You are on page 1of 12

MODUL 5

PENGUKURAN PERFORMANSI
KERJA SECARA PSIKOLOGIS

Nama
Nim
KELOMPOK xx

LABORATORIUM ERGONOMI
DAN PERANCANGAN SISTEM KERJA
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI
JURUSAN MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS HASANUDDIN
2017
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Manusia merupakan salah satu elemen dalam suatu sistem kerja.
Performansi kerja manusia dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Hal ini
disebabkan karena manusia memiliki kepekaan indera untuk menerima rangsang
dari lingkungan. Faktor ketajaman dan kepekaan indera pada manusia sangat
berperan penting dalam melakukan setiap kegiatannya.
Setiap aktivitas manusia (berbicara, membaca, menulis, dan lain-lain)
selalu didukung oleh daya ingat. Jika proses penyimpanan informasi ke daya ingat
tidak berjalan lancar dan terganggu, maka akan berdampak pada kesalahan
pengambilan keputusan atau reaksi yang harus dilakukan karena daya ingat tidak
tersimpan sempurna. Gangguan dalam penyimpanan informasi ke daya ingat
dapat berasal dari dalam (kecacatan pada indera maupun otak) maupun dari luar
(faktor lingkungan fisik).
Kurang sempurnanya pengolahan informasi dalam daya ingat dapat
mempengaruhi performansi dan produktivitas seseorang dalam bekerja maupun
aktivitasnya. Berdasarkan jangka waktu lama penyimpanan dan tingkat
penggunaannya, memory dibagi menjadi dua yaitu short term memory dan long
term memory. Pada daya ingat manusia, semua informasi yang diterima akan
disimpan dan diakses melalui working memory atau short term memory. Dalam
menjalankan suatu proses aliran informasi ke memory dalam human-computer
interaction diperlukan lingkungan fisik yang mendukung (Alan Dix, 1998).

B. Tujuan praktikum
a. Mampu memahami dan menghitung pengaruh kondisi lingkungan terhadap
beban kerja psikologi pekerjaan tertentu dengan menggunakan reaction time
test dan memory recall test.
b. Mampu menilai tingkat beban psikologi suatu pekerjaan tertentu dan
menentukan kondisi lingkungan kerja yang tepat.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 1
BAB II
TEORI DASAR

A. Ergonomi kognitif
Secara spesifik mebahas tentang hubungan display dan kontrol. Topik-
topik yang relevan dalam ergonomi kognitif antara lain ; beban kerja,
pengambilan keputusan, dan stres kerja.
1. Beban Kerja
Analisis beban kerja merupakan salah satu subbagian dalam melakukan
perancangan kerja. Beban kerja harus dianalisa agar sesuai dengan
kemampuan dari pekerja itu sendiri. Workload atau beban kerja merupakan
usaha yang harus dikeluarkan oleh seseorang untuk memenuhi permintaan
dari pekerjaan tersebut. Sedangkan kapasitas adalah kemampuan/kapasitas
manusia. Kapasitas ini dapat diukur dari kondisi fisik maupun mental
seseorang.
Perhitungan beban kerja setidaknya dapat dilihat dari 3 aspek, yakni fisik,
mental, dan penggunaan waktu. Aspek fisik meliputi perhitungan beban kerja
berdasarkan kriteria-kriteria fisik manusia. Aspek mental merupakan
perhitungan beban kerja dengan mempertimbangkan aspek mental
(psikologis). Sedangkan pemanfaatan waktu lebih mempertimbangkan
pada aspek penggunaan waktu untuk bekerja.
2. Pengambilan Keputusan
Merupakan suatu hasil atau keluaran dari proses mental atau kognitif
yang membawa pada pemilihan suatu jalur tindakan di antara beberapa
alternatif yang tersedia. Setiap proses pengambilan keputusan selalu
menghasilkan satu pilihan final. Keluarannya bisa berupa suatu tindakan
(aksi) atau suatu opini terhadap pilihan. Dihubungkan dengan ergonomi
kognitif, pekerja akan berpikir terlebih dahulu untuk melakukan suatu
pekerjaan.

B. Sistem mengingat
Menurut Myers (2006) Ingatan terhadap hal-hal yang spesifik atau khusus
dapat berbeda-beda tergantung kepada individu dan cara atau proses berpikir
individu tersebut. Selain itu, ingatan juga dapat berbeda-beda tergantung kepada
isi dari informasi tersebut. Isi informasi yang menarik cenderung lebih mudah
diingat daripada informasi yang biasa dan tidak menarik. Kegagalan untuk
mengingat umumnya terjadi karena gagal menyimpan informasi, mempertahankan
informasi dan memanggil kembali informasi yang telah disimpan sebelumnya.
Menyimpan, mempertahankan dan memanggil kembali informasi terjadi di
dalam sistem mengingat. Menurut Hebb (2000), terdapat 3 jenis sistem
mengingat, yaitu :

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 2
1) Sensory memory
Sensory memory memuat catatan sebenarnya mengenai apa yang yang dilihat
dan didengar (visual dan auditori). Hal ini hanya berlangsung selama
beberapa detik, sensory memory memiliki kapasitas yang tak terbatas.
2) Short-term memory (STM)
Perhatian yang lebih khusus atau lebih fokus kemudian dipindahkan atau
ditransfer dari sensory memory menuju short-term memory. STM umumnya
menyimpan data dalam bentuk suara, khususnya me-recall suara, tetapi bisa
juga dalam hal visual atau gambar. STM memiliki kapasitas kerja yang
terbatas, yaitu hanya 7 2 chunks atau sekitar 5 sampai 9 chunks dalam
sekali ingat. Chunks adalah satu unit memori yang terdiri dari beberapa
komponen yang berhubungan erat satu sama lain (Cowan dalam Maltin,
2005). STM sangat rentan terhadap interupsi dan gangguan-gangguan.
Terdapat 3 jenis proses dasar dalam STM, yaitu :
a) Iconic memory
Iconic memory adalah kemampuan untuk menyimpan informasi yang
berupa gambar (dari hasil visual).
b) Acoustic memory
Acoustic memory adalah kemampuan untuk menyimpan informasi dalam
bentuk suara. Acoustic memory dapat bertahan lebih lama daripada
iconic memory.
c) Working memory
Working memory adalah suatu proses aktif menyimpan informasi hingga
informasi itu dikeluarkan, misalnya terus memikirkan dan
mengulangulang suatu nomor telepon kepada diri sendiri hingga
memencet nomor telepon yang dituju. Perlu diingat bahwa inti dari
working memory adalah bukan pada memindahkan informasi dari STM
ke LTM, melainkan terus mengingat informasi untuk kepentingan yang
sementara atau mendadak. Bagian-bagian otak yang mempengaruhi
kinerja working memory adalah frontal cortex, parietal cortex, anterior
angulate, dan bagian dari basal ganglia.
3) Long-term memory (LTM)
LTM biasanya merupakan tempat penyimpanan informasi yang bersifat
menetap atau permanen. Informasi yang disimpan biasanya merupakan
informasi yang penting dan sangat berarti.

C. Recall memory
Recall memory merupakan proses membangkitkan atau mengembalikan
lagi ingatan, secara verbal atau perbandingan nyata, suatu pengalaman di masa
lalu (Drever, 1986). Walgito (2004) menjelaskan bahwa ada dua cara
menimbulkan kembali informasi dan ingatan, yakni dapat ditempuh dengan (1)
mengingat kembali (to recall) dan (2) mengenal kembali (to recognize). Penelitian
terkait memory recall menggunakan waktu yang terbatas untuk menimbulkan

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 3
kembali (recall) cerita yang disimpan dalam short term memory. Menurut Morgan
(Walgito, 2004) short term memory memerlukan waktu antara 20-30 detik dalam
pemasukan stimulus dan penimbulan kembali sebagai memori output.
Berdasarkan wacana di atas maka yang dimaksud recall memory adalah
kemampuan seseorang untuk menimbulkan kembali atau mengingat kembali
pengalaman atau informasi yang disimpan dalam short term memory tanpa adanya
objek sebagai stimulus untuk dapat diingat kembali.

D. Pengukuran recall memory


Menurut Lockhart (dalam Sternberg, 2009) tes recall dapat dibagi
menjadi tiga macam yaitu:
1. Serial recall, yaitu mengingat kembali materi (item) dalam sebuah daftar
secara tepat.
2. Free-recall, yaitu mengingat kembali materi (item) secara bebas
3. Clued-recall, yaitu mengingat kembali materi (item) dengan petunjuk.

E. Faktor yang mempengaruhi recall memory


Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi keoptimalan hasil dari recall
memory antara lain:
1. Efek posisi serial, yaitu bahwa sejumlah informasi atau item yang disajikan
secara beurutan akan mempengaruhi ingatan seseorang. Informasi yang
terletak di bagian akhir cenderung diingat lebih baik, sebab informasinya
masih berada pada ingatan jangka pendek pada waktu direcall (Suharman,
2005).
2. Media, memiliki peran yang besar pada proses recall yang dilalui agar
mencapai hasil yang maksimal. Pada penelitian Ningsih (2009) mengenai
kemampuan recall memory ditinjau dari metode belajar visual dan metode
belajar audio, nilai rata-rata kemampuan recall memory pada cerita 1, 2, 3
dengan metode belajar visual adalah 20,14 lalu 21,43 dan 20,14. Nilai rata-
rata kemampuan recall memory pada cerita 1, 2, 3 dengan metode belajar
audio adalah 23,85 lalu 25,15 dan 24,00. Artinya ada perbedaan kemampuan
recall memory ditinjau dari metode balajar audio dan metode belajar visual,
dimana metode belajar audio lebih efektif untuk meningkatkan kemampuan
recall memory anak.
3. Pemrosesan informasi pada tingkat yang lebih dalam akan memudahkan
kinerja penggalian kembali informasi di dalam ingatan (recall). Hal ini
disebabkan oleh dua faktor: adanya karakteristik yang menonjol
(distinctiveness), dan pemerincian (elaboration) (Suharman, 2005).
4. Pengulangan, yaitu penghafalan repetitif suatu item (Sternberg, 2006). Pada
eksperimen Lloyd dan Margaret Peterson (dalam Solso, dkk, 2008)
menunjukkan bahwa kemampuan mengingat (recall) menurun drastis ketika
partisipan tidak dijinkan mengulang informasi (kluster tiga huruf) yang
disimpan di dalam short term memory.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 4
5. Intelegensi, yaitu Sternberg (2006) menyatakan bahwa semakin tinggi
intelegensi individu akan semakin cepat individu tersebut melakukan
pengkodean dari sensor indrawi ke dalam memori jangka pendek. Kecepatan
individu dalam melakukan pengkodean akan memudahkan individu
mengingat apa yang diterima sehingga recall memory yang dihasilkan lebih
maksimal.
6. Efek referensi diri (self reference effects) adalah proses memaksimalkan daya
mengingat kembali (recall) ketika seseorang berusaha mengkaitkan informasi
baru dengan kehidupan diri pribadi orang tersebut (Matlin dalam Suharman,
2005).

F. Reaction time
Waktu reaksi (reaction time) merupakan waktu antara pemberian
rangsangan sampai dengan timbulnya respon terhadap rangsangan tersebut.
Parameter waktu reaksi ini dipakai untuk pengukuran performansi. Yang
mempengaruhi performansi kerja diantaranya tingkat kelelahan, kondisi motivasi,
rasa bosan, konsentrasi, dan kondisi psikologis manusia lainnya. Hal tersebut akan
mengakibatkan waktu reaksi yang berbeda-beda antara satu kondisi dengan
kondisi lainnya. Kondisi-kondisi tersebut dipengaruhi oleh lingkungan baik secara
fisik (penerangan, temperatur, getaran, dll) maupun secara psikologis (suasana
hati, motivasi, dll) dan kerja itu sendiri.
Waktu reaksi merupakan interval waktu yang diperlukan seseorang untuk
memberikan reaksi terhadap sinyal atau rangsangan yang muncul ketika seseorang
memberikan respon tentang sesuatu yang didengar, dilihat, atau dirasakan. Ada
berbagai macam eksperimen waktu reaksi:
1. Simple Reaction Time Experiment
Pada eksperimen ini hanya ada satu jenis stimulus dan satu reaksi. Contohnya
percobaan waktu reaksi terhadap cahaya, reaksi terhadap bunyi pada lokasi
yang telah ditentukan dan tetap.
2. Recognition Reaction Time Experiment
Terdapat banyak stimulus. Pada stimulus tertentu, subjek harus memberi
respon sedangkan ada beberapa yang subjek tidak boleh merespon. Ada 2
jenis, yaitu symbol recognition (subjek menghafal lima buah huruf, kemudian
subjek hanya bereaksi pada huruf yang dihafal tersebut) dan tone/sound
recognition (subjek menghafal frekuensi dari bunyi, kemudian subjek hanya
bereaksi pada frekuensi yang dihafalkan).
3. Choice Reaction Time Experiment
Subjek harus merespon stimulus yang diberikan berupa huruf yang
ditampilkan di layar, kemudian menekan tombol huruf/keyboard yang sesuai
dengan stimulus yang diberikan.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 5
Dalam penelitian terkait waktu reaksi dipengaruhi beberapa yaitu:
1. Arousal
Arousal atau state of attention, dalam hal ini didalamnya termasuk tekanan
darah. Waktu reaksi akan menjadi cepat bila tekanan darah ada di level tengah
(dalam keadaan normal), dan akan melambat bila praktikan terlalu santai atau
terlalu tegang
2. Usia
Waktu reaksi menjadi berkurang mulai usia bayi hingga akhir 20-an,
bertambah pada usia 50-60 tahun, lalu melambat pada usia 70 tahun keatas.
Penurunan waktu reaksi pada orang dewasa mungkin disebabkan karena
orang dewasa lebih hati-hati merespon sebuah stimulus. Orang dewasa juga
cenderung mencurahkan pikirannya pada satu stimulus dan mengabaikan
stimulus yang lainnya.
3. Jenis kelamin
Biasanya laki-laki memiliki waktu reaksi yang lebih cepat daripada wanita.
4. Right handed vs left handed
Orang kidal, banyak menggunakan otak kanan, dimana otak kanan banyak
digunakan untuk berpikir mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kreativitas,
dan hal-hal yang berkaitan dengan ruang (misal: membidik sasaran). Maka
banyak peneliti bernaggapan bahwa orang kidal memiliki waktu reaksi yang
lebih cepat dibanding dengan orang yang tidak kidal.
5. Direct vs peripheral vision
Waktu reaksi akan lebih cepat bila stimulus diberikan ketika subyek melihat
tepat pada titik stimulus (direct vision), dan dapat melambat bila stimulus
diberikan disekitar pandangan mata (peripheral vision).
6. Practice and errors
Ketika seorang subyek melakukan hal yang baru atau belum pernah dilakukan
sebelumnya, maka waktu reaksinya akan lebih lambat bila dibandingkan
dengan subyek yang sudah terlatih atau efek pembelajaran.
7. Kelelahan
Waktu reaksi akan melambat bila subyek sedang mengalami kelelahan.
8. Gangguan
Adanya gangguan pada saat stimulus diberikan dapat meningkatkan waktu
reaksi.
9. Peringatan akan stimulus
Waktu reaksi akan menjadi lebih cepat apabila ada peringatan yang diberikan
kepada subyek sebelum stimulus tersebut diberikan.
10. Alkohol
Konsumsi alkohol yang berlebihan dapat menurunkan waktu reaksi.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 6
11. Faktor lingkungan
Adanya pengaruh kondisi lingkungan terhadap waktu reaksi seperti
pencahayaan, temperatur, dan kebisingan.
12. Faktor psikologi
Kondisi psikologi seseorang dapat memberi pengaruh terhadap waktu reaksi
seperti suasana hati dan tekanan.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 7
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan bahan


1. Laptop
2. Sound level meter
3. Lux meter
4. Thermal recorder
5. Air conditioner
6. Lampu sorot
7. Lembar tabel hasil pengukuran

B. Prosedur praktikum
1. Sebelum melakukan penelitian, praktikan mengukur tingkat kelembaban,
cahaya dan kebisingan dengan alat yang disediakan dengan kondisi
ruangan tanpa gangguan suara, dan cahaya serta tanpa perubahan
kelembaban udara.
2. Praktikan menyiapkan laptop atau perangkat yang telah terpasang
software pengukuran reaction time test dan memory recall test dan
meminta 3 praktikan sebagai responden dalam pengambilan data.
3. Responden melakukan reaction time test dan memory recall test. Setelah
pengukuran dilakukan, praktikan mencatat hasil pengukuran tersebut
pada lembar tabel yang disediakan.
4. Setelah dilakukan pengukuran dalam kondisi lingkungan normal,
praktikan diminta memberikan gangguan kebisingan dan mengukur
tingkat kebisingan dengan menggunakan sound level meter kemudian
mencatat nilai tingkat kebisingan.
5. Selanjutnya dilakukan kembali pengukuran memory recall dan reaction
time.
6. Praktikan selanjutnya memberikan gangguan pencahayaan dan
perubahan kondisi iklim dengan menggunakan lampu sorot dan air
conditioner dilakukan pengukuran tingkat pencahayaan dan kelembaban
dengan menggunakan lux meter dan thermo recorder lalu mencatat nilai
tingkat pencahayaan.
7. Lakukan kembali pengukuran memory recall dan reaction time.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 8
BAB IV
PENGOLAHAN DAN ANALISA DATA

Lakukanlah pengolahan data untuk menghasilkan:


1. Grafik perbandingan kinerja recall memory untuk masing-masing kondisi
gangguan.
2. Grafik perbandingan kinerja reaction time untuk masing-masing kondisi
gangguan.

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 9
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

B. SARAN

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 10
DAFTAR PUSTAKA

1. Napitupulu Natassia. 2009. Gambaran penerapan ergonomi: Universitas

Indonesia.
2. Chussurur, Mifta. Hidayat, Thulus. Agustin, Rin Widya. 2014. Pengaruh

pemberian cerita melalui media audiovisual terhadap recall memory pada

anak-anak kelas v sekolah dasar takmirul islam Surakarta : Universitas

Sebelas Maret Surakarta.


3. http://ergonomi-fit.blogspot.com/2012/01/simple-reaction-time.html

(diakses pada tanggal 4 Maret 2015)

Sofyan Ash Shiddieqy MODUL 5:


Kelompok V
D221 13 307 Pengukuran Performansi Kerja Secara Psikologis Hal 11