dengan dosis awal 20 mg . kg BB IV berikan
dalam 2 dosis selama 20 menit.
Diazepam jarang digunakan untuk memberantas kejang pada BBL dengan alasan
a. Efek diazepam hanya sebentar dan tidak dapat mencegah kejang berikutnya
b. Pemberian bersama-sama dengan fenobarbital akan mempengaruhi pusat pernafasan
c. Zat pelarut diazepam mengandung natrium benzoat yang dapat menghalangi
peningkatan bilirubin dalam darah.
6. Pemeriksaan fisik dan laboratorium
a. Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik lengkap meliputi pemeriksaan pediatrik dan neurologik,
pemeriksaan ini dilakukan secara sistematis dan berurutan seperti berikut :
1) hakan lihat sendiri manifestasi kejang yang terjadi, misal : pada kejang multifokal yang
berpindah-pindah atau kejang tonik, yang biasanya menunjukkan adanya kelainan
struktur otak.
2) Kesadaran tiba-tiba menurun sampai koma dan berlanjut dengan hipoventilasi, henti
nafas, kejang tonik, posisi deserebrasi, reaksi pupil terhadap cahaya negatif, dan
terdapatnya kuadriparesis flasid mencurigakan terjadinya perdarahan intraventikular.
3) Pada kepala apakah terdapat fraktur, depresi atau mulase kepala berlebihan yang
disebabkan oleh trauma. Ubun ubun besar yang tegang dan membenjol menunjukkan
adanya peninggian tekanan intrakranial yang dapat disebabkan oleh pendarahan

sebarakhnoid atau subdural. Pada bayi yang lahir dengan kesadaran menurun, perlu
dicari luka atau bekas tusukan janin dikepala atau fontanel enterior yang disebabkan
karena kesalahan penyuntikan obat anestesi pada ibu.
4) Terdapatnya stigma berupa jarak mata yang lebar atau kelainan kraniofasial yang
mungkin disertai gangguan perkembangan kortex serebri.
5) Pemeriksaan fundus kopi dapat menunjukkan kelainan perdarahan retina atau subhialoid
yang merupakan gejala potogonomik untuk hematoma subdural. Ditemukannya
korioretnitis dapat terjadi pada toxoplasmosis, infeksi sitomegalovirus dan rubella.
Tanda stasis vaskuler dengan pelebaran vena yang berkelok kelok di retina terlihat
pada sindom hiperviskositas.
6) Transluminasi kepala yang positif dapat disebabkan oleh penimbunan cairan subdural
atau kelainan bawaan seperti parensefali atau hidrosefalus.
7) Pemeriksaan umum penting dilakukan misalnya mencari adanya sianosis dan bising
jantung, yang dapat membantu diagnosis iskemia otak.
b. Pemeriksaan laboratorium

Perlu diadakan pemeriksaan laboratorium segera, berupa pemeriksaan gula


dengan cara dextrosfrx dan fungsi lumbal. Hal ini berguna untuk menentukan sikap
terhadap pengobatan hipoglikemia dan meningitis bakterilisasi.
Selain itu pemeriksaan laboratorium lainnya yaitu
1) Pemeriksaan darah rutin ; Hb, Ht dan Trombosit. Pemeriksaan darah rutin secara berkala
penting untuk memantau pendarahan intraventikuler.
2) Pemeriksaan gula darah, kalsium, magnesium, kalium, urea, nitrogen, amonia dan
analisis gas darah.
3) Fungsi lumbal, untuk menentukan perdarahan, peradangan, pemeriksaan kimia. Bila
cairan serebro spinal berdarah, sebagian cairan harus diputar, dan bila cairan supranatan
berwarna kuning menandakan adanya xantrokromia. Untuk mengatasi terjadinya
trauma pada fungsi lumbal dapat di kerjakan hitung butir darah merah pada ketiga
tabung yang diisi cairan serebro spinal
4) Pemeriksaan EKG dapat mendekteksi adanya hipokalsemia

5) Pemeriksaan EEG penting untuk menegakkan diagnosa kejang. EEG juga diperlukan
untuk menentukan pragnosis pada bayi cukup bulan. Bayi yang menunjukkan EEG
latar belakang abnormal dan terdapat gelombang tajam multifokal atau dengan brust
supresion atau bentuk isoelektrik. Mempunyai prognosis yang tidak baik dan hanya 12
% diantaranya mempunyai / menunjukkan perkembangan normal. Pemeriksaan EEG
dapat juga digunakan untuk menentukan lamanya pengobatan. EEG pada bayi prematur
dengan kejang tidak dapat meramalkan prognosis.
6) Bila terdapat indikasi, pemeriksaan lab, dilanjutkan untuk mendapatkan diagnosis yang
pasti yaitu mencakup :
a) Periksaan urin untuk asam amino dan asam organic
b) Biakan darah dan pemeriksaan liter untuk toxoplasmosis rubella, citomegalovirus
dan virus herpes
c) Foto rontgen kepala bila ukuran lingkar kepala lebih kecil atau lebih besar dari
aturan baku
d) USG kepala untuk mendeteksi adanya perdarahan subepedmal, pervertikular, dan
vertikular
e) Penataan kepala untuk mengetahui adanya infark, perdarahan intrakranial, klasifikasi
dan kelainan bawaan otak
e) Top coba subdural, dilakukan sesudah fungsi lumbal bila transluminasi positif
dengan ubun ubun besar tegang, membenjol dan kepala membesar.
7. Tumbuh kembang pada anak usia 1 3 tahu

1. Fisik
f. Ubun-ubun anterior tertutup.
g. Physiologis dapat mengontrol spinkter
2. Motorik kasar
a. Berlari dengan tidak mantap
b. Berjalan diatas tangga dengan satu tangan
c. Menarik dan mendorong mainan
d. Melompat ditempat dengan kedua kaki

e. Dapat duduk sendiri ditempat duduk


f. Melempar bola diatas tangan tanpa jatuh
3. Motorik halus
a. Dapat membangun menara 3 dari 4 bangunan
b. Melepaskan dan meraih dengan baik
c. Membuka halaman buku 2 atau 3 dalam satu waktu
d. Menggambar dengan membuat tiruan
4. Vokal atau suara
a. Mengatakan 10 kata atau lebih
b. Menyebutkan beberapa obyek seperti sepatu atau bola dan 2 atau 3 bagian tubuh
5. Sosialisasi atau kognitif
a. Meniru
b. Menggunakan sendok dengan baik
c. Menggunakan sarung tangan
d. Watak pemarah mungkin lebih jelas
e. Mulai sadar dengan barang miliknya
8. Dampak hospitalisasi

Pengalaman cemas pada perpisahan, protes secara fisik dan menangis, perasaan hilang
kontrol menunjukkan temperamental, menunjukkan regresi, protes secara verbal, takut
terhadap luka dan nyeri, dan dapat menggigit serta dapat mendepak saat berinteraksi.
Permasalahan yang ditemukan yaitu sebagai berikut :
a) Rasa takut
1) Memandang penyakit dan hospitalisasi
2) Takut terhadap lingkungan dan orang yang tidak dikenal
3) Pemahaman yang tidak sempurna tentang penyakit
4) Pemikiran yang sederhana : hidup adalah mesin yang menakutkan

5) Demonstrasi : menangis, merengek, mengangkat lengan, menghisap jempol, menyentuh


tubuh yang sakit berulang-ulang.
b. Ansietas
1) Cemas tentang kejadian yang tidakdikenal
2) Protes (menangis dan mudah marah, (merengek)
3) Putus harapan : komunikasi buruk, kehilangan ketrampilan yang baru tidak berminat
4) Menyendiri terhadap lingkungan rumah sakit
5) Tidak berdaya
6) Merasa gagap karena kehilangan ketrampilan
7) Mimpi buruk dan takut kegelapan, orang asing, orang berseragam dan yang memberi
pengobatan atau perawatan
8) Regresi dan Ansietas tergantung saat makan menghisap jempol
9) Protes dan Ansietas karena restrain
c. Gangguan citra diri
1) Sedih dengan perubahan citra diri
2) Takut terhadap prosedur invasive (nyeri)
3) Mungkin berpikir : bagian dalam tubuh akan keluar kalau selang dicabut

B. ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian
Yang paling penting peran perawat selama pasien kejang adalah observasi kejangnya
dan gambarkan kejadiannya. Setiap episode kejang mempunyai karakteristik yang
berbeda misal adanya halusinasi (aura ), motor efek seperti pergerakan bola mata ,
kontraksi otot lateral harus didokumentasikan termasuk waktu kejang dimulai dan
lamanya kejang.
Riwayat penyakit juga memegang peranan penting untuk mengidentifikasi faktor
pencetus kejang untuk pengobservasian sehingga bisa meminimalkan kerusakan yang
ditimbulkan oleh kejang.

1. Aktivitas / istirahat : keletihan, kelemahan umum, perubahan tonus / kekuatan otot.


Gerakan involunter
2. Sirkulasi : peningkatan nadi, sianosis, tanda vital tidak normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan
3. Integritas ego : stressor eksternal / internal yang berhubungan dengan keadaan dan atau
penanganan, peka rangsangan.
4. Eliminasi : inkontinensia episodik, peningkatan tekanan kandung kemih dan tonus
spinkter
5. Makanan / cairan : sensitivitas terhadap makanan, mual dan muntah yang berhubungan
dengan aktivitas kejang, kerusakan jaringan lunak / gigi
6. Neurosensor : aktivitas kejang berulang, riwayat truma kepala dan infeksi serebra
7. Riwayat jatuh / trauma
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
1. Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan
koordinasi otot.
2. Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neoromuskular
3. Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh
4. Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan
5. Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi

3. INTERVENSI
Diagnosa 1
Resiko tinggi trauma / cidera b/d kelemahan, perubahan kesadaran, kehilangan
koordinasi otot.
Tujuan
Cidera / trauma tidak terjadi
Kriteria hasil
Faktor penyebab diketahui, mempertahankan aturan pengobatan, meningkatkan
keamanan lingkungan

Intervensi
Kaji dengan keluarga berbagai stimulus pencetus kejang. Observasi keadaan umum,
sebelum, selama, dan sesudah kejang. Catat tipe dari aktivitas kejang dan beberapa kali
terjadi. Lakukan penilaian neurology, tanda-tanda vital setelah kejang. Lindungi klien
dari trauma atau kejang.
Berikan kenyamanan bagi klien. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi
anti compulsan
Diagnosa 2
Resiko tinggi terhadap inefektifnya bersihan jalan nafas b/d kerusakan neuromuskular
Tujuan
Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
Kriteria hasil
Jalan napas bersih dari sumbatan, suara napas vesikuler, sekresi mukosa tidak ada, RR
dalam batas normal
Intervensi
Observasi tanda-tanda vital, atur posisi tidur klien fowler atau semi fowler. Lakukan
penghisapan lendir, kolaborasi dengan dokter dalam pemberian therapi
Diagnosa 3
Resiko kejang berulang b/d peningkatan suhu tubuh
Tujuan
Aktivitas kejang tidak berulang
Kriteria hasil
Kejang dapat dikontrol, suhu tubuh kembali normal
Intervensi
Kaji factor pencetus kejang. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien.
Observasi tanda-tanda vital. Lindungi anak dari trauma. Berikan kompres dingin pda
daerah dahi dan ketiak.
Diagnosa 4
Kerusakan mobilitas fisik b/d kerusakan persepsi, penurunan kekuatan

Tujuan
Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
Kriteria hasil
Mobilisasi fisik klien aktif , kejang tidak ada, kebutuhan klien teratasi
Intervensi
Kaji tingkat mobilisasi klien. Kaji tingkat kerusakan mobilsasi klien. Bantu klien dalam
pemenuhan kebutuhan. Latih klien dalam mobilisasi sesuai kemampuan klien. Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan klien.
Diagnosa 5
Kurang pengetahuan keluarga b/d kurangnya informasi
Tujuan
Pengetahuan keluarga meningkat
Kriteria hasil
Keluarga mengerti dengan proses penyakit kejang demam, keluarga klien tidak
bertanya lagi tentang penyakit, perawatan dan kondisi klien.

Intervensi
Kaji tingkat pendidikan keluarga klien. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien.
Jelaskan pada keluarga klien tentang penyakit kejang demam melalui penkes. Beri
kesempatan pada keluarga untuk menanyakan hal yang belum dimengerti. Libatkan
keluarga dalam setiap tindakan pada klien.

6. EVALUASI
1. Cidera / trauma tidak terjadi
2. Inefektifnya bersihan jalan napas tidak terjadi
3. Aktivitas kejang tidak berulang
4. Kerusakan mobilisasi fisik teratasi
5. Pengetahuan keluarga meningkat