You are on page 1of 23

LAPORAN PENDAHULUAN

KEJANG DEMAM

disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Anak II


pada Program Studi Pendidikan Jarak Jauh DIII Keperawatan

Tutor :
Hari Ahadi Cakhadi, S. ST

Disusun Oleh :
Enny Suryanti
Rosnani Thomas
Waode Purnamasari

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN JARAK JAUH


PRODI DIII KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES KALTIM
JURUSAN KEPERAWATAN
NUNUKAN
2017
Asuhan Keperawatan pada Anak dengan Kejang Demam

I. Konsep Teori Kejang Demam


A. Pengertian
Kejang demam menurut Riyadi & Sukarmin (2013) adalah serangkaian
kejang yang terjadi karena kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C).
Kejang demam menurut Putri & Baidul (2009) adalah kejang yang terjadi
pada saat bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat.
Tidak ada nilai ambang batas suhu yang dapat menimbulkan terjadinya kejang
demam. Selama anak mengalami kejang demam, ia dapat kehilangan
kesadaran disertai gerakan lengan dan kaki atau justru disertai dengan
kekakuan tubuhnya.
Kejang demam menurut Judha & Nazwar (2011) merupakan kelainan
neurologis akut yang paling sering di jumpai pada anak-anak. Bangkitan
kejang ini terjadi karena adanya kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38C)
yang di sebabkan oleh proses ekstrakranium. Penyebab demam terbanyak
adalah infeksi saluran pernafasan bagian atas di susul infeksi saluran
pencernaan.
Kejang demam menurut Meadow (2005) adalah suatu kejang yang terjadi
pada usia antara 3 bulan hingga 5 tahun yang berkaitan dengan demam namun
tanpa adanya tanda-tanda infeksi intrakranial atau penyebab yang jelas.
Menurut Ngastiyah (2005) Kejang demam sering juga disebut kejang
demam tonik-klonik, sangat sering dijumpai pada anak-anak usia di bawah 5
tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah menderita
kejang demam.

B. Etiologi
Menurut Riyadi & Sukarmin (2013) penyebab dari kejang demam adalah
kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat, yang disebabkan oleh infeksi
yang mengenai jaringan ekstrakranial seperti tonsilitis, ostitis media akut,
bronchilitis.
Menurut Nurarif & Hardhi (2013) penyebab Kejang demam dibedakan
menjadi intrakranial dan ekstrakranial.
1. Intrakranial, meliputi :
1) Trauma (perdarahan) : perdarahan subarachnoid, subdural atau
ventrikuler
2) Infeksi : bakteri, virus, parasit misalnya meningitis
3) Kongenital : disgenesis, kelainan serebri
2. Ekstrakranial, meliputi :
1) Gangguan metabolik : hipoglikemia, hipokalsemia, hipomagnesia,
gangguan elektrolit (Na dan K) misalnya pada pasien dengan riwayat
diare sebelumnya
2) Toksik : intoksikasi, anastesi local, sindroma putus obat
3) Kongenital : gangguan metabolisme asam basa atau ketergantungan
dan kekurangan piridoksin
Menurut Kristanty, dkk (2009) faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang
demam antara lain:
1. Umur.
2. Kenaikan suhu tubuh.
Kenaikan suhu tubuh biasanya berhubungan dengan penyakit saluran
napas bagian atas, radang telinga tengah, radang paru-paru,
gastroenteritis dan infeksi saluran kemih. Kejang dapat pula terjadi
padabayi yang mengalami kenaikan suhu sesudah vaksinasi terutama
vaksin pertusis.
3. Faktor genetic.
4. Gangguan sistem saraf pusat sebelum dan sesudah lahir.

C. Patofisiologi
Infeksi yang terjadi pada jaringan di luar kranial seperti tonsilitis, otitis
media akut, bronkitis, penyebab terbanyaknya adalah bakteri yang bersifat
toksik. Toksik yang di hasilkan oleh mikroorganisme dapat menyebar
keseluruh tubuh melalui hematogen maupun limfogen. Penyebaran toksik ke
seluruh tubuh akan di respon oleh hipotalamus dengan menaikkan pengaturan
suhu di hipotalamus sebagai tanda tubuh mengalami bahaya secara sistemik
naiknya pengaturan suhu di hipotalamus akan merangsang kenaikan suhu di
bagian tubuh yang lain seperti otot, kulit sehingga terjadi peningkatan
kontraksi otot.
Naiknya suhu di hipotalamus, otot, kulit dan jaringan tubuh yang lain akan
di sertai pengeluaran mediator kimia seperti epinefrin dan prostagladin.
Pengeluaran mediator kimia ini dapat merangsang peningkatan potensial aksi
pada neuron. Peningkatan potensial inilah yang merangsang perpndahan ion
Natrium, ion Kalium dengan cepat dari luar sel menuju ke dalam sel. Peristiwa
inilah yang di duga dapat menaikkan fase depolarisasi neuron dengan cepat
sehingga timbul kejang. Serangan yang cepat itulah yang dapat menjadikan
anak mengalami penurunan respon kesadaran, otot ekstremitas maupun
bronkus juga dapat mengalami spasma sehingga anak berisiko terhadap injuri
dan kelangsungan jalan nafas oleh penutupan lidah dan spasma bronkus
(Riyadi & Sukarmin, 2013)
Pathway

D. Klasifikasi
Menurut Putri & Baidul (2009) kejang demam ini secara umum dapat di bagi
dalam dua jenis, yaitu:
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizures).
Bila kejang berlangsung kurang dari 15 menit dan tidak berulang pada hari
yang sama. Kejang demam sederhana tidak menyebabkan kelumpuhan,
meninggal, atau mengganggu kepandaian. Risiko untuk menjadi epilepsi di
kemudian hari juga sangat kecil. Sekitar 2% hingga 3%. Risiko terbanyak
adalah berulang kejang demam, yang dapat terjadi pada 30 50% anak.
Risiko-risiko tersebut lebih besar pada kejang demam kompleks.
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizures/ complex partial
seizures).
Bila kejang hanya terjadi pada satu sisi tubuh, berlangsung lebih lama dari
15 menit atau berulang dua kali atau lebih dalam satu hari.

E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis menurut Riyadi & Sukarmin (2013) manifestasi klinik
yang muncul pada penderita kejang demam :
1) Suhu tubuh anak (suhu rektal) lebih dari 38C.
2) Timbulnya kejang yang bersifat tonik-klonik, tonik, klonik, fokal atau
akinetik. Beberapa detik setelah kejang berhenti anak tidak memberikan
reaksi apapun tetapi beberapa saat kemudian anak akan tersadar kembali
tanpa ada kelainan persarafan.
3) Saat kejang anak tidak berespon terhadap rangsangan seperti panggilan,
cahaya (penurunan kesadaran).
Selain itu pedoman mendiagnosis kejang demam menurut Livingstone
dapat di pakai sebagai pedoman untuk menentukan manifestasi klinik
kejang demam, yaitu:
1) Umur anak ketika kejang antara 6 bulan dan 4 tahun.
2) Kejang berlangsung tidak lebih dari 15 menit.
3) Kejang bersifat umum.
4) Kejang timbul dalam 16 jam pertama setelah timbulnya demam.
5) Pemeriksaan saraf sebelum dan sesudah kejang normal.
6) Pemeriksaan EEG yang di buat sedikitnya satu minggu sesudah suhu
normal tidak menunjukkan kelainan.
7) Frekuensi kejang bangkitan dalam satu tahun tidak melebihi empat kali.
Manifestasi klinis menurut Nurarif & Hardhi (2013), manifestasi klinis yang
muncul adalah:
1) Kejang umum biasanya di awali kejang tonik kemudian klonik
berlangsung 10 15 menit, bisa juga lebih.
2) Takikardia: pada bayi frekuensi sering diatas 150 200 per menit.
3) Pulsasi arteri melemah dan tekanan nadi mengecil yang terjadi sebagai
akibat menurunnya curah jantung.
4) Gejala bendungan system vena:
a. Hepatomegali.
b. Peningkatan vena jugularis.

F. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang menurut Judha & Nazwar (2011) pemeriksaan
penunjang yang dapat di lakukan tergantung sarana yang tersedia dimana
pasien dirawat. Pemeriksaan yang dapat di lakukan meliputi:
1) Darah
a. Glukosa darah: hipoglikemia merupakan predisposisi kejang (N<200
mq/dl)
b. BUN: peningkatan BUN mempunyai potensi kejang dan merupakan
indikasi nepro toksik akibat dari pemberian obat.
c. Elektrolit: K, Na.
Ketidak seimbangan elektrolit merupakan predisposisi kejang.
Kalium (N 3,80 5,00 meq/dl)
Natrium (N 135 144 meq/dl)
2) Cairan Cerebro Spinal: mendeteksi tekanan abnormal dari CCS tanda
infeksi, pendarahan penyebab kejang.
3) Skull Ray: untuk mengidentifikasi adanya proses desak ruang dan
adanya lesi.
4) Transiluminasi: suatu cara yang di kerjakan pada bayi dengan UUB
masih terbuka (di bawah 2 tahun) di kamar gelap dengan lampu khusus
untuk transiluminasi kepala.
5) EEG: teknik untuk menekan aktivitas listrik otak melalui tengkorak yang
utuh untuk mengetahui fokus aktivitas kejang, hasil biasanya normal.
6) CT Scan: untuk mengidentifikasi lesi cerebral infark hematoma, cerebral
oedem, trauma, abses, tumor dengan atau tanpa kontras.
Pemeriksaan penunjang menurut Nurarif & Hardhi (2013), yang dapat di
lakukan adalah:
1) Pemeriksaan Laboratorium berupa pemeriksaan darah tepi lengkap
elektrolit, dan glukosa darah dapat dilakukan walaupun kadang tidak
menunjukkan kelainan yang berarti.
2) Indikasi Lumbal Pungsi pada kejang demam adalah untuk menegakkan
atau menyingkirkan kemungkinan meningitis. Indkasi lumbal pungsi
pada pasien kejang demam meliputi:
a. Bayi<12 bulan harus dilakukan lumbal pungsi karena gejala
meningitis sering tidak jelas.
b. Bayi antara 12 bulan sampai 1 tahun dianjurkan untuk melakukan
lumbal pungsi kecuali pasti bukan meningitis.
3) Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang demam yang tidak khas.
4) Pemeriksaan foto kepala, CT-Scan, dan / atau MRI tidak di anjurkan
pada anak tanpa kelainan neurologist karena hampir semuanya
menunjukkan gambaran normal. CT Scan atau MRI direkomendaskan
untuk kasus kejang fokal untuk mencari lesi organik di otak.

G. Komplikasi
Menurut Ngastiyah (2005) risiko terjadi bahaya / komplikasi yang dapat terjadi
pada pasien kejang demam antara lain:
1. Dapat terjadi perlukaan misalnya lidah tergigit atau akibat gesekan dengan
gigi.
2. Dapat terjadi perlukaan akibat terkena benda tajam atau keras yang ada di
sekitar anak.
3. Dapat terjadi perlukaan akibat terjatuh.
Selain bahaya akibat kejang, risiko komplikasi dapat terjadi akibat
pemberian obat antikonvulsan yang dapat terjadi di rumah sakit. Misalnya:
1. Karena kejang tidak segera berhenti padahal telah mendapat fenobarbital
kemudian di berikan diazepam maka dapat berakibat apnea.
2. Jika memberikan diazepam secara intravena terlalu cepat juga dapat
menyebabkan depresi pusat pernapasan.

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan menurut Kristanty, dkk. (2009) terdapat 3 pada klien
dengan kejang demam. Antara lain:
1) pemberian antipiretik.
2) Pemberian anti konvulsan.
3) Pemberian oksigen jika ada gangguan pernafasan.
Penatalaksanaan menurut Judha & Nazwar (2011) dalam penanggulangan
kejang demam ada 4 faktor yang perlu di kerjakan, yaitu: Pemberantasan
kejang secepat mungkin, apabila seorang anak datang dalam keadaan
kejang, maka:
1) Segera diberikan diazepam dan pengobatan penunjang.
2) Pengobatan penunjang
Saat serangan kejang adalah semua pakaian ketat di buka, posisi kepala
sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung, usahakan agar
jalan nafas bebas untuk menjamin kebutuhan oksigen, pengisapan lendir
harus dilakukan secara teratur dan diberikan oksigen.
3) Pengobatan rumat
Fenobarbital dosis maintenance: 8-10 mg/kg BB di bagi 2 dosis pada hari
pertama, kedua diteruskan 4-5 mg/kg BB di bagi 2 dosis pada hari
berikutnya.
4) Mencari dan mengobati penyebab
Penyebab kejang demam adalah infeksi respiratorius bagian atas dan
astitis media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati
penyakit tersebut. Pada pasien yang di ketahui kejang lama pemeriksaan
lebih intensif seperti fungsi lumbal, kalium, magesium, kalsium, natrium
dan faal hati. Bila perlu rontgen foto tengkorak, EEG, ensefalografi, dan
lain-lain.
Penatalaksanaan menurut Ngastiyah (2005) yang di lakukan saat terjadi
kejang yaitu:
1) Baringkan pasien di tempat yang rata, kepala di miringkan dan
pasangkan sudip lidah yang telah dibungkus kasa atau bila ada guedel
lebih baik.
2) Singkirkan benda-benda yang ada di sekitar pasien, lepaskan pakaian
yang mengganggu pernapasan (misal: ikat pinggang, gurita, dan lain
sebagainya)
3) Isap lendir sampai bersih, berikan O boleh sampai 4 L/menit. Jika
pasien jatuh apnea lakukan tindakan pertolongan (lihat pada tetanus).
4) Bila suhu tinggi berikan kompres.
5) Setelah pasien bangun dan sadar, berikan minum hangat (berbeda dengan
pasien tetanus yang jika kejang tetap sadar).
6) Jika dengan tindakan ini kejang tidak segera berhenti, hubungi dokter
apakah perlu pemberian obat penenang (lihat di status mungkin ata
petunjuk jika pasien kejang lama / berulang).

I. Pencegahan
Menurut Ngastiyah (2005) cara mencegah jangan sampai timbul kejang bisa
menjelaskan kepada orang tua, seperti:
1. Harus selalu tersedia obat penurun panas yang di dapatkan atas resep dokter
yang telah mengandung antikonvuslan.
2. Jangan menunggu suhu meningkat lagi. Langsung beri obat jika orang tua
tau anak panas, dan pemberian obat diteruskan sampai suhu sudah turun
selam 24 jam berikutnya.
3. Apabila terjadi kejang berulang atau kejang terlalu lama walaupun telah di
berikan obat, segera bawa anak ke rumah sakit.

II. Konsep Asuhan Keperawatan pada Kejang Demam


A. Pengakajian
Pengkajian menurut Riyadi & Sukarmin (2013) terdapat 3 pengkajian yang
harus di lakukan, antara lain:
1. Riwayat Pengkajian
Pada anak kejang demam riwayat yang menonjol adalah adanya demam
yang di alami oleh anak (suhu rektal di atas 38C). Demam ini
dilatarbelakangi adanya penyakit lain yang terdapat pada luar kranial
seperti tonsilitis, faringitis. Sebelum serangan kejang pada pengkajian
status kesehatan biasanya anak tidak mengalami kelainan apa-apa. Anak
masih menjalani aktivitas sehari-hari seperti biasanya.
2. Pengkajian Fungsional
Pengkajian fungsional yang sering mengalami gangguan adalah terjadi
penurunan kesadaran anak dengan tiba-tiba sehingga kalau di buktikan
dengan tes GCS skor yang di hasilkan berkisar antara 5 sampai 10
dengan tingkat kesadaran dari apatis sampai somnolen atau mungkin
dapat koma. Kemungkinan ada gangguan jalan nafas yang di buktikan
dengan peningkatan frekwensi pernapasan >30 x/menit dengan irama
cepat dan dangkal, lidah terlihat menekuk menutup faring. Pada
kebutuhan rasa aman dan nyaman anak mengalami gangguan
kenyamanan akibat hipertermi, sedangkan keamanan terjadi ancaman
karena anak mengalami kehilangan kesadaran yang tiba-tiba beresiko
terjadinya cidera secara fisik maupun fisiologis. Untuk pengkajian pola
kebutuhan atau fungsi yang lain kemungkinan belum terjadi gangguan
kalau ada mungkin sebatas ancaman seperti penurunan personal hygiene,
aktivitas, intake nutrisi.
3. Pengkajian Tumbuh Kembang Anak
Secara umum kejang demam tidak mengganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak. Ini di pahami dengan catatan kejang yang di alami
anak tidak terlalu sering terjadi atau masih dalam batasan yang
dikemukakan oleh Livingstone (1 tahun tidak lebih dari 4 kali) atau
penyakit yang melatarbelakangi timbulnya kejang seperti tonsilitis,
faringitis, segera dapat di atasi. Kalau kondisi tersebut tidak terjadi anak
dapat mudah mengalami keterlambatan pertumbuhan misalnya berat
badan yang kurang karena ketidak cukupan nutrisi sebagai dampak
anoreksia, tinggi badan yang kurang dari umur semestinya sebagai akibat
penurunan asupan mineral. Selain gangguan pertumbuhan sebagai
dampak kondisi atas anak juga dapat mengalami gangguan
perkembangan seperti penurunan kepercayaan diri akibat sering
kambuhnya penyakit sehingga anak lebih banyak berdiam diri bersama
ibunya kalau di sekolah, tidak mau berinteraksi dengan teman sebaya.
Saat dirawat di rumah sakit anak terlihat pendiam, sulit berinteraksi
dengan orang yang ada di sekitar, jarang menyentuh mainan.
Kemungkinan juga dapat terjadi gangguan perkembangan yang lain
seperti penurunan kemampuan motorik kasar (meloncat, berlari).
Pengkajian menurut Judha & Nazwar (2011) adalah pendekatan sistemik
untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui
kebutuhan perawatan pasien tersebut. Langkah-langkah dalam pengkajian
meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa data serta perumusan
diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan kebutuhan dan
masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik,
psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien,
keluarga, teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan
laboratorium. Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan
cara inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa
percakapan untuk memperoleh data yang diperlukan), catatan (berupa
catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang lama), literatur (mencakup
semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar). Pengumpulan data
pada kasus kejang demam ini meliputi :
1. Data subyektif
a. Biodata/ Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin. Biodata orang tua
perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi
nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan,
alamat.
b. Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang
1) Gerakan kejang anak
2) Terdapat demam sebelum kejang
3) Lama bangkitan kejang
4) Pola serangan
5) Frekuensi serangan
6) Keadaan sebelum, selama dan sesudah serangan
7) Riwayat penyakit sekarang
8) Riwayat Penyakit Dahulu
c. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah
mengalami infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma,
perdarahan per vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan
maupun jamu selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah
sukar, spontan atau dengan tindakan (forcep atau vakum), perdarahan
ante partum, asfiksi dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah
bayi panas, diare, muntah, tidak mau menetek, dan kejang-kejang.
d. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan
serta umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada
umumnya setelah mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah
panas yang dapat menimbulkan kejang.
e. Riwayat Perkembangan
1) Personal sosial (kepribadian atau tingkah laku sosial), kemampuan
mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan lingkungannya.
2) Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan
memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya menggambar,
memegang suatu benda, dan lain-lain.
3) Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.
4) Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
f. Riwayat kesehatan keluarga.
1) Anggota keluarga menderita kejang
2) Anggota keluarga yang menderita penyakit syaraf
3) Anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau
penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya
kejang demam.
g. Riwayat sosial
1) Perilaku anak dan keadaan emosional
2) Hubungan dengan anggota keluarga dan teman sebaya
h. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang
kesehatan, pencegahan serta kepatuhan pada setiap perawatan dan
tindakan medis.
2) Pola nutrisi
Asupan kebutuhan gizi anak, kualitas dan kuantitas makanan,
makanan yang disukai, selera makan, dan pemasukan cairan.
3) Pola Eliminasi
a. BAK : frekuensi, jumlah, warna, bau, dan nyeri
b. BAB : frekuensi, konsistensi, dan keteraturan
4) Pola aktivitas dan latihan
Kesenangan anak dalam bermain, aktivitas yang disukai, dan lama
berkumpul dengan keluarga.
5) Pola tidur atau istirahat
Lama jam tidur, kebiasaan tidur, dan kebiasaan tidur siang.
2. Data Obyektif
a) Pemeriksaan tanda-tanda vital.
1) Suhu Tubuh.
Pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui rektal, axila, dan oral
yang digunakan untuk menilai keseimbangan suhu tubuh yang
dapat digunakan untuk membantu menentukan diagnosis dini suatu
penyakit.
2) Denyut Nadi
Dalam melakukan pemeriksaan nadi sebaiknya dilakukan dalam
posisi tidur atau istirahat, pemeriksaan nadi dapat disertai dengan
pemeriksaan denyut jantung
3) Tekanan Darah
Dalam melakukan pengukuran tekanan darah, hasilnya sebaiknya
dicantumkan dalam posisi atau keadaan seperti tidur, duduk, dan
berbaring. Sebab posisi akan mempengaruhi hasil penilaian
tekanan darah (Nursalam, 2005)
b) Pemeriksaan fisik
(1) Pemeriksaan kepala
Keadaan ubun-ubun dan tanda kenaikan intrakranial.
(2) Pemeriksaan rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta katakteristik lain
rambut. Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai
rambut yang jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah
dicabut tanpa menyebabkan rasa sakit pada pasien.
(3) Pemeriksaan wajah
Paralisis fasialis menyebabkan asimetris wajah, sisi yang paresis
tertinggal bila anak menangis atau tertawa sehingga wajah
tertarik ke sisi sehat, tanda rhesus sardonicus, opistotonus, dan
trimus, serta gangguan nervus cranial.
(4) Pemeriksaan mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil
dan ketajaman penglihatan.
(5) Pemeriksaan telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda
adanya infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah
belakang telinga, keluar cairan dari telinga, berkurangnya
pendengaran.
(6) Pemeriksaan hidung
Pernapasan cuping hidung, polip yang menyumbat jalan nafas,
serta secret yang keluar dan konsistensinya.
(7) Pemeriksaan mulut
Tanda-tanda cyanosis, keadaan lidah, stomatitis, gigi yang
tumbuh, dan karies gigi.
(8) Pemeriksaan tenggorokan
Tanda peradangan tonsil, tanda infeksi faring, cairan eksudat.
(9) Pemeriksaan leher
Tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid, pembesaran vena
jugularis.
(10) Pemeriksaan Thorax
Amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi, adakah
intercostale pada auskultasi, adakah suara tambahan.
(11) Pemeriksaan Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung, serta irama jantung,
adakah bunyi tambahan, adakah bradicardi atau tachycardia.
(12) Pemeriksaan Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen,
bagaimana turgor kulit, peristaltik usus, adakah tanda
meteorismus, adakah pembesaran lien dan hepar.
(13) Pemeriksaan Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya,
apakah terdapat oedema, hemangioma, bagaimana keadaan turgor
kulit.
(14) Pemeriksaan Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise, terutama setelah terjadi
kejang. Bagaimana suhu pada daerah akral.
(15) Pemeriksaan Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina,
adakah tanda-tanda infeksi pada daerah genetalia.

B. Diagnosa Keperawatan
a. Berdasarkan patofisiologi penyakit, dan manifestasi klinik yang muncul
maka diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan
kejang demam menurut Riyadi & Sukarmin (2013) adalah:
1) Risiko tinggi obstruksi jalan nafas berhubungan dengan penutupan
faring oleh lidah, spasme otot bronkus.
2) Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
oksigen darah.
3) Hipertermi berhubungan dengan infeksi kelenjar tonsil, telinga,
bronkus atau pada tempat lain.
4) Risiko gangguan pertumbuhan (berat badan rendah) berhubungan
dengan penurunan asupan nutrisi.
5) Risiko gangguan perkembangan (kepercayaan diri) berhubungan
dengan peningkatan frekwensi kekambuhan.
6) Risiko cidera (terjatuh, terkena benda tajam) berhubungan dengan
penurunan respon terhadap lingkungan.
b. Menurut Judha & Nazwar (2011) diagnosis keperawatan yang muncul
antara lain:
1) Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi, gangguan pusat
pengaturan suhu.
2) Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hipertermi.
3) Potensial terjadinya trauma fisik berhubungan dengan kurangnya
koordinasi otot.
4) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hipertermi.
5) Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan
informasi.
C. Intervensi Keperawatan
Menurut Riyadi & Sukarmin (2013), intervensi dan rasional yang muncul
adalah:
1. Risiko tinggi obstruksi jalan nafas berhubungan dengan penutupan
faring oleh lidah, spasme otot bronkus.
Hasil yang di harapkan: Frekwensi pernapasan meningkat 28-35
x/menit, irama pernafasan regular dan tidak cepat, anak tidak terlihat
terengah-engah.
Rencana tindakan:
1) Monitor jalan nafas, frekwensi pernafasan, irama pernafasan tiap
15 menit saat penurunan kesadaran.
Rasional: frekwensi pernapasan yang meningkat tinggi dengan
irama yang cepat sebagai salah satu indikasi sumbatan jallan nafas
oleh benda asing, contohnya lidah.
2) Tempatkan anak pada posisi semifowler dengan kepala ekstensi.
Rasional: posisi semifowler akan menurunkan tahanan intra
abdominal terhadap paru-paru. Hiperekstensi membuat jalan nafas
dalam posisi lurus dan bebas dari hambatan.
3) Pasang tongspatel saat timbul serangan kejang.
Rasional: mencegah lidah tertekuk yang dapat menutupi jalan
nafas.
4) Bebaskan anak dari pakaian yang ketat
Rasional: mengurangi tekanan terhadap rongga thorax sehingga
terjadi keterbatasan pengembangan paru.
5) Kolaborasi pemberian anti kejang (diazepam dengan dosis rata-rata
0,3 Mg/KgBB/kali pemberian.
6) Rasional: diazepam bekerja menurunkan tingkat fase depolarisasi
yang cepat di sistem persyarafan pusat sehingga dapat terjadi
penurunan pada spasma otot dan persyarafan perifer.
2. Risiko gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan
oksigen darah.
Hasil yang di harapkan: jaringan perifer (kulit) terlihat merah dan segar,
akral teraba hangat.
Rencana tindakan:
1) Kaji tingkat pengisian kapiler perifer.
Rasional: kapiler kecil mempunyai volume darah yang relatif kecil
dan cukup sensitif sebagai tanda terhadap penurunan oksigen
darah.
2) Pemberian oksigen dengan memakai masker atau nasal bicanul
dengan dosis rata-rata 3 liter/menit.
Rasional: oksigen tabung mempunyai tekanan yang lebih tinggi
dari oksigen lingkungan sehingga mudah masuk ke paru-paru.
Pemberian dengan masker karena mempunyai prosentase sekitar
35% yang dapat masuk ke saluran pernafasan.
3) Hindarkan anak dari rangsangan yang berlebihan baik suara,
mekanik, maupun cahaya.
Rasional: rangsangan akan meningkatkan fase eksitasi persarafan
yang dapat menaikkan kebutuhan oksigen jaringan.
4) Tempatkan pasien pada ruangan dengan sirkulasi udara yang baik
(ventilasi memenuhi dari luas ruangan).
Rasional: meningkatkan jumlah udara yang masuk dan mencegah
hipoksemia jaringan.
3. Hipertermi berhubungan dengan infeksi kelenjar tonsil, telinga,
bronkus atau pada tempat lain.
Hasil yang diharapkan: suhu tubuh perektal 36-37C, kening anak tidak
teraba panas. tidak terdapat pembengkakan, kemerahan pada tongsil
atau telinga.mleukosit 5.000-11.000 mg/dl
Rencana tindakan:
1) Pantau suhu tubuh anak tiap setengah jam.
Rasional: peningkatan suhu tubuh yang melebihi 39C dapat
beresiko terjadinya kerusakan saraf pusat karena akan
meningkatkan neurotransmiter yang dapat meningkatkan eksitasi
neuron.
2) Kompres anak dengan alkohol atau air dingin.
Rasional: saat di kompres panas tubuh anak akan berpindah ke
media yang digunakan untuk mengkompres karena suhu tubuh
relatif tinggi.
3) Beri pakaian anak yang tipis dari bahan yang halus seperti katun.
Rasional: pakaian yang tipis akan memudahkan perpindahan panas
dari tubuh ke lingkungan. Bahan katun akan menghindari iritasi
kulit pada anak karena panas yang tinggi akan membuat kulit
sensitif terhadap cidera.
4) Jaga kebutuhan cairan anak tercukupi melalui pemberian intravena.
Rasional: cairan yang cukup akan menjaga kelembapan sel,
sehingga sel tubuh tidak mudah rusak akibat suhu tubuh yang
tinggi.
5) Kolaborasi pemberian antipiretik (aspirin dengan dosis 60
mg/tahun/kali pemberian), antibiotik.
Rasional: antipiretik akan mempengaruhi ambang panas pada
hipotalamus. Antipiretik juga akan mempengaruhi penurunan
neurotransmiter seperti prostaglandin yang berkontribusi timbulnya
nyeri saat demam.
4. Risiko gangguan pertumbuhan (berat badan rendah) berhubungan
dengan penurunan asupan nutrisi.
Hasil yang di harapkan: orang tua anak menyampaikan anaknya sudah
gampang makan dengan porsi makan di habiskan setiap hari (1 porsi
makan)
Rencana tindakan:
1) Kaji berat badan dan jumlah asupan kalori anak.
Rasional: berat badan adalah salah satu indikator jumlah massa sel
dalam tubuh, apabila berat badan rendah menunjukkan terjadi
penurunan jumlah dan massa sel tubuh yang tidak sesuai dengan
umur.
2) Ciptakan suasana yang menarik dan nyaman saat makan seperti di
bawa ke ruangan yang banyak gambar untuk anak dan sambil di
ajak bermain.
Rasional: dapat membantu peningkatan respon korteks serebri
terhadap selera makan sebagai dampak rasa senang pada anak.
3) Anjurkan orangtua untuk memberikan anak makan dengan kondisi
makanan hangat.
Rasional: makanan hangat akan mengurangi kekentalan sekresi
mukus pada faring dan mengurangi respon mual gaster.
4) Anjurkan orang tua memberikan makanan pada anak dengan porsi
sering dan sedikit.
Rasional: mengurangi massa makanan yang banyak pada lambung
yang dapat menurunkan rangsangan nafsu makan pada otak bagian
bawah.
5. Risiko gangguan perkembangan (kepercayaan diri) berhubungan
dengan peningkatan frekwensi kekambuhan.
Hasil yang di harapkan: anak terlihat aktif berinteraksi dengan orang di
sekitar saat di rawat di rumah sakit,frekwensi kekambuhan kejang
demam berkisar 1-3 kali dalam setahun.
Rencana tindakan:
1) Kaji tingkat perkembangan anak terutama percaya diri dan
frekwensi demam.
Rasional: fase ini bila tidak teratasi dapat terjadi krisis kepercayaan
diri pada anak. Frekwensi demam yang meningkat dapat
menurunkan penampilan anak.
2) Berikan anak terapi bermain dengan teman sebaya di rumah sakit
yang melibatkan banyak anak seperti bermain lempar bola.
Rasional: meningkatkan interaksi anak terhadap teman sebaya
tanpa melalui paksaan dan doktrin dari orang tua.
3) Beri anak reward bila anak berhasil melakukan aktivitas positif
misalnya melempar bola dengan tepat, dan support anak bila belum
berhasil.
Rasional: meningkatkan nilai positif yang ada pada anak dan
memperbaiki kelemahan dan kemauan yang kuat.
6. Risiko cidera (terjatuh, terkena benda tajam) berhubungan dengan
penurunan respon terhadap lingkungan.
Hasil yang di harapkan: anak tidak terluka atau jatuh saat serangan
kejang.
Rencana tindakan:
1) Tempatkan anak pada tempat tidur yang lunak dan rata seperti
bahan matras.
Rasional: menjaga posisi tubuh lurus yang dapat berdapak pada
lurusnya jalan nafas.
2) Pasang pengaman di kedua sisi tempat tidur.
Rasional: mencegah anak terjatuh.
3) Jaga anak saat timbul serangan kejang.
Rasional: menjaga jalan nafas dan mencegah anak terjatuh.
Menurut Judha & Nazwar (2011), intervensi dan rasional yang harus di
lakukan adalah:
1. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi, gangguan pusat
pengaturan suhu.
Tujuan : Terjadi penurunan suhu tubuh
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal, nadi dan RR dalam
rentang normal
Intervensi dan Rasional
1) Pantau suhu tubuh anak tiap setengah
Rasional : peningkatan suhu tubuh yang melebihi 390C dapat
berisiko terjadinya kerusakan saraf pusat karena akan
meningkatkan neurotransmitter yang dapat meningkatkan eksitasi
neuron.
2) Kompres anak dengan air dingin/ hangat
Rasional : pada saat dikompres panas tubuh anak akan berpindah
ke media yang digunakan untuk mengompres karena suhu tubuh
relatif lebih tinggi.
3) Beri pakaian anak yang tipis dan bahan yang halus seperti katun
Rasional : pakaian yang tipis akan memudahkan perpindahan panas
dari tubuh ke lingkungan. Bahan katun akan menghindari iritasi
kulit pada anak karena panas yang tinggi akan membuat kulit
sensitif terhadap cidera.
4) Jaga kebutuhan cairan anak tercukupi melalui pemberian intravena
Rasional : cairan yang cukup akan menjaga kelembaban sel,
sehingga sel tubuh tidak mudah rusak akibat suhu tubuh yang
tinggi.
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik
Rasional : antipiretik akan mempengaruhi ambang panas pada
hipotalamus.
2. Potensial terjadinya kejang ulang berhubungan dengan hipertermi
Tujuan : Klien tidak mengalami kejang selama hipertermi
Kriteria hasil :
o Tidak terjadi serangan kejang ulang
o Suhu 36-37,50C
o Nadi 100-110x/menit
o Respirasi 24-28x/menit
o Kesadaran composmentis
Intervensi dan Rasional
1) Longgarkan pakaian, berikan pakaian tipis yang mudah menyerap
keringat.
Rasional : proses konveksi akan terhalang oleh pakaian yang ketat
dan tidak menyerap keringat.
2) Berikan kompres dingin
Rasional : perpindahan panas secara konduksi
3) Berikan ekstra cairan (susu, sari buah)
Rasional : saat demam kebutuhan akan cairan tubuh meningkat.
4) Observasi kejang dan tanda vital tiap 4 jam
Rasional : pemantauan yang teratur menentukan tindakan yang
akan dilakukan.
5) Batasi aktivitas selama anak panas
Rasional : aktivitas dapat meningkatkan metabolisme dan
meningkatkan panas.
6) Berikan pengobatan antipiretik sesuai advis dokter.
Rasional : menurunkan panas pada pusat hipotalamus dan sebagai
propilaksis.
3. Potensial terjadi trauma fisik berhubungan dengan kurangnya
koordinasi otot.
Tujuan : Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
Kriteria Hasil :
o Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
o Mempertahankan tindakan yang mengontrol aktivitas kejang.
o Mengidentifikasi tindakan yang harus diberikan ketika terjadi
kejang.
Intervensi dan Rasional :
1) Beri pengaman pada sisi tempat tidur dan penggunaan sisi tempat
tidur yang rendah.
Rasional : meminimalkan injuri saat kejang.
2) Tinggallah bersama klien selama fase kejang.
Rasional : meningkatkan keamanan klien.
3) Berikan tongue spatel diantara gigi atas dan bawah.
Rasional : menurunkan resiko trauma pada mulut.
4) Letakkan klien di tempat yang lembut.
Rasional : membantu menurunkan resiko injuri fisik pada
ekstimitas ketika kontrol otot volunter berkurang.
5) Catat tipe kejang (lokasi, lama) dan frekuensi kejang.
Rasional : membantu menurunkan lokasi area serebral yang
terganggu.
6) Catat tanda-tanda vital sesudah fase kejang.
Rasional : mendeteksi secara dini keadaan yang abnormal.
4. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan hiperthermi.
Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi.
Kriteria Hasil :
Suhu tubuh 36-370C, Nadi 100-110x/menit, kesadaran composmentis,
anak tidak rewel.
Intervensi dan Rasional :
1) Kaji faktor-faktor terjadinya hiperthermi.
Rasional : mengetahui penyebab terjadinya hipertermi karena
penambahan pakaian/selimut dapat menghambat penurunan suhu
tubuh.
2) Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam sekali.
Rasional : pemantauan tanda vital yang teratur dapat menentukan
perkembangan keperawatan yang selanjutnya.
3) Pertahankan suhu tubuh normal.
Rasional : suhu tubuh dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas,
suhu tubuh lingkungan, kelembaban tinggi akan mempengaruhi
panas atau dinginnya tubuh.
4) Ajarkan pada keluarga memberikan kompres dingin pada
kepala/ketiak.
Rasional : proses konduksi/perpindahan panas dengan suatu bahan
perantara.
5) Anjurkan untuk menggunakan baju tipis dan terbuat dari kain
katun.
Rasional : proses hilangnya panas akan terhalangi oleh pakaian
tebal dan tidak dapat menyerap keringat.
6) Atur sirkulasi udara ruangan.
Rasional : penyediaan udara bersih.
7) Beri ekstra cairan dengan menganjurkan pasien banyak minum.
Rasional : kebutuhan cairan meningkat karena penguapan tubuh
meningkat.
8) Batasi aktivitas fisik.
Rasional : aktivitas meningkatkan metabolisme dan meningkatkan
panas.
5. Kurangnya pengetahuan keluarga berhubungan dengan keterbatasan
informasi.
Tujuan : Pengetahuan keluarga bertambah tentang penyakit anaknya.
Kriteria Hasil :
o Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.
o Keluarga mampu diikutsertakan dalam proses keperawatan.
o Keluarga mentaati setiap proses keperawatan.
Intervensi dan Rasional :
1) Kaji tingkat pengetahuan keluarga.
Rasional : mengetahui sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
keluarga dan kebenaran informasi yang didapat.
2) Beri penjelasan kepada keluarga sebab dan akibat kejang demam.
Rasional : penjelasan tentang kondisi yang dialami dapat
membantu menambah wawasan keluarga.
3) Jelaskan setiap tindakan perawatan yang akan dilakukan.
Rasional : agar keluarga mengetahui tujuan setiap tindakan
perawatan.
4) Berikan Health Education tentang cara menolong anak kejang dan
mencegah kejang demam antara lain :
a. Jangan panik saat kejang.
b. Baringkan anak ditempat rata dan lembut.
c. Kepala dimiringkan.
d. Pasang gagang sendok yang telah dibungkus kain yang basah,
lalu dimasukkan ke mulut
e. Setelah kejang berhenti dan pasien sadar segera minumkan obat
tunggu sampai keadaan tenang.
f. Jika suhu tinggi saat kejang lakukan kompres dingin dan beri
banyak minum.
g. Segera bawa ke rumah sakit bila kejang lama.
Rasional : sebagai upaya alih informasi dan mendidik keluarga
agar mandiri dalam mengatasi masalah kesehatan.
5) Berikan Health Education agar selalu sedia obat penurun panas,
bila anak panas.
Rasional : mencegah peningkatan suhu lebih tinggi dan serangan
kejang ulang.
6) Jika anak sembuh, jaga agar anak tidak terkena penyakit infeksi
dengan menghindari orang atau teman yang menderita penyakit
menular sehingga tidak mencetuskan kenaikan suhu.
Rasional : sebagai upaya preventif serangan ulang.
7) Beritahukan keluarga jika anak akan mendapatkan imunisasi agar
memberitahukan kepada petugas imunisasi bahwa anaknya pernah
menderita kejang demam.
Rasional : imunisasi pertusis memberikan reaksi panas yang dapat
menyebabkan kejang demam.

D. Evaluasi
Menurut Judha & Nazwar (2011), Evaluasi yang muncul adalah :
1) Suhu tubuh dalam rentang normal.
2) Tidak terjadi serangan kejang ulang.
3) Tidak terjadi trauma fisik selama perawatan.
4) Suhu tubuh 36-37C.
5) Keluarga tidak sering bertanya tentang penyakit anaknya.
DAFTAR PUSTAKA

Nurarif, Amin & Hardhi, 2013, Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC Jilid 2, Media Action Publising,
Yogyakarta
Judha, Mohammad, 2011, Sistem Persyarafan (Dalam Asuhan Keperawatan),
Gosyen Publishing, Yogyakarta
Ngastiyah, 2005, Perawatan Anak Sakit, Ed 2, EGC, Jakarta
Nursalam, 2005, Asuhan Keperawatan Bayi dan Anak (Untuk Perawat dan Bidan),
Salemba Medika, Jakarta
Purtri, Triloka dan Baidul Hasniah, 2009, Menjadi Dokter Pribadi bagi Anak
Kita,Katahati, Jogjakarta
Meadeow, Sir roy dan Simon J Newell, 2005, Lecture Notes: Pediatrica, Erlangga,
Jakarta
Krisanty, Paula dkk, 2009, Asuhan Keperawatan Gawat Darurat, TIM, Jakarta
Riyadi, Sujono & Sukarmin, 2013, Asuhan Keperawatan Pada Anak, Graha Ilmu,
Yogyakarta