You are on page 1of 34

Tugas Besar Struktur Baja 2015

BAB I
DASAR TEORI

1.1 Sejarah Penggunaan Material Baja


Pada masa awal penggunaan material baja sekitar 6000 tahun yang lalu, besi sebagai komponen utama
penyusun baja mulai digunakan untuk membuat peralatan sederhana. Material ini dibuat dalam bentuk besi
tempa, yang diperoleh dari memanaskan bijih besi dengan menggunakan arang.
Sekitar tahun 1800-an, besi tuang dan besi tempa sudah mulai banyak digunakan pada pembangunan
struktur jembatan. Jembatan pertama yang terbuat dari besi tuang adalah Jembatan Coalbrookdale yang melintas
di atas Sungai Severn, Inggris. Jembatan sepanjang 30 m ini dibangun oleh Abraham Darby.
Pada abad ke-19, mulai muncul material baru yang bernama baja. Baja mengandung kadar karbon yang
lebih sedikit daripada besi tuang, dan mulai digunakan untuk konstruksi-konstruksi berat. Setelah ditemukannya
proses Bessemer oleh Sir Henry Bessemer, maka di tahun 1870 baja mulai diproduksi dalam skala besar dan
perlahan mulai menggantikan peran besi tuang sebagai elemen konstruksi.
Di Amerika Serikat, jembatan kereta api pertama yang dibuat dari baja adalah Jembatan Eads, yang selesai
dibangun pada 1874. Struktur portal rangka baja pertama di dunia adalah bangunan gedung Home Insurance
Company Building di Chicago, yang dibangun oleh William Jenny. Bangunan ini menggunakan kolom dari besi
tuang yang dibungkus dengan bata, balok-balok enam lantai pertama terbuat dari besi tempa, sedangkan balok-
balok di lantai atasnya terbuat dari balok baja struktural.

1.2 Material Baja


Baja yang digunakan sebagai material pada struktur pada umumnya dikategorikan menjadi baja karbon,
baja paduan rendah mutu tinggi, dan baja paduan.
1.2.1 Baja Karbon
Baja karbon dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan kadar karbon yang dikandungnya, yaitu baja
karbon rendah (kadar karbon 0,03 % - 0,35 %), baja karbon medium (kadar karbon 0,35 % - 0,55 %),
dan baja karbon tinggi (kadar karbon 0,55 % - 1,70 %). Baja yang sering digunakan dalam struktur
adalah baja karbon medium, misalnya baja BJ 37. Naiknya persentase karbon meningkatkan tegangan
leleh namun menurunkan daktilitas, dan membuat pekerjaan pengelasan menjadi lebih sulit. Baja
karbon umumnya memiliki tegangan leleh (fy) antara 210 250 MPa.
1.2.2 Baja Paduan Rendah Mutu Tinggi
Baja paduan rendah mutu tinggi (High Strength Low Alloy Steel / HSLA) tipe ini memiliki tegangan
leleh antara 290 550 MPa dengan tegangan putus (fu) antara 415 700 MPa. Jika baja karbon
mendapat pertambahan kekuatan seiring dengan penambahan kadar karbon, maka bahan-bahan
paduan yang ditambahkan seperti chromium, mangan, nikel, vanadium atau molybden mampu
memperbaiki sifat mekanik baja.
1.2.3 Baja Paduan Rendah (low alloy)
Baja paduan rendah dapat ditempa dan dipanaskan untuk memperoleh tegangan leleh antara 550
760 MPa. Titik peralihan antara zone elastis dan plastis baja tidak tampak dengan jelas, sehingga

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
tegangan leleh biasanya ditentukan sebagai tegangan yang terjadi saat timbul regangan permanen
sebesar 0,2 %.

1.3 Sifat-Sifat Mekanik Baja


Gambar 1.1 merupakan hasil uji tarik dari suatu benda uji baja yang dilakukan hingga benda uji mengalami
keruntuhan, sedangkan gambar 1.2 menunjukkan gambaran yang lebih detail dari perilaku benda uji hingga
mencapai regangan 2 %.
Titik-titik penting dalam kurva regangan-tegangan adalah:
fp : batas proporsional
fe : batas elastis
fy : tegangan leleh
fu : tegangan putus
sh : tegangan saat mulai terjadi efek strain hardening
u : tegangan saat tercapai tegangan putus
Titik-titik penting ini membagi kurva regangan-tegangan menjadi beberapa daerah sebagai berikut:
a. Daerah linear antara 0 dan fp. Di dalam daerah ini berlaku Hukum Hooke, kemiringan dari bagian
kurva yang lurus ini disebut sebagai Modulus Elastisitas atau Modulus Young.
b. Daerah elastis antara 0 dan fe. Pada daerah ini, benda uji masih bersifat elastis.
c. Daerah plastis hingga regangan 1,5 %. Pada bagian ini regangan mengalami kenaikan akibat tegangan
konstan sebesar fy. Daerah ini dapat menunjukkan daktilitas dari material baja tersebut.
d. Daerah penguatan regangan (strain hardening) antara sh dan u. Tegangan kembali mengalami
kenaikan namun dengan kemiringan yang lebih kecil daripada kemiringan daerah elastis.
Dalam SNI 03-1729-2002, sifat mekanik dari baja memiliki besaran sebagai berikut:
Modulus Elastisitas (E) : 200.000 MPa
Modulus Geser (G) : 80.000 MPa
Poisson Ratio : 0,30
Koefisien muai panjang () : 12 x 10-6/C
Selanjutnya dalam SNI 03-1729-2003, berdasarkan tegangan leleh dan putusnya, baja memiliki lima kelas
mutu sebagai berikut:
Jenis Baja Tegangan Putus Tegangan Leleh Regangan
Minimum fu Minimum fy Minimum (%)
(MPa) (MPa)
BJ 34 340 210 22
BJ 37 370 240 20
BJ 41 410 250 18
BJ 50 500 290 16
BJ 55 550 410 13
Tabel 1.1 Sifat-Sifat Mekanis Baja Struktural

1.4 Perencanaan Batang Tarik


1.4.1 Kuat Tarik Rencana
Komponen struktur yang memikul gaya aksial terfaktor , Nu harus memenuhi:
Nu Nn
Nu = Gaya akibat beban luar ( u = ultimate )
Nn = Gaya Nominal = Kekuatan yang disumbangkan oleh baja
Kuat tarik rencana Nn , ditentukan oleh kondisi batas yang mungkin di alami batang tarik
FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

a Kondisi leleh : Nn = 0,9 Ag . fy


b Kondisi Fraktur : Nn = 0,75 Ae . fu

Ag = Luas penampang kotor


Ae = Luas efektif penampang
fy = Tegangan leleh yang digunakan dalam desain

fu = Kekuatan ( batas ) tarik yang digunakan dalam desain

1.4.2 Luas Penampang


Efektif (Ae)

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Persamaan luas efektif penampang:


Nn = Ae . fu
Ae = A. U

U =1- 0,9
dengan,

= Eksentrisitas Sambungan
L = Panjang sambungan arah gaya, jarak terjauh antara dua baut pada sambungan

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
A = harga luas penampangan yang ditentukan menurut kondisi elemen tarik yang disambung

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

a). Penampang berlubang ( Gaya tarik disalurkan oleh baut )

A = Anet
= Luas penampang bersih terkecil antara pot 1 3 dan 1 2 3

Pot 1 3 = Ant = Ag n . d . t

Pot 1 2 3 = Ant = Ag n . d . t +

Dimana, Ag = Luas penampang kotor


t = tebal penampang
d = diameter lubang
S = jarak antar sumbu lubang sejajar komponen
U = jarak antar sumbu lubang pada arah tegak sumbu

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

b). Penampang tidak berlubang (Gaya tarik disalurkan oleh Las)

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

A = Ag

c). Gaya tarik disalurkan oleh las melintang.

A = Luas penampang yang disambung


las
U = 1, bila seluruh tepi luar penampang di las

d). Gaya tarik disalurkan oleh las memanjang kedua sisi bagian ujung elemen.

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

A = A plat
l>2 U=1
2 > l >1,5 U = 0,87
1,5 l U = 0,75

= lebar plat ( jarak antar garis las )


l = panjang las memanjang

Ketentuan tambahan :
a). Penampang I atau T di b / h 2/3
sambungan pada sayap dengan n baut 3 perbaris ( arah gaya )
U = 0,9
b). Seperti (a) tetapi b / h < 2 / 3 termasuk plat tersusun
U = 0,85
c). Semua penampang di - n baut = 2 perbaris ( arah gaya )
U = 0,75
Kelangsingan Batang Tarik
Untuk menghindari bahaya yang timbul akibat getaran pada batang tarik maka batang harus didesain

cukup kaku dengan memperhatikan kelangsingan batang,

240 , untuk komponen utama

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
300 , untuk komponen sekunder

= , L = panjang batang tarik

I = ; Imin = Inersia
A = luas penampang
Untuk batang bulat dibatasi l / d 500

Keruntuhan Block Geser ( BLOCK SHEAR )

Selain
diperiksa terhadap kegagalan akibat tarik ( leleh maupun fraktur ), maka komponen tarik juga harus
diperiksa terhadap kemungkinan kegagalan akibat geser ( daerah sambungan ).

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Kegagalan geser ini disebut Block Shear Rupture

Runtuhnya block geser akibat tarik di sekitar baut dapat disebabkan leleh geser , fraktur geser dan
fraktur tarik.

Terdapat 2 kondisi kerunruhan blok geser, yaitu :


1 Perlelehan geser retakan tarik
Bila, fu Ant > 0,6 fu Ans
Nn = t ( fu . Ant + 0,6 fy Ags )
2. Retakan geser Pelelehan tarik
Bila, 0,6 fu Ans > fu Ant
Maka t Nn = t ( fy Agt + 0,6 fu Ans )
Ags = Luas bruto yang mengalami pelelehan geser

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Agt = Luas bruto yang mengalami


pelelehan tarik
Ans = Luas bersih yang mengalami retakan geser

Ant = Luas bersih yang mengalami retakan


tarik

- Bidang Tarik
Agt = S t + S t = 2 S t
Ant = ( S t d/2 t) + ( S t d/2 t )
=2Stdt

- Bidang Geser
Ags = ( S1 + S2 ) . t + ( S1 + S2 ). t
= 2 ( S1 + S2 ). t

Ans = ( S1 + S2 1 d)t+

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

( S 1 + S2 - 1 d ).t
Perlu pula diperiksa terhadap kuat balok plat ujung terhadap geser pada baut
t Tn = t ( 0,6 fu ) Ans
Perencanaan Batang Tekan (Compression Members)

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Batang tekan adalah

elemen struktur yang hanya menerima aksial gaya tekan saja, dimana gaya bekerja pada arah longitudinal sumbu

bahan.

Sehingga dalam penyambungan harus bertemu pada satu titik joint.

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Kuat tekan komponen struktural yang memikul gaya tekan ditentukan :


1. Bahan - Tegangan leleh

- Tegangan sisa
- Modulus elastisitas

2. Geometri
- - Penampang
- Panjang komponen, l
- Kondisi ujung dan penopang
(sendi - sendi,jepit-jepit dan seterusnya).

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
Kondisi Batas ( kekuatan maksimal )
- Tercapainya batas kekuatan
- Tercapainya batas kestabilan
Batas kekuatan (LRFD)
Nu Nn ; = 0,85
Nn = Ag . fcr

= Ag .
= Faktor tekuk
= 1, untuk c < 0,25

dimana c =
= 1,25 c2, untuk c 1,2

dimana c =

= 1,25 .

Nn = Pevler
Untuk kondisi tekuk elastis : c 1,5

Fcr = . Fy = 0,877 .

Nn= Ag . fcr = Ag . 0,877

Nn= Pevler

= , untuk 0,25 c 1,2


Nu Nn; = 0,85

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Nn = Ag . fcr = Ag .

Faktor Panjang Tekuk


Komponen struktur dengan gaya aksial murni umumnya merupakan komponen pada struktur segitiga
(rangka batang) atau merupakan komponen struktural dengan kedua ujung sendi.
Lk = kc . , l l

Batas Kelangsingan
Untuk batang-batang yang direncanakan terhadap tekan, angka perbandingan kelangsingan dibatasi

Tekuk Lokal
- Tekuk lokal terjadi apabila tegangan pada elemen penampang mencapai tegangan kritis plat

- Tegangan kritis plat tergantung dari perbandingan tebal dan lebar panjang dan tebal, kondisi tumpuan

sifat material.

- Batas kelangsingan elemen penampang komponen struktur tekan

= < r

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

r = tabel 7.5-1b(peraturan SNI hal 30)


t

Pajang Majemuk (Penampang Gabungan)

- Kelangsingan arah sumbu bahan x =

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

- Kelangsingan arah sumbu bebas bahan y =

- Kelangsingan ideal xy =
Elemen batang harus lebih stabil dari batang majemuk

l 50
Sambungan Baja
Pada konstruksi baja dipakai beberapa macam alat sambung yaitu :
a Paku keeling ( Rivet )
b Baut ( Bolt )
c Hight Strength Bolt ( baut mutu tinggi )
d Las

a Paku Keling (Rivet)

Sebenarnya pemakain paku keling ( rivet )


sudah mulai ditinggalkan di ganti dengan baut mutu tinggi, mengingat proses pelaksanaan dilapangan terlalu
rumit.

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Paku keling dapt membuat sambungan menjadi kaku karena memiliki tahanan geser
yang tinggi ( Shear Resistance ), tetapi karena melalui pemanasan & didinginkan , paku keeling tidak dapat
diukur langsung sehingga tidak dapat di masukkan kedalam hitungan untuk kuat gesernya / shear resistance

Perhitungan sambungan dengan paku keeling ada dua macam sambungan ;


- Sambungan beririsan satu / tunggal
- Sambungan beririsan ganda

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Kemampuan Sambungan -----a). Terhadap Geser

b). Terhadap Tumpu


a). Terhadap Geser ( )

Untuk irisan tunggal = = .. d2 .

Untuk irisan ganda = = 2. 1/4 d2 .

b). Terhadap Tumpu ( tu )

Bidang tumpu = .d ;

= .d. tu

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

= tebal plat yang disambung


d = diameter paku keling

= beban yang diizinkan yang dipikul dinding lubang

tu = 2. untuk S1 2 d

tu = 1,6 untuk 1,5 d S1 < 2 d


S1 = jarak paku keeling

Menentukan Kekuatan Dukung Paku Keling


a). Untuk Irisan Tunggal.

> geser : = d2 diambil yang terkecil

> tumpu : = . d. tu

b). Untuk Irisan Ganda.

> geser : = 1/2 d2

> tumpu : = . d. tu

C). Jika bekerja gaya geser dan gaya aksial maka :

i =

i = Tegangan Ideal

b Sambungan Baut
Kekuatan nominal dari penyambung individual

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Sambungan Irisan tunggal Sambungan Irisan Ganda


( Sambungan berimpit ) ( Sambungan menumpu )

a). Sambungan
Geser

b). Sambungan Geser eksentris

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

c). Sambungan Tarik

d). Sambungan kombinasi Geser Tarik

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Beban ditransfer dari satu batang ke batang yang lain melalui sambungan diantara mereka
Alat yang sederhana untuk mentransfer beban dari satu batang ke batang yang lain adalah sebuah pen
( baja silindris ) / baut
Kekuatan nominal pada sambungan tarik
Rn = fub . An
fub = kekuatan tarik bahan baut
An = luas tegangan tarik baut pada bagian berulir
An = ( 0,75 0,79 ). Ab ; sering dipakai 0,75 Ab

Persamaan menjadi : Rn = Fub ( 0,75. Ab )

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

LRFD Penyambung

Umum : Rn i Qi
= factor reduksi
Rn = Resistensi Nominal

i = factor kelebihan beban


Qi = beban yang bekerja

Untuk sambungan : Rn Pu
= 0,75 untuk retakan dalam tarik & tumpu terhadap sisi lubang
= 0,65 untuk geser pada baut mutu tinggi
Pu = beban terfaktor
Kekuatan Geser Desain - Tanpa ulir pada bidang geser
Rn = ( 0,6 Fub ) m Ab
Rn = 0,65 ( 0,6 Fub ) m Ab
m = banyaknya bidang geser ;
m = 1 irisan tunggal
m = 2 irisan ganda

Kekuatan Geser Desain Ada ulir pada bidang geser


Rn = ( 0,45. Fub). m. Ab
= 0,65 ( 0,45 Fub ) m. Ab
Kekuatan Tarik Desain
Rn = Fub ( 0,75. Ab ) = 0,75

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
Kekuatan Tumpu Desain
1. Rn = ( 2,4. dt. Fu ) = 0,75
- jarak ujung tidak kurang 1,5 d
- jarak pusat ke pusat baut tidak kurang 3 d
d= diameter lubang
S2 >3d
t = tebal plat
S1>1,5 d
2. Untuk lubang beralur pendek tegak lurus pada arah transmisi beban
Rn = ( 2. d. t. Fu ). = 0,75
3. Untuk baut yang paling berdekatan di pinggir
Rn = ( L. t. Fu ) = 0,75
L = jarak ujung
4. Untuk baut di lubang yang berjarak lebih 0,25
Rn = ( 0,3 . d. t. Fu ) = 0,75

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

BAB II
PERHITUNGAN & PERENCANAAN

Direncanakan Bangunan Gedung Industri berbahan baja serta gambar kerjanya dengan data-data sebagai
berikut :
1. Bentang Kuda-kuda (L) : 10 m
2. Profil Kuda-kuda : Double L
3. Jumlah Kuda-kuda (n) :7
4. Jarak antar Kuda-kuda : 6,5 m
5. H1 :5m
6. Sudut : 15
7. Beban Angin : 35 kg/cm2
8. Jenis Atap : Seng gelombang
9. Dinding Samping : Tertutup (Zincalum)
10. Ikatan Angin Dinding : Portal baja
11. Mutu Baja : A36
12. Jenis Sambungan : Baut (A325)
13. Struktur Balok Crane dengan beban bergerak : 15 ton

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Tinggi Kuda-kuda
tinggi
tan 20 =
6,25
tinggi = tan 20 x 6,25 = 2,27 m
Dengan Kemiringan
6,252+ 2,272 = 6,65 m
Jarak Antar Gording
6,65
= 1,33 m 1,40 m
5

Perhitungan Beban Pada Atap


1. Beban Mati
Jarak antar gording = 1,40 m
Berat penutup atap (Zincalum) = 4,10 kg/m
Berat gording diperkirakan = 6 kg/m

Berat atap (1,40 x 4,10) = 5,74 kg/m


Berat gording = 6 kg/m +
qD = 11,74 kg/m

qD = 11,74 kg/m => RD = = = 41,09 kg


RDx = (41,09).cos 20 = 38,61 kg
RDy = (41,09).sin 20 = 14,05 kg

qD = 11,74 kg/m =>MD= = = 71,91 kgm


MDx = (71,91).cos 20 = 67,57 kgm
MDy = (71,91).sin 20 = 24,59 kgm

2. Beban Hidup
Berat pekerja = 100 kg

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

PL = 100 kg => RL = = = 50 kg
RLx = (50).cos 20 = 46,98 kg
RLy = (50).sin 20 = 17,10 kg

PL = 100 kg => ML = = = 175 kgm


MLx = (175).cos 20 = 164,45 kgm
MLy = (175).sin 20 = 59,85 kgm

3. Beban Angin
Angin tekan, q = {(0,02). (0,4)}. (Wangin) . (Jarak antar gording)
= {(0,02).(20) (0,4)}.(35).(1,4)
= 0 kg/m

q = 0 kg/m => Rw = = = 0 kg

Mw = = = 0 kgm
Angin hisap, q = (- 0,4). (Wangin) . (Jarak antar gording)
= (- 0,4).(35).(1,4)
= - 19,6 kg/m

q = - 19,6 kg/m => Rw = = = - 68,6 kg

Mw = = = - 120,05 kgm

Kombinasi Pembebanan
A. Pembebanan Sementara 1
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
RUx1 = (1,2).(RDx) + (0,5).(RLx) + (1,3).(Rw)
= (1,2).( 38,61) + (0,5).( 46,98) + (1,3).(0)

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
= 69,822 kg
RUx2 = (1,2).(RDx) + (0,5).(RLx) + (1,3).(Rw)
= (1,2).( 38,61) + (0,5).(46,98) + (1,3).( - 68,6)
= -19,358 kg
2. Arah Sejajar Bidang Atap
RUy = (1,2).(RDy) + (0,5).(RLy)
= (1,2).( 14,05) + (0,5).( 17,10)
= 25,410 kg
B. Pembebanan Tetap
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
RUx = (1,2).(RDx) + (0,5).(RLx)
= (1,2).( 38,61) + (0,5).(46,98)
= 69,822 kg
2. Arah Sejajar Bidang Atap
RUy = (1,2).(RDy) + (0,5).(RLy)
= (1,2).(14,05) + (0,5).(17,10)
= 25,410 kg
C. Pembebanan Sementara 2
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
RUx 1 = (1,2).(RDx) + (1,6).(RLx) + (0,8).(Rw)
= (1,2).( 38,61) + (1,6).(46,98) + (0,8).(0)
= 121,500 kg
RUx 2 = (1,2).(RDx) + (1,6).(RLx) + (0,8).(Rw)
= (1,2).( 38,61) + (1,6).(46,98) + (0,8).( - 68,6)
= 66,620 kg

2. Arah Sejajar Bidang Atap


RUy = (1,2).(RDy) + (1,6).(RLy)
= (1,2).(14,05) + (1,6).(17,10)
= 44,220 kg
D. Pembebanan Sementara 3
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
RUx = (0,9).(RDx) + (1,3).(Rw)
= (0,9).( 38,61) + (1,3).(0)
FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
= 34,749 kg
RUx = (0,9).(RDx) + (1,3).(Rw)
= (0,9).( 38,61) + (1,3).( - 68,6)
= - 54,431 kg
2. Arah Sejajar Bidang Atap
RUy = (0,9).(RDy)
= (0,9).(14,05)
= 12,645 kg

Kombinasi Momen
A. Momen Akibat Beban Sementara 1
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
MUx1 = (1,2).(MDx) + (0,5).(MLx) + (1,3).(Mw)
= (1,2).( 67,57) + (0,5).( 164,45) + (1,3).(0)
= 163,309 kgm
MUx2 = (1,2).(MDx) + (0,5).(MLx) + (1,3).(Mw)
= (1,2).( 67,57) + (0,5).( 164,45) + (1,3).(- 120,05)
= 7,244 kgm
2. Arah Sejajar Bidang Atap
MUy= (1,2).(MDy) + (0,5).(MLy)
= (1,2).( 24,59) + (0,5).( 59,85)
= 59,433 kgm

B. Momen Akibat Beban Tetap


1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
MUx = (1,2).(MDx) + (0,5).(MLx)
= (1,2).( 67,57) + (0,5).( 164,45)
= 163,309 kgm
2. Arah Sejajar Bidang Atap
MUy= (1,2).(MDy) + (0,5).(MLy)
= (1,2).( 24,59) + (0,5).( 59,85)
= 59,433 kgm
C. Momen Akibat Beban Sementara 2

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
MUx1 = (1,2).(MDx) + (1,6).(MLx) + (0,8).(Mw)
= (1,2).( 67,57) + (1,6).( 164,45) + (0,8).(0)
= 344,204 kgm
MUx2 = (1,2).(MDx) + (1,6).(MLx) + (0,8).(Mw)
= (1,2).( 67,57) + (1,6).( 164,45) + (0,8).(- 120,05)
= 248,164 kgm
2. Arah Sejajar Bidang Atap
MUy= (1,2).(MDy) + (1,6).(MLy)
= (1,2).( 24,59) + (1,6).( 59,85)
= 125,268 kgm
D. Momen Akibat Beban Sementara 3
1. Arah Tegak Lurus Bidang Atap
MUx1 = (0,9).(MDx) + (1,3).(Mw)
= (0,9).( 67,57) + (1,3).( 0)
= 60,813 kgm
MUx2 = (0,9).(MDx) + (1,3).(Mw)
= (0,9).( 67,57) + (1,3).( -120,05)
= - 95,252 kgm
2. Arah Sejajar Bidang Atap
MUy= (0,9).(MDy)
= (0,9).( 24,59)
= 22,131kgm

Tabel Hasil Perhitungan Kombinasi Momen dan Reaksi


Keterangan
Beban Tetap

(1,2.Dx + 0,5.Lx)
&
(1,2.Dy + 0,5.Ly)

FACHRIZAL 201310340311169
Tugas Besar Struktur Baja 2015

Beban Sementara 1

FACHRIZAL 201310340311169