You are on page 1of 27

ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn.

R DENGAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
Di WISMA BASUKARNA
RUMAH SAKIT JIWA Prof Dr. SOEROJO MAGELANG

Disusun Oleh :
1. Adib Puja Wicaksana ( A01401852 )
2. Alif Sutiyo ( A01401853 )
3. Andrearretha Anggita Putri ( A01401855 )
4. Ari Wijayanti ( A01401859 )
5. Arini Usrotus Saadah ( A01401860 )
6. Asih Ringgit Aminah ( A01401861 )
7. Asri Susanti ( A01401862 )
8. Ayu Juniarti ( A01401863 )

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN ( STIKES ) MUHAMMADIYAH
GOMBOONG
2016
BAB I
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri
maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana
seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik
yang tidak terkontrol (Yosep, 2009)
Suatu keadaan ketika individu mengalami perilaku yang secara fisik
dapat membahayakan bagi diri sendiri atau pun orang lain (Sheila L. Videbeck,
2008).
Helena dan Nurhaeni ( 2012 ) menyatakan bahwa perilaku kekerasan
adalah salah satu respon marah yang diekspresikan dengan melakukan
ancaman, mencederai orang lain, dan atau merusak lingkungan.
Jadi, perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan individu yang
melakukan tindakan yang dapat membahayakan/mencederai diri sendiri, orang
lain bahkan dapat merusak lingkungan.

B. FAKTOR PRESIPITASI DAN PREDISPOSISI


1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi perilaku kekerasan, diantaranya adalah sebagai
berikut :
a. Teori Biologik
Berdasarkan teori biologik, ada beberapa hal yang dapat
mempengaruhi seseorang melakukan perilaku kekerasan, yaitu sebagai
berikut :
1) Pengaruh Neurofisiologik, beragam komponen neurologis mempunyai
implikasi dalam memfasilitasi dan menghambat impuls agresif. Sistem
limbik sengat terlibat dalam menstimulasi timbulnya perilaku
bermusuhan dan respon agresif.
2) Pengaruh Biokimia, menurut Goldsten dalam Townsend menyatakan
bahwa berbagai neurotransmiter (epinefrin, norepinefrin, dopamin,
asetilkolin dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi dan
menghambat impuls agresif. Peningkatan hormon androgen dan
norepinefrin serta penurunan serotinin dan GABA (6 dan 7) pada
cairan serebrospinal merupakan faktor predisposisi penting yang dapat
menyebabkan timbulnya perilaku agresif pada seseorang
3) Pengaruh Genetik, menurut penelitian perilaku agresif sangat erat
kaitannya dengan genetik termasuk genetik tipe kariotipe XYY, yang
umumnya dimiliki oleh penghuni penjara pelaku tindak kriminal
(narapidana).
4) Gangguan Otak, sindrom otak organik berhubungan dengan bernagai
gangguan serebral, tumor otak (khususnya pada limbik dan lobus
temporal), trauma otak, penyakit ensefalitis, epilepsi (epilepsi lobus
temporal) terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak
kekerasan.
b. Teori Psikologik
1) Teori Psikoanalitik, teori ini menjelaskan bahwa tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya
ego dan membuat konsep diri yang rendah. Agresi dan kekerasan
dapat memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan
citra diri serta memberikan arti dalam kehidupannya. Teori lainnya
berasumsi bahwa perilaku agresif dan tindak kekerasan merupakan
pengeungkapan secara terbuka terhadap rasa ketidakberdayaannya dan
rendahnya harga diri pelaku tindak kekerasan.
2) Teori Pembelajaran, perilaku kekerasan merupakan perilaku yang
dipelajari, individu yang memiliki pengaruh biologik terhadap
perilaku kekerasan lebih cenderung untuk dipengaruhi oleh contoh
peran eksternal dibandingkan anak-anak tanpa faktor predisposisi
biologik.
c. Teori Sosiokultural
Kontrol masyarakat yang rendah dan kecenderungan menerima perilaku
kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah dalam masyarakat
merupakan faktor predisposisi terjadinya perilaku kekerasan.
2. Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dapat dibedakan menjadi faktor eksternal dan
internal.
a. Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan,
menurunnya percaya diri, rasa takut sakit, hilang kontrol dan lain-lain.
b. Eksternal adalah penganiayaan fisik, kehilangan orang yng dicintai, krisis
dan lain-lain.Hal-hal yang dapat menimbulkan perilaku kekerasan atau
penganiayaan antara lain sebagai berikut :
1) Kesulitan kondisi sosial ekonomi.
2) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu.
3) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan
ketidakmampuannya dalam menempatkan diri sebagai orang yang
dewasa.
4) Pelaku mungkin mempunyai riwayat antisosial seperti
penyalahgunaan obat dan alkohol serta tidak mampu mengontrol
emosi pada saat menhadapi rasa frustasi.
5) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan
perubahan tahap perkembangan keluarga.

C. MANIFESTASI KLINIK
1. Data Subjektif
a. Mengungkapkan perasaan kesal atau marah.
b. Keinginan untuk melukai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.
c. Klien suka membentak dan menyerang orang lain.
2. Data Objektif
a. Mata melotot/pandangan tajam.
b. Tangan mengepal dan Rahang mengatup.
c. Wajah memerah.
d. Postur tubuh kaku.
e. Mengancam dan mengumpat dengan kata kata kotor.
f. Suara keras.
g. Bicara kasar, ketus.
h. Menyerang orang lain dan melukai diri sendiri/orang lain.
i. Merusak lingkungan.
j. Amuk/Agresif
Menurut Keliat ( 2006 ) Tanda dan Gejala Perilaku kekerasan, antara
lain :
1. Klien mengatakan benci/kesal dengan seseorang.
2. Suka membentak.
3. Menyerang orang yang sedang mengusiknya jika sedang kesal atau kesal.
4. Mata merah dan wajah agak merah.
5. Nada suara tinggi dan keras.
6. Bicara menguasai.
7. Pandangan tajam.
8. Suka merampas barang milik orang lain.

D. PSIKOPATOLOGI
Gangguan jiwa pada perilaku kekerasan dapat dipengaruhi oleh beberapa
faktor seperti faktor predisposisi dan faktor presipitasi (Yosep, 2010).
1. Faktor Predisposisi
Ada beberapa teori yang berkaitan dengan timbulnya perilaku kekerasan.
a. Faktor Psikologi
Psychoanalytical Theory; Teori ini mendukung bahwa perilaku agresif
merupakan naluri. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia
dipengaruhi oleh dua insting. Pertama insting hidup yang diekpresikan
dengan seksualitas, Dan kedua insting kematian yang diekpresikan
dengan agresivitas.
Frustation-aggresion theory; Teori yang dikembangkan pengikut Freud
ini ini berawal dari asumsi, bahwa bila usaha seseorang untuk mencapai
suatu tujuan mengalami hambatan maka akan timbul dorongan agresif
yang pada gilirannya akan memotivasi perilaku yang dirancang untuk
melukai orang atau obyek yang menyebabkan frustasi.
b. Faktor Sosial Budaya
Social-Learning Theory; Teori yang dikembangkan oleh Bandura (1977)
ini memgemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan respon-respon
yang lain. Agresi dapat dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi,
dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin besar
kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon terhadap
keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang
dipelajari. Kultural dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan.
Adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekpresi agresif mana
yang dapat diterima atau tidak dapat diterima, sehingga dapat membantu
individu untuk mengekpresikan marah dengan cara yang asertif.
c. Faktor Biologis
Neorobilogical Faktor bahwa dalam susunan persyarafan ada juga yang
berubah pada saat orang agresif. Sistem limbik berperan penting dalam
meningkatkan dan menurunkan agresifitas. Neurotransmitter yang sering
dikaitkan dengan perilaku agresif yaitu; serotonin, dopamim,
norepinephrin, acetikolin, dan asam amino GABA (gamma aminobutiric
acid). GABA dapat menurunkan agresifitas, norepinephrin dapat
meningkatkan agresifitas, serotonin dapat menurunkan agresifitas dan
orang yang epilepsi.
2. Faktor Presipitasi
Secara umum, sesorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya
terancam. Ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis, atau lebih
dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. Ketika
seseorang marasa terancam, mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa
yang menjadi sumber kemarahanya. Ancaman dapat berupa internal ataupun
eksternal. Contoh stressor internal adalah tidak berprestasi kerja, kehilangan
orang yang dicintai, respon terhadap penyakit kronis. Contoh stressor
ekternal adalah serangan fisik, putus hubungan, dikritik orang lain. Marah
juga bisa disebabkan perasaan jengkel yang menumpuk di hati atau
kehilangan kontrol terhadap situasi. Marah juga bisa timbul pada orang yang
dirawat inap.

E. PENATALAKSANAAN
1. PENATALAKSANAAN MEDIS
Penatalaksanaan gangguan jiwa dengan dengan perilaku kekerasan
(Yosep, 2010) adalah sebagai berikut:
a. Psikofarmakologi
Obat-obatan yang diberikan adalah antiaanxiety dan sedative-hipnotics.
Obat ini dapat mengendalikan agitasi yang akut. Benzodiazepines seperti
lorazepam dan clonazepam, sering digunakan dalam kedaruratan psikiatri
untuk menenangkan perlawanan pasien.
b. Terapi Kejang Listrik atau Elektro Compulsive Therapy (ECT)
ECT merupakan suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik
dan menimbulkan kejang pada pasien baik tonik maupun klonik.
2. PENATALAKSAAN KEPERAWATAN
Seorang perawat harus berjaga-jaga terhadap adanya peningkatan
agitasi pasien, hirarki perilaku agresif dan kekerasan. Disamping itu,
perawat harus mengkaji pula afek pasien yang berhubungan dengan
perilaku agresif. Kelengkapan pengkajian dapat membantu perawat dalam
membina hubungan terapeutik dengan pasien, mengkaji perilaku yang
berpontensi kekerasan, mengembangkan suatu perencanaan,
mengimplementasikan perencanaan, dan mencegah perilaku kekerasan.
(Yosep, 2010).
Perawat dapat mengimplementasikan berbagai intervensi untuk
mencegah dan mengelola perilaku agresif. Intervensi dapat melalui rentang
intervensi keperawatan.

a. Kesadaran Diri
Perawat harus menyadari bahwa stress yang dihadapi dapat
mempengaruhi komunikasinya dengan pasien. Bila perawat tersebut
merasa letih, cemas, marah, atau apatis maka akan sulit baginya membuat
pasien tertarik. Untuk mencegah semua itu, maka perawat harus terus
menerus meningkatkan kesadaran dirinya dan melakukan supervise
dengan memisahkan antara masalah pribadi dan masalah pasien.
b. Pendidikan Pasien
Pendidikan yang diberikan mengenai cara berkomunikai dan cara
mengekpresikan marah yang tepat. Banyak pasien yang mengalami
kesulitan mengekpresikan perasaan, kebutuhan, hasrat, dan bahkan
kesulitan mengkomunikasikan semua ini pada orang lain. Jadi dengan
perawat berkomunikasi yang terapeutik diharapkan agar pasien mau
mengekpresikan perasaannya, lalu perawat menilai apakah respon yang
diberikan pasien adaptif atau maladaptif.
c. Latihan Asertif
Kemampuan dasar interpersonal yang harus dimiliki perawat
yaitu mampu berkomunikasi secara langsung dengan setiap orang,
mengatakan tidak untuk sesuatu yang tidak beralasan, sanggup
melakukan komplain, dan mengekpresikan penghargaan dengan tepat.
d. Komunikasi
Strategi berkomunikasi dengan pasien agresif adalah bersikap tenang,
bicara lembut, bicara tidak dengan menghakimi, bicara netral dengan
cara yang kongkrit, tunjukkan sikap respek, hindari kontak mata
langsung, fasilitasi pembicaraan, dengarkan pembicaraan, jangan terburu-
buru menginterpretasikan, dan jangan membuat janji yang tidak dapat
ditepati.
e. Perubahan Lingkungan
Unit perawatan sebaiknya menyediakan berbagai aktivitas seperti:
membaca, kelompok program yang dapat mengurangi perilaku pasien
yang tidak sesuai dan meningkatkan adaptasi sosialnya seperti terapi
aktivitas kelompok. Terapi aktivitas kelompok (TAK) merupakan salah
satu terapi modalitas yang dilakukan perawat kepada sekelompok pasien
yang mempunyai masalah yang sama. Aktivitas digunakan sebagai terapi
sedangkan kelompok digunakan sebagai target sasaran (Keliat dan
Akemat, 2005). TAK yang sesuai dengan perilaku kekerasan adalah
terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi: perilaku kekerasan.
f. Tindakan Perilaku
Tindakan perilaku pada dasarnya membuat kontrak dengan pasien
mengenai perilaku yang dapat diterima dan yang tidak dapat diterima,
konsekuensi yang didapat bila kontrak dilanggar.

F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Diagnosa keperawatan utama
Perilaku Kekerasan
2. Diagnosa keperawatan yang lain :
a. Perubahan persepsi sensori : Halusinasi.
b. Harga diri rendah kronik.
c. Risiko menceedarai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

BAB II
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN JIWA PADA Tn. R DENGAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
Di WISMA BASUKARNA
RUMAH SAKIT JIWA Prof Dr. SOEROJO MAGELANG

1. PENGKAJIAN
a. Identitas Klien
Nama : Tn R
Umur : 28 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Brebes
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Pedagang
Agama : Islam
Status : Belum menikah
Tanggal masuk : 26 Oktober 2016 Jam : 08.30 WIB
Tanggal pengkajian : 02 November 2016 Jam : 11.00 WIB
No RM : 99919
b. Identitas Penanggung Jawab
Nama : Tn N
Umur : 50 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Brebes
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Tukang Becak
Hub. dengan klien : Ayah Tiri
Informan : Klien dan Rekam Medik
c. Alasan masuk
Klien mengatakan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Soerojo Magelang
karena marah-marah dan mengamuk.

d. Faktor Presipitasi dan Predisposisi


1) Faktor Presipitasi
Klien mengatakan marah dan mengamuk karena klien mendengar dari
hatinya dan melihat bayangan hitam putih. Klien juga mengatakan
sewaktu dirumah merasa melihat dan mendengar televisi yang mengajak
dirinya berbicara, kemudian klien membanting korek api yang sedang
dipegang. Klien mengatakan pernah mendorong anak kecil ( keponakan )
sampai terjatuh karena klien merasa bingung dirinya berada dimana,
entah itu dirumah atau dikuburan. Klien kambuh karena jangka waktu
beberapa hari putus obat, karena klien merasa ingin tidak ketergantungan
dengan obat.
2) Faktor Predisposisi
Klien mengatakan sebelum masuk Rumah Sakit pernah mengalami
gangguan jiwa dan pernah dirawat di Rumah Sakit sebanyak 3 kali ini.
Yang pertama pada tanggal 05 Februari 2014, klien dibawa ke RSJ
magelang karena halusinasi, klien ditempatkan di Wisma Sadewa 10 hari
kemudian dipindah ke wisma madukarsa selama 10 hari. Klien
mengatakan dirumah melihat dan mendengar ayam yang dapat berbicara
seperti manusia sehingga klien tertawa-tawa sendiri. Yang kedua pada
tanggal 10 Februari 2015 klien dibawa ke RSJ magelang karena
halusinasi dan RPK, klien ditempatkan di wisma basukarna 2 minggu
kemudian dipindah karena klien sakit, klien mengatakan lupa sakit apa
dan dipindah di wisma apa, klien hanya ingat dirawat diwisma tersebut
selama 2 minggu. Klien mengatakan saat dirumah melihat dan
mendengar kotak suara yang bersuara lain dan lucu sehingga klien
tertawa-tawa sendiri dan pada saat klien melihat pamannya klien merasa
dirinya emosi kemudian mengejar pamannya sampai pamannya terjatuh,
klien menendang pamannya. Dan yang ketiga kalinya pada tanggal 26
Oktober 2016 pukul 08.30 WIB klien dibawa dibawa ke RSJ magelang
karena RPK, klien ditempatkan diwisma basukarna sudah 8 hari, klien
mengatakan saat dirumah klien marah dan mengamuk pada temannya,
membanting barang ( korek api ) dan pernah mendorong anak kecil
sampai terjatuh. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil, klien
mengatakan berhenti obat karena dirinya merasa tidak ingin
ketergantungan obat, klien kambuh lagi. Klien mengatakan tidak pernah
melakukan/mengalami/melihat penganiayaan fisik, seksual, kekerasan
dalam keluarga dan tindakan kriminal. Klien mengatakan dalam anggota
keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa. Klien tidak
mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan.
e. Pengkajian Fisik
1) Keadaan Umum : Baik, Kesadaran composmentis
2) Vital Sign
a) TD : 120/90 mmHg,
b) Nadi : 89 x/menit,
c) Suhu : 36.8 C,
d) RR : 19 x/menit
3) Pemeriksaan Fisik
a) TB : 165 cm
b) BB : 45 kg
4) Riwayat Penyakit Fisik
Klien mengatakan kurang lebih 1,5 tahun yang lalu pernah masuk ke RS
Bakti Asih karena gejala stroke ringan, klien dirawat di RS tersebut
selama 5 hari, klien bercerita awalnya dirumah klien minum obat namun
klien lupa pada saat itu obat apa yang dia minum, klien mengatakan pada
saat itu tubuhnya terasa kaku.
f. Psikososial
1) Genogram

Keterangan :
: Laki - laki : Menikah
: Perempuan : Anak/Keturunan
: Cerai/Putus Hubungan ------- : Tinggal Serumah
: Meninggal : Klien

Penjelasan :
Klien mengatakan berkomunikasi baik dengan keluarga. Klien tinggal
serumah dengan Ibu, Bapak tiri dan adik tiri. Klien mengatakan sangat
menyayangi mereka, menghormati orang tuanya, meskipun bapak tiri
namun bapaknya baik dibandingkan bapak kandungnya. Klien merasa
disayang dan dianggap sebagai anak kandungnya oleh bapaknya. Dalam
keluarga klien, yang mengambil keputusan yaitu bapak, karena bapak
sebagai kepala rumah tangga. Pola asuh yang diberikan orang tua juga
baik, mereka menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, namun
anak-anaknya tidak sekolah sampai selesai. Klien hanya sampai SD
sedangkan adiknya sampai SMP. Orang tua sudah meminta adik klien
bersekolah sampai selesai (SMA) namun adik klien yang menolak,
karena ingin bekerja saja.

2) Konsep Diri
a) Gambaran diri
Klien mengatakan tubuhnya baik dan senang dengan dirinya. Klien
tidak merasa malu dengan tubuh yang dimiliki. Klien mengatakan
menyukai rambutnya.
b) Identitas diri
Klien adalah seorang anak didalam keluarganya yang tinggal bersama
Ibu dan Bapak tirinya, serta adik tirinya. Klien seorang laki-laki yang
dulunya bekerja sebagai penjual nasi goreng didaerah komplek. Klien
merasa puas sebagai laki-laki yang sudah bekerja dan bisa membantu
kebutuhan orang tua dirumah. Klien tidak merasa iri jika melihat
teman menikah.
c) Peran
Klien seorang anak pertama yang tinggal bersama orang tuanya,
belum menikah. Saat dirumah klien sangat berhubungan baik dengan
tetangga, klien mengikuti kegiatan-kegiatan yang ada dimasyarakat
seperti gotong royong didesa (membersihkan selokan, memperbaiki
jalan)
d) Idela diri
Klien mengatakan ingin segera pulang dan ingin bekerja lagi sebagai
penjual nasi goreng. Klien juga menginginkan halusinasi yang dulu
pernah muncul, tidak terjadi lagi.
e) Harga diri
Klien adalah seorang anak didalam keluarganya yang tinggal bersama
Ibu dan Bapak tirinya, serta adik tirinya. Klien seorang laki-laki, yang
dulunya bekerja sebagai penjual nasi goreng didaerah komplek. Klien
merasa puas sebagai laki-laki yang sudah bekerja dan bisa membantu
kebutuhan orang tua dirumah. Klien tidak merasa iri jika melihat
temannya menikah. Klien tidak merasa malu dengan tubuh yang
dimiliki. Klien dirumah berhubungan baik dengan tetangga, dan
mengikuti kegiatan yang ada dimasyarakat. Klien ingin segera pulang
dan ingin bekerja sebagai penjual nasi goreng.
3) Hubungan Sosial
a) Orang yang berarti
Klien mengatakan orang yang berarti dalam hidupnya adalah Ibu,
karena Ibu sangat menyayanginya, memberikan perhatian yang penuh
untuk klien, dan selama ini sudah merawat dengan baik sampai dia
dewasa dan sekarang sudah bisa bekerja. Klien jika ada masalah
dipendam sendiri. Klien mengatakan sering meminta bantuan pada
neneknya jika sedang membutuhkan bantuan, misalnya seperti minta
makan jika ibu sedang tidak dirumah.
b) Peran serta dalam kegiatan masyarakat
Klien mengatakan sewaktu dirumah sering mengikuti kegiatan yang
diadakan dimasyarakat seperti memasang paving dimasjid,
membangun jalan didesa, kegiatan bersih desa.
c) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Klien mengatakan tidak ada hambatan.
4) Spiritual
a) Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan mengalami gangguan jiwa karena ada yang tidak
suka dirinya berjualan nasi goreng dan banyak pembelinya sehingga
orang tersebut membuatnya gila dengan jalan dukun.
b) Kegiatan Ibadah
Klien mengatakan beragama islam dan tau bahwa Allah swt adalah
Tuhannya. Klien mengatakan tidak shalat 5 waktu baik dirumah
maupun saat di RSJ. Klien mengatakan saat dirumah sering
menghadiri acara dimasjid (shalawatan, pengajian) klien juga sering
memberi uang pada keponakan dan pengemis dijalanan, selalu
mengikuti shalat jumat saat dirumah.
g. Status Mental
1) Penampilan
Rambut bersih, gigi bersih, tubuh bersih, dan tidak berbau, cara
berpakaian sudah tepat dan sesuai.
2) Pembicaraan
Klien tampak cepat dalam berbicara. Klien berbicara dengan inotasi
sedang dan jelas.
3) Aktivitas motorik
Klien tampak lesu, tegang.
4) Alam perasaan
Klien mengatakan sedih ingin pulang.
5) Afek
Klien tampak stabil.
6) Interaksi selama wawancara
Kontak mata berkurang, kooperatif dalam menjawab pertanyaan.
7) Persepsi
Klien mengatakan sewaktu dirumah sering mendengar dari hatinya,
hatinya mengatakan gak suka ngobrol sendiri, klien mendengar suara
hati 3-4 kali sehari pada saat klien sedang sendirian dan melamun, respon
yang dilakukan klien adalah menirukan suara tersebut. Klien juga
mengatakan sewaktu dirumah melihat bayangan hitam dan putih, klien
mendengar dan melihat bayangan tersebut 2-3 kali sehari pada saat klien
melakukan aktivitas, respon yang dilakukan klien adalah melihat
bayangan tersebut. Klien mengatakan sewaktu dirumah merasa melihat
dan mendengar televisi yang mengajak dirinya berbicara, klien melihat
hal tersebut 1-2 kali sehari pada saat klien menonton TV. Klien
mempunyai riwayat bicara dan tertawa sendiri pada saat dirumah.
8) Proses pikir
Blocking ( pembicaraan terhenti tiba-tiba tanpa gangguan eksternal
kemudian dilanjutkan kembali)
9) Isi Pikir
Tidak ada gangguan isi pikir.

10) Tingkat kesadaran


Klien menyadari sekali bahwa hari ini adalah tanggal 2 November 2016,
dirinya berada di wisma Basukarna RSJ Magelang, dan sedang berbicara
dengan Nn. A. Klien mempunyai teman dekat di Rumah Sakit Jiwa
bernama Tn. S.
11) Memori
Klien tidak mengalami gangguan daya ingat.
12) Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien tampak mudah dialihkan dan tidak mampu berkonsentrasi.
13) Kemampuan penilaian
Gangguan kemampuan penilaian ringan ( klien mampu memilih shalat
dhuhur sebelum makan, klien mencuci piring setelah makan bersama
teman dekatnya selama di RSJ ).
14) Daya Tilik Diri
Klien mengatakan menyadari pemyakit yang diderita, dan tidak
mengingkari terhadap penyakitya.
h. Kebutuhan Persiapan Pulang
1) Makan
Klien makan 3 kali sehari, makan secukupnya dengan nasi lauk dan sayur
seadanya. Klien tidak ada pantangan dan alergi makanan. Klien makan
dengan menggunakan sendok, terkadang menggunakan tangan. Klien
makan dengan mandiri.
2) BAB/BAK
Klien BAB 1-2 kali sehari, BAK 5-7 kali sehari. BAB dan BAK ditoilet
secara mandiri, sewaktu dirumah klien kadang membersihkan WC.
3) Mandi
Klien mandi 2x sehari, menyikat gigi 2x sehari, mencuci rambut 1
minggu sekali, memotong kuku 1 minggu sekali, memotong rambut 2-3
bulan sekali. Klien mandi secara mandiri.

4) Berpakaian
Klien mengatakan ganti pakaian 1 kali sehari, klien mengambil dan
mengenakan pakaian secara mandiri. Klien tampak berpakaian rapi dan
sesuai.
5) Istirahat dan tidur
Klien mengatakan tidur malam hari pukul 18.30 dan bangun pukul 04.30
WIB dan tidur siang hari sekitar 1 jam. Sebelum tidur klien tidak pernah
menyikat gigi, cuci kaki dan berdoa. Sesudah bangun tidur klien mandi,
menykita gigi, kemudian merapikan tempat tidur.
6) Pengguanaan Obat
Klien mengatakan selama dirumah sakit selalu minum obat yang
diberikan oleh perawat.
7) Pemeliharaan kesehatan
Klien mengatakan saat dirumah, pasien rawat jalan di RS Umum Brebes
dan diberi obat warna pink dan merah hati. Klien mengatakan
keluarganya sangat menyayangi dan merawat dirinya.
8) Kegiatan dalam rumah
Klien mengatakan saat dirumah yang memegang keuangan adalah
ibunya. Klien mengatakan yang mengolah dan menyajikan makanan
adalah ibunya. Klien kadang membantu ibunya merapikan rumah
( kamar, menyapu lantai dan mengepel, mencuci piring )
9) Kegiatan diluar rumah
Klien mengatakan jika pergi - pergi menggunakan motor sendiri. Klien
mengatakan jika ada gotong royong klien ikut berpartsipasi, klien juga
sering shalat dimushola, dan mengikuti pengajian.
i. Mekanisme Koping
Klien mengatakan jika ada masalah, klien memendamnya sendiri, klien
banyak tidur, klien mempunyai riwayat perokok berat, mabok - mabokan
dan marah-marah kepada orang lain.
j. Masalah psikososial dan lingkungan
1) Masalah dengan dukungan kelompok
Klien hanya mengikuti kegiatan yang ada di wisma, dan berkumpul
bersama teman - teman di wisma.
2) Masalah berhubungan dengan lingkungan
Klien bergabung terus dengan teman temannya. Klien sangat dekat
dengan teman yang bernama Tn. s.
3) Masalah dengan pendidikan
Klien mengatakan sekolah sampai SD dan klien sudah bekerja.
4) Masalah dengan pekerjaan
Klien mengatakan bekerja sebagai penjual nasi goreng dikompleks
bersama teman dan pamannya.
5) Masalah dengan perumahan
Klien mengatakan tinggal bersama orang tua yaitu ibu dan bapak tirinya,
serta adik tirinya. Klien tidak mempunyai masalah dengan keluarganya.
6) Masalah ekonomi
Klien mengatakan tidak ada masalah dengan ekonomi karena klien sudah
dapat mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari uang hasil bekerja
sebagai nasi goreng.
7) Masalah dengan pelayanan kesehatan
Klien di rawat di RSJ Magelang dan memiliki asuransi BPJS kesehatan.
k. Pengetahuan kurang
Klien mengatakan tidak mengetahui tentang perilaku kekerasan, tidak tahu
cara mengontrolnya, untuk obta-obatan kloien hanya mengenal warna-
warnanya saja, sedangkan nama dosis dan kegunaan klien belum
mengetahui. saat di tanya mengenai hal itu kliejn terlihat bingung dan
tersenyum.
l. Aspek Medik
1) Diagnosa Medis : Skizofrenia Paranoid ( F20.2 )
2) Terapi yang di berikan
a) Haloperidol 2 x 5 mg ( 12 Jam )
b) Chlorpromazine 1 x 100 mg ( 24 Jam )
c) Trihexyphenidyl 2 x 2 mg ( 12 Jam )
2. ANALISA DATA
Tanggal/Jam Data Fokus Diagnosis Paraf
02-11-2016 DS : Risiko
11.00 WIB - Klien mengatakan sewaktu
Perilaku
dirumah sering marah marah dan
Kekerasan.
mengamuk.
- Klien mengatakan pernah
mendorong anak kecil ( keponakan )
sampai terjatuh.
DO :
- Klien mempunyai riwayat
marah marah dan mengamuk.
- Klien tampak lesu dan
tegang.
DS : Gangguan
- Klien mengatakan sewaktu
persepsi
dirumah sering mendengar dari
sensori :
hatinya, hatinya mengatakan gak
Halusinasi
suka ngobrol sendiri .
penglihatan
- Klien mengatakan sewaktu
dan
dirumah melihat bayangan hitam dan
pendengaran.
putih.
- Klien mengatakan sewaktu
dirumah merasa melihat dan
mendengar televisi yang mengajak
dirinya berbicara.
DO :
- Klien memiliki riwayat
tersenyum sendiri.
- Klien tampak khawatir.
DS : Koping
- Klien mengatakan jika ada
individu
masalah memendamnya sendiri.
inefektif.
DO :
- Klien banyak menunduk dan
tidur.
- Klien pernah mabok
mabokan.
DS : Kurang
Klien mengatakan tidak mengetahui
pengetahuan
tentang perilaku kekerasan, tidak
tentang
tahu cara mengontrolnya, untuk obat
penyakitnya.
obatan klien hanya mengenal
warna warnanya saja, sedangkan
nama, dosis, dan kegunaan klien
belum mengetahui.
DO :
Klien terlihat bingung dan
tersenyum saat ditanya pengetahuan
tentang RPK.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Daftar Diagnosa Keperawatan
1) Gangguan persepsi sensori : Halusinasi penglihatan dan pendengaran.
2) Kurang pengetahuan tentang penyakitnya.
3) Koping individu inefektif
4) Risiko perilaku kekerasan
b. Pohon Masalah

Resiko Perilaku Kekerasan.

Koping Individu Inefektif

c. Prioritas Diagnosa Keperawatan


1) Risiko Perilaku Kekerasan
2) Gangguan persepsi sensori : Halusinasi penglihatan dan pendengaran.

4. NCP

5. CATATAN KEPERAWATAN
Tanggal/Jam Diagnosa/TUK Implementasi Evaluasi Paraf
/SP
02-11-2016 Risiko Perilaku
Kekerasan
TUK 1 : Klien Membina S:-
O:
dapat membina hubungan
- Pasien dapat
hubungan saling saling percaya menyebutkan nama
percaya dengan cara yaitu Tn. R dan senang
berkenalan. dipanggil Tn. R.
A:
Risiko Perilaku
kekerasan.
P:
- Tetap
mempertahankan
hubungan saling
percaya.
- Mengenal
penyebab RPK.
TUK 2 : Mengenal S:
Klien dapat Klien mengatakan
penyebab
mengenal marah dan mengamuk
RPK.
penyebab RPK. karena klien
mendengar suara dari
hatinya dan melihat
bayangan hitam dan
putih.
O:
- Klien tampak
gelisah.
- Klien tampak
lesu.
A : Resiko perilaku
Kekerasan.
P:
- Mengenal
tanda tanda RPK.
TUK 3 : Mengenal S:
Klien dapat Klien mengatakan saat
tanda tanda
mengenal tanda dirumah sering marah
RPK.
tanda RPK marah dan
mengamuk.
O:
- Klien tampak
tegang.
- Kontak mata
mudah beralih.
A : RPK
P:
Mengenal akibat RPK.
TUK 4 : Mengenal S:
Klien dapat Klien mengatakan
akibat
mengenal akibat akibat jika mengamuk
perilaku
perilaku yaitu membahyakan
kekerasan.
kekerasan. diri sendiri, orang lain,
dan lingkungan.
O:
Klien tampak
menunduk, menyesal
karena sudah
membahayakan orang
lain.
A : RPK
P:
Melatih dan
mendemostrasikan
cara mengontrol RPK
dengan latihan fisik 1 :
nafas dalam dan
latihan fisik 2 : pukul
kasur/bantal.
07-11-2016 TUK 5 : Melatih S:
11.00 WIB Klien dapat Klien mengatakan
mendemonstra
mendemonstrasi mampu melakukan
sikan cara
kan cara cara mengontrol RPK
mengontrol
mengontrol dengan latihan nafas
RPK dengan
RPK dengan dalam dan pukul
latihan fisik
latihan fisik 1 : 1 : nafas bantal.
O:
nafas dalam dan dalam dan
- Klien tampak
latihan fisik 2 : latihan fisik
memperhatikan saat
pukul 2 : pukul
dicontohkan.
bantal/kasur. bantal/kasur. - Klien dapat
mempraktikan
latihan nafas dalam
dan pukul bantal.
A : RPK
P:
Mengontrol dengan
cara minum obat
teratur.
08-11-2016 Evaluasi cara
mengontrol
RPK dengan
latihan fisik
1 : Tarik nafas
BAB III
PEMBAHASAN

A. PENGKAJIAN
Menurut data teoritis secara umum dari faktor predisposisi diterangkan
bahwa resiko perilku kekerasan dapat terjadi dari berbagai factor
yaituPenyebab terjadinya marah menurut Stuart & Sundeen (1995) : yaitu
harga diri rendah merupakan keadaan perasaan yang negatif terhadap diri
sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan, gangguan
ini dapat situasional maupun kronik. Bila kondisi ini berlangsung terus tanpa
kontrol, maka akan dapat menimbulkan perilaku kekerasan.
Frustasi, seseorang yang mengalami hambatan dalam mencapai
tujuan/keinginan yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia
merasa terancam dan cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu
dengan cara lain tanpa mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya
misalnya dengan kekerasan. Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu
mempunyai kebutuhan yang sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak
terpenuhi akibatnya individu tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak
berani bertindak, lekas tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.Akibatnya
klien dengan perilaku kekerasan dapat menyebabkan resiko tinggi mencederai
diri, orang lain dan lingkungan. Resiko mencederai merupakan suatu tindakan
yang kemungkinan dapat melukai/ membahayakan diri, orang lain dan
lingkungan (Yosep, 2007).
Kajian kasus yang dilakukan pada Tn. R dengan RPK terdapat
kesamaan dengan teori yang mana perilaku kekerasan yang muncul pada
pasien kelolaan kelompok ditemui RPK yang tidak murni yaitu disebakan
oleh halusinasinya. Halusinasi tersebut berisi suara kotak yang bersuara lain
dan lucu, sehingga klien sehingga klien tertawa sendiri dan pada saat melihat
pamannya klien merasa dirinya emosi kemudian klien mengejar pamannya
sampai pamannya terjatuh, klien menendang pamannya. Sejalan dengan teori
bahwa perilaku kekerasan juga bisa muncul disebabkan oleh halusinasi
berkepanjangan, dimana seseorang dengan halusinasi mencederai orang lain
dan mencederai diri sendiri. Secara umum, seseorang akan berespon dengan
marah apabila merasa dirinya terancam. Ancaman tersebut dapat berupa
injury secara psikis, atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap
konsep diri seseorang. Ketika seseorang merasa terancam, mungkin dia tidak
menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. (Yosep,
2007).
Klien Tn. R juga didapati mencederai diri, dengan membanting korek
api kepada temannya dan mendorong anak kecil sampai terjatuh. Sejalan
dengan teori bahwa akibat dari resiko perilaku kekerasan yaitu adanya
kemungkinan mencederai diri, orang lain dan merusak lingkungan adalah
keadaan dimana seseorang individu mengalami perilaku yang dapat
membahayakan secara fisik baik pada diri sendiri, orang lain maupun
lingkungannya. (Stuart & Sundeen, 1995).

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan teoritis dengan diagnose yang muncul di tinjauan kasus
terdapat perbedaan dan keserasian, adapun masing- masing diagnose yang
muncul sebagai berikut:
1. Diagnosa teoritis
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran
c. Isolasi sosial : menarikdiri
d. Gangguankonsepdiri : haraga diri rendah
e. Defisit perawatan diri
2. Diagnosa tinjauan kasus
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran

C. TINDAKAN KEPERAWATAN
Tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan rencana keperawatan
yang ditetapkan dari 2 diagnosa yang diangkat hanya dilakukan 1 diagnosa
keperawatan yang diintervensi. Implementasi merupakan perwujudan dari
perencanaan yang merupakan serangkaian tindakan, disini perawat
menjelaskan rencana tindakan untuk diagnosa keperawatan, resiko perilaku
kekerasan. Dari setiap diagnosa keperawatan implementasi yang dilakukan
sebagai berikut, mengidentifikasi penyebab PK, tanda dan gejala PK, perilaku
kekerasan yang dilakukan, akibat PK, membantu pasien mempraktekan latiahn
cara mengontrol fisik dengan tarik nafas dalam dan pukul bantal/kasur,
mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien, melatih pasien mengontrol
perilaku kekerasan dengan cara social/ verbal (mengungkapkan marah dengan
baik, meminta dengan baik dan menolak dengan baik), melatih pasien
mengontrol perilaku kekerasan dengan cara spiritual, menjelaskan cara
mengontrol perilaku kekerasan dengan minum obat Adapun diagnosa yang
kelompok laksanakan adalah Resiko perilaku.
Perencanaan tindakan dilaksanakan pada tanggal 02 November 2016, saat
melakukan tindakan keperawatan pada diagnosa Resiko perilaku kekerasan
pada tanggal 02 November 2016 pukul 11.30 WIB, telah dilakukan SP 1 sesuai
teori keperawatan yaitu melatih mengontrol marah dengan cara tarik nafas
dalam, dengan hasil klien mampu melakukan tarik nafas dalam. Pada tanggal
07 08 November 2016, telah dilakukan SP 2 sesuai teori keperawatan yaitu
melatih mengontrol marah dengan cara pukul bantal dan kasur, dengan hasil
klien mampu mempraktekkan pukul bantal dan pukul kasur. Pada tanggal 09 -
10 November 2016, telah dilakukan SP 3 sesuai teori keperawatan yaitu
melatih menerima, menolak dan meminta dengan baik, serta menganjurkan
klien untuk mengontrol marah dengan cara verbal.

BAB IV
IMPLIKASI KEPERAWATAN

A. KESIMPULAN
1. Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri
maupun orang lain. Sering disebut juga gaduh gelisah atau amuk dimana
seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik
yang tidak terkontrol (Yosep, 2009) Suatu keadaan ketika individu
mengalami perilaku yang secara fisik dapat membahayakan bagi diri sendiri
atau pun orang lain (Sheila L. Videbeck, 2008).
2. Masalah Keperawatan yang muncul pada kasus ini
a. Risiko Perilaku Kekerasan
b. Gangguan persepsi sensori : Halusinasi penglihatan dan pendengaran.

B. SARAN
1. Bagi Perawat
Diharapkan bagi perawat agar meningkatkan keterampilan dalam
memberikan praktik asuhan keperawatannya, serta pengetahuannya pada
klien dengan risiko perilaku kekerasan, sehingga dapat memberikan asuhan
keperawatan yang maksimal dan dapat menjadi edukator bagi klien maupun
keluarga.
2. Bagi Mahasiswa
Diharapkan bagi mahasiswa dengan adanya makalah ini dapat membantu
dalam pembuatan asuhan keperawatan.
3. Bagi Dunia Keperawatan
Diharapkan asuhan keperawatan ini dapat terus ditingkatkan kekurangannya
sehingga dapat menambah pengetahuan yang lebih baik bagi dunia
keperawatan serta dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi
dalam keperawatan.