You are on page 1of 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Komunikasi

2.1.1 Pengertian Komunikasi

Pengertian komunikasi menurut Mudakir (2006) merupakan proses

pengiriman atau pertukaran ( Stimulus, signal, symbol , informasi) baik dalam

bentuk verbal maupun non verbal dari pengirim ke penerima pesan dengan

tujuan adanya perubahan ( baik dalam aspek kognitif , afektif maupun

psikomotorik). Anak yang mengalami kelainan pendengaran akan mengalami

kelambatan dalam perkembangan bahasa, sedangkan kemampuan berbahasa

menentukan kemampuan berbicara, hal ini dialami oleh anak tuna rungu wicara.

Dengan demikian proses pembelajaran bahasa bagi anak tuna rungu wicara sangat

diperlukan agar mereka bisa meningkatkan kemampuan bekomunikasi.

Pengertian komunikasi menurut Potter & Perry (2005) bahwa

Komunikasi adalah elemen dasar interaksi manusia yang memungkinkan

seseorang untuk menetapkan , mempertahankan dan meningkatkan kontak

dengan orang lain. Dari segi psikologi komunikasi menurut Drs. Djalaluddin

Rakhmat (2012) menyatakan bahwa komunikasi adalah proses transaksional

yang meliputi pemisahan, dan pemilihan bersama lambang secra kognitif begitu

rupa sehingga membantu orang lain untuk mengeluarkan dari pengalamannya

sendiri arti atau respons yang sama dengan yang dimaksud oleh sumber .

Sedangkan menurut Brent D. Ruben (2013) menyatakan bahwa komunikasi

adalah nama disiplin, sekaligus label untuk fenomena yang mana istilah ini

mengacu baik ke bidang akademis maupun fokus studi. Dijelaskan lebih lanjut
upaya mengubah pikiran adalah misalnya, yang asalnya tidak tahu menjadi tahu,

yang semula tidak mengerti menjadi mengerti, yang tadinya bodoh menjadi

pintar.

Upaya mengubah perasaan umpamanya yang tadinya sedih menjadi

gembira, yang semula marah menjadi tenang. Upaya mengubah perilaku

dicontohkan yang semula malas menjadi rajin. Selain itu sebuah komuniksai akan

terjadi apabila seseorang dapat menangkap pesan dari orang yang menyampaikan

pesan tersebut. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa

kemampuan komunikasi adalah kecakapan atau kesanggupan penyampaian pesan,

gagasan, atau pikiran kepada orang lain dengan tujuan orang lain tersebut

memahami apa yang dimaksudkan dengan baik, secara langsung lisan atau tidak

langsung.

2.1.2 Karakteristik Komunikasi

Komunikasi memiliki karakteristik yakni, sebagai suatu proses ,

komunikasi merupakan serangkaian tindakan atau perisiwa yang terjadi secara

beruntun, serta beraitan satu sama lainnya dalam kurun waktu tertentu. Sebagai

suatu proses, komunikasi akan terus mengalami perubahan dan berlangsung

secara terus menerus. Komunikasi melibatkan beberapa unsur, yaitu who, say

waht, in wich channel, to whom, with waht effect. Komunikasi juga bersifat

transaksional yakni menuntun tindakan memberi dan menerima. Kedua tindakan

tersebut tentunya perlu dilakukan secara seimbang oleh masing-masing pelaku

yang terlibat dalam komunikasi.

Berkomunikasi merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan

setiap orang. Komunikasi banyak bentuknya, salah diantaranya adalah dengan


komunikasi verbal. Pada kenyataanya komunikasi verbal lebih sering digunakan

dari pada komunikasi non verbal.

2.1.3 Unsur-unsur Komunikasi

Dalam komunikasi terdapat beberapa unsur komunikasi, selama proses

komunikasi berlangsung unsur komunikasi ini tidak terlepas dari perannya

masing- masing. Diantaranya sebagai berikut :

a. Komunikator, adalah pelaku atau orang yang menyampaikan pesan kepada

orang lain

b. Pesan, alaha suatu gagasan atau ide, informasi , pengalaman yang

disampaikan baik berupa kata, lambang, isyarat , tanda, atau gambar untuk

disebarkan kepada orang lain dlam proses komunikasi berlangsung.

c. Komunikan yakni orang yang menerima pesan dari komunikator

d. Media adalah alat yang digunakan untuk berkomunikasi agar komunikasi

dapat berlangsung secara evektif.

e. Tujuan, yakni harapan ynag ingin dicapai dari komunikasi tersebut

f. Feedback , yaitu umpan balik, respon atau tanggapan dari komunikan kepada

komunikator.

g. Efek, bagaimana pesan yang disampaikan oleh komunikator dapat

memeberaikan efek tertentu pada komunikan, sehingga pesan yang

disampakaan dapat mengubah perilaku dan sikap

2.1.4 Bentuk- Bentuk Komunikasi

Menurut Onong Uchjana Effendy dlam bukunya yang berjudul Ilmu

Komunikasi Teori dan Praktek . ada beberapa bentuk komunikasi yaitu

komunikasi pribadi (intrapribadi dan antarpribadi), komunikasi kelompok

(kelompok besar dan kecil), komunikasi massa dan media.


a. Komunikasi Pribadi

Komunikasi pribadi (personal communication) adalah komunikasi

seputar diri seseorang, baik fungsinya sebagai komunikator maupun sebagai

komunikan. Dalam tatanannya komunikasi pribadi dibagi menjadi dua bagian

yakni komunikasi intapribadi dan komunikasi antarpribadi.

1. Komunikasi intrapribadi

Komunikasi intrapribadi adalah komunikasi yang berlangsung

dalam diri seseorang, dia berkomunikasi dan berdialog dengan dirinya

sendiri. Dan dia bertanya pada dirinya sendiri. Potter & Perry dalam

bukunya Fundamental of Nursing mendefinisikan komunikasi

intrapribadi sebagai berbicara dengan dirinya sendiri, verbalisasi diri, dan

pikiran dalam hati sehingga memberikan latihan mental untuk tugas yang

sulit sehingga individu dapat menghadapinya secra lebih efektif.

2. Komunikasi Antarpribadi

Komunikasi antarpribadi didefinisikan oleh Joseph A. Devinto

dalam bukunya The Interpersonal Communication Book sebagaimna

yang dikutip dalam buku Onong Uchjana Effendy dalam buku Ilmu Teori

dan Filsafat komunikasi sebagai proses pengiriman dan penerimaan

pesan-pesan antara dua orang, atau di antara sekelompok kecil orang-

orang, dengan beberapa efek dan beberapa beberapa umpan balik seketika.

Berdasarkan definisi itu komunikasi antar pribadai dapat berlangsung

antara dua orang yang memang sedang berdua-duaan seperti suami istri yang

sedang berbincang atau antara duaoarang dalam suatu pertemuan. Dialog

adalah bentuk komunikasi antarpribadi yang menunjukkan interaksi. Mereka


yang terlibat mempunyai fungsi ganda , masing-masimg menjadi pembicara

dan pendengar.

b. Komunikasi Kelompok

Komunikasi kelompok (Group Communication) adalah komunikasi

yang berlangsung antara sesorang komunikator dengan sekelompok orang

yang jumlannya lebih dari dua orang. Komunikasi kelompok biasanya terjadi

dalam suatu lingkungan organisasi. Dalam komunikasi kelompok pesan

mempunyai fungsi yang berkenaan dengan hubungan interpersonal, konsep

diri, perasaan dan moral.

c. Komunikasi Massa

Komunikasi massa adalah komunikasi melalui media massa moderen,

yang meliputi kabar yang mempunyai sirkulasi yang luas, siaran radio, televisi,

yang ditunjukkan pada khalayak umum. Komunikasi massa juga menyairkan

informasi, gagasan, dan sikap kepada komunikan yang beragam dan

jumlahnya sangat banyak dengan menggunakan media.

Dengan demikina peneliti menyimpulkan bahwa komunikasi massa

adalah komunikasi yang berlangsung pada orang dengan jumlah bnyak atau

lebih dari 2 orang dengan menggunakan media sebagai alat penyalur

informasi, dan komunikasi massa bersifat satu arah (one way traffic).

d. Komunikasi Media

Komunikasi massa atau mass communication adlah komunikasi massa

moderen. Hal tersebut dijelaskan oleh para ahli yang menyatakan selain media

moderen terhadap media massa tradisional lazimnya media massa moderen

menunjjukkan seluruh sistem dimana pesan-pesan diproduksikan, dipilih,

disiarkan dan diterima serta ditanggapi.


Karakter dari komunikasi itu sendiri mempunyai perbedaan dengan

komunikasi lainnya, diantaranya komunikasi massa bersifat umum artinya

pesan yang disampaikan melalaui media massa terbuka untuk semua orang ,

komunikasi massa juga bersifat heterogen yakni perpaduan antara jumlah

komunikasi yang besar dalam keterbukaan dalam mendapatkan pesan-pesan

komunikasi.

2.1.5 Faktor Hambatan Komunikasi

Dalam melakukan komunikasi ada beberapa ahli komunikasi

menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang melakukan komunikasi yang

sebenarnya secara efektif, ada beberapa hambatan yang mungkin saja terjadi

selama proses komunikasi berlangsung diantaranya:

1. Gangguan , ada beberapa gangguan selama proses komunikasi

berlangsung dan menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Gangguan mekanik adalah gangguan yang disebabkan saluran

komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik.


b. Gangguan sematik adalah gangguan pada pesan komunikasi yang

pengertiannya menjadi rusak. Biasanya hal ini terjadi dalam konsep

atau makna yang diberikan pada komunikator yang lebih banyak

gangguan sematik dlam proses pesannya.


2. Kepentingan, interest satau kepentingan akan membuat seseorang

selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Seseorang akan

lebih memperhatikan perangsang dengan kepentingannya sendiri.


3. Motivasi, motivasi yang terjadi akan mendorong seseorang berbuat

sesuatu yang sesuai dengan keinginan, kebutuhan dan kekurangannya.


4. Prasangka, prasangka merupakan salah satu rintangan atau hambatan

berat bagi suatu kegiatan komunikasi, dikarenakan komunikasi yang

terjalin akan terasa kurang efektif apabila komunikan memiliki

prasangka kepada komunikator ataupun sebaliknya.


Dasar gangguan dan penentangan inilah yang biasanya disebabkan

karena adanya pertentangan kepentingan,prejudge, tamak dan sebagainya,

sehingga komunikasi yang dilakukan sangan berlawanan dengan tujuan dan pesan

yang disampaikan.

2.2 Konsep Diri


2.2.1 Pengertian Konsep Diri
Banyak para ahli yang mengemukakan tentang definisi dari konsep diri

diantaranya Seifert dan Hoffnung (1994) yang menyatakan bahwa konsep diri

sebagai suatu pemahaman mengenai diri atau ide tentang dirinya sendiri.

Santorock (1996) mengungkapkan isitilah konsep diri mengacu pada evaluasi

bidang tertentu dari diri sendiri. Sementara itu, Atwater (1987) menyebutkan

bahwa konsep diri adalah keseluruhan gambaran diri yang meliputi persepsi

seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan

dengan dirinya.(Desmita,2014)
Potter & Perry, (2007) yang menyatakan bahwa konsep diri adalah

citra subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan

persepsi bawah sadar maupun sadar. Sedangkan menurut Alex Sobur (2009)

konsep diri adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang

berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari aku yang bukan aku.

Sehingga dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa konsep diri

adalah gagasan tentang diri sendiri yang mencangkup keyakinan, pandangan dan

penilaian seseorang terhadap dirinya sendiri.


2.2.2 Aspek-Aspek Konsep Diri

William H. Fits (1971) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan

aspek penting dalam diri seseorang, dimana konsep diri merupakan kerangka

acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Fits

menjelaskan konsep diri secara fenomenologis dan mengatakan bahwa ketika


individu mempersepsi dirinya, memberikan arti dan penilaian serta membentuk

abstraksi tentang dirinya berarti ia menunjukkan suatu kesadaran diri (self

awareness) dan kemampuan untuk keluar dari diri sendiri untuk melihat dirinya

seperti yang ia lakukan terhadap dunia di luar dirinya. Diri secara keseluruhan

(total self) seperti yang dialami individu disebut juga diri fenomenal. Diri

fenomenal ini adalah diri yang diamati, dialami, dan dinilai oleh individu sendiri,

yaitu diri yang ia sadari. Keseluruhan kesadaran atau persepsi ini merupakan

gambaran tentang diri atau konsep diri individu (dalam Agustiani, 2006).

Konsep diri seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni:

1) Pengalaman, terutama pengalaman interpersonal yang memunculkan

perasaan positif dan perasaan berharga.


2) Kompetensi dalam area yang dihargai oleh individu dan orang lain.
3) Aktualisasi diri, atau implementasi dan realisasi dari potensi pribadi yang

sebenarnya.

Atwater (dalam Desmita, 2009) mengidentifikasikan konsep diri atas

tiga bentuk yakni:

1) Body image, yakni kesadaran tentang tubuhnya, dimana tentang bagaimana

seseorang melihat dirinya sendiri


2) Ideal self, yakni bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang

mengenai dirinya.
3) Sosial self, yakni bagaimana orang lain melihat dirinya.
2.2.3 Jenis-Jenis Konsep Diri

Konsep diri sangat berpengaruh terhadap tingkah laku seseorang karena

pada umumnya tingkah laku seseorang sangat ditentukan atau berkaitan degan

gagasan-gagasan yang ada tentang dirinya. Hal ini dapat dilihat pada seseorang

yang merasa dirinya tidak memiliki kelebihan seperti Membangun Konsep Diri

Bagi Anak Berkebutuhan Khusus teman-temannya atau perasaan inferior di

hadapan orang lain maka akan berdampak pada munculnya tingkah laku yang
inferior pula seperti tidak percaya diri,penakut dan cenderung menarik diri.

Konsep diri terus mengalami perkembangan sepanjang perjalanan kehidupan

individu, karena pada dasarnya kemampuan seseorang untuk mempersepsi

tentang dirinya tidak muncul begitu saja akan tetapi terus mengalami

perkembangan secara bertahap sesuai dengan kemampuan reseptifnya.

Dalam proses perkembangannya, konsep diri melahirkan dua dimensi

pokok dalam aktualisasinya yakni:

1) Dimensi internal
Demensi Internal yakni penilaian yang dilakukan individu terhadap

dirinya sendiri berdasarkan dunia di dalam dirinya. Dimensi ini terbagi

menjadi tiga bentuk :


a. Diri identitas (self identity)
Bagian ini adalah bagian yang paling mendasar pada konsep diri

yang di dalamnya mengacu pertanyaan, tentang siapa saya. Kemudian

seiring dengan bertambahnya usia dan interaksi dengan lingkungan,

pengetahuan maka individu mampu melengkapi keterangan tentang

dirinya secara lebih kompleks seperti saya cantik, tapi saya bodoh atau

saya pandai, tapi saya miskin.


b. Diri pelaku (behavioral self)
Diri pelaku merupakan persepsi individu terhadap tingkah

lakunya. Berisikan segala kesadaran mengenai apa yang dilakukan oleh

diri. Selain itu bagian ini juga termasuk di dalamnya adalah identitas

diri. Diri yang adekuat akan menunjukkan kesesuaian antara diri

identitas dengan diri pelakunya.


c. Diri penerima (judging self)
Diri penilai berfungsi sebagai pengamat, penilai, penentu

standar dan evaluator. Kedudukannya adalah sebagai mediator

(perantara) antara diri identitas dan diri pelaku. Diri penilai menentukan

kepuasan seseorang akan dirinya sendiri atau seberapa jauh ia


melakukan penerimaan terhadap dirinya sendiri. Kepuasan diri yang

rendah akan melahirkan self esteem (harga diri) yang rendah pula dan

mengembangkan ketidakpercayaan diri yang kuat.


Sebaliknya, bagi individu yang memiliki kepuasan diri yang

tinggi ia akan memiliki kepercayaan diri yang tinggi, kesadaran diri yang

lebih realistis, sehingga memungkinkan individu tersebut untuk

melupakan kondisi dirinya dan memfokuskan energinya serta

perhatiannya keluar diri dan ia akan lebih konstruktif (Agustiani, 2006).


2) Dimensi eksternal.
Dalam dimensi eksternal ini individu menilai dirinya melalui hubungan dan

aktivitas sosialnya, nilai-nilai yang dianutnya, serta halhal lain di luar

dirinya. Dimensi ini memiliki ruang lingkup yang luas, misalnya diri yang

berkaitan dengan sekolah, organisasi, agama dan sebagainya. Fits

mengemukakan bahwa dimensi eksternal ini bersifat umum bagi semua

orang dan dibedakan ke dalam lima bentuk, yaitu:


a. Diri fisik (physical self)
Diri fisik ini menyangkut persepsi seseorang terhadap keadaan

dirinya secara fisik misalnya kondisi tubuhnya dan kesehatannya.


b. Diri etik moral (moral-ethical self)
Bagian ini merupakan persepsi seseorang terhadap dirinya

dilihat dari standar pertimbangan nilai moral dan etika. Hal ini

menyangkut persepsi seseorang terhadap hubungannya dengan

Tuhannya, kepuasan seseorang akan kehidupan keagamaannya dan nilai-

nilai moral yang dipegangnya yang meliputi batasan baik dan buruk.
c. Diri pribadi (personal self).
Diri pribadi merupakan perasaan atau persepsi seseorang

tentang keadaan pribadinya. Hal ini tidak dipengaruhi oleh kondisi fisik

atau hubungan dengan orang lain, tetapi dipengaruhi oleh sejauh mana

individu merasa puas terhadap pribadinya atau sejauh mana ia merasa

dirinya sebagai pribadi yang tepat.


d. Diri keluarga (family self)
Diri keluarga menunjukkan perasaan dan harga diri seseorang

dalam kedudukannya sebagai anggota keluarga. Bagian ini menunjukkan

seberapa jauh seseorang merasa adekuat terhadap dirinya sebagai

anggota keluarga, serta terhadap peran maupun fungsi yang

dijalankannya sebagai anggota dari suatu keluarga.


e. Diri sosial (social self)
Bagian ini merupakan penilaian individu terhadap interaksi

dirinya dengan orang lain maupun lingkungan di sekitarnya.

Terbentuknya penilaian individu tentang dirinya dalam dimensi eksternal

ini dapat dipengaruhi oleh penilaian dan interaksinya dengan orang lain.

Seseorang tidak begitu saja memperoleh penilaian tentang fisiknya tanpa

ia memperoleh kontribusi dari reaksi orang lain terhadap kondisinya

(Agustiani, 2009).
2.3 Tunarungu
2.3.1 Pengertian Tuanrungu
Istilah tunarungu diambil dari kata tuna yang artinya kurang dan

rungu yang artinya pendengaran. Istilah tunarungu digunakan untuk orang yang

memiliki kecacatan atau kelainan pada pendengaran yaitu organ pendengaran

tidak berfungsi dengan baik. Terkadang kita menyebutnya dengan istilah tuli

atak pekak. Namun sebutan yang lazim dingunakan adalah tunarungu.


Menurut Ratih P.P & Afin M penyandang kelainan pendengaran atau

tunarungu, yaitu seseorang yang mengalami kehilangan kemampuan

pendengaran, baik sebagian (herd of hearing) maupun keseluruhan (deaf). Tuli

adalah seseorang yang indera pendengarannya mengalami kerusakan dalam taraf

berat sehingga pendengarannya tidak berfungsi lagi. Sedangkan kurang dengar

adalah orang yang mengalami kerusakan dalam hal pendengaran, tetapi masih

dapat berfungsi untuk mendengar, baik dengan atau tanpa menggunakan alat

bantu dengar (hearing aids).


2.3.2 Karakteristik Anak Tunarungu
Pada umumnya anak tunarungu mengalami pertumbuhan fisik secara

normal, namun mereka mengalami hambatan dalam perkembangan. Anak

tunarungu biasanya mengalami hambatan dalam komunikasi karena mereka

memiliki keterbatasan dalam kegiatan berbahasa. Pertumbuhan fisik yang normal

ini menyebabkan ketunaan para anak tunarungu tidak dapat terlihat secara

langsung. Penampilan anak tunarungu tidak akan jauh berbeda dengan anak

normal pada umumnya. Kekurangan mereka baru bisa diketahui setelah mereka

diajak berkomunikasi. Apabila dicermati, ternyata terdapat beberapa ciri atau

karakteristik yang dimiliki anak tunarungu. Berikut adalah beberapa karakteristik

yang dimiliki anak tunarungu.


a. Karakteristik dalam Aspek Bahasa-bicara
Kemampuan berbahasa memerlukan ketajaman pendengaran. Hal

ini dikarenakan melalui pendengaran anak dapat meniru berbagai suara di

sekitarnya dan mulai belajar bahasa. Bagi anak tunarungu, mereka memiliki

hambatan pendengaran yang berdampak pada kemampuan berbahasa dan

bicara. Akibatnya, perkembangan bahasa dan bicaranya menjadi berbeda

dengan perkembangan bahasa dan bicara anak normal atau pada anak yang

mendengar (Sunardi dan Sunaryo, 2007: 192).


Berikut adalah karakteristik segi bahasa dari anak tunarungu:
1) Miskin dalam perbendaharanan kata.
2) Sulit memahami kata-kata yang bersifat abstrak.
3) Sulit memahami kata-kata yang mengandung arti kiasan.
4) Irama dan gaya bahasanya monoton (Edja Sadjaah, 2005: 109).
Anak tunarungu memiliki keterbatasan kata dan bahasa sehingga

mengalami kesulitan dalam menafsirkan kata-kata yang baginya adalah asing

(http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/epj diunduh pada tanggal 30

Desember 2016). Anak tunarungu biasanya sulit menafsirkan katakata yang

bersifat abstrak, misalnya: ikhlas, tenggang rasa, dan tanggung jawab. Mereka

biasanya akan lebih mudah menafsirkan katakata yang dapat diwujudkan


dengan benda konkret atau ditangkap langsung oleh alat indera lain. Selain

karakteristik tersebut, karakteristik dalam aspek bahasa-bicara anak tunarungu

juga dapat terlihat sebagai berikut.


1) Keterbatasan perkembangan/kecakapan bahasa-bicara dan dibedakan

atas perolehan bahasa dari lingkungan keluarganya, apakah

orangtuanya tuli atau normal sehingga mempengaruhi anak dalam

berkomunikasi.
2) Kebiasaan-kebiasaan yang ditampakkan, apakah orangtuanya

menggunakan bahasa isyarat atau berbicara verbal, apakah bahasa

isyarat yang digunakan bahasa isyarat bahasa ibu atau bahasa isyarat

yang dipelajari dengan teman sebayanya.


3) Dalam menggunakan bahasa tulisan nampak bahasanya pendek-

pendek, sederhana, dan menggunakan bahasa yang diingatnya saja.


4) Seringkali menggunakan kalimat tunggal, tidak menggunakan kata-

kata yang banyak oleh karena keterbatasan dalam mengingat kata-kata

yang rumit.
5) Anak sulit menggunakan bentuk/struktur kalimat, sulit membedakan

antara kalimat berita, kalimat perintah, ataupun kalimat tanya lengkap

dengan tanda-tanda bacanya.


6) Kesulitan dalam menggunakan bahasa/kata-kata untuk kepentingan

akademis yang lebih tinggi, kata-kata abstrak dan arti kiasan.


7) Kesulitan dalam menguasai irama bahasa dan gaya bahasa.
(Kathryn P. Meadow dalam Edja Sadjaah, 2005: 105-106).
Anak tunarungu memang mengalami hambatan yang signifikan

dalam hal berbahasa dan bicara, namun bukan berarti kemampuan tersebut

tidak dapat dikembangkan secara optimal. Pendengaran hanyalah salah satu

faktor penentu perkembangan berbahasa dan bicara, di samping faktor-faktor

penentu lainnya (Sunardi dan Sunaryo, 2007). Dengan demikian pelajaran

bahasa-bicara perlu diajarkan sebaikbaiknya bagi anak tunarungu, terutama

pada lingkungan keluarga.


Dalam kaitannya dengan ini, keterlibatan orangtua sangat penting,

utamanya dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai partner

komunikasi yang baik, bersikap interaktif, responsif, impresif, dan apresiatif

sesuai dengan tahap perkembangan komunikasi anak (Sunardi dan Sunaryo,

2007). Misalnya dengan latihan dan bimbingan yang terarah, intensif, dan

terprogram. Anak hendaknya diberikan kesempatan sebanyak-banyaknya

untuk berinteraksi dan menggunakan bahasa terutama dengan anggota

keluarga dan orang-orang terdekat sejak dini.


Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan

karakteristik dalam aspek bahasa-bicara anak tunarungu adalah.


1) Miskin dalam perbendaharanan kata, sehingga kesulitan pula bagi

dirinya untuk mengekspresikan bahasa dan bicaranya.


2) Penggunaan bahasa isyarat atau berbicara verbal tergatung dari

kebiasaan di lingkungan anak.


3) Keterbatasan untuk membentuk ucapan dengan baik, oleh karena

berbicara lisan (verbal) diperlukan sejumlah kata-kata.


4) Irama dan gaya bahasanya monoton.
5) Sulit memahami kata-kata yang bersifat abstrak.
6) Sulit memahami kata-kata yang mengandung arti kiasan.
7) Bahasa tulisan terlihat pendek-pendek, sederhana, dan menggunakan

bahasa yang diingatnya saja.


8) Seringkali menggunakan kalimat tunggal, tidak menggunakan

katakata yang banyak oleh karena keterbatasan dalam mengingat

katakata yang rumit.


9) Anak sulit menggunakan bentuk/struktur kalimat, sulit membedakan

antara kalimat berita, kalimat perintah, ataupun kalimat tanya lengkap

dengan tanda-tanda bacanya.


b. Karakteristik dalam Aspek Emosi-sosial
Anak tunarungu pada dasarnya juga memiliki keinginan untuk

mengetahui dunia di sekitarnya. Namun karena kemampuan mendengarnya

terhambat, segala hal yang terjadi di sekelilingnya seperti terkesan tiba-tiba.


Hal ini tentu mempengaruhi perkembangan emosi dan sosialnya. Perasaan

bingung dan tidak mengerti mewarnai perkembangan emosinya pada tahap

awal ketika anak tidak/belum menyadari keberadaannya pada dunia yang

berbeda dengannya (Murni Winarsih, 2007).


Penyesuaian emosi-sosial pada anak tunarungu cukup mengalami

hambatan. Hal ini dikarenakan oleh gangguan pendengaran yang dideritanya,

sehingga ia merasa sulit dalam mengadakan kontak sosial dengan orang lain.

Anak tunarungu mampu melihat semua kejadian, tetapi ia tidak mampu

mengikuti dan memahami kejadian itu secara menyeluruh sehingga

menimbulkan perkembangan emosi yang tidak stabil, perasaan curiga, dan

kurang percaya pada diri sendiri (Mufti Salim dan Soemargo Soemarsono,

1984). Berikut adalah tanda-tanda sosial dan penyesuaian sosial pada anak

tunarungu.
1) Permainan vokal kurang atau tidak ada.
2) Tertarik lebih dahulu kepada benda-benda daripada kepada orang lain.
3) Bingung dan susah dalam situasi sosial.
4) Waspada dan curiga.
5) Bereaksi terhadap pujian dan perhatian (Mardiati Busono, 1988).
Kesulitan lain yang dialami oleh anak tunarungu pada umumnya

ialah kesulitan dalam menyatakan pikiran dan keinginan kepada orang lain

secara lisan, oleh karena itu sering dijumpai anak tunarungu yang mengalami

gangguan emosi (Rochman Natawidjaja dan Zainal Alimin, 1995). Anak

tunarungu memiliki keterbatasan dalam berbahasabicara yang merupakan alat

untuk melakukan kontak sosial dan mengekspresikan emosinya. Sudah

menjadi kejelasan bahwa hubungan sosial banyak ditentukan oleh komunikasi

antara seseorang dengan orang lain (Sunardi dan Sunaryo, 2007).

Keterbatasan dalam mendengar/menggunakan bahasa-bicara dalam

mengadakan kontak sosial tadi berdampak pula padanya untuk menarik diri

dari lingkungan (terisolir), ditambah orang sekelilingnya kurang kepedulian


terhadap keberadaannya (Edja Sadjaah, 2005). Oleh karena itu ada baiknya

bagi anak tunarungu sedari kecil sudah dikenalkan oleh dunia luas yang sarat

akan perbedaan.
Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan

karakteristik dalam aspek emosi-sosial anak tunarungu antara lain: emosinya

tidak stabil, sulit mengekspresikan emosinya, mempunyai perasaan waspada

dan curiga, kurang percaya diri, tertarik lebih dahulu kepada benda-benda

daripada kepada orang lain, bingung dan susah dalam situasi sosial, bereaksi

terhadap pujian dan perhatian, serta cenderung menarik diri dari lingkungan.
c. Karakteristik dalam Aspek Motorik
Anak gangguan pendengaran tidak ketinggalan oleh anak normal

dalam perkembangan bidang motorik (Lani Bunawan dalam Edja Sadjaah,

2005). Bahkan tidak jarang anak tunarungu baru dapat dikenali ketika mereka

diajak berkomunikasi. Perkembangan motorik kasar anak tunarungu tidak

banyak mengalami hambatan, terlihat otot-otot tubuh mereka cukup kekar,

mereka memperlihatkan gerak motorik yang kuat dan lincah (Yuke Siregar

dalam Edja Sadjaah, 2005). Jika anak murni mengalami ketunarunguan maka

perkembangan fisiknya tidak mengalami hambatan, kecuali ia mengalami

ketunaan penyerta (double handicapped) (Sunardi dan Sunaryo, 2007).


Anak tunarungu memaksimalkan indera penglihatannya sebagai

jalan penyempurna dari kurangnya indera pendengaran. Mereka memiliki

gerakan mata yang cepat, agak beringas. Hal tersebut menunjukkan bahwa ia

ingin menangkap keadaan yang ada di sekitarnya (Sutratinah dalam Mardiati

Busono, 1983: 49). Berdasarkan hasil beberapa penelitian juga diketahui

mengenai fungsi motorik anak tunarungu sebagai berikut.


1) Anak tunarungu tidak tertinggal dari anak normal dalam

perkembangan kematangan bidang motorik seperti: unsur waktu

duduk, berjalan, dan lain-lainnya.


2) Anak tunarungu tidak tertinggal dalam bidang keterampilan atau

menggunakan kecekatan tangan.


3) Anak tunarungu berprestasi di bawah normal pada umumnya dalam

segi:
a. Locomotor coordination, yaitu kemampuan untuk

mempertahankan keseimbangan dan bergerak. Hal tersebut

dapat terjadi apabila kerusakan pada alat keseimbangan atau

daerah canalis semicircularis.


b. Kecepatan motorik terutama yang bersifat kompleks dalam

melaksanakan suatu perbuatan karena anak tunarungu

mengalami kesukaran mengenai konsep waktu.


c. Jenis simultan movement, yaitu kemampuan menggunakan

salah satu komponen motorik, misalnya tangan sedangkan

komponen lainnya misalnya kaki digunakan untuk gerakan

yang berbeda (Mufti Salim dan Soemargo Soemarsono, 1984).


Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan

karakteristik dalam aspek motorik anak tunarungu yaitu: mirip dengan anak

normal (tidak tertinggal dari anak normal), tidak tertinggal dalam bidang

keterampilan, memiliki gerakan mata yang cepat dan agak beringas, kurang

dalam mempertahankan keseimbangan dan kecepatan yang kompleks, serta

kurang dalam gerak jenis simultan movement.


d. Karakteristik dalam Aspek Kepribadian
Anak tunarungu memiliki keterbatasan dalam merangsang emosi.

Ini yang meyebabkan anak tunarungu memiliki pola khusus dalam

kepribadiannya. Mereka memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, agresif,

mementingkan diri sendiri dan kurang mampu dalam mengontrol diri sendiri

(impulsif), kurang kreatif, kurang mempunyai empati, emosinya kurang stabil

bahkan memiliki kecemasan yang tinggi (anxiety) (Edja Sadjaah, 2005).


Jika dilihat secara fisik, anak tunarungu memang tidak jauh

berbeda dengan anak normal lainnya. Namun, kecacatan yang diderita oleh

anak gangguan pendengaran menampakkan suatu karakteristik/sifat yang khas

atau berbeda dari anak normal, yaitu.


1) Anak gangguan pendengaran memiliki sifat egosentris yang tinggi.
2) Memiliki perasaan takut akan hidup yang lebih luas selain lingkungan

keluarganya.
3) Memiliki sifat ketergantungan pada orang lain (keluarganya), kurang

mandiri, senang bergaul dengan orang yang dekat saja.


4) Perhatian pada sesuatu yang terpusat, sulit untuk dialihkan apalagi

disenangi dan sudah dikuasainya.


5) Memiliki imajinasi yang rendah.
6) Memiliki sifat yang polos, sederhana dan tanpa nuansa.
7) Memiliki sifat yang ekstrim atau bertahan pada sesuatu yang

dianggapnya benar sering dikatakan sebagai anak yang keras


8) kepala (Van Uden dalam Edja Sadjaah, 2005: 113-114).
Selain karakteristik di atas, karakteristik kepribadian anak

tunarungu juga dapat digambarkan sebagai berikut:


1) Sifat egosentris anak tunarungu lebih besar daripada anak mendengar

(normal).
2) Anak tunarungu memiliki perasaan takut akan hidup yang lebih besar

di lingkungan selain lingkungan keluarganya.


3) Anak tunarungu memiliki sifat ketergantungan pada orang lain atau

keadaan yang mudah mereka kenal, kurang mandiri.


4) Perhatian anak tunarungu sukar dialihkan apabila telah melakukan

sesuai yang disenanginya atau dikuasainya.


5) Anak tunarungu memperlihatkan miskin dalam berimajinasi

(berfantasi).
6) Mereka memiliki sifat yang polos, sederhana, dan tanpa nuansa.
7) Anak tunarungu memiliki sifat perasaan ekstrim artinya bertahan pada

suatu hal yang dianggapnya benar.


8) Mereka memiliki sifat lekas marah atau cepat tersinggung.
9) Mereka kurang memiliki konsep tentang suatu hubungan (Edja Sadjaah

dan Dardjo Sukarja, 1995).


Berdasarkan beberapa sumber di atas, maka dapat disimpulkan

karakteristik aspek kepribadian anak tunarungu yaitu: memiliki sifat ingin

tahu yang tinggi, agresif, memiliki sifat egosentris yang tinggi, kurang

mampu dalam mengontrol diri sendiri (impulsif), memiliki imajinasi yang

rendah, emosinya kurang stabil, memiliki kecemasanyang tinggi (anxiety),

memiliki sifat ketergantungan pada orang lain (keluarganya), kurang mandiri,

senang bergaul dengan orang yang dekat saja, memiliki sifat yang polos,

sederhana dan tanpa nuansa, keras kepala, lekas marah atau cepat

tersinggung, dan kurang memiliki konsep tentang suatu hubungan.


2.3.3 Klasifikasi Anak Tunarungu
Anak tunarungu dapat diklasifikasikan berdasarkan sejauh mana alat

pendengarannya dapat berfungsi. Berat ringannya daya dengar atau ketajaman

seseorang dalam mendengar bunyi dinyatakan dalam ukuran dB atau deciBell.

Misalnya terdapat seorang anak menderita gangguan pendengaran seberat 50 dB,

artinya suara atau bunyi yang mampu dia dengar meliputi kekerasan sebesar lebih

dari 50 dB. Secara rinci berikut adalah klasifikasi anak tunarungu berdasarkan

derajat kehilangan kemampuan mendengar.


a. Gangguan pendengaran ringan (20 sampai 30 dB), orang yang kehilangan

pendengaran pada taraf ini mampu belajar berkomunikasi dengan

memfungsikan telinganya dan berkembang secara normal. Taraf ini

merupakan batas antara kurang dengar dan normal.


b. Gangguan pendengaran marginal (30 sampai 40 dB), orang yang kehilangan

pendengaran pada taraf ini biasanya mengalami kesulitan mendengar dalam

jarak sejauh lebih dari satu kaki dan kesulitan mengikuti percakapan, tetapi

mereka masih dapat menangkap pembicaraan melalui telinganya.


c. Gangguan pendengaran jenis sedang (40 sampai 60 dB), orang yang

kehilangan pendengaran pada taraf ini hanya mampu mendengar suara keras

dan dibantu dengan penglihatannya, sehingga mereka dapat belajar


percakapan melalui metode oral. Metode ini yaitu dengan membaca gerak

bibir lawan bicaranya.


d. Gangguan pendengaran berat (60 sampai 75 dB), orang yang kehilangan

pendengaran pada taraf ini tidak dapat berkomunikasi tanpa menggunakan

teknik-teknik khusus. Kebanyakan dari mereka harus mengikuti pendidikan

bagi anak tuli. Taraf ini merupakan batas antara kurang dengar dan tuli.
e. Gangguan pendengaran sangat berat (lebih dari 75 dB), orang yang

kehilangan pendengaran pada taraf ini jarang berkomunikasi menggunakan

telinganya walaupun dengan suara yang diucapkan sangat keras.


Penyandang tunarungu dalam proses pemahaman akan terlambat karena

informasi yang diterima tidak sebanayak informasi yang diterima oleh orang yang

mendengar pada umunnya. Informasi yang didapatkan penyandang tunarungu

akan menjadi tidak bermakna apa-apa jika mereka tidak memahami apa maksud

dari informasi tersebut. Indormasi yang disampaikan harus dikonkrinkan sesuai

dengan bahasa yang sudah mereka mengerti.