You are on page 1of 102

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN

(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:

MUTIARA PERTIWI

A14304025

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008
RINGKASAN

MUTIARA PERTIWI. Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai


Program Pemberdayaan Rakyat Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan). Dibawah bimbingan HERMANTO SIREGAR.

Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah


orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan. Peningkatan
penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005 terdapat 316.200
penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi 407.100 penduduk
miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi 2005 dan 2006.
Namun, pada tahun 2007 angka kemiskinan mengalami penurunan. Hal ini
menimbulkan pertanyaan, program apa yang telah berhasil menurunkan jumlah
penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini pemerintah sedang
menggalakkan program pemberdayaan masyarakat. Penelitian ini ingin
mengetahui efektivitas suatu program kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti
merujuk pada program pemberdayaan rakyat miskin perkotaan pada kegiatan
kelompok usaha bersama (KUBE).
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di
Kecamatan Pesanggrahan, menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama
(KUBE) dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh
pemerintah di Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan KUBE, merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE
dalam program penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan.
Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data selama bulan April sampai
Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan Pesanggrahan,
Jakarta Selatan. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer diperoleh dengan melakukan wawancara dan pengisian kuisioner oleh 55
orang anggota KUBE yang berasal dari 6 KUBE, yang dipilih dengan metode
accidental sampling. Data tersebut diolah dengan menggunakan program
Minitab14 dan Eviews 4.1.
Analisis efektivitas dilakukan dengan menggunakan uji beda mean dua
sampel berpasangan, yaitu menganalisis selisih antara pendapatan sebelum dan
setelah bergabung dengan KUBE. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi
keberhasilan KUBE dianalisis menggunakan model regresi berganda. Variabel
bebas yang digunakan adalah pendidikan, pengalaman, pendampingan, dummy
kedudukan, dan dummy kelompok. Variabel tak bebas yang diduga adalah
pendapatan usaha KUBE.
Pendapatan rata-rata penduduk miskin sebesar Rp 201.968 per kapita per
bulan yang menunjukkan bahwa jumlah ini berada di bawah garis kemiskinan
yaitu Rp 322.780 per kapita per bulan untuk wilayah Kotamadya Jakarta Selatan
pada tahun 2006. Menurut jam kerja, penduduk miskin di Kecamatan
Pesanggrahan rata-rata telah bekerja lebih dari 39 jam per minggu, sedangkan
penduduk tidak miskin rata-rata bekerja lebih dari 74 jam per minggu.
Hasil uji beda mean dua sampel berpasangan menghasilkan t-hitung sebesar
4,48 untuk RT miskin, 4,7 untuk RT tidak miskin dan 6,1 untuk keseluruhan. Hal
ini menunjukkan bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel yang digunakan sehingga
dapat disimpulkan bahwa program KUBE secara kuantitatif efektif dalam
meningkatkan pendapatan masyarakat.
Hasil pendugaan pendapatan usaha KUBE menunjukkan bahwa nilai
koefisien determinasi (R-Sq) sebesar 67 persen dan nilai koefisien determinasi
terkoreksi (R-Sq adj) sebesar 63,6 persen. Angka (R-Sq) tersebut menunjukkan
bahwa 67 persen keragaman dari variabel tak bebas (pendapatan KUBE per
individu) dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang digunakan dalam
model. Hal ini bermakna bahwa model sudah baik. Hasil pendugaan model
terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE menunjukkan
bahwa variabel-variabel yang berpengaruh nyata pada taraf 95 persen terhadap
pendapatan usaha secara individu adalah variabel pendampingan, dummy
kedudukan dan dummy kelompok. Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh
nyata.
Beberapa implikasi kebijakan yang dapat dipertimbangkan untuk
mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan, antara lain:
Peningkatan kreatifitas masyarakat dengan pelatihan-pelatihan; Memperbaiki
pelaksanaan KUBE, program pemerintah yang dimulai dengan top-down
seringkali hasilnya tidak optimal karena memaksakan suatu keadaan untuk
diterima oleh masyarakat yang menerima bantuan; Meningkatkan monitoring
pelaksanaan program, walaupun selama ini telah ada pendampingan namun tidak
semua KUBE memperoleh pendampingan yang cukup.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemiskinan yang terjadi di Kecamatan
Pesanggrahan disebabkan oleh jam kerja rumah tangga miskin yang relatif lebih
rendah dibandingkan rumah tangga tidak miskin sehingga pendapatannya juga
rendah. Program KUBE terbukti efektif dalam meningkatkan pendapatan
masyarakat secara kuantitatif tetapi secara keseluruhan masih perlu dioptimalkan.
Adanya pendampingan dan usaha yang dijalankan secara berkelompok
meningkatkan pendapatan anggota KUBE.
Berdasarkan hasil penelitian diatas, maka penulis dapat memberikan saran
sebagai berikut: Pendampingan terhadap KUBE perlu ditingkatkan dan
dikembangkan sehingga efektifitas KUBE dalam meningkatkan keterampilan para
anggota menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan
sasarannya secara lebih besar; KUBE sebaiknya berhubungan baik dengan
Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sehingga sinergi diantara dua lembaga
ini dapat berkelanjutan dan berkembang, hal ini diharapkan sangat membantu
KUBE dalam masalah keuangan dan kemitraan terhadap pihak luar; Perlu diteliti
efektifitas beberapa program penanggulangan kemiskinan lainnya yang telah
dilakukan oleh pemerintah sehingga dapat diketahui program mana yang memiliki
pengaruh yang lebih besar dalam mengurangi angka kemiskinan dan dicari bentuk
sinergi atau kombinasi diantaranya agar efektivitasnya dalam menanggulangi
kemiskinan lebih tinggi lagi.
ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN

(Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Oleh:

MUTIARA PERTIWI

A14304025

Skripsi
Sebagai Bagian Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pertanian

pada
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

PROGRAM STUDI EKONOMI PERTANIAN DAN SUMBERDAYA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2008
Judul : Analisis Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai

Program Pemberdayaan Rakyat Miskin Perkotaan (Studi

Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

Nama Mahasiswa : Mutiara Pertiwi

NRP : A14304025

Program Studi : Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya

Menyetujui,

Dosen Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc


NIP. 131803656

Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr


NIP. 131124019

Tanggal Lulus:
PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI YANG BERJUDUL

ANALISIS EFEKTIVITAS KELOMPOK USAHA BERSAMA SEBAGAI

PROGRAM PEMBERDAYAAN RAKYAT MISKIN PERKOTAAN (Studi

Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan) BELUM PERNAH

DIAJUKAN PADA PERGURUAN TINGGI LAIN ATAU LEMBAGA LAIN

MANAPUN UNTUK TUJUAN MEMPEROLEH GELAR AKADEMIK

TERTENTU. SAYA JUGA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI BENAR-

BENAR HASIL KARYA SAYA.

Bogor, Agustus 2008

Mutiara Pertiwi
A14304025
RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Jakarta, 25 Januari 1987 sebagai anak kedua dari tiga

bersaudara pasangan Bambang Hermanto, Skom dan Umi Farida, Ssi. Penulis

menyelesaikan sekolah menengah atas pada SMUN 2 Ciputat pada tahun 2004.

Pada tahun yang sama, penulis diterima sebagai mahasiswa Program Studi

Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor

melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB).

Selama menjadi mahasiswa penulis aktif dalam kegiatan kemahasiswaan,

menjadi anggota ICC (IPB Crisis Center) BEM KM IPB pada tahun 2004-2005,

menjadi anggota KOPMA IPB, menjadi bagian dari BEM A Departemen

Perekonomian pada tahun 2006-2007. Disamping kegiatan kemahasiswaan,

penulis juga aktif menjadi asisten MK. Ekonomi Umum selama empat semester.
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberi

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini yang berjudul Analisis

Efektivitas Kelompok Usaha Bersama Sebagai Program Pemberdayaan Rakyat

Miskin Perkotaan (Studi Kasus di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan)

dapat terselesaikan. Skripsi ini merupakan hasil laporan penelitian yang dilakukan

oleh penulis sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian pada

Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya, Fakultas Pertanian, Institut

Pertanian Bogor.

Penulis berusaha mengerjakan dan menyajikan skripsi ini dengan sebaik-

baiknya. Namun, penulis tetap mengharapkan kritik dan saran yang membangun

untuk penelitian selanjutnya. Penulis berharap semoga penelitian ini dapat

bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Bogor, Agustus 2008

Mutiara Pertiwi
UCAPAN TERIMAKASIH

Penulisan skripsi merupakan tahap akhir dari proses pendidikan yang dijalani

oleh penulis di Institut Pertanian Bogor. Dalam proses penulisan skripsi ini tidak

lepas dari kerjasama dan bantuan berbagai pihak. Pada kesempatan ini penulis

ingin mengucapkan terimakasih kepada :

1. Prof. Dr. Ir. Hermanto Siregar, MEc sebagai dosen pembimbing skripsi atas

masukan, arahan dan kerjasamanya selama penyusunan skripsi ini.

2. Ir. Nindyantoro, MSP sebagai dosen penguji utama pada ujian skripsi

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

3. Tintin Sarianti, SP sebagai dosen penguji departemen pada ujian skripsi

sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Bapak Yono selaku pihak LKMS dan ibu Yetty selaku pihak Kecamatan

urusan sosial serta warga Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Petukangan

Utara atas kerjasamanya selama ini.

5. Kedua orang tua yang selalu memberi perhatian dan kasih sayangnya kepada

penulis.

6. Saudara-saudara dan semua keluarga yang selalu mendoakan.

7. Teman-teman seperjuangan (epse41, pns, maharani, dan SMUN 2 Ciputat)

yang tak henti-hentinya memberi semangat, dukungan dan doa.

8. Dan pihak-pihak lain yang tidak bisa disebutkan satu per satu.
DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR TABEL ................................................................................... xii


DAFTAR GAMBAR .............................................................................. xiii
DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... xiv
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .............................................................................. 1
1.2 Perumusan masalah ....................................................................... 5
1.3 Tujuan Penelitian .......................................................................... 6
1.4 Kegunaan penelitian....................................................................... 6
1.5 Keterbatasan Penelitian ................................................................. 7

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Kemiskinan ................................................................................... 8
2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan .......................................... 16
2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) ..... 18
2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE) ...................................... 19
2.3 Efektivitas...................................................................................... 24
2.4 Hasil Penelitian terdahulu ............................................................. 25

III.KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Analisis Regresi ................................................................... 29
3.1.2 Permasalahan OLS ............................................................... 31
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional .................................................. 35

IV. METODE PENELITIAN


4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian ......................................................... 38
4.2 Jenis dan Sumber Data .................................................................. 38
4.3 Teknik Penarikan Sampel .............................................................. 38
4.4 Metode Analisis Data
4.4.1 Analisis Deskriptif ................................................................ 39
4.4.2 Analisis Efektivitas Program KUBE ..................................... 39
4.4.3 Analisis Regresi Berganda .................................................... 40
4.4.4 Model Analisis ..................................................................... 41
4.4.5 Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2 ......................... 42
4.4.6 Pengujian untuk Masing-masing Parameter Regresi .............. 44
4.4.7 Pengujian Terhadap Model Penduga ..................................... 45
4.4.8 Pengujian Terhadap Masalah Heteroskedastisitas ................. 46
4.4.9 Pengujian Terhadap Masalah Multikolinearitas .................... 48
4.5 Hipotesis Penelitian ....................................................................... 50

V. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN


5.1 Kondisi Kemiskinan Jakarta Selatan .............................................. 51
5.2 Kondisi Fisik, Sosial, dan Ekonomi Kecamatan Pesanggrahan ...... 52
5.2.1 Fasilitas Pendidikan .............................................................. 55
5.2.2 Fasilitas Kesehatan ............................................................... 55
5.3 Karakteristik Responden ................................................................ 56
5.4 Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan .......................... 58

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


6.1 Kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan ...................................... 62
6.2 Efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) ............................. 63
6.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Keberhasilan KUBE
6.3.1 Deskripsi Statistik Variabel-variabel Penelitian .................... 65
6.3.2 Hasil dan Pembahasan Model Dugaan .................................. 68
6.4 Implikasi Kebijakan ....................................................................... 71

VII. KESIMPULAN DAN SARAN


7.1 Kesimpulan ................................................................................... 73
7.2 Saran.............................................................................................. 74

DAFTAR PUSTAKA............................................................................... 75
LAMPIRAN ............................................................................................ 78
DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut


Daerah, 1996 2007 ..................................................................... 2
2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin
Menurut Daerah, Maret 2006 Maret 2007 ................................... 3
3. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Jam Kerja per Minggu, 2006 ................................................... 5
4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan .............................. 15
5. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2005 2006 ..................... 52
6. Kepadatan Penduduk Kecamatan Pesanggrahan Menurut
Kelurahan Tahun 2006 ................................................................. 54
7. Jumlah Fasilitas Pendidikan Menurut Kelurahan Tahun 2006 ........ 55
8. Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kelurahan Tahun 2006.......... 56
9. Variabel Sosial ekonomi Responden ............................................. 57
10. Variabel Demografi Responden ..................................................... 58
11. Jenis dan Jumlah Bantuan Sarana KUBE Catering ........................ 60
12. Rata-rata Pendapatan dan Jam Kerja Penduduk Miskin dan Tidak
Miskin di Kecamatan Pesanggrahan .............................................. 62
13. Hasil Uji Beda Dua Mean Sampel Berpasangan Antara Pendapatan
Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE ......................................... 64
14. Jumlah Anggota KUBE berdasarkan Tingkat Pendidikan .............. 66
15. Hasil Pendugaan faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan
Individu Kelompok Usaha Bersama di Kecamatan Pesanggrahan .. 68
16. Matriks Korelasi ........................................................................... 69
DAFTAR GAMBAR

Nomor Halaman

1. Pola Penyaluran Dana Program ................................................... 17


2. Strategi Penanggulangan Kamiskinan Melalui Pemberdayaan
Usaha Mikro .............................................................................. 18
3. Alur Kerangka Pemikiran ............................................................ 37
4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah KUBE ................... 63
5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah KUBE ......... 64
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah,


Tahun 2005-2007 ...................................................................... 79
2. Kuisioner Penelitian .................................................................. 80
3. Data dan Variabel-variabel Penelitian......................................... 82
4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE
serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE ........................ 85
5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah mengikuti
KUBE serta Pekerjaan Utama Responden Selain KUBE............. 86
6. Hasil Pengolahan dengan Minitab 14.......................................... 87
7. Hasil Pengolahan dengan Eviews 4.1 ......................................... 88
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Reforma agraria yang tidak dijalankan mengakibatkan ketimpangan

kepemilikan dan pengelolaan atas sumber-sumber agraria. Hal ini menyebabkan

makin tingginya jumlah buruh migran, pengangguran, urbanisasi dan

meningkatnya keluarga petani yang tidak memiliki lahan pertanian1.

Urbanisasi merupakan pilihan yang rasional bagi para migran, tetapi

urbanisasi tersebut akan menimbulkan masalah tenaga kerja, baik pengangguran

maupun setengah pengangguran, yang diikuti dengan meluasnya aktivitas sektor

informal di kota. Menurut Direktur Institute for Democracy & Society

Empowerment (IDSE) Yogyakarta Hendrizal, hal ini akan mengakibatkan kualitas

hidup para migran menjadi minim, kebanyakan mereka hanya mampu hidup

secara subsistem dan kondisi ini akan menimbulkan gejala kemiskinan2.

Jakarta merupakan wilayah Ibukota negara yang merupakan pusat beberapa

kegiatan baik ekonomi, pariwisata dan pendidikan. Daya tarik Jakarta ini

merupakan salah satu faktor yang mendorong urbanisasi ke Jakarta meningkat dan

kemiskinan Jakarta terus bertambah.

Kemiskinan merupakan masalah nasional yang kompleks. Bahkan jumlah

orang miskin dalam beberapa tahun terakhir mengalami peningkatan seperti pada

Tabel 1. Peningkatan penduduk miskin juga terjadi di Jakarta, pada tahun 2005

terdapat 316.200 penduduk miskin dan meningkat pada tahun 2006 menjadi

1
Pandangan dan Sikap Politik Organisasi Rakyat di Indonesia terhadap International Conference
on Agrian Reform and Rural Development (ICARRD). http://groups.google.co.id/group/eks-
seminari/browse_thread/96a5ccc98578e37c. diakses 25 Agustus 2008.
2
Urbanisasi Pasca Mudik. http://chairulakhmad.wordpress.com/2007/11/15/urbanisasi-pasca-
mudik/. diakses 12 April 2008.
407.100 penduduk miskin berdasarkan data diolah dari Susenas modul konsumsi

2005 dan 2006.

Tabel 1. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin di Indonesia menurut


Daerah, 1996-2007
Jumlah Penduduk Miskin
Tahun (Juta) Persentase Penduduk Miskin
Kota Desa Kota+Desa Kota Desa Kota+Desa
1996 9,42 24,59 34,01 13,39 19,78 17,47
1998 17,60 31,90 49,50 21,92 25,72 24,23
1999 15,64 32,33 47,97 19,41 26,03 23,43
2000 12,30 26,40 38,70 14,60 22,38 19,14
2001 8,60 29,30 37,90 9,76 24,84 18,41
2002 13,30 25,10 38,40 14,46 21,10 18,20
2003 12,20 25,10 37,30 13,57 20,23 17,42
2004 11,40 24,80 36,10 12,13 20,11 16,66
2005 12,40 22,70 35,10 11,68 19,98 15,97
2006 14,49 24,81 39,30 13,47 21,81 17,75
2007 13,56 23,61 37,17 12,52 20,37 16,58
Sumber: Diolah dari data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), 2007

Pemerintah telah banyak merumuskan program penanggulangan kemiskinan

bahkan telah terbentuk suatu Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan

(TKPK) untuk menyelesaikan masalah kemiskinan ini. Kebanyakan program yang

telah dilaksanakan bukan merupakan program yang berkelanjutan dan hanya

membuka akses pangan dan kesehatan pada saat tertentu saja. Program

penanggulangan kemiskinan diperlukan untuk dapat menunjang kelangsungan

hidup penduduk miskin secara berkelanjutan. Berdasarkan data BPS 2007

mengenai garis kemiskinan dan jumlah orang miskin pada tahun 2007 telah

mengalami penurunan seperti pada Tabel 2.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, program apa yang telah berhasil

menurunkan jumlah penduduk miskin. Berdasarkan departemen sosial RI, saat ini

pemerintah sedang menggalakkan program pemberdayaan masyarakat.


Pemberdayaan ini dimaksudkan agar program yang dilakukan pemerintah saat ini

dapat menunjang kehidupan penduduk miskin secara berkelanjutan. Program

pokok dalam pemberdayaan fakir miskin dibagi menjadi dua bagian, yaitu

program penanggulangan kemiskinan kronis dan program penanggulangan

kemiskinan transient serta program terpadu pengembangan desa miskin/adopsi

desa miskin.

Tabel 2. Garis Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin


menurut Daerah, Maret 2006-Maret 2007
Garis Kemiskinan (Rp/Kapita/Bln) Jumlah
Daerah/ Penduduk Persentase
Bukan
Tahun Makanan Total Miskin Penduduk
Makanan
(Juta) Miskin
Perkotaan
Maret 2006 126.163 48.127 174.290 14,49 13,47
Maret 2007 132.258 55.683 187.942 13,56 12,52
Perdesaan
Maret 2006 102.907 27.677 130.584 24,81 21,81
Maret 2007 116.265 30.572 146.837 23,61 20,37
Kota+Desa
Maret 2006 114.125 37.872 151.997 39,30 17,75
Maret 2007 123.992 42.704 166.697 37,17 16,58
Sumber: Diolah dari data Susenas Panel Maret 2006 dan Maret 2007

Program penanggulangan kemiskinan kronis terdiri dari pemberdayaan fakir

miskin di wilayah hutan kemasyarakatan, pemberdayaan fakir miskin di wilayah

perdesaan, pemberdayaan fakir miskin di wilayah sub urban (desa-kota),

pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan, pemberdayaan fakir miskin di

wilayah pesisir pantai, pemberdayaan fakir miskin di wilayah kepulauan terpencil,

pemberdayaan fakir miskin di wilayah perbatasan antar negara, pemberdayaan

fakir miskin di wilayah pertambangan dan industri. Sedangkan program

penanggulangan kemiskinan transient terdiri dari pemberdayaan fakir miskin eks

korban bencana alam, dan pemberdayaan fakir miskin eks bencana sosial (Depsos,

2005).
Penelitian ini ingin mengetahui efektivitas suatu program penanggulangan

kemiskinan di Jakarta, sehingga peneliti merujuk pada program pemberdayaan

fakir miskin perkotaan pada kegiatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). KUBE

merupakan kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin yang

ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan interaksi

dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumberdaya sosial

ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan mengembangkan akses pasar,

melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjamin kemitraan sosial ekonomi

dengan berbagai pihak yang terkait.

KUBE di Jakarta mulai dilaksanakan pada tahun 2005 pada setiap kotamadya

dipilih satu Kecamatan sebagai daerah pelaksanaan. Dalam penelitian ini, Jakarta

selatan dipilih sebagai daerah penelitian berdasarkan data persentase penduduk

bekerja menurut provinsi/kabupaten/kota seperti pada Tabel 3. Jakarta Selatan

memiliki persentase penduduk yang bekerja kurang dari 15 jam, 36 jam dan 42

jam relatif lebih banyak bila dibandingkan dengan wilayah lain.

Hingga tahun 2007, telah terdapat tiga kecamatan sebagai tempat

pelaksanaan KUBE di Jakarta Selatan. Setiap tahunnya jumlah KUBE yang

dibentuk serta dana yang dialokasikan pada Lembaga Keuangan Mikro Sosial

(LKMS) berbeda-beda. Pada tahun 2005 hanya dibentuk 3 KUBE di Kecamatan

Kebayoran Lama, pada tahun 2006 telah dibentuk 40 KUBE di Kecamatan

Pesanggrahan dan pada tahun 2007 dibentuk 13 KUBE di Kecamatan Tebet.

Dalam penelitian ini akan dibahas KUBE yang dibentuk pada tahun 2006 dengan

pertimbangan bahwa KUBE yang dibentuk dalam jumlah yang cukup banyak.
Tabel 3. Persentase Penduduk Bekerja Menurut Provinsi/Kabupaten/Kota
dan Jam Kerja per Minggu, 2006
Kode Kabupaten/kota < 42 jam < 36 jam < 15 jam
1 Kab.Adm. Kepulauan Seribu 18,66 8,24 0
71 Kota Jakarta Selatan 36,1 14,2 3,61
72 Kota Jakarta Timur 34,47 11,65 2,35
73 Kota Jakarta Pusat 30,55 12,55 1,93
74 Kota Jakarta Barat 30,13 12,73 2,01
75 Kota Jakarta Utara 29,05 12,42 2,05
Provinsi DKI Jakarta 32,48 12,73 2,47
Sumber: BPS, 2007

1.2 Perumusan Masalah

Selama ini kemiskinan direduksi menjadi suatu rumusan teknis yang sempit.

Pengukuran kemiskinan yang hanya bertumpu pada indeks konsumsi beras telah

mengurangi konteks dan kompleksitas persoalan yang sebenarnya. Di sisi lain,

respon kebijakan juga simplitis yang hanya memberikan solusi kebijakan yang

bersifat umum. Seakan semua persoalan kemiskinan mempunyai latar belakang

yang seragam (KIKIS, 2000).

Dalam kenyataan, masing-masing wilayah memiliki penyebab kemiskinan

yang berbeda dengan daerah lainnya. Kemiskinan yang dimaksud dapat dinilai

dari berbagai konsep kemiskinan yang ada. Dalam hal ini perlu diketahui

bagaimana kemiskinan yang terjadi di kecamatan pesanggrahan berdasarkan

konsep kemiskinan absolut yang dianut oleh BPS?

Kemiskinan yang selalu menjadi masalah tahunan di Indonesia membuat

pemerintah lebih serius dalam menangani masalah kemiskinan ini. Berbagai

departemen/instansi pemerintah telah merumuskan dan melaksanakan berbagai

program penanggulangan kemiskinan. Dana pemerintah yang dialokasikan untuk

penaggulangan kemiskinan juga bukan dana yang sedikit. Tetapi angka

kemiskinan yang terjadi tetap masih tinggi. Sehingga perlu diketahui bagaimana
efektivitas dari program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh

pemerintah (dalam penelitian ini adalah KUBE yang dilaksanakan di Kecamatan

Pesanggrahan pada tahun 2006)? Serta faktor apa yang mempengaruhi

keberhasilan suatu KUBE?

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah

kemiskinan yang terjadi khususnya di Ibukota. Berdasarkan hasil pengolahan data

yang diperoleh, bagaimana rujukan bagi pemerintah dalam melaksanakan

kebijakan selanjutnya?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan.

2. Menganalisis efektivitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam program

penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan oleh pemerintah di

Kecamatan Pesanggrahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan

KUBE.

3. Merumuskan implikasi kebijakan atas pelaksanaan KUBE dalam program

penanggulangan kemiskinan yang telah dijalankan.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi peneliti terutama dalam

mengaplikasikan teori-teori yang telah diperoleh selama kuliah dan sebagai

pengalaman yang berharga. Hasil penilitian ini diharapkan berguna bagi instansi

terkait (Walikota Jakarta Selatan, Departemen Sosial, Dinas Bina Spiritual dan

Kesejahteraan Sosial dan Lembaga Keuangan Mikro Sosial Kecamatan

Pesanggrahan) sebagai acuan dalam perumusan program-program


penanggulangan kemiskinan lebih lanjut. Serta berguna bagi mahasiswa sebagai

bahan referensi penelitian berikutnya.

1.5 Keterbatasan Penelitian

Penelitian ini menggunakan variabel pendidikan hanya berdasarkan lamanya

dalam tahun seorang responden memperoleh pendidikan formal, belum

membedakan antara Sekolah Menengah Atas (SMA) dengan Sekolah Menengah

Kejuruan (SMK) yang memiliki lama tahun sekolah yang sama tetapi tingkat

keahlian atau pengetahuan atas suatu bidang usaha yang berbeda. Pengalaman

usaha yang digunakan merupakan pengalaman usaha yang luas dan belum

memperhitungkan keterkaitan usaha responden dengan usaha KUBE.


II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Kemiskinan

Kemiskinan adalah kondisi sosial ekonomi warga masyarakat yang tidak

mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi

kemanusiaan. Sedangkan fakir miskin adalah orang yang sama sekali tidak

memiliki sumber mata pencarian dan tidak mempunyai kemampuan memenuhi

kebutuhan pokok yang layak bagi kemanusiaan atau orang yang mempunyai mata

pencaharian tetapi tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok yang layak bagi

kemanusiaan (PP Nomor 42 Tahun 1981pasal 1 ayat (1)).

Kemiskinan adalah kondisi tidak terpenuhinya kebutuhan asasi atau essensial

sebagai manusia. Kebutuhan asasi ini meliputi kebutuhan akan substitensi, afeksi,

keamanan, identitas kultural, proteksi, kreasi, kebebasan, partisipasi, dan waktu

luang. Dengan adanya kebutuhan asasi tersebut, terjadilah berbagai jenis

kemiskinan diantaranya. Kemiskinan substitensi terjadi karena rendahnya

pendapatan, tak terpenuhinya kebutuhan akan sandang, pangan, papan serta

kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. Kemiskinan perlindungan terjadi karena

meluasnya budaya kekerasan atau tidak memadainya sistem perlindungan atas hak

dan kebutuhan dasar. Kemiskinan afeksi terjadi karena adanya bentuk-bentuk

penindasan, pola hubungan eksploitatif antara manusia dengan manusia dan antara

manusia dengan alam. Kemiskinan pemahaman terjadi karena kualitas pendidikan

yang rendah, selain faktor kuantitas yang tidak mampu memenuhi kebutuhan.

Kemiskinan partisipasi terjadi karena adanya diskriminasi dan peminggiran rakyat

dari proses pengambilan keputusan. Kemiskinan identitas terjadi karena


dipaksakannya nilai-nilai yang asing terhadap budaya lokal yang mengakibatkan

hancurnya nilai sosio kultural yang ada (KIKIS, 2000).

Chambers dalam Khairullah (2003) menyatakan kemiskinan yang disebut

kemiskinan mutlak sebagai kondisi hidup yang ditandai dengan kekurangan gizi,

tuna aksara, wabah penyakit, lingkungan kumuh, mortalitas bayi yang tinggi, dan

harapan hidup yang rendah. Kemiskinan merupakan keadaan yang kompleks dan

menyangkut banyak faktor yang saling terkait dan menyebabkan orang-orang

dalam kategori miskin tetap berada dalam perangkap ketidakberdayaan. Faktor

yang saling berkaitan tersebut seperti adanya pendapatan yang rendah, kelemahan

fisik, isolasi atau keterasingan, kerawanan, dan tidak memiliki kekuatan politik

dan tawar-menawar.

Ada tiga macam konsep kemiskinan yang paling sering dijadikan acuan

yakni: kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, dan kemiskinan subyektif (Sunyoto

Usman, 2003). Kemiskinan absolut dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu

yang konkret (a fixed yardstick). Ukuran itu lazimnya berorientasi pada kebutuhan

hidup minimum anggota masyarakat (sandang, pangan, dan papan). Konsep

kemiskinan relatif dirumuskan berdasarkan the idea if relative standart, yaitu

dengan memperlihatkan dimensi tempat dan waktu. Dasar asumsinya adalah

kemiskinan di suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya, dan kemiskinan pada

waktu tertentu berbeda dengan waktu lain. Konsep kemiskinan semacam ini

lazimnya diukur berdasarkan pertimbangan (in terms of judgement) anggota

masyarakat tertentu, dengan berorientasi pada derajat kelayakan hidup. Sedangkan

kosep kemiskinan subyektif dirumuskan berdasarkan perasaan kelompok miskin

itu sendiri. Konsep ini tidak mengenal a fixed yardstick dan tidak
memperhitungkan the idea of relative standard. Kelompok yang menurut kita

berada dibawah garis kemiskinan boleh jadi tidak menganggap dirinya sendiri

miskin dan demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu konsep kemiskinan

semacam ini dianggap lebih tepat apabila dipergunakan untuk memahami

kemiskinan dan merumuskan cara atau strategi yang efektif untuk

penanggulangannya.

Emil Salim dalam Sumodiningrat (1999) mengemukakan sekurangnya ada

lima ciri penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan. Pertama, pada

umumnya mereka tidak mempunyai faktor produksi seperti tanah, modal atau

keterampilan sehingga kemampuan untuk memperoleh pendapatan menjadi

terbatas. Kedua, mereka tidak memiliki kemungkinan untuk memperoleh aset

produksi dengan kekuatan sendiri. Ketiga, tingkat pendidikan mereka umumnya

rendah karena waktu mereka tersita untuk mencari nafkah dan untuk mendapatkan

penghasilan. Keempat, kebanyakan mereka tinggal di pedesaan. Kelima, mereka

yang hidup di kota masih berusia muda dan tidak didukung oleh keterampilan

yang memadai.

Sajogyo (1977) menggunakan hubungan tingkat pengeluaran rumah tangga

dengan ukuran kecukupan pangan dalam menetapkan garis kemiskinan. Tingkat

pengeluaran setara kurang dari 240 kg nilai tukar beras per kapita per tahun

tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang dari 180 kg nilai

tukar beras per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk pedesaan.

Sedangkan tingkat pengeluaran setara kurang dari 360 kg nilai tukar beras per

kapita per tahun tergolong miskin sekali dan tingkat pengeluaran setara kurang

dari 270 kg nilai tukar beras per kapita per tahun tergolong paling miskin untuk
perkotaan. Adapun yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai

tingkat pengeluaran setara kurang dari 320 kg nilai tukar beras per kapita per

tahun untuk pedesaan dan 480 kg nilai tukar beras per kapita per tahun untuk

perkotaan.

Sejak tahun 1976 Badan Pusat Statistik (BPS) membuat perkiraan jumlah

penduduk miskin (dibedakan antara wilayah perdesaan, perkotaan dan provinsi di

Indonesia) dengan berpatokan pada pengeluaran rumah tangga menurut data

SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional). Penduduk miskin ditentukan

berdasarkan pengeluaran atas kebutuhan pokok, yang terdiri dari bahan makanan

maupun bukan makanan yang dianggap dasar dan diperlukan selama jangka

waktu tertentu agar dapat hidup secara layak. Dengan cara ini, maka kemiskinan

diukur sebagai tingkat konsumsi per kapita dibawah suatu standar tertentu yang

disebut sebagai garis kemiskinan. Mereka yang berada di bawah garis kemiskinan

tersebut dikategorikan sebagai miskin. Garis kemiskinan BPS menurut provinsi

dan daerah dapat dilihat pada Lampiran 1. Berdasarkan data tersebut dapat dilihat

bahwa gris kemiskinan untuk masing-masing daerah (kota dan desa) serta provinsi

berada pada tingkat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukkan bahwa adanya

pengeluaran untuk kebutuhan pokok yang berbeda mungkin disebabkan oleh

kebutuhan yang berbeda atau harga yang berbeda untuk kebutuhan pokok yang

sama.

Menurut Sen (1999) dalam Siregar, Wahyuniarti dan Achsani (2007)

kemiskinan lebih terkait pada ketidakmampuan untuk mencapai standar hidup

tersebut dari pada apakah standar hidup tersebut tercapai atau tidak. Seseorang

dapat dikatakan miskin atau hidup dalam kemiskinan jika pendapatan atau
aksesnya terhadap barang dan jasa relatif rendah dibandingkan rata-rata orang lain

dalam perekonomian tersebut. Secara absolut, seseorang dinyatakan miskin

apabila tingkat pendapatan atau standar hidupnya secara absolut berada di bawah

tingkat subsisten. Ukuran subsistensi tersebut dapat diproksi dengan garis

kemiskinan. Secara umum, kemiskinan adalah ketidakmampuan seseorang untuk

memenuhi kebutuhan dasar standar atas setiap aspek kehidupan.

Menurut Muttaqien (2005) secara umum penyebab kemiskinan dapat

dianalisis dari akibat yang terjadi. Kemiskinan yang terjadi di perkotaan dan

pedesaan memiliki penyebab yang khas. Daerah pedesaan cenderung didominasi

lahan pertanian sehingga penyebab kemiskinan paling utama dapat diprediksi dari

sektor tersebut. Kurangnya pemerataan pembangunan saat ini turut memperparah

keadaan. Kemiskinan di perkotaan merupakan imbas dari kemiskinan di pedesaan

yang menyebabkan arus urbanisasi meningkat. Kemampuan kota yang terbatas

namun terus-menerus mendapat input dari pedesaan membuat daya dukung kota

melemah. Puncaknya, berbagai pemukiman kumuh (slum), kriminalitas dan

pengangguran menjadi makin meningkat.

Kemiskinan yang terjadi di pedesaan menyebabkan kesejahteraan masyarakat

menjadi rendah. Pendapatan masyarakat yang rendah dan tingginya tingkat

pengangguran menyebabkan meningkatnya arus migrasi ke kota (urbanisasi). Hal

ini justru menimbulkan masalah baru di desa dan terutama di kota.

Secara umum kemiskinan di pedesaan disebabkan oleh:

Faktor pendidikan yang rendah.

Terjadinya ketimpangan kepemilikan lahan pertanian. Tanah pertanian hanya

dikuasai tuan tanah, sedangkan masyarakat miskin hanya menjadi buruh tani.
Tidak meratanya investasi dibidang pertanian.

Rendahnya perhatian pemerintah dalam bidang pertanian. Selama ini bidang

pertanian selalu termarjinalkan. Pemerintah berorientasi pada pembangunan

sektor industri. Fondasi pertanian ternyata masih rapuh. Kebijakan pertanian

belum mendukung pertanian.

Kebijakan pembangunan bertumpu di kota. Arus lalu lintas uang dan barang

lebih besar terjadi di kota.

Budaya pemerintah yang buruk (bad governance). Hal ini berakibat pada

buruknya pelayanan pemerintah pada publik. Sistem birokrasi mejadi panjang

dan rumit.

Sistem pertanian yang masih menggunakan cara tradisional.

Tingkat kesehatan yang mengkhawatirkan.

Rendahnya produktivitas masyarakat dibidang pertanian.

Budaya masyarakat yang tidak disiplin, kurang suka bekerja keras, dan

cenderung agraris.

Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya kemiskinan di perkotaan antara

lain:

Terjadinya arus urbanisasi besar-besaran dari desa. Migrasi yang besar tanpa

disertai peningkatan daya dukung kota akan menyebabkan efek negatif bagi

kota tersebut.

Tingkat pendidikan yang rendah. Semakin rendah tingkat pendidikan

seseorang maka semakin sulit melakukan mobilitas vertikal dalam hal

pekerjaan dan peran dalam masyarakat.

Tingginya angka pengangguran, terutama pada usia produktif.


Penataan kota yang belum baik, meliputi sistem transportasi, pemukiman dan

lain-lain.

Regulasi atau peraturan yang kurang mendukung mulai dari sitem RTRW

(Rancangan Tata Ruang dan Wilayah) dan peraturan investasi yang kurang

mendukung.

Tata pemerintahan yang buruk (bad governance) sehingga pelayanan publik

(public service) menjadi buruk dan mendukung terjadinya Korupsi, Kolusi dan

Nepotisme (KKN).

Sistem perpolotikan yang tidak stabil, terutama terjadi di tingkat daerah.

Terjadinya ketidakadilan dalam pendapatan antara berbagai jenis pekerjaan

dan berbagai golongan.

Rencana pembangunan yang belum berpihak kepada rakyat kecil dan

cenderung ke arah konglomerasi.

Kebijakan otonomi daerah. Kemampuan tiap daerah berbeda. Daerah kaya

memiliki kemungkinan lebih besar membuat rakyatnya lebih sejahtera. Di

daerah miskin, berlaku hal sebaliknya.

Secara umum, kemiskinan di pedesaan dan di perkotaan memiliki faktor

penyebab yang hampir sama. Kemiskinan di pedesaan akan berimbas pada kota

melalui urbanisasi. Sebagian besar kemiskinan terjadi di pedesaan. Namun

kemiskinan di perkotaan adalah hal yang paling mudah dipantau karena arus

informasi lebih baik daripada di pedesaan. Kemiskinan di wilayah pedesaan dan

perkotaaan dapat dijabarkan dalam indikator-indikator yang dapat diihat pada

Tabel 4.
Tabel 4. Indikator Kemiskinan Pedesaan dan Perkotaan
Indikator Kemiskinan Pedesaan Indikator Kemiskinan Perkotaan
Kurangnya kesempatan memiliki lahan Kurangnya kesempatan mendapatkan
pertanian. Pertanian merupakan mata pekerjaan yang layak dan dapat
usaha paling utama bagi penduduk memenuhi kehidupan yang standar.
pedesaan. Kesempatan pendidikan yang kurang
Kurangnya modal bagi penduduk adil. Biasanya lebih didominasi
pedesaan. Arus uang di wilayah kelompok kaya.
pedesaan tidak setinggi di kota. Hal ini Terjadinya ketimpangan pendapatan
wajar, mengingat secara umum kota antara golongan kaya dan golongan
lebih menggantungkan pada miskin.
perdagangan dan perindustrian sehingga Tata pemerintahan yang buruk (bad
lalu lintas uang lebih besar daripada di governance) menyebabkan lemahnya
desa yang menggantungkan hidup pada pelayanan kepada publik (public
pertanian. service) dan terjadinya korupsi, kolusi
Rendahnya tingkat pendapatan dan nepotisme.
masyarakat desa. Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar
Terbatasnya lapangan pekerjaan, (sandang, pangan dan papan) yang
biasanya hanya menggantungkan pada memadai. Biasanya kemiskinan akan
pertanian dan kelautan. menimbulkan pemukiman kumuh
Rendahnya kualitas kesehatan (slum), kekurangan makanan akan
masyarakat. menimbulkan tingkat kesehatan yang
Kurangnya kesempatan memperoleh rendah dan rentan terhadap penyakit.
kredit usaha. Akses informasi yang kurang.
Kurangnya produktivitas usaha. Tingkat kriminalitas yang tinggi.
Kurangnya pendidikan yang berkualitas. Terbatasnya sumberdaya ekonomi
Kurang terpenuhinya kebutuhan dasar strategis. Mereka akan menempati
(sandang, pangan dan papan). pekerjaan yang memiliki penghasilan
Sistem pertanian masih bertumpu pada rendah. Biasanya tersebar pada sektor
cara tradisional. informal.
Sistem Pemerintahan yang buruk (bad Kurangnya partisipasi dalam
governance), terjadinya korupsi, kolusi perpolitikan/pemerintahan
dan nepotisme. menyebabkan kurang berperan dalam
Kurangnya akses akan informasi. pengambilan keputusan publik.
Kurangnya akses mendapatkan air Sistem penataan kota yang kacau mulai
bersih. dari perumahan, perkantoran,
Lingkungan yang kurang mendukung, transportasi dan regulasi.
seperti kekeringan berkepanjangan.
Kurangnya partisipasi rakyat dalam
pengambilan keputusan publik pada
tingkat yang lebih tinggi.
Kurangnya budaya menabung, investasi
dan disiplin dalam masyarakat.
2.2 Program Penanggulangan Kemiskinan

Masalah kemiskinan merupakan salah satu masalah penting yang harus

ditanggulangi oleh pemerintah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945

sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, yaitu memajukan

kesejahteraan umum dengan melakukan pemberdayaan masyarakat. Sasaran

pemberdayaan itu adalah terciptanya manusia Indonesia seutuhnya dan

masyarakat secara keseluruhan. Dalam sasaran jangka panjang kedua sasaran ini

ditegaskan kembali dengan menggaris bawahi terciptanya kualitas manusia dan

kualitas masyarakat Indonesia yang maju, moderen dan mandiri dalam suasana

tentram dan sejahtera lahir dan batin, dalam tata kehidupan masyarakat, bangsa

dan negara berdasarkan Pancasila (BPS, 2005).

Telah banyak dilakukan berbagai program untuk menanggulangi kemiskinan

yang terjadi di Indonesia, diantaranya program terpadu Program Keluarga

Sejahtera (Prokesra) untuk Memantapkan Program Menghapus Kemiskinan

(MPMK) yang dirancang oleh Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordonasi

Keluarga Berencana Nasional pada tahun 1997, program pembangunan keluarga

sejahtera merupakan kelanjutan dari upaya membangun keluarga kecil yang

bahagia dan sejahtera yang dimulai pada tahun 1970, program Inpres Desa

Tertinggal (IDT) yang pelaksanaanya dikoordinasikan oleh Departemen Dalam

Negeri (Depdagri) yang bertujuan membantu 22,5 juta jiwa penduduk miskin,

Program Kesejahteraan Sosial (Prokesos) berperan dan memberikan sumbangan

kepada penghapusan kemiskinan dan program pembangunan keluarga dan

penduduk melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE) serta upaya pengembangan

wilayah melalui Rehabilitasi Sosial Daerah Kumuh (RSDK).


Gambar 1. Pola Penyaluran Dana Program

Terdapat paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan. Sasaran dalam

paradigma ini adalah pembangunan manusia, langkah-langkah yang digunakan

dalam melakukan perubahan struktur masyarakat antara lain: kesempatan

kerja/berusaha, peningkatan kapasitas/pendapatan, perlindungan sosial/

kesejahteraan, dan yang menjadi fokus adalah penduduk miskin produktif pada

kisaran usia antara 15-55 tahun. Dalam paradigma ini peranan stakeholder dibagi

menjadi empat bagian yaitu pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai

pelaku usaha, perbankan sebagai sumber pembiayaan, dan Konsultan Keuangan

Mitra Bank (KKMB)/Business Development Services (BDS) sebagai

pendamping. Tujuan yang ingin dicapai adalah masyarakat yang maju, mandiri,

sejahtera dan berkeadilan. Strategi penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan

pemberdayaan masyarakat yaitu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat

melalui peran aktif masyarakat dalam mewujudkan pemenuhan kebutuhan hidup,

meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi serta memperkukuh martabat

manusia dan bangsa. Hal ini akan dicapai dengan dua upaya yaitu mengurangi

beban orang miskin dan meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat

miskin produktif. Pola penyaluran dana program dapat dilihat lebih jelas pada
Gambar 1. sedangkan strategi penanggulangan kemiskinan yang dilakukan pada

Gambar 2.3

Gambar 2. Strategi Penanggulangan Kemiskinan melalui


Pemberdayaan Usaha Mikro

2.2.1 Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP)

Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) merupakan

program pemerintah yang secara substansi berupaya dalam penanggulangan

kemiskinan melalui konsep memberdayakan masyarakat dan pelaku pembangunan

lokal lainnya, termasuk Pemerintah Daerah dan kelompok peduli setempat,

sehingga dapat terbangun "gerakan kemandirian penanggulangan kemiskinan dan

pembangunan berkelanjutan", yang bertumpu pada nilai-nilai luhur dan prinsip-

prinsip universal. [Dikutip dari : Buku Pedoman Umum P2KP-3, Edisi Oktober

2005]4.

3
Prof.Dr.Gunawan W. Program Penanggulangan Kemiskinan.
http://kfm.depsos.go.id/mod.php?mod=userpage&page_id=1. diakses 19 Agustus 2008.
4
Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP).
http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=1&catid=5&. diakses 29 agustus 2008.
Tujuan program ini adalah terbangunnya lembaga masyarakat berbasis nilai-

nilai universal kemanusiaan, prinsip-prinsip kemasyarakatan dan berorientasi

pembangunan berkelanjutan, yang aspiratif, representatif, mengakar, mampu

memberikan pelayanan kepada masyarakat miskin, mampu memperkuat

aspirasi/suara masyarakat miskin dalam proses pengambilan keputusan lokal, dan

mampu menjadi wadah sinergi masyarakat dalam penyelesaian permasalahan

yang ada di wilayahnya; Meningkatnya akses bagi masyarakat miskin perkotaan

ke pelayanan sosial, prasarana dan sarana serta pendanaan (modal), termasuk

membangun kerjasama dan kemitraan sinergi ke berbagai pihak terkait, dengan

menciptakan kepercayaan pihak-pihak terkait tersebut terhadap lembaga

masyarakat (BKM); Mengedepankan peran Pemerintah kota/kabupaten agar

mereka makin mampu memenuhi kebutuhan masyarakat miskin, baik melalui

pengokohan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) di wilayahnya, maupun

kemitraan dengan masyarakat serta kelompok peduli setempat. Kelompok sasaran

P2KP mencakup empat sasaran utama, yakni masyarakat, pemerintah daerah,

kelompok peduli setempat dan para pihak terkait (stakeholders)5.

2.2.2 Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin (KUBE-FM) adalah himpunan dari

keluarga yang tergolong miskin dengan keinginan dan kesepakatan bersama

membentuk suatu wadah kegiatan, tumbuh dan berkembang atas dasar prakarsa

sendiri, saling berinteraksi antara satu dengan yang lain, dan tinggal dalam satuan

wilayah tertentu dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas anggotanya,

meningkatkan relasi sosial yang harmonis, memenuhi kebutuhan anggota,

5
Konsep P2KP. http://www.p2kp.org/aboutdetil.asp?mid=4&catid=2&. diakses 29 Agustus 2008
memecahkan masalah sosial yang dialaminya dan menjadi wadah pengembangan

usaha bersama (Depsos RI, 2005).

Tujuan program secara umum adalah berupaya untuk meningkatkan kualitas

hidup dan kesejahteraan sosial keluarga miskin melalui program pemberdayaan

dan pendayagunaan potensi serta sumber kesejahteraan sosial bagi

penanggulangan kemiskinan di Indonesia. Secara khusus program ini bertujuan :

1. Meningkatkan pendapatan keluarga miskin

2. Mewujudkan kemandirian usaha sosial-ekonomi keluarga miskin

3. Meningkatkan aksesibilitas keluarga miskin terhadap pelayanan sosial dasar,

fasilitas pelayanan publik dan sistem jaminan kesejahteraan sosial

4. Meningkatkan kepedulian dan tanggunga jawab sosial masyarakat dan dunia

usaha dalam penanggulangan kemiskinan

5. Meningkatkan ketahanan sosial masyarakat dalam mencegah masalah

kemiskinan

6. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial bagi

keluarga miskin.

Sasaran program ini adalah keluarga fakir miskin yang tidak mempunyai

sumber pencaharian atau memiliki mata pencaharian tetapi tidak mencukupi untuk

memenuhi kebutuhan dasar (pangan, sandang, air bersih, kesehatan dan

pendidikan). Kriteria yang menjadi kelompok sasaran program adalah kepala atau

anggota yang mewakili keluarga fakir miskin, memiliki identitas kependudukan,

mepunyai usaha atau berniat usaha, usia produktif dan memiliki keterampilan,

mampu bertanggung jawab sendiri, bersedia mematuhi aturan KUBE FM

(Kelompok Usaha Bersama Fakir Miskin).


Landasan hukum pelaksanaan program bantuan sosial fakir miskin melalui

KUBE FM meliputi:

1. Undang-Undang Dasar 1945 pasal 34

2. Undang-Undang Nomor 6 tahun 1974 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Kesejahteraan Sosial

3. Peraturan Pemerintah RI Nomor 42 tahun 1981 tentang Pelayanan

Kesejahteraan Sosial bagi Fakir Miskin

4. Peraturan Pemerintah RI Nomor 106 tahun 2000 tentang Pengelolaan dan

Pertanggungjawaban Keuangan dalam pelaksanaan dekonsentrasi dan Tugas

Pembantuan

5. Peraturan Pemerintah RI Nomor 39 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan

Dekonsentrasi

6. Keputusan Presiden RI Nomor 124 tahun 2001 dan Nomor 8 tahun 2002

tentang Komite Penanggulangan Kemiskinan

7. Keputusan Menteri Sosial RI Nomor 50/PENGHUK/2002 tentang

penanggulangan kemiskinan

8. Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 82/HUK/2005 tentang Organisasi dan Tata

Kerja Departemen Sosial RI.

Sebuah KUBE FM dalam pelaksanaan kegiatannya mengalami beberapa

tahap, berdasarkan kriteria pentahapan perkembangan KUBE-FM dari Dinas

Sosial, maka tahap perkembangannya sebagai berikut (Andayasari, 2006).

1. Tahap Tumbuh

a. Sudah ada pendamping KUBE (Pembina Usaha dan Unsur Aparat Desa)

b. Pernah mengikuti pelatihan


c. Pengurus dan organisasi KUBE telah dibentuk sebanyak 10 orang

d. Sudah menerima bantuan permakanan

e. Telah menerima bantuan UEP (Usaha Ekonomi Produktif)

f. Kegiatan kelompok baru berjalan

2. Tahap Berkembang

a. Kegiatan kelompok sudah dijalankan sesuai dengan kepengurusan

b. Keuntungan UEP sudah ada untuk kesejahteraan anggota dan IKS (Iuran

Kesetiakawanan Sosial)

c. Kepercayaan dan harga diri anggota KUBE dan keluarga meningkat

d. Pergaulan antara anggota KUBE dengan masyarakat sudah semakin positif

e. Hasil usaha sudah didapat

3. Tahap maju/Mandiri

a. Keuntungan UEP meningkat sehingga modal semakin besar

b. Mampu menyisihkan dana IKS untuk anggota kelompok, keluarga miskin

lainnya dan berpartisipasi dalam pembangunan desa

c. Manajemen UEP sudah dilekola dengan baik

d. Hubungan bisnis dengan lembaga ekonomi dan pengusaha baik dan

menguntungkan.

e. Hubungan sosial dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial sudah

semakin baik dan melembaga

f. Kegiatan UEP semakin maju dan berkembang

KUBE bagi fakir miskin merupakan sarana untuk meningkatkan Usaha

Ekonomi Produktif (khususnya dalam peningkatan pendapatan), memotivasi

warga miskin untuk lebih maju secara ekonomi dan sosial, meningkatkan interaksi
dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber sosial

ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses pasar

dan menjalin kemitraan sosial ekonomi dengan pihak terkait. Kegiatan usaha

diberikan dalam bentuk pemberian bantuan modal usaha dan sarana prasarana

ekonomi.

Kelembagaan KUBE-FM ditandai dengan: (1) Jumlah anggota KUBE yaitu

diawali oleh pembentukan kelompok-kelompok yang terdiri dari 5-10 orang. Satu

kelompok KUBE-FM dapat memilih anggotanya yang bukan termasuk kategori

fakir miskin (poorest), namun masih termasuk kategori miskin (poor) atau hampir

miskin (near poor) dan mempunyai kemampuan serta potensi; (2) Ikatan

pemersatu, yaitu kedekatan tempat tinggal, jenis usaha atau keterampilan anggota,

ketersediaan sumber, latar belakang kehidupan budaya, memiliki motivasi yang

sama, keberadaan kelompok masyarakat yang sudah tumbuh berkembang lama;

(3) Struktur dan kepengurusan KUBE, yang terdiri dari Ketua, Sekretaris dan

bendahara. (Depsos RI, 2005). Dalam penelitian ini akan dibahas efektivitas dari

Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dalam upaya pemberdayaan fakir miskin di

wilayah perkotaan. Program pemberdayaan fakir miskin di wilayah perkotaan

bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan taraf kesejahteraan sosial

keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan. Sasaran program adalah

keluarga fakir miskin yang tinggal di wilayah perkotaan, termasuk fakir miskin di

pemukiman kumuh, pemukiman ilegal, kawasan jasa dan perdagangan dan

bantaran sungai (Depsos, 2005).

Komponen kegiatan pemberdayaan fakir miskin meliputi: (1) Penjajakan

lokasi dan pemetaan kebutuhan; (2) Sosialisasi program; (3) Pendampingan


sosial; (4) Identifikasi dan seleksi; (5) Studi kelayakan usaha; (6) Bantuan sosial

berupa santunan hidup dan akses jaminan kesejahteraan sosial, bantuan modal

usaha ekonomi produktif melalui kelompok usaha bersama (KUBE), penguatan

modal usaha melalui lembaga keuangan mikro (LKM), rehabilitasi sosial rumah

tidak layak huni, penataan sarana lingkungan kumuh, insentif tabungan sejahtera,

fasilitas usaha kesejahteraan sosial; (7) Pengembangan kemitraan sosial dengan

lembaga/instansi sektor lain, perguruan tinggi, dunia usaha, LSM/Orsos dan

kalangan perbankan; Serta (8) Monitoring dan evaluasi (Depsos, 2005).

2.3 Efektivitas

Ilham, Siregar, dan Priyarsono. (2006) menyatakan efektivitas dapat

diartikan sebagai suatu usaha untuk mencapai hasil yang maksimal dengan

memanfaatkan sumberdaya yang ada. Kaitannya dengan kebijakan, menurut

Ramdan, Yusran dan Darusman (2003) dalam Ilham dkk. (2006) ukuran

efektivitas kebijakan adalah: (1) Efisiensi: suatu kebijakan harus mampu

meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya secara optimal; (2) Adil: bobot

kebijakan harus ditempatkan secara adil, yakni kepentingan publik tidak

terabaikan; (3) Mengarah Kepada insentif: suatu kebijakan harus mengarah

kepada atau merangsang tindakan dalam perbaikan dan peningkatan sasaran yang

ditetapkan; (4) Diterima oleh Publik: oleh karena diperuntukkan bagi kepentingan

publik maka kebijakan yang baik harus diterima oleh publik; dan (5) Moral: suatu

kebijakan harus dilandasi oleh moral yang baik.

Ukuran efektivitas yang digunakan Sanim (1998) dan Simatupang (2002)

dalam Ilham dkk. (2006) adalah pendekatan ekonometrika dari nilai elastisitas dan

tingkat signifikansi peubah independent terhadap peubah dependen. Jika


pengaruhnya signifikan dan elastis, maka pengaruh peubah independen terhadap

peubah dependen dikatakan efektif.

Dalam penelitian ini untuk menilai efektivitas program kelompok usaha

bersama (KUBE) daerah perkotaan dalam upaya penanggulangan kemiskinan

digunakan uji perbedaan dua mean sampel berpasangan yaitu melihat adanya

perbedaan pendapatan sebelum bergabung dengan KUBE dan pendapatan setelah

bergabung dangan KUBE.

2.4 Hasil Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai program penanggulangan kemiskinan telah banyak

dilakukan. Santosa, Hidayat dan Indroyono (2003) telah melakukan evaluasi

dampak program penanggulangan kemiskinan dengan menggunakan metode

ESCAPE (Economic and Social Commision for Asian and Pasific). Program

penanggulangan kemiskinan yang dievaluasi meliputi program Inpres Desa

Tertinggal (IDT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), dan Proyek

Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang ketiganya dikategorikan

sebagai Program Kerja Mandiri dan Program Padat Karya. Kesimpulan yang

diperoleh yaitu pendapatan peserta Program Kerja Mandiri meningkat sedangkan

Program Padat Karya menurun, efisiensi penyaluran program dari Program Kerja

Mandiri lebih tinggi dibandingkan penyaluran program dari Program Padat Karya,

dan kelangsungan dana untuk program Kerja Mandiri lebih tinggi dibanding

kelangsungan dana untuk Program Padat Karya.

Kemiskinan di perkotaan dapat dikurangi dengan pendekatan peningkatan

kebijakan tingkat upah riil, peningkatan pertumbuhan ekonomi, penambahan

belanja pemerintah di sektor jasa dan peningkatan stok pangan nasional. Hal ini
merupakan hasil penelitian Nugroho (2006) dengan membangun model sistem

persamaan simultan dengan persamaan menggunakan metode 2SLS, dimana hasil

pendugaan parameter model digunakan untuk melakukan simulasi skenario

kebijakan yang relevan.

Saidi (2007) telah melakukan penelitian mengenai strategi peningkatan

efektivitas penyaluran Dana Usaha Desa/Kelurahan untuk penanggulangan

kemiskinan (Kajian di Kota Pekanbaru-Provinsi Riau). Hasil kajian menunjukkan

bahwa pinjaman modal usaha dari Dana Usaha Desa/Kelurahan efektif dalam

menanggulangi kemiskinan.

Efektivitas pengelolaan kredit mikro proyek penanggulangan kemiskinan

perkotaan (P2KP) telah dilakukan oleh Tarmidi (2006). Kesimpulan yang

diperoleh adalah perubahan pendapatan berdasarkan jenis usaha dan sumber

penerimaan menunjukkan angka yang positif setelah mendapat kredit mikro

P2KP. Namun, secara umum hasil pengujian t-hitung belum menunjukkan

perbedaan yang nyata terhadap perubahan pendapatan, kecuali pada jenis usaha

jasa komersial yang memiliki pengaruh nyata terhadap perubahan pendapatan. Hal

ini dapat diartikan bahwa peranan kredit mikro belum menunjukkan pengaruh

yang besar dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin (baik usaha maupun

non usaha). Pengaruh pendapatan ini menunjukkan bahwa tujuan kredit mikro

dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin belum tercapai.

Penelitian yang dilakukan oleh Permanda (2007) menggunakan regresi

berganda dengan dummy kredit menyimpulkan bahwa kredit mikro P2KP hanya

berperan dalam menambah input, sehingga produksi dan penerimaan meningkat.

Hal ini ditunjukkan dari adanya peningkatan rata-rata biaya dan penerimaan yang
meningkat setelah penerimaan kredit. Jadi peranan kredit yang diperoleh adalah

melalui pergerakan disepanjang kurva karena kredit tidak digunakan dalam

meningkatkan teknologi produksi. Kemitraan adalah salah satu strategi dalam

pengembangan Usaha Kecil dan Menengah.

Nurhayati (2007) menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat

kemiskinan dengan menggunakan model ekonometrika persamaan simultan,

menghasilkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan

adalah pendapatan dan pendidikan pada taraf nyata 10 persen serta variabel

jumlah pengangguran dan tingkat ketergantungan berpengaruh nyata satu persen.

Rahmawati (2006) telah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan dengan menggunakan analisis

regresi logistik, menghasilkan kesimpulan bahwa faktor-faktor yang

mempengaruhi peluang suatu rumah tangga berada dalam kemiskinan adalah

peubah jumlah anggota rumah tangga yang termasuk tenaga kerja, umur,

pendidikan, jenis kelamin, dan pendapatan.

Penelitian mengenai kelompok usaha bersama (KUBE) telah dilakukan oleh

beberapa orang, diantaranya yaitu Wahyuni (2005) dan Andayasari (2006).

Wahyuni telah meneliti model pengembangan kelompok usaha bersama (KUBE).

Hasil kajian menujukkan bahwa aktivitas anggota di dalam KUBE mampu

memberikan manfaat untuk menciptakan lapangan kerja dan dapat meningkatkan

pendapatan mereka. Terdapat tujuh faktor yang mempengaruhi keberhasilan

KUBE yaitu faktor keanggotaan, jenis usaha, permodalan, motif anggota,

penegasan struktur kelompok, penegasan norma kelompok dan kemitraan dengan

pihak luar. Proses pemberdayaan dalam KUBE berawal pada saat pembentukkan
kelompok. KUBE yang berdaya adalah KUBE yang dilandasi oleh motif yang

sama dari anggotanya dan melaksanakan usaha secara berkelompok bukan

perorangan.

Andayasari (2006) menemukan suatu cara mengelola Kelompok Usaha

Bersama-Fakir Miskin (KUBE-FM) bidang konveksi yaitu dengan cara

menyatukan kegiatan konveksi di satu tempat yang diharapkan dapat lebih

memudahkan dalam menjalankan kegiatan KUBE-FM. Upaya ini mencoba

mewujudkan bentuk kolaborasi dalam mengentaskan masalah kemiskinan berupa

tata kelola yang baik.

Penelitian mengenai KUBE yang telah dilakukan baru secara kualitatif.

Dalam penelitian ini akan melihat secara kuantitatif mengenai efektivitas dari

KUBE yang dilihat dari segi pendapatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi

keberhasilan KUBE. Hal ini dilakukan untuk mengetahui gambaran yang lebih

rinci mengenai keberhasilan dan kendala dalam pelaksanaan program KUBE.


III. KERANGKA PEMIKIRAN

3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis

3.1.1 Analisis Regresi

Istilah regresi pertama kali digunakan oleh Sir Francis Galton (1822 1911)

yang membandingkan tinggi badan anak laki-laki dengan tinggi badan ayahnya.

Galton menemukan bahwa tinggi badan anak laki-laki dari ayah yang tinggi

setelah beberapa generasi cenderung menurun (regressed) mendekati nilai tengah

populasi. Sekarang istilah regresi ditetapkan pada semua jenis peramalan dan

tidak harus berimplikasi pada peramalan yang mendekati nilai tengah populasi.

Analisis regresi berkenaan dengan studi ketergantungan satu variabel,

variabel tak bebas, pada satu atau lebih variabel lain, variabel yang menjelaskan

(explationary variabels), dengan maksud menaksir dan atau meramalkan nilai

rata-rata hitung (mean) atau rata-rata populasi varibel tak bebas, dipandang dari

segi nilai yang diketahui atau tetap (dalam pengambilan sampel yang berulang

variabel yang menjelaskan). Persamaan regresi dinyatakan sebagai persamaan

matematika yang memungkinkan kita meramalkan nilai-nilai peubah tak bebas

dari suatu peubah bebas (Walpole, 1995). Ramanathan (1998) menyatakan bahwa

model regresi linear adalah model yang menunjukkan hubungan antara variabel

dependent dengan satu atau lebih variabel independent.

Regresi menunjukkan hubungan kausalitas (sebab-akibat) antara dua macam

variabel, yaitu: a) variabel independent yang disebut sebagai variabel penjelas dan

secara umum disimbolkan dengan X dan b) variabel dependent yaitu varibel

terkait yang nilainya dipengaruhi atau tergantung pada variabel independent dan

disimbolkan dengan Y. Regresi sendiri memilki dua bentuk yaitu regresi sedehana
dimana terdapat satu variabel panjelas dan regresi berganda yang mempunyai

lebih dari satu variabel penjelas.

Dalam analisis regresi terdapat beberapa asumsi-asumsi mendasar yang harus

dipenuhi, jika tidak pengujian akan menjadi inefisien. Model yang diuji harus

dilihat apakah termasuk BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) atau tidak.

Model yang termasuk BLUE harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

a) normalitas, uji ini dilakukan dengan membuat histogram dan scaterplot, apabila

histogram membentuk lonceng dan keberadaan titik-titik pada scaterplot

menyebar maka model terdistribusi normal

b) lineraritas. Uji ini dilakukan dengan melihat scaterplot, jika plot antara nilai

residual terstandarisasi tidak membentuk suatu pola tertentu (acak) maka

memenuhi asumsi linearitas

c) homoskedastisitas, adalah kesamaan varians atau penyebaran yang sama.

Pendektesian kesamaan varians salah satunya dapat dilakukan dengan uji Park.

d) non multikolinearitas, dilakukan dengan melihat niai VIF (Variance Inflation

Factors). Jika VIF < 10, maka tidak terdapat multikolinearitas

e) non autokorelasi, dilakukan untuk melihat adanya korelasi antara serangkaian

data menurut waktu (time series) atau menurut ruang (cross section).

Pendektesian autokorelasi dilakukan dengan pengujian Durbin Watson (DW).

Bentuk dasar dari persamaan regresi sederhana secara umum berbentuk linear

yang menunjukkan bahwa nilai atau parameter dari koefisien regresi dan

berhubungan linear.

Yt t X t (3.1)
Dimana Y adalah vaiabel dependent dan X variabel independen dengan t

menunjukkan pada waktu time series atau cross section data. sedangkan nilai

dan adalah parameter yang diestimasi. Dalam hal ini menyatakan intersep

atau perpotongan dengan sumbu tegak dan adalah kemiringan gradiennya.

Sedangkan pengertian dan spesifik tergantung pada fungsinya, dinyakaan

sebagai error yang bersifat random atau acak (galat acak) yang disebabkan oleh

empat efek yaitu penghilangan variabel, non linearitas, kesalahan pengukuran dan

efek yang tidak dapat diprediksi lainnya (Ramanathan, 1998).

3.1.2 Permasalahan OLS

Dalam menggunakan metode OLS dapat ditemukan beberapa permasalahan

yang dihadapi, yaitu masalah autokorelasi, heteroskedastisitas dan

multikolinearitas.

1. Autokorelasi

Dalam berbagai penelitian seringkali terdeteksi adanya hubungan serius

antara gangguan estimasi satu observasi dengan gangguan estimasi observasi yang

lain. Nisbah antara observasi inilah yang disebut sebagai masalah autokorelasi.

Adanya autokorelasi akan menyebabkan terjadinya:

1. Dugaan parameter tidak bias.

2. Nilai galat baku terautokorelasi, sehingga ramalan tidak efisien.

3. Ragam galat terbias.

4. Terjadi pendugaan kurang pada ragam galat (standar error underestimated),

sehingga Sb underestimated. Oleh karena itu, t overestimated cenderung lebih

besar dari yang sebenarnya.


Gejala autokorelasi dapat dideteksi dengan uji Breusch Godfrey Serrial

Correlation Langrange Multiplier Test dengan hipotesis sebagai berikut:

H 0 : 0 (tidak terdapat serial korelasi)

H1 : 0 (terdapat serial korelasi)

Kriteria uji yang digunakan untuk melihat adanya autokorelasi adalah

sebagai berikut.

1. Apabila nilai obs*R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang digunakan

maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah

autokorelasi.

2. Apabila nilai obs*R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang digunakan

maka model persamaan yang digunakan mengalami masalah autokorelasi.

Solusi dari masalah autokorelasi yaitu dihilangkannya variabel yang

sebenarnya berpengaruh terhadap variabel tak bebas. Jika terjadi kesalahan dalam

spesifikasi model, hal ini dapat diatasi dengan mentransformasi model, misalnya

dari model linear menjadi nonlinear atau sebaliknya.

2. Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas adalah suatu penyimpangan asumsi OLS dalam bentuk

varians gangguan estimasi yang dihasilkan oleh estimasi OLS yang tidak bernilai

konstan. Heteroskedastisitas tidak merusak sifat ketidakbiasan dan konsistensi

dari penaksir OLS tetapi penaksir yang dihasilkan tidak lagi mepunyai varians

minimum (efisien). Menurut Gujarati (1993), jika terjadi heteroskedastisitas maka

akan berakibat sebagai berikut.

1. Estimasi dengan menggunakan OLS tidak akan memiliki varians yang

minimum atau estimator tidak efisien.


2. Prediksi (nilai Y untuk X tertentu) dengan estimator dari data yang sebenarnya

akan mempunyai varians yang tinggi sehingga prediksi menjadi tidak efisien.

3. Tidak dapat diterapkannya uji nyata koefisien atau selang kepercayaan dengan

menggunakan formula yang berkaitan dengan nilai varians.

Untuk memeriksa keberadaan heteroskedastisitas salah satunya dapat

ditunjukkan dengan uji Hal White, dimana tidak perlu asumsi normalitas dan

relatif mudah. Kriteria uji yang digunakan untuk melihat adanya

heteroskedastisitas adalah sebagai berikut.

a. Apabila nilai probability obs*R-squared-nya lebih besar dari taraf nyata yang

digunakan maka model persamaan yang digunakan tidak mengalami masalah

heteroskedastisitas.

b. Apabila nilai probability obs*R-squared-nya lebih kecil dari taraf nyata yang

digunakan maka model persamaan yang digunakan mengalami masalah

heteroskedastisitas.

Solusi dari masalah ini adalah mencari transformasi model asal sehingga

model yang baru akan memiliki error-term dengan varians yang konstan.

3. Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah adanya hubungan linear yang sempurna atau pasti

diantara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model regresi.

Tanda-tanda adanya multikoliniearitas adalah sebagai berikut.

1. Tanda tidak sesuai dengan yang diharapkan.

2. R-squared-nya tinggi tetapi uji individu tidak banyak bahkan tidak ada yang

nyata.

3. Korelasi sederhana antara variabel individu tinggi (rij tinggi).


4. R2 lebih kecil dari rij2 menunjukkan adanya masalah multikolinearitas.

Konsekuensi multikolinearitas adalah estimasinya tidak dapat ditentukan dan

galat baku menjadi tinggi sehingga prediksi menjadi tidak benar. Kriteria

ekonometrik untuk melihat adanya multikolinearitas diantara peubah-peubah

penjelas dalam suatu persamaan dapat dilihat dari R-squared dan kuadrat korelasi

sederhana peubah-peubah penjelas (r2) yang dirumuskan sebagai berikut.

(nX 1 X 2 ) (X 1 X 2 )
rX 1 X 2 (3.2)
nX 12 (X 1 ) 2 nX 22 (X 2 ) 2

bi YX1 b2YX 2 ... bk YX k


R 2Y , X i ,..., X k (3.3)
Y 2

Dimana:

rX 1 X 2 = koefisien korelasi X 1 dan X 2

X 1 dan X 2 = peubah-peubah penjelas

Y = peubah tak bebas

R 2Y , X i ,..., X k = koefisien determinasi

Untuk menguji adanya multikolinearitas adalah sebagai berikut.

1. Jika nilai R-squared lebih besar dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubah-

peubah penjelas (r2), maka tidak ada masalah multikolinearitas.

2. Jika nilai R-squared lebih kecil dari nilai kuadrat korelasi sederhana peubah-

peubah penjelas (r2), maka terdapat masalah multikolinearitas.

Solusi dari permasalahan multikolinearitas yaitu menggunakan extraneous

information atau informasi sebelumnya, mengkombinasikan data cross-sectional

dan data time-series, meninggalkan variabel yang sangat berkorelasi,

mentransformasikan data dan mendapatkan tambahan data baru.


3.2 Kerangka Pemikiran Operasional

Tingginya tingkat urbanisasi ke kota Jakarta mengakibatkan kurangnya

kesempatan kerja yang tersedia. Hal ini menimbulkan banyaknya orang yang

memiliki penghasilan di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan untuk kota

Jakarta. Penghasilan yang rendah ini dapat disebabkan oleh kurang produktifnya

seseorang dalam kegiatan ekonomi produktif seperti kurangnya jam kerja yang

tersedia mengakibatkan pendapatan yang rendah. Jam kerja yang rendah ini

disebabkan oleh keterbatasan yang dimiliki oleh masyarakat dalam hal

pendidikan, keterampilan, tidak mempunyai sarana usaha ekonomi yang memadai

dan tidak memiliki modal usaha yang cukup untuk menegembangkan usaha

ekonomi produktifnya.

Pemerintah dalam hal ini adalah Departemen Sosial, telah berusaha

menemukan pola yang efektif agar fakir miskin dapat memperoleh kemudahan

akses modal usaha tanpa agunan dengan tetap mendorong tanggung jawab

bersama melalui Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Untuk itu sejak tahun 2005,

Departemen Sosial melaksanakan program pemberdayaan fakir miskin melalui

pola terpadu Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dengan Lembaga Keuangan

Mikro Sosial (LKMS) di Jakarta.

Kegiatan pengembangan usaha ekonomi produktif fakir miskin melalui

KUBE ditujukan untuk meningkatkan motivasi untuk lebih maju, meningkatkan

interaksi dan kerjasama dalam kelompok, mendayagunakan potensi dan sumber

sosial ekonomi lokal, memperkuat budaya kewirausahaan, mengembangkan akses

pasar, melaksanakan usaha kesejahteraan sosial dan menjalin kemitraan sosial

ekonomi dengan berbagai pihak yang terkait.


Dalam penelitian ini penulis membuat bagan alur pemikiran seperti tampak

pada Gambar 3. Penulis akan memulai dengan mengidentifikasi kemiskinan yang

terjadi di Kecamatan Pesanggrahan karena kemiskinan yang terjadi di setiap

daerah memiliki kondisi yang berbeda-beda. Selain itu, pada tahun 2006,

Kecamatan Pesanggrahan dipilih sebagai Kecamatan di wilayah Kotamadya

Jakarta Selatan yang melaksanakan program KUBE dan memperoleh satu

Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) sebagai pembantu dana untuk kegiatan

KUBE dari pemerintah pusat. Penulis akan melihat efektivitas pelaksanaan

program KUBE dan mengetahui keberlanjutan program KUBE yang

dilaksanakan. Pada awal pembentukkan KUBE, telah dibentuk 40 KUBE dengan

bantuan dana dari pemerintah melalui Dinas Bina Spiritual dan Kesejahteraan

Sosial (Bintal dan Kesos) Jakarta.


Deskripsi Kemiskinan Perkotaan di
Kecamatan Pesanggrahan

Bantuan Sarana Usaha Kelompok Usaha Bersama (KUBE) sebagai


Program Penanggulangan Kemiskinan

Faktor-faktor
Keberhasilan KUBE
Pelaksanaan Program (Analisis Regresi)
(Pengamatan Dilengkapi
dengan Pengisian Kuisioner
kepada Sasaran Program) Keefektifan Program
(Uji Mean Berpasangan)

Implikasi Program Penanggulangan


Kemiskinan Perkotaan

Gambar 3. Alur Kerangka Pemikiran


IV. METODE PENELITIAN

4.1 Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan data primer selama bulan April

sampai Juni 2008 di Kelurahan Ulujami dan Petukangan Utara, Kecamatan

Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Pemilihan lokasi ditentukan secara purposive

(sengaja) dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan daerah Ibukota

Negara tetapi masih memiliki sejumlah penduduk yang berada dalam kemiskinan.

Jumlah penduduk miskin di Jakarta Selatan pada tahun sebanyak 76.300 orang

atau 3,74 persen dari keseluruhan penduduk yang tinggal di Kotamadya Jakarta

Selatan.

4.2 Jenis dan Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data

sekunder. Data primer dikumpulkan untuk memperoleh variabel-variabel yang

akan digunakan untuk estimasi, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-

instansi terkait yaitu Badan Pusat statistik (BPS), Departemen Sosial dan

Lembaga Keuangan Mikro Sosial (LKMS) Kecamatan Pesanggrahan. Data primer

diperoleh melalui wawancara dan pengisian kuisioner dari anggota KUBE yang

terpilih sebagai sampel dan para petugas yang terkait. Kuisioner dilampirkan pada

Lampiran 2.

4.3 Teknik Penarikan Sampel

Sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah anggota KUBE yang berada

di Kecamatan Pesanggrahan. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara

melakukan wawancara dengan pihak LKMS untuk memperoleh informasi


mengenai keberadaan anggota KUBE. Penentuan responden dilakukan dengan

metode accidental sampling. Responden yang diambil berjumlah 55 orang

anggota KUBE yang berasal dari 6 KUBE catering yang berada di Kecamatan

Pesanggrahan (lihat Lampiran 4 dan 5) dengan pertimbangan bahwa jumlah

tersebut cukup mewakili keadaan KUBE catering di Kecamatan Pesanggrahan.

4.4 Metode Analisis Data

4.4.1 Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif dilakukan dengan menggunakan data kualitatif yang

dikumpulkan dari hasil wawancara, pengamatan dan telaah pustaka. Data tersebut

diinterpretasikan sehingga dapat menjawab fenomena yang ada yang berhubungan

dengan penyebab kemiskinan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan. Untuk

membantu analisis deskriptif tersebut digunakan tabel.

4.4.2 Analisis Efektivitas Program KUBE

Metode analisis statistik yang digunakan untuk menganalisis efektivitas

KUBE adalah dengan menggunakan uji perbedaan dua mean sampel berpasangan.

Uji perbedaan dua mean sampel berpasangan ini melihat apakah ada perbedaan

yang nyata antara pendapatan rata-rata sebelum mengikuti KUBE dengan

pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE. Hipotesis yang diuji adalah

sebagai berikut:

H0 : 1 2 D (Mean pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE sama

dengan sebelum mengikuti KUBE)

H1 : 1 2 D (Mean pendapatan rata-rata setelah mengikuti KUBE lebih

besar dari sebelum mengikuti KUBE)


Statistik uji (Walpole, 1995)

d D
t (4.1)
Sd / n

Dimana:

d = rata-rata selisih antar dua sampel

S d = standar deviasi selisih dua sampel

Apabila nilai T-hitung > T atau nilai P-value < , dimana = 0,05 maka

simpulkan tolak H0 pada selang kepercayaan 95 persen. Dan dapat disimpulkan

bahwa program KUBE efektif dalam meningkatkan pendapatan masyarakat.

perhitungan dilakukan dengan menggunakan software Minitab 14.

4.4.3 Analisis Regresi Berganda

Dalam penelitian ini dilakukan analisis regresi berganda untuk melihat

faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE. Estimasi koefisien regresi

dilakukan melalui metode Ordinary Least Square (OLS). Salah satu regresi dalam

OLS adalah regresi linear berganda. Analisis regresi linear berganda menunjukkan

hubungan sebab akibat antara variabel X (variabel bebas) yang merupakan

penyebab dan variabel Y (variabel tak bebas) yang merupakan akibat. Analisis

regresi linear berganda merupakan suatu metode yang digunakan untuk

menguraikan pengaruh variabel bebas yang mempengaruhi variabel tak bebasnya.

Regresi linear berganda tidak hanya melihat keterkaitan antar variabel namun juga

mengukur besaran hubungan kausalitasnya.

Model regresi linear berganda menurut Walpole (1995) adalah sebagai

berikut:

Y b0 b1 x1 b2 x 2 b j x j (4.2)
Dimana :

r = 1, 2, 3, ..., n

b0 = intersept

b1, ..., bj = koefisien regresi/slope

= terminologi error (variabel acak)

4.4.4 Model Analisis

Model yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi

keberhasilan kelompok yang mengikuti program KUBE yang dilihat dari sisi

pendapatan kelompok per individu adalah sebagai berikut:

Y 0 1 X 1 2 X 2 3 X 3 4 D1 5 D2 (4.3)

Dimana:

0 = intersep

= error term

Y = pendapatan per individu hasil KUBE (dalam satuan rupiah)

X1 = pendidikan anggota (tahun sekolah)

X2 = pengalaman berusaha (tahun)

X3 = intensitas pendampingan (selama KUBE berlangsung)

D1 = dummy kedudukan

i = 1, sebagai ketua

i = 0, lainnya

D2 = dummy kelompok

i = 1, sebagai KUBE yang dijalankan secara berkelompok

i = 0, lainnya
Variabel-variabel yang digunakan dalam model penduga diperoleh

berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang disesuaikan dengan kondisi yang ada

di lapangan. Pendapatan individu hasil KUBE diduga dipengaruhi oleh

pendidikan anggota, pengalaman berusaha, intensitas pendampingan dalam

frekuensi, dummy kedudukan yang membedakan antara kedudukan sbagai ketua

dengan kedudukan lain yang ada di KUBE, dan dummy kelompok yang

membedakan antara KUBE yang dijalankan secara berkelompok sesuai tujuan

pembentukan KUBE dengan KUBE yang tidak dijalankan secara

berkelompok/perorangan. Setelah itu, model dianalisis menggunakan kriteria-

kriteria uji agar model tersebut memenuhi persyaratan metode analisis OLS,

seperti terbebas dari heteroskedastisitas dan multikolinearitas. Perhitungan ini

dilakukan dengan menggunakan Software Eviews 4.1.

4.4.5 Koefisien Determinasi (R2) dan Adjusted R2

Koefisien determinasi (R2) dan Adjustedsquared digunakan untuk melihat

sejauhmana variabel bebas mampu menerangkan keragaman variabel tak

bebasnya dan untuk melihat seberapa kuat variabel yang dimasukkan ke dalam

model dapat menerangkan model tersebut. Menurut Gujarati (1993) terdapat dua

sifat R-squared yaitu:

1. Merupakan besaran non-negative.

2. Batasnya adalah 0R21. Jika R2 bernilai 1 berarti suatu kecocokan sempurna,

sedangkan jika nilai R2 bernilai 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel

tak bebas dengan variabel bebasnya.


Nilai koefisien determinasi dapat dihitung sebagai berikut:

ESS
R2
TSS

RSS
1
TSS

ei2
1 (4.4)
y i2

Dimana :

ESS = jumlah kuadrat yang dijelaskan (explained sum square)

TSS = jumlah kuadrat total (total sum square)

Salah satu masalah jika menggunakan ukuran R-squared untuk menilai baik

buruknya model adalah akan selalu mendapatkan nilai yang terus naik seiring

dengan pertambahan variabel bebas ke dalam model sehingga Adjusted R-squared

bisa juga digunakan untuk melihat sejauh mana variabel bebas mampu

menerangkan keragaman variabel tak bebasnya. Adjusted R-squared secara umum

memberikan penalty atau hukuman terhadap penambahan variabel bebas yang

tidak mampu menambah daya prediksi suatu model. Nilai Adjusted R-squared

tidak akan pernah melebihi nilai R-squared bahkan dapat turun jika ditambahkan

variabel bebas yang tidak perlu. Bahkan untuk model yang memiliki kecocokan

rendah (goodness of fit). Adjusted R-squared dapat memiliki nilai yang negatif.

Nilai Adjusted R-squared dapat dihitung sebagai berikut:

ei2
(N k)
R2 1 (4.5)
y i2
(n 1)

Dimana k adalah banyaknya parameter dalam model termasuk faktor intersept.


Persamaan (4.5) dapat ditulis sebagai berikut :

2
R2 1 (4.6)
S y2

Dimana:

2 = varians resisual

S y2 = varians sample dari Y

4.4.6 Pengujian untuk Masing-masing Parameter Regresi

Pengujian ini dilakukan dengan uji t untuk melihat apakah masing-masing

variabel bebas (secara parsial) berpengaruh pada variabel tak bebasnya. Selain itu,

uji ini digunakan untuk melihat keabsahan dari hipotesis dan membuktikan bahwa

koefisien regresi dalam model secara statistik signifikan atau tidak.

Hipotesis:

H 0 : i 0
H 1 : i 0, i 1,2,3,..., n.

Statistik uji yang dilakukan dalam uji-t adalah sebagai berikut:

b
t hitung (4.7)
Sb

Dengan hasil t-hitung dibandingkan dengan t-tabel (t-tabel = t / 2 ( n k ) )

Dimana:

b = koefisien regresi parsial sampel

= koefisien regresi parsial populasi

Sb = simpangan baku koefisien dugaan


Kriteria uji yang digunakan dalam melakukan uji t adalah sebagai berikut:

1. Apabila nilai t-hitung lebih besar dari nilai t / 2 ( n k ) , maka tolak H0. hal ini

berarti variabel yang digunakan berpengaruh nyata terhadap variabel tak

bebas.

2. Apabila nilai t-hitung lebih kecil dari nilai t / 2 ( n k ) , maka terima H0. hal ini

berarti variabel yang digunakan tidak berpengaruh nyata terhadap variabel tak

bebas.

4.4.7 Pengujian terhadap Model Penduga

Uji F-statistik digunakan untuk menduga persamaan secara keseluruhan. Uji

F-statistik dapat menjelaskan kemampuan variabel bebas secara bersamaan dalam

menjelaskan keragaman dari variabel tak bebasnya. Hipotesis yang diuji dari

pendugaan persamaan adalah variabel bebas tidak berpengaruh nyata terhadap

variabel tak bebas. Hal ini disebut sebagai hipotesis nol.

Mekanisme untuk menguji hipotesis dari parameter dugaan secara serentak

(uji F-statistik) adalah sebagai berikut:

H 0 : 0 1 2 ... j 0 (tidak ada pengaruh nyata variabel-variabel dalam

persamaan)

H 1 : minimal salah satu i 0 (paling sedikit ada satu variabel bebas yang

berpengaruh nyata terhadap variabel tak bebas)

Untuk : i = 1, 2, 3, ..., j

= dugaan parameter
Statistik uji yang dilakukan dalam uji-F adalah sebagai berikut:

R2
F hitung k 1 (4.8)
(1 R )2

nk

Keterangan:

Hasil dari F-hitung dibandingkan dengan F-tabel (F-tabel = F ( k 1,n k ) ).

Dimana:

R2 = koefisien determinasi

n = banyaknya data

K = jumlah koefisien regresi dugaan

Kriteria uji yang digunakan dalam pengujian model penduga adalah sebagai

berikut:

1. Apabila nilai F-hitung lebih besar dari F ( k 1,n k ) , maka tolak H0. hal ini berarti

minimal terdapat satu parameter dugaan yang tidak nol dan berpengaruh nyata

terhadap keragaman variable tak bebas.

2. Apabila nilai F-hitung lebih kecil dari F ( k 1,n k ) , maka terima H0. dalam hal

ini berarti secara bersama variabel yang digunakan tidak bias menjelaskan

secara nyata keragaman dari variabel tak bebas.

4.4.8 Pengujian Terhadap Masalah Heteroskedastisitas

Salah satu asumsi dalam model regresi adalah residual memiliki varian yang

konstan agar menghasilkan estimator yang BLUE. Dalam kenyataan, sulit

memiliki varian yang konstan. Hal ini sering terjadi pada data yang bersifat data

silang (cross section) dibanding data runtut waktu. Ada beberapa metode yang

dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada tidaknya masalah heteroskedastisitas.


Beberapa metode tersebut adalah metode grafik, uji Park, uji Glejser, uji Korelasi

Spearman, uji Goldfeld-Quandt, uji Bruesch-Pagan-Godfrey, dan uji White.

Dalam penelitian ini untuk mengidentifikasi masalah heteroskedstisitas digunakan

uji White.

Uji White menggunakan residual kuadrat sebagai variabel dependen dan

variabel independennya terdiri atas variabel independen yang sudah ada, ditambah

dengan kuadrat variabel independen, ditambah lagi dengan perkalian dua variabel

independen. Misal mengunakan dua variabel independen M1 dan GDP. Dengan

Uji white, menghitung regresi dengan persamaan berikut.

e 2 b0 b1 M 1 b2 GDP b3 M 12 b4 GDP 2 b5 ( M 1)(GDP) (4.9)

Untuk menghilangkan heteroskedastisitas, ada beberapa alternatif yang

dapat dilakukan. Namun alternatif tersebut sangat tergantung kepada ketersediaan

informasi tentang varian dan residual. Jika varian dan residual diketahui, maka

heteroskedastisitas dapat diatasi dengan metode WLS. Seandainya varian tidak

diketahui maka harus mengetahui pola varian residual terlebih dahulu sebelum

dapat mengatasi masalah heteroskedastisitas.

Dalam penelitian ini, jika didapatkan masalah heteroskedastisitas akan

digunakan metode White. Metode ini dikenal juga dengan varian

heteroskedastisitas terkoreksi (heteroskedasticity-corrected variances). Metode ini

menggunakan residual kuadrat ei2 sebagai proksi dari i2 yang tidak diketahui,

sehingga varian estimator dapat dihitung dengan:


var( )
x e 2 2
i i
(4.10)
1
x 2 2
i
Dengan software Eviews 4.1, masalah heteroskedastisitas dapat diatasi dengan

menggunakan Heteroskedasticity Consistent Coefficient Covariance.

4.4.9 Pengujian Terhadap Masalah Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah kondisi adanya hubungan linear antar variabel

independen. Karena melibatkan beberapa variabel independen maka

multikolinearitas tidak akan terjadi pada persamaan regresi sederhana (yang terdiri

atas satu variabel dependen dan satu variabel independen). Kondisi terjadinya

multikolinearitas ditunjukkan dengan berbagai informasi sebagai berikut.

1. Nilai R2 tinggi tetapi variabel independen banyak yang tidak signifikan.

2. Dengan menghitung koefisien korelasi antar variabel independen. Apabila

koefisiennya rendah (tidak lebih besar dari 0,8) maka tidak terdapat

multikolinearitas.

3. Dengan melakukan regresi auxiliary. Regresi jenis ini dapat digunakan untuk

mengetahui hubungan antar dua (atau lebih) variabel independen yang secara

bersama-sama (misalnya x2 dan x3 ) mempengaruhi satu variabel independen

yang lain (misalnya x1 ). Harus dijalankan beberapa regresi, masing-masing

dengan memberlakukan satu variabel independen (misalnya x1 ) sebagai

variabel dependen dan variabel independen lainnya tetap diperlakukan sebagai

variabel independen. Masing-masing persamaan akan dihitung nilai F dengan

rumus:

Rx21 , x2 ,... xk

k 2
Fi (4.11)
1 Rx21 , x2 ,... xk

n k 1

Dimana:

n = banyaknya observasi

k = banyaknya variabel independen (termasuk konstanta)

R = koefisien deterninasi masing-masing model

Distribusi F dihitung dengan derajat kebebasan k 2 dan n k 1 . Jika nilai

Fhitung Fkritis pada dan derajat kebebasan tertentu maka model

mengandung multikolinearitas.

Ada beberapa alternatif dalam menghadapi masalah multikolinearitas.

Alternatif tersebut sebagai berikut.

a. Membiarkan model mengandung multikolinearitas karena estimatornya masih

dapat bersifat BLUE. Sifat BLUE tidak terpengaruh oleh ada tidaknya korelasi

antar variabel independen. Namun, harus diketahui bahwa multikolinearitas

akan menyebabkan standart error yang besar.

b. Menambah data bila memungkinkan karena masalah multikolinearitas

biasanya muncul karena jumlah observasinya sedikit. Apabila data tidak dapat

ditambah, teruskan dengan model yang sekarang digunakan.

c. Menghilangkan salah satu variabel independen, terutama yang memiliki

hubungan linear yang kuat dengan variabel lain. Namun apabila menurut teori

variabel independen tersebut tidak mungkin dihilangkan, berarti harus tetap

dipakai.

d. Transformasikan salah satu (atau beberapa variabel), termasuk misalnya

dengan melakukan diferensi.


4.5 Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian mengenai efektivitas program kelompok usaha bersama

dalam upaya penanggulangan kemiskinan di Kecamatan Pesanggarahan Jakarta

Selatan adalah sebagai berikut:

1. Program KUBE meningkatkan pendapatan warga miskin.

2. Kemiskinan yang terjadi dipengaruhi oleh kurangnya jam kerja masyarakat

sehingga kurang produktif dalam melaksanakan kegiatan ekonomi.

3. Pendapatan sebelum mengikuti KUBE berbeda nyata dengan pendapatan

setelah mengikuti KUBE

4. Pendidikan, pengalaman berusaha dalam kegiatan ekonomi produktif,

pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok memiliki pengaruh

positif dan nyata dalam mempengaruhi keberhasilan KUBE.


V. GAMBARAN LOKASI PENELITIAN

5.1 Kondisi Kemiskinan Jakarta Selatan

Berdasarkan data dan informasi kemiskinan tahun 2005 2006, kemiskinan

yang terjadi di suatu wilayah dapat dilihat berdasarkan data jumlah dan persentase

penduduk miskin, persentase distribusi penduduk miskin dan pendidikan yang

ditamatkan, persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas dan status bekerja,

persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas dan sektor bekerja.

Pada tahun 2005, Jakarta Selatan memiliki 64.000 penduduk miskin atau 3,36

persen dari total penduduk yang tinggal dengan garis kemiskinan wilayah

Rp263.740. Pendidikan yang dapat ditamatkan oleh penduduk miskin sudah

mencapai tingkatan yang cukup tinggi yaitu 41,86 persen tamat SLTA, 30,23

persen tamat SD/SLTP dan hanya 27,91 persen yang tidak tamat SD. Persentase

penduduk miskin usia 15 tahun keatas yang tidak bekerja sebesar 34,58 persen,

yang bekerja pada sektor informal sebesar 31,78 persen dan yang bekerja pada

sektor formal sebesar 33,64 persen. Jika dibedakan antara sektor pertanian dan

non pertanian, sebesar 0,93 persen penduduk miskin bekerja pada sektor pertanian

dan sisanya sebesar 64,49 persen bekerja pada sektor non pertanian.

Pada tahun 2006, Jakarta Selatan memiliki 76.300 penduduk miskin atau 3,74

persen dari total penduduk yang tinggal dengan garis kemiskinan wilayah

Rp263.740. Pendidikan yang dapat ditamatkan oleh penduduk miskin antara lain

13,64 persen tamat SLTA, 54,55 persen tamat SD/SLTP dan 31,82 persen yang

tidak tamat SD. Persentase penduduk miskin usia 15 tahun keatas yang tidak

bekerja sebesar 29,21 persen, yang bekerja pada sektor informal sebesar 28,09

persen dan yang bekerja pada sektor formal sebesar 42,70 persen. Jika dibedakan
antara sektor pertanian dan bukan pertanian, tidak ada penduduk miskin yang

bekerja pada sektor pertanian dan sebesar 70,79 persen bekerja pada sektor bukan

pertanian.

Tabel 5. Data dan Informasi Kemiskinan Tahun 2005-2006


Tahun
No. Informasi Kemiskinan
2005 2006
Jumlah Penduduk
1 Miskin 64.000 orang 76.300 orang
2 Persentase Penduduk
Miskin (%) 3,36 3,74
3 Garis Kemiskinan
Wilayah Rp 263.740,- Rp 263.740,-
4 Persentase Distribusi Tidak Tidak
Penduduk Miskin dan SLTA SD/SLTP tamat SLTA SD/SLTP tamat
SD SD
Pendidikan yang
Ditamatkan (%) 41,9 30,2 27,9 13,6 54,6 31,8
5 Persentase Penduduk
Tidak Sektor Sektor Tidak Sektor Sektor
Miskin Usia 15 Tahun bekerja informal formal bekerja informal formal
Keatas dan Status
Bekerja (%) 34,6 31,8 33,6 29,2 28,1 42,7
6 Persentase Penduduk
Tidak Non Tidak Non
Miskin Usia 15 Tahun bekerja Pertanian pertanian bekerja Pertanian pertanian
Keatas dan Sektor
Bekerja (%) 34,6 0,9 64,5 29,2 0 70,8
Sumber: BPS, 2007

5.2 Kondisi Fisik, Sosial dan Ekonomi Kecamatan Pesanggrahan

Kecamatan Pesanggrahan merupakan salah satu kecamatan di wilayah

Kotamadya Jakarta Selatan. Sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kapala

Daerah Khusus Ibukota Jakarta Nomor: 1251 Tahun 1986, Nomor:435 Tahun

1966 dan Nomor: 1986 Tahun 2000, maka luas wilayah Kecamatan Pesanggrahan

adalah 13,45 Km2 yang terdiri atas 50 RW dan 521 RT dengan luas masing-

masing kelurahan sebagai berikut:

a. Kelurahan Bintaro: 4,55 Km2

b. Kelurahan Pesanggrahan: 2,11 Km2

c. Kelurahan Ulujami: 1,70 Km2


d. Kelurahan Petukangan Selatan: 2,10 Km2

e. Kelurahan Petukangan Utara: 2,99 Km2

Secara administratif Kecamatan Pesanggrahan memiliki batas-batas wilayah

sebagai berikut:

Sebelah Utara: Berbatasan dengan Kecamatan Kebon Jeruk Kodya Jakata Barat.

Sebelah Selatan: Berbatasan dengan Ciputat, Propinsi Banten.

Sebelah Barat: Berbatasan dengan Kecamatan Ciledug, Propinsi Banten.

Sebelah Timur: Berbatasan dengan Kecamatan Kebayoran Lama.

Kecamatan Pesanggrahan berada pada daerah dataran rendah dengan

ketinggian 26,2 meter diatas permukaan laut, terletak pada 06 15 40,8 lintang

selatan dan 106 45 00,0 Bujur Timur. Dan memiliki wilayah yang sebagian

besar lahan digunakan sebagai daerah perumahan.

Dari hasil Survei Inventarisasi Kelurahan Tahun 2006, penduduk Kecamatan

Pesanggrahan sebanyak 154.719 Jiwa dengan jumlah kepala keluarga adalah

25.744 KK. Dengan data tersebut dapat ketahui kepadatan penduduk mencapai

11.503 jiwa/km2, dengan perincian penduduk laki-laki sebanyak 81.397 jiwa atau

52,61 persen, penduduk perempuan sebanyak 73.322 jiwa atau sekitar 47,39

persen. Dari lima kelurahan yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan, kepadatan

penduduk tertinggi di kelurahan Ulujami yaitu sebesar 16.758 jiwa/km2,

sedangkan tingkat kepadatan penduduk yang terendah pada Kelurahan Bintaro

yaitu sebesar 8.730 jiwa/km2.

Jika dirinci menurut kewarganegaraannnya, terdapat sebanyak 154.703 jiwa

warga negara Indonesia (WNI) dan 16 jiwa warga negara asing (WNA). Dari 16

WNA itu, yang terbanyak terdapat di Kelurahan Bintaro sebanyak 13 orang.


Tabel 6. Kepadatan Penduduk Kecamatan Pesanggrahan Menurut
Kelurahan, Tahun 2006
Jumlah Jumlah Kepadatan
Luas
No Kelurahan Rumah Penduduk Penduduk
(Km2)
Tangga (KK) (Jiwa) (Jiwa/Km2)
1 Bintaro 4,55 6,854 39,722 8,73
2 Pesanggrahan 2,11 3,652 26,622 12,617
3 Ulujami 1,7 5,565 28,489 16,758
4 Petukangan Selatan 2,1 3,806 23,577 11,227
5 Petukangan Utara 2,99 5,867 36,309 12,143
Jumlah 13,45 25,744 154,719 11,503
Sumber: BPS, 2007

Untuk menghitung jumlah penduduk disuatu wilayah dibutuhkan data-data

penduduk yang lahir, mati, datang dan pindah pada wilayah itu. Pada tahun 2006

jumlah penduduk yang lahir 1.427 jiwa, yang mati 673 jiwa, yang datang sebesar

1.411 jiwa dan yang pindah sebesar 1.090 jiwa.

Dalam pencapaian penerimaan pemerintah melalui pajak dan retribusi,

Kecamatan Pesanggrahan memiliki angka realisasi yang cukup baik yaitu untuk

pajak bumi dan bangunan 82,03 persen dalam realisasi aktual pada tahun 2006

yaitu sebesar Rp 9.107.343, untuk retribusi kebersihan 11,22 persen dengan

realisasi aktual sebesar Rp 9.770.000.

Keadaan perekonomian di Kecamatan Pesanggrahan dapat dilihat dari jumlah

bank dan perusahaan industri. Pada tahun 2006 tercatat terdapat 5 bank

pemerintah dan 9 bank swasta. Sedangkan perusahaan industri dibedakan menjadi

empat jenis yaitu, industri besar, sedang, kecil dan rumah tangga. Terdapat 363

perusahaan industri di Kecamatan Pesanggrahan dan 79,89 persen diantaranya

adalah industri rumah tangga.

Keadaan beberapa fasilitas pelayanan dasar bagi masyarakat Kecamatan

Pesanggrahan seperti fasilitas pendidikan dan kesehatan telah tersedia cukup baik,
bahkan dapat juga diakses oleh masyarakat miskin. Jumlah beberapa pelayanan ini

dapat dilihat pada subbab berikut.

5.2.1 Fasilitas Pendidikan

Fasilitas pendidikan terbagi dua yaitu pendidikan formal dan non formal. Di

Pesanggrahan pada tahun 2006 jumlah sekolah dibidang pendidikan formal,

terdapat sebanyak 55 sekolah Taman Kanak-kanak (TK), 76 Sekolah Dasar (SD),

18 Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan 7 Sekolah Menengah Umum

(SMU). Sedangkan untuk pendidikan non formal seperti kursus-kursus (mengetik,

tata buku, dan sebagainya) seluruhnya berjumlah 32 buah dan yang paling banyak

adalah kursus bahasa. Untuk melihat letak fasilitas pendidikan per kelurahan,

dapat dilihat pada Tabel 7.

Jumlah fasilitas pendidikan yang terdapat di Kecamatan Pesanggrahan sudah

cukup untuk menjadi sarana pendidikan yang dapat diakses oleh masyarakat

termasuk penduduk miskin, karena saat ini pemerintah telah membebaskan uang

sekolah bagi pendidikan dasar dan menengah tingkat pertama.

Tabel 7. Jumlah Fasilitas Pendidikan Menurut Kelurahan Tahun 2006


SD SLTP SMU
Kelurahan TK SMK Kursus
Negeri Swasta MI Negeri Swasta Negeri Swasta
Bintaro 16 14 2 5 1 1 2 - - 12
Pesanggrahan 11 10 4 1 2 3 1 2 4 2
Ulujami 7 7 1 3 1 1 - - 1 2
Petukangan
Selatan 11 8 4 2 1 2 1 - 2 6
Petukangan
Utara 10 10 2 3 1 5 1 1 6 10
Jumlah 55 49 13 14 6 12 5 3 13 32
Sumber: BPS, 2007

5.2.2 Fasilitas Kesehatan

Pembangunan kesehatan di Kecamatan Pesanggrahan diarahkan pada

prioritas untuk memberikan pelayanan secara mudah, merata dan murah kepada
masyarakat dengan beberapa fasilitas seperti rumah sakit, rumah bersalin,

poliklinik, BKIA, Puskesmas, Pos KB, dan Posyandu serta memberikan

penyuluhan kepada masyarakat, seperti meningkatkan gizi masyarakat khususnya

balita serta penanggulangan dan pencegahan terhadap beberapa penyakit (BPS,

2007).

Tabel 8. Jumlah Fasilitas Kesehatan Menurut Kelurahan Tahun 2006


Rumah Dokter Mantri,Bidan Dukun
Kelurahan Puskesmas Posyandu
Sakit Praktek dan Perawat Bayi
Bintaro 1 1 30 20 13 3
Pesanggrahan - 2 16 12 4 -
Ulujami - 1 21 10 15 1
Petukangan
Selatan - 1 18 8 8 4
Petukangan
Utara - 1 24 14 9 3
Jumlah 1 6 109 64 49 11
Sumber: BPS, 2007

Fasilitas kesehatan di Kecamatan Pesanggrahan pada tahun 2006 ada

sebanyak 1 rumah sakit, 6 Puskesmas, sedangkan dokter praktek berjumlah 64

orang. Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 8.

5.3 Karakteristik Responden

Karakteristik responden yang akan dilihat yakni dimulai dari tingkat

pendidikan, umur, pekerjaan utama, status pernikahan, jam kerja pada pekerjaan

utama per bulan, jumlah anggota keluarga, pengalaman berusaha, pelaksanaan

KUBE (dummy kelompok), pendampingan kelompok oleh pendamping sosial

yang telah ditunjuk. Karakteristik tersebut tentunya akan mempengaruhi

keberlangsungan usaha yang akhirnya berdampak pada pendapatan yang

diperoleh dari Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Beberapa karakteristik

tersebut dapat disajikan pada Tabel 9. dan Tabel 10, sedangkan secara

keseluruhan data responden dapat dlihat pada Lampiran 3.


Tingkat pendidikan responden yang terpilih ternyata berkisar dari yang tidak

sekolah, SD, SLTP, SMU sampai pada yang sudah menempuh perguruan tinggi.

Data menunjukkan bahwa 67,27 persen berada pada sekolah lanjut yaitu SLTP

dan SMU.

Semua responden yang diambil adalah wanita. Hal ini berkaitan dengan

keanggotaannya pada kelompok usaha bersama (KUBE). Walaupun wanita,

sebagian besar responden yaitu 34 orang atau sebesar 61,82 persen memiliki

pekerjaan utama sebagai guru, pedagang, buruh, penjahit, dan lainnya, sedangkan

sisanya hanya bekerja di rumah sebagai ibu rumah tangga.

Tabel 9. Variabel Sosial Ekonomi Responden


Variabel Jumlah (Jiwa) Persen (%)
Pendidikan
Tidak sekolah 2 3,64
SD 12 21,82
SLTP 18 32,73
SMU 19 34,55
Perguruan Tinggi 4 7,27
55 100
Pekerjaan Utama Selain KUBE
Guru 4 7,27
Buruh 4 7,27
Dagang 19 34,55
IRT 21 38,18
Jahit 2 3,64
Lainnya 5 9,09
55 100,00
Sumber: Data Primer

Umur responden berkisar antara 24 sampai 66 tahun. Berdasarkan data yang

diperoleh, sebagian besar responden berada pada usia 31 50 tahun yaitu sebesar

38 orang atau sekitar 69,09 persen.

Responden yang terpilih sebagian besar telah menikah yaitu sebesar 39 orang

atau 70,91 persen. Sedangkan jumlah anggota keluarga responden sebagian besar
sesuai dengan anjuran program KB (keluarga berencana) berkisar 2 orang sampai

4 orang sebanyak 42 orang atau sebesar 76,36 persen.

Tabel 10. Variabel Demografi Responden


Variabel Jumlah (Jiwa) Persen (%)
Kelompok Umur
Antara 16 30 6 10,91
Antara 31 50 38 69,09
51 - ke atas 11 20,00
Status Perkawinan
Menikah 39 70,91
Belum Menikah/Janda 16 29,09
Jumlah Anggota Keluarga
Hanya Sendiri 7 12,73
Sesuai anjuran KB 42 76,36
Keluarga Besar 6 10,91
Sumber: Data Primer

5.4 Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, Departemen sosial bekerjasama

dengan Dinas Bintal dan Kesos (Bina Spiritual dan Kesejahteraan Sosial) DKI

Jakarta dalam melaksanakan program KUBE di DKI Jakarta. Setiap tahun ada

satu Kecamatan dari setiap Kotamadya yang akan menjadi daerah pelaksanaan

KUBE. Pada tahun 2006, Dinas Bintal Dan Kesos membentuk 200 KUBE pada

lima Kotamadya yang terdapat di Jakarta. Kecamatan Pesanggrahan dipilih

menjadi daerah pelaksanaan KUBE di Kotamadya Jakarta Selatan dengan

membentuk 40 KUBE yang masing-masing KUBE beranggotakan 10 orang, dan

tersebar di dua kelurahan yaitu Kelurahan Ulujami dan Kelurahan Petukangan

Utara. Kedua kelurahan tersebut dipilih dengan pertimbangan karena di Kelurahan

lainnya telah mendapatkan bantuan. Kelurahan Petukangan Selatan memperoleh

Bantuan Rehabilitasi Rumah (BRR) dan jalan setapak/jalan gang, Kelurahan

Bintaro dan Kelurahan Pesanggrahan memperoleh bantuan Usaha Ekonomi

Produktif (UEP) yang merupakan bantuan usaha yang ditujukan bagi perorangan.
Pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan diawali dengan perekrutan

anggota yang dilakukan oleh Seksi Sosial Kecamatan (SSK) dan Pekerja Sosial

Masyarakat (PSM) yang akhirnya mendapatkan data 400 orang yang

direkomendasikan untuk menjadi anggota KUBE. Tidak semua orang yang

direkomendasikan oleh SSK dan PSM merupakan warga miskin tetapi sudah

direncanakan dari 10 orang anggota per KUBE, 3 orang diantaranya merupakan

warga tidak miskin atau berada sedikit diatas garis kemiskinan yang diharapkan

mampu mengorganisasikan keberlangsungan KUBE. PSM adalah masyarakat

yang peduli dan sukarela menjadi penyelenggara/pelaksana Usaha Kesejahteraan

Sosial (UKS). Dala proram KUBE ini, hanya beberapa PSM yang terlibat dan

ditunjuk menjadi pendamping KUBE.

Data anggota yang berhasil dikumpulkan oleh SSK dan PSM kemudian

direkomendasikan kepada Dinas Bintal dan Kesos untuk menjadi peserta program

KUBE. Saat perekrutan, masing-masing kelompok diberikan kesempatan untuk

memilih bidang usaha yang akan dijalankan sesuai dengan pilihan bidang usaha

yang telah direncanakan oleh Dinas Bintal dan Kesos serta disesuaikan dengan

keahlian yang dikuasai oleh masing-masing anggota. Bidang usaha yang dapat

dipilih antara lain: catering, pembuat kue kering, parutan kelapa, menjahit dan

steam motor.

Dari 40 KUBE yang dibentuk, sebagian besar KUBE berupa KUBE catering

yaitu sebesar 26 KUBE, 7 KUBE kue kering, 3 KUBE parutan kelapa, 3 KUBE

menjahit dan 1 KUBE steam motor. Semua KUBE yang terbentuk memperoleh

bantuan berupa peralatan dan uang tunai. Uang tunai untuk masing-masing KUBE

sebesar Rp 1.000.000 tetapi dikenakan potongan sebesar Rp 250.000 sebagai


tabungan wajib di LKMS agar KUBE merasa terikat dengan LKMS sehingga

dapat melakukan kerjasama yang baik dan saling mendukung dalam urusan

pemasaran dan terutama dalam permodalan.

Bantuan peralatan yang diterima oleh KUBE catering secara rinci dapat

dilihat pada Tabel 11. Tidak semua peralatan ini dapat dimanfaatkan dengan baik,

hal ini disebabkan skala usaha yang dijalankan KUBE tidak sesuai dengan ukuran

peralatan bantuan yang diberikan sehingga sebagian besar KUBE hanya

menyewakan peralatan-peralatan catering tersebut kepada masyarakat yang

membutuhkan.

Selain itu, pelaksanaan KUBE di Kecamatan Pesanggrahan sejak 2006

hingga 2008 belum berjalan secara rutin, hanya melayani pesanan pada acara-

acara tertentu dan belum memiliki pasar yang pasti. Pelaksanaan KUBE di

lapangan tidak sepenuhnya berjalan seperti yang direncanakan. Ada beberapa

KUBE yang tidak dijalankan secara berkelompok tetapi dijalankan secara

individu. KUBE yang dijalankan secara individu hanya memanfaatkan KUBE

sebagai sarana akses untuk simpan pinjam, bukan sebagai pengembangan usaha

keuangan bersama.

Tabel 11. Jenis dan Jumlah Bantuan Sarana KUBE Catering


No. Jenis Barang Jumlah
1 Kompor Gas 2 set
2 Piring Makan 10 lusin
3 Sendok Garpu 10 lusin
4 Panci (Langseng) 2 set
5 Panci (Sayur) 2 set
6 Penggorengan Sedang 2 set
7 Pemanas 4 set
8 Uang Rp 750.000,-
Sumber: Data Primer
Hal ini menyimpang dari rencana pembuatan KUBE yang dibentuk menjadi

sebuah organisasi yang menjalankan suatu usaha secara bersama-sama dan

memanfaatkan LKMS sebagai sarana simpan pinjam. Penyimpangan ini terjadi

karena lokasi beberapa KUBE yang tidak berdekatan dengan LKMS sehingga

KUBE-KUBE tersebut segan untuk datang dan menjalin kerjasama dengan

LKMS. Selain itu, lokasi yang berjauhan mengakibatkan KUBE-KUBE tidak

mendapatkan informasi terbaru dari LKMS.

Tidak semua KUBE dapat berlangsung dan berkembang dengan lancar. Hal

ini terjadi karena beberapa sebab, antara lain: ada beberapa KUBE yang

kehilangan peralatan usaha akibat banjir yang melanda daerah tempat tinggal

mereka pada tahun 2007, KUBE steam motor tidak berjalan disebabkan anggota

KUBE memiliki kesibukan lain di luar KUBE dan KUBE kue kering mengalami

hambatan untuk berkembang sebab alat yang diberikan terlalu besar sehingga

warga kesulitan untuk menyimpan alat dan mengoperasikannya.

Setiap KUBE memiliki seorang pendamping yang akan membantu dalam

keberlangsungan KUBE serta sebagai usaha monitoring dari Dinas. Namun tidak

setiap pendamping menangani satu KUBE tetapi seorang pendamping dapat

menangani 4 KUBE yang lokasinya berada pada daerah yang berdekatan. Bahkan

ada beberapa pendamping yag bertindak sebagai ketua dari KUBE yang ditangani.

Kegiatan pendampingan sampai saat ini belum mencakup kegiatan peningkatan

skill dan kreatifitas anggota KUBE. Kegiatan pendampingan hanya mencakup

pemberian saran dan masukan ketika KUBE mengalami kesulitan.


VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

6.1 Kemiskinan di Kecamatan Pesanggrahan

Kemiskinan memiliki definisi yang beragam dari setiap departemen maupun

para ahli yang meneliti tentang kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi di suatu

daerah disebabkan oleh suatu penyebab yang terkadang tidak sama dengan daerah

lainnya. Di Kecamatan Pesanggrahan, kemiskinan terjadi karena pendapatan rata-

rata penduduk per kapita per bulan masih berada di bawah garis kemiskinan yang

ditetapkan BPS untuk kota Jakarta khususnya wilayah Kotamadya Jakarta Selatan.

Hal ini dapat dilihat lebih jelas pada Tabel 12.

Tabel 12. Rata-rata Pendapatan dan Jam Kerja Penduduk Miskin dan Tidak
Miskin di Kecamatan Pesanggrahan
Rata-Rata
Jumlah Rata-rata Jam Kerja
Kategori Pendapatan per
Responden RT
Kapita per bulan
Penduduk Miskin 31 39,6 jam per minggu Rp 201.968
Penduduk Tidak Miskin 24 74,3 jam per minggu Rp 507.847
Sumber: Data Primer

Pendapatan rata-rata penduduk miskin sebesar Rp 201.968 per kapita per

bulan yang menunjukkan bahwa jumlah ini berada di bawah garis kemiskinan

yaitu Rp 322.780 per kapita per bulan untuk wilayah Kotamadya Jakarta Selatan

pada tahun 2006. Menurut jam kerja, penduduk miskin di Kecamatan

Pesanggrahan rata-rata telah bekerja lebih dari 39 jam per minggu, sedangkan

penduduk tidak miskin rata-rata bekerja lebih dari 74 jam per minggu. Hal ini

menunjukkan bahwa ada perbedaan jumlah jam kerja yang cukup besar antara

penduduk miskin dan tidak miskin yang disebabkan karena kurangnya

keterampilan dan ketersediaan lapangan kerja bagi penduduk miskin.


6.2 Efektifitas Kelompok Usaha Bersama (KUBE)

Analisis efektivitas program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) dilakukan

dengan menggunakan data pendapatan dari pekerjaan utama dan pendapatan dari

usaha bersama yang diambil pada Juni 2008 dengan 55 orang responden. Analisis

dilakukan dengan pengujian secara statistik, membandingkan antara pendapatan

sebelum bergabung dengan KUBE dan pendapatan setelah bergabung dengan

KUBE.

Rupiah (Rp)

2500000

2000000

1500000

1000000

500000

0
1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31

Sebelum KUBE RT Miskin


Setelah KUBE

Gambar 4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah KUBE

Pekerjaan utama responden antara sebelum bergabung dengan KUBE dengan

pekerjaan setelah bergabung dengan KUBE adalah sama atau dengan kata lain

tidak ada responden yang melakukan pergantian pekerjaan pada saat pengambilan

data. Hal serupa juga terjadi pada suami responden, sehingga rumah tangga yang

diteliti tidak ada yang mengalami pergantian pekerjaan saat diadakan penelitian.

Hal ini mengindikasikan bahwa perbedaan pendapatan rumah tangga terjadi

karena adanya pendapatan tambahan yang berasal dari KUBE. Secara grafik,

dapat dilihat pada Gambar 4 dan Gambar 5.


Rupiah (Rp)
4000000

3500000

3000000

2500000

2000000

1500000

1000000

500000

0
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Sebelum KUBE RT Tidak Miskin


Sesudah KUBE

Gambar 5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah KUBE

Berdasarkan Gambar 4, dari 31 responden Rumah Tangga (RT) miskin

anggota KUBE terdapat 23 RT yang mengalami peningkatan pendapatan.

Sedangkan berdasarkan Gambar 5, diperoleh informasi bahwa dari 24 RT tidak

miskin anggota KUBE terdapat 15 RT yang mengalami peningkatan pendapatan.

Pendapatan sebelum dan setelah KUBE serta pekerjaan utama responden dapat

dilihat pada Lampiran 4. untuk RT miskin dan Lampiran 5. untuk RT tidak

miskin.

Tabel 13. Hasil Uji Beda Dua Mean Sampel Berpasangan Antara
Pendapatan Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE
RT RT Tidak
No. Uraian Keseluruhan
Miskin Miskin
Rata-rata pendapatan sebelum
1 662.903 1.571250 1.059273
mengikuti KUBE
Rata-rata pendapatan setelah mengikuti
2 784.456 1.654253 1.164004
KUBE
Rata-rata selisih antara besar pendapatan
3 121.553 83.003 104.731
sebelum dan setelah mengikuti KUBE
4 Simpangan baku (Sd) 151.051 86.439 127.399
5 Jumlah sampel (n) 31 24 55
6 t-hitung 4,48 4,7 6,1
7 t-tabel (0,05) 2,04 2,06 2,01
Secara statistik dilakukan pengujian terhadap perbedaan pendapatan sebelum

dan sesudah adanya KUBE. Pengujian dilakukan dengan uji beda dua mean

sampel berpasangan. Uji ini menghasilkan t-hitung sebesar 4,48 untuk RT miskin,

4,7 untuk RT tidak miskin dan 6,1 untuk keseluruhan. Hal ini menunjukkan

bahwa t-hitung lebih besar dari t-tabel yang digunakan, sehingga dapat

disimpulkan bahwa program KUBE efektif dalam meningkatkan pendapatan

masyarakat anggota KUBE. Hasil uji beda dua mean sampel berpasangan secara

singkat dapat dilihat pada Tabel 13 sedangkan hasil pengolahan dengan software

minitab 14 dapat dilihat pada Lampiran 6.

6.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Keberhasilan KUBE

6.3.1 Deskripsi Statistik Variabel-variabel Penelitian

Nilai dari variabel-variabel penelitian yang digunakan diperoleh melalui

kuisioner terhadap 55 responden yang merupakan anggota KUBE dengan usaha

catering. Variabel-variabel tersebut antara lain, pendidikan formal yang pernah

ditempuh, pengalaman dalam menjalankan usaha, pendampingan kelompok oleh

pendamping/PSM, kedudukan dalam kelompok, pelaksanaan KUBE secara

berkelompok atau perorangan dan pendapatan usaha secara individu.

Pendidikan

Kesadaran untuk memperoleh pendidikan bagi masyarakat Kecamatan

Pesanggrahan sudah cukup baik. Dari 55 orang responden, yang tidak sekolah

hanya ada 2 orang atau 3,64 persen sedangkan 12 orang atau 21,82 persen

bersekolah hingga SD (sekolah dasar), 18 orang atau 32,73 persen bersekolah

hingga SLTP (Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama), 19 orang atau 34,55 persen

bersekolah hingga SMU (Sekolah Menengah Umum) atau sederajat, dan hanya 4
orang atau 7,27 persen yang bersekolah hingga perguruan tinggi. Hal ini dapat

dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14. Jumlah Anggota KUBE Berdasarkan Tingkat Pendidikan


Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persen (%)
Tidak sekolah 2 3,64
SD 12 21,82
SLTP 18 32,73
SMU 19 34,55
Perguruan Tinggi 4 7,27
55 100
Sumber: Data Primer

Pengalaman

Variabel pengalaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah

pengalaman seorang anggota dalam menjalankan usaha. Usaha yang pernah

dijalankan oleh anggota diantaranya adalah usaha berjualan kue pagi, nasi uduk

dan membuka warung. Pengalaman yang paling lama dilakukan oleh seorang

anggota adalah membuka warung. Berdasarkan data yang diperoleh, hanya 21

orang anggota yang memiliki pengalaman berusaha.

Pendampingan

Pendampingan dilakukan oleh seorang pendamping sosial atau PSM yang

ditunjuk oleh dinas untuk mendampingi KUBE. Akan tetapi karena didasari atas

kesukarelaan maka pendamping ini bersifat tidak terikat. Selama ini sebagian

besar KUBE menerima pendampingan sebanyak 2 sampai 3 kali. Namun, ada juga

KUBE yang menerima pendampingan hingga 10 kali. Hal ini dipengaruhi oleh

kedekatan jarak tempat tinggal pendamping dengan KUBE yang didampinginya

serta partisipasi anggota untuk menerima pendampingan. Kegiatan pendampingan

ini antara lain adalah evaluasi kegiatan yang telah dilakukan oleh KUBE,

pengarahan serta pemberian informasi mengenai perkembangan di LKMS


(Lembaga Keuangan Mikro Sosial) karena pendamping merupakan penghubung

antara KUBE dengan LKMS.

Dummy Kedudukan

Pembentukan KUBE disesuaikan dengan pembentukan suatu organisasi yang

terdiri atas ketua, sekretris, bendahara dan anggota. Hal ini dimaksudkan agar

pelaksanaan KUBE dapat dipantau secara terorganisir dan dapat

dipertanggungjawabkan. Pemilihan ketua, sekretaris dan bendahara dilakukan

SSK yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu yang menjadi

kandidat, karena diharapkan pemegang kedudukan didalam KUBE memiliki

kemampuan untuk membimbing seperti pendamping. Dan ada beberapa ketua

KUBE yang juga merangkap sebagai pendamping KUBE. Dalam hal ini, dummy

kedudukan mewakili kedudukan seseorang sebagai ketua atau bukan ketua.

Dummy Kelompok

Pada awal pembentukkan KUBE diharapkan dapat berjalan layaknya sebuah

kelompok yang bekerja untuk saling melengkapi dan bertanggung jawab terhadap

kelompok. Pada kenyataan di lapangan, sebagian KUBE yang berjalan tidak lagi

dijalankan secara berkelompok namun secara individual sehingga dalam

penelitian ini dummy kelompok mewakili KUBE yang dijalankan secara

berkelompok atau secara perorangan.

Pendapatan Usaha secara Individu

KUBE merupakan suatu kegiatan usaha yang dirancang untuk dijalankan

secara bersama-sama. Namun, pendapatan masing-masing individu yang terlibat

dalam KUBE belum tentu memiliki jumlah yang sama karena dipengaruhi oleh

kontribusi masing-masing anggota dalam keterlibatannya pada kegiatan KUBE.


Kontribusi anggota ini terkait dengan intensitas kumpul dalam kelompok masing-

masing individu. Pendapatan usaha dalam KUBE selama ini rata-rata diperoleh

dari hasil menyewakan peralatan catering dan pesanan yang tidak tentu adanya.

6.3.2 Hasil dan Pembahasan Model Dugaan

Dengan menggunakan metode Ordinary Least Squre (OLS), diperoleh

model dugaan sebagaimana pada Tabel 14. Dari model dugaan tersebut diperoleh

nilai koefisien determinasi (R-Sq) sebesar 67 persen dan nilai koefisien

determinasi terkoreksi (R-Sq adj) sebesar 63,6 persen. Angka (R-Sq) tersebut

menunjukkan bahwa 67 persen keragaman dari variabel tak bebas (pendapatan

KUBE per individu) dapat diterangkan oleh variabel-variabel bebas yang

digunakan dalam model, sedangkan sisanya yaitu sebesar 33 persen dijelaskan

oleh variabel lain yang tidak dimasukkan ke dalam model. Uji F dengan p-value

0,000 (lebih kecil dari = 0,05) menunjukkan bahwa koefisien regresi secara

bersama-sama signifikan berbeda nyata dari nol. Hal-hal ini bermakna bahwa

model sudah baik.

Tabel 15. Hasil Pendugaan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan


Individu Kelompok Usaha Bersama di Kecamatan Pesanggrahan
Variabel Koef SE Koef T P
Kontanta 29673.51 39982.95 0,742 0,4615
Pendidikan -2708.57 2803.81 -0,966 0,3388
Pengalaman -195.42 169.74 -1,151 0,2552
Pendampingan 35946.38 10008.84 3,591 0,0008*
Dummy Kedudukan 144186.9 48705.13 2,960 0,0047*
Dummy Kelompok 55632.99 23461.38 2,371 0,0217*
S = 76881.01 R-Sq = 67% R-Sq(adj) = 63.6%
DW = 1.397605 F = 19.85620 P-value = 0.000

Keterangan: * nyata pada taraf 5%

Berdasarkan hasil output pada Tabel 15, dapat dilihat bahwa tidak ada

masalah multikolinearitas maupun heteroskedastisitas. Pengujian terhadap


multikolinearitas dalam program Eviews dapat dilakukan dengan melihat matriks

korelasi antar variabel yang terdapat dalam model. Multikolinearitas terjadi saat

koefisien korelasi diantara dua variabel dalam matriks korelasi antar sesama

variabel bebas bernilai lebih besar dari 0,8. Dari Tabel 16 dapat dilihat bahwa

tidak terdapat nilai koefisien korelasi antara dua variabel yang bernilai lebih besar

dari 0,8. Berarti, dalam model tidak terdapat masalah multikolinearitas.

Terhadap masalah heteroskedastisitas, saat pengolahan model telah digunakan

metode White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance

sehingga model dugaan tidak mengandung masalah heteroskedastisitas.

Tabel 16. Matriks Korelasi


Pendidikan Pengalaman Pendampingan Dummy Dummy
Kedudukan Kelompok
Pendidikan 1.000.000 -0.125098 0.130381 0.205498 -0.316494
Pengalaman -0.125098 1.000.000 -0.057693 0.500683 0.169328
Pendampingan 0.130381 -0.057693 1.000.000 0.109914 -0.128469
Dummy 0.205498 0.500683 0.109914 1.000.000 0.023187
Kedudukan
Dummy -0.316494 0.169328 -0.128469 0.023187 1.000.000
Kelompok

Hasil pendugaan model terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi

keberhasilan KUBE menunjukkan bahwa variabel-variabel yang berpengaruh

nyata pada taraf nyata () 5 persen terhadap pendapatan usaha secara individu

adalah variabel pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok.

Sedangkan variabel lain tidak berpengaruh nyata. Hasil pengolahan dengan

menggunakan software Eviews 4.1 dapat dilihat pada Lampiran 7.

Pendidikan

Pendidikan tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha. Hal ini

terjadi karena sebagian besar anggota KUBE memiliki tingkat pendidikan yang

relatif sama yaitu pada kisaran SLTP dan SMU. Dalam penelitian ini, variabel
pendidikan belum dibedakan berdasarkan jenjang sekolah atau membedakan

antara SMU dengan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau tingkat pendidikan

yang mendukung pengetahuan mengenai catering. Dalam penelitian Siregar, dkk.

(2007) menemukan bahwa variabel pendidikan berpengaruh negatif terhadap

jumlah orang miskin. Dampak terbesar terjadi pada tingkat pendidikan SLTP

sehingga kebijakan pemerintah mengenai wajib belajar sembilan tahun harus

diteruskan. Pendidikan SMA dan diploma juga memiliki pengaruh yang relatif

besar dalam mengurangi kemiskinan. Hal ini mencerminkan bahwa human capital

merupakan determinan penting untuk menurunkan jumlah penduduk miskin.

Pengalaman

Pengalaman tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha secara

individu. Hal ini terjadi karena pengalaman berusaha yang telah dilakukan

anggota tidak berkaitan dengan usaha KUBE yang dijalankan karena dari 19

anggota KUBE yang memiliki usaha dagang hanya terdapat 8 orang yang

memiliki usaha di bidang makanan (usaha yang mendukung atau sejenis dengan

KUBE yang dijalankan). Sedangkan 11 orang anggota lainnya berdagang dengan

usaha warung, kelontong dan pakaian.

Pendampingan

Frekuensi pendampingan berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha

secara individu dengan nilai koefisien regresi sebesar 35946. Artinya setiap

peningkatan satu kali pendampingan maka pendapatan akan meningkat Rp 35.946

cateris paribus. Maka pendampingan harus dilakukan lebih intensif agar dapat

menjadi motivasi bagi anggota KUBE dalam menjalankan usaha.


Dummy Kedudukan

Hasil regresi menunjukkan bahwa dummy kedudukan berpengaruh nyata

terhadap pendapatan usaha secara individu dengan nilai koefisien regresi sebesar

144186. Artinya pendapatan usaha secara individu yang menjadi ketua lebih besar

Rp 144.186,- dibandingkan dengan anggota KUBE yang tidak menduduki jabatan

sebagai ketua.

Dummy Kelompok

Hasil regresi menunjukkan bahwa dummy pelaksanaan KUBE secara

berkelompok berpengaruh nyata terhadap pendapatan usaha secara individu

dengan nilai koefisien regresi sebesar 55633. Artinya pendapatan usaha secara

individu yang menjadi anggota dalam KUBE yang berjalan secara berkelompok

lebih besar Rp 55.633,- dibandingkan dengan anggota dalam KUBE yang berjalan

secara individual.

6.4 Implikasi Kebijakan

Berdasarkan hasil analisis efektivitas pendapatan sebelum dan setelah adanya

KUBE dan analisis faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan KUBE di

Kecamatan Pesanggrahan, maka dapat dirumuskan beberapa implikasi kebijakan

yang dapat dipertimbangkan untuk mengurangi angka kemiskinan di Kecamatan

Pesanggrahan, sebagai berikut.

1. Peningkatan kreatifitas masyarakat dengan pelatihan-pelatihan. Pemberian

bantuan KUBE tanpa dilengkapi dengan kreatifitas hanya akan membuat

usaha yang diharapkan berkembang menjadi macet ditengah jalan.

Pengembangan usaha bukan hanya bermodal aset tetapi juga memerlukan


modal keterampilan dan kreatifitas untuk dapat mengantisipasi berbagai

kendala yang akan datang ditengah usaha sedang berjalan.

2. Memperbaiki pelaksanaan KUBE. Program pemerintah yang dimulai dengan

top-down seringkali hasilnya tidak optimal karena memaksakan suatu

keadaan untuk diterima oleh masyarakat yang menerima bantuan. Lebih baik

mengembangkan program yang dimulai dengan bottom-up sehingga bantuan

yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan. Dalam program KUBE

dilaksanakan dengan cara top-down sehingga peralatan yang diberikan

sebagai bantuan tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal, karena peralatan

tidak sesuai dengan skala usaha yang sedang berjalan atau dirintis.

3. Meningkatkan monitoring pelaksanaan program. Walaupun selama ini telah

ada pendampingan namun tidak semua KUBE memperoleh pendampingan

yang cukup. Karena merasa tidak diawasi maka perkembangan beberapa

KUBE menjadi tidak baik atau tidak berkembang. Selain itu, para

pendamping sebaiknya memiliki keterampilan khusus dan merupakan

pegawai dinas bukan relawan sehingga mampu membantu perkembangan

KUBE dan bertanggung jawab atas tugas yang dijalankannya.


VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan dari bab sebelumnya, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut.

1. Kemiskinan perkotaan yang terjadi di Kecamatan Pesanggrahan antara lain

disebabkan oleh kurangnya jam kerja rata-rata RT penduduk miskin yaitu

sekitar 39 jam per minggu sedangkan jam kerja rata-rata RT penduduk tidak

miskin adalah sekitar 74 jam per minggu. Dengan jam kerja yang relatif lebih

rendah, pendapatan rata-rata RT penduduk miskin per kapita per bulan juga

rendah yaitu Rp 201.968, masih dibawah garis kemiskinan Wilayah Kotamadya

Jakarta Selatan.

2. Program KUBE yang dilaksanakan di Kecamatan Pesanggrahan pada tahun

2006 secara kuantitatif telah efektif dalam meningkatkan pendapatan

masyarakat. Namun, pada kenyataannya KUBE belum beroperasi secara rutin

sehingga efektivitas program KUBE sebetulnya masih dapat ditingkatkan lagi

sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Berdasarkan hasil

pendugaan dengan model regresi diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor

yang secara nyata mempengaruhi keberhasilan KUBE pada taraf nyata 5 persen

adalah frekuensi pendampingan, dummy kedudukan dan dummy kelompok.

3. Kebijakan pemerintah saat ini cenderung masih bersifat top-down sehingga

bantuan yang diterima masih belum sepenuhnya dapat dimanfaatkan secara

optimal. Rakyat miskin perkotaan di lokasi penelitian tidak hanya

membutuhkan bantuan berupa aset (modal produksi) tetapi juga memerlukan


bantuan dalam meningkatkan keterampilan (skill dan kreatifitas) dalam

menjalankan suatu usaha produktif.

7.2 Saran

Berdasarkan hasil penelitian di atas, maka penulis dapat memberikan saran

sebagai berikut.

1. Pendampingan terhadap KUBE perlu ditingkatkan dan dikembangkan

sehingga efektivitas KUBE dalam meningkatkan keterampilan para anggota

menjadi lebih tinggi dan pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan

sasarannya secara lebih besar.

2. KUBE sebaiknya berhubungan baik dengan Lembaga Keuangan Mikro Sosial

(LKMS) sehingga sinergi diantara dua lembaga ini dapat berkelanjutan dan

berkembang. Hal ini diharapkan sangat membantu KUBE dalam masalah

keuangan dan kemitraan terhadap pihak luar.

3. Untuk penelitian lanjutan, perlu diteliti efektifitas beberapa program

penanggulangan kemiskinan lainnya yang telah dilakukan oleh pemerintah

sehingga dapat diketahui program mana yang memiliki pengaruh yang lebih

besar dalam mengurangi angka kemiskinan dan dicari bentuk

sinergi/kombinasi diantaranya agar efektivitasnya dalam menanggulangi

kemiskinan lebih tinggi lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Andayasari, Ika. 2006. Pengembangan KUBE-Fakir Miskin Dalam Upaya


Pengentasan Kemiskinan (Kasus Upaya Pengentasan Kemiskinan melalui
KUBE-FM di Kelurahan Cibeureum Kecamatan Cimahi Selatan). Tesis.
IPB, Bogor.

Badan Pusat Statistik. 2005. Analisis dan Perhitungan Tingkat Kemiskinan. BPS,
Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2007. Analisis dan Perhitungan Tingkat Kemiskinan Tahun
2007. BPS, Jakarta

Badan Pusat Statistik. 2007. Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 buku 1.
BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2007. Data dan Informasi Kemiskinan 2005-2006 buku 2.
BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2007. Kecamatan Pesanggrahan Dalam Angka 2007. BPS,
Jakarta.

Badan Pusat Statistik. 2007. Jakarta Selatan Dalam Angka 2007. BPS, Jakarta.

Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Operasional Program Pemberdayaan Fakir


Miskin Melalui Bantuan Sarana Penunjang Produksi KUBE Bidang
Konveksi.Depsos, Jakarta.

Departemen Sosial RI. 2005. Panduan Operasional Program Pemberdayaan Fakir


Miskin di Wilayah Pertanian.Depsos, Jakarta.

Gujarati, Damodar. 1978.Ekonometrika Dasar. Terjemahan. Erlangga, Jakarta.

Ilham, Nyak, Hermanto Siregar, & D. S. Priyarsono. 2006. Efektivitas Kebijakan


Harga Pangan Terhadap Ketahanan Pangan. Jurnal Agro Ekonomi.
Volume 24 no. 2, hal 157- 177. pdf.

Khairullah. 2003. Dinamika Kelompok dan Kemandirian Anggota Kelompok


Swadaya Masyarakat. Tesis. IPB, Bogor.

Khanata-Khasanah persona dan pranata. 2006. Menuju Indonesia Sejahtera Upaya


Konkret Pengentasan Kemiskinan. Khanata-Pustaka LP3ES Indonesia,
Jakarta.

KIKIS (The Ford Foundation). 2000. Penanggulangan kemiskinan Struktural


Agenda Keadilan dan Pemberdayaan Masyarakat Program Aksi Lima
Tahun. Akatiga, Bandung.
Nugroho, Tri Wahyu. 2006. Dmpak Kebijakan Pembangunan Pertanian Terhadap
Pengentasan Kemiskinan di Indonesia. Tesis. IPB, Bogor.

Nurhayati, Maruti. 2007. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat


Kemiskinan di Jawa Barat. Skripsi. Departemen Ilmu Ekonomi. Fakultas
Ekonomi dan Manajemen. IPB, Bogor.

Permanda, Estiani. 2007. Peranan Proyek Penanggulangan Kemiskinan di


Perkotaan (P2KP) Terhadap Pendapatan Usaha Kecil di Kelurahan
Kedung Badak Kota Bogor. Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian
dan Sumberdaya. Fakultas Pertanian. IPB, Bogor.

PSP3-IPB. 2006. 22 Tahun Studi Pembangunan Pengurangan Kemiskinan,


Pembangunan Agribisnis dan Revitalisasi Pertanian. Pusat Studi
Pembangunan Pertanian dan Pedesaan-LPPM IPB, Bogor.

Rahmawati, Yenny Indra. 2006. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi


Kemiskinan Rumah Tangga di Kabupaten Pacitan Propinsi Jawa Timur.
Skripsi. Program Studi Ekonomi Pertanian dan Sumberdaya. Fakultas
Pertanian. IPB, Bogor.

Ramanathan, Ramu.1998. Introductory Econometrics with Applications Fourth


Edition. The Dryden Press, United States of America.

Saidi, Naili. 2007. Strategi Peningkatan Efektivitas Penyaluran Dana Usaha


Desa/Kelurahan Untuk Penanggulangan Kemiskinan (Kajian di Kota
Pekanbaru - Provinsi Riau). Tesis. IPB, Bogor.

Sajogyo. 1996. Memahami dan Menanggulangi Kemiskinan di Indonesia Prof.


Dr. Sajogyo 70 Tahun. Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta.

Santosa, Awan, Dadit G. Hidayat, & Puthut Indroyono. 2003. Evaluasi Dampak
Program Penanggulangan Kemiskinan Bersasaran Di Provinsi D.I.
Jogjakarta. Jurnal Ekonomi & Bisnis Indonesia, vol.18, no.2, hal. 144-
160.

Siregar, Hermanto, Dwi Wahyuniarti, & Nur Azam Achsani. 2007. Dampak
Pertumbuhan Ekonomi terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin.
Makalah disampaikan dalam acara Seminar Nasional Pusat Analisis
Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian-Deptan. PASEKP, Bogor. 21
Agustus.

Sumodiningrat, Gunawan. 1999. Kemiskinan: Teori, Fakta dan Kebijakan.


IMPAC, Jakarta.

Tarmidi. 2006. efektivitas Pengelolaan Kredit Mikro Proyek Penanggulangan


Kemiskinan di Perkotaan (P2KP) dan Analisis Pendapatan Keluarga
Miskin. Skripsi. Program Sarjana Ekstensi Manajemen Agribisnis.
Fakultas Pertanian. IPB, Bogor.
Wahyuni, Dewi. 2005. Model Pengembangan Usaha Bersama (KUBE) (Refleksi
Proses Pemberdayaan KUBE dari Kasus Kelurahan Leuwigajah
Kecamatan Cimahi Selatan Kota Cimahi). Tesis. IPB, Bogor.

Walpole, Ronald E.1995. Pengantar Statistika. PT. Gramedia Pustaka Utama,


Jakarta.

Winarno, Wing Wahyu. 2007. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan


Eviews. Unit Penerbit dan Percetakan Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen
YKPN, Yogyakarta.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bln) Menurut Provinsi dan Daerah, Tahun 2005-2007
Perkotaan (K) Perdesaan (D) K+D
Provinsi
2005 2006 2007 2005 2006 2007 2005 2006 2007
Nangroe Aceh Darussalam 195882 226599 246375 166608 177637 206724 172084 196130 218143
Sumatera Utara 175152 209282 205379 117578 156867 154827 143095 180956 178132
Sumatera Barat 175730 219990 213942 125602 166062 163301 140962 184266 180669
Riau 196892 266897 233732 151718 219483 194019 167620 244004 214034
Jambi 187608 202612 214769 122185 140453 152019 141157 175959 172349
Sumatera Selatan 172684 242135 205145 120331 185430 161205 138444 185253 178209
Bengkulu 172659 191541 210082 110275 124155 149468 128541 164397 170802
Lampung 164909 195912 187923 113728 148389 145634 125319 162479 157052
Bangka Belitung 197082 210878 236854 178701 188898 234028 186531 202718 235379
Kepulauan Riau 231346 247540 278742 156453 173319 213985 215803 210653 248241
DKI Jakarta 237735 295267 266874 - - - 237735 295267 266874
Jawa Barat 151235 207233 180821 113964 157664 144204 133701 185702 165734
Jawa Tengah 143776 193745 168186 120115 160753 140803 130013 176859 154111
DI Yogyakarta 160690 196406 200855 130807 187521 156349 148476 190693 184965
Jawa Timur 146743 196877 166546 115272 155080 140322 128598 172060 153145
Banten 183927 217536 188392 108855 140648 140885 150209 185866 169485
Bali 166962 230636 179141 136897 178359 147963 152519 205936 165954
Nusa Tenggara Barat 134488 140490 176591 109403 120042 130867 118891 149250 150026
Nusa Tenggara Timur 141168 156696 185975 89764 103903 113310 98263 137147 126389
Kalimantan Barat 164397 171289 166230 109777 125852 133403 124804 159291 142529
Kalimantan Tengah 161231 172517 179418 125980 136949 153430 136309 162696 162266
Kalimantan Selatan 163565 176650 185289 107455 125025 144647 128598 163459 161514
Kalimantan Timur 213378 300031 239560 161910 229750 188787 189851 257723 220368
Sulawesi Utara 150421 205685 165824 118675 177246 149440 130929 184597 156550
Sulawesi Tengah 173991 208494 181555 121193 144379 146682 131524 189386 154006
Sulawesi Selatan 138576 170517 149439 97027 123441 115788 109503 148584 126623
Sulawesi Tenggara 122067 170063 142103 107902 154770 127197 110978 172995 130625
Gorontalo 135837 165585 146458 115018 142331 134410 120670 145578 138181
Sulawesi Barat - 165808 144842 - 147186 130428 - 153232 135242
Maluku 189173 202415 205046 150271 166800 170547 161114 171183 179552
Malku Utara 174425 184891 192287 122936 140147 153526 137010 149743 165039
Irian Jaya Barat - 220567 209518 - 200817 204958 - 203582 205998
Papua 193307 214739 242556 145610 175237 190513 157074 177977 202379
Indonesia 165565 179144 187942 117365 135896 146837 138574 158051 166697
Sumber: BPS, 2007
Lampiran 2. Kuisioner Penelitian
Kepada Yth: Responden Penelitian
Kuisioner ini digunakan untuk meneliti Efektivitas Program Kelompok Usaha
Bersama Sebagai Upaya Pemberdayaan Fakir Miskin Perkotaan.
No. Responden: Kelompok Responden:

PETUNJUK PENGISIAN
Jawablah seluruhpertanyaan dengan mengisi/melingkari/ pilihan yang sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya.mohon dijawab dengan penuh kejujuran dan
tanggung jawab agar informasi benar, akurat dan lengkap sehingga meberikan
manfaat dalam memperbaiki pelaksanaan program Kelompok Bersama (KUBE).
Data pokok responden
1. Nama Lengkap :
2. Alamat Lengkap :
3. Jenis Kelamin : (1) laki-laki, (2) perempuan
4. usia :
5. Status : (1) bujangan, (2) menikah, (3) janda/duda
6. Lama Sekolah : tahun
7. Pekerjaan Utama (jam kerja) :
8. pendapatan/bulan :
9. Jumlah tanggungan Keluarga:

No. Tanggungan Jumlah Pekerjaan Penghasilan/Bln Keterangan


1. Istri/Suami
2. Anak Kandung:
- Balita
- Sekolah SD
- Sekolah SMP
- Sekolah SMA
- Kuliah
- lainnya
3. Lain-lain:
Jumlah
10. Kepemilikan rumah : (1) milik sendiri, (2) menumpang keluarga, (3)
kontak (bulanan/tahunan)
11. Asal kewarganegaraan/suku :
Data berdasarkan Kelompok
1. Jenis usaha :
2. Lokasi usaha :
3. Sasaran usaha :
4. Sumber keahlian berusaha : (1) kursus, (2) pengalaman pribadi
5. Pengalaman berusaha : tahun
6. Kedudukan dalam kelompok : (1) ketua, (2) bendahara, (3) sekretaris, (4)
anggota
7. Pendapatan dari usaha/bulan :
8. Kumpul dalam kelompok : kali/bulan
9. Dana pinjaman yang diperoleh :
10. Pendampingan dilakukan : kali/bulan
11. Keberlanjutan usaha : (1) usaha berlanjut, (2) usaha tidak berlanjut

CATATAN (penjelasan/usulan/temuan/pernyataan/pendapat responden)


Lampiran 3. Data dan Variabel-variabel Penelitian
No. KUBE Nama UMUR DSTS JK PHSLN TGGN JKS PHSLS PNDUS PNDDN PGLMN PNMPGN DKED DKEL
1 NURI Sa'diyah 48 1 84 2000000 7 0 0 300000 13 12 2 1 1
2 NURI Siti Aisyah 33 0 112 300000 2 0 0 200000 4 0 2 0 1
3 NURI Siti Jalpah 35 1 0 0 4 180 1000000 100000 9 0 2 0 1
4 NURI Rusmayanah 40 1 100 200000 5 196 700000 150000 9 16 2 0 1
5 NURI Hamdah H. 30 1 140 250000 3 280 2000000 150000 12 5 2 0 1
6 NURI Sumiyati 54 0 120 200000 0 0 0 200000 6 60 2 0 1
7 NURI Rojanah 42 1 0 0 3 180 1000000 200000 9 60 2 0 1
8 NURI Sumarni 42 1 150 600000 4 160 1000000 150000 6 5 2 0 1
9 NURI Halowati 50 1 140 500000 4 168 1500000 150000 0 12 2 0 1
10 NURI Niswah 50 1 140 500000 4 330 1500000 150000 7 12 2 0 1
11 KELELAWAR Siti Munawaroh 42 1 0 0 4 288 600000 42587 8 0 0 0 1
12 KELELAWAR Rupi'ah 52 1 140 900000 4 308 900000 42587 5 372 0 0 1
13 KELELAWAR Hasanah 40 0 0 300000 3 0 0 42587 9 0 0 0 1
14 KELELAWAR Aminah 60 1 0 0 2 160 600000 42587 8 0 0 0 1
15 KELELAWAR Nina Martina 43 1 0 0 3 160 600000 42587 9 0 0 0 1
16 KELELAWAR Warsinah 50 1 336 1500000 3 0 0 42587 8 372 0 1 1
17 KELELAWAR Aliyah 63 0 120 250000 1 0 0 42587 6 0 0 0 1
18 LUMBA_LUMBA Siswanti 39 1 100 400000 4 0 0 200000 12 84 1 1 0
19 LUMBA_LUMBA Sriwahyuni 36 1 24 50000 5 336 1000000 50000 12 12 1 0 0
20 LUMBA_LUMBA Ida Suwarni 34 1 84 200000 3 336 1000000 300000 6 72 1 0 0
21 LUMBA_LUMBA Sri Wahyuningsih 42 1 100 200000 3 160 1000000 0 12 0 1 0 0
22 LUMBA_LUMBA Sumiati 66 1 0 0 2 160 1000000 0 9 0 1 0 0
23 LUMBA_LUMBA Djariah 50 1 40 100000 2 252 1000000 0 9 0 1 0 0
24 LUMBA_LUMBA Amroh 45 0 120 300000 3 0 0 0 9 0 1 0 0
25 LUMBA_LUMBA Melani 30 1 160 200000 4 308 900000 0 9 24 1 0 0
26 LUMBA_LUMBA Eti 46 0 0 200000 1 0 0 0 9 0 1 0 0
27 LUMBA_LUMBA Nurhayati 40 1 0 0 4 252 900000 0 12 0 1 0 0
28 MERPATI Masanih 40 1 0 0 3 160 750000 161875 6 0 3 0 1
29 MERPATI Budiyah 52 1 0 0 4 180 2000000 161875 12 0 3 0 1
30 MERPATI Supartini 43 1 0 0 5 200 800000 161875 9 0 3 0 1
31 MERPATI Herlinah 33 1 0 0 4 160 750000 161875 12 0 3 0 1
32 MERPATI Sainem 37 1 0 0 4 200 750000 161875 6 0 3 0 1
33 MERPATI Lilis Yatiningsih 45 1 0 0 4 160 900000 161875 12 0 3 0 1
34 MERPATI Ikawati 36 1 140 1500000 5 180 2000000 161875 15 0 3 0 1
35 MERPATI Masinah 40 1 0 0 4 140 750000 161875 6 0 3 0 1
36 MERAK Tri Hastuti 49 0 0 800000 3 0 0 60867 12 0 0 0 1
37 MERAK Ika Wartika 35 0 0 500000 3 0 0 0 9 0 0 0 0
38 MERAK Titin Supratiwi 29 1 192 600000 3 196 700000 0 12 0 0 0 0
39 MERAK Rosita 50 1 180 600000 4 0 0 0 12 0 0 0 0
40 MERAK Iip Latifah 35 0 180 1300000 3 0 0 60867 12 0 0 0 1
41 MERAK Sawiyah 57 1 0 400000 2 0 0 60867 0 0 0 0 1
42 MERAK Lisnawati 32 1 0 0 4 200 2000000 0 12 0 0 0 0
43 MERAK Lilis Wati 42 0 120 500000 3 0 0 60867 12 216 0 1 1
44 MERAK Rubiyah 47 1 168 1000000 4 160 780000 60867 6 96 0 0 1
45 MERAK Hamianisbah 48 1 168 1000000 3 160 780000 60867 12 12 0 0 1
46 ANGGREK Mayulis 48 0 480 900000 3 0 0 600000 12 60 10 1 0
47 ANGGREK Rosnini 52 0 150 500000 2 0 0 600000 12 36 10 0 0
48 ANGGREK Puti 24 0 150 400000 1 0 0 0 14 0 0 0 0
49 ANGGREK Selfiani Ros 27 0 150 400000 1 0 0 0 15 0 0 0 0
50 ANGGREK Yusnani 48 1 336 1500000 5 200 1500000 200000 12 48 10 0 0
51 ANGGREK Neneng 30 1 120 200000 3 336 1000000 100000 9 12 10 0 0
52 ANGGREK Sutirah 60 0 150 600000 1 0 0 0 6 0 0 0 0
53 ANGGREK Hafnawati 56 1 160 1000000 2 0 800000 0 12 0 0 0 0
54 ANGGREK Supani 55 0 0 0 1 0 0 0 6 0 0 0 0
55 ANGGREK Nurhidayati 35 1 0 0 4 140 750000 0 9 0 0 0 0
Keterangan:
UMUR = umur responden pada saat pengambilan data dilakukan
DSTS = status pernikahan, 1 = menikah, 2 = belum menikah/janda
JK = jam kerja responden tiap bulan
PHSLN = penghasilan responden dari pekerjaan utama per bulan
TGGN = tanggungan keluarga
JKS = jam kerja suami responden tiap bulan
PHSLS = penghasilan suami per bulan
PNDUS = pendapatan usaha KUBE per individu
PNDDN = pendidikan responden dalam jumlah tahun bersekolah
PGLMN = pengalaman usaha
PNMPGN = frekuensi pendampingan sejak KUBE dibentuk hingga pengambilan
data dilakukan
DKED = dummy kedudukan
DKEL = dummy kelompok
Lampiran 4. Pendapatan RT Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti KUBE
serta Pekerjaan Utama Responden selain KUBE
Sebelum Sesudah DM Pekerjaan
NO KUBE Nama
Rp Rp Utama
1 NURI Sa'diyah 2.000.000 2.300.000 300.000 Guru
2 NURI Siti Aisyah 300.000 500.000 200.000 Buruh Cuci
3 NURI Siti Jalpah 1.000.000 1.100.000 100.000 IRT
4 NURI Rusmayanah 900.000 1.050.000 150.000 Buruh Cuci
5 NURI Sumiyati 200.000 400.000 200.000 Dagang Kue
6 KELELAWAR Siti Munawaroh 600.000 642.857 42.857 IRT
7 KELELAWAR Hasanah 300.000 342.857 42.857 Kontrakan
8 KELELAWAR Aminah 600.000 642.857 42.857 IRT
9 KELELAWAR Nina Martina 600.000 642.857 42.857 IRT
10 KELELAWAR Aliyah 250.000 292.857 42.857 Buruh RT
11 LUMBA_LUMBA Siswanti 400.000 600.000 200.000 Jumantik
12 LUMBA_LUMBA Sriwahyuni 1.050.000 1.100.000 50.000 Dagang Es
13 LUMBA_LUMBA Amroh 300.000 300.000 0 Buruh Tekstil
14 LUMBA_LUMBA Melani 1.100.000 1.100.000 0 Penjahit
15 LUMBA_LUMBA Eti 200.000 200.000 0 IRT
16 LUMBA_LUMBA Nurhayati 900.000 900.000 0 IRT
17 MERPATI Masanih 750.000 911.875 161.875 IRT
18 MERPATI Supartini 800.000 961.875 161.875 IRT
19 MERPATI Herlinah 750.000 911.875 161.875 IRT
20 MERPATI Sainem 750.000 911.875 161.875 IRT
21 MERPATI Lilis Y. 900.000 1.061.875 161.875 IRT
22 MERPATI Masinah 750.000 911.875 161.875 IRT
23 MERAK Tri Hastuti 800.000 860.867 60.867 IRT
24 MERAK Ika Wartika 500.000 500.000 0 IRT
25 MERAK Rosita 600.000 600.000 0 Dagang
26 MERAK Sawiyah 400.000 460.867 60.867 IRT
27 MERAK Lilis Wati 500.000 560.867 60.867 Dagang
28 ANGGREK Mayulis 900.000 1.500.000 600.000 Dagang
29 ANGGREK Rosnini 500.000 1.100.000 600.000 Dagang
30 ANGGREK Supani 200.000 200.000 0 IRT
31 ANGGREK Nurhidayati 750.000 750.000 0 IRT
Rata-rata 662.903 784.456 121.553

t-tabel 0 . 05 / 2 = 2.042
Lampiran 5. Pendapatan RT Tidak Miskin Sebelum dan Setelah Mengikuti
KUBE serta Pekerjaan Utama Responden selain KUBE
Sebelum Sesudah DTM Pekerjaan Utama
NO KUBE Nama
Rp Rp
1 NURI Hamdah H. 2.250.000 2.400.000 150.000 Dagang Kue
2 NURI Rojanah 1.000.000 1.200.000 200.000 IRT
3 NURI Sumarni 1.600.000 1.750.000 150.000 Dagang Kue
4 NURI Halowati 2.000.000 2.150.000 150.000 Dagang Nasi Uduk
5 NURI Niswah 2.000.000 2.150.000 150.000 Dagang Nasi Uduk
6 KELELAWAR Rupi'ah 1.800.000 1.842.857 42.857 Dagang
7 KELELAWAR Warsinah 1.500.000 1.542.857 42.857 Dagang
8 LUMBA_LUMBA Ida Suwarni 1.200.000 1.500.000 300.000 Dagang
9 LUMBA_LUMBA Sri W. 1.200.000 1.200.000 0 Buruh Cuci
10 LUMBA_LUMBA Sumiati 1.000.000 1.000.000 0 IRT
11 LUMBA_LUMBA Djariah 1.100.000 1.100.000 0 Dagang
12 MERPATI Budiyah 2.000.000 2.161.875 161.875 IRT
13 MERPATI Ikawati 3.500.000 3.661.875 161.875 Guru
14 MERAK Titin S. 1.300.000 1.300.000 0 Pramuniaga
15 MERAK Iip Latifah 1.300.000 1.360.867 60.867 Guru
16 MERAK Lisnawati 2.000.000 2.000.000 0 IRT
17 MERAK Rubiyah 1.780.000 1.840.867 60.867 Dagang
18 MERAK Hamianisbah 1.780.000 1.840.867 60.867 Dagang
19 ANGGREK Puti 400.000 400.000 0 Magang
20 ANGGREK Selfiani Ros 400.000 400.000 0 Magang
21 ANGGREK Yusnani 3.000.000 3.200.000 200.000 Dagang
22 ANGGREK Neneng 1.200.000 1.300.000 100.000 Dagang Kue
23 ANGGREK Sutirah 600.000 600.000 0 Dagang Kue
24 ANGGREK Hafnawati 1.800.000 1.800.000 0 Penjahit
Rata-rata 1.571.250 1.654.253 83.003

t-tabel 0 . 05 / 2 = 2.064
Lampiran 6. Hasil Pengolahan dengan Minitab 14

One-Sample T: D Miskin

Test of mu = 0 vs not = 0

Variable N Mean StDev SE Mean 95% CI T P


D Miskin 31 121553 151051 27130 (66147; 176959) 4,48 0,000

One-Sample T: D Tidak Miskin

Test of mu = 0 vs not = 0

Variable N Mean StDev SE Mean 95% CI T P


D Tidak Miskin 24 83002,7 86438,7 17644,2 (46502,8; 119502,6) 4,70 0,000

Histogram of D Miskin
(with Ho and 95% t-confidence interval for the mean)

10

6
Frequency

0 _
X
Ho

0 160000 320000 480000 640000


D Miskin

Histogramof DTidak Miskin


(with Ho and 95%t-confidence interval for the mean)
10

6
Frequency

0 _
X
Ho

0 80000 160000 240000 320000


DTidakMiskin
Lampiran 7. Hasil Pengolahan dengan Eviews 4.1

Dependent Variable: PNDUS


Method: Least Squares
Date: 08/12/08 Time: 13:36
Sample: 1 55
Included observations: 55
White Heteroskedasticity-Consistent Standard Errors & Covariance
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 29673.51 39982.95 0.742154 0.4615
PNDDN -2708.571 2803.809 -0.966033 0.3388
PGLMN -195.4186 169.7427 -1.151264 0.2552
PNMPGN 35946.38 10008.84 3.591463 0.0008
DKED 144186.9 48705.13 2.960405 0.0047
DKEL 55632.99 23461.38 2.371258 0.0217
R-squared 0.669546 Mean dependent var 104730.9
Adjusted R-squared 0.635827 S.D. dependent var 127398.7
S.E. of regression 76881.01 Akaike info criterion 25.44057
Sum squared resid 2.90E+11 Schwarz criterion 25.65956
Log likelihood -693.6158 F-statistic 19.85620
Durbin-Watson stat 1.397605 Prob(F-statistic) 0.000000

20
Series: Residuals
Sample 1 55
16 Observations 55

Mean 1.82E-11
12 Median 1232.215
Maximum 264701.7
Minimum -262415.2
8 Std. Dev. 73235.26
Skewness 0.640107
Kurtosis 9.477070
4
Jarque-Bera 99.89691
Probability 0.000000
0
-250000 -125000 0 125000 250000

Matriks Korelasi

PNDDN PGLMN PNMPGN DKED DKEL


PNDDN 1.000.000 -0.125098 0.130381 0.205498 -0.316494
PGLMN -0.125098 1.000.000 -0.057693 0.500683 0.169328
PNMPGN 0.130381 -0.057693 1.000.000 0.109914 -0.128469
DKED 0.205498 0.500683 0.109914 1.000.000 0.023187
DKEL -0.316494 0.169328 -0.128469 0.023187 1.000.000