You are on page 1of 4

Kesadahan air dibagi menjadi dua macam yaitu kesadahan sementara dan kesadahan tetap.

Kesadahan sementara adalah kesadahan yang disebabkan garam Ca dan Mg dari karbonat dan
bikarbonat. Sifat dari kesadahan ini adalah mudah hilang jika dipanaskan. Sedangkan kesadahan
tetap adalah kesadahan yang disebabkan oleh ion Cl-, NO3- dan SO42- yang dalam garamnya
berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium
klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Sifat kesadahan
ini tidak akan hilang meskipun telah dipanaskan (Eko Prabowo, 2008).
Pada perlakuan pertama yaitu menentukan kesadahan tetap pada air sumur dengan cara
memasukkan 50 ml sampel air sumur kedalam gelas kimia kemudian mendidihkan sampel
selama 10 menit. Dan hasil yang diperoleh yaitu terbentuknya sedikit endapan. Tujuan dilakukan
pemanasan pada sampel selama 10 menit yaitu untuk menghilangkan sifat kesadahan sementara
yang dimiliki oleh air sumur yang ditandai dengan terbentuknya endapan CaCO 3 yang berasal
dari Ca(HCO3)2 dan endapan MgCO3 yang berasal dari Mg(HCO3)2. Selain itu proses pemanasan
ini membentuk gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O). Kemudian menambahkan 5 ml
larutan NaOH 0,1 N dan 5 ml larutan Na 2CO3 0,1 N ke dalam sampel sehingga endapan
bertambah menjadi lebih banyak selanjutnya adapun, tujuan dari penambahan larutan NaOH
yaitu untuk menguraikan gas CO2 menjadi ion CO32-. Sedangkan tujuan dari penambahan larutan
Na2CO3 yaitu untuk mengendapkan ion Ca2+ menjadi CaCO3 dan ion Mg2+ menjadi MgCO3 yang
belum terendapkan ketika pemanasan pertama berlangsung dan pada saat penambahan larutan
NaOH. Adapun tujuan pengendapan ion Ca2+ dan Mg2+ yaitu agar sampel air terbebas dari
kesadahan sementara.

Langkah selanjutnya yaitu menguapkan campuran tersebut hingga volumenya berkurang


20 mL, tujuan mengurangi sampel air sebanyak 20 mL melalui penguapan yaitu semakin
banyak sampel air yang menguap (semakin sedikit jumlah larutan) maka akan semakin banyak
ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang terendapkan atau semakin banyak endapan yang terbentuk,
kemudian mendinginkan campuran tersebut dan melakukan penyaringan. Pemanasan kedua ini
bertujuan untuk mengendapkan ion-ion Na+ yang terkandung di dalam campuran yang berasal
dari larutan NaOH. Penyaringan dilakukan bertujuan untuk memisahkan antara filtrat dan residu.
Selanjutnya mengencerkan filtrat hingga volumenya menjadi 50 mL dan membaginya
larutan tersebut menjadi dua bagian kedalam dua buah erlenmeyer lalu menambahkan larutan
indikator metil jingga. Indikator ini digunakan sebab titran yang digunakan berupa asam (H 2SO4)
sehinga pada titik akhir titrasi larutan akan berubah warna menjadi merah selain itu indikator
metil jingga digunakan untuk mengidentifikasi sifat larutan pada suasan asam dengan interval pH
3,1 4,4. Kemudian menitrasi kedua larutan tersebut dengan larutan H2SO4 0,1 N sampai terjadi
perubahan warna menjadi merah. Pada perlakuan ini titrasi dilakukan sebanyak 2 kali, hal ini
dilakukan untuk memperoleh ketelitiaan yang akurat. Untuk titrasi pertama diperoleh volume
H2SO4 0,01 N sebanyak 2,4 mL dan titrasi kedua diperoleh volume H 2SO4 0,01 N sebanyak 2,2
mL sehingga diperoleh rata-rata sebanyak 2,3 mL. Berdasarkan perhitungan diperoleh kesadahan
tetap dari air sumur yaitu sebesar 20 ppm CaCO3.
Pada perlakuan selanjutnya melakukan prosedur yang serupa seperti pada sampel air sumur
untuk sampel air laut dan sampel air galon. Sehingga titrasi pertama diperoleh volume H 2SO4
0,1 N untuk sampel air laut yaitu V1= 0,8 mL dan V2= 0,9 dan diperoleh rata-rata volume H2SO4
yang digunakan yaitu 0,85 mL. Sehingga berdasarkan perhitungan diperoleh kesadahan tetap
dari air laut yaitu sebesar 36,5 ppm CaCO 3. Untuk sampel air galon pada titrasi pertama
diperoleh volume H2SO4 0,1 N yaitu V1= 3,1 mL dan pada titrasi kedua V2= 3,2 sehingga
diperoleh volume rata-rata dari larutan H2SO4 yang digunakan yaitu sebanyak 3,15 mL. Sehingga
diperoleh kesadahan tetap dari air galon yaitu sebesar 13,5 ppm CaCO3.
Perlakuan terakhir yang dilakukan pada percobaan ini yaitu membuat larutan blangko
dengan tujuan sebagai larutan pembanding. Larutan blangko dibuat dengan cara mencampurkan
5 ml larutan Na2CO3 0,1 N dengan 5 ml larutan NaOH 0,1 kemudian diencerkan dengan aquades
hingga volume larutan menjadi 50 mL. Tujuan dilakukan pengenceran yaitu agar konsentrasi
campuran NaOH dan Na2CO3 menjadi lebih kecil sehingga memudahkan untuk melakukan
proses titrasi. Lalu menambahkan indikator metil jingga pada larutan blangko sehingga warna
larutan berubah menjadi kuning. Adapun titran yang digunakan yaitu larutan H 2SO4 0,1 N,
dimana fungsi dari H2SO4 yaitu ketika titran dalam keadaan berlebih dalam larutan(titrat) maka
akan terentuk asam oksalat secara berlebih. Asam oksalat yang terbentuk selanjutnya akan
dititrasi dan hasil titrasi dapat diperoleh berdasarkan banyaknya ion-ion dalam sampel air.
Larutan H2SO4 merupakan titran yang cocok dalam menentukan kadar kapur dalam air, sebab
larutan H2SO4 memiliki kemurnian yang tinggi, selain itu H2SO4 bersifat asam kuat dan memiliki
kemampuan yang besar dalam mengikat ion logam Ca2+ dan Mg2+ membentuk senyawa sulfat.
Setelah itu, menitrasi larutan blangko dengan larutan H 2SO4 0,1 N sampai terjadi titik akhir
titrasi yaitu terjadi perubahan warna larutan kuning menjadi warna merah muda. Dan volume
larutan H2SO4 0,1 N yang digunakan untuk menitrasi adalah 4,5 ml.
Berdasarkan percobaan ini dapat dilihat adanya perbedaan kadar kesadahan dari sampel air
laut dan sampel air tawar sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar kesadahan air laut lebih besar
dibandingkan kadar kesadahan air tawar. Kadar kesadahan air laut lebih besar dibandingkan
kadar kesadahan air tawar disebabkan karena air laut mengandung ion-ion Ca2+ dan Mg2+ yang
lebih banyak dibandingkan dengan air tawar. Pada air laut, ion-ion Calsium dan Magnesium akan
membentuk garam-garam karbonat dan bikarbonat serta campuran asam-asam karbonat.
Berikut adalah kriteria selang kesadahan yang biasa dipakai:
a. Standar kesadahan menurut WHO, 1984, mengemukakan bahwa;
Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3 (-)
Lunak, mengandung 0 60 ppm CaCO3
Agak sadah mengandung 60 120 ppm CaCO3
Sadah mengandung 120 180 ppm CaCO3
Sangat sadah 180 ppm keatas
b. Standar kesadahan menurut E. Merck, 1974, bahwa
Sangat lunak antara 0 4 0D atau 0 71 ppm CaCO3
Lunak antara 4 8 0D atau 71 142 ppm CaCO3
Agak sadah antara 8 18 0D atau 142 320 ppm CaCO3
Sadah 18- 30 0D atau 320 534 ppm CaCO3
Sangat sadah 30 0D keatas atau sekitar 534 ppm keatas
c. Standar kesadahan menurut EPA, 1974, bahwa:
Sangat lunak sama sekali tidak mengandung CaCO3
Lunak, antara 0 75 ppm CaCO3
Agak sadah, antara 75 150 ppm CaCO3
Sadah, 150 300 ppm CaCO3
Sangat sadah 300 ppm keatas CaCO3
(Hasakona, 2010).
Selain itu Bahan yang digunakan untuk air minum harus memenuhi standar kualitas yang
telah diterapkan oleh Departemen Kesehatan (Depkes), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
atau Kementrian Lingkungan Hidup (KLH). Kualitas air minum yang kita minum, harus diukur
dari 3 (tiga) aspek , yaitu: fisik, kimiawi, dan biologis.
v Aspek Fisik, bahan air minum tidak boleh berwarna, berbau, berasa, dan keruh.
v Aspek Kimiawi, bahan air minum tidak boleh mengandung unsur-unsur berbahaya dan beracun
seperti halnya unsur-unsur logam berat (Hg, Ni, Pb, Zn, Ag, dll) juga zat-zat beracun antara lain
senyawa hidrokarbon, dan deterjen. Selain itu unsur-unsur kimia lainnya pun tidak boleh
melebihi ambang batas yang telah ditentukan.
v Aspek Biologis, tidak mengandung bakteri pathogen yang tercantum dalam Kepmenkes yaitu
Escherichia colli, Clostridium perfringens, Salmonella. Bakteri patogen tersebut dapat
membentuk toksin (racun) setelah periode laten yang singkat yaitu beberpa jam, dapat
menyebabkan muntaber (Ratdi, 2012).

Dari percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa kadar klorin dalam
air sungan daerah Krikilan, Driyorejo, Gresik sebesar 21,27 mg/L. Angka tersebut
masih memenuhi syarat mutu air berdasarkan SNI 01-3553-1996 yaitu sebesar 250
mg/L. Sehingga air sampel (air sungai) yang diambil dari daerah krikilan, Driyorejo,
Gresik layak untuk dikonsumsi oleh manusia.