You are on page 1of 21

Ners Kece Blog

Kamis, 27 Juni 2013


ASKEP ASMA BRONCHIAL

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka
kejadian alergi dan asma terus meningkat tajam beberapa tahun terakhir. Tampaknya alergi
merupakan kasus yang mendominasi kunjungan penderita di klinik rawat jalan pelayanan
kesehatan anak. Salah satu manifestasi penyakit alergi yang tidak ringan adalah asma. Penyakit
asma terbanyak terjadi pada anak dan berpotensi mengganggu pertumbuhan dan perkembangan
anak. Alergi dapat menyerang semua organ dan fungsi tubuh tanpa terkecuali. Sehingga
penderita asma juga akan mengalami gangguan pada organ tubuh lainnya.
Di samping itu banyak dilaporkan permasalahan kesehatan lain yang berkaitan dengan
asma tetapi kasusnya belum banyak terungkap. Kasus tersebut tampaknya sangat penting dan
sangat berpengaruh terhadap kehidupan anak, tetapi masih perlu penelitian lebih jauh. Dalam
tatalaksanan asma anak tidak optimal, baik dalam diagnosis, penanganan dan pencegahannya..
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 1996, penyakit-penyakit yang dapat
menyebabkan sesak napas seperti bronchitis, emfisema, dan asma merupakan penyebab kematian
ketujuh di Indonesia. Asma yang tidak ditangani dengan baik dapat mengganggu kualitas hidup
anak berupa hambatan aktivitas 30 persen, dibanding 5 persen pada anak non-asma. Banyak
kasus asma pada anak tidak terdiagnosis dini, karena yang menonjol adalah gejala batuknya, bisa
dengan atau tanpa wheezing (mengi).
Asma adalah penyakit yang menyerang saluran pernafasan yang bisa menyerang siapa
saja, namun penderita paling banyak adalah para anak-anak. Menurut KEMENKES (2008) , 100
hingga 150 juta orang di dunia menderita asma, jumlah ini diperkirakan akan meningkat
sebanyak 18.000 kasus setiap tahunnya. Setiap negara di dunia memilki kejadian kasus asma
yang berbeda-beda.
Di Asia khususnya Asia Tenggara 1 dari 4 orang yang menderita asma mengaami masa
yang tidak produktif karena tidak bekerja akibat asma. bisa dibanyangkan berapa kerugian yang
dialami. Menurut Miol, penderita asma 3.3% penduduk Asia Tenggara adalah orang-orang yang
menderita asma. Dimana kasus asma banyak terjadi di Indonesia, Vietnam, Thailand, Filiphina
dan singapura.
Sedangkan menurut RISKESDAS (2007) di Indonesia prevalensi penderita asma
diperkirakan masih sangat tinggi. Bedasarakan depkes persentase penderita asma di indonesia
sebesar 5,87% dari keselurahan penduduk Indonesia. Dimana masih banyak penderita asma yang
belum mendapatkan perawatan dokter.Hal itu membuat angka kematian karena penyakit asma
tergolong tinggi di Indonesia.

B. Tujuan
1. Agar mahasiswa memahami tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan asma bronchial
2. Agar mahasiswa memahami tentang asma bronchial
3. Sebagai tugas mata kuliah gerontik

C. Rumusan Masalah

1. Defenisi asma Bronchial

2. Penyebab asma

3. Tanda dan gejala asma

4. Asuhan Keperawatan pada asma


BAB 2
PEMBAHASAN
A. DEFENISI
Istilah asma dari kata Yunani yang artinya terengah-engah dan berarti serangan napas
pendek. Meskipun dahulu istilah ini digunakan untuk menyatukan gambaran klinis napas
pendek tanpa memandang sebabnya, sekarang istilah ini hanya ditujukan untuk keadaan-keadaan
yang menunjukkan respon abnormal saluran napas terhadap berbagai rangsangan yang
menyebabkan penyempitan jalan napas yang meluas. (Price, 1995, hlm 689)
Asma adalah obstruksi jalan nafas akut, episodik yang diakibatkan oleh rangsangan yang
tidak menimbulkan respon pada orang sehat. Asma telah didefinisikan sebagai gangguan yang
dikarakteristikan oleh paroksisme rekurens mengi dan dipsnea yang tidak disertai oleh penyakit
jantung atau penyakit lain. (dr. Jan Tambayong, 2000, hlm 97)
Asma adalah suatu gangguan pada saluran bronkial yang mempunya ciri bronkospasme
periodik (kontraksi spasme pada saluran napas) teutama pada percabangan trakeobronkial yang
dapat di akibatkan oleh berbagai stimulus seperti oleh faktor biokemikal, endokrin, infeksi,
otonomik dan psikologi. (Irman Somantri, 2009, hlm 50).
asma adalah inflamasi abnormal bersifat kronik pada saluran nafas yang menyebabakan
hipersensitif bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala berulang seperti
menggigil, batuk, sesak nafas dan berat di dada, biasanya terjadi pada malam atau dini hari yang
bersifat reversible baik dengan atau tanpa pengobatan (Menurut Kemenkes. 2008)
asma adalah gangguan pernafasan kronik menyerang bronkus dan bronkiolus yang bersifat
hipersensitif yang disebabkan oleh alergi debu, bulu hewan,iritasi bahan kimia, kecoak,asap
rokok,emosi, obat-obatan (Menurut Kongres GINA : 1989)
B. ETIOLOGI
Sampai saat ini etiologi asma diketahui belum pasti , suatu hal yang menonjol pada semua
penderita asma adalah fenomena hipereaktivitas bronkus . bronkus penderita asma sangat peka
tehadap rangsangan imonologi maupun nonimumologi. Oleh karena sifat inilah, maka serangan
asma mudah terjadi ketika rangsangan baik fisik, metabolik, kimia, alergen, infeksi, dan
sebagainya. Penderita asma perlu mengetahui dan sedapat mungkin menghindari rangsangan
atau pencetus yang dapat menimbulkan asma.
Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana cara
penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat
juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita sangat mudah terkena
penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan faktor pencetus. Selain itu hipersentifisitas saluran
pernafasannya juga bisa diturunkan.

b. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

1. Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan


Contoh : debu, bulu binatang, serbuk bunga, spora jamur, bakteri dan polusi

2. Ingestan, yang masuk melalui mulut


Contoh : makanan dan obat-obatan

3. Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit


Contoh : perhiasan, logam dan jam tangan

c. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir yang
mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadang-kadang serangan
berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau.
d. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus segera
diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk
menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya
belum bisa diobati.
e. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini berkaitan
dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan, industri tekstil,
pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti.
f. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat.
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani
atau olah raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. Serangan asma
karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

C. Manifestasi Klinis
Gejala asma terdiri atas, yaitu takipnea, dispnea, batuk, dan mengi. Gejala yang di sebutkan
terakhir sering di anggap sebagai gejala yang harus ada, dan data lainnya seperti terlihat pada
pemeriksaan fisik(Irman,2009)
Karena asma merupakan suatau penyakit yang di tandai dengan penyempitan jalan nafas yang
reversible , maka gambaran klinis dari asma memperlihatkan variabilitasyang besar baik di
antara penderita asma dan secara individual di sepanjang waktu . masalah utamanya adalah
kepekaan selaput lender bronchial dan hiperaktif otot bronchial . rangkaian pengaruh dari edema
selaput lender bronchial, peningkatan produksi mucus (dahak).menimbulkan penyempitan jalan
nafas dan menyebabkan empat gejala asma yang utama yakni : kelelahan, batuk, mengi ,
pernafasan pendek , dan rasa sesak di dada(Antony,1997)
D. Phatofisiologi
Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang menyebabkan sukar
bernafas. Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap benda-benda
asing di udara. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara sebagai
berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody
IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan
antigen spesifikasinya. Pada asma, antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat
pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. Bila
seseorang menghirup alergen maka antibody IgE orang tersebut meningkat, alergen bereaksi
dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan
berbagai macam zat, diantaranya histamin, zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang
merupakan leukotrient), faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.
Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding
bronkhioulus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme
otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat.
Pada asma, diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi
karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus.
Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian, maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari
tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Pada penderita
asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat, tetapi sekali-kali melakukan
ekspirasi. Hal ini menyebabkan dispnea. Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru
menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi
dari paru. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.

BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
BIO DATA
Pengkajian mengenai nama, umur dan jenis kelamin perlu dilakukan pada klien dengan asma.
Serangan asma pada usia dini memberikan implikasi bahwa sangat mungkin terdapat status
atopic. Serangan pada usia dewasa dimungkinkan adanya factor non-atopik. Tempat tinggal yang
menggambarkan kondisi tempat klien berada. Berdasarkan tempat alamat tersebut, dapat
diketahui pula factor yang memungkinkan menjadi pencetus serangan asma. Status perkawinan
dan gangguan emosional yang timbul dalam keluarga atau lingkungan merupakan factor
pencetus serangan asma. Pekerjaan serta suku bangsa juga dapat dikaji untuk mengetahui adanya
pemaparan bahan allergen. Hal ini yang perlu dikaji dari identitas klien ini adalah tanggal masuk
rumah sakit (MRS), nomor rekam medis, asuransi kesehatan dan diagnosis medis.Keluhan utama
meliputi sesak nafas, bernafas terasa berat pada dada, adanya keluhan sulit untuk bernafas.
Riwayat Penyakit Saat Ini

Klien dengan serangan asma datang mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak nafas
yang hebat dan mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing,
pengugunaan otot bantu pernafasan, kelelahan,gangguan kesadaran, sianosis dan perubahan
tekanan darah.Serangan asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium.
Stadium pertama ditandai dengan batul-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena iritasi
mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan pembengkakan
bronkus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus yang jernih dan berbusa. Klien
merasa sesak nafas , berusah untuk nafas dalam, ekspirasi memanjang diikuti bunyi
mengi(wheezing). Klien lebih suka duduk dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur,
tampak pucat, gelisah, dan warna kulit mulai membiru. Stadium ketiga ditandai dengan hampir
tidak terdengarnya suara nafas karean aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernafasan menjadi
dangkal dan tidak teratur, irama nafas meningkat karena asfiksia.

Riwayat Penyakit Dahulu

Penyakit yang pernah diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya ineksi saluran pernafasan
atas, sakit tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung. Riwayat serangan asma, frekuensi,
waktu dan alergen-alergen yang dicurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat pengobatan
yang dilakukan untuk meringkan gejala asma.

Riwayat Penyakit Keluarga


Pada klien dengan serangan asma perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi
yang lain pada anggota keluarga karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan
oleh factor genetic dan lingkungan.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa 1:

Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan bronkhokonstriksi, bronkhospasme


ditandai dengan sekresi mucus yang kental, adanya wheezing,RR meningkat (lebih dari
22x/mnt), HR meningkat (lebih dari 100x/mnt), napas dangkal dan cepat, menggunakan otot
bantu napas.
Tujuan :

Bersihan jalan napas kembali efektif setelah di lakukan tindakan keperawatan


Kriteria Hasil:
1. Klien dapat mendemonstrasikan batuk efektif
2. Tidak ada suara nafas tambahan dan wheezing
3. Pernapasan klien normal ( 16 -20 x /menit) tanpa adanya pengguanaan otot bantu napas.
4. Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
Intervensi:
Mandiri :
1. Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional : posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses ekspirasi paru.
2. Kaji Warna, kekentalan dan jumlah sputum
Rasional : karekteristik sputum dapat menunjukkan barat ringannya obstruksi.
3. Atur posisi semifowler
Rasional : posisi semi fowler meningkatkan ekspansi paru.
4. Ajarkan cara batuk efektif dan terkontrol
Rasional : batuk yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran secret yang
melekat dijalan napas.
5. Bantu klien latihan napas dalam.
Rasional : ventilasi maksimal membuka lumen jalan nafas dan meningkatkan gerakan secret
kedalam jalan nafas besar untuk dikeluarkan.
6. Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan
Rasional : Hidrasi yang adekuat membantu mengencerkan secret dan mengefektifkan
pembersihan jalan nafas.
7. Lakukan fisioterapi dada dengan teknik postural dranase, perkusi,fibrasi dada.
Rasional : fisioterapi dada merupakan strategi untuk mengeluarkan secret.

Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator
Rasional : Pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area broncus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
2. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat agen mukolitik dan ekspektoran
Rasional : agen mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan secret paru untuk
memudahkan pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan secret lepas dari perlengketan
jalan napas .
3. Kolaborasi dengan dokter pemberian obat kortikostiroid.
Rasional : kortikosteroid berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan
reaksi inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkus.

Diagnosa 2

Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan energy/kelelahan di tandai dengan
sesak napas, takipnea, orthopnea, tarikan interkostal/penggunaan otot napas tambahan untuk
bernapas, napas pendek, napas pursed-lip.
Tujuan:

Pola nafas kembali efektif setelah di lakukan tindakan keperawatan selama x 24


Kriteri Hasil :
1. pernapasan klien normal (16-20x/menit) tanpa adanya penggunaan otot bantu napas.
2. Tidak terdapat suara nafas tambahan atau wheezing.
3. Status tanda vital dalam batas normal.
4. nadi 60 - 100x /menit
5. RR 16-20 x/mnt
6. Klien dapat mendemonstrasikan teknik distraksi pernapasan.

Intervensi:
Mandiri :
1. Posisikan pasien untuk mengoptimalkan pernapasan ( posisi semi fowler)
Rasional : posisi semi fowler dapat memberikan kesempatan pada proses ekspirasi paru.
2. Pantau kecepatan, irama, kedalaman pernapasan dan usaha respirasi.
Rasional : Memantau pola pernafasan harus dilakukan terutama pada klien dengan gangguan
pernafasan .
3. Perhatikan pergerakan dada , amati kesimetrisan, penggunaan otot-otot bantu napas, serta
retraksi otot supraklavikular dan interkostal.
Rasional : melakukan pemeriksaan fisik pada paru dapat mengetahui kelainan yang terjadi pada
klien .
4. Auskultasi bunyi napas, perhatikan area penurunan / tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi
napas tambahan.
Rasional : Adanya bunyi napas tambahan mengidentifikasikan adanya gangguan pada
pernapasan.
5. Pantau peningkatan kegelisahan, ansietas, dan tersengal-sengal.
Rasional : Ansietas dapat memicu pola pernapasan seseorang.
6. Anjurkan napas dalam melalui abdomen selama periode distress pernapasan
Rasional : Teknik distraksi dapat merileksasikan otot otot pernapasan.
Kolaborasi :
1. Kolaborasi dengan dokter pemberian bronkodilator.
Rasional : pemberian bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkus yang
mengalami spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
Diagnosa 3

Gangguan Pertukaran gas berhubungan dengan kelelahan otot respiratory ditandai dengan
dispnea, peningkatanPCO2, peningkatan penggunaan otot bantu napas
Tujuan :
Pertukaran gas kembali efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan selamax24 jam.
Kriteria Hasil :
1. Klien dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi dalam pernapasan.
2. Frekuensi napas 16-20 x /menit dan tidak sesak napas
3. Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
4. Kulit tidak pucat ( PaO2 kurang dari 50 mm Hg.PaCO2 lebih dari 50 mm Hg dan PH 7,35-7,40 )
5. Saturasi oksigen dalam darah lebih dari 90%
Intervensi:
1. Pantau status pernapasan tiap 4 jam,hasil GDA,intake dan output.
Rasional : untuk mengindenfikasi indikasi ke arah kemajuan atau penyimpangan dari hasil klien.
2. Tempatkan klien pada posisi semi fowler
Rasional: posisi tegak memungkinkan ekspansi paru lebih baik.
3. Berikan pengobatan yang telah ditentukan serta amati bila ada tanda-tanda toksisitas.
Rasional : pengobatan untuk mengembalikan kondisi bronchus seperti kondisi sebelumnya.
4. Tingkatkan aktifitas secara bertahap, jelaskan bahwa fungsi pernapasan akan meningkat dengan
aktivitas.
Rasional : Mengoptimalkan fungsi paru sesuai dengan kemampuan aktivitas individu.
Kolaborasi:
1. Berikan terapi intravem sesuai anjuran (kolaborasi dengan dokter)
Rasional : Untuk memungkinkan dehidrasi yang cepat dan tepat mengikuti keadaan vaskuler
untuk pemberian obat-obat darurat.
2. Berikan oksigen melalui kanula nasal 4 L/menit selanjutnya sesuaikan dengan hasil PaO2.
Rasional : pemberian oksigen mengurangi beban otot-otot pernafasan.
Diagnosa 4:
ntoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen
ditandai dengan kelelahan, dispnea, sianosis
Tujuan :

Dalam waktu x24 jam setelah diberikan intervensi klien dapat melakukan aktivitas sesuai
kebutuhan .
Kriteria hasil :
1. Klien dapat beraktivitas sesuai kebutuhannya
2. Pernapasan klien normal (16-20 x/menit) dan tidak sesak napas
3. Frekuensi nadi 60-120 x /menit.
4. Klien dapat mendemonstrasikan teknik distraksi yang diajarkan

Intervensi:
1. Jelaskan aktivitas dan factor ysng dapat meningkatkan kebutuhan oksigen
Rasional : merokok ,suhu ekstrem dan stress menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah dan
meningkatkan beban jantung .
2. Ajarkan progam relaksasi
Rasional : mempertahankan, memperbaiki pola nafas teratur .
3. Buat jadwal aktivitas harian ,tingkatkan secara bertahap.
Rasional : mepertahankan pernapasan lambat dengan tetap memperhatikan latihan fisik
memungkinkan peningkatan kemampuan otot bantu pernapasan
4. Ajarkan teknik napas efektif.
Rasional : meningkatkan oksigenasi tanpa mengorbankan banyak energi .
5. Pertahan kan terapi oksigen tambahan .
Rasional : mempertahankan, memperbaiki dan meningkatkan konsentrasi oksigen darah.
6. Kaji respon abnormal setelah aktivitas.
Rasional : respon abnormal meliputi nadi , tekanan darah , dan pernafasan yang meningkat .
7. Beri waktu istirahat yang cukup.
Rasional : meningkatkan daya tahan klien, mencegah kelelahan .
Kolaborasi :
1. Kolaborasikan dengan fisioterapi untuk melakukan latihan /aktivitas harian sesuai jadwal.
Rasional: latihan/aktivitas harian memungkinkan kemampuan otot bantu nafas
Daftar Pustaka
Somantri, Irman.2009. Asuhan Keperwatan Pada Klien Gangguan Sistem Pernafasan Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika.
Rab,Tabran.1996.Ilmu Penyakit Paru.Jakarta:Hipokrates.
Muttaqin, Arif.2008. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Pernafasan.
Jakarta: Salemba Medika.
Crocket,Antony,1997. Penanganan Asma Dalam Keperawatan Primer. Jakrta:Hipokrates.
Doengoes, Marilyn.dkk.2000. Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta: Buku kedokteran EGC.
http://id.wikipedia.org/wiki/Medicafarma-Asma Brokiale.2008.
Tambayong,Jan.2000.Patofisiologi untuk Keperawatan.Jakarta:EGC.
Diposkan oleh Supriadi Supri di 03.27
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

4 komentar:

1.

Julio Aryana29 Juni 2016 23.45

OBAT ASMA
terima kasih infonya

Balas

2.

Julio Aryana29 Juni 2016 23.45

OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
terima kasih infonya

Balas

3.

Julio Aryana29 Juni 2016 23.46

OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
terima kasih infonya
Balas

4.

Julio Aryana29 Juni 2016 23.47

OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
OBAT ASMA
terima kasih infonya

Balas

Muat yang lain...


Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

PBL

UKS

PBL
UKS

Blog Archive
2013 (8)

o Agustus (1)

o Juli (2)

o Juni (2)

ASKEP ASMA BRONCHIAL

ASKEP HIDROSEFALUS PADA ANAK

o Mei (1)

o April (2)

Labels
askep hiperbilirubin (1)

Followers
Total Tayangan Laman
71,320

About
Hallo Nama saya supriadi saya admin blog ini , blog ini untuk sementara berisi asuhan
keperawatan untuk kedepan nya saya tidak tahu :)

Labels
askep hiperbilirubin (1)

Blogger news
Blogroll
Blogger templates
Laman
Beranda

Google+ Followers
Follow by Email

Pages - Menu
Beranda
Translate
Diberdayakan oleh Terjemahan

Popular Posts
ASKEP ASMA BRONCHIAL

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri
atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian...

ASKEP HIDROSEFALUS PADA ANAK

BAB 1 PENDAHULUAN A.Latar Belakang Hidrosefalus adalah penumpukan CSS


sehingga menekan jaringan otak. Jumlah cairan bisa mencapai...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan diabetes millitus (askep diabetes millitus(DM))

BAB1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu


kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglik...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN AMPUTASI

BA B I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Footner (1992), mengemukakan 60%


amputasi dilakukan pada Pasien dengan usia diatas 60 tah...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBBIN

BAB I
...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan diabetes millitus (askep diabetes millitus(DM))

BAB1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu


kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglik...

ASKEP TIPUS ABDOMINALIS

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tifus abdominalis atau tipoid


disebabkan bakteri yang disebut salmonella serovariantyphi dan...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN KASUS ANTRIUM SEPTAL


DEFECT(ASD)/VENTRIKEL SEPTAL DEFECT (VSD)
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di antara berbagai kelainan bawaan
(congenital anomaly) yang ada, penyakit jantung bawaan (PJB) m...

Blog Archive
2013 (8)

o Agustus (1)

o Juli (2)

o Juni (2)

ASKEP ASMA BRONCHIAL

ASKEP HIDROSEFALUS PADA ANAK

o Mei (1)

o April (2)

Mengenai Saya

Supriadi Supri
Lihat profil lengkapku

ners kece

Entri Populer Entri Populer


ASKEP ASMA BRONCHIAL ASKEP ASMA BRONCHIAL

BAB 1 PENDAHULUAN Latar BAB 1 PENDAHULUAN Latar


Belakang Beberapa laporan ilmiah baik Belakang Beberapa laporan ilmiah baik
di dalam negeri atau luar negeri di dalam negeri atau luar negeri
menunjukkan bahwa angka kejadian... menunjukkan bahwa angka kejadian...
ASKEP HIDROSEFALUS PADA ASKEP HIDROSEFALUS PADA
ANAK ANAK

BAB 1 PENDAHULUAN A.Latar BAB 1 PENDAHULUAN A.Latar


Belakang Hidrosefalus adalah Belakang Hidrosefalus adalah
penumpukan CSS sehingga menekan penumpukan CSS sehingga menekan
jaringan otak. Jumlah cairan bisa jaringan otak. Jumlah cairan bisa
mencapai... mencapai...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan Asuhan Keperawatan pada klien dengan
diabetes millitus (askep diabetes diabetes millitus (askep diabetes
millitus(DM)) millitus(DM))

BAB1 PENDAHULUAN A. Latar BAB1 PENDAHULUAN A. Latar


Belakang Diabetes mellitus merupakan Belakang Diabetes mellitus merupakan
suatu kelompok penyakit metabolik suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglik... dengan karakteristik hiperglik...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN AMPUTASI KLIEN DENGAN AMPUTASI

BA B I PENDAHULUAN 1.1 Latar BA B I PENDAHULUAN 1.1 Latar


Belakang Footner (1992), Belakang Footner (1992),
mengemukakan 60% amputasi dilakukan mengemukakan 60% amputasi dilakukan
pada Pasien dengan usia diatas 60 tah... pada Pasien dengan usia diatas 60 tah...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN PADA


KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBBIN KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBBIN

BAB I BAB I
... ...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan Asuhan Keperawatan pada klien dengan
diabetes millitus (askep diabetes diabetes millitus (askep diabetes
millitus(DM)) millitus(DM))

BAB1 PENDAHULUAN A. Latar BAB1 PENDAHULUAN A. Latar


Belakang Diabetes mellitus merupakan Belakang Diabetes mellitus merupakan
suatu kelompok penyakit metabolik suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglik... dengan karakteristik hiperglik...

ASKEP TIPUS ABDOMINALIS ASKEP TIPUS ABDOMINALIS


BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BAB I PENDAHULUAN A. LATAR
BELAKANG Tifus abdominalis atau BELAKANG Tifus abdominalis atau
tipoid disebabkan bakteri yang disebut tipoid disebabkan bakteri yang disebut
salmonella serovariantyphi dan... salmonella serovariantyphi dan...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ASUHAN KEPERAWATAN PADA


BAYI DENGAN KASUS ANTRIUM BAYI DENGAN KASUS ANTRIUM
SEPTAL DEFECT(ASD)/VENTRIKEL SEPTAL DEFECT(ASD)/VENTRIKEL
SEPTAL DEFECT (VSD) SEPTAL DEFECT (VSD)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar BAB I PENDAHULUAN A. Latar


Belakang Di antara berbagai kelainan Belakang Di antara berbagai kelainan
bawaan (congenital anomaly) yang ada, bawaan (congenital anomaly) yang ada,
penyakit jantung bawaan (PJB) m... penyakit jantung bawaan (PJB) m...

Entri Populer
ASKEP ASMA BRONCHIAL

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Beberapa laporan ilmiah baik di dalam negeri
atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian...

ASKEP HIDROSEFALUS PADA ANAK

BAB 1 PENDAHULUAN A.Latar Belakang Hidrosefalus adalah penumpukan CSS


sehingga menekan jaringan otak. Jumlah cairan bisa mencapai...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan diabetes millitus (askep diabetes millitus(DM))

BAB1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu


kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglik...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN AMPUTASI

BA B I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Footner (1992), mengemukakan 60%


amputasi dilakukan pada Pasien dengan usia diatas 60 tah...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN HIPERBILIRUBBIN

BAB I
...

Asuhan Keperawatan pada klien dengan diabetes millitus (askep diabetes millitus(DM))
BAB1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan suatu
kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglik...

ASKEP TIPUS ABDOMINALIS

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Tifus abdominalis atau tipoid


disebabkan bakteri yang disebut salmonella serovariantyphi dan...

ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI DENGAN KASUS ANTRIUM SEPTAL


DEFECT(ASD)/VENTRIKEL SEPTAL DEFECT (VSD)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di antara berbagai kelainan bawaan


(congenital anomaly) yang ada, penyakit jantung bawaan (PJB) m...

Template Perjalanan. Diberdayakan oleh Blogger.