You are on page 1of 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya


sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam satu program
kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi
epidemologi yang valid. Pembangunan bidang kesehatan di indonesia saat ini
mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit menular masih merupakan
masalah, sementara penyakit degeneratif juga muncul sebagai masalah. Penyakit
menular tidak mengenal batas wilayah administrasi, sehingga menyulitkan
pemberantasanya. Dengan tersedianya vaksin yang dapat mencegah penyakit menular
tertentu, maka tindakan pencegahan untuk mencegah berpindahnya penyakit dari satu
daerah atau negara ke negara lain dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat.
(Anonim 2010).1,2

Laporan UNICEF yang dikeluarkan terakhir menyebutkan bahwa 27 juta anak


balita dan 40 juta ibu hamil di seluruh dunia masih belum mendapatkan layanan
imunisasi rutin. Akibatnya, penyakit yang dapat dicegah oleh vaksin ini diperkirakan
menyebabkan lebih dari dua juta kematian tiap tahun. Hampir seperempat dari 130
juta bayi yang lahir tiap tahun tidak diimunisasi agar terhindar dari penyakit anak
yang umum. Vaksin telah menyelamatkan jutaan jiwa anak-anak dalam tiga dekade
terakhir, namun maih ada jutaan anak lainnya yang tidak terlindungi dengan
imunisasi. Survei dilakukan WHO menunjukkan bahwa dibeberapa daerah angka
imunitas kurang dari 56%. Tiga tahun sebelumnya angka imunitas mencapai 70%.
Hal ini menunjukkan turunnya layanan kesehatan di beberapa daerah miskin.
(Progress for Children Report no 3, September 2005)
Di tingkat Association South East Asean Nation (ASEAN) tahun 2012,
Indonesia misalnya angka kematian bayinya 32/1.000 kelahiran hidup yaitu hampir 5

1
kali lipat dibandingkan dengan angka kematian bayi di Malaysia, 2 kali dibandingkan
dengan Thailand dan 1,3 kali dibandingkan dengan Philipina sekitar 57% kematian
bayi tersebut terjadi pada bayi berumur dibawah satu bulan dan utamanya disebabkan
oleh campak, selain itu adalah gangguan perinatal, infeksi saluran pernapasan akut,
diare, malaria dan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), 40% disebabkan oleh hipotermi,
asfiksia karena prematuritas, trauma persalinan dan tetanus neonatrium. (anonim
2008)
The 3rd Vaccine Conference diselengarakan oleh ikatan Dokter anak
Indonesia (IDAI). Tujuan dari konferensi iniuntuk meningkatkan pengetahuan
danketerampilan petugas kesehatan yang melaksanakan imunisasi (IDAI:2010).
Rata-rata imunisasi di Indonesia pada tahun 2005 hanya 72%. Artinya, angka
dibeberapa daerah sangat rendah. Ada sekitar 2.400 anak di Indonesia meninggal
setiap hari termasuk yang meninggal karena sebab-sebab yang seharusnya dapat
dicegah, misalnya tubercolosis, campak, pertussis, difteri dan tetanus. Ini merupakan
tragedi yang mengejutkan dan tidak seharusnya terjadi. Kata Dr. Gianfranco
Rotigaliano, kepala perwakilan UNICEF di Indonesia.
Pengetahuan seorang ibu akan mempengaruhi status imunisasinya. Masalah
pegertian dan pemahaman ibu dalam program imunisasi bayinya tidak akan menjadi
halangan yang besar jika pengetahuan yang memadai tentang hal itu diberikan.
Pengetahuan ibu tentang imunisasi akan membentuk sikap positif terhadap kegiatan
imunisasi. Hal ini juga merupakan faktor dominan dalam keerhasilan imunisasi.
Dengan pengetahuan baik yang ibu miliki maka kesadaran untuk mengimunisasikan
bayi akan meningkat yang mempengaruhi status imunisasi (M.Ali,2008).

Ada beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian ini yakni, Jenis-jenis
imunisasi dan jadwal pemberian imunisasi. Adapunjenis imunisasi yakni imunisasi
aktif dan imunisasi pasif. Imunisasi aktif adalah imunisasi yang dibuat sendiri oleh
tubuh untuk menolak terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi
dapat bertahan lama. Sedangkan Imunisasi pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat

2
antibody sendiri tetapi kekebalan tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat
penolak, sehingga prosesnya cepat tetapi tidak bertahan lama.
Adapun jadwal menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalah pembagian
waktu berdasarkan rencana pengaturan urutan kerja daftar atau tabel kegiatan atau
rencana kegiatan dengan pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci. Sedangkan
pengertian penjadwal adalah cara menjadwalkan atau memasukan kedalam jadwal.
(Anonim 2012).
Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan
jadwal yang sudah disepakati. Keadaan ini tidak merupakan hambatan untuk
melanjutkan imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang
manfaatnya tetapi tetap sudah menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang
diharapkan. (Sudarti, M.Kes 2010)
Di Indonesia, jadwal pemberian imunisasi dikeluarkan oleh kementrian
kesehatan RI, yang mengharuskan orang tua memberikan 5 imunisasi dasar lengkap
yaitu hepatitis B, Polio, DPT, BCG, dan Campak. (Rini Sukartini,2011)
Berdasarkan uraian diatas, pengetahuan tentang imunisasi dasar penting di
miliki oleh ibu, karena kurangnya pengetahuan dapat menyebabkan masalah
kesehatan pada bayi, sehingga peneliti tertarik untuk meneliti Tingkat Pengetahuan
Ibu Tentang Imunisasi dasar di Posyandu Tala Kecamatan Maritengngae.

1.2 Rumusan Masalah

Oleh karena pemberian imunisasi sangat bermanfaat bagi bayi, dimana faktor
yang paling mempengaruhi pemberian imunisasi tersebut merupakan tingkat
pengetahun dari ibu akan imunisasi sehingga rumusan masalah penelitian ini adalah
bagaimana gambaran pengetahuan para ibu terhadap pemberian imunisasi dasar.

3
1.3 Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu terhadap imunisasi dasar pada
bayi kepada ibu yang menghadiri kegiatan posyandu.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat bagi instansi (Puskesmas)
Memberikan informasi mengenai gambaran pengetahuan para ibu tentang
imunisasi dasar
1.4.2 Manfaat bagi responden
a. Memberikan gambaran sejauh mana pengetahuan para ibu mengenai
imunisasi dasar.
b. Memberikan motifasi kepada para ibu untuk mencari tahu mengenai
imunisasi dasar
c. Membantu meningkatkan kesadaran para ibu untuk memberikan
imunisasi dasar kepada anak mereka.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

4
2.1 Pengertian Imunisasi

Sistem imun adalah suatu sistem dalam tubuh yang terdiri atas sel-sel serta
produk zat-zat yang dihasilkanya yang bekerja sama secara kolektif dan terkoordinasi
untuk melawan bendah asing, seperti kuman-kuman penyakit atau racunnya yang
masuk dalam tubuh.(Ronald H.S, 2011)8
Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan pada bayi dan anak
terhadap penyakit tertentu. Sedangkan vaksin adalah satu kuman atau racun kuman
yang dimasukan kedalam tubuh bayi atau anak yang disebut antigen. Dalam tubuh,
antigen akan bereaksidengan anti body sehingga akan terjadi kekebalan. Juga ada
vaksin yang dapat langsung menjadi racun terhadap kuman yang disebut antitoksin.
(Andi Maryam, dkk,2009)
Imunisasi adalah cara untuk meningkatkan kekebalan (imunitas), bila
terpajang antigen atau kuman penyakit. (Robin Dompas, 2010)
Prinsip dasar pemberian imunisasi adalah:
a. Bila ada antigen (kuman, bakteri, virus, parasit, racun) memasuki tubuh maka tubuh
akan berusaha menolaknya, tubuh membuat zat anti berupa anti bady atau anti toxin.
b. Reaksi tubuh pertama kali terhadap antigen berlangsung secara lambat dan lemah,
sehingga tak cukup banyak antibody yang terbentuk.
c. Pada reaksi atau respon yang kedua, ketiga dan seterusnya tubuh sudah mulai lebih
mengenal jenis antigen tersebut.
d. Setelah beberapa waktu, jumlah zat anti dalam tubuh akan berkurang. Untuk
mempertahankan agar tetap kebal, perlu diberikan antigen atau suntikan imunisasi
ulang.
e. Kadar antibody yang tinggi dalam tubuh menjamin anak akan sulit untuk terserang
penyakit. (Sujono Riyadi, dkk:2009)
Itulah sebabnya pada beberapa jenis penyakit yang dianggap berbahaya
dilakukan tindakan imunisasi atau vaksinasi. Hal ini dimaksudkan sebagai tindakan
pencegahan agar tubuh tidak terjangkit penyakit tersebut atau seandainya terkenapun
tidak akan menimbulkan akibat yang fatal. (Ronald H.S,2011)
Banyak faktor penyebab ketidakberhasilan imunisasi. Dari faktor anak bisa
disebabkan umur bayi pada waktu diberiakn imunisasi, status gizi, masih adanya

5
antibody maternal dari ibu pada waktu imunisasi diberikan. Dari faktor lingkungan
yang dipengaruhi adalah sanitasi lingkungan, tingkat kepadatan pendudukan yang
menyebabkan mudahnya terjadinya penularan. (Rini sekartini, 2011)
Sebaiknya, pemberian imunisasi pada anak mengikuti jadwal yang ada.
Dengan memberikan imunisasi sesui jadwal yang telah ditetapkan memberikan hasil
pembentukan kekebalan (antibody) yang optimal sehingga dapat melindungi anak
dari paparan penyakit. Di indonesia, jadwal imunisasi di keluarkan oleh kementrian
kesehatan RI, yang mengharuskan orang tua memberiakan 5 imunisasi dasar lengkap
yaitu Hepatitis B, Polio, DPT, BCG, dan Campak. (Rini sukartini,2011)

2.2 Jenis Imunisasi

Ada dua jenis imunisasi yang bekerja dalam tubuh bayi atau anak:
a. Imunisasi aktif
Imunisasi aktif adalah imunisasi yang di buat sendiri oleh tubuh untuk menolak
terhadap suatu penyakit tertentu dimana prosesnya lambat tetapi dapat bertahan lama.
Imunisasi aktif dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu :
1). Imunisasi aktif alamiah dimana tubuh anak membuat kekebalan sendiri setelah
mengalami atau sembuh dari suatu penyakit, misalnya anak yang telah menderita
campak lagi karena tubuh telah membuat zat penolak terhadap penyakit tersebut.
2). Imunisasi aktif buatan yaitu kekebalan yang dinuat tubuh setelah mendapat vaksin
(imunisasi) misalnya anak diberi vaksinasi BCG, DPT, dan Polio.

b. Imunisasi pasif
Imunisasi pasif yaitu tubuh anak tidak membuat zat antibody sendiri tetapi kekebalan
tersebut diperoleh dari luar setelah memperoleh zat penolak, seingga proses cepat
tetapi tidak bertahan lama.
Imunisasi pasif dapat terjadi dengan dua cara:
1). Imunisasi pasif alami atau imunisasi pasif bawaan yaitukekebalan yang diperoleh bayi
sejak lahir dari ibunya. Kekebalan ini tidak berlangsung lama (kira-kira sekitar lima
bulan). Misalnya difteri, morbili, dan tetanus.

6
2). Imunisasi pasif buatan, dimana kekebaln ini diperoleh setelah mendapat suntikan zat
penolak. Misalnya suntikan ATS. (Andi Mariam dkk,2011)

2.3.
Pentingnya Imunisasi
Data statistik menunjukan bahwa makin banyak penyakit menular
bermunculan dan senantiasa mengancam kesehatan anda. Angan biarkan anak anda
dan diri anda sendiri terserang oleh infeksi yang dapat membahayakan hidup anda.
Lindungi anda dan keluarga dari infeksi dengan melalui vaksinasi terkontrol. Setiap
tahun, diseluruh dunia ratusan ibu, anak-anak, dan dewasa meninggal karena penyakit
yang sebenarnya masih dapat dicegah. Hal ini karena kurangnya informasi tentang
pentingnya imunisasi. Bayi-bayi yang baru lahir, anak-anak usia muda yang
bersekolah, dan orang dewasa sama-sama memiliki resiko tinggi terserang penyakit-
penyakit menular yang mematikan, seperti difteri, tetanus, hepatitis B, influenza,
tifus, radang selaput otak, dan masih banyak penyakit lainnya yang sewaktu-waktu
muncul dan mematikan. Untuk itu, salah satu pencegahan terbaik dan sangat vatal
agar bayi-bayi, anak-anak muda, dan orang dewasa terlindungi hanya dengan
melakukan imunisasi. (Ronald H.S,2011)
Adapun tujuan umum pemberian imunisasi adalah menurunkan angkah
kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat penyakit yang dapat dicegah dengan
imunisasi. Sedangkan tujuan khususnya adalah tercapainya target Universal
ChildImmunization (UCI) diseluruh desa atau kelurahan pada tahun 2010. (Robin
Dompas:2010)

2.4. Imunisasi Wajib, Program Pengembangan Imunisasi (PPI)


Di Indonesia, jadwal imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan RI,
yang mengharuskan orang tua memberikan 5 imunisasi dasar lengkap (Rini
Sekartini:2010)
a. Hepatitis B

7
Imunisasi hepatitis B. Diberikan untuk mencegah penyakit hepatitis. Diberikan
pada bayi baru lahir dengan dosis 0,5 ml diberikan intramuskuler dalam. (Robin
Dompas:2010)
b. BCG
Tujuan dari pemberian vaksin BCG adalah untuk membuat kekebalan aktif
terhadap penyakit tubercolosis atau TBC. Vaksin BCG mengandung kuman bacilus
calmete Guerin dari bibit penyakit atau kuman hidup yang dilemakan. Diberikan pada
bayi usia 0-2 bulan dengan dosis 0,05 cc vaksinasi ulang pada umur anak 5 tahun.
Sebelum penyuntikan vaksin ini harus dilarutkan terlebi dahulu dengan 4 cc pelarut
atau Nacl 0,9 %, vaksin yang sudah dilarutkan harus digunakan dalam waktu 3 jam.
Kekebalan yang diperoleh anak tidak mutlak 100 %, jadi kemungkinan anak
menderita TBC ringan, akan tetapi terhindar dari TBC barat, TBC Tulang, dan TBC
selaput atak. Efek sampingnya akan timbul setelah dua minggu seperti pembengkakan
kecil, merah, dan tempat penyuntikan akan terjadi abses kecil dengan garis tangan 10
mm. Luka ini akan sembuh sendiri dan meninggalkan jaringan parut (scar) bergaris
tengah 3-7 mm. Kontra indikasinya yaitu anak yang sakit kulit atau infeksi kulit pada
tempat penyuntikan anak yang telah terjangkit dengan penyakit denagan penyakit
TBC. (Andi Mariam ddk.2011)
c. DPT
Tujuan pemberian vaksin ini adalah untuk memberikan kekebalan aktif yang
bersamaan terhadap penyakit difteri, pertusis, dan tetanus. Vaksin pertusis terbuat dari
kuman bordetella partusis yang telah dimatikan, dikemas dengan vaksin difteri dan
tetanus. Diberikan pada bayi usia antara 2-11 bulan sebanyak 3 kali suntikan dengan
selang waktu 4 minggu. Diberikan dengan dosis 0,5 cc dengan cara intramusculer.
Reaksi yang mungkin terjadi setelah pemberian imunisasi adalah demam ringan,
pembengkakan dan rasa nyeri pada tempat penyuntikan selama 1-2 hari. Kontra
indikasi anak yang sedang sakit, panas tinggi, dan penyakit gangguan kekebalan.
(Andi Mariam dkk:2011)
d. Polio
Tujuan pemberian vaksin polio adalah untuk mendapatkan kekebalan
terhadap penyakit poliomeletis. Vaksin polio tedapat dalam dua kemasan: Vaksin

8
yang mengandung virus polio yang masih hidup yang telah dilemakan (virus sabin)
cara pemberiannya melalui oral. Diberikan pada bayi usia 2-11 bulan diberikan
sebanyak 4 kali pemberian dengan dosis dua tetes dengan interval 4 minggu.
Kontraindikasinya yaitu anak yang diare berat, anak sakit parah, anak menderita
defisiensi kekebalan. (Andi Mariam dkk:2011)
e. Campak
Tujuan pemberikan vaksin campak adalah untuk mendapatkan kekebalan
terhadap penyakit campak. Vaksin campak mengandung virus campak hidup yang
sudah dilemahkan. Vaksin campak yang digunakan di Indonesia dapat diperoleh
dalam kemasan kering tunggal atau dikombinasikan dengan vaksin gondongan
mumps dan rubella. Jadwal pemberian vaksin campak adalah pada umur 9-11 bulan
dengan 1 kali pemberian dengan dosis 0.5 cc dengan suntikan sub kutan. Apabila
pemberian vaksin campak kurang dari 9 bulan harus diulangi pada umur 15 bulan.
Efek sampingnya tidak ada, mungkin hanya demam ringan dan nampak sedikit
bercak merah pada pipi, dibawah telinga pada hari ke 7-8 setenga penyuntikan. Efek
sampingnya anak yang sakit parah, menderita TBC tanpa pengobatan, defisiensi gizi
dalam derajat berat, defisiensi kekebalan, demem yang lebih 38 derjat celcius. (Andi
mariam dkk:2011)

2.5. Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah
penyakit dan merupakan bagian kedokteran prefentif yang mendapatkan prioritas.
Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan
kematian dan cacat. Ketujuh penyakit tersebut dimasukan pada program imunisasi
yaitu penyakit tuberkolosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak, dan hepatitis-B.
a. Tuberkulosis
Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh
kuman TB (Mycobacterium tubercolosis). Penyakit TBC ini dapat menyerang semua
golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang Tb dengan

9
kematian 3 juta oarang per tahaun. Di negara-negara berkembang kematian ini
merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan.
Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. (Mirzal tawi,2008).
b. Difteri
Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corinebacterium
diphtheriaemerangsang saluran pernafasan terutama terjadi pad balita. Penyakit
difteri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. Pada penduduk yang belum
divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena
kekebalan (antibodi) yang dipeoleh dari ibunya hanya berumur satu tahun. (Mirzal
tawi,2008).
c. Pertusis
Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
Bordotella pertusispada saluran pernafasan. Penyakit ini merupakan penyakit yang
cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kematian. Seperti
halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya, pertusis sangat mudah dan
cepat penularannya. Penyakit ini dapat merupakan salah satu sebab tingginya angka
kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk. (mirzal Tawi.2008)

d. Tetanus
Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri
Clostridium tetani. Kejaian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang
tetapi masi banyak terdapat di negara yang sedang berkembang, terutama dengan
masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonetorium).
Penyakit terjadi karena kuman Clostridiumtetani memasuki tubuh bayi lahir melalui
tali pusat yang kurang terawat. Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada
persalinan yang dilakukan oleh dukun kampung akibat memotong tali pusat memakai
pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan
berbagai ramuan, abu, daun-daunan, dan sebagainya. Oleh kaerena itu, untuk
mencegah kejadian tetanus neonatorium ini adalah dengan pemberian imunisasi.
(Mirzal Tawi,2008)
e. Poliomieletis

10
Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. Berdasarkan hasil
surveilans AFP (Acute Flaccide Paraisis) dan pemeriksaan laboratorium, penyakit ini
sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia. Namun kasus AFP ini dalam beberapa
tahun terakhir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. (Mirzal Tawi,
2008)
f. Campak
Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus
campak, dan termasuk penyakit akut dan sangat menular, menyerang hampir semua
anak kecil. Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar
saat penderita bernafas, batuk dan bersin (droplet). Penyakit ini pada umumnya
sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga. Dibeberapada daerah
penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialami oleh sumua anak, sedangkan
di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak. (Mirzal Tawi,2008)
g. Hepatitis B
Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus
hepatitis B. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di indonesia
karena prevelensinya cukup tinggi. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu
melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak. Hal ini dimaksudkan
agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya.
Dengan demiian integrasi imunisasi hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada
kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan. (Mirzal
Tawi,2008)

3.1. Pengetahuan

1. Pengertian
Menurut Notoatmodjo (2010) yang dikutip dari Wibowo A (2010) bahwa
pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan sebelum seorang
mengadopsi perilaku baru, dan dalam dirinya terjadi proses yaitu :

11
a. Awarenes (kesadaran), dimana seorang menyadari dalam arti mengetahui terlebih
dahulu terhadap stimulus (objek).
b. Interest (tertarik), dimana seorang mulai tertarik kepada stimulus.
c. Evalation (menimbang-nimbang), terhadap bayi dan tidaknya stimulus baginya.
d. Trial (mencoba), dimana seorang telah mulai mencoba perilaku baru.
e. Adaption (adaptasi), dimana seorang telah berprilaku baru sesuai dengan
pengetahuan kesadaran, motivasi, dan sikapnya terhadap stimulus.
2. Tingkat pengetahuan
Tingkatan pengetahuan terdiri dari:
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya,
contohnya dapat menyebutkan nama orang.
b. Memahami (comprehension)
Dikatakan sebagai kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang
diketahui dan dapat mengintepretasikan materi tersebut secara benar, misalnya dapat
menjelaskan tentang imunisasi dasar pada bayi.
c. Aplikasi (aplication)
Diartikan sebagai kemampuan untuk menguraikn materi yang telah di pelajari pada
situasi dan kondisi sebenarnya. Di sini dapat diartikan sebagai aplikasi dalam
penggunaan metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain,
misalnya mengaplikasikan imunisasi dasar pada bayi.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi kedalam komponen-
komponen, tetapi masih dalam struktur organisasi dan ada kaitan satu sama lain.
e. Sintesis (syntesis)
Menunjukan kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk
keseluruhan yang baru. Misalnya dapat merencanakan, meringkas, menyusuaikan dan
sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.
f. Evaluasi (evaluatian)
Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi yang
berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau yang telah ada. Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan
tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden.
Ada beberapa syarat yang harus dimiliki oleh ilmu pengetahuan yaitu:

12
1. Objektif, artinya pengetahuan itu sesuai dengan objeknya, objek ilmu pengetahuan
dibagi menjadi objek material dan objek atau sudut penyelidikan. Objek materialnya
adalah manusia dan alam, sedangkan objek formalnya objek material yang disoroti
oleh suatu ilmu tertentu yaitu masalah khusus yang timbul dari pada objek material
tadi (Notoatmojo,2007)
2. Metodik, artinya pengetahuan ilmiah itu diperoleh dengan menggunakan cara-cara
tertentu dan terkontrol. Cara-cara atau metode-metode pengetahuan antara lain
metode observasi, metode induksi, metode perkembangan, metode situasi kasus
merode intropeksi, metode kuesioner, metode klinis, metode testing, dan metode
statistic. (Notoatmojo,2007)
3. Sistematik, artinya pengetahuan ilmiah tersusun dalam suatu system. Tidak berdiri
sendiri, satu dengan yang lain saling berkaitan, saling menjelaskan sehingga
merupakan satu kesatuan yang utuh. (Notoatmojo,2007)
4. Universal, artinya pengetahuan ilmiah itu harus dapat diterima secara umum.
(Notoatmodjo,2007)
3.2. Tinjauan Umum tentang variabel yang diteliti
Imunisasi adalah sesuatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terpajan pada antigen yang
serupa tidak terjadi penyakit dilihat dari cara timbulnya. (Sunarti)
1. Jenis-jenis Imunisasi
Jenis-jenis imunisasi ada dua yaitu :
a. Imunisasi aktif
Merupakan pemberian suatu bibit penyakit yang telah ditemukan (vaksin) agar
nantinya sistem imun tubuh berespon spesifik dan memberikan suatu ingatan
terhadap antigen ini, sehingga terpapar lagi tubuh dapat mengenali dan meresponnya.
Contoh imunisasi aktif adalah imunisai polio atau campak.
b. Imunisasi pasif
Merupakan suatu proses peningkatan kekebalan tubuh dengan cara pemberian zat
imunoglobulin, yaitu zat yang dihasilkan melalui suatu proses infeksi yang dapat
berasal dari plasma manusia (kekebalan yang didapat bayi dari ibu melalui placenta).
Contoh imunisasi pasif adalah penyuntikan ATS (Anti Tetanus Serum) pada orang
yang mengalami kecelakaan. (Atikah Proverawati,2010).

13
Dengan pengetahuan yang ibu miliki, ibu dapat mengetahui jenis-jenis pemberian
imunisasi terhadap bayinya sehingga bayinya dapat memperoleh kekebalan tubuh dan
terhindar dari penyakit. Apabila seorang ibu tidak mengetahui jenis-jenis imunisasi
apa yang diberikan pada bayinya, maka bayinya tidak mendapatkan imunisasi
lengkap dan bayinya tersebut mudah terserang penyakit.
2. Jadwal
Jadwal menurut kamus besar Bahasa Indonesia adalahpembagian waktu
berdasarkan rencana pengaturan urutan kerja daftar atau tabel kegiatan atau rencana
kegiatan dengan pembagian waktu pelaksanaan yang terperinci. Sedangkan
pengertian penjadwal adalah cara menjadwalkan atau memasukan kedalam jadwal.
(Anonim 2012)
Pada keadaan tertentu imunisasi tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan jadwal
yang sudah disepakati. Keadaan initidak merupakan hambatan untuk melanjutkan
imunisasi. Vaksin yang sudah diterima oleh anak tidak menjadi hilang manfaatnya
tetapi tetap sudah menghasilkan respon imunologis sebagaimana yang diharapkan.
(Sudarti, M.Kes 2010)
Di Indonesia, jadwal pemberian imunisasi dikeluarkan oleh kementrian kesehatan
RI, yang mengharuskan orang tua memberikan 5 imuniasi dasar lengkap yaitu
hepatitis B, Polio, DPT, BCG, dan Campak. (Rini Sukartini,2011)

14
BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif


kualitatif. Metode deskriptif merupakan suatu penelitian yang bertujuan untuk
mengetahui gambaran faktor-faktor penelitian terhadap suatu keadaan yang
diteliti, dalam hal ini adalah mengetahui gambaran pengetahuan para ibu
mengenai pemberian imunisasi dasar.

3.2 Rancangan Penelitian

Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross


sectional (potong lintang) yaitu rancangan studi epidemiologi yang mempelajari
faktor-faktor penelitian dengan cara mengamati status faktor penelitian secara
serentak pada saat atau periode tertentu.
Penelitian cross sectional disebut juga penelitian survei, yaitu penelitian
yang mengambil sampel dari satu populasi dan menggunakan kuesioner sebagai
alat pengumpul data yang pokok. Dalam penelitian ini pengumpulan data
dilakukan menggunakan kuesioner.

3.3 Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan


kuesioner. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner berupa pertanyaan isian dan

15
pilihan ganda. Kuesioner penelitian ini memuat 14 pertanyaan, yang terbagi
dalam 2 kategori, yaitu:
Identitas (karakteristik responden), terdiri dari 7 pertanyaan.
Pengetahuan, terdiri dari 7 pertanyaan.
3.4 Pengumpulan Data

3.4.1 Tempat dan waktu pengumpulan data

Pengumpulan data dilakukan di posyandu Tala, Kecamatan


Maritengngae,Pangkajene, Kabupaten Sidrap.

3.4.2 Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah pengumpulan data secara


primer yaitu dengan pengisian kuesioner kepada para responden yang menghadiri
kegiatan posyandu Tala Kecamatan Maritengngae

3.4.3 Populasi dan sampel data


a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang menghadiri kegiatan
posyandu Tala Kecamatan Maritengngae
b. Sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara accidental sampling, yaitu dengan
mengambil sampel yang ditemui di posyandu yang didatangi, dimana responden
bersedia mengisi kuesioner dan mengikuti penelitian.
3.5 Penyajian Data

Hasil pengumpulan dan analisis data disajikan dalam bentuk tabel disertai dengan
pembahasannya

3.6 Definisi Operasional

16
1. Pekerjaan
Pekerjaan yang dimaksud pada penelitian ini yaitu apa kegiatan responden
sehari-hari, baik yang menghasilkan uang maupun tidak

2. Pendidikan
Pendidikan yang dimaksud pada penelitian ini yaitu apa tingkat pendidikan
terakhir dari responden.
3. Jenis imunisasi dan jadwal imunisasi
Memberikan imunisasi dasar: ibu memberikan imunisasi dasar pada anak
Tidak Memberikan imunisasi dasar: ibu tidak memberikan imunisasi dasar
4. Pengetahuan
Adalah pengetahuan responden mengenai definisi imunisasi dan manfaat
imunisasi. Pengetahuan responden dinilai melalui penilaian jawaban
responden atas pertanyaan-pertanyaan kategori pengetahuan di dalam
kuesioner. Pertanyaan kategori pengetahuan dalam kuesioner berjumlah 7
(tujuh) nomor. Tiap jawabannya diberi nilai 10 jika benar dan 1 jika salah.
Dengan demikian, nilai maksimal yang dapat diperoleh responden dari
kategori pengetahuan adalah 70 dan nilai minimal 7. Setelah semua nilai yang
didapatkan masing-masing responden dari kategori pengetahuan dijumlahkan,
maka berdasarkan perolehan nilainya, responden dikelompokkan ke dalam 2
kategori, yaitu:

a. Pengetahuan cukup, jika jumlah nilai 35 70 atau responden


menjawab benar lebih dari 50% dari jumlah pertanyaan.
b. Pengetahuan kurang, jika jumlah nilai 0 34,9 atau responden
menjawab kurang dari 50% dari jumlah pertanyaan.
Skala: ordinal

Alat ukur: kuesioner

17
BAB IV

HASIL PENELITIAN

4.1 Profil Komunitas Umum


Dengan adanya keberpihakan pemerintah terhadap masyarakat khususnya
keluarga miskin maka masyarakat dapat menggunakan fasilitas kesehatan di
tingkat puskesmas tanpa dipungut bayaran.
Untuk menjamin akses penduduk Sulawesi Selatan terhadap pelayanan
kesehatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, maka
sejak awal agenda Pemerintahan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih berupaya
untuk mengatasi hambatan dan kendala tersebut melalui pelaksanaan kebijakan
Program Pelayanan Kesehatan Gratis yang tertuang pada Peraturan Gubernur
Sulawesi Selatan Nomor 13 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan dan
Petunjuk Teknis Pelayanan Kesehatan Gratis.

Secara sosial, untuk wilayah kerja Puskesmas Pangkajene didominasi oleh


suku bugis. Dalam melakukan aktifitas, masyarakatnya berkomunikasi dengan
menggunakan bahasa Indonesia dan juga bahasa Bugis. Agama yang dianut oleh
masyarakat 95 % agama Islam dan 5 % aliran kepercayaan.Mata pencahariannya
sebagian besar adalah petani.

4.2 Data Geografis

Puskesmas Pangkajene Kecamatan Maritengngae merupakan ibukota


Kabupaten Sidenreng Rappang yang terletak 200 km dari Makassar. Luas

18
wilayah Puskesmas Pangkajene adalah 65,90 km. Adapun batas-batas wilayah
sebagai berikut :

- Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Panca Rijang.


- Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Watang sidenreng.
- Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tellu LimpoE.
- Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Wattangpulu.

4.3 Data Demografik

Jumlah Penduduk yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pangkajene


setiap tahun terjadi peningkatan pada tahun 2007 adalah 39.925 jiwa, tahun 2008
sebesar 40.406 jiwa, sedangkan pada tahun 2009 mengalami penurunan sebesar
39.904 jiwa.

a. Pertumbuhan Penduduk
Jumlah kelurahan yang ada di wilayah kerja Puskesmas Pangkajene adalah
5 desa dan 8 kelurahan dengan jumlah penduduk sebanyak 39.904 jiwa, dan
jumlah Kepala Keluarga 10.418 orang.
Jumlah penduduk yang besar selain merupakan modal dalam
pembangunan juga dapat merupakan beban pembangunan jika tidak disertai
dengan kualitas yang memadai.
b. Persebaran dan Kepadatan Penduduk
Penduduk di wilayah Puskesmas Pangkajene pada tahun 2009 tercatat
sekitar 39.904 jiwa tersebar di 5 desa dan 8 kelurahan. Namun persebaran
tersebut tidak merata, kelurahan yang paling tinggi jumlah penduduknya
adalah Kelurahan Pangkajene yakni 5.732 jiwa dan yang paling rendah
adalah Desa Takkalasi yakni 13.43 jiwa.
Kepadatan penduduk sangat berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan
rakyat khususnya kesejahteraan anak.Tingginya angka kepadatan penduduk
dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah sosial ekonomi dan

19
kesehatan seperti kekurangan gizi, sanitasi lingkungan yang kurang baik dan
timbulnya berbagai penyakit menular.
Berdasarkan data dari Kantor Kecamatan MaritengngaE Kabupaten
Sidrap, angka kepadatan penduduk sebagai berikut:

- Tahun 2007 sebesar 39.925 orang/km2


- Tahun 2008 sebesar 40.406 orang/km2
- Tahun 2009 sebesar 39.904 orang/km2

4.4 Sumber Daya Kesehatan

Jumlah dan rekapitulasi jenis tenaga pada Puskesmas Pangkajene,


Kecamatan MaritengngaE, Kabupaten Sidrap tahun 2009 adalah sebagai berikut:

a. Tenaga Medis:
- Dokter Umum 3 orang
- Dokter Gigi 3 orang
Jumlah 6 orang
b. Sarjana Kesehatan lain:
- Sarjana Kesehatan Masyarakat 1 orang
- Sanitarian 1 orang
Jumlah 2 orang
c. Paramedis Perawatan:
- Sarjana Keperawatan 1 orang
- Akademi Perawatan 12 orang
- Akademi Perawatan Gigi 1 orang
- Bidan 10 orang
` - Laboratorium 2 orang
- Gizi 1 orang
Jumlah 27 orang

d. Paramedis non Perawatan:


- Apoteker 1 orang
- Asisten Apoteker 1 orang
Jumlah 2 orang
e. Tenaga Teknisi Medis.

20
- Sarjana Lain 2 orang
Jumlah 2 orang

Jumlah Total 38 orang

4.5 Sarana dan Fasilitas Kesehatan


Adapun sarana dan fasilitas pelayanan kesehatan khususnya di wilayah
kerja Puskesmas Pangkajene terdapat 1 Puskesmas, 1 Puskesmas Keliling, 28
Posyandu, 2 Pustu terletak di Desa Allakuang & Desa Sereang, 1 Polindes di
Desa KaniE. 2 Poskesdes di Desa Tanete dan Desa Sereang. Dan 8 bidan desa
sebagai penanggungjawab di tiap Kelurahan/ Desa.

21
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden

Tabel 5.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan


Terakhir

No. Pendidikan Terakhir Jumlah Persentase (%)


1. Tidak menjawab 2 orang 6,45
2. SD 11 orang 35,48
3. SMP 4 orang 12,90
4. SMA 7 orang 22.58
5. S1 7 orang 22.58
Total 31 orang 100,0
Sumber: data primer

Pada table 4.3.1.1 dapat diketahui bahwa pendidikan terakhir responden


terbanyak yaitu SD dimana berjumlah 11 orang ( 35,48%), sedangkan pendidikan
terakhir responden yang paling sedikit yaitu SMP dimana berjumlah 4 rang (12,90%).

Tabel 5.2 Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan

No. Pekerjaan Jumlah Persentase (%)


1. IRT 25 orang 80,64
2. Guru 2 orang 6,45
3. Wiraswasta 1 orang 3,22
4. PNS 3 orang 9,67
Total 31 orang 100,0
Sumber: data primer

Pada table 4.3.1.2 dapat diketahui bahwa pekerjaan terbanyak responden yaitu IRT
dimana berjumlah 25 orang ( 80,64%) dan pekerjaan resonden paling sedikit yaitu
wiraswasta dimana berjumalh 1 orang (3,22%).

22
Tabel 5.3 Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Pemberian ASI

No. Lama Pemberian ASI Jumalah Persentase (%)


1. Tidak memberikan ASI 6 orang 19,35
2. Usia < 6 bulan 2 orang 6,45
3. Usia > 6 bulan 23orang 74,19
Total 31 orang 100,0
Sumber: data primer

Pada table 4.3.1.3 dapat diketahui bahwa responden yang tidak memberikan ASI ada
6 orang (19,35%), memberikan ASI kurang dari 6 bulan ada 2 orang (6,45%) dan
memberikan ASI lebih dari 6 bulan ada 23 orang (74,19%).

5.2 Distribusi Jawaban Responden pada Kategori Pengetahuan

Pada sub bab ini disajikan table-tabel distribusi yang merupakan hasil
perhitungan data berdasarkan jawaban responden terhadap pertanyaan-pertanyaan
kategori pengetahuan terhadap ASI eksklusif di dalam kuesioner.

Tabel 5.4 Distribusi Jawaban Pertanyaan Berapa Batas Usia


Pemberian ASI Eksklusif?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


4 bulan 2 6,45
6 bulan 7 22,58
1 tahun 1 3,22
2 tahun 21 67,74
Total 31 100

Berdasarkan table 5.4 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki


jawaban 4 bulan ada 2 orang (6,45%), dengan jawaban 6 bulan ada 7 orang

23
(22,58%), dengan jawaban 1 tahun ada 1 orang (3,22%) dan dengan jawaban
2 tahun ada 21 orang (67,74%).

Tabel 5.5 Distribusi Jawaban PertanyaanApa Komposisi ASI


yang Paling Pertama Keluar dan banyak mengandung antibodi?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


Kolostrum 25 80,64
ASI peralihan 3 9,67
ASI mature 2 6,45
ASI matang 1 3,22
Total 31 100

Berdasarkan table 5.5 dapat dilihat responden dengan jawaban


kolostrum ada 25 orang (80,64%), dengan jawaban ASI peralihan ada 3 orang
(9,67%), dengan jawaban ASI mature ada 2 orang (6,45%) dan dengan
jawaban ASI matang ada 1 orang (3,22%).

Tabel 5.6 Distribusi Jawaban Pertanyaan yang Bukan


Merupakan Manfaat ASI Eksklusif?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


Sebagai makanan bergizi 1 3,22
bagi bayi
Meningkatkan daya tahan 2 6,45
tubuh
Meningkatkan kecerdasan 6 19,35
bayi
Sebagai obat penyakit 22 70,96
Total 31 100

Berdasarkan table 5.6 dapat dilihat responden dengan jawaban


sebagai makanan bergizi bagi bayi ada 1 orang (3,22%), dengan
jawabanmeningkatkan daya tahan tubuh ada 2 orang (6,45%), dengan

24
jawaban meningkatkan kecerdasan bayi ada 6 orang(19,35%) dan dengan
jawaban sebagai obat penyaki ada 22 orang (70,96%).

Tabel 5.7 Distribusi Jawaban Pertanyaan Apa Manfaat ASI


Eksklusif Terhadap Ibu?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


Sebagai KB alami menunda 8 25,80
kehamilan
Meningkatkan berat badan 4 12,90
ibu
Mengobati penyakit ibu 8 25,80
Meningkatkan daya tahan 11 35,48
tubuh ibu
Total 31 100

Berdasarkan table 5.7 dapat dilihat responden dengan jawaban


sebagai KB alami ada 8 orang (25,80%) dengan jawaban meningkatkan
berat badan ibu ada 4 orang (12,90%) dengan jawaban mengobati penyakit
ibu ada 8 orang (25,80%) dan dengan jawaban meningkatkan daya tahan
tubuh ibu ada 11 orang (35,48%).

Tabel 5.8 Distribusi Jawaban Pertanyaan Usia berapa bayi


diberikan MPASI?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


3 bulan 0 0
4 bulan 6 19,35
6 bulan 23 74,19
1 tahun 2 6,45

25
Total 31 100

Berdasarkan table 5.8 dapat dilihat responden dengan jawaban 3


bulan tidak ada (0%) dengan jawaban 4 bulan ada 6 orang (19,35%)
dengan jawaban 6 bulan ada 23 orang(74,19%) dan dengan jawaban 1 tahun
ada 2 orang(6,45%).

Tabel 5.9 Distribusi Jawaban Pertanyaan Apa Kelebihan ASI


Dibandingkan Susu Formula?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


ASI Cuma memiliki 1 0 0
rasa
Komponen vitamin 26 83,87
ASI lebih banyak
ASI lebih cepat basi 1 3,22
Susu formula lebih 4 12,90
gampang didapat
Total 31 100

Berdasarkan table 5.9 dapat dilihat responden dengan jawaban ASI


Cuma memiliki satu rasa tidak ada (0%) dengan jawaban komponen
vitamin ASI lebih banyak ada 26 orang (83,87%), dengan jawaban ASI
lebih cepat basi ada 1 orang (3,22%), dan dengan jawaban susu formula
lebih gampang didapat ada 4 orang (12,90%).

Tabel 5.10 Distribusi Jawaban Pertanyaan Mengapa tidak boleh


diberikan MPASI selama masa ASI eksklusif?

Jawaban Jumlah Presentase (%)


System pencernaan 22 70,96

26
belum berkembang
sempurna
Gigi bayi belum 5 16,12
tumbuh
Dapat tersedak 4 12,90
makanan
Dapat menyebabkan 1 3,22
sakit perut
Total 31 100

Berdasarkan table 5.10 dapat dilihat responden dengan jawaban


system pencernaan belum berkembang ada 22 orang (70,96%), dengan
jawaban gigi bayi belum tumbuh ada 5 orang (16,12%), dengan jawaban
dapat tersedak makanan ada 4 orang (12,90%), dan dengan jawaban dapat
menyebabkan sakit perut ada 1 orang (3,22%).

5.3 Gambaran Tingkat Pengetahuan ASI Eksklusif

Tabel 5.11 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai


ASI Eksklusif

No. Tingkat Pengetahuan Jumlah Persentase (%)


1. Cukup 24 orang 77,41
2. Kurang 7 orang 22.58
Total 31 orang 100,00
Sumber: data primer

Berdasarkan tabel 5.11 dapat diketahui jumlah responden yang


memiliki pengetahuan cukup ada 24 orang (77,41%) dan yang memiliki
pengetahuan kurang ada 7 orang (22,58%).

Tabel 5.12 Distribusi Tingkat Pengetahuan Responden Mengenai


ASI Eksklusif dengan Lama Pemberian ASI

27
No. Memberikan Pengetahuan Jumlah Persentase
Cukup Kurang
ASI Eksklusif (%)
1. Tidak 4 orang 4 orang 8 orang 25,81
2. Ya 20 orang 3 orang 23 orang 74,19
Total 31 orang 100,00
Sumber: data primer

Berdasarkan tabel 5.12 dapat dilihat responden yang memberikan ASI


eksklusif dan memiliki pengetahuan cukup ada 4 orang dan pengetahuan
kurang ada 4 orang. Sedangkan yang tidak memberikan ASI eksklusif dan
memiliki pengeahuan cukup ada 20 orang dan memiliki pengetahuan kurang
ada 3 orang.

5.4 Diskusi
5.4.1 Distribusi Jawaban Responden

Dalam mengukur tingkat pengetahuan responden, penelitian ini


menggunakan kuesioner yang disusun berdasarkan teori-teori yang didapat dari
berbagai kepustakaan. Hal ini dilakukan karena belum tersedianya kuesioner yang
baku mengenai pengetahuan terhadap ASI eksklusif. Responden penelitian juga
hanya terbatas ibu-ibu yang berkunjung di kegiatan posyandu anggrek
majjeliwattang. Berikut dibahas mengenai hasil jawaban responden terhadap tiap
pertanyaan yang ada pada kuesioner dimana hasil jawaban dilampirkan pada tabel
5.4- tabel 5.10 pada bab sebelumnya.

Pada table 5.4 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu 6 bulan
dimana responden yang menjawab dengan benar ada 7 orang (22,58%). Dan
jawaban responden terbanyak yaitu 2 tahun. Dari sini dapat kita lihat gambaran
pengetahuan batas pemberian ASI eksklusif kurang diketahui oleh responden.
Dimana menurut WHO pemberian ASI eksklusif sampai dengan usia bayi 6 bulan.
Akan tetapi bukan berarti pemberian ASI lebih dari 6 bulan tidak diperbolehkan

28
karena ASI sebagai gizi utama yang diperlukan anak dalam dua tahun periode
kehidupannya.2

Pada tabel 5.5 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu
kolostrum. Responden yang menjawab dengan benar ada 25 orang. Dari sini
dapat kita lihat sebagian besar dari responden sudah mengetahui komponen dari
ASI dan manfaatnya. Hal ini perlu diperhatikan karena beberapa mitos yang ada
dimana kolostrum harus dibuang karena dianggap tidak bersih dan kotor.
Disamping itu, ibu hendaknya memiliki pengetahuan yang cukup mengenai
bagaimana mengeluarkan kolostrum dengan baik dan memberikan kepada bayi
sehingga memungkinkan untuk bayi menerima ASI pertama yang kaya akan zat
gizi zat - zat pelindung lainnya.1,7

Pada tabel 5.6 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu sebagai
obat penyakit. Responden yang menjawab dengan benar ada 22 orang, dari sini
dapat kita lihat bahwa responden sebagian besar sudah mengetahui manfaat ASI
Eksklusif terhadap bayi. ASI memiliki vitamin dan mineral yang lengkap dan
cukup untuk bayi di dua tahun awal kehidupannya, ASI juga dapat meningkatkan
daya tahan tubuh sehingga dapat mencegah terjangkitnya penyakit dan juga dapat
menurunkan risiko terjadinya alergi pada anak. Selain itu ASI juga dapat
meningkatkan kecerdasan otak anak Dengan mengetahui pentingnya manfaat dari
ASI eksklusif dapat memberikan dorongan dan motivasi kepada responden untuk
memberikan ASI eksklusif kepada anak mereka.1,5

Pada tabel 5.7 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaiu sebagai
KB alami. Responden dengan jawaban yang benar ada 8 orang. Dari sini dapat
dilihat reponden masih kurang memahami manfaat ASI eksklusif terhadap ibu.
Pengetahuan ibu mengenai manfaat ASI terhadap dirinya sendiri juga dapat
meningkatkan motivasi untuk memberikan ASI eksklusif kepada anaknya.5

29
Pada tabel 5.8 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu 6 bulan.
Responden yang menjawab dengan benar ada 23 orang. Dari sini dapat dilihat
sebagian besar responden sudah mengetahui kapan usia yang tepat memberikan
MPASI. Menuru WHO pemberian MPASI yang tepat yaitu pada usia 6 bulan. Hal
ini perlu diketahui oleh karena banyaknya keuntungan dan kerugian jika tidak
mengetahui usia yang tepat saat memberikan MPASI.1,7

Pada tabel 5.9 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu
komponen vitamin ASI lebih banyak. Responden dengan jawaban yang benar
ada 26 orang. Dari sini dapat dilihat sebagian besar responden sudah mengetahui
kelebihan ASI terhadap susu formula. Hal ini penting diketahui oleh karena
sekarang ini marakya promosi susu fomula sehingga banyak ibu yang tidak
memberikan ASI eksklusif pada anaknya.3

Pada tabel 5.10 jawaban yang benar pada pertanyaan di atas yaitu system
pencernaan belum berkembang sempurna. Responden yang menjawab dengan
benar ada 22 orang. Dari sini dapat dilihat sebagian besar responden sudah
mengetahui alasan mengapa tidak diperbolehkan memberikan MPASI selama
masa ASI eksklusif ata kurang dari usia 6 bulan. Hal ini penting diketahui oleh
karena banyak kerugian yang didapat ketika memberikan MPASI kurang dari usia
6 bulan, diantaranya anak akan lebih rentan terkena penyakit, anak jadi lebih
berisiko terkena alergi, dan sebagainya.5,7

5.4.2 Pengetahuan

Berdasarkan hasil mini project yang telah dibahas di bab sebelumnya,


ditemukan bahwa responden yang memiliki pengetahuan cukup sebanyak 77,41%
dan responden yang memiliki pengetahuan kurang sebanyak 22,58%. Secara
umum gambaran pengetahuan mengenai ASI eksklusif pada responden sebagian
besar sudah terbilang cukup. Dari beberapa studi diketahui tingkat pengetahuan
ASI Eksklusif sangat mempengaruhi prilaku seorang ibu dalam memberikan ASI

30
eksklusif terhadap anaknya. Dimana pengetahuan tersebut dapat juga dipengaruhi
beberapa faktor, diantaranya tingkat pendidikan, pekerjaan, lingkungan tempat
tinggal, keluarga dan sebagainya. Puskesmas Pangkajene Sidrap memiliki program
penyuluhan ASI Eksklusif dan MPASI yang diadakan rutin setiap bulan pada
kunjungan imunisasi di posyandu di wilayah kerja puskesmas pangkajene.
Program ini berjalan cukup baik dilihat dari hasil gambaran tingkat pengetahuan
mengeani ASI eksklusif. Kurang lebih 75%-85% dari pengetahuan manusia
diperoleh melalui mata sedangkan 13%-25% tersalur melalui indera yang lain.
Penggunaan alat bantu penglihatan secara tidak langsung dapat menegakkan
pengetahuan yang diterima oleh manusia sehingga apa yang diterima akan lebih
lama disimpan dalam ingatan. Oleh karena itu diharapkan puskesmas
menempatkan poster atau pamphlet mengenai ASI eksklusif pada posyandu-
posyandu di wilayah kerja puskesmas pangkajene.1,5

Dari tabel di atas dapat dilihat terdapat hubungan yang signifikan antara
tingkat pengetahuan dengan prilaku, dimana responden yang memiliki tingkat
pengetahuan yang cukup sebagian besar memberikan ASI eksklusif kepada
anaknya. Adanya responden yang tidak memberikan ASI eksklusif kepada anaknya
walaupun sudah memiliki pengetahuan yang cukup hal ini dapat dikarenakan
adanya faktor penyebab yang lain, misalnya produksi ASI yang kurang atau tidak
ada, adanya penyakit pada payudara ibu sehingga menghambat pemberian ASI,
dan sebagainya. Pengetahuan sangat penting peranannya dalam memberikan
wawasan terhadap terbentuknya sikap dan selanjutnya akan diikuti dengan
tindakan termasuk dalam pelaksanaan pemberian ASI. Pengetahuan ibu tentang
ASI yang baik diharapkan akan menghasilkan perilaku yang baik terhadap
pemberian ASI. Seorang ibu harus mengetahui bahwa pemberian ASI hendaknya
dilakukan secepat mungkin terutama bila ibu dan bayi sehat.5,7

31
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
1. Dari hasil mini project yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas
Pangkajene, kabupaten Sidrap, dapat diketahuo gambaran tingkat pengetahuan
mengenai ASI eksklusif terhadap ibu yang menghadiri kegiatan posyandu
sudah cukup baik sebesar 77,41%. Hal ini dapat membuktikan program yang
diadakan di posyandu mengenai ASI eksklusif sudah berjalan cukup baik.
2. Dari 7 pertanyaan mengenai ASI eksklusif yang dinilai melalui kuesioner,
terdapat dua pertanyaan yang memiliki tingkat pengetahuan responden yang
rendah, yaitu pada pertanyaan usia pemberian ASI eksklusif dan manfaat ASI
terhadap ibu.

6.2 Saran
1. Melakukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih luas agar
dapat menggambarkan tingkat pengetahuan ASI eksklusif di keseluruhan
wilayah kerja Puskesmas Pangkajene
2. Untuk meningkatkan tingkat pengetahuan mengenai ASI eksklusif selain
melalui penyuluhan dapat juga dibuatkan poster atau pamphlet mengenai ASI

32
eksklusif sehingga para pengunjung posyandu yang berkunjung dapat
membaca secara langsung.

DAFTAR PUSTAKA

1. Nirwana A.B. Asi dan Susu Formula Kandungan dan Manfaat ASI dan Susu
Formula. Nuha Medika. Yogyakarta: 2014
2. Permatasari T.A. Optimalisasi Peran Keluarga Terhadap Keberhasilan
Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif. FK Muhammadiyah. Jakarta: 2012
3. Unknown. Cakupan ASI 42 Persen, Ibu Menyusui Butuh Dukungan. 2013
[cited 2014 September]: Available from http://www.kompas.com
4. Kurniawan B. Determinan Keberhasilan Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif.
Jurnal Kedokteran Brawijaya. Vol. 27 No.4. 2013. Hal: 1-5
5. James P. Improving Exclusive Breastfeeding Practices. UNICEF C4D
Orientation Webinar Series. 2010. p6-12
6. Rahmadhani E.P. Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Angka
Kejadian Diare Akut pada Bayi Usia 0-1 Tahun di Puskesmas Kuranji Kota
Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. 2013
7. Unknown. Breastfeeding Matters. An Important Guide to Breastfeeding for
Women and Their Families. Health Nexus Sante. 2013. p3-9

33