You are on page 1of 15

BAB I

PENDAHULUAN
Respirasi aerob adalah Suatu bentuk respirasi seluler yang membutuhkan
oksigen untuk menghasilkan energi. Respirasi aerob merupakan proses
menghasilkan energi oleh oksidasi penuh nutrisi melalui siklus Krebs di mana
oksigen adalah akseptor elektron terakhir. Dengan respirasi aerob, glikolisis
berlanjut dengan siklus Krebs dan fosforilasi oksidatif. Reaksi-reaksi pascaglikolitik terjadi di mitokondria dalam sel eukariotik, dan pada sitoplasma dalam
sel prokariotik. Metabolisme aerob lebih efisien daripada metabolisme anaerob
dalam hal keuntungan bersih ATP.
Proses melepaskan energi bekerja paling efisien jika oksigen digunakan.
Respirasi Aerob adalah bentuk normal respirasi. Hal ini membutuhkan oksigen
dan melepaskan energi paling banyak dari glukosa. Ketika kita bernafas seperti ini
kita menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida keluar. Selama
respirasi aerob 1 mol glukosa menghasilkan 2.830 kilojoule energi. Respirasi
aerob menghasilkan energi, karbon dioksida dan air. Respirasi aerob terjadi di
dalam sel. Semua sel membutuhkan pasokan energi untuk melaksanakan fungsi
mereka. Makanan dan oksigen yang diangkut ke sel-sel pada manusia oleh darah
dalam sistem peredaran darah. Oksigen berasal dari paru-paru dari sistem
pernapasan dan makanan berasal dari usus kecil dari sistem pencernaan.
Mitokondria sel adalah lokasi sebenarnya untuk respirasi aerob. Ketika makanan
dibakar untuk melepaskan energi dengan menggunakan oksigen dua produk
limbah yang dihasilkan: karbon dioksida dan air. Proses respirasi aerob dapat
diwakili oleh persamaan kata: makanan + oksigen -> energi + karbon dioksida +
air.
Respirasi aerob adalah peristiwa pembakaran zat makanan menggunakan
oksigen dari pernapasan untuk menghasilkan energi dalam bentuk ATP.
Selanjutnya, ATP digunakan untuk memenuhi proses hidup yang selalu
memerlukan energi. Respirasi aerob disebut juga pernapasan, dan terjadi di paruparu. Sedangkan, pada tingkat sel respirasi terjadi pada organel mitokondria.
Secara sederhana reaksi respirasi adalah sebagai berikut: C6H12O6 + 6O2 6
CO2 + 6H2O + 36 ATP.

Respirasi aerob terjadi secara bertahap adapun tahap-tahapnya :


A. Glikolisis
Glikolisis merupakan perombakan glukosa menjadi asam piruvat dalam
sitosol secara anaerob. Terjadi kegiatan enzimatis dan melibatkan energi berupa
ATP dan ADP. Hasil akhir glikolisis adalah 2 mol asam piruvat untuk setiap 1 mol
glukosa, 2 mol NADH sebagai sumber elektron berenergi tinggi, 2 mol ATP untuk
setiap mol glukosa.
B. Daur Kreb`s
Terjadi penyatuan aseti Ko-A dengan asam oksaloasetat (terjadinya
perubahan asetil Ko-A menjadi CO2 dengan pembebasan energi), membentuk
asam sitrat maka peristiwa ini sering disebut juga siklus asam sitrat (asam
trikarbosilat), terjadi dalam matriks mitokondria. Tiap molekul glukosa
menghasilkan 2 molekul asetil koenzim A dan 4 molekul CO2. Elektron berenergi
tinggi dari glikolisis dan daur Kreb`s dipindahkan ke rantai pembawa elektron.
Tiap molekul glukosa menghasilkan 2 molekul asetil koenzim A dan 4 molekul
CO2, Elektron berenergi tinggi dari glikolisis an daur Kreb`s di pindahkan ke
rantai pembawa elektron.
C. Transfer Elektron
Terjadi dalam membran mitokondria, hidrogen berenergi tinggi bereaksi
dengan oksigen (sebagai akseptor terakhir) oleh enzim sitokrom, akan terbentuk
H2O. hidrogen dari siklus Kreb`s bergabung dengan FADH2 dan NADH diubah
menjadi elektron dan proton. Dalam transfer elektron dihasilkan 34 ATP.

BAB II
PEMBAHASAN
Pada proses pembentukan ATP melalui proses aerobic terjadi pada organel sel
yang disebut Mitokondria. Untuk menambah kedalaman pembahasan, selain
proses pembentukan ATP intra-mitokondria, dalam makalah ini akan dibahas juga
tentang struktur motokondria. Pada proses dalam mitokondria dihasilkan 36
ATP (Fox. 1972; 1993; Harper. 1996). Begitu besarnya ATP yang dihasilkan
dibandingan dengan kedua system energi sebelumnya, maka mitokondria dikenal
juga sebagai pabrik energi. Berikut ini akan dijelaskan tentang struktur
mitokondria dan pembentukan ATP didalam mitokondria. Mitokondria terbentuk
dari membrana luar dan membrane dalam yang terlipat berbentuk Krista. Ruang
diantara 2 membran tersebut disebut ruang intrakrista dan ruang disisi dalam
membrana dalam disebut ruang matriks. Secara umum mitochondria mengambil
tempat dilokasi yang membutuhkan banyak energi. Mitokondria (gambar 4)
adalah satuan unit sel yang paling banyak ditemukan didalam sel (gambar 3) dan
mempunyai peranan sebagai penghasil tenaga, serta memiliki bentuk yang paling
sempurna pada bagian-bagian sel yang memerlukan proses penyediaan energi
(Hurltman. 1967).
Hasil kutipan penulis dari beberapa sumber ada empat penjelasan tentang
pengertian mitochondria, yaitu: Menurut Fox and Bower (1993; 1972)
Mitochondria merupakan satuan unit sel yang berada didalam sel otot yang
mempunyai peranan sebagai tempat pemorosesan terjadinya energi. Dalam jurnal
penelitian Suyanto Hadi (Guru besar fakultas kedokteran Universitas Diponegoro,
spesialis

rematologi

bagian

dalam

menjelaskan

Mitokondrion

(jamak

mitokondria: berasal dari bahasa Inggris yaitu mitochondrion, mitochondria) yang


artinya adalah bagian sel (kompartemen) atau organel tempat proses perubahan
sistem (konversi) energi dalam bentuk molekul ATP (adenosine triphosphate)
yang dibutuhkan berbagai aktivitas fungsi sel tubuh (Hollozy. 1998). Mitokondria
berasal dari kata Yunani mito yang berarti benang, dan chondrion yang berarti
seperti granul (butiranbutiran), dapat diartikan sebagai organela yang memiliki
DNA dengan rangkaian butir-butir yang tersusunseperti benang. (Penjelasan Prof
Xavier Leverve pada Pertemuan Ilmiah Tahunan II Spesialis Kedokteran Okupasi

(PERDOKI) 19 Februari 2005 di FKUI (http://www.kalbefarma.com).


Pada dasarnya mitokondria itu merupakan struktur yang dapat memperbanyak
dirinya sendiri, yang berarti bahwa satu mitokondria dapat membentuk
mitokondria kedua, ketiga dan seterusnya, hal ini diperlukan oleh sel untuk
meningkatkan jumlah ATP-nya (Fox. 1972). Ukuran dan bentuk mitokondria
ternyata berbeda-beda, beberapa diantaranya hanya berdiameter sebesar beberapa
ratus milimikron, dan bentuknya globular, sedangkan yang lain diameternya dapat
mencapai 1 mikron hingga 7 mikron dan berbentuk filamen (Karlson. 1971).
Meskipun morfologi mitokondria dari sel ke sel bervariasi, namun tiap
mitokondria pada dasarnya mempunyai struktur yang menyerupai sosis, yang
mempunyai membran luar (outer membrane) dan membran dalam (inner
membrane) dan yang terliapt-lipat membentuk rak disebut cristae. Ruang yang
terdapat diantara dua membran dinamakan ruang intra cista atau inter membrane
dan ruang yang terdapat disisi dalam pada inner membrane disebut ruang matriks.
Membran luar mitokondria terdapat enzim yang berkaitan dengan oksidasi
biologi, menyediakan bahan mentah untuk terjadinya reaksi didalam mitokondria.
Sedangkan enzim yang mengkonversi hasil-hasil karbohidrat terdapat pada siklus
Krebs (Hurltman. 1967; Philips. 2003).
Ukuran Mitokondria kira-kira sama dengan bakteri. Pada hepar agak
memanjang 0,5-1,0 um x 3 um. Mitokondria seperti juga sel-sel yang lain (benda
bebas di sitosol) seperti pada ginjal, pancreas. Bila mitochondria terdapat pada
tempat yang terbatas, bentuknya lebih bervariasi. Mitokondria memiliki dua
dinding yaitu outer dan inner membran. Dalam memasukkan protein kedalam
matrik mitokondria terjadi mekanisme khusus. Pada mitokondria menurut Hollozy
(1998) dan Karlson (1971) membran bagian luar mitokondria mengandungsebuah
protein komplek (MOM Complex) dan membrane dalam (Mim Complex)
memiliki fungsi sebagai bagian mesin pengimport protein. Secara lebih jelas lagi,
oleh Fox (1993) dan Philips (2003) struktur mitokondria dijelaskan sebagai
berikut: Membran luar, Membran luar mengandung protein transport yang disebut
porin. Porin membentuk saluran yang berukuran relatif lebih besar di lapisan
ganda lipid membran luar; sehingga membran luar dapat dianggap sebagai
saringan yang memungkinkan lolosnya ion maupun molekul kecil berukuran 5

kDa atau kurang, termasuk protein berukuran kecil. Molekul-molekul tersebut


bebas memasuki ruang antar membran, namun sebagian besar tidak melewati
membran dalam yang bersifat impermeabel. Ini berarti bahwa dalam hal
kandungan molekul kecil, di ruang antar membran bersifat ekuivalen dengan
sitosol sedangkan di ruang matriks berbeda. Protein yang terletak pada membran
luar meliputi berbagai enzim yang terlibat dalam biosintesis lipid mitokondria dan
enzim-enzim yang mengubah substrat lipid menjadi bentuk lain untuk selanjutnya
dimetabolisme di matriks mitokondria. Membran dalam dan Krista, Membran
dalam dan matriks mitokondria terkait erat dengan aktivitas utama mitokondria
yaitu terlibat dalam siklus asam trikarboksilat, oksidasi asam lemak dan
pembentukan energi. Rantai respirasi terdapat dalam membran dalam ini. Ruang
antar membrane, Ruang antar membran adalah ruang yang berada di antara
membran luar dan membran dalam mitokondria. Ruang ini mengandung sekitar
6% dari total protein mitokondria dan beberapa enzim yang bekerja menggunakan
ATP (adenosine triphosphate) yang tengah melewati ruang tersebut untuk
memfosforilasi nukleotida lain. Matriks, Sebagian besar (sekitar 67%) protein
mitokondria dijumpai pada bagian matriks. Enzim-enzim yang dibutuhkan untuk
proses oksidasi piruvat, asam lemak dan untuk menjalankan siklus asam
trikarboksilat terdapat pada matriks ini. Rantai respirasi, Rantai respirasi dan
inhibitornya dapat dilihat pada Tabel 3 yang juga merupakan ringkasan
jalurmetabolik mitokondria. Semua kompleks ini berada di membran dalam dan
mereka dapat dicapai oleh substrat baik yang berada pada membran maupun pada
matriks. Telah diketahui pula berbagai inhibitor rantai respirasi dan efek
kliniknyayang dapat dianggap sebagai pengetahuan awal dari mitochondrial
medicine. Kompleks enzim respirasi mitokondria, sub unit yang disintesa oleh
mitokondria dan inhibitor rantai respirasi (Philips. 2001; Fox. 2003; Hollozy.
2998).
Kompleks
Aktivitas

enzim

NADH-coQ
reductase

Jumlah
Polipeptida
(yang disintesis
di
mitokondria)
>45[7;ND14,4L,5,6]

Pusat redoks

Inhibitor

8 FeS(3 pusat)

Rotenone
Piericidine

Amytal
II

succinate- coQ
reductase

4[tidak ada]

III

CoQH2
Cytochrome c

IV

reductase
Cytochrome c
oxidase
ATP shyntase

7-8
[1;cytochrome
b]
10 [3;CO I,
COII,COIII]
1016[2;ATP6,AT
P8]

2Cytochrome b
Cytochrome c1
2FeS(1pusat)
Cytochrome a
Cytochrome a3

Malonate

2 Cu

CO
CN
Oligomycin

tidak relevan

Antimycin A

Keterangan: NADH: nicotinamide adenine dinucleotide; CoQ : coenzyme Q;ATP:


adenosine triphosphate.

Gambar1. Mitocondria dan Celula Umana Structura

Pembentukan Atp Intra-Mitochondria


Secara umum, pembentukan ATP didalam
mitokondria merupakan hasil dari pemecahan
glukosa atau asam lemak (glyserol) secara aerobic menjadi asam piruvat hingga
proses akhir berupatransport electron (gambar 6). Sebelum melangkah lebih jauh
dalam pembahasan perlu diketahu tentangbeberapa istilah kimia berikut: Acetyl,
Acetyl-CoA, NAD+, NADH, FAD+, dan FADH2. Acetyl merupakan kumpulan
dari dua molekulkarbon. Contoh dalam pemecahan karbohidrat, asam piruvat
kehilangan CO2 menjadi Asetyl yang berkombinasi dengan ko enzim A
membentu acetyl-CoA sebelum memasuki siklus krebs. Begitu juga, dalam
metabolisme asam lemak, dua kelompok asetyl dibutuhkan dalam proses betaoksidasi dan kemudian memasuki siklus krebs. Sedangkan, metabolisme asam
amino lebih kompleks lagi karena hanya beberapa dari asam pemecahan asam
amino yang dapat memasuki siklus krebs. NAD+ ,(nicotinamide adenine
dinucleotide) dan FAD+ (flavin adenine dinucleotide) merupakan reseptor
hydrogen dan mengangkutnya. Sedangkan NADH dan FADH diturunkan dari
NAD+ dan FAD+ yang berfungsi membawa electron ke system transport electron
(Fox dan Bowers, 1993).
Pada dasarnya terdapat beberapa reaksi sistem aerobik yang terjadi di dalam
mitokondria, yaitu: (1) Aerobic glycolysis, (2) The Krebs Cycle, dan (3) Electron
Transport System (ETS) (Foss. 1998; Fox dan Bowers. 1993). Glikolisis Aerobik,
Reaksi pertama adalah pemecahan glikogen menjadi CO2 dan H2O disebut
glikolisis. Pada dasarnya, hanya terdapat satu perbedaan antara proses glikolisis

anaerobic dengan aerobic, yaitu pada glikolisis aerobic tidak terjadi akumulasi
asam laktat (Karlson. 1971). Dengan kata lain, terdapatnya aksigen menghambat
terbentuknya asam laktat, tetapi tidak terjadi proses pembentukan kembali ATP.
Dalam glikolisis, hasil akhinya berupa dua molekul asam piruvat, dua ATP dan
4H. Secara singkat dapat dituliskan dalam rumus kimia Glukosa + 2 ADP + 2PO4
2

Asam piruvat + 2 ATP + 2ATP dan 4H (Hurltman. 1967).


Asam piruvat yang terbentuk kemudian dikonversi menjadi molekul
asetikoenzim A (asetil KoA). Dalam proses konversi ini, tidak terbentuk ATP,
tetapi 4 atom hydrogen yang dilepaskan akan membentuk 6 molekul ATP jika
keempat atom hydrogen tersebut di oksidasi, seperti yang akan dibahas dalam
siklus asam sitrat atau siklus Krebs (Hollozy. 1998).
Siklus Asam Sitrat atau Siklus Krebs
Tahap selanjutnya dalam degradasi molekul glukosa dalam mitokondria
disebut siklus asam sitrat (juga disebut sebagai siklus asam trikarbosilat atau
siklus krebs). Siklus ini merupakan suatu urutan reaksi kimia dimana gugus asetil
dari asetil-KoA dipecah menjadi karbon dioksida dan atom hydrogen. Reaksi ini
terjadi di dalam matrik mitokondria. Penjelasan dari rangkaian proses kimia di
atas adalah sebagai berikut: Pemecahan asam piruvat menjadi CO2 dan H2O di
dalam mitochondria dengan mempergunakan O2.Setiap molekul asam piruvat
kehilangan atom karbon dan 2 atom oksigen sebagai CO2. Pada bersamaan setiap
molekul asam piruvat dioksidasi dengan adanya NAD+, dan kehilangan 2 elektron
dan 2 ion H. Elektron sangat penting untuk produksi ATP. Dua molekul karbon
yang tersisa setelah setiap molekul asam piruvat kehilangan CO2, elektron dan ion
hidrogen dinamakan kelompok asetil dan kemudian bergabung dengan kelompok
lain dinamakan Ko enzim A (Co A) untuk membentuk asetil Ko A. (reaksi A).
Setiap molekul asetil Ko A kemudian masuk ke reaksi rangkaian daur yang
dinamakan daur kreb. Pada gambar dapat dilihat bahwa Asetil Ko A bergabung
dengan asam oksaloasetat dan kehilangan molekul koenzim A. Hasil reaksinya
molekul Asam sitrat. Asam sitrat kemudian dikonversi menjadi asam sis-asonitat
dan selanjutnya diubah menjadi asam isositrat. Reaksi B Asam isositrat (dengan
bantuan pengangkut elektron, NAD+) menjadi asam oksalosuksinat. Pada reaksi
C Asam oksalosuksinat melepaskan molekul CO2 dan menjadi asam Alfa-

ketoglutarat. Pada reaksi D dilepaskan kembali karbon yaitu pada waktu asam
alfa-ketoglutarat mengalami oksidasi dengan NAD+ dan kehilangan CO2 ketika
menghasilkan 1 ATP. Didalam reaksi E pengangkut elektron adalah FAD (Foss,
1998; Fox dan Bowers, 1993).
Pada reaksi F Asam oksaloasetat mengalami regenerasi dan dapat dimulai
dengan yang baru lagi. Untuk menghasilkan sejumlah ATP yang lebih besar
melalui pemecahan asam piruvat secara aerobik, elektron dan ion hidrogen
dikeluarkan ke perangkat elektron NAD dan FAD dan harus diangkut ke oksigen
melalui sistem transport electron (Fox. 1972; Philips. 2003).
Sistem Tranpor Elektron
Setelah siklus asam sitrat selesai maka proses selanjutnya adalah system
transpor electron (ETS). Menurut Foss (1998) Fox dan Bowers (1993) penjelasan
rangkaian reaksi di atas sebagai berikut: Pada sistem transport elektron ion
hidrogen dan elektron ditransfer dari persenyawaan yang satu ke persenyawaan
berikutnya. Energi kimia dibebaskan pada 3 langkah (A, D, G) untuk
menyediakan energi dalam pembentukan ATP dari ADP dan kelompok fosfat.
Hilangnya elektron (oksidasi) pada waktu mengalami berbagai persenyawaan
adalah bertanggung jawab untuk mengikat fosfat (fosforilasi) terhadap ADP untuk
membentuk ATP di dalam mitokondria berhubungan dengan oksidasi molekul
yang berurutan dua dalam system transport elektron yang diketahui sebagai
fosforilasi oksidasi (oxidative phosphorylation). Proses ini menyediakan jumlah
ATP yang terbesar untuk kontraksi otot. Reaksi A terjadi oksidasi NADH dan
pada reaksi B adalah Flavoprotein H2 yang mengalami reaksi pada A, sekarang
mengalami oksidasi. Dari sini sampai langkah H hanya elektron yang ditransfer
diantara persenyawaan, sedangkan 2 ion hidrogen (H+) yang telah terikat ke
flavoprotein H2 sekarang masuk ke dalam larutan dan dapat dipergunakan lagi
pada H, pada reaksi oksidasi-reduksi. Oksigen dari darah menerima 2 elektron
dari persenyawaan G (cytochrome oxidase) dan bergabung dengan larutan ion
Hidrogen (H+) untuk membentuk air (H2O). Berdasarkan dari keterangan proses
pembentukan ATP secara aerobic intra-mitochondria di atas, maka dapat
disederhanakan tentang jumlah ATP yang dihasilkan oleh tiap Reasksi, yaitu
sebagai berikut:

Step

coenzyme yield

Glycolysis preparatory
phase

-2

Glycolysis pay-off phase

2 NADH

Oxidative
decarboxylation
Krebs cycle

2 NADH

ATP yield

6 NADH
18
2 FADH2
4
Dikutip dari http://www.en.wikipedia.org/wiki/Mitochondrion

Source of ATP
Phosphorylation of glucose
and fructose 6-phosphate
uses two ATP from the
cytoplasm.
Substrate-level
phosphorylation
Oxidative phosphorylation.
Only 2 ATP per NADH since
the coenzyme must feed into
the electron transport chain
from the cytoplasm rather
than the mitochondrial
matrix.
Oxidative
phosphorylation
Substrate-level
phosphorylation
Oxidative phosphorylation
Oxidative phosphorylation

Sedangkan rangkaian keseluruhan dalam proses pembentukan ATP dari


pemecahan glukosa di dalam mitokondria adalah sebagai berikut: ATP dari
pemecahan Glukosa secara Aerobik. Adaptasi Mitokondria Terhadap Latihan
Aerobik. Penelitian pertama kali yang dilakukan pada tikus muda yang latih
dengan berlari di treadmill selama 5 hari/minggu telah berhasil menunjukkan
bahwa latihan aerobic berpengaruh dalam peningkatan jumlah mitokondria dalam
otot skelet (Holozzy, 1998). Untuk memberikan peningkatan yang berarti,
kecepatan dan durasi latihan ditingkatkan secara bertahap, Setelah tiga minggu,
tikus berlari dengan kecepatan 31m/menit, dengan suduk kemiringan treadmill 80,
dan total waktu berlari 120 menit per hari. Latihan dilakukan secara interval
dengan 12 kali interval, 10 persesi, istirahat 30 detik diantara sesi interval dan
kecepatan interval lari 42 m/menit. Hasil dari penilitian ini adalah terjadi
peningkatan kemampuan dayatahan aerobic yang sangat besar (Hurltman. 1967).
Penemuan hasil tersebut didukung dengan ditemukan bukti bahwa jumlah
mitokondria dalam sel otot skelet menjadi lebih banyak dari pada sebelum latihan
(Coyle, dkk. 1984). Selain itu, Succinate dehidrogenase, NADH dehidrogenase,
NADH-cytocrom c reductase, dan aktivitas cytocrom oksidase per gram otot
meningkat duakali lipat sebagai respon atas latihan yang telah dilakukan

10

(Holozzy, 1998). Konsentrasi cytocrom c juga meningkat duakali lipat, ini


merupakan bukti bahwa protein enzim dalam mitokondria juga meningkat. Jumlah
total protein dalam mitokondria meningkat 60%. Secara umum peningkatan
kapasitas respirasi sel meningkat, karena meningkatnya tingkat respon enzyme
terhadap aktivasi, transport, dan oksidasi asam lemak. Enzim yang digunakan
dalan oksidasi keton, sklus asam sitrat juga meningkat.
Gambar 2. A. ilustrasi pembentukan energi di
dalam mitokondria, dan B. ilustrasi
pembentukan.

Sedangkan

perubahan

komposisi

mitokondria, selain peningkatan enzim


yang mencapai tiga kali lipat, adalah
peningkatan

protein

motokondria

seperti creatine kinase, adenylate


kinase,

dan

alfa-glyserophosphate

dehydrogenase yang berperan dalam


peningkatan kapasitas respirasi otot.
Peningkatan komposisi ini, membuat
mitokondria

tampak

lebih

besar

(Karlson. 1971).
Latihan Berdasarkan Sistem Energi.
Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa dalam tubuh manusia berkeja
dua system energi utama yaitu system energi anaerobic dan aerobic. Aktivitas
dalam suatu cabang olahraga, sangat bervariasi. Hal ini menyebabkan jenis system
energi predominan dalam tiap cabang olahraga juga berbeda. Dengan mengetahui
sistem energi yang bekerja dalam cabang olahraga tertentu, maka latihan tidak
akan menjadi sia-sia (Fox. 1972). Bagaimana mungkin, seorang sprinter yang
sebagian besar energy diperloleh dari system energy anaerobic dilatih dengan lari
jarah jauh, tentunya ini sangat tidak sesuai dengan prinsip kekhususan dalam
latihan (Philips. 2003). Untuk membedakan system energy yang bekerja pada
suatu aktivitas fisik, dapat digunakan acuan waktu dalam melakukan aktivitas
sebagai panduaanya, sebagaimana di jelaskan di bawah ini:

11

Tabel. Perkiraan durasi waktu dan klasifikasi system energi yang bekerja menurut
fox dan bower (1993).
Durasi
(detik)
1-4
4 - 20
20 45

Klasifikasi

Energy Supplied By

Anaerobic
Anaerobic
Anaerobic

45 - 120
120 - 240

Anaerobic, Lactic
Aerobic + Anaerobic

240- 600

Aerobic

ATP (dalam otot)


ATP + PC
ATP + PC + Glikogen
Otot
Glikogen Otot
Glikogen Otot + Error!
Hyperlink reference not
valid. Laktat
Glikogen Otot + asam
lemak

Tabel 4. Perkiraan system energi yang bekerja pada tubuh pada durasi waktu tertentu

Latihan untuk system anaerobik (ATP-PC). Untuk membentuk kemampuan


ini, sesi latihan dilakukan selama 4 sampai 7 detik dengan intensitas kerja tinggi
mendekati puncak kecepatan. 3 . 10 . 30 meter dengan rekavery 30 detik/repetisi
dan 5 menit per set, 15 . 60 meter dengan 60 detik rekavery, 20 . 20 meter shuttle
runs dengan 45 detik rekavery. Latihan untuk system laktat anaerobic. Ketika PC
yang ada dalam otot telah habis, maka akan dilakukan pemecahan glukosa secara
anaerobic agar kebutuhan ATP tetap terpenuhi. Pemecahan dalam keadaan ini,
menyebabkan akumulasi asam laktat dan hydrogen dalam otot yang menyebabkan
capek. Salah satu contoh latihan untuk membentuk system ini adalah: 5 - 8 . 300
m fast - 45 detik rekavery sampai pace terlihat sangat lambat, 150 m intervals
pada 400 m pace - 20 s rekavery - sampai pace terlihat sangat lambat, 8 . 300 m 3 menit rekavery (lactate recovery training). Terdapat tiga jenis didalam kerja
system energi ini, yaitu: Speed Endurance, Special Endurance 1 and Special
Endurance 2. Setiap unit dapat dibentuk melalui cara sebagai berikut:
Speed Endurance
Intensitas
Jarak
No of Repetitions/Set
No of Sets
Total Jarak/Sesi
Contoh

Special Endurance 1
Special Endurance 2
95 - 100%
90 to 100%
90 to 100%
80 - 150 m
150 to 300 m
300 to 600 m
2-5
1 to 5
1 to 4
2-3
1
1
300- 1200 m
300 to 1200 m
300 to 1200 m
3 . (60, 80, 100)
3 x 500 m
2 . 150 m + 2 . 200 m

12

Latihan Aerobik. Sistem energi aerobic menggunakan protein, lemak, dan


karbohidrat (glikogen) dalam membentuk kembali ATP. System Energy ini dapat
dibentuk dengan berbagai intensitas (tempo). Jenis tempo berlarinya adalah
sebagai berikut: Continuous Tempo berlari lama tapi pelan pada 50 sampai 70%
dari detak jantung maksimal. Disini membutuhkan glikogen otot dan glikogen
dalam hati. Respon normal dari system ini adalah meningkatkan simpanan
glikogen dalam otot dan hati serta aktivitas glikolisis yang juga meningkat.
Extensive Tempo berlari terus menerus pada 60 - 80% detak jantung maksimal.
Latihan ini sudah menyebabkan akumulasi laktat. Respon normal dari system ini
adalah meningkatkan kemampuan tubuh dalam menoleransi laktat serta melatih
kerja system dalam mengolah kembali asam laktat yang terbentuk. Intensive
Tempo - berlari terus menerus pada 80 - 90% detak jantung maksimal. Pada
latihan ini akan terjadi akumulasi laktat yang sangat tinggi, latihan ini juga
membentuk speed endurance dan special endurance serta daya tahan anaerobic.

BAB III
KESIMPULAN
Setiap aktivitas fisik selalu memerlukan energi, baik yang diperoleh secara
anaerobic maupun secara aerobic. Secara anaerobic yang prosesnya terjadi pada
sitosol, system energi yang berkerja adalah system energi ATP-PC, dan Alactid
Glycolytic. Sedangkan secara aerobic yang terjadi intra-mitochondria diperoleh
melalui tiga proses kimia yaitu (1) Aerobic glycolysis, (2) The Krebs Cycle, dan

13

(3) Electron Transport System (ETS). Sedangkan jumlah ATP terbanyak yang
dihasilkan berasal dari system energi aerobic yang terjadi dalam mikondria yaitu
36 ATP.

DAFTAR PUSTAKA
Fox, E. L., dan D. L. Costill, 1972. Estimated Cardiorespiratory Responses
During Marathon Running. Arch Environ Health. 24:315-324.
Fox EL, and Bower WR. 1993. The Phisiological Basic for Exercise and Sport 5th
Ed. WBC. Brown & Bencmark Publisher.
Hollozy, J.O. Biochemical Adaptation in Muscle. Efect of Exercise
onMitochondrial Oxigen Uptake dan Repiratory Enzym Activity inSceletal
Muscle. Journal Biochemical. 242:2278-2282.

14

http://www.en.wikipedia.org/wiki/Mitochondrion.
http://www.kalbefarma.com.
Hurltman E.J. 1967. Studies on Muscle Metabolism of glycogen andAktive
Phospate in Man with Special Reference to Exercise and Diet. Scand J Clin
Lab Invet (Supll 94). 19:1-63.
Karlson. 1971. Lactate and Phosphagen Concentration in Working Muscleof Man.
Acta Physiol Scan (Supll) 358:1-72.
Philips W.T dan Zuraitis J.R. 2003. Energy Cost of The ACSM Single Test
Resistance Training Protocool. Journal of Strength angConditioning Researh
Vol 17:350-355.

15