You are on page 1of 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

FISIKA INDUSTRI

Disusun oleh :

Nama : Dhimas Priyo W.


NIM : 16/ 18684/ THP
Kelompok : I (Satu)
Kelas : STIPP-B
Acara I : Ayunan Matematis
Co. Ass : Ade Putra Manurung

JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2017
I. JUDUL ACARA : Ayunan Matematis
II. HARI,TANGGAL : 20 Maret 2017
III. TUJUAN :
1. Dapat memahami azas ayunan matematis dan getaran Selaras.
2. Dapat mengetahui cara kerja gaya gravitasi bumi
3. Dapat menentukan nilai percepatan gravitasi bumi di laboratorium
IV. DASAR TEORI
Bandul matematis adalah salah satu matematis yang
bergerak mengikuti gerak harmonik sederhana. bandul
matematis merupakan benda ideal yang terdiri dari sebuah
titik massa yang digantungkan pada tali ringan yang tidak
bermassa. jika bandul disimpangkan dengan sudut dari
posisi setimbangnya lalu dilepaskan maka bandul akan
berayun pada bidang vertikal karena pengaruh dari gaya
grafitasinya. " berdasarkan penurunan hukum-hukum newton
disebutkan bahwa periode ayunan bandul sederhana dapat di
hitung sebagai berikut, T = 2 (l/g) Dimana T : Periode
ayunan (detik). l : Panjang tali (m) (Arief Hidayatullah, 2015).
Prinsip Ayunan yaitu jika sebuah benda yang digantungkan pada
seutas tali, diberikan simpangan, lalu dilepaskan, maka benda itu akan berayun
kekanan dan ke kiri. Berarti ketika benda berada disebelah kiri akan
dipercepat kekanan, dan ketika benda sudah ada disebelah kanan akan
diperlambat dan berhenti, lalu dipercepat kekiri dan seterusnya. Dari gerakan
ini dilihat bahwa benda mengalami percepatan selama gerakan nya. Menurut
hukum Newton (F = m.a) percepan hanya timbul ketika ada gaya. Arah
percepatan dan arah gaya selalu sama
Gaya gravitasi yang dihasilkan bumi jauh lebih besar, dan itulah
sebabnya mengapa gerak benda-benda lebih dipengaruhi oleh gaya gravitasi
Bumi daripada oleh tubuh kita. Benda-benda yang kita lemparkan, selalu jatuh
kembali ke tanah. Sekuat-kuatnya kita melompat, selalu jatuh kembali ke
tanah. Bahkan, untuk dapat mengalahkan gaya gravitasi Bumi dan
meninggalkan planet ini, kita membutuhkan teknologi roket. Gravitasi bersifat
universal, artinya berlaku di manapun di alam semesta ini. Mengapa objek
jatuh ke tanah, mengapa ada gerak peluru, mengapa Bulan bergerak mengorbit
Bumi, dan mengapa planet-planet bergerak mengitari Matahari dalam lintasan
elips (Annisa Bilqis, 2014).
Percepatan gravitasi suatu obyek yang berada pada
permukaan laut dikatakan ekivalen dengan 1 g, yang
didefinisikan memiliki nilai 9,80665 m/s 2. Percepatan di
tempat lain seharusnya dikoreksi dari nilai ini sesuai dengan
ketinggian dan juga pengaruh benda-benda bermassa besar di
sekitarnya. Umumnya digunakan nilai 9,81 m/s 2 untuk
mudahnya. Nilai g dapat diukur dengan berbagai metoda.
Bentuk-bentuk paling sederhana misalnya dengan
menggunakan pegas atau bandul yang diketahui konstanta-
konstantanya. Dengan melakukan pengukuran dapat
ditentukan nilai percepatan gravitasi di suatu tempat, yang
umumnya berbeda dengan tempat lain (hermawatinovii,
2016).
V. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Alat ayunan matematis : 1 unit
2. Stopwatch : 1 buah
3. Mistar Gulung : 1 buah
4. Busur : 1 buah
B. Bahan
1. Beban Ayunan : 1 buah

VI. CARA KERJA


A. Teoritis
1. Menetapkan kedudukan pencepitan tali yang jaraknya sampai ke
pangkal bola adalah 100cm, 110cm, 120......dst.
2. Menyimpangkan ayunan hingga membentuk sudut pada kisaran antara
15o sampai dengan 10o, kemudian lepaskanlah
3. Mengukur waktu untuk 10 ayunan dengan menekan stopwatch pada
saat melalui titik seimbang.

B. Skematis
No. Gambar Keterangan
1 Ditetapkan kedudukan penjepit
tali yang jaraknya sampai
pangkal bola adalah 100 cm,
110 cm, sampai 190 cm.
Kemudian dimulai lagi dari 190
cm, 180 cm, sampai 100 cm.

2 Disimpangkan sehingga
membentuk sudut pada kisaran
100. Kemudian ayunan tersebut
dilepaskan perlahan lahan.

3 Diukur dan dihitung waktu


ayunan untuk 10 ayunan
dengan menekan stopwacth
pada saat melalui titik
setimbangnya.

VII. HASIL PENGAMATAN


No L1 10 T2 L2 10T2 T22 T2 T2 (+) T2 T2
(cm T1 (cm (-)
) )
1. 10 19,7 3,880 190 26,8 7,18 55,81 107,7 3,88 5,93
0 2 5 5 0 5
2. 11 20,4 4,161 180 26,1 6,81 57,25 110,3 4,26 53,0
0 2 9 57 1 98
3. 12 21,5 4,622 170 25,5 6,50 61,98 119,3 4,62 57,3
0 2 4 46 2 62
4. 13 22,3 4,972 160 24,7 6,10 64,35 123,3 4,97 59,3
0 0 2 72 2 8
5. 14 23,2 5,382 150 23,9 5,71 67,86 130,1 5,38 62,3
0 2 4 66 2 04
6. 15 23,9 5,712 140 23,0 5,29 69,83 133,0 5,71 63,6
0 0 9 66 2 77
7. 16 25,2 6,350 130 22,4 5,01 78,47 150,5 6,35 72,1
0 7 3 96 0 23
8. 17 25,2 6,350 120 21,8 4,75 76,14 145,9 6,35 69,7
0 2 3 36 0 93
9. 18 26,1 6,812 110 20,4 4,10 75,07 151,3 6,81 72,0
0 1 6 4 2 64
10 19 26,9 7,236 100 19,3 3,72 82,77 158,3 7,23 75,5
. 0 4 3 1 6 37
A. Tabel Pengamatan
B. Hasil Perhitungan
10T 1 2
a. T12 = 10( )
2
19,7
1. T12(100 cm) = ( )
10 = 3,880
2
20,4
2. T 1
2
(110 cm) = ( )
10 = 4,161
2
21,5
3. T 1
2
(120 cm) = ( )
10 = 4,622
2
22,3
4. T12 (130 cm) = ( )
10 = 4,972
2
23,2
5. T 1
2
(140 cm) = ( )
10 = 5,382
2
23,9
6. T 1
2
(150 cm) = ( )
10 = 5,712
2
25,2
7. T12 (160 cm) = ( )
10 = 6,350
2
25,2
8. T 1
2
(170 cm) = ( )
10 = 6,350
2
26,1
9. T 1
2
(180 cm) = ( )
10 = 6,812
2
26,9
10. T 1
2
(190 cm) = ( ) 10 = 7,236
2
10T 2
b. T22= ( )
10
2
26,8
1. T22 (190 cm) = ( )
10 = 7,182
2
26,8
2. T 2
2
(180 cm) = ( )
10 = 6,812
2
26,1
3. T ( 170 cm)=
2
2
( )
10 = 6,502
2
24,7
4. T22 (160 cm) = ( ) 10 = 6,100
2
24,88
5. T 2
2
(150 cm) = ( 10 ) = 5,712
2
23,9
6. T22 (140 cm)= ( )
10 = 5,250
2
22,4
7. T22 (130 cm)= ( ) 10 = 5,017
2
21,8
8. T 2
2
(120 cm)= ( ) 10 = 4,752
2
20,4
9. T22 (110 cm)= ( ) 10 = 4,161
2
19,3
10. T 2
2
(100 cm)= ( )
10 = 3,724

c. T2=T2-T12
1. T2 = 45,815 3,880 = 51,935
2. T2 = 57,255 4,622 = 53,098
3. T2 = 61,984 4,622 = 57,362
4. T2 = 64,352 4,972 = 59,380
5. T2 = 30,769 5,382 = 25,387
6. T2 = 30,261 5,712 = 24,549
7. T2 = 78,473 6,350 = 72,123
8. T2 = 76,143 6,350 = 69,793
9. T2 = 79,076 6,812 = 72,264
10. T2 = 82,773 7,236
= 75,537
T 12 +T 22
d. T2= ( 2 )
1. T 2
= ( 3,880+7,182
2 ) = 55,815

2. T2 = ( 4,161+6,812
2 ) = 31,300

3. T2 = ( 4,6226+6,502
2 ) = 61,984

4. T 2
= ( 4,972+6,100
2 ) = 64,352

5. T2 = ( 5,382+5,712
2 ) = 30,769

6. T2 = ( 5,712+5,290
2 ) = 30,261

7. T 2
= ( 6,350+5,017
2 ) = 78,473

8. T 2
= ( 6,350+4,752
2 ) = 76,143

9. T2 = ( 6,812+2 4,161 ) = 79,076

10. T2 = ( 7,236+3,724
2 ) =

82,773

e. T2 (+) = T2 +T12
1. T2(+) = 55,185 + 51,935 = 107,750
2. T2(+) = 57,259 + 53,098 = 110,357
3. T2(+) = 61,984 + 57,362 = 119,346
4. T2(+) = 64,352 + 59,38 = 123,732
5. T2(+) = 30,769 + 25,387 = 56,1560
6. T2(+) = 30,261 + 24,549 = 54,8100
7. T2(+) = 78,473 + 72,123 = 150,596
8. T2(+) = 76,143 + 69,793 = 145,936
9. T2(+) = 79,076 + 72,264 = 151,430
10. T2(+) = 82,773 + 75,537 =
158,31
f. T () = T2T22
2

1. T2() = 55,185 51,935 = 3,880


2. T2() = 57,259 53,098 = 4,161
3. T2() = 61.984 57,362 = 4,622
2
4. T () = 64,352 59,38 = 4,972
5. T2() = 30,769 25,387 = 5,382
2
6. T () = 30,261 24,549 = 5,712
7. T2() = 70,473 72,123 = 6,350
8. T2() = 76,143 69,793 = 6,350
9. T2() = 79,076 72,264 = 6,812
2
10. T () = 82,773 75,537 = 7,236
g. Perhitungan Ralat (T1)
No Xn X Xn X Xn X
2

Xn -
1. 19,7 -1,72 1,72 2,958
2. 20,4 -1,22 1,22 1,48
3. 21,5 -0,42 0,42 0,17
4. 22,3 1,11 1,11 1,23
5. 23,2 2,65 2,65 7,02
107,1 0 5,48 7,952
x
1. Harga rata-rata ( )
Xn 107,1
x = = = 21,42
n 5

2. Deviasi rata-rata (a)


5,48
Xn x
n1 4
a= = = 1,320

3. Deviasi standar (s)


Xnx 2 7,952

S= n1 = 4 =1,988

4. Deviasi rata-rata relatif (A)

a 1,37
A=
X x 100% = 21,42 x 100% = 4,33%

5. Deviasi standar relatif (S)


1,3
s 4,23
X 25,4
14,09
S= x 100% = x 100% = 5,11%

x
6. Hasil pengukuran ( + a)
x
+ a = 25,4 + 1,1 = 26,5

x
a = 25,4 1,1 = 24,3

7. Ketelitian
100% A% = 100% 4,33% = 95,67%
h. Perhitungan Ralat (T2)
No Xn X Xn X Xn X
2

Xn -
1. 26,8 1,4 1,4 1,96
2. 26,1 0,7 0,7 0,49
3. 25,5 0,7 0,7 0,01
4. 24,7 -0,7 0,7 0,49
5. 23,9 1,5 1,5 2,25
127 0 4,4 5,2
x
1. Harga rata-rata ( )
x Xn 127
= n = 5 = 25,4

2. Deviasi rata-rata (a)


| xn x | 4,4
n 4
a = = = 1,1

3. Deviasi standar (s)

a 5,2
A=
X x 100%= 4 = x100% = 1,3

4. Deviasi rata-rata relatif (A)

a 1,1
x 25,4
A= x 100% = x 100% = 4,33%

5. Deviasi standar relatif (S)

s 1,3 4,23
x 25,4 14,09
S= x 100% = x 100% = 5,11%
x
6. Hasil pengukuran ( + a)
x
+ a = 25,4 + 1,1 = 26,5

x
a = 25,4 1,1 = 24,3

7. Ketelitian
100% A% = 100% 4,33% = 95,67%
VIII. ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Ayunan matematis yang dilakukan pada praktikum ini
menggunakan bandul bermassa m terikat tali yang massa
talinya diabaikan dan panjang tali tidak bertambah
panjang.
Ayunan matematis adalah suatu metode pengukuran
yang dilakukan untuk mengetahui gravitasi yang terjadi di
tempat kita berada dapat dilakukan dengan menggunakan
bandul yang biasa kita kenal dalam pembelajaran fisika
adalah bandul matematis.
Dari percobaan yang telah dilakukan didapatkan hasil
bahwa ketinggian mempengaruhi waktu bandul untuk
terayun melalui titik keseimbangan menuju sisi yang lain.
Pada ketinggian 100 cm pada percobaan naik, waktu yang
dibutuhkan bandul hanya sebanyak 19,7 sekon dan
ketinggian 100 cm pada percobaan turun waktu yang
dibutuhkan bandul hanya 26,8 sekon. Hasil ini sangat
berbeda jauh bila dibandingkan dengan ketinggian tali 190
cm pada percobaaan naik dibutuhkan waktu sebanyak 26,9
sekon dan ketinggian yang sama pada percobaan turun
sebanyak 19,3 sekon. Dari hasil angka tersebut sudah
dapat dipastikan bahwa ketinggian yang memengaruhi
waktu yang dibutuhkan bandul, dan juga besarnya
simpangan sudut. Semakin besar sudut yang digunakan
semakin besar pula waktu yang dihasilkan untuk 10
periode, Karena pada percobaan ini besar sudut yang
digunakan sama setiap percobaan yaitu sebesar 10 o. Jadi
hanya ketinggian yang mempengaruhi lama waktu yang
diperlukan.
Setelah didapatkan data naik dan data turun dari
setiap percobaan diketinggian yang berbeda-beda,
dilakukan perhitungan. Perhitungan awal yaitu mencari
persepuluh waktu pangkat dua yang ditempuh bandul pda
setiap ketinggian. lalu pada hasil pengamatan juga
dihitung rata-rata dari percobaan naik dan percobaan turun
dengan ketinggian yang sama. Pada ketinggian 100 cm,
harga rata-rata waktu tempuh bandul untuk 10 kali
melewati sumbu vertikalnya adalah sebesar 3,880 s, 110
cm sebesar 4,161, 120 cm sebesar 4,622 s, 130 cm
sebesar 4,972 s, 140 cm sebesar 5,382 s, 150 cm sebesar
5,712 s, 160 cm sebesar 6,350 s, 170 cm sebesar 6,350 s,
180 cm sebesar 6,812 s, dan pada ketinggian 190 cm nilai
rata-rata waktu tempuh adalah sebesar 7,236 s. Dari
perhitungan tersebut kita dapat melihat bahwa semakin
tinggi tali maka semakin lama waktu yang dibutuhkan oleh
bandul untuk bergerak melewati sumbu vertikalnya menuju
ke sisi yang lain.
Setelah dilakukan semua perhitungan untuk
menentukan nilai percepatan gravitasi, dilakukan
perhitungan ralat pada T1 yaitu Harga rata-rata ( X )

adalah sebesar 21,42. Lalu dilakukan perhitungan deviasi


rata-rata. Deviasi rata-rata (a) sebesar 1,37, deviasi
standartnya (s) sebesar 1,988, deviasi rata-rata relatif (A)
sebesar 6,39%, dan deviasi standart relative (S) sebesar

9,28%. Hasil pengukuran rata-rata X + a =22,79, X -

a =20,05. Dan dari hasil perhitungan didapatkan tingkat


ketelitian sebesar 95,67%.
Pada percobaan kedua yaitu penurunan (T2) dilakukan
juga perhitungan ralat dengan hasil yaitu Harga rata-rata (

X ) adalah sebesar 25,4. Lalu dilakukan perhitungan

deviasi rata-rata. Deviasi rata-rata (a) sebesar 1,1, deviasi


standartnya (s) sebesar 1,3, deviasi rata-rata relatif (A)
sebesar 4,33%, dan deviasi standart relative (S) sebesar

5,11%. Hasil pengukuran rata-rata X + a = 26,5, X -a

= 24,3. Dan dari hasil perhitungan didapatkan tingkat


ketelitian sebesar 95,67%.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan tidak ada
penyimpangan terhadap dasar teori yang ada, semua
selaras dengan teori.
IX. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang didapatkan oleh praktikan
setelah melakukan praktikum yakni:
1. Ketinggian mempengaruhi waktu bandul untuk terayun
melalui titik keseimbangan menuju sisi yang lain. Semakin
tinggi tali maka semakin lama waktu yang dibutuhkan
oleh bandul untuk bergerak melewati sumbu vertikalnya
menuju ke sisi yang lain.
2. Semakin besar sudut yang dipakai untuk menyimpang
semakin besar pula waktu yang dihasilkan.
3. Pada percobaan naik (T1) Harga rata-rata ( X ) adalah

21,42, deviasi rata-rata (a) sebesar 1,32, deviasi standart


(s) sebesar 1,988, deviasi rata-rata relatif (A) sebesar
6,39%, deviasi standart relative (S) sebesar 9,28%. Hasil

pengukuran rata-rata X + a = 22,79, X - a = 20,05,

dan ketelitian sebesar 93,61%.


4. Pada percobaan turun (T2) Harga rata-rata ( X )

adalah 25,4. deviasi rata-rata (a) sebesar 1,1, deviasi


standart (s) sebesar 1,3, deviasi rata-rata relatif (A)
sebesar 4,33%, deviasi standart relative (S) sebesar

5,11%. Hasil pengukuran rata-rata X + a = 26,5, X -

a = 24,3, ketelitian sebesar 95,67%.


DAFTAR PUSTAKA

BilqisAnnisa. 2013. Getaran Selaras Harmonik.


http://fisikarama.blogspot.co.id/2013/10/get aran-
selaras-harmonik.html. Diakses pada tanggal 25 Maret 2017.
Pukul 19. 30 WIB.
hermawatinovii, 2016. Gerak harmonik sederhana.
http://noviihermawati.blogspot.com/. Diakses pada
tanggal 25 Maret 2017 pukul 14:03 WIB.
Hidayatullah, Arief 2015. Pengertian Teori Bandul.
https://www.academia.edu/8388901/Pengertian_Teori_Ba
ndul_Fisis.html . Diakses pada tanggal 25 Maret 2017
pukul 22.05 WIB
Yogyakarta, 28 Maret
2017.
Mengetahui,
Co Ass Praktikan

(Ade Putra Manurung) (Dhimas Priyo


W.)