You are on page 1of 5

Annette Horschmann Peduli Danau Toba

Oleh : H. Asrul Hoesein | 29-Sep-2014, 02:51:26 WIB

KabarIndonesia Medan, Green Indonesia Foundation Tour (GIFTour) dalam

kunjungannya ke Kota Medan, Sumatera Utara, selama lima hari, sempat mengunjungi

Pulau Samosir, Danau Toba yang berjarak sekitar 175 Km dari Kota Medan. Selain

berwisata, juga melakukan pengamatan sampah dan tumbuhan liar eceng gondok yang

banyak terdapat di pesisir Danau Toba.

Perjalanan ke Pulau Samosir dapat ditempuh jalan darat melewati Kabupaten Deli

Serdang, Kota Tebing Tinggi, dan Pematang Siantar serta penyeberangan di Prapat

dengan kapal motor ferry menuju Pulau Samosir sekitar 45 menit.

Dari sekian banyak hotel di Pulau Samosir, Tabo Cottage mungkin yang paling unik. Hotel

ini dimiliki pasangan Batak-Jerman. Tak heran, hotel ini punya gaya berbeda di mata

wisatawan domestik, dan khususnya mancanegara.

Adalah seorang wanita Jerman bernama Annette yang tercetus mendirikan hotel ini

setelah ia jatuh cinta dengan pria asli Batak, Antonius Silalahi. Setelah menikah, Annette

menjadi boru Siallagan.

Menurut Annette Horschmann , ibu dari 3 orang Putera/puteri yang juga pemilik Cottage

ini, desainnya lahir secara spontan. Penulis bertemu Annette di Tabo Cottage beberapa

waktu lalu, saat berkunjung ke Pulau Samosir yang berada di tengah-tengah Danau

Toba, Sabtu (13/9/14).

Tabo Cottage berada di kawasan Tuk Tuk, Pulau Samosir, salah satu area wisata yang

kerap didatangi wisatawan untuk menikmati Danau Toba. Cottage ini letaknya agak

menjorok ke dalam, dari pinggir jalan Desa Tuk Tuk. Namun, papan namanya bisa kita

lihat dengan jelas saat melintasi jalanan di Pulau Samosir ini.

"Kemana pun aku pergi, kalau ketemu orang-orang dari Asia, mereka selalu bicara
tentang Danau Toba. Aku membuat keputusan harus ke sana, setelah gagal menjadi

Jaksa di Jerman," kata dia memulai kisahnya. Annette sebelum ke Indonesia, bercita-cita

menjadi seorang Jaksa, tapi nasib berkata lain, nilainya tidak masuk nominasi sebagai

calon Jaksa di Jerman.

Annette fasih berbahasa Indonesia, bahkan lulusan Fakultas Hukum sebuah univesitas

di Jerman itu ternyata juga piawai bicara Batak, sebagai bahasa ibu di Pulau Samosir.

Dia berkata sebelum jatuh cinta pada Sang Suami, hatinya telah tertambat pada

keindahan alam Indonesia, khususnya keindahan Danau Toba.

"Begitu sampai di sini, pemandangan pertama dari Balige, sepanjang jalan berkilo-kilo

meter, bisa kulihat Danau Toba. Aku langsung kagum, wow!" cerita Annette yang sejak

sebelum menikah memang hobi travelling. Sampai hari ini, sejak pertama menginjakkan

kakinya di Indonesia 22 tahun silam, masih betah tinggal di Desa Tuk Tuk, Pulau

Samosir.
Peduli Lingkungan dan Pariwisata Danau Toba.

Annette, selain hobi traveling juga punya obsesi ingin melihat Danau Toba bersih dan

indah dipandang serta terbebas dari sampah dan eceng gondok yang tumbuh liar di

pesisir danau. Sejak berada di Pulau Samosir, Annette terjun langsung membersihkan

Danau Toba serta memotivasi masyarakat disana untuk peduli lingkungan. Semua ini

dilakukan Annette tanpa pamrih sampai hari ini, selain mengelola Cottage Tabo miliknya.

Kehebatan lain Annette adalah diterapkannya tarif hotel dan makanan yang sangat

murah. Sengaja murah dan terjangkau, agar masyarakat umumnya dapat menikmati

cottage yang bernuansa internasional ini dengan mudah, tambah Annette.

Memang sesuai fakta, saat penulis sehari semalam berada di Tabo Cottage, para tamunya

kebanyakan turis asing atau mancanegara, hampir pasti bahwa hanya penulis sekeluarga

yang pribumi pada malam itu. Sebenarnya pribumi tidak usah segan masuk di Tabo

Cottage, karena tidaklah mahal, semua terjangkau, mungkin Tabo Cottage lebih murah

dibanding cottage atau home stay yang ada di Pulau Samosir.

Dalam bincang-bincang penulis dengan Annette, disepakati untuk melakukan

pembuatan rencana Program Aksi Lingkungan Pulau Samosir. Tujuannya untuk

memotivasi dan membuat demo plot pengelolaan eceng gondok menjadi manfaat bagi

pengembangan pertanian dan peternakan.

Danau Toba dikelilingi tujuh kabupaten di Sumatera Utara (Kabupaten Samosir,

Kabupaten Karo, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten

Simalungun, Kabupaten Humbang Hasundutan, dan Kabupaten Dairi) dengan luas

sekitar 1.300 km2. Sesungguhnya bila sampah dan eceng gondok yang ada di Danau

Toba ini dapat dikelola, dan semua wilayah mampu bersinergi, maka pengelolaannya

akan sustainable (berkelanjutan) dan bernilai ekonomi.

Salah satu program aksi yang direncanakan adalah mengelola eceng gondok menjadi
pupuk organik, selain akan diproduksi menjadi energi baru terbarukan berupa biogas,

yang hasil produksinya berupa pupuk dan biogas akan disumbangkan pada masyarakat

di Pulau Samosir dan sekitarnya.

Rencana pengelolaan sampah dan eceng gondok ini, seiring sejalan dengan visi misi

presiden terpilih Jokowi-JK, yaitu pencanangan Indonesia Go Organik dengan

pembangunan pilot project 1.000 Desa Organik.

Penulis telah mengajukan Konsep Integrated Farming Zero Waste (Pertanian Terpadu

Bebas Sampah dengan penerapan Pengelolaan Sampah dan Limbah Pertanian secara

terpadu dengan sistem pengelolaan berbasis komunal orientasi ekonomi) ke Rumah

Transisi Jokowi-JK.

Pemerintah Indonesia, khususnya pemerintah daerah di tujuh wilayah kabupaten yang

ada di Sekitar Danau Toba, perlu mengapresiasi aktivitas dan kepedulian Annette

tersebut.

Anette sebagai warga negara Jerman, selain peduli terhadap sampah dan lingkungan,
juga banyak aktif mempromosikan keindahan pariwisata Danau Toba sampai ke Eropa

sebagai negara asalnya dan juga negara-negara lain.

Penulis dan Annette dalam waktu dekat bermaksud menemui Pak Jokowi dan Pak Jusuf

Kalla untuk membicarakan sistem pengelolaan yang sustainable terhadap sampah dan

eceng gondok Danau Toba dengan orientasi ekonomi berbasis komunal, sehingga sampah

dan khususnya eceng gondok dapat diberdayakan akan punya nilai ekonomi yang tinggi

sebagai produk industri kreatif.

Hal tersebut sejalan dengan program pemerintah Jokowi dan Jusuf Kalla ke depan (2014-

2019) dalam membangun 1000 Desa Organik sebagai pilot project di seluruh Indonesia,

khususnya desa organik yang ada di Pulau Samosir atau di kabupaten yang mengitari

Danau Toba.(*