You are on page 1of 6

Jandt (1998:100-101) menyebutkan beberapa fungsi komunikasi nonverbal dalam

komunikasi manusia, yaitu sebagai berikut.


a. Menggantikan pesan lisan, yang biasanya dilakukan bila situasi tak memungkinkan
untuk menyampaikan pesan lisan.
b. Menyampaikan pesan-pesan yang enak disampaikan secara lisan, penyampaian
dengan menggunakan isyarat tanpa merasa menyinggung perasaan atau mempermalukan.
c. Membentuk kesan yang mengarahkan komunikasi, ada saatnya kita mengelola kesan
orang lain terhadap diri kita melalui pesan nonverbal.
d. Memperjelas relasi, mengingat pesan komunikasi itu mengandung isi dan informasi
tentang relasi.
e. Mengatur interaksi, ini terjadi, misalnya manakala kita terlibat dalam percakapan
antarpribadi.
f. Memperkuat dan memodifikasi pesan-pesan verbal, isyarat-isyarat nonverbal dapat
menjadi mata pesan yang mempengaruhi penyandibalikan (decoding) pesan.

Sedangkan Wood (1994:152-155) menyebut ada 3 (tiga) fungsi komunikasi nonverbal,


yaitu:
a. komunikasi nonverbal melengkapi komunikasi verbal;
b. komunikasi nonverbal mengatur interaksi;
c. komunikasi nonverbal membangun relasi tingkatan makna, yang pada dasarnya
terdiri dari tiga dimensi-dimensi primer relasi tingkat makna, yaitu responsivitas,
menunjukan suka-tidak suka, dan kekuasaan atau kontrol.

DEFINISI KARYA TULIS


Karya tulis mempunyai banyak ragam tergantung dari tujuan, manfaat, sumber penulisan,
dan aspek-aspek lainnya. Berdasarkan sumbernya, secara umum karya tulis dapat
diklasifikasikan menjadi dua yaitu karya fiksi (tidak ilmiah) dan non fiksi (ilmiah). Karya
fiksi merupakan karya tulis yang sumbernya semata-mata imajinasi, fantasi, atau rekaan
dari si penulis. Tujuan orang menulis fiksi biasanya untuk menghibur atau bisa jadi untuk
mengungkapkan isi hati penulis. Karya sastra merefleksikan situasi masyarakat tertentu.
Contoh dari karya tulis jenis ini adalah karya sastra: novel, cerpen, puisi, dan lain-lain.

KARYA TULIS ILMIAH


Menurut Brotowidjoyo karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan
yangmenyajikan fakta dan ditulis menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.
Karyailmiah dapat juga berarti tulisan yang didasari oleh hasil pengamatan,
peninjauan,penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan
sistematikapenulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat
dipertanggungjawabkankebenarannya/keilmiahannya (Susilo, M. Eko, 1995:11).

Dalam memproduksi informasinya, media memiliki perbedaan. Pamela J. Shoemaker dan


Stephen D. Reese, meringkas berbagai faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan
dalam ruang pemberitaan. Diantaranya ada lima faktor yang mempengaruhi kebijakan
redaksi:
1. Faktor Individual, berhubungan dengan latar belakang profesional dari pengelola media.
Faktor ini meliputi jenis kelamin, umur, dan agama. Menurut pendekatan individual, aspek
personalitas dari wartawan dapat mempengaruhi pemberitaan.
2. Faktor rutinitas media (media routine), berhubungan dengan mekanisme dan proses
penentuan berita. Faktor ini meliputi bagaimana pendelegasian tugas, melalui proses dan
tangan siapa saja sebuah tulisan sebelum sampai ke proses cetak, siapa penulisnya, siapa
editor, dan sebagainya. Rutinitas media berisi mekanisme bagaimana berita diproduksi,
sehingga mempengaruhi bagaimana wujud akhir sebuah berita.
3. Faktor organisasi, berhubungan dengan struktur organisasi yang secara hipotetik
mempengaruhi pemberitaan. Pengelola media dan wartawan bukan orang tunggal yang ada
dalam organisasi berita, sebaliknya ia hanyalah sebagian kecil dari organisasi media itu
sendiri. Masing-masing komponen dalam organisasi media bisa mempunyai kepentingan
sendiri-sendiri dan tidak selalu sejalan. Mereka mempunyai tujuan dan target sendiri-
sendiri sekaligus strategi yang berbeda untuk mewujudkan target tersebut.
4. Faktor ekstramedia, berhubungan dengan faktor lingkungan di luar media. Ada beberapa
faktor yang termasuk dalam lingkungan di luar media, yaitu:
a) Sumber berita, yang dipandang bukanlah sebagai pihak netral yang memberikan
informasi apa adanya. Sumber berita juga mempunyai kepentingan untuk mempengaruhi
media dengan alasan: memenangkan opini publik, memberi citra tertentu pada khalayak,
dan seterusnya. Kepentingan sumber berita ini sering tidak disadari oleh media, sehingga
secara tidak sadar media telah menjadi corong dari sumber berita untuk menyampaikan
apa yang dirasakan oleh sumber berita tersebut.
b) Sumber penghasilan, bisa berupa iklan, pelanggan atau pembeli media. Untuk bertahan
hidup kadangkala media harus berkompromi dengan sumber daya yang menghidupi
mereka. Pihak pengiklan mempunyai strategi untuk memaksakan versinya pada media.
Demikian pula pelanggan juga ikut mewarnai pemberitaan media. Maka tidak heran jika
tema tertentu yang menarik dan terbukti mendongkrak penjualan, akan terus-menerus
diliput oleh media.
c) Pihak eksternal seperti pemerintah dan lingkungan bisnis. Dalam negara otoriter,
pengaruh pemerintah menjadi faktor yang dominan dalam menentukan berita yang
disajikan. Sedangkan dalam negara yang demokratis dan menganut liberalisme, tidak ada
campur tangan dari negara. Namun justru pengaruh yang besar terletak pada lingkungan
pasar dan bisnis.
5. Faktor ideologi, yaitu kerangka berpikir atau kerangka referensi tertentu yang dipakai
oleh individu untuk melihat realitas dan bagaimana mereka menghadapinya. Faktor
ideologi ini bersifat abstrak. Ia berhubungan dengan konsepsi atau posisi seseorang dalam
menafsirkan realitas.
Dari unsur-unsur hierarchy of influence tersebut di atas, menunjukkan bahwa ada
banyak faktor yang mempengaruhi media dalam penyampaian berita, sehingga realitas
yang dikemukakan oleh media tidak selalu objektif. Wartawan akan memilih apa-apa yang
akan dimasukkan dalam berita dan apa-apa yang tidak. Apapun pilihan wartawan, hasilnya
akan membentuk cara khalayak memandang realitas. Pembingkaian berita merupakan
pemilihan aspek dari realitas untuk ditekankan dalam pesan media, dan karenanya akan
mempengaruhi atau membentuk cara khalayak dalam membentuk realitas.
Media Massa dalam Cengkeraman Kapitalisme
Dalam mengonstruksi realitas, ada dua peran yang dimainkan oleh media. Pertama, media
adalah sumber dari kekuasaan hegemonik, di mana kesadaran khalayak dikuasai. Kedua,
media juga dapat menjadi sumber legitimasi, di mana melalui media orang-orang yang
berkuasa dapat memupuk kekuasaannya agar tampak absah dan benar. Proses ini
melibatkan usaha pemaknaan yang terus-menerus yang diantaranya dilakukan melalui
pemberitaan, sehingga khalayak tanpa sadar terbentuk kesadarannya tanpa paksa. Ideologi
dan kepentingan pemilik modal turut menentukan praktik jurnalistik di ruang redaksi.
Maka, hubungan politik ekonomi media juga akan mempengaruhi berita yang disajikan.
Dalam pendekatan politik ekonomi, akan diketahui kekuatan kelas kapitalis yang
menguasai pencitraan media massa. Kelompok pemilik media menyuguhkan pilihan
informasi kepada masyarakat dengan tujuan agar publik semakin mudah menangkap pesan
media dan ikut dalam arus wacana yang disampaikan media massa. Media massa mampu
merepresentasikan diri sebagai ruang publik yang utama dan turut menentukan dinamika
sosial, politik, dan budaya, di tingkat lokal maupun global. Media juga menjadi medium
pengiklanan utama yang secara signifikan mampu meningkatkan penjualan produk barang
dan jasa. Media massa mampu menghasilkan surplus ekonomi dengan menjalankan peran
penghubung antara dunia produksi dan konsumsi.
Beragam kemampuan inilah yang mendorong para pemilik modal (kapitalis) untuk
menguasai media massa karena menjanjikan ladang baru bagi sumber kehidupan ekonomi
mereka. Bahkan, media massa juga mampu menyebarkan dan memperkuat struktur politik
ekonomi tertentu. Peter Golding dan Graham Murdoc sebagaimana dikutip Agus Sudibyo
menyebut, media tidak hanya mempunyai fungsi sosial dan ekonomi, tetapi juga
menjalankan fungsi ideologis.
Munculnya industri media yang dibangun atas dasar kepentingan ekonomi para kapitalis,
tidak lepas dari sudut pandang ideologi para pemiliknya. Hal ini akan menyebabkan corak
dan karakter media sebenarnya adalah implementasi dari kepribadian sang penguasa media
itu. Maka, kekuatan ideologi pemilik media massa, disadari atau tidak, akan
mempengaruhi garis pencitraan berita di media massa tersebut.
Sebagai contoh misalnya, Harry Tanoesoedibyo melalui korporasi bisnisnya MNC
memiliki RCTI, MNCTV, Global TV, Radio Trijaya, Koran Seputar Indonesia (Sindo),
Jaringan TV Satelit Indovision, dan berita internet okezone.com. Abu Rizal Bakrie melalui
PT Bakrie Brothers (Grup Bakrie) membawahi ANTV yang kini berbagi saham dengan
STAR TV, TVOne yang sebelumnya bernama Lativi, dan viva.co.id. Chairul Tanjung
melalui PT Trans Corporation (Grup Para) membawahi Trans TV, Trans7, dan
situs detik.com. Jacoeb Oetama melalui Gramedia Grup memiliki Harian
Kompas, kompas.com dan Kompas TV. Surya Paloh melalui Media Grup membawahi
Metro TV dan Harian Media Indonesia. Serta Dahlan Iskan yang menguasai Grup Jawa
Pos.
Berbagai bisnis media tersebut mampu mempengaruhi persepsi publik tentang berbagai
kejadian di tanah air. Hampir-hampir apa yang dikatakan oleh media massa tersebut adalah
sebuah kebenaran. Dalam perspektif kapitalis, kekuatan borjuis telah berhasil menguasai
media massa yang mampu mendesain informasi sebagai komoditas yang menguntungkan.
Akibatnya, media massa berkembang menjadi industri yang berorientasi pada kepentingan
pasar dan keuntungan pemilik modal.
Efendi Gazali, Direktur Salemba School Institute for Media and Campaign Literacy,
mengungkapkan setidaknya ada lima kebohongan yang bisa dilakukan oleh media.
1. Membesar-besarkan atau mengecil-kecilkan data. Peristiwa memang ada, hanya saja
disajikan lebih besar, lebih dramastis, atau lebih kecil, atau dianggap tidak terlalu penting
untuk diberitakan secara detail. Misalnya, media kerap tertangkap basah mendramalisir
berita penggerebekan terorisme ataupun aksi dari kelompok yang dilabeli dengan sebutan
Islam radikal, seperti yang pernah terjadi di TVOne.
2. Memberitakan yang tidak pernah ada. Misalnya, isu tentang senjata pemusnah massal
milik Saddam Husein yang sejatinya hanyalah karangan Bush dengan bantuan kaki tangan
media yang mendukungnya.
3. Tidak memberitakan kejadian yang memang terjadi dan sebenarnya jika disajikan akan
bermanfaat bagi publik. Wartawan lebih memilih bad news untuk disajikan kepada publik.
Misal, selama ini media hanya memberitakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok
FPI, tanpa mengimbangi dengan penjelasan tentang fakta yang sebenarnya terjadi bahwa
FPI sudah mengirimkan surat resmi kepada kepolisian.
4. Membohongi agenda publik dengan sengaja. Media membombardir kita dengan
berbagai berita yang kemudian memaksa kita untuk mengakui agenda media itu sebagai
hal-hal penting yang harus mendapatkan perhatian. Misalnya, isu kenaikan BBM dibarengi
dengan berita terorisme yang masif, sehingga publik menjadi lebih tersibukkan pada isu
terorisme dibandingkan isu kenaikan BBM.
5. Membohongi publik dengan menekankan berkali-kali bahwa mereka (media) tidak
sedang membohongi Anda. Media akan mewawancarai atau meminta para kolumnis atau
pengamat berbicara di halaman serta layar mereka guna melengkapi keyakinan publik
bahwa media tidak sedang berbohong. Bahkan, pada cara paling canggih dibuatlah sebuah
panggung penuh seru, penuh dengan adu pendapat, tetapi pada ujungnya opini yang
mengokohkan sikap suatu media terlihat jelas lebih rasional dan perlu didukung.
Kekuatan Media Massa dalam Membentuk Opini Umum
Apa yang dikatakan pers hampir selalu dipercaya oleh publik. Begitu hebatnya pers,
sehingga seandainya siang dikatakan pers malam pun, masyarakat (terutama yang lugu)
akan mempercayainya. (KH. Mustofa Bisri)
Stuart Hall berpendapat bahwa media massa merupakan sarana paling penting dari
kapitalisme abad ke-20 untuk memelihara hegemoni ideologis. Media massa juga
menyediakan kerangka berpikir bagi berkembangnya budaya massa melalui usaha
kelompok dominan yang terus-menerus berusaha mempertahankan, melembagakan,
melestarikan kepenguasaan demi menggerogoti, melemahkan, dan meniadakan potensi
tandingan dari pihak-pihak yang dikuasai.
Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Indonesia, Harsono Suwardi, menjelaskan
empat faktor yang membuat media massa memiliki pengaruh yang begitu kuat dalam
kehidupan politik.
1. Media massa memiliki daya jangkau yang luas dalam menyebarkan informasi politik,
bahkan mampu melewati batas wilayah, kelompok umur, jenis kelamin, dan status sosial-
ekonomi. Dengan demikian, status politik yang dimediasikan akan menjadi perhatian
bersama di berbagai tempat dan kalangan.
2. Media massa memiliki kemampuan untuk melipatgandakan pesan yang begitu
mengagumkan. Dilipatgandakan atau tidaknya pesan memiliki korelasi yang begitu erat
dengan respons masyarakat terhadap isu tersebut. Apabila responnya positif,
kecenderungan media massa akan melipatgandakan isu tersebut. Dampak pelipatgandaan
ini tentu sangat besar di tengah masyarakat.
3. Setiap media dapat mewacanakan sebuah peristiwa politik sesuai pandangannya masing-
masing. Media massa memiliki kebijakan redaksional terkait isi peristiwa politik yang
ingin disampaikan. Kebijakan ini membuat media banyak diincar oleh pihak-pihak yang
ingin memanfaatkannya, begitu juga sebaliknya.
4. Media massa memiliki fungsi agenda setting. Media massa memiliki hak untuk
menyiarkan suatu peristiwa atau tidak menyiarkannya. Sehingga media massa mampu
menggiring opini publik dalam suatu diskusi. Output dari diskusi inilah yang akan
menentukan agenda-agenda dalam politik pemerintahan.
5. Pemberitaan peristiwa oleh suatu media kecenderungannya akan berkaitan dengan
media lainnya, sehingga terbentuk suatu rantai informasi yang menambah kekuatan media
massa dalam menyebarkan informasi politik dan mampu memperbesar dampak yang
diberikan kepada publik.
Peran opini publik terhadap pola pikir, pola sikap, dan perilaku masyarakat tidak ada yang
meragukan. Seharusnya, kaum Muslim menjadi kelompok yang menyadari hal ini dan
secara aktif melakukan penggalangan opini yang sehat dan tidak menyesatkan.
Untuk menyikapi opini umum yang dilancarkan media sekuler, maka umat Islam perlu
melakukan dua hal, (1) melakukan konter balik terhadap berbagai isu dengan memberikan
penjelasan secara serius dan sungguh-sungguh, (2) upaya yang dilakukan hendaknya tidak
terbatas pada upaya konter balik, atau hanya sekedar respon terhadap isu yang muncul,
namun perlu upaya untuk membentuk opini tandingan atau opini alternatif agar massa
yang merupakan pemilik sebenarnya dari media itu mempunyai alternatif penjelasan
terhadap situasi yang terjadi.
Media Massa dalam Naungan Negara Khilafah
Media massa (wasil al-ilm) bagi negara khilafah dan kepentingan dakwah Islam
mempunyai fungsi strategis, yaitu melayani ideologi Islam (khidmat al-mabda al-islmi)
baik di dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri, media massa berfungsi untuk
membangun masyarakat Islami yang kokoh. Di luar negeri, ia berfungsi untuk
menyebarkan Islam, baik dalam suasana perang maupun damai, untuk menunjukkan
keagungan ideologi Islam sekaligus membongkar kebobrokan ideologi kufur buatan
manusia.
Febrianti Abassuni, dalam seminar tentang sistem pers di Indonesia yang berlangsung di
University Center UGM, menyatakan bahwa dalam sistem pers negara khilafah, lembaga
penerangan negara berfungsi sebagai lembaga nonprofit, wadah sosialisasi kebijakan
negara, edukator warga negara, dakwah Islam ke luar negeri hingga propaganda politik ke
luar negeri. Sedangkan lembaga pers swasta berfungsi sebagai penyebar informasi,
pendidikan, hiburan, kontrol Islam atau dalam istilah Islam amar maruf nahi munkar dan
bisa juga berfungsi sebagai lembaga profit atau ekonomi.
Dalam kitab Masyr Dustr Dawlah al-Khilfah (Rancangan Undang-Undang Dasar
Negara Khilafah) dijelaskan bahwa keberadaan suatu media massa tidaklah memerlukan
izin (tarkhs) dari negara, tetapi cukup menyampaikan pemberitahuan kepada Departemen
Penerangan. Pasal ini juga menerangkan pihak yang harus bertanggung jawab terhadap
segala isi media, yaitu pemimpin redaksi.
Khilafah menjamin adanya hak untuk menyampaikan suatu informasi kepada publik secara
terbuka melalui media massa. Namun, hak ini diatur dengan sejumlah kewajiban dan
syarat tertentu. Orang yang mau menerbitkan majalah atau mendirikan stasiun TV dan
radio, misalnya, memang tidak disyaratkan meminta izin (tarkhs) kepada negara, karena
izin sudah diperoleh secara langsung dari syariah. Dia hanya diwajibkan menyampaikan
pemberitahuan (ilm) kepada institusi negara yang terkait. Pemberitahuan ini hanya
berupa sejumlah penjelasan yaitu tentang: (1) jenis media massa, alamatnya, dan bahasa
yang akan digunakan; (2) nama pemilik media, kewarganegaraan, dan alamatnya; (3) nama
pemimpin redaksi, kewarganegaraan dan alamatnya. Pemilik media dan pemimpin redaksi
ini haruslah warga negara khilafah. Sebab, kewarganegaraan (tbiiyah) itulah yang
melahirkan hak dan kewajiban sebagai warga negara, termasuk hak menerbitkan media
massa.
Jika kemudian hak ini disalahgunakan untuk menyebarkan ide bathil seperti nasionalisme
dan demokrasi, maka yang bertanggung jawab terhadap seluruh isi media adalah
pemimpin redaksi dan wartawan atau penulis artikelnya secara langsung. Jadi, wartawan
kedudukannya sama dengan warga negara lain. Jika memang bersalah maka ia harus
diadili dan dihukum. Tidak diistimewakan atau mempunyai privilege tertentu yang
membuatnya berbeda dengan warga negara biasa. Ini sangat berbeda dengan wartawan
Barat, yang sering tidak mau bertanggung jawab dengan dalih kebebasan pers atau
merasa kebal hukum karena media massa sudah dianggap sebagai pilar keempat dalam
sistem demokrasi.
Namun, ketika pemimpin redaksi atau wartawan suatu media massa diadili dan dipenjara,
tidak berarti medianya otomatis dibekukan atau dihentikan. Sebab, media hanya dapat
dibekukan atau dihentikan dalam satu keadaan, yaitu jika pemilik media bukan lagi warga
negara khilafah. Pihak yang berhak memberi peringatan, membekukan, atau menghentikan
operasional suatu media pun bukanlah pihak penguasa (al-hukkm), melainkan peradilan
saja.
Dalam negara khilafah, berita terkait pertahanan keamanan negara hanya diambil dari
lembaga penerangan resmi negara dan hanya memberitakan sesuatu yang
dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya serta tidak menyebarkan ide yang
bertentangan dengan aqidah Islam.
Kantor berita asing (seperti Reuter, AFP) atau perwakilan media asing (seperti perwakilan
BBC) harus mendapat izin dari Departemen Dalam Negeri. Departemen ini juga yang
berhak membekukan atau mencabut izin suatu kantor berita atau perwakilan media asing.
Produk cetak dari luar negeri yang masuk lewat jalur perdagangan seperti majalah atau
koran, harus mendapat izin Qadhi Hisbah.
Semua tindak pidana media massa termasuk kategori tazr, yakni hukuman yang tidak
ditentukan kadarnya oleh syariah, kecuali pidana qadzaf (menuduh berzina) yang termasuk
dalam kategori hudd. Beberapa tindak pidana itu adalah melakukan provokasi (tahrdh),
penghinaan (sabb), memfitnah (iftir) dan menuduh berzina (qadzaf), menyebarkan
gambar porno atau gambar aktivitas seksual, dan menyebarkan berita bohong. Contoh
pasalnya adalah sebagai berikut:
Siapa saja yang di media memprovokasi publik agar tidak taat kepada khalifah, dipenjara
maksimal satu tahun (pasal 24); Siapa saja yang di media menghina tuhan-tuhan atau
akidah kaum kafir dzimmi, dipenjara maksimal enam bulan (pasal 27); Siapa saja yang
memfitnah di media, misalnya menuduh si Fulan koruptor atau menerima suap, dipenjara
maksimal dua tahun, kecuali ada bukti-buktinya (pasal 28); Orang yang menyebarkan
gambar porno di media, yaitu gambar (khususnya wanita) yang menampakkan lebih dari
wajah dan dua telapak tangannya, dipenjara maksimal dua tahun (pasal 30).
Sedangkan untuk komunitas nonmuslim, mereka tetap diberikan hak untuk mendirikan
lembaga pers bagi kepentingan pengajaran agama khusus komunitas. Selain itu juga tidak
diperbolehkan untuk menyebarkan ghibah atau berita mengenai individu yang tidak
diinginkannya untuk diberitakan kecuali terkait kedzaliman penguasa, serta tidak pula
diperkenankan untuk menyebarkan fitnah.
Sedikit pemaparan ini setidaknya menunjukkan kepada kita bahwa sistem pers negara
kapitalis tidak tepat diterapkan di Indonesia karena menyebabkan masyarakat sipil yang
lemah harus berhadapan dengan korporasi global yang memiliki kekuatan lebih besar dari
negara. Sistem tersebut juga mengakibatkan kepentingan negara dan jati diri bangsa yang
berketuhanan serta berkedaulatan menjadi terancam akibat opini nasional dan internasional
yang dibentuk oleh kekuatan asing. Pers adalah salah satu pilar yang dapat digunakan
untuk mengkokohkan posisi suatu korporasi sehingga perlu adanya upaya penerapan
sistem pers negara khilafah.
Wallahualam bish showab.
*) Disampaikan dalam forum Halqah Syahriyah, 23 Februari 2014