You are on page 1of 13

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. biodata
2. riwayat kelahiran lalu
3. status gravid ibu
4. riwayat persalinan
5. keadaan bayi saat lahir
6. apgar skor
7. pemeriksaan fisik
a. aktivitas/ istirahat
status sadar,bayi tampak semi koma saat tidur dalam menangis atau tersenyum adalah
bukti tidur dengan gerakan mata cepat (REM), tidur sehari rata-rata 20 jam
b. sirkulasi
nadi epical 120-160x/menit, nadi perifer mungkin lemah, nadi brachialis, dan radialis
lebih mudah di palpasi, murmur jantung
c. eliminasi
abdomen lunak, bising usus aktif, urin tidak berwarna atau pucat, dengan popok basah 6-
10/24jam
d. makanan/cairan
BB 2500-4000 gram, < 2500 gram menunjukkan KMK (prematur, gemeli), > 4000 gram
menunjukkan BMK (diabotos maternal)
e. neurosensory
LK 32-35 cm, fontanel anterior dan posterior lunak dan datar, caput suksadenoum
mungkin ada selama 3-4 hari, mata dan kelopak mata oedema, stabilismus dan mata
boneka, lipatan episantus, adanya reflex (moro, plantar, palmar, babinski) letangi
hipotonia, parese
f. pernafasan
takipnoe sementara, pola pernafasan diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron
dari dada dan abdomen, pernafasan dangkal dan cuping hidung, retraksi dinding dada
g. keamanan
kulit kemerahan atau kebiruan, cepal hematoma tampak sehari setelah kelahiran
pergerakan ekstrimitas dan tonus otot baik.
h. Seksualitas
Genitalia wanita : labia dan vagina agak merah/oedema, tanda vagina/ hymen dapat
terlihat
Genitalia pria : testis turun, scrotum tertutup dengan rugaen fimoris.
i. Pemeriksaan diagnostic
Leokosit 18.000/mm, HB: 15-20 gram/dl, HCT: 43%-61%, biltot 6 mg/dl pada hari
pertama kehidupan, 8 mg/dl 1-2 hari dan 12 mg/dl pada 3-5 hari.

B. DIAGNOSA DAN INTERVENSI


1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake menurun
Tujuan: mencerna masukan nutrisi adekuat untuk penambahan berat badan.
Kriteria hasil:
BB meningkat 750-1000 gr/ bulan
BB naik 30 gr/hari
Intervensi:
a. Kaji pola minum bayi dan kebutuhan nutrisi
R/ Untuk menentukan berapa kebutuhan nutrisi bayi/ hari atau kebutuhan minum
sehingga dapat meningkatkan kenaikan berat badan bayi
b. Ajarkan pada orang tua teknik pemberian ASI/DASS yang efektif
R/ Orang tua tidak kaku memberikan ASI/DASS pada bayi
c. Berikan intervensi spesifik dalam pemberian makan peroral
R/ memberikan asuran nutrisi yang adekuat
d. Tingkatkan tidur
R/ tidur banyak akan membuat energy yang masuk dirubah menjadi lemak sehingga
dapat dipakai sebagai cadangan makanan.
e. Berikan pemberian makan/nutrisi dengan proses adaptasi secara bergantian ASI-PASI
R/ mengadaptasi bayi dengan puting susu supaya tidak bingung.
f. Timbang BB bayi sebelum dan sesudah makan
R/ mengetahui seberapa banyak asupan nutrisi yang masuk
2. Resiko hipotermi b/d lemak subkutan yang minim
Tujuan: mempertahankan suhu tubuh normal
Kriteria hasil:
Bebas dari tanda-tanda stress dingin atau hipotermi
Suhu tubuh : 36,5c-37,5c
Intervensi :
a. Monitor tanda-tanda vital bayi setiap 4 jam
R/ mengetahui fungsi vital organ-organ tubuh terutama termastat regulator suhu tubuh
b. Monitor suhu bayi
R/ fluktuasi suhu tubuh pada bayi sering terjadi
c. Keringkan setiap bagian untuk mengurangi evaporasi
R/ kehilangan panas pada bayi terjadi sangat cepat
d. Pertahankan suhu incubator
R/ incubator dapat dimanajemenkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi bayi
3. Gangguan perfusi jaringan berdasarkan penurunan jumlah alvedi
Tujuan : pertahankan kadar PO2 dan PCO2 dalam batas normal
Kriteria hasil :
Membrane mukosa merah muda
Frekuensi jantung normal
Intervensi:
a. Tinjau ulang informasi yang berhubungan dengan kondisi bayi
R/ persalinan yang lama meningkatkan resiko hipoksia.
b. Perhatikan usia gestasi, BB, dan jenis kelamin.
R/neonates lahir sebelum minggu ke 30 terjadinya RDS
c. Kaji status pernafasan
R/takipnoe menandakan distress pernafasan
d. Gunakan pemantauan oksigen transkutan atau oksimeter nadi
R/memberikan pemantauan non inpasif konstan terhadap kadar oksigen
e. Hisap hidung dan orofaring dengan hati-hati sesuai kebutuhan
R/ mempertahankan kepatenan jalan napas
f. Observasi terhadap tanda dan lokasi sianosis
R/sianosis adalah tanda lanjut dari PaO2 rendah
g. Berikan oksigen sesuai kebutuhan
R/perbaikan kadar O2 dan CO2 dapat meningkatkan fungsi pernafasan
4. Pola nafas tidak efektif berdasarkan defisiensi kadar surfaktan
Tujuan: mempertahankan pola pernafasan periodic
Kriteria:
Membrane mukosa merah muda
Frekuensi jantung normal
Intervensi :
a. Kaji frekuensi dan pola pernafasan
R/ membantu dalam membedakan periode perputaran pernafasan normal
b. Isap jalan nafas sesuai kebutuhan
R/ menghilangkan mucus menyumbat jalan nafas
c. Posisikan bayi pada abdomen atau posisi terlentang
R/ memudahkan pernafasan dan menurunkan episode apnetik
d. Berikan rangsangan taktil segera
R/ merangsang SSP untuk meningkatkan gerakan tubuh
e. Pantau pemeriksaan laboratorium (GDA, glukosa serum, elektrolit)sesuai indikasi
R/ memperberat serangan apneic
5. Kelebihan volume cairan berdasarkan fungsi ginjal belum sempurna
Tujuan : berkemih 2-6 kali dengan jumlah 15-60 ml/kg/hari
Kriteria :
Tidak ada oedema
Tanda vital dalam batas normal
BB sesuai dengan perkembangan
Intervensi:
a. Kaji intake dan output
R/ perlu untuk menentukan fungsi ginjal
b. Rencanakan penggantian cairan pada klien
R/ membantu untuk menghindari periode tanpa cairan
c. Kaji kulit wajah area tergantung untuk oedema
R/ Oedema terjadi terutama pada jaringan yang tergantung
d. Kaji tingkat kesadaran
R/ dapat menunjukkan perpindahan cairan

INFEKSI NEONATUS

A. PENGERTIAN
Infeksi neonatus adalah infeksi tang terjadi pada bayi baru lahir, dapat terjadi pada masa
perinatal, intranatal, dan postnatal.
B. ETIOLOGI
Menurut blanc (1961) infeksi pada neonatus dapat melalui beberapa penyebab, yaitu:
1. Infeksi perinatal
Kuman mencapai janin melalui peredaran ibu keplasenta, kuman melewati batas plasenta dan
mengadakan itervilosite masuk kevena umbilicus sampai kejanin, kuman tersebut seperti:
Virus : rubella, poliomalitis, koksakie, variola
Spirokaeta : sifilis
Bakteri : E.coli dan listeria
2. Infeksi intranatal
Partus yang lama
Asfiksia, perdarahan
Pemeriksaan vagina yang terlalu sering
3. Infeksi postnatal
Penggunaan alat-alat dan perawatan yang tidak steril
Cross infection (infeksi silang), infeksi yang telah ada dirumah sakit
C. KLASIFIKASI
1. Infeksi berat (nayor infektion)
Sifilis kongenital
Biasanya terjadi pada masa antenatal yang disebabkan oleh traponema pallidum
Sepsis neonatorum
Dapat terjadi pada antenatal dan postnatal
Meningitis
Biasanya didahului sepsis, penyebab utamanya adalah E.Colli, pneumokokus,
stafilokokus
Pneumonia kongenital
Terjadi pada masa intranatal karena adanya aspirasi likuor amnion yang septik
Pneumonia aspirasi
Terjadi pada masa postnatal, merupakan penyebab kematian utama pada bayi BBLR
(Berat Badan Lahir Rendah) terjadi aspirasi pada saat pemberian makanan karena
reflex menelan yang batuk yang belum sempurna
Pneumonia
Karena airborn infeksi, terjadi karena berhubungan dengan orang dewasa yang
menderita infeksi saluran pernafasan
Pneumonia stafilokokus
Biasanya terjadi pada neonatus yang lahir dirumah sakit
Diare epidemic
Infeksi yang menyebabkan kematian yang tinggi disebabkan oleh E. Colli yang
bersifat pathogen.
Gastroenteritis E. Colli
Salmonellosis
Pielonepritis
Infeksi yang mengenai ginjal bayi
Ostitis akut
Disebabkan oleh metastasis sarang infeksi stafilokokus
Tetanus noenatorum
Disebabkan oleh clostridium yang bersifat anaerob dan mengeluarkan eksotopin yang
neurotropic
2. Infeksi ringan
Pemphigus neonatorum
Gelombang jernih yang berisi nanah yang kemudian kemerahan pada kulit
disebabkan oleh stafilokokus
Oftalmia neunatorum
Infeksi genokokus pada konjungtiva waktu melewati jalan lahir
Infeksi tali pusat
Disebabkan oleh stafilokokus aureus, sehingga menimbulkan nanah, oedema, dan
kemerahan pada ujung pusat
Moniliasis candida albikans
Merupakan jamur yang sering ditemukan pada bayi yang dapat menyebabkan
stomatitis, diare, dermatitis, dan lain-lain.
D. Patofisiologi
Dimulai dengan masuknya bakteri dan mengkontaminasi sirkulasi sistemik, bakteri melepaskan
endotoksin dan menyebabkan terganggunya proses metabolism secara progresif.
Pada keadaan fulminan (tiba-tiba berat) dapat menyebabkan kerusakan dan kematian sel karena
aktivasi sepsis dengan komplemen. Hasilnya menyebabkan penurunan perfusi jaringan asidosis
metabolic, serta syok yang menyebabkan dissamenated intravascular coagulation (DIC) dan
kematian.
E. PATHWAY
F. MANIFESTASI KLINIS
Infeksi neonatus dimulai dengan tanda dan gejalah sebagai berikut:
Iritabel
Letargi
Gelisah
Keinginan menyusu yang kurang
Temperature (suhu badan) yang tidak stabil dapat meninggi atau kurang dari normal
(biasanya hipotermia terjadi pada bayi BBLR)
Perubahan warna kulit
Lambatnya waktu pengisian kapiler
Perubahan denyut jantung
Frekuensi nafas
Berta badan menurun
Pergerakan kurang
Mual muntah, diare
Edema
Icterus
Hepatosplenomega
Kejang

Manifestasi lainnya adalah data laboratorium yang tidak stabil (khususnya hipoglikemia)
neptropenia

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Hitung darah lengkap dengan turunannya, yang terpenting adalah sel darah putih (WBC),
septik neonatus biasanya menunjuk penurunan jumlah sel darah putih yaitu <500mm.
Hitung jenis darah juga menunjukkan banyak WBC tidak matang dalam aliran darah,
banyaknya darah tidak matang dihubungkan banyaknya total WBC diidentifikasikan bahwa
bayi mengalami respon yang signifikan.
2. Platelet
Biasanya 1500-3000 mm pada keadaan sepsis platelet menurun, kultur darah gram negative
atau positif dan tes sensitivitas. Kultur darah/ sensitivitas membutuhkan waktu 24-48 jam
mengembangkan dan mengidentifikasikan jenis pathogen serta antibiotic yang sesuai
3. Lumbal fungsi
Untuk kultur dan tes sensitivitas pada cairan serebrospiral hal ini dilakukan jika ada indikasi
infeksi neuron
4. Kultur urine
Kultur permukaan (suface culture) untuk mengidentifikasi kolonisasi, tidak spesifik untuk
infeksi bakteri.
H. PENCEGAHAN
Pencegahan pada neonatus dapat dibagi sebagai berikut:
1. Cara umum
Pencegahan infeksi neonatus sudah harus dimulai dari periode antenatal infeksi, ibu
harus diobati dengan baik, misalnya infeksi umum, lekorea dan lain-lain.
Dikamar bersalin harus ada pemisahan yang sempurna antara bagian yang sepsis
dengan aseptic, pemisahan ini mencakup ruangan, tenaga perawatan, serta alat
kedokteran dan alat perawatan.
Ibu yang akan melahirkan sebelumnya masuk kamar bersalin. Pada kelahiran bayi,
pertolongan harus dilakukan secara aseptic. Suasana kamar bersalin harus sama
dengan kamar operasi, alat yang digunakan harus steril.
Dikamar bayi yang baru lahir harus ada pemisahan yang sempurna untuk bayi yang
baru lahir dengan partus aseptik dan partus septik. Pemisahan ini harus mencakup
personalia fasilitas perawatan, dan alat yang digunakan.
Selain itu juga dilakukan pemisahan pemisahan terhadap bayi menderita penyakit
menular.
Sebelum dan sesudah memegang bayi harus cuci tangan. Mencuci tangan dengan
menggunakan sabun antiseptic atau sabun biasa asal digunakan sampai bersih.
Dalam ruangan harus menggunakan jubbah steril, masker dan sandal khusus, dalam
ruangan bayi kita tidak boleh banyak bicara, dan bila menderita penyakit saluran
pernafasan atas tidak boleh masuk kamar bayi.
Dapur susu harus bersih dan cara mencampur harus aseptic air susu ibi yang dipompa
sebelum diberikan kepada bayiharus dipasteurisasi dulu.
Setiap bayi harus mempunyai tempat pakaian tersendiri, begitu juga incubator harus
sering dibersihkan dan lantai ruangan harus tetap bersih.
2. Cara khusus
Pemakaian anti biotik hanya untuk tujuan dan indikasi yang jelas
Pada beberapa keadaan, ketuban pecah lama (lebih dari 12 jam) aie ketuban keruh,
infeksi sistemik pada ibu, partus yang lama dan banyak manipulasi intravaginal
Resusitasi yang berat sering timbul dilemma.
I. KOMPLIKASI
Hipoglikemia
Asidosis metabolic
Koagulopati, gagal ginjal, disfusi, miokard
Perdarahan intracranial
Icterus, kernicterus.
BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

INFEKSI NEONATUS

A. PENGKAJIAN
1. Biodata
Identitas bayi (nama bayi (ibu), nama ayah, umur ayah, pendidikan ayah, pekerjaan
ayah, umur ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, alamat, tanggal MRS)
2. Riwayat penyakit
Keluhan utama : infeksi perinatal, intranatal, dan postnatal
Riwayat penyakit sekarang
Terjadi sebelum melahirkan, saat melahirkan, atau sesudah melahirkan dan
disebabkan ileh apa.
Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada keluarga yang menderita sakit yang menyebabkan klien terinfeksi
Riwayat imunisasi
Sesuai umur klien (bayi)diberikan imunisasi yang sesuai dan tepat pemberian (BCG,
DPT, polio, campak, hepatitis B)
3. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : lemah, sedang, tampak sakit sedang
Kesadaran bayi : composmentis, apatis
TTV : nadi, respirasi, dan suhu badan
Antopometri : berat badan, panjang bayi, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar
perut
a. Sistem pernafasan
Apnoe
Sianosis
Takipnoe
Penurunan saturasi oksigen
Nasal memerah, mendengkur, dan retraksi dinding dada
b. System kardiovaskular
Takikardi
Menurunnya denyut perifer
Pucat
c. System pencernaan
Hilangnya kiinginan untuk menyusui
Penurunan intake melalui oral
Muntah, diare, distensi abdomen
d. System integument
Tugor kulit buruk, kering, adanya lesi, ruam
e. System neurologi
Fontanel yang menonjol
Letarge
Temperature yang tidak stabil
Hipotenia
Tremor yang kuat.
4. Pemeriksaan diagnostic
Pungsi lumbal
Preparat darah hapus, kultur darah, darah rutin, laju endap darah peningkatan (LED)
Pemeriksaan sinar X
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya pola nafas yang berhubungan dengan meningkatnya produksi secret di
saluran napas
2. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan malas
minum, diare dan muntah.
3. Kurangnya volume cairan berhubungan dengan diare, muntah
4. Perubahan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
5. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan infeksi
C. RENCANA KEPERAWATAN

NO DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


KEPERAWATAN
1. Tidak efektifnya pola napas Ketidakefektifan a. Posisikan bayi Membantu
b/d meningkatnya secret di pernafasan dapat yang nyaman, melonggarkan jalan
saluran napas diatasi kriteria kepala nafas
hasil : ditinggikan
Bayi tidak (digendong)
sesak
b. Berikan o2 dan O2 mengatasi
Bayi tenang
bersihkan jalan kebutuhan tubuh akan
Frekuensi
nafas dri secret oksigen dan
pernapasan mengurangi sumbatan
menurun saluran nafas
Secret (-)
Antibiotic dapat
c. Kolaborasi mengatasi infeksi
dengan dokter
dalam
pemberian
antibiotik
2. Gangguan pemenuhan Gangguan a. Anjurkan pada Asi membantu nutrisi
nutrisi b/d malas minum, pemenuhan ibu untuk tetap bayi dan mengandung
diare dan muntah nutrisi dapat memberikan ASI IgA yang tinggi
diatasi
Kriteria hasil : b. Auskultasi Penurunan aliran
Muntah (-) bising usus darah dapat
Diare (-) menurunkan
Bayi mau perilstatik usus
menyusui
c. Kolaborasi Membantu kebutuhan
dalam cairandan mengatasi
pemberian infeksi
cairan dan
antibiotic
3. Kurangnya volume cairan Volume cairan a. Berikan ASI Membantu kebutuhan
tubuh b/d diare, muntah kembali normal sesuai cairan optimal
Kriteria hasil : kebutuhan
Suhu Mempengaruhi
normal b. Awasi masukan peningkatan resiko
Mukosa dan pengeluaran, dehidrasi
dan kulit catat dan ukur
tidak kering frekuensi diare
Membantu
mengurangi gangguan
c. Kolaborasi
cairan tubuh
pemberian obat-
obatandan terapi
cairan
4. Perubahan suhu tubuh b/d Suhu tubuh a. Observasi suhu Suhu badan 38.9-41c
proses infeksi kembali normal tubuh klien menunjukkan proses
Kriteria hasil : infeksi
Tidak ada
tanda-tanda b. Berikan suhu Suhu ruangan harus
adanya lingkungan yang diubah
hipertermi nyaman mempertahankan suhu
normal

Membantu resiko
c. Berikan timbul demam
kompres hangat
pada bayi Mengurangi demam
dan membatasi
d. Kolaborasi pertumbuhan infeksi
pemberian obat mikroorganisme
antipiretik
5. Gangguan rasa nyaman b/d Gangguan rasa a. Menjelaskan Mengurangi
adanya infeksi nyaman teratasi proses terjadinya kekhawatiran saat
Kriteria hasil : infeksi pada terjadi sesuatu
Bayi tidak keluarga
rewel
Tidak ada b. Beri lingkungan Menurunkan vealisi
nyeri tenang dan terhadap stimulasi dari
Bayi nyaman luar
tampak
Meningkatkan
tenang c. Memberikan
istirahat/ relaksasi
sentuhan pada
bayi

LAPORAN PENDAHULUAN
CAPUT SUCCEDANEUM
A. DEFENISI
Caput Succedaneum adalah benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher Rahim
yang saat itu belum membuka secara penuh yang akan mengilang dalam waktu 1-2 hari
(prawirohardjo,2007)
Caput Succedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi bagian
yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari
pembuluh darah, Caput Succedaneum tidk memerlukan pengobatan khusus dan biasanya
menghilang setelah 2-5 hari (sarwono,2006)
B. PENYEBAB
Caput Succedaneum terjadi karena adanya tekanan yang kuat pada kepala pada saat memasuki
jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi perifer dan limfe yang disertai dengan
pengeluaran cairan tubuh ke jaringan ekstravaskuler. Keadaan ini bisa terjadi pada partus lama
atau persalinan dengan vacum ekstrasi (dewi,2010)
C. FAKTOR PREDISPOSISI
Factor predisposisi terjadinya trauma lahir antara lain:
a. Makrosomia
b. Prematuritas
c. Disiroporsi sepalopelvik
d. Distosia
e. Persalinan lama
f. Persalinan ang diakhiri dengan alat (ekstraksi vacuum dan forseps)
g. Persalinan dengan secti cesarean
h. Kelahiran sungsang
i. Presentasi bokong
j. Presentasi muka
k. Kelainan bayi letak lintang
D. GEJALA
a. Oedema dari kepala
b. Terasa lembut dan lunak pada perabaan
c. Benjolan berisi serum dan kadang bercampur dengan darah
d. Oedema melampaui tulang tengkorak
e. Batas yang tidak jelas
f. Permukaan kulit pada benjolan berwarna ungu atau kemerahan
g. Benjolan akan menghilang sekitar 2-3 minggu tanpa pengobatan
E. PATOFISIOLOGI
Kelainan ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahirsehingga
terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh kejaringan
extravasa, benjolan caput ini berisi cairan serum dan sering bercampur dengan sedikit darah.
Benjolan dapat terjadi sebagai akibat bertumpang tindihnya tulang kepala didaerah sutura pada
suatu proses kelahiran sebagai salah satu upaya bayi mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat
melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan terlihat setelah
bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas terlihat pada bayi premature dan akan hilang sendiri dalam
1-2 hari. (markum,1991)
F. KOMPLIKASI
1. Infeksi
Infeksi pada caput succedaneum bisa terjadi karena kulit kepala terluka (kasim,2003)
2. Icterus
Pada bayi yang terkena caput succedaneum dapat menyebabkan icterus karena
incompatibilitas factor Rh atau golongan darah A,B,O antara ibu dan bayi (kosim,2003)
3. Anemia
Anemia dapat terjadi pada bayi yang terkena caput succedaneum karena pada benjolan terjadi
perdarahan yang hebat atau perdarahan yang banyak
G. PENATALAKSANAAN
1. Perawatan bayi sama dengan perawatan bayi normal
2. Pengawasan keadaan umum bayi
3. Berikan lingkungan yang baik, adanya ventilasi dan sinar matahari yang cukup
4. Pemberian ASI yang adekuat, bidan harus mengajarkan pada ibu teknik menyusui dengan
benar
5. Pencegahan infeksi harus dilakukan untuk menghindari adanya infeksi pada benjolan
(dewi,2010)
H. PATHWAY
PENGKAJIAN

1. SUBJEKTIF
terjadi pada bayi baru lahir terutama nampak jelas caput dan pada beberapa jam atau hari
setelah lahir (cephal hematome)
2. KELUHAN
Benjolan dikepala bayi segera dan beberapa jam setelah lahir
a. Objektif
Benjolan dikepala bayi biasanya pada daerah tulang parietal, oksipital
Berkembang secara bertahap segera setelah persalinan
Perkembangan kepala berbentuk nemjolan difus
Tidak berbatas tegas, tidak melampaui batas sutura
Perabaan, mula-mula kenas, lama kelamaan lunak
Sifat timbulnya perlahan, benjolan terlihat jelas setelah 6-8 jam setelah lahir

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI KEPERAWATAN

1. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d mual muntah


Tujuan : nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh teratasi
Kriteria hasil:
Mual / muntah tidak ada
Kebutuhan nutrisi bayi seperti susu bisa masuk kedalam tubuh

Intervensi:

a. Kaji mual/munttah yang terjadi setiap hari


R/ untuk mengetahui intervensi selanjutnya
b. Kaji tanda-tanda vital bayi
R/ memberikan data dasar dan mengevaluasi intervensi yang diberikan
c. Kolaborasi untuk pemberian cairan parenteral
R/ untuk menentukan kebutuhan nutrisi klien
2. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan trauma jaringan perinatal
Tujuan : anak akan menunjukkan rasa ketidaknyamanan
Kriteria hasil :
Bayi tidak rewel
Memperhatikan tanda-tanda vital bayi dalam batas normal

Intervensi :

a. kaji ekspresi bayi (diam, rewel, menangis terus menerus, dll)


R/ memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.
b. Kurangi jumlah cahaya lampu, kebisingan, dan berbagai stimulus lingkungan lainnya dalam
anak
R/ stimulus demikian dapat mengganggu anak yang mengalami cidera karena dapat
meningkatkan TIK
c. Kaji tanda-tanda vital, catat peningkatan frekuensi nadi, peningkatan atau penurunan nafas
R/ peningkatan frekuensi nadi, peningkatan atau penurunan pernafasan menunjukkan
ketidaknyamanan
d. Kolaborasi, berikan analgetik sesuai kebutuhan untuk nyeri
R/ mengurangi nyeri dan spasme otot
3. Ansiefas (orang tua) b/d ketidaktahuan status kesehatan anak
Tujuan : kecemasan orang tua berkurang
Kriteria hasil:
Menunjukkan pengurangan sifasi
Mengajukan pertanyaan yang tepat sehubungan dengan penyakit dan penanganannya.

Intervensi:

a. Jelaskan pada anak dan orang tuatentang tujuan semua tindakan keperawatan yang dilakukan
R/ dengan mengetahuai apa yang akan dilakukan sebelum melaksanakan prosedur dan
mengapa prosedur tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi kecemasan
b. Ijinkan orang tua tetap menemani anak, tergantung pada keadaan anak
R/ dengan mengijinkan orang tua menemani anak memberikan dukungan emosioanl pada
anak dan mengurangi kecemasan.
c. Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis
R/ dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan orang tua untuk membuat keputusan atau
pilihan sesuai realita.