You are on page 1of 13

Chairul Tanjung

Si Anak Singkong

Disusun oleh:
Nama : Fadila Rahmat Firmansyah
Kelas : 10.5
NIS : 13.59.07262

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SMAK BOGOR


2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan anugrah kesempatan pada
pemikiran kepada kami untuk dapat menyelesaikan buku ini.Buku ini disusun berdasarkan
pengalaman kami sebagai guru KKPI.
Karena dilapangan sering terjadi kendala dalam membelajaran KKPI maka kami mencari
solusinya dengan cara menyusun modul kemudian dikembangkan menjadi buku yang diujikan
disekolah kami.
Kami dengan rendah hati mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah
memberikan inspirasi sehingga buku ini tercipta.
Akhirnya kami berharap agar buku ini dapat memberikan sumbangan pada rekan-rekan
guru dan para pembaca semua.Saran dan kritik yang konstruktif selalu kami harapkan untuk masa
yang akan datang

Bogor, 28 November 2013

Penyusun

DAFTAR ISI

DAFTAR GAMBAR

DAFTAR TABEL

BAB 1 PENDAHULUAN
Seputar Tentang Chairul Tanjung
Chairul Tanjung lahir di , 16 Juni 1962. Uumur 51 tahun adalah pengusaha asal Indonesia.
Namanya dikenal luas sebagai usahawan sukses bersama perusahaan yang dipimpinnya, Para
Group.
Chairul telah memulai berbisnis ketika ia kuliah dari Jurusan Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia[2]. Sempat jatuh bangun, akhirnya ia sukses membangun bisnisnya. Perusahaan
konglomerasi miliknya, Para Group menjadi sebuah perusahaan bisnis membawahi beberapa
perusahaan lain seperti Trans TV dan Bank Mega.

Chairul mereposisikan dirinya ke tiga bisnis inti : keuangan, properti, dan multi media. Di
bidang keuangan, ia mengambil alih Bank Tugu yang kini bernama Bank Mega yang kini telah naik
peringkatnya dari bank urutan bawah ke bank kelas atas. Selain memiliki perusahaan sekuritas, ia
juga merambah ke bisnis asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Di sektor sekuritas, lelaki kelahiran
Jakarta ini mempunyai perusahaan real estate dan pada tahun 1999 telah mendirikan Bandung
Supermall. Di bisnis multimedia, Chairul mendirikan Trans TV, di samping menangani stasion radio
dan media on line atau satelit. Ia juga bersiap untuk masuk ke media cetak.
16 Juni (umur 51)
Jakarta, Indonesia
Suami/istri Anita Ratnasari Tanjung
Putri Indahsari
Anak
Rahmat Dwiputra
Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia/S1 (selesai;1987)
Lulusan
Institut Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM)/S2 (selesai;1992)
Lahir

Pekerjaan
Agama

Pemilik (CEO) utama CT Corp


Islam

Chairul menyatakan bahwa dalam membangun bisnis, mengembangkan jaringan adalah


penting. Memiliki rekanan dengan baik diperlukan. Membangun relasi pun bukan hanya kepada
perusahaan yang sudah ternama, tetapi juga pada yang belum terkenal sekalipun. Bagi Chairul,
pertemanan yang baik akan membantu proses berkembang bisnis yang dikerjakan. Ketika bisnis
pada kondisi tidak bagus maka jejaring bisa diandalkan. Bagi Chairul, bahkan berteman dengan
petugas pengantar surat pun adalah penting.
Dalam hal investasi, Chairul memiliki idealisme bahwa perusahaan lokal pun bisa menjadi
perusahaan yang bisa bersinergi dengan perusahaan-perusahaan multinasional. Ia tidak menutup diri
untuk bekerja sama dengan perusahaan multinasional dari luar negeri. Baginya, ini bukan upaya
menjual negara. Akan tetapi, ini merupakan upaya perusahaan nasional Indonesia bisa berdiri
sendiri, dan jadi tuan rumah di negeri sendiri.
Menurut Chairul, modal memang penting dalam membangun dan mengembangkan bisnis.
Baginya, kemauan dan kerja keras harus dimiliki seseorang yang ingin sukses berbisnis. Namun
mendapatkan mitra kerja yang handal adalah segalanya. Baginya, membangun kepercayaan sama
halnya dengan membangun integritas. Di sinilah pentingnya berjejaring dalam menjalankan bisnis.
Dalam bisnis, Chairul menyatakan bahwa generasi muda bisnis sudah seharusnya sabar, dan
mau menapaki tangga usaha satu persatu. Menurutnya, membangun sebuah bisnis tidak seperti
membalikkan telapak tangan. Dibutuhkan sebuah kesabaran, dan tak pernah menyerah. Jangan
sampai banyak yang mengambil jalan seketika , karena dalam dunia usaha kesabaran adalah salah
satu kunci utama dalam mencuri hati pasar. Membangun integritas adalah penting bagi Chairul.
Adalah manusiawi ketika berusaha,seseorang ingin segera mendapatkan hasilnya. Tidak semua hasil
bisa diterima secara langsung.

BAB 2 KEHIDUPAN CHAIRUL TANJUNG


Kehidupan awal
Chairul Tanjung dilahirkan di Jakarta,16 juni 1962. Ia anak A.G. Tanjung, seorang wartawan
di zaman orde lama yang pernah menerbitkan lima surat kabar beroplah kecil. Ayahnya, yang
berdarah Batak, berasal dari Sibolga. Sedangkan ibunya, Halimah, yang berdarah Sunda berasal dari
Cibadak, Sukabumi. Chairul dan keenam saudaranya hidup berkecukupan. Namun, pada zaman
Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena berseberangan secara politik dengan
penguasa.
Namun, pada zaman Orde Baru, sang ayah dipaksa menutup usaha persnya karena
berseberangan secara politik dengan penguasa.Selepas menyelesaikan sekolahnya di SMA Boedi
Oetomo pada 1981, Chairul masuk Jurusan Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (lulus 1987).
Ketika kuliah inilah ia mulai masuk dunia bisnis. Dan ketika kuliah juga, ia mendapat penghargaan
sebagai Mahasiswa Teladan Tingkat Nasional 1984-1985. Demi memenuhi kebutuhan kuliah, Ia
mulai berbisnis dari awal yakni berjualan buku kuliah stensilan, kaos, dan lainnya di kampusnya. Ia
juga membuka usaha foto kopi di kampusnya. Chairul juga pernah mendirikan sebuah toko
peralatan kedokteran dan laboratorium di bilangan Senen Raya, Jakarta Pusat, tetapi bangkrut.

Seputar Cerita Masa Lalu


Menunggu Bapak Pulang demi Zakat Fitrah
Suatu hari malam takbiran saat saya(chairul tanjung) masih kelas dua SMP. Was-was
menunggu bapak yang belum juga pulang. Saya sendirian menunggu beliau di ujung gang seraya
berdoa semoga bapak kali ini membawa uang untuk zakat fitrah kam sekeluarga.
Nanar melihat euforia malam takbiran. Teman-teman sebaya sudah bergembira, beberapa di
antaranya bahkan menyewa becak keliling kota.
Beberapa kali air mata ini sempat menetes, sangat sesak rasanya. Ada tetangga yang
memperhatikan dan sempat akan memberi zakat, saya tolak. Ya Allah, kami masih kuat berdiri.
Meski tidak punya uang, kami masih mampu mencari, saya pikir.
Alhamdulillah, menit-menit terakhir menjelang shalat Id, bapak akhirnya pulang dan
memberi sejumlah uang untuk membayar zakat kami sekeluarga.
Pukul 03.30 pagi saya bangunkan pengurus masjid yang tengah lelap dalam tidurnya
dan menyerahkan uang itu. Setelah itu lega luar biasa. Langsung bergegas ke masjid untuk shalat Id
meski tanpa pakaian baru seperti teman-teman lainnya. Allahu Akbar! Tuntas kewajiban kami, ya
Allah!

Tidak ikut Study Tour ke Yogyakarta


Kelas 3 SMP sebagaimana yang dilakukan di banyak sekolah, diselenggarakan acara
study tour yang pengumumannya 2 bulan sebelum keberangkatan.
Pak A.G Tanjung ( bapaknya Chairul ) saat itu mengelola perusahaan transportasi milik kawannya,
sehingga otomatis Chairul mengetahui proses kerja penanganan wisata. Maka ia pun dipercaya
sebagai koordinator transportasi untuk acara study tour sekolahnya ke Yogya tersebut. Namun
sampai tiba waktunya, ibunya tidak mempunyai cukup uang untuk membayar biaya study tour
senilai Rp. 15.000,- sehingga dengan alasan ada kepentingan keluarga, Chairul tidak ikut berangkat
dalam acara yang bahkan ia sendiri yang sibuk mengurus berbagai persiapan. Ia mengerjakan
tugasnya sebagai koordinator dengan seksama dan melepas kepergian teman-temannya di halaman
sekolah, dengan perasaan sakit yang disembunyikan serapat mungkin.

Menggadaikan Kain Halus Ibu sebagai Biaya Kuliah


Mendaftar di perguruan tinggi negeri adalah satu-satunya pilihan untuk bisa kuliah
saat itu, karena belum banyak pilihan untuk melanjutkan di universitas swasta. Jika pun ada,
biayanya sangat tinggi. Jadi jika tidak diterima di negeri, alamat jalan untuk melanjutkan
pendidikan tertutup sudah. Tidak mungkin keluarganya dapat membayar biaya kuliah di perguruan
tinggi swasta, apalagi semua anak-anaknya masih dalam masa pendidikan.
Maka, adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira saat melihat nama Chairul
Tanjung termasuk di antara daftar siswa yang dinyatakan lulus UMPTN. Pulang dari tempat
pengumuman di Parkir Timur Senayan, Chairul mengabarkan pada orang tuanya bahwa ia diterima
di FKG. Sebuah kabar bahagia tentunya, disertai pemberitahuan lain berupa biaya kuliah di FKGUI. Total Rp. 75.000,- yang rinciannya adalah Rp. 45.000 untuk biaya kuliah, dan 30.000 untuk
biaya administrasi, uang jaket dsb.
Ibunya meminta waktu beberapa hari untuk menyiapkannya. Dan sesuai janji,
beberapa hari kemudian Ibunya tersenyum sambil memberikan uang yang yang diperlukan. Maka
tahun 1981 Chairul Tanjung tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia.
ia sendiri yang sibuk mengurus berbagai persiapan. Ia mengerjakan tugasnya
sebagai koordinator deMinggu awal masuk kuliah, Chairul didaulat menjadi Ketua Angkatan
Mahasiswa FKG-UI, atau mendapat julukan Jendral Angkatan. Bisa jadi karena postur tubuhnya
yang tinggi besar, dan tentu karena pengalaman berorganisasi dari SMP dan SMA yang telah
dijalankannya.
Berinteraksi dengan para sahabat baru di kampus adalah hal baru yang menyenangkan tentunya.
Meski mengaku sering makan di kantin CM Cepek Murah Warung Toyib dengan nasi setengah
porsi, sayur, tempe/tahu, semua terasa nikmat dan membuatnya bahagia.
Hingga suatu sore, ibunya, Ibu Halimah yang di kalangan tetangga dekat biasa
dipanggil Mpok Limah, asli Cilandak, Sukabumi, Jawa Barat, berkata dengan terus terang
kepadanya. Bahwa untuk ongkos kuliah ibunya harus pontang-panting mendapatkan uang. Dengan
air mata, ibunya menatap sang anak sambil berucap Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu
berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan
serius, Nak.
Mendengar itu, bumi tempatnya berpijak seolah berhenti berotasi, ia lemas seperti
tanpa darah. Bisa dibayangkan, baru menikmati keceriaan bertemu teman-teman baru, tiba-tiba

mendengar berita menyedihkan itu. Chairul mengaku terpukul, shock. Bukan untuk putus asa dan
menyerah terhadap keadaan, namun sebaliknya. Dari situlah ia bertekad untuk tidak meminta

Lima Belas Ribu Pertama dalam Hidup Chairul


Di FKG-UI banyak sekali praktikum, dari membuat gigi palsu menggunakan wax
( lilin), gipsum, dsb. Ada buku praktikum sekitar 20 halaman yang harus diperbanyak ( difotocopy)
oleh mahasiswa sebagai pedoman wajib.
Di lingkungan Salemba Raya, bertebaran tukang foto kopi dengan ongkos per lembar
Rp. 25,- sehingga diperlukan total Rp. 500,- untuk mendapatkan buku tersebut.
Chairul mempunyai teman SMP yang orang tuanya memiliki usaha percetakan di Jl.
Bango V No. 5, Senen. Namanya Bravo Printing. Usaha percetakan milik Pak Surya itu dijalankan
oleh Pak Surya sendiri beserta anak-anaknya Toni, Hardi Surya, Beni ( teman Chairul).
Maka Chairul datang ke percetakan itu meminta tolong pada Hardi Surya ( kakak kelas Chairul di
SMP juga ), dan disanggupi dikerjakan dengan harga Rp 150. Dikerjakan dulu, dibayar setelah
selesai.
Maka, peluang usaha mulai dilihatnya. Esoknya, Chairul menawarkan jasa cetak
diktat dengan harga Rp.300, lebih hemat tentunya dibanding harga pasar yang Rp. 500,-. Singkat
cerita, ada 100 orang temannya yang mendaftar mencetak di Chairul, dan otomatis ia mendapatkan
keuntungan sebesar Rp. 15.000,Sebuah keuntungan yang diperoleh dengan proses sangat mdah, dengan hanya berbekal jaringan
dan kepercayaan.
Uang keuntungan usaha yang baru pertama kali diterimanya sebesar 15.000 itu dirasakan Chairul
sebagai momentum pembangkit kepercayaan diri selanjutnya.
Puluhan ribu berikutnya, ratusan ribu dan jutaan berikutnya bukan perkara sulit jika semangat dan
kepercayaan bisa terus dijaga. Sejak itu hidupnya terasa lebih mudah.
Dari 15.000 itu kemudian ia terkenal ke seantero kampus sebagai pengganda diktat yang murah.
Awalnya ia mendapat tempat fotocopy murah di daerah Grogol ( Rp. 15,-/lembar dan karena
memberi order banyak didiscount menjadi Rp.12,5/lembar). Dosen dan teman-teman lintas jurusan
kerap menitipkan fotocopy padanya. Praktis nyaris tiap hari ia mondar-mandir Grogol-Salemba
dengan bajaj mengangkut diktat-diktat yang difotocopy dibantu beberapa orang sahabatnya.
Berikutnya karena merasa lama-lama kerepotan mondar-mandir sementara iapun harus mengikuti
jam perkuliahan dan menjalankan berbagai praktikum, ia mengajukan permohonan memanfaatkan
ruang kosong di bawah tangga untuk menempatkan mesin foto copy.
Dan berkat hubungan baik dengan hampir semua dosen, karyawan bahkan rektor UI, ijin itu mudah
didapatkan.
Lalu Chairul meminta pemilik mesin fotocopy itu membuka counter di bawah tangga di fakultasnya
di Salemba. Ia mendapat marketing fee sebesar Rp.2,5,-/lembar. Dan setiap sore, Chairul tinggal
datang ke tempat fotocopyan sambil meminta setoran layaknya bos.

BAB 3
SUB BAB
SUB BAB

BAB 4 KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Chairul_Tanjung
http://info-biografi.blogspot.com/2010/05/biografi-chairul-tanjung.html#jJjE0u3wjdmehZX3.9