You are on page 1of 2

Di malam yang sesuci ini akan lebih baik jika menghabiskan waktu dengan menyaksikan

gelagak tawa lawakan di televise. Atau mungkin juga akan lebih baik jika malam ini turun hujan.
Apapun itu. Tetap tidak akan ada pengaruhnya terhadapku.

Di ruangan gelap ini, tidak akan ada harapan untuk menyaksikan apapun. Bukan hal
pertama bagiku. Tahun lalu juga sama. Bahkan untuk mendengar suarapun sangat mustahil. Bibi
Harley tidak akan membiarkanku menikmati apapun yang ia nikmati. Aku hanya sedikit heran,
kenapa ia melakukannya setiap perayaan ini? Bukankah ini hari raya? Seharusnya ia bersikap
lebih baik padaku. Yah walaupun sebenarnya dia hanya akan bersikap baik jika ibu dan ayahku
pulang. Semacam drama. Ketika tiba saatnya mereka pulang, ia akan mendandaniku secantik
mungkin agar aku terlihat sehat dan baik-baik saja. Apa yang bisa kulakukan? Untuk
mengadukan apa yang ia lakukan, aku terlalu malas! Percuma saja jika hal itu kulakukan. Aku
hanya akan diomeli dan dibentak-bentak. Ibu dan ayah sudah terlalu dalam percaya padanya.
Sampai-sampai dia tidak menghiraukanku lagi. Maklum saja, mereka hanya ingin melihatku
baik-baik saja tanpa mendengarkanku. Yah, hanya melihat.

Ini! Hanya ini yang tersisa. Beruntung sekali kau hari ini. Jhaa aku harus pergi
terlebih dahulu. Malam ini kau akan tetap disini sampai besok pagi. Hahaha. Selamat malam Si
Kumuh. Dia menyodorkan sepiring roti. Lebih tepatnya sisa. Sesuai jadwalnya, malam ini ia
akan menemui teman-temannya dan merayakan kemenangannya lagi. Dan aku akan merenung
bersemedi di dalam ruangan gelap ini.

***

Affan author

Malam ini begitu dingin. Selalu dingin. Tahun lalu juga sama. Huh, aku tidak tahu apa
yang harus kulakukan. Di rumah pasti sangat ramai. Aku membenci keramaian itu. Terlalu
berisik. Mereka pasti melakukan hal yang bodoh. Drama, petasan, foto, makan! Itu hal yang
membosankan. Setiap tahun akan seperti itu.

Fan, kemarilah. Kita akan berfoto. Lagi-lagi ia memaksaku dengan senyumannya.


Aku akan keluar. Kalian lakukan saja yang kalian mau.

Aku khawatir mereka akan mencegahku, jadi aku langsung berlari keluar. Sebenarnya
apa yang mereka pikirkan? Apa mereka tidak merasa bosan? Hari raya ini?! Menyebalkan! Aku
berjalan menyusuri lorong-lorong jalan. Di ujung jalan tampak sebuah masjid