You are on page 1of 28

Tugas Makalah KBM II

KOSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN PADA


SISTEM PERNAPASAN ASMA BRONKIAL

DI SUSUN OLEH

Kelompok :

1.WD.JULIANTI

2.FITRA APRILIANI

3. FITRA YANI

4.FILTA KARIM

AKADEMI KEPERAWATAN PEMERINTAH

KABUPATEN MUNA

2013

1
Daftar Isi

Halaman Sampul.......................................................................................

Kata Pengantar.........................................................................................

Daftar Isi....................................................................................................

Bab I Pendahuluan..................................................................................

a. Latar Belakang
b. Tujuan

Bab II Pembahasan....................................................................................

Bab III Konsep Askep..............................................................................

Bab IV Kesimpulan....................................................................................

Daftar Pustaka

2
KATA PENGANTAR

Tiada kata yang paling indah penulis panjatkan kehadirat-Nya selain kata puji
syukur alhamdulillah atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penugasan ini dalam rangka pemenuhan SKS dalam keperawatan
Medikal Bedah (KMB) pada semester genap ini, dengan judul asuhan keperawatan
dengan gangguan sistem pernafasan Asma Bronkial.

Penugasan ini merupakan proses pendekatan asuhan keperawatan yang komprehensip


dengan harapan dapat berguna bagi para mahasiswa AKPER PEMKAB MUNA.

Dalam penyelesaian makalah ini penulis telah banyak mendapat bantuan dari
berbagai pihak secara moril maupun materil maka dalam kesempatan ini penulis
menyampaikan rasa terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh pihak yang telah
berpartisipasi membantu penulis dalam menyelesaikan penugasan ini.

Disamping itu penulis juga menyadari masih banyak kekurangan-kekurangan


yang terdapat dalam penugasan ini baik dari segi penyusunan maupun dari segi
penulisan oleh karena itu dengan hati terbuka penulis menerima saran dan kritikan
yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penugasan ini.

Akhir kata semoga penugasan ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan
menjadi yang terbaik dari sekian banyak yang paling baik, Wassalam.

Raha, Februari 2013

Penulis

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Respirasi merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam


jaringan (penafasan dalam) dan yang terjadi di dalam paru-paru (pernafasan luar).
Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada
saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan
karbon dan hidrogen dari jaringan, memungkinkan setiap sel sendiri-sendiri
melangsungkan proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil
buangan dalam bentuk karbon dioksida dan air dihilangkan (Pearce, 2008).

System respirasi pada manusia terdiri dari jaringan dan organ tubuh yang
merupakan parameter kesehatan manusia. Jika salah satu system respirasi terganggu
maka secara system lain yang bekerja dalam tubuh akan terganggu. Hal ini dapat
menimbulkan terganggunya proses homeostasis tubuh dan dalam jangka panjang
dapat menimbulkan berbagai macam penyakit.

Gangguan sistem respirasi merupakan gangguan yang menjadi masalah besar di dunia
khususnya Indonesia diantaranya adalah penyakit pneumonia, TBC, dan asma.

B. Tujuan

1. Mahasiswa dapat memahami pengertian dari asma bronkial.

2. Mahasiswa dapat mengetahui etiologi dari asma bronkial.

3. Mahasiswa mampuh memgetahui gejala dan patifisiologi dari asma asma


bronkial.

4
4. Mahasiswa dapat mengetahui diagnosa yang dapat muncul pada klien yang
mengalami asma bronkial

5
BAB II

KONSEP DASAR

A. KONSEP PENYAKIT
1. Pengertian
Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif

intermitten, reversibledimana trakeobronkial berespon

secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.Asma bronchial

adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya

respontrakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan

dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang

luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara

spontan maupun hasil dari pengobatan.


2. Etiologi
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi

timbulnya serangan asma bronkhial.


a. Faktor predisposisi
Genetik
Dimana diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui

bagaimana cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit

alergi biasanya cara penurunannya dekat juga menderita penyakit

alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena

6
penyakit asma bronchial jika terpapar dengan factor pendetus. Selain

itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan

b. Faktor presipitasi
Allergen
Dimana allergen dapat dibagi menjadi 3 jenis yaitu inhalan, yang

masuk melalui saluran pernapasan, ingestan, yang masuk melalui

mulut, kontaktan, yang masuk melalui kontrak dengan kulit


Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering

mempengaruhi asama.Atmaosfir yang mendadak dingin merupakan

faktor pemicu terjadinya serangan asma.


Stress
Stress atau gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma,

selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada.
Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan

asma. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja


Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika

melakukan aktivitas jasmani atau olahraga yang berat.

3. Klasifikasi
Berdasarkan penyebabnya, asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3

tipe, yaitu :
a. Ekstrinsik (alergik)
Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor

pencetus yang spesifik, seperti debu, serbuk bunga, bulu binatang, obat-

obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur.Asma ekstrinsik sering

7
dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi.

Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang

disebutkan di atas, maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik.


b. Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus

yang tidak spesifik atau tidak diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga

disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.Serangan

asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu

dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. Beberapa

pasien akan mengalami asma gabungan.


c. Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum.Asma ini mempunyai karakteristik dari

bentuk alergik dan non-alergik.

4.Dampak Terhadap Berbagai Sistem Tubuh

Pengaruh asma bronkial terhadap berbagai sistem tubuh :


1. Asma bronkial dapat menyebabkan terjadinya kekurangan kadar O2 dalam
jaringan sehingga dapat menyebabkan terjadinya kematian jaringan-
jaringan tepi terutama pada otot-oto tubuh, kukurangan oksigen dalam
jaringan juga dapat berdapak terhadap kerusakan jaringan sistem
neurologi terutama pada sistem syaraf pusat yang dalam aktifitasnya
sangat membutuhkan oksigen sebagai bahan utama dalam melaksanakan
aktivitasnya. Otak tidak memiliki cadangan oksigen sehingga bila terjadi
gangguan dalam penyaluran oksigen seperti terjadi asma bronkhial dan
terjadi henti napas selama > 8-10 menit maka akan terjadi kerusakan otak.
2. Dampak tercepat sebagai akibat dari kekurangan oksigen dalam tubuh
juga dapat menyebabkan terjadinya kelemahan fisik, penurunan kontraksi
otot jantung bahkan gagal jantung karena dalam kenyataanx kadar oksigen
dalam darah sekitar 40% digunakan oleh otot jantung itu sendiri.

8
5.Patofisiologi dan penyimpangan KDM

Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus yang

menyebabkan sukar bernafas.Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas

bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara. Reaksi yang timbul pada

asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai berikut : seorang yang

alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody Ig E

abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila

reaksi dengan antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama

melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan

erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila seseorang menghirup alergen

maka antibody Ig E orang tersebut meningkat, alergen bereaksi dengan

antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan

mengeluarkan berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang

bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient), factor kemotaktik eosinofilik

dan bradikinin. Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan

menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi

mucus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos

bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat

meningkat.

Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada

selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa

menekan bagian luar bronkiolus.Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian,

9
maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang

menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi.Pada penderita asma

biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-

kali melakukan ekspirasi.Hal ini menyebabkan dispnea.Kapasitas residu

fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan

asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru.Hal ini bisa

menyebabkan barrel chest.

Penyimpangan KDM

Pencetus :
Pelepasan mediator Bronkospasme
humoral Edema mukosa
Allergen Imun
respon Histamine Sekresi
Olahraga
menjadi SRS-A meningkat
Cuaca
aktif Serotonin inflamasi
Emosi
Kinin

Penghambat
kortikosteroid bersihan jalan napas Nyeri pada
inefektif saluran
napapas.

Sesak napas BMR


Kelemahan menurun
fisik

10
6.Manifestasi Klinis

Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala

klinis, tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam,

gelisah, duduk dengan menyangga ke depan, serta tanpa otot-otot bantu

pernafasan bekerja dengan keras. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah

sesak nafas, mengi ( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang

merasa nyeri di dada. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan.

Pada serangan asma yang lebih berat , gejala-gejala yang timbul makin

banyak, antara lain : silent chest, sianosis, gangguan kesadaran, hyperinflasi

dada, tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Serangan asma seringkali

terjadi pada malam hari.

7.PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK ASMA BRONKIAL

1. Laboratorium
a. Lekositosis dengan neutrofil yang meningkat menunjukkan adanya
infeksi
b. Eosinofil darah meningkat > 250/mm3 , jumlah eosinofil ini menurun
dengan pemberian kortikosteroid.
2. Analisa gas darah
Hanya dilakukan pada penderita dengan serangan asma berat atau status
asmatikus.Pada keadaan ini dapat terjadi hipoksemia, hiperkapnia dan
asidosis respiratorik.Pada asma ringan sampai sedang PaO2 normal
sampai sedikit menurun, PaCO2 menurun dan terjadi alkalosis
respiratorik.Pada asma yang berat PaO2 jelas menurun, PaCO2 normal
atau meningkat dan terjadi asidosis respiratorik.
3. Radiologi
Pada serangan asma yang ringan, gambaran radiologik paru biasanya tidak
menunjukkan adanya kelainan. Beberapa tanda yang menunjukkan yang

11
khas untuk asma adanya hiperinflasi, penebalan dinding bronkus,
vaskulasrisasi paru.]
4. Faal paru:
Menurunnya FEV1
5. Uji kulit:
Untuk menunjukkan adanya alergi
6. Uji provokasi bronkus
Dengan inhalasi histamin, asetilkolin, alergen.Penurunan FEV 1 sebesar
20% atau lebih setelah tes provokasi merupakan petanda adanya
hiperreaktivitas bronkus.

8.Manajemen medik

Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah :


a. Menghilangkan obstruksi jalan napas dengan segera
b. Mengenal dan menghindari factor yang dapat mencetuskan serangan asma
c. Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai

penyakit asma, baik pengobatannya maupun tentang perjalanan

penyakitnya, sehingga penderita mengerti tujuan pengobatan yang

diberikan.

Pengobatan pada asma bronchial terbagi atas 2 yaitu :

a. Pengobatan non farmakologik


Memberikan penyuluhan
Menghindari factor pencetus
Pemberian cairan
Fisiotherapy
Beri O2 bila perlu
b. Pengobatan farmakologik
Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran napas, seperti

simpatomimetik / anrenergi (orsiprenalin, fenoterol, terbutalin), sentin

(teofilin) seperti aminofilin, aminofilin, teofilin)


Kromalin bukan bronkodilator tetapi merupakan obat pencegahan

serangan asma, terutama untuk asma alergik.

12
Ketolifen yang mempunyai efek pencegahan terhadap asma seperti

kromalin.

9. Komplikasi

Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :

a. Status asmatikus

b. Atelektasis

c. Hipoksemia

d. Pneumothoraks

e. Emfisema

f. Deformitas thoraks

g. Gagal napas.

13
BAB III
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Pengumpulan data
Aktivitas / Istrahat

Tanda : kelemahan, adanya penurunan kemampuan/peningkatan

kebutuhan bantuan melakukan aktivitas sehari-hari. Tidur

dalam posisi duduk tinggi


Gejala : Klien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas sehari-

hari karena sulit bernapas.


Pernapsan

Tanda : Dispenea, bunyi napas mengi, adanya batuk berulang,

napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang,

susah dalam bernapas


Gejala : Klien mengatakan kesusahan dalam bernapas.
Sirkulasi

Tanda : Peningkatan tekanan darah, peningkatan frekuensi

jantung, kemerahan atau berkeringat


Integritas ego

Tanda : Ansietas, ketakutan, peka rangsangan, gelisah


Gejala : Klien mengatakan kekhawatiran terhadap kondisinya,

14
klien mengatakan tidak dapat beristrahat dengan cukup
Makanan dan cairan

Tanda : Penurunan berat badan, porsi makan tidak dihabiskan


Gejala : Klien mengatakan ketidakmampuan untuk makan karena

susah untuk bernapas, klien mengatakan nafsu makannya

menurun.
Interaksi sosial

Tanda : Keterbatasan mobilitas fisik, susah bicara atau terbata-

bata, adanya ketergantungan pada orang lain.


Gejala : Klien mengatakan susah untuk berbicara.
Seksualitas

Tanda : Penurunan libido


Gejala : Klien mengatakan nafsu untuk melakukan seks menurun

b. Klasifikasi Data

Data Subyektif

Klien mengatakan tidak dapat melakukan aktivitas sehari-hari karena

sulit bernapas.

Klien mengatakan kesusahan dalam bernapas.

Klien mengatakan kekhawatiran terhadap kondisinya.

Klien mengatakan ketidakmampuan untuk makan karena susah untuk

bernapas

15
Klien mengatakan tidak dapat beristrahat dengan cukup karena susah

bernapas

Klien mengatakan nafsu makannya menurun.

Klien mengatakan susah untuk berbicara.

Klien mengatakan nafsu untuk melakukan seks menurun

Data Obyektif

Kelemahan, adanya penurunan kemampuan

Dispenea, susah dalam bernapas

Bunyi napas mengi

Adanya batuk berulang

Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang,

Peningkatan tekanan darah

Peningkatan frekuensi jantung

Kemerahan atau berkeringat

Ansietas

Gelisah

Penurunan berat badan

porsi makan tidak dihabiskan

Keterbatasan mobilitas fisik

Susah bicara atau terbata-bata

16
Penurunan libido

c. Analisa Data

Data Penyebab Masalah


1 2 3
Ds : Faktor penyebab asma Gangguan pertukaran gas
(ekstrinsik dan intrinsik)
Klien mengatakan

Respon imun yang buruk
kesusahan dalam
terhadap lingkungan
bernapas. Merangsang produksi
Do : antibody Ig E

Dispenea Merangsang parasimpatis
otonom sistem napas :
Susah dalam bernapas
reflex axon neuropeptida
Bunyi napas mengi
Degranulasi sel mast,
Adanya batuk berulang epitel, makrofag

Napas memburuk Merangsang pelepasan
mediator kimia terjadi
ketika pasien berbaring
pengeluaran histamine,
terlentang, bradikinin
Konstriksi otot polos
Peningkatan frekuensi
bronkus
jantung
Bronkospasme

Udara terperangkap dalam
saccus alveolus

Penurunan ventilasi
alveolus

17
Difusi gas terganggu

Gangguan pertukaran gas
Ds : Faktor penyebab asma Gangguan pemenuhan
keb. nutrisi
bronchial
Klien mengatakan

Bronkospasme
ketidakmampuan untuk
Udara terperangkap dalam
makan karena susah
saccus alveolus
untuk bernapas
Penurunan ventilasi
Klien mengatakan alveolus

nafsu makannya Difusi gas terganggu

menurun. Penurunan suplay O2dalam
darah


Kompensasi tubuh untuk
mendapatkan suplay O2
Do : yang cukup kejaringan
yaitu dengan peningkatan
Penurunan berat badan
usaha bernapas
porsi makan tidak
Kontraksi otot pernapasan
dihabiskan
Energy banyak digunakan
Kelemahan untuk bernapas

Adanya penurunan Ketidakmampuan untuk
mengunyah makanan
kemampuan
Nafsu makan menurun
Susah dalam bernapas
Intake nutrisi kurang

18

Gangguan pemenuhan
nutrisi

Ds : Stimulasi sesak Gangguan pemenuruhan


kebutuhan istrahat dan
Klien mengatakan tidur
Merangsang susunan saraf
tidak dapat beristrahat pusat ototnom
mengaktivasi noreefineprin
dengan cukup karena

susah bernapas

Klien mengatakan Merangsang saraf simpatis


untuk mengaktivasi RAS
kekhawatiran terhadap

kondisinya.

Do : Mengaktifkan kerjsa organ


tubuh
Ansietas

Gelisah
REM menurun

Klien terjaga

Gangguan pemenuhan
kebutuhan istrahat dan
tidur.

19
d. Prioritas masalah
1) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplay

oksigen
2) Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia
3) Gangguan pemenuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan

stimulasi sesak
2. Diagnosa Keperawatan
a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplay oksigen

ditandai dengan :

Ds : Klien mengatakan kesusahan dalam bernapas.


D : Dispenea

o Susah dalam bernapas

Bunyi napas mengi

Adanya batuk berulang

Napas memburuk ketika pasien berbaring terlentang,

Peningkatan frekuensi jantung

b. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksi ditandai

dengan :

Ds : Klien mengatakan ketidakmampuan untuk makan karena

susah untuk bernapas

20
Klien mengatakan nafsu makannya menurun.
D : Penurunan berat badan

o porsi makan tidak dihabiskan

Kelemahan

Adanya penurunan kemampuan

Susah dalam bernapas


c. Gangguan pemenuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan stimulasi

sesak ditandai dengan :

Ds : Klien mengatakan tidak dapat beristrahat dengan cukup

karena susah bernapas

Klien mengatakan kekhawatiran terhadap kondisinya.


D : Ansietas

o Gelisah

21
3. Rencana Keperawatan

Rencana Keperawatan
No Diagnosa Keperawatan
Tujuan Intervensi Rasional

1 Kerusakan pertukaran gas Tupan : 1. Pertahankan 1. Meningkatkan inspirasi


berhubungan dengan posisi tidur semi fowler maksimal, mengurangi
Dalam waktu 5 hari
gangguan suplay oksigen dengan miring kearah penekanan pada sisi
kerusakan pertukaran gas
ditandai dengan : yang terkena yang normal, serta
teratasi
ekspansi paru dan
Ds :
Klien mengatakan Tupen : ventilasi pada sisi yang

kesusahan dalam tidak sakit.


Setelah dilakukan intervensi 2. Diharapkan sesak
bernapas. 2. Bimbing dan latih teknik
selama 3 X 24 jam, klien napas klien berkurang
Do : nafas dalam secara
Dispenea akan memperlihatkan dan perubahan kondisi
teratur, monitor dan catat
Susah dalam bernapas perbaikan dalam pertukaran
TTV klien dapat
Bunyi napas mengi
Adanya batuk berulang gas dengan kriteria : terobservasi
3. Perubahan dan
Napas memburuk - Klien tidak mengeluh 3. Monitor fungsi
peningkatan frekuensi
ketika pasien berbaring sesak pernapasan : cepat,
pernapasan dapat
terlentang, - Frekuensi nafas normal dangkal, dyspneu dan
terobservasi
Peningkatan frekuensi perkembangan dada 4. Diharapkan sesak
16 20 x/menit
jantung - Pergerakan otot 4. Berikan O2 BC sesuai berkurang dan
pernpasan normal program yaitu 3 kebutuhan O2
- Pergerakkan dada
liter/menit terpenuhi
simetris
- Tidak terdapat retraksi
interkostalis
2 Gangguan pemenuhan Tupan : 1. Kaji kebiasaan diet, 1. Pasien distress
kebutuhan nutrisi masukan makanan saat pernapasan akut sering
Setelah diberikan tindakan
berhubungan dengan ini. Catat derajat anoreksia karena
keperawatan selam 5 hari,
anoreksia ditandai dengan ; kerusakan makanan dispneu
kebutuhan nutrisi klien 2. Sering lakukan 2. Rasa tak enak, bau
Ds : teratasi perawatan oral, buang menurunkan nafsu
Klien mengatakan
sekret, berikan wadah makan dan dapat
Tupen :
ketidakmampuan untuk khusus untuk sekali menyebabkan
Setelah diberikan tindakan pakai mual/muntah dengan
makan karena susah
keperawatan selama 3 hari, peningkatan kesulitan
untuk bernapas kebutuhan klien akan nutrisi
Klien mengatakan napas
beransur-ansur terpenuhi 3. Berikanan makanan
nafsu makannya 3. Makanan dan dalam
dengan kriteria : dalam bentuk cair, dan
bentuk cair memudah
menurun. dengan porsi sedikit tapi
- Nafsu makan klien klien dalam mencerna
Do : sering
Penurunan berat badan meningkat makanan yang
porsi makan tidak - Porsi makan dihabiskan diberikan serta porsi
- Berat badan meningkat.
sedikit tapi sering
dihabiskan
Kelemahan membantu
Adanya penurunan 4. Kolaborasi dengan tim
meningkatkan
gizi dalam menentukan
kemampuan kebutuhan nutrisi klien
Susah dalam bernapas diit yang akan diberikan 4. Membantu mengatasai
pada klien sesuai kebutuhan klien akan
indikasi. nutrisi

3 Gangguan pemenuhan Tupan: 1. Identifikasi penyebab 1. Dapat


istirahat tidur b.d klien tidak bisa tidur mengidentifikasi
Setelah dilakukan
teraktivasinya RAS penyeban klien tidak
perawatan selama 5 hari
ditandai dengan : bisa tidur dan untuk
kebutuhan Istirahat tidur
menentukan intervensi
Ds : klien terpenuhi 2. Anjurkan klien untuk selanjutnya
berelaksasi dengan 2. susu mengandung
Klien mengatakan tidak Tupen:
minum segelas susu triptopan yang
dapat beristrahat
Setelah dilakukan intervensi hangat sebelum tidur mempunyai efek
dengan cukup karena
selama 2 x 24 jam klien 3. Anjurkan klien untuk sedative
susah untuk bernapas
dapat istirahat tidur dengan tidur dengan posisi yang 3. dapat
Do : kriteria evaluasi : nyaman meningkatkan ekspansi
Gelisah 4. Anjurkan klien untuk paru yang maksimal
- Klien mengatakan
melakukan 4. meningkatkan
Insomnia tidurnya nyenyak tanpa
kebiasaannya sebelum relaksasi dan kesiapan
sering terbangun
tidur tidur
- Klien dapat tidur malam
5. Ciptakan lingkungan
selama 8 jam
yang nyaman
- Tidak tampak banyangan
5. lingkungan tenang
hitam dikelopak mata
membantu klien untuk
dapat beristrahat cukup
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan.Pada situasi nyata sering implementasi jauh berbeda dengan rencana.
Pada saat akan dilaksanakan tindakan keperawatan maka kontrak dengan pasien
dilaksanakan dengan menjelaskan apa yang akan dikerjakan serta peranserta pasien
yang diharapkan. Setelah semua tindakan dilaksanakan beserta respon pasien
kemudian data tindakan tersebut di dokumentasikan.(Keliat, 1999).

5. Evaluasi Tindakan Keperawatan

Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan

keperawatan pada pasien. Evaluasi dilakukan terus-menerus pada respon pasien

terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.Evaluasi dapat dibagi dua,

yaitu evaluasi hasil/sumatif dilakukan dengan membandingkan respon pasien pada

tujuan khusus dan umum yang telah ditentukan.


BAB IV

A.KESIMPULAN

1. Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten,


reversibledimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap
stimuli tertentu.
2. Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas, mengi
( whezing ), batuk, dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri
di dada.
3. Asma ditandai dengan kontraksi spastic dari otot polos bronkhiolus
yang menyebabkan sukar bernafas. Penyebab yang umum adalah
hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda asing di udara.
4. Prioritas masalah
a. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplay

oksigen
b. Gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia
c. Gangguan pemenuhan istrahat dan tidur berhubungan dengan

stimulasi sesak

B.SARAN

Semoga makalah ini dapat di pergunakan oleh kita semua dalam


proses pembelajaran yang efektif dan bernilai guna .
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002.Keperawatan Medikal Bedah, EGC; Jakarta.

Joyce, M. 2008. http:/www. Asma Bronchiale. Jakarta

Purnawan, 2007, Asma Bronchiale.Wordpress. Com

Price & Willson, 2006.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyaki.Edisi 4

EGC; Jakarta

Roger, W. 2000. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Gramedia; Jakarta