You are on page 1of 4

ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA

DENGAN COPD

NAMA KELOMPOK :
NI KETUT AGUSTINI (16060145002)
I MADE ASMIKA DANA (16060145008)
I WAYAN SWIDANA (16060145035)

PROGRAM STUDI TRANSFER AHLI KREDIT D III S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN BULELENG

2016
ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANSIA DENGAN COPD

A. PENGERTIAN
COPD adalah sekresi mukoid bronchial yang bertambah secara menetap
disertai dengan kecenderungan terjadinya infeksi yang berulang dan penyempitan
saluran nafas , batuk produktif selama 3 bulan, dalam jangka waktu 2 tahun berturut-
turut (Ovedoff, 2002).
COPD adalah suatu istilah yang sering digunakan untuk sekelompok penyakit paru-
paru yang berlangsung lama dan ditandai dengan obstruksi aliran udara sebagai
gambaran patofisiologi utamanya. Price & Wilson (2005)

B. KLASIFIKASI COPD
Menurut Alsagaff & Mukty (2006), COPD dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

a. Asma Bronkhial: dikarakteristikan oleh konstruksi yang dapat pulih dari otot halus
bronkhial, hipersekresi mukoid, dan inflamasi, cuaca dingin, latihan, obat, kimia dan
infeksi.

b. Bronkitis kronis: ditandai dengan batuk-batuk hampir setiap hari disertai


pengeluaran dahak sekurang-kurangnya 3 bulan berturut-turut dalam satu tahun, dan
paling sedikit selama 2 tahun. Gejala ini perlu dibedakan dari tuberkulosis paru,
bronkiektasis, tumor paru, dan asma bronkial.

c. Emfisema: suatu perubahan anatomis paru-paru yang ditandai dengan melebarnya


secara abnormal saluran udara sebelah distal bronkus terminal, disertai kerusakan
dinding alveolus.

C. ETIOLOGI
Faktor-faktor yang dapat meningkatkan resiko munculnya COPD (Mansjoer, 1999)
adalah:

a. Kebiasaan merokok

b. Polusi udara

c. Paparan debu, asap, dan gas-gas kimiawi akibat kerja.

d. Riwayat infeksi saluran nafas.

e. Bersifat genetik yaitu defisiensi -1 antitripsin.

D. Tanda dan gejala berdasarkan Brunner & Suddarth (2005) adalah sebagai berikut:

a. Batuk produktif, kronis pada bulan-bulan musim dingin.

b. Batuk kronik dan pembentukan sputum purulen dalam jumlah yang sangat banyak.

c. Dispnea.
d. Nafas pendek dan cepat (Takipnea).

e. Anoreksia.

f. Penurunan berat badan dan kelemahan.

g. Takikardia, berkeringat.

h. Hipoksia, sesak dalam dada.

E. MANIFESTASI KLINIS/ GAMBARAN KLINIS

a. Batuk produktif.

b. Sputum putih atau mukoid, jika ada infeksi menjadi purulen atau mikroperulen.

c. Sesak sampai menggunakan otot-otot pernafasan tambahan untuk bernafas.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

a. Anamnesis : riwayat penyakit ditandai 3 gejala klinis diatas dan faktor-faktor


penyebab.

b. Pemeriksaan fisik: 1) Pasien biasanya tampak kurus dengan barrel-shapped chest


(diameter anteroposterior dada meningkat). 2) Fremitus taktil dada berkurang atau
tidak ada. 3) Perkusi pada dada hipersonor, peranjakan hati mengecil, batas paru hati
lebih rendah, pekak jantung berkurang. 4) Suara nafas berkurang.

c. Pemeriksaan radiologi 1) Foto thoraks pada bronkitis kronik memperlihatkan


tubular shadow berupa bayangan garis-garisyang pararel keluar dari hilus menuju ke
apeks paru dan corakan paru yang bertambah. 2) Pada emfisema paru, foto thoraks
menunjukkan adanya overinflasi dengan gambaran diafragma yang rendah yang
rendah dan datar, penciutan pembuluh darah pulmonal, dan penambahan corakan
kedistal.

d. Tes fungsi paru : Dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea untuk


menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsi abnormal adalah
obstimulasi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk
mengevaluasi efek terapi, misalnya bronkodilator.

e. Pemeriksaan gas darah.

f. Pemeriksaan EKG

g. Pemeriksaan Laboratorium darah : hitung sel darah putih.

G. PENATALAKSANAAN

a. Pencegahan : Mencegah kebiasaan merokok, infeksi dan polusi udara.


b. Terapi ekserbasi akut dilakukan dengan: 1) Antibiotik, karena eksaserbasi akut
biasanya disertai infeksi a) Infeksi ini umumnya disebabkan oleh H. Influenza dan S.
Pneumonia, maka digunakan ampisilin 4 x 0,25 0,5 g/hari atau aritromisin 4 x 0,5
g/hari. b) Augmentin (amoxilin dan asam klavuralat) dapat diberikan jika kuman
penyebab infeksinya adalah H. Influenza dan B. Catarhalis yang memproduksi B.
Laktamase. Pemberian antibiotic seperti kotrimoksosal, amoksisilin atau doksisilin
pada pasien yang mengalami eksaserbasi akut terbukti mempercepat penyembuhan
dan membantu mempererat kenaikan peak flowrate. Namun hanya dalam 7 10 hari
selama periode eksaserbasi. Bila terdapat infeksi sekunder atau tanda-tanda
pneumonia, maka dianjurkan antiobiotik yang lebih kuat. 2) Terapi oksigen diberikan
jika terdapat kegagalan pernafasan karena hiperkapnia dan berkurangnya sensitivitas
CO2. 3) Fisioterapi membantu pasien untuk mengeluarkan sputum dengan baik. 4)
Bronkodilator, untuk mengatasi obstruksi jalan nafas, termsuk didalamnya golongan
adrenergic B dan antikolinergik. Pada pasien dapat diberikan sulbutamol 5 mg dan
atau protropium bromide 250 g diberikan tiap 6 jam dengan rebulizer atau
aminofilin 0,25 05 g IV secara perlahan.

c. Terapi jangka panjang dilakukan dengan : 1) Antibiotik untuk kemoterapi preventif


jangka panjang, ampisilin 4 x 0,25 0,5/hari dapat menurunkan ekserbasi akut. 2)
Bronkodilator, tergantung tingkat reversibilitas obstruksi saluran nafas tiap pasien,
maka sebelum pemberian obat ini dibutuhkan pemeriksaan obyektif fungsi foal paru.
3) Fisioterapi. 4) Latihan fisik untuk meningkatkan toleransi akivitas fisik. 5)
Mukolitik dan ekspekteron. 6) Terapi oksigen jangka panjang bagi pasien yang
mengalami gagal nafas Tip II dengan PaO2 < 7,3 kPa (55 mmHg). 7) Rehabilitasi,
pasien cenderung menemui kesulitan bekerja, merasa sendiri dan terisolasi, untuk itu
perlu kegiatna sosialisasi agar terhindar dari depresi. Rehabilitasi untuk pasien
PPOK/COPD: a) Fisioterapi b) Rehabilitasi psikis c) Rehabilitasi pekerjaan

H.