You are on page 1of 53

HIPOTERMIA

A. Defenisi

Hipotermi adalah keadaan suhu tubuh yang rendah atau berada


dibawah normal. ( Maternal & Neonatal Health, Depkes RI, 2005)

Hipotermi adalah keadaan dimana seorang individu mengalami atau


berisiko mengalami penurunan suhu tubuh terus - menerus dibawah 35,
5C per rektal karena peningkatan kerentanan terhadap faktor faktor
eksternall (http://jhonkarto.blogspot.com/2009/02/bayi-hipotermi.html) .

Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal.


Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 C. Suhu normal pada
neonatus 36,5-37,5C dan diukur melalui ketiak dengan termometer
(http://jhonkarto.blogspot.com/2009/02/bayi-hipotermi.html).

Hipotermi terbagi atas 3 macam, yaitu :

0
1. Hipotermi ringan (cold stres) yaitu suhu antara 36 36, 5 c

0
2. Hipotermi sedang yaitu suhu antara 32 36 c

0
3. Hipotermi berat yaitu suhu tubuh < 32 c

(Kosim Sholeh M, dkk, 2008, Buku Ajar Neonatologi, IDAI, Jakarta, hal.
89)

B. Etiologi
Hipotermi dapat disebabkan oleh karena terpapar dengan
lingkungan yang dingin (suhu lingkungan rendah, permukaan yang dingin
atau basah) atau bayi dalam keadaan basah atau tidak berpakaian.

(Kosim Sholeh M, dkk, 2008, Buku Ajar Neonatologi, IDAI, Jakarta, hal.
89)

Penyebab terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :

1. Jaringan lemak subkutan tipis.

2. Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar

3. BBL tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi


kedinginan.

4. Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang


beresiko tinggi mengalami hipotermi.

(http://jhonkarto.blogspot.com/2009/02/bayi-hipotermi.html)

C. Patofisiologi

Suhu tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap


kehilangan panas. Bila kehilangan panas dalam tubuh lebih besar
daripada laju pembentukan panas maka akan terjadi penurunan suhu
tubuh.

Apabila terjadi paparan dingin, secara fisiologis tubuh akan


memberikan respon untuk menghasilkan panas berupa :

1. Shivering Thermoregulation (ST) yaitu merupakan mekanisme tubuh


berupa menggigil atau gemetar secara involunter akibat dari kontraksi
otot untuk menghasilkan panas.
2. Non-shivering thermoregulation (NST) yaitu merupakan mekanisme
yang dipengaruhi oleh stimulasi sistem saraf simpatis untuk
menstimulasi proses metabolik dengan melakukan oksidasi terhadap
jaringan lemak coklat. Peningkatan metabolisme jaringan lemak coklat
akan meningkatkan produksi panas dari dalam tubuh.

3. Vasokonstriksi perifer yaitu merupakan mekanisme yang distimulasi


oleh sistem saraf simpatis,kemudian sistem saraf perifer akan memicu
otot sekitar arteriol kulit untuk berkontraksi sehingga terjadi
vasokontriksi. Keadaan ini efektif untuk mengurangi aliran darah ke
jaringan kulit dan mencegah hilangnya panas yang tidak berguna.

Untuk bayi, respon fisiologis terhadap paparan dingin adalah


dengan proses oksidasi dari lemak coklat atau jaringan adiposa coklat.
Pada bayi BBL (neonatus), NST (proses oksidasi jaringan lemak coklat)
adalah jalur yang utama dari suatu peningkatan produksi panas yang
cepat, sebagai reaksi atas paparan dingin. Sepanjang tahun pertama
kehidupan, jalur ST mengalami peningkatan sedangkan untuk jalur NST
selanjutnya akan menurun.

(Kosim Sholeh M,dkk, 2008, Buku Ajar Neonatologi, IDAI, Jakarta,


hal. 91)

D. Gejala Klinis

Hipotermi ditandai dengan bayi tidak mau minum, kurang aktif,


pucat, takipnoe atau takikardia. Sedangkan hipotermi yang
berkepanjangan, akan menyebabkan terjadinya peningkatan konsumsi
oksigen, distres respirasi, gangguan keseimbangan asam basa,
hipoglikemia, defek koagulasi, dan pada keadaan yang berat akan
menyebabkan kematian.
(Kosim Sholeh M,dkk, 2008, Buku Ajar Neonatologi, IDAI, Jakarta, hal.
93)

E. Mekanisme hilangnya panas pada BBL

Mekanisme hilangnya panas pada bayi yaitu dengan :

1. Radiasi yaitu perpindahan suhu dari suatu objek panas ke objek yang
dingin, misalnya dari bayi dengan suhu yang hangat dikelilingi suhu
lingkungan yang lebih dingin. Sumber kehilangan panas dapat berupa
suhu lingkungan yang dingin atau suhu inkubator yang dingin.

2. Konduksi yaitu perpindahan panas yang terjadi sebagai akibat


perbedaan suhu antara kedua objek. Kehilangan panas terjadi saat
terjadi kontak langsung antara kulit BBL dengan permukaan yang lebih
dingin. Sumber kehilangan panas terjadi pada BBL yang berada pada
permukaan/alas yang dingin, seperti pada waktu proses penimbangan.

3. Konveksi yaitu transfer panas yang terjadi secara sederhana dari


selisih suhu antara permukaan kulit bayi dan aliran udara yang dingin
dipermukaan tubuh bayi. Sumber kehilangan panas disini dapat berupa
: inkubator dengan jendela yang terbuka, atau pada waktu proses
transportasi BBL ke rumah sakit.

4. Evaporasi yaitu panas yang terbuang akibat penguapan, melalui


permukaan kulit dan traktus respiratorius. Sumber kehilangan panas
dapat berupa BBL yang basah setelah lahir, atau pada waktu
dimandikan.
(Kosim Sholeh M, dkk, 2008, Buku Ajar Neonatologi, IDAI, Jakarta,
hal.89)

F. Akibat - akibat yang ditimbulkan oleh hipotermi

Akibat yang bisa ditimbulkan oleh hipotermi yaitu :

Hipoglikemi

Asidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan metabolisme


anaerob.

Kebutuhan oksigen yang meningkat.

Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.

Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan pulmonal


yang menyertai hipotermi berat.

Shock.

Apnea

(http://jhonkarto.blogspot.com/2009/02/bayi-hipotermi.html)

G. Pencegahan Hipotermi

Pemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat terjadi


apnea sehingga direkomendasikan penghangatan 0,5-1C tiap jam (pada
bayi < 1000 gram penghangatan maksimal 0,6 C). (Indarso, F, 2001).

Alat-alat Inkubator untuk bayi < 1000 gram, sebaiknya diletakkan


dalam inkubator. Bayi-bayi tersebut dapat dikeluarkan dari inkubator
apabila tubuhnya dapat tahan terhadap suhu lingkungan 30C. Radiant
Warner adalah alat yang digunakan untuk bayi yang belum stabil atau
untuk tindakan-tindakan. Dapat menggunakan servo controle (dengan
menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle (dengan
mengatur suhu yang dibutuhkan secara manual). Pengelolaan Menurut
Indarso, F (2001) menyatakan bahwa pengelolaan bayi hipotermi :

1. Bayi cukup bulan

Letakkan BBL pada Radiant Warner.

Keringkan untuk menghilangkan panas melalui evaporasi.

Tutup kepala.

Bungkus tubuh segera.

Bila stabil, dapat segera rawat gabung sedini mungkin setelah lahir
bayi dapat disusukan.

2. Bayi sakit

Seperti prosedur di atas.

o Tetap letakkan pada radiant warmer sampai stabil.

3. Bayi kurang bulan (prematur)

Seperti prosedur di atas.

o Masukkan ke inkubator dengan servo controle atau radiant warner


dengan servo controle.

4. Bayi yang sangat kecil


Dengan radiant warner yang diatur dimana suhu kulit 36,5 C. Tutup
kepala. Kelembaban 40-50%. Dapat diberi plastik pada radiant
warner.

Dengan servo controle suhu kulit abdomen 36, 5C.

Dengan dinding double. Kelembaban 40-50% atau lebih (bila


kelembaban sangat tinggi, dapat dipakai sebagai sumber infeksi
dan kehilangan panas berlebihan).

Bila temperatur sulit dipertahankan, kelembaban dinaikkan. -


Temperatur lingkungan yang dibutuhkan sesuai umur dan berat
bayi.

H. Penatalaksanaan Neonatus Resiko Tinggi

Untuk mencegah hipotermi menurut Indarso, F (2001) menyatakan


bahwa untuk mempertahankan suhu tubuh bayi dalam mencegah hipotermi
adalah : Mengeringkan bayi segera setelah lahir. Cara ini merupakan salah
satu dari 7 rantai hangat :
a) Menyiapkan tempat melahirkan yang hangat, kering dan bersih.
b) Mengeringkan tubuh bayi yang baru lahir/ air ketuban segera setelah lahir
dengan handuk yang kering dan bersih.
c) Menjaga bayi hangat dengan cara mendekap bayi di dada ibu dengan
keduanya diselimuti (Metode Kangguru).
d) Memberi ASI sedini mungkin segera setelah melahirkan agar dapat
merangsang pooting reflex dan bayi memperoleh kalori dengan :
Menyusui bayi.
Pada bayi kurang bulan yang belum bisa menetek ASI diberikan dengan
sendok atau pipet.
Selama memberikan ASI bayi dalam dekapan ibu agar tetap hangat.
e) Mempertahankan bayi tetap hangat selama dalam perjalanan pada waktu
rujukan.
f) Memberikan penghangatan pada bayi baru lahir secara mandiri.
g) Melatih semua orang yang terlibat dalam pertolongan persalinan. Menunda
memandikan bayi lahir sampai suhu tubuh normal.
Untuk mencegah terjadinya serangan dingin, ibu / keluarga dan penolong
persalinan harus menunda memandikan bayi :
a. Pada bayi lahir sehat yaitu cukup bulan, berat < 2500 gram, langsung
menangis kuat, memandikan bayi ditunda 24 jam setelah kelahiran. Pada
saat memandikan bayi, gunakan air hangat.
b. Pada bayi lahir dengan resiko, keadaan umum bayi lemah atau bayi dengan
berat lahir 2000 gram sebaiknya jangan dimandikan. Tunda beberapa hari
sampai keadaan umum membaik yaitu bila suhu tubuh stabil, bayi sudah
lebih kuat dan dapat menghisap ASI dengan baik.
I. Penanganan Hipotermi
1. Bayi yang mengalami hipotermi biasanya mudah sekali meninggal. Tindakan
yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi didalam inkubator
atau melalui penyinaran lampu.
2. Cara lain yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan setiap orang ialah
metode dekap, yaitu bayi diletakkan telungkup dalam dekapan ibunya dan
keduanya diselimuti agar bayi senantiasa hangat.
3. Bila tubuh bayi masih dingin, gunakan selimut atau kain hangat yang
diseterika terlebih dahulu yang digunakan untuk menutupi tubuh bayi dan
ibu. Lakukan berulangkali sampai tubuh bayi hangat. Tidak boleh memakai
buli-buli panas, bahaya luka bakar.
4. Metode lain untuk menghangatkan neonatus yang hipotermi adalah metode
kanguru. Metode kanguru ditemukan sejak tahun 1983, sangat bermanfaat
untuk merawat bayi yang lahir dengan berat badan rendah. Metode kanguru
menyediakan situasi dan kondisi yang mirip dengan rahim ibu, sehingga
memberi peluang untuk dapat beradaptasi baik dengan dunia luar.
Keuntungan yang terdapat dalam metode kanguru bagi perawatan bayi baru
lahir adalah sbb :
Meningkatkan hubungan emosi ibu anak
Menstabilkan suhu tubuh, denyut jantung dan pernafasan bayi
Meningkatkan pertumbuhan dan berat badan bayi dengan lebih baik
Mengurangi stres pada ibu dan bayi
Mengurangi lama menangis pada bayi
Memperbaiki keadaan emosi ibu dan bayi
Meningkatkan produksi ASI
Menurunkan resiko terinfeksi selama perawatan dirumah sakit
Mempersingkat masa rawat dirumah sakit.
Kriteria bayi untuk metode kanguru :
Bayi dengan berat badan 2000 gram dan suhu badan dibawah normal.
Refleks dan kordinasi siap dan menelan yang baik.
Perkembangan selama di inkubator baik
Kesiapan dan keikutsertaan orang tua, sangat mendukunga dalam
keberhasilan

Langkah-langkah Metode kanguru :

o Mempersiapkan daerah bersih yaitu ibu membersihkan


daerah dada dan perut dengan cara mandi 2 - 3 kali sehari.
Tangan dan kaki harus selalu bersih dan kuku dipotong
secara berkala. Baju kanguru dan popok bayi harus bersih.

o Bayi diletakkan dalam dekapan ibu sedemikian rupa


sehinggga terjadi kontak langsung antara kulit ibu dan kulit
bayinya. Dengan demikian ibu tidak memakai BH agar
kontak terus menerus antara ibu dan bayi yang
mengakibatkan suhu bayi tetap optimal yakni pada suhu
36,500 C 37,500 C.
o Posisi bayi dalam keadaan tegak. Untuk menjaga
kenyamanan ibu dan bayi sedemikian rupa sehingga saat
ibu dalam posisi berdiri, bayi tegak, ibu dalam posisi duduk
bayi juga tegak. Begitu juga ibu dalam posisi berbaring,
bayi juga tegak berbaring sesuai posisi ibu.

o Bayi tetap mengenakan popok untuk tidak mengotori ibu


saat bayi BAB. Memakai topi agar tidak kedinginan. Jika
dihubungkan dengan program pemberian ASI metode ini
membantu bayi dekat dengan sumber ASI sehingga
frekuensi menyusui lebih sering.

HIPERTERMI

A. Pengertian

1. Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh meningkat melebihi suhu normal yaitu suhu
tubuhmencapai sekitar 37,8C per oral atau 38,8C per rectal secara terus
menerus disertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat
seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh atau dipengaruhi oleh
panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik). (blog Asuhan
Keperawatan.com).

2. Hipertermia adalah kondisi suhu tubuh tinggi karena kegagalan


termoregulasi.Hipertermia terjadi ketika tubuh menghasilkan atau menyerap lebih
banyak panas dari pada mengeluarkan panas. Ketika suhu tubuh cukup tinggi,
hipertermia menjadi keadaan darurat medis dan membutuhkan perawatan segera
untuk mencegah kecacatan dan kematian.
3. Hypertermia pada bayi adalah peningkatan suhu tubuh bayi lebih dari

37,5 C.

B. Tanda dan gejala

1. suhu tubuh bayi >37,5 C (panas)

2. Tanda dehidrasi, yaitu berat badan bayi turun, turgor kulit kurang, mata dan ubun
ubun besar cekung, lidah dan membran mukosa kering, banyaknya air kemih
berkurang.

3. Kulit memerah

4. Malas minum

5. Frekuensi nafas lebih dari 60x/menit

6. Denyut jantung lebih dari 160 x/menit

7. Letargi

8. Kedinginan,lemas

9. Bisa disertai kejang

C. Klasifikasi Hipertermia

1. Hipertermia yang disebabkan oleh peningkatan produksi panas

a. Hipertermia maligna

Hipertermia maligna biasanya dipicu oleh obat-obatan anesthesia.


Hipertermia ini merupakan miopati akibat mutasi gen yang diturunkan secara
autosomal dominan. Pada episode akut terjadi peningkatan kalsium intraselular
dalam otot rangka sehingga terjadi kekakuan otot dan hipertermia. Pusat pengatur
suhu di hipotalamus normal sehingga pemberian antipiretik tidak bemanfaat.

b. Exercise-Induced hyperthermia (EIH)


Hipertermia jenis ini dapat terjadi pada anak besar/remaja yang melakukan
aktivitas fisik intensif dan lama pada suhu cuaca yang panas. Pencegahan dilakukan
dengan pembatasan lama latihan fisik terutama bila dilakukan pada suhu 30 0C atau
lebih dengan kelembaban lebih dari 90%, pemberian minuman lebih sering (150 ml
air dingin tiap 30 menit), dan pemakaian pakaian yang berwarna terang, satu lapis,
dan berbahan menyerap keringat.

c. Endocrine Hyperthermia (EH)

Kondisi metabolic/endokrin yang menyebabkan hipertermia lebih jarang dijumpai


pada anak dibandingkan dengan pada dewasa. Kelainan endokrin yang sering
dihubungkan dengan hipertermia antara lain hipertiroidisme, diabetes mellitus,
phaeochromocytoma, insufisiensi adrenal dan Ethiocolanolone suatu steroid yang
diketahui sering berhubungan dengan demam (merangsang pembentukan pirogen
leukosit).

2. Hipertermia yang disebabkan oleh penurunan pelepasan panas.

a. Hipertermia neonatal

Peningkatan suhu tubuh secara cepat pada hari kedua dan ketiga kehidupan bisa
disebabkan oleh:

1) Dehidrasi

Dehidrasi pada masa ini sering disebabkan oleh kehilangan cairan atau
paparan oleh suhu kamar yang tinggi. Hipertermia jenis ini merupakan penyebab
kenaikan suhu ketiga setelah infeksi dan trauma lahir. Sebaiknya dibedakan antara
kenaikan suhu karena hipertermia dengan infeksi. Pada demam karena infeksi
biasanya didapatkan tanda lain dari infeksi seperti leukositosis/leucopenia, CRP
yang tinggi, tidak berespon baik dengan pemberian cairan, dan riwayat persalinan
prematur/resiko infeksi.

2) Overheating

Pemakaian alat-alat penghangat yang terlalu panas, atau bayi terpapar sinar
matahari langsung dalam waktu yang lama.
3) Trauma lahir

Hipertermia yang berhubungan dengan trauma lahir timbul pada 24%dari bayi
yang lahir dengan trauma. Suhu akan menurun pada1-3 hari tapi bisa juga menetap
dan menimbulkan komplikasi berupa kejang. Tatalaksana dasar hipertermia pada
neonatus termasuk menurunkan suhu bayi secara cepat dengan melepas semua
baju bayi dan memindahkan bayi ke tempat dengan suhu ruangan. Jika suhu tubuh
bayi lebih dari 390C dilakukan tepid sponged 350C sampai dengan suhu tubuh
mencapai 370C.

4) Heat stroke

Tanda umum heat stroke adalah suhu tubuh > 40.5 0C atau sedikit lebih
rendah, kulit teraba kering dan panas, kelainan susunan saraf pusat, takikardia,
aritmia, kadang terjadi perdarahan miokard, dan pada saluran cerna terjadi mual,
muntah, dan kram. Komplikasi yang bisa terjadi antara lain DIC, lisis eritrosit,
trombositopenia, hiperkalemia, gagal ginjal, dan perubahan gambaran EKG. Anak
dengan serangan heat stroke harus mendapatkan perawatan intensif di ICU, suhu
tubuh segera diturunkan (melepas baju dan sponging dengan air es sampai dengan
suhu tubuh 38,50 C kemudian anak segera dipindahkan ke atas tempat tidur lalu
dibungkus dengan selimut), membuka akses sirkulasi, dan memperbaiki gangguan
metabolic yang ada.

5) Haemorrhargic Shock and Encephalopathy (HSE)

Gambaran klinis mirip dengan heat stroke tetapi tidak ada riwayat
penyelimutan berlebihan, kekurangan cairan, dan suhu udara luar yang tinggi. HSE
diduga berhubungan dengan cacat genetic dalam produksi atau pelepasan serum
inhibitor alpha-1-trypsin. Kejadian HSE pada anak adalah antara umur 17 hari
sampai dengan 15 tahun (sebagian besar usia < 1 tahun dengan median usia 5
bulan). Pada umumnya HSE didahului oleh penyakit virus atau bakterial dengan
febris yang tidak tinggi dan sudah sembuh (misalnya infeksi saluran nafas akut atau
gastroenteritis dengan febris ringan). Pada 2 5 hari kemudian timbul syok berat,
ensefalopati sampai dengan kejang/koma, hipertermia (suhu > 41 0C), perdarahan
yang mengarah pada DIC, diare, dan dapat juga terjadi anemia berat yang
membutuhkan transfusi. Pada pemeriksaan fisik dapat timbul hepatomegali dan
asidosis dengan pernafasan dangkal diikuti gagal ginjal..Pada HSE tidak ada
tatalaksana khusus, tetapi pengobatan suportif seperti penanganan heat stroke dan
hipertermia maligna dapat diterapkan. Mortalitas kasus ini tinggi sekitar 80%
dengan gejala sisa neurologis yang berat pada kasus yang selamat. Hasil CT scan
dan otopsi menunjukkan perdarahan fokal pada berbagai organ dan edema serebri.

6) Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

Definisi SIDS adalah kematian bayi (usia 1-12 bulan) yang mendadak, tidak
diduga, dan tidak dapat dijelaskan. Kejadian yang mendahului sering berupa infeksi
saluran nafas akut dengan febris ringan yang tidak fatal. Hipertermia diduga kuat
berhubungan dengan SIDS. Angka kejadian tertinggi adalah pada bayi usia 2- 4
bulan. Hipotesis yang dikemukakan untuk menjelaskan kejadian ini adalah pada
beberapa bayi terjadi mal-development atau maturitas batang otak yang tertunda
sehingga berpengaruh terhadap pusat chemosensitivity, pengaturan pernafasan,
suhu, dan respons tekanan darah. Beberapa faktor resiko dikemukakan untuk
menjelaskan kerentanan bayi terhadap SIDS, tetapi yang terpenting adalah ibu
hamil perokok dan posisi tidur bayi tertelungkup. Hipertermia diduga berhubungan
dengan SIDS karenadapat menyebabkan hilangnya sensitivitas pusat pernafasan
sehingga berakhir dengan apnea.

D. Faktor Resiko

1. Kejang/ syok

D. Etiologi

Disebabkan oleh infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran
dari gangguan infeksi dan suhu lingkungan yang terlalu panas. Keadaan ini terjadi
bila bayi diletakkan di dekat api atau ruangan yang berudara panas.Selain itu,
dapat pula disebabkan gangguan otak atau akibat bahan toksik yang dapat
mempengaruhi pusat pengaturan suhu. Zat yang dapat menyebabkan efek
perangsangan terhadap pusat pengaturan suhu sehingga menyebabkan demam
disebut pirogen. Zat pirogen ini dapat berupa protein , pecahan protein dan zat lain
, terutama toksin polisakarida , yang dilepas oleh bakteri toksik / pirogen yang
dihasilkan dari degenerasi jaringan tubuh dapat menyebabkan demam selama
keadaan sakit.

1. Fase fase Terjadinya Hipertermi

a. Fase I : awal

1) Peningkatan denyut jantung


2) Peningkatan laju dan kedalaman pernapasan
3) Kulit pucat dan dingin karena vasokonstriksi
4) Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokonstriksi

5) Rambut kulit berdiri

6) Pengeluaran keringat berlebih

7) Peningkatan suhu tubuh

b. Fase II :

1) proses demam

2) Kulit terasa hangat / panas

3) Peningkatan nadi & laju pernapasan

4) Dehidrasi ringan sampai berat

5) Proses menggigil lenyap

6) Mengantuk , kejang akibat iritasi sel saraf

7) mulut kering

8) bayi Tidak mau minum

9) lemas

c. Fase III : pemulihan

1) Kulit tampak merah dan hangat


2) Berkeringat

3) Menggigil ringan

4) Kemungkinan mengalami dehidrasi

E. Penatalaksanaan

1. Letakkan bayi di ruangan dengan suhu lingkungan normal (25 C-28 C)

2. Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu

3. Perikasa suhu aksila setiap jam sampai tercapai suhu dalam batas normal

4. Bila suhu sangat tinggi (lebih dari 39 C), bayi dikompres atau dimandikan selama
10-15 menit dalam suhu air 4 C, lebih rendah dari suhu tubuh bayi. Jangan
menggunakan air dingin atau air yang suhunya lebih rendah dari 4 C dibawah suhu
bayi

5. memastikan bayi mendapat cairan adekuat

a. Izinkan bayi mulai menyusu


b. Jika terdapat tanda-tanda dehidrasi (mata atau fontanel cekung, kehilangan
elastisitas kulit, atau lidah atau membran mukosa kering)
1) Pasang slang IV dan berikan cairan IV dengan volume rumatan sesuai dengan usia
bayi
2) Tingkatkan volume cairan sebanyak 10% berat badan bayi pada hari pertama
dehidrasi terlihat
3) Ukur glukosa darah, jika glukosa darah kurang dari 45 mg/dl (2,6 mmol/l), atasi
glukosa darah yang rendah

6. Cari tanda sepsis

7. berikan antibiotik jaka terjadi infeksi

8. Setelah keadaan bayi normal :

a. Lakukan perawatan lanjutan

b. Pantau bayi selama 12 jamberikutnya, periksa suhu setiap 3 jam


9. Bila suhu tetap dalam batas normal dan bayi dapat minum dengan baik, serta tidak
ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat
dipulangkan dan Nasehati ibu cara menghangatkan bayi dirumah dan melindungi
dari pemancar panas yang berlebihan

G. Pencegahan Terhadap Hipertermia

1. Kesehatan lingkungan.

2. penyediaan air minum yang memenuhi syarat.

3. Pembuangan kotoran manusia pada tempatnya.

4. Pemberantasan lalat.

5. Pembuangan sampah pada tempatnya.

6. Pendidikan kesehatan pada masyarakat.

7. Pemberian imunisasi lengkap kepada bayi.

8. Makan makana yang bersih dan sehat

9. Jangan biasakan anak jajan diluar


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan:

Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus


bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau
dipengarhui oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik). Hipertermi
disebabkan oleh infeksi, suhu lingkungan yang terlalu panas atau campuran dari
gangguan infeksi dan suhu lingkungan yang terlalu panas.Untuk pencegahan
hipertermi bisa dengan cara slalu menjaga kesehatan lingkungan, penyediaan air
minum yan memenuhu syarat,pembuangan kotora manusia pada
tempatnya,pemberantasan lalat , pembuangan sampah pada tempatnya,
pendidikan kesehatan pada masyarakat, pemberian iminisasi lengkap pada
bayi,makan-makanam yang bersih dan sehat,makan- makan yang bersih dan sehat.

B. Saran

Saran-sara yang kami sampaikan sehubungan dengan tulisan makalah ini


sebagai berikut :

Hipertermi bukankah suatu penyakit yang ringan tetapi hipertermi


merupakan salah satu penyakit dengan faktor resiko tinggi khususnya pada
bayi.Untuk itu di sini bidan harus tanggap terhadap gejala dan keluhan apa yang
dikeluhkan klien nantinya.Karena apabila hipertermi tidak segera ditangani akan
menjadi kejang dan bisa mengakibatkan kematian khususnya pada bayi. Selain itu
bidan harus turun tangan untuk memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai hipertermi mulai dari gejala maupun tanda kemudian cara mengatasinya
serta pencegahan terhadap hipertermi.

DAFTAR PUSTAKA

Habel, A.1990, Ilmu Penyakit Anak , Bina Rupa Aksara, Jakarta.

Kemala, P., ar., 1998, Kamus Suku Kedokteran Dorlan, Penerbit Buku Keokteran EGC,
Jakarta.

Sudarti dan Afroh Fauzan. 2012, Asuhan Kebidanan Neonatus, Bayi, dan Anak Balita.
Nuha Medika. Yogyakarta.

http://www.Ibu dan Balita.net/info/makalah-Hipertermia - lengkap.html

http://alamsyah.web.id/news/makalah-asuhan-kebidanan-pada-bayi-dengan-
Hipertermia.

HIPOGLIKEMIA
Pengertian Hipoglikemia

Hipoglikemia adalah suatu keadaan dimana kadar gula darah (glukosa) secara abnormal rendah.
Istilah hipoglikemia digunakan bila kadar gula darah bayi secara bermakna dibawah kadar rata-
rata. Dikatakan hepoglikemia bila kadar glukosa darah kurang dari 30 mg/dl pada semua
neonatus tanpa menilai masa gestasi atau ada tidaknya gejala hepoglikemia. Umumnya
hepoglikemia terjadi pada neonatus umur 12 jam. Hal ini disebabkan oleh karena bayi tidak
mendapatkan lagi glukosa dari ibu, sedangkan insulin plasma masih tinggi dengan kadar glukosa
darah yang menurun.

Hipoglikemia merupakan konsentrasi glukosa dalam darah berkurangnya secara abnormal yang
dapat menimbulkan gemetaran, keringat dan sakit kepala apabila kronik dan berat, dapat
menyebabkan manifestasi susunan saraf pusat (Kamus Kedokteran Dorland:2000).

Hipoglikemia neonatorum adalah masalah pada bayi dengan kadar glukosa darah kurang dari 40
-45mg/dl (Sudarti dkk: 2010).

Keadaan dimana bila kadar gula darah bayi di bawah kadar rata-rata bayi seusia dan berat badan
aterm (2500 gr atau lebih) < 30mg/dl dalam 72 jam pertama, dan < 40mg/dl pada hari
berikutnya.

Sel otak tidak mampu hidup jika kekurangan glukose. Hypoglikemi dapat terjadi berkaitan
dengan banyak penyakit, misalnya pada neonatus dengan ibu diabetes dan mengalami
Hyperglikemi in utero, atau sebagai komplikasi cidera dingin. Selama masa menggigil simpanan
glikogen tubuh tidak mencukupi, tetapi jika dihangatkan terjadi peningkatan kebutuhan glikogen.
Simpanan glikogen menurun dan cadangan tidak dapat memenuhi kebutuhan pada pemanasan.

Nilai kadar glukose darah/plasma atau serum untuk diagnosis Hipoglikemia pada berbagai
kelompok umur anak :

Kelompok Umur Glokuse <mg/dl Darah Plasma/serum

Bayi/anak

Neonatus <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml

* BBLR <20 mg/100 ml <25 mg/100 ml

* BCB <30 mg/100 ml <35 mg/100 ml

0 3 hr <40 mg/100 ml <45 mg/100 ml

3 hr

Hipoglikemia pada neonates :

1. Untuk setiap neonatus manapun, kadar glukosa <40-45mg/dL dianggap tidak


normal.

2. Menurut WHO hipoglikemi adalah bila kadar glukosa/gula darah <47 mg/dL
3. Gejala sering tidak jelas/asimptomatik, semua tenaga kesehatan perlu
mewaspadai kemungkinan adanya hipoglikemia.

4. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat mencegah konsekuensi


yang serius

Etiologi Hipoglikemia

Secara garis besar hipoglikemia dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu: kelainan yang
menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan dan produksi glukosa kurang.

1. Kelainan yang menyebabkan pemakaian glukosa berlebihan.

Hiperinsulinisme (bayi dari ibu penderita diabetes), hipoglikemia hiperinsulinisme menetap pada
bayi, tumor yang memproduksi insulin dan child abuse. Hiperinsulinisme menyebabkan
pemakaian glukosa yang berlebihan terutama akibat rangsangan penggunaan glukosa oleh otot
akibat sekresi insulin yang menetap. Kelainan ini diketahui sebagai hipoglikemia hiperinsulin
endogen menetap pada bayi yang sebelumnya disebut sebagai nesidioblastosis.

Defek pada pelepasan glukosa (defek siklus Krebs, defek respiratory chain). Kelainan ini
sangat jarang, mengganggu pembentukan ATP dari oksidasi glukosa, disini kadar laktat sangat
tinggi.

Defek pada produksi energi alternatif (defisiensi Carnitine acyl transferase. Kelainan ini
mengganggu penggunaan lemak sebagai energi, sehingga tubuh sangat tergantung hanya pada
glukosa. Ini akan menyebabkan masalah bila puasa dalam jangka lama yang seringkali
berhubungan dengan penyakit gastrointestinal. Sepsis atau penyakit dengan hipermetabolik,
termasuk hipertiroidism.

2. Kelainan yang menyebabkan kurangnya produksi glukosa

3. Simpanan glukosa tidak adekuat (prematur, bayi SGA, malnutrisi,


hipoglikemia ketotik).

Kelainan ini sering sebagai penyebab hipoglikemia, disamping hipoglikemia akibat pemberian
insulin pada diabetes. Hal ini dapat dibedakan dengan melihat keadaan klinis dan adanya
hipoglikemia ketotik, biasanya terjadi pada anak yang kurus, usia antara 18 bulan sampai 6
tahun, biasanya terjadi akibat masukan makanan yang terganggu karena bermacam sebab
Penelitian terakhir mekanisme yang mendasari hipoglikemia ketotik adalah gagalnya
glukoneogenesis.

1. Kelainan pada produksi glukosa hepar.


Kelainan ini menurunkan produksi glukosa melalui berbagai defek, termasuk blokade pada
pelepasan dan sintesis glukosa, atau blokade atau menghambat gluikoneogenesis. Anak yang
menderita penyakit ini akan dapat beradaptasi terhadap hipoglikemia,karena penyakitnya bersifat
kronik Kelainan hormonal (panhypopituitarisme, defisiensi hormon pertumbuhan)

1. Defisiensi kortisol dapat primer atau sekunder.

Hal ini karena hormone pertumbuhan dan kortisol berperan penting pada pembentukan energi
alternative dan merangsang produksi glukosa. Kelainan ini mudah diobati namun yang sangat
penting adalah diagnosis dini.

Patofisiologi Hipoglikemia

Hipoglikemi sering terjadi pada berat lahir rendah (BBLR), karena cadangan glukosa rendah.
Pada ibu diabetes mellitus (DM) terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga
respons insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir dimana jalur plasenta terputus maka
transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism)
sehingga terjadi hipoglikemi.

Hipoglikemi adalah masalah serius pada bayi baru lahir, karena dapat menimbulkan kejang yang
berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan
pada susunan syaraf pusat bahkan sampai kematian. Kejadian hipoglikemi lebih sering didapat
pada bayi dari ibu dengan diabetes mellitus. Glukosa merupakan sumber kalori yang penting
untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.

Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan
penggunaan cadangan glukosa, misalnya pada asfiksia, hipotermi, gangguan pernafasan.

Tanda dan Gejala Hipoglikemia

Hipoglikemia bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan
dan selalu antisipasi hipoglikemia pada neonatus dengan faktor risiko :

1. Tremor

2. Sianosis

3. Apatis

4. Kejang

5. Apnea intermitten

6. Tangisan lemah/melengking
7. Letargi

8. Kesulitan minum

9. Gerakan mata berputar/nistagmus

10.Keringat dingin

11.Pucat

12.Hipotermi

13.Refleks hisap kurang

14.Muntah

Saat timbulnya gejala bervariasi dari beberapa hari sampai satu minggu setelah lahir. Berikut ini
merupakan gejala klinis yang dimulai dengan frekuensi tersering, yaitu gemetar atau tremor,
serangan sianosis, apati, kejang, serangan apnea intermiten atau takipnea, tangis yang melemah
atau melengking, kelumpuhan atau letargi, kesulitan minum dan terdapat gerakan putar mata.
Dapat pula timbul keringat dingin, pucat, hipotermia, gagal jantung dan henti jantung. Sering
berbagai gejala timbul bersama-sama. Karena gejala klinis tersebut dapat disebabkan oleh
bermacam-macam sebab, maka bila gejala tidak menghilang setelah pemberian glukosa yang
adekuat, perlu dipikirkan penyebab lain.

Diagnosis Hipoglikemia

Presentasi klinis hipoglikemia mencerminkan penurunan ketersediaan glukosa untuk SSP serta
stimulasi adrenergik disebabkan oleh tingkat darah menurun atau rendah gula. Selama hari
pertama atau kedua kehidupan, gejala bervariasi dari asimtomatik ke SSP dan gangguan
cardiopulmonary. Kelompok berisiko tinggi yang membutuhkan skrining untuk hipoglikemia
pada satu jam pertama kehidupan meliputi:

1. Bayi yang baru lahir yang beratnya lebih dari 4000 gr atau kurang dari 2000
gr

2. Besar usia kehamilan (LGA) bayi yang berada di atas persentil ke-90, kecil
untuk usia kehamilan (SGA) bayi di bawah persentil ke-10, dan bayi dengan
pembatasan pertumbuhan intrauterin

3. Bayi yang lahir dari ibu tergantung insulin (1:1000 wanita hamil) atau ibu
dengan diabetes gestasional (terjadi pada 2% dari wanita hamil)

4. Usia kehamilan kurang dari 37 minggu


5. Bayi yang baru lahir diduga sepsis atau lahir dari seorang ibu yang diduga
menderita korioamnionitis

6. Bayi yang baru lahir dengan gejala sugestif hipoglikemia, termasuk


jitteriness, tachypnea, hypotonia, makan yang buruk, apnea, ketidakstabilan
temperatur, kejang, dan kelesuan

7. Selain itu, pertimbangkan skrining hipoglikemia pada bayi dengan hipoksia


yang signifikan, gangguan perinatal, nilai Apgar 5 menit kurang dari 5,
terisolasi hepatomegali (mungkin glikogen-penyimpanan penyakit),
mikrosefali, cacat garis tengah anterior, gigantisme, Makroglosia atau
hemihypertrophy (mungkin Beckwith-Wiedemann Syndrome), atau
kemungkinan kesalahan metabolisme bawaan atau ibunya ada di terbutalin,
beta blocker, atau agen hipoglikemik oral

8. Terjadinya hiperinsulinemia adalah dari lahir sampai usia 18 bulan.


Konsentrasi insulin yang tidak tepat meningkat pada saat hipoglikemia
didokumentasikan. Hiperinsulinisme neonatal Transient terjadi pada bayi
makrosomia dari ibu diabetes (yang telah berkurang sekresi glukagon dan
siapa produksi glukosa endogen secara signifikan dihambat). Secara klinis,
bayi ini makrosomia dan memiliki tuntutan yang semakin meningkat untuk
makan, lesu intermiten, jitteriness, dan kejang.

Penatalaksanaan Hipoglikemi

Semua neonatus berisiko tinggi harus ditapis:

1. Pada saat lahir

2. 30 menit setelah lahir

3. Kemudian setiap 2-4 jam selama 48 jam atau sampai pemberian minum
berjalan baik dan kadar glukosa normal tercapai

Kejadian hipoglikemia dapat dicegah dengan:

1. Menghindari faktor resiko yang dapat dicegah, contohnya hipotermia

2. Pemberian makan enteral merupakan tindakan preventif tunggal paling


penting

3. Jika bayi tidak mungkin menyusu, mulailah pemberian minum dengan


menggunakan sonde dalam waktu 1-3 jam setelah lahir

4. Neonatus yang berisiko tinggi harus dipantau nilai glukosanya sampai


asupannya penuh dan 3x pengukuran normal sebelum pemberian minum
berada diatas 45 mg/dL
5. Jika ini gagal, terapi intravena dengan glukosa 10% harus dimulai dan kadar
glukosa dipantau

Untuk penanganan bayi yang mengalami hiplogikemia dapat dilakukan dengan:

1. Monitor

Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari
pertama :

1. Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam

2. Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal
dalam 2 kali pemeriksaan

3. Kadar glukosa 45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia

4. Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan


hipoglikemia selesai

2. Penanganan hipoglikemia dengan gejala :

1. Bolus glukosa 10% 2 ml/kg pelan-pelan dengan kecepatan 1 ml/menit

2. Pasang dekstrosa 10% = 2 cc/kg dan diberikan melalui intravena


selama 5 menit dan diulang sesuai kebutuhan (kebutuhan infus
glukosa 6-8 mg/kg/menit).

Contoh : BB 3 kg, kebutuhan glukosa 3 kg x 6 mg/kg/mnt = 18 mg/mnt = 25920 mg/hari. Bila


dipakai D 10% artinya 10 g/100cc, bila perlu 25920 mg/hari atau 25,9 g/hari berarti perlu 25,9 g/
10 g x 100 cc= 259 cc D 10% /hari.

Atau cara lain dengan GIR

Konsentrasi glukosa tertinggi untuk infus perifer adalah 12,5%, bila lebih dari 12,5% digunakan
vena sentral.

1. Periksa glukosa darah pada : 1 jam setelah bolus dan tiap 3 jam

2. Bila kadar glukosa masih < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala, ulangi
seperti diatas

3. Bila kadar 25-45 mg/dl, tanpa gejala klinis :

Infus D10 diteruskan


Periksa kadar glukosa tiap 3 jam

ASI diberikan bila bayi dapat minum

1. Bila kadar glukosa 45 mg/dl dalam 2 kali pemeriksaan

Ikuti petunjuk bila kadar glukosa sudah normal

ASI diberikan bila bayi dapat minum dan jumlah infus diturunkan pelan-pelan

Jangan menghentikan infus secara tiba-tiba

3. Kadar glukosa darah < 45 mg/dl tanpa gejala:

4. ASI teruskan

5. Pantau, bila ada gejala manajemen seperti diatas

6. Periksa kadar glukosa tiap 3 jam atau sebelum minum, bila :

Kadar < 25 mg/dl, dengan atau tanpa gejala tangani hipoglikemi

Kadar 25-45 mg/dl naikkan frekwensi minum

Kadar 45 mg/dl manajemen sebagai kadar glukosa normal

4. Kadar glukosa normal

5. IV teruskan

6. Periksa kadar glukosa tiap 12 jam

7. Bila kadar glukosa turun, atasi seperti diatas

8. Bila bayi sudah tidak mendapat IV, periksa kadar glukosa tiap 12 jam, bila 2
kali pemeriksaan dalam batas normal, pengukuran dihentikan.

9. Persisten hipoglikemia (hipoglikemia lebih dari 7 hari)

10.Konsultasi endokrin

11.Terapi: kortikosteroid hidrokortison 5 mg/kg/hari 2 x/hari iv atau prednison 2


mg/kg/hari per oral, mencari kausa hipoglikemia lebih dalam.

12.Bila masih hipoglikemia dapat ditambahkan obat lain: somatostatin,


glukagon, diazoxide, human growth hormon, pembedahan. (jarang dilakukan)

13.Hipoglikemia refraktori
Kebutuhan glukosa >12 mg/kg/menit menunjukan adanya hiperinsulinisme. Keadaan ini dapat
diperbaiki dengan:

1. Hidrokortison 5 mg/kg IV atau IM setiap 12 jam

2. Glukagon 200 ug IV (segera atau infus berkesinambungan 10 ug/kg/jam)

3. Diazoxide 10 mg/kg/hari setiap 8 jam menghambat sekresi insulin pankreas

Pemantauan glukosa ditempat tidur (bed side) secara sering diperlukan untuk memastikan bahwa
neonatus mendapatkan glukosa yang memadai. Ketika pemberian makan telah dapat ditoleransi
dan nilai pemantauan glukosa di tempat tidur (bed side) sudah normal maka infus dapat
diturunkan secara bertahap. Tindakan ini mungkin memerlukan waktu 24 -48 jam atau lebih
untuk menghindari kambuhnya hipoglikemia

Prognosis Hipoglikemia

Jika tidak diobati, hipoglikemia yang berat dan berkepanjangan dapat menyebabkan kematian
pada setiap golongan umur. Pada neonatus prognosis tergantung dari berat, lama, adanya gejala-
gejala klinik dan kelainan patologik yang menyertainya, demikian pula etiologi, diagnosis dini
dan pengobatan yang adekuat.

Berdasarkan tingkat beratnya hipoglikemia neonatus dapat digolongkan:

1. Hipoglikemia transisional

Prognosisnya baik dan tergantung kepada kelainan yang mendasarinya misal : asfiksia perinatal.
Tidak ada korelasi antara rendahnya kadar gula dengan mortalitas/morbiditas bayi. Kebanyakan
bayi tetap hidup walaupun dengan kadar gula 20 mg/100 ml.

2. Hipoglikemia sekunder

Mortalitas neonatus pada kelompok ini disebabkan oleh kelainan yang menyertainya. Bayi yang
menderita Hipoglikemia tipe ini, sedikit menderita sekuele akibat Hipoglikemianya, tetapi lebih
banyak akibat kelainan patologik yang menyertainya.

3. Hipoglikemia transien

Bayi yang termasuk dalam kelompok ini bila tidak diobati akan mati. Bayi-bayi tersebut
seringkali pada BBLR dan KMK yang bisa disertai dengan komplikasi akibat BBLR dan KMK
sendiri, demikian pula masalah-masalah perinatal yang bisa menyebabkan ganggguan mental,
perilaku dan kejang-kejang yang tidak ada hubungannya dengan hipoglikemia.
Pada penelitian prospektif dengan menggunakan kontrol, bayi-bayi kelompok ini yang diamati
sampai umur 7 tahun ternyata terdapat gangguan intelektual yang minimal, tetapi tidak ada cacat
nerologik yang berat.

4. Hipoglikemia berat (berulang)

Kelompok ini bisa dibagi atas beberapa katagori yang masing-masing mempunyai masalah
tersendiri yang mempengaruhi prognosisnya.

1. Defisiensi hormon multipel (hipopituitarisme bawaan).

Sering kali disertai Hipoglikemia berat bahkan fatal pada hari-hari pertama, nampaknya akibat
defisiensi hormon hipofise anterior. Dari 26 kasus yang dilaporkan 2/3 meninggal (5 pada hari
pertama, 4 pada masa neonatus dan 5 antara umur 2 bulan sampai 17 tahun). Beberapa di
antaranya yang hidup menunjukkan gejala retardasi.

Prognosis terhadap perkembangannya tergantung dari adanya defisiensi hormon-hormon lainnya


dan berhasilnya pengobatan substitusi.

1. Kelebihan hormon (hiperinsulinisme)

Pada sindroma Beckwith Wiedemann, retardasi mental kemungkinan disebabkan oleh H yang
tidak diobati, meskipun dengan pengobatan adekuat prognosis masih meragukan, sebab adanya
anomali multipel yang menyertainya.

1. Infant giants (Foetopathia Diabetica) :

Biasanya memperlihatkan hipoglikemia berat dan tidak ada respon terhadap pengobatan
medikamentosadan memerlukan pankreatektomi total. Mereka yang hidupo biasanya
memperlihatkan retardasi perkembangan yang sedang atau berat.

1. Adenma sel beta :

Pada penderita yang diamati, bayi-bayi yang hidup menunjukkan perawakan yang relatif pendek
tetapi ada yang menderita diabetes dan beberapa diantaranya memperlihatkan gangguan
neurologik sedang atau berat, gangguan mental dan sering kali dengan kejang-kejang. Maka,
penting diagnosis dini dan tindakan bedah yang segera.

1. Gangguan metabolisme hidrat arang:

Prognosis tergantung darimana masing-masing penyebabnya, misalnya hipoglikemia bisa fatal


pada hari pertama, untuk glycogen strorage disease.
1. Gangguan metabolisme asam amino yang disertai hipoglikemia, misalnya:
Maple syrup urine disease, asidemiametilmalok. Masing-masing mempunyai
pragnosis yang meragukan.

Komplikasi Hipoglikemi

1. Hipoksi otak/ kerusakan otak

2. Kerusakan sistem syaraf pusat/ koma

3. Kematian

DAFTAR PUSTAKA

http://growupclinic.com/2012/08/10/penanganan-terkini-hipoglikemia-pada-bayi/. Diakses
tanggal 27 November 2013. Jam 20.00

http://www.nbci.ca/index.php?option=com_content&view=article&id=371:hypoglycaemia-of-
the-newborn-low-blood-sugar&catid=29:information-indonesian&Itemid=67. Diakses 27
November 2013. Jam 20.10

http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/03/02/hipoglikemia/. Diakses 27 November 2013. Jam


20.30

M Sacharin, Rosa. 1986. Prinsip Keperawatan Pediatrik., Jakarta: EGC.

Markun. AH.1999. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak. Jilid 1. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

Masjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapus.

Nelson Waldo E. 2000. Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 15. Volume 1. Jakarta : EGC

Saifudin, Abdul Bari, 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardj

LAPORAN PENDAHULUAN: HIPERBILIRUBIN PADA


NEONATUS
I. DEFINISI
Menurut Slusher (2013) Hiperbilirubin merupakan suatu kondisi di mana
produksi bilirurin yang berlebihan di dalam darah. Menurut Lubis (2013),
Hiperbilirubinemia merupakan salah satu fenomena klinis tersering ditemukan pada
bayi baru lahir, dapat disebabkan oleh proses fisiologis, atau patologis, atau
kombinasi keduanya.
Ikterus neonatorum adalah suatu keadaan pada bayi baru lahir dimana
kadar bilirubin serum total lebih dari 10 mg% pada minggu pertama dengan
ditandai adanya ikterus yang bersifat patologis (Alimun,H,A : 2005). Jadi, dari
beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa hiperbilirubin merupakan
suatu kondisi di mana kadar bilirubin yang berlebihan dalam darah yang biasa
terjadi pada neonatus baik secara fisologis, patologis maupun keduanya.

II. DERAJAT HIPERBILIRUBIN MENURUT KRAMER

RATA-RATA SERUM
ZONA BAGIANs TUBUH
INDIREK (Umol/L)

1 Kepala sampai leher 100

2 Kepala, leher, sampai umbilikus 150

3 Kepala, leher, pusar sampai paha 200

4 Lengan + tungkai 250

5 Kepala sampai ke tumit kaki >250

(Sumber : Pengantar Ilmu Kesehatan Anak I, 2005)


III. KLASIFIKASI
1. Ikterus Fisiologis.

Ikterus fisiologik adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan ketiga yang
tidak mempunyai dasar patologis, kadarnya tidak melewati kadar yang
membahayakan atau mempunyai potensi menjadi kernicterus dan tidak
menyebabkan suatu morbiditas pada bayi. Ikterus patologik adalah ikterus yang
mempunyai dasar patologis atau kadar bilirubinnya mencapai suatu nilai yang
disebut hiperbilirubin.

Ikterus pada neonatus tidak selamanya patologis. Ikterus fisiologis adalah


ikterus yang memiliki karakteristik sebagai berikut menurut (Hanifah, 1987), dan
(Callhon, 1996), (Tarigan, 2003) dalam (Schwats, 2005):
a) Timbul pada hari kedua - ketiga.
b) Kadar bilirubin indirek setelah 2x24 jam tidak melewati 15 mg% pada neonatus
cukup bulan dan 10 mg% pada kurang bulan.
c) Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5 mg% perhari.
d) Kadar bilirubin direk kurang dari 1 mg%.
e) Ikterus hilang pada 10 hari pertama.
f) Tidak mempunyai dasar patologis; tidak terbukti mempunyai hubungan dengan
keadaan patologis tertentu.
g) Ikterus yang kemungkinan menjadi patologis atau hiperbilirubinemia dengan
karakteristik sebagai berikut Menurut (Surasmi, 2003) bila:
Ikterus terjadi pada 24 jam pertama sesudah kelahiran.
Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau > setiap 24 jam.
Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonatus < bulan dan 12,5 mg
% pada neonatus cukup bulan.
Ikterus disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan
sepsis).
Ikterus disertai berat lahir < 2000 gr, masa gestasi < 36 minggu, asfiksia, hipoksia,
sindrom gangguan pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas
darah.
2. Ikterus Patologis/Hiperbilirubinemia.

Menurut (Tarigan, 2003) adalah suatu keadaan dimana kadar konsentrasi


bilirubin dalam darah mencapai suatu nilai yang mempunyai potensi untuk
menimbulkan kern ikterus kalau tidak ditanggulangi dengan baik, atau mempunyai
hubungan dengan keadaan yang patologis. Brown menetapkan hiperbilirubinemia
bila kadar bilirubin mencapai 12 mg% pada cukup bulan, dan 15 mg% pada bayi
kurang bulan. Utelly menetapkan 10 mg% dan 15 mg%.

(Sumber: Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I, 2005)


IV. ETIOLOGI

Peningkatan kadar bilirubin dalam darah tersebut dapat terjadi karena keadaan
sebagai berikut;

1. Polychetemia (Peningkatan jumlah sel darah merah)


2. Isoimmun Hemolytic Disease
3. Kelainan struktur dan enzim sel darah merah
4. Keracunan obat (hemolisis kimia; salisilat, kortikosteroid, kloramfenikol)
5. Hemolisis ekstravaskuler
6. Cephalhematoma
7. Ecchymosis
8. Gangguan fungsi hati; defisiensi glukoronil transferase, obstruksi empedu (atresia
biliari), infeksi, masalah metabolik galaktosemia, hipotiroid jaundice ASI
9. Adanya komplikasi; asfiksia, hipotermi, hipoglikemi. Menurunnya ikatan albumin;
lahir prematur, asidosis.
(Sumber: IDAI, 2011)
V. TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala yang jelas pada anak yang menderita hiperbilirubin adalah;

1. Tampak ikterus pada sklera, kuku atau kulit dan membran mukosa.
2. Jaundice yang tampak dalam 24 jam pertama disebabkan oleh penyakit hemolitik
pada bayi baru lahir, sepsis, atau ibu dengan diabetik atau infeksi.
3. Jaundice yang tampak pada hari ke dua atau hari ke tiga, dan mencapai puncak
pada hari ke tiga sampai hari ke empat dan menurun pada hari ke lima sampai hari
ke tujuh yang biasanya merupakan jaundice fisiologis.
4. Ikterus adalah akibat pengendapan bilirubin indirek pada kulit yang cenderung
tampak kuning terang atau orange, ikterus pada tipe obstruksi (bilirubin direk) kulit
tampak berwarna kuning kehijauan atau keruh. Perbedaan ini hanya dapat dilihat
pada ikterus yang berat.
5. Muntah, anoksia, fatigue, warna urin gelap dan warna tinja pucat, seperti dempul
6. Perut membuncit dan pembesaran pada hati
7. Pada permulaan tidak jelas, yang tampak mata berputar-putar
8. Letargik (lemas), kejang, tidak mau menghisap
9. Dapat tuli, gangguan bicara dan retardasi mental
10. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat disertai spasme otot, epistotonus,
kejang, stenosis yang disertai ketegangan otot.
(Sumber: Fundamental Keperawatan, 2005)

VI. PATOFISIOLOGI

Bilirubin adalah produk pemecahan hemoglobin yang berasal dari


pengrusakan sel darah merah/RBCs. Ketika RBCs rusak maka produknya kan masuk
sirkulasi, diimana hemoglobin pecah menjadi heme dan globin. Gloobin {protein}
digunakan kembali oleh tubuh sedangkan heme akan diruah menjadi bilirubin
unkonjugata dan berikatan dengan albumin.

Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan


bebab bilirubin pada streptucocus hepar yang terlalu berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit, polisitemia,
memendeknya umur eritrosit janin/bayi, meningkatnya bilirubin dari sumber lain,
atau terdapatnya peningkatan sirkulasi enterohepatik.

Gangguan ambilan bilirubin plasma terjadi apabila kadar protein-Z dan


protein-Y terikat oleh anion lain, misalnya pada bayi dengan asidosis atau dengan
anoksia/hipoksia, ditentukan gangguan konjugasi hepar (defisiensi enzim glukuronii
transferase) atau bayi menderita gangguan ekskresi, misalnya penderita hepatitis
neonatal atau sumbatan saluran empedu intra/ekstra hepatika.

Pada derajat tertentu, bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusakan
jaringan otak. Toksisitas ini terutama ditemukan pada bilirubin indirek. Sifat indirek
ini yang memungkinkan efek patologik pada sel otak apabila bilirubin tadi dapat
menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak ini disebut
kernikterus atau ensefalopati biliaris.

Mudah tidaknya bilirubin melalui sawar darah otak ternyata tidak hanya
tergantung dari tingginya kadar bilirubin tetapi tergantung pula pada keadaan
neonatus sendiri. Bilirubin indirek akan mudah melalui sawar darah otak apabila
pada bayi terdapat keadaan imaturitas. Berat lahir rendah, hipoksia, hiperkarbia,
hipoglikemia dan kelainan susunan saraf pusat yang karena trauma atau infeksi.

Peningkatan kadar Bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa keadaan.


Kejadian yang sering ditemukan adalah apabila terdapat penambahan beban
Bilirubin pada sel Hepar yang berlebihan. Hal ini dapat ditemukan bila terdapat
peningkatan penghancuran Eritrosit, Polisitemia. Gangguan pemecahan Bilirubin
plasma juga dapat menimbulkan peningkatan kadar Bilirubin tubuh. Hal ini dapat
terjadi apabila kadar protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis.

Keadaan lain yang memperlihatkan peningkatan kadar Bilirubin adalah


apabila ditemukan gangguan konjugasi Hepar atau neonatus yang mengalami
gangguan ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu. Pada derajat tertentu
Bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak jaringan tubuh. Toksisitas terutama
ditemukan pada Bilirubin Indirek yang bersifat sukar larut dalam air tapi mudah
larut dalam lemak. sifat ini memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak
apabila Bilirubin tadi dapat menembus sawar darah otak. Kelainan yang terjadi
pada otak disebut kernikterus.
Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada saraf pusat tersebut
mungkin akan timbul apabila kadar Bilirubin Indirek lebih dari 20 mg/dl. Mudah
tidaknya kadar Bilirubin melewati sawar darah otak ternyata tidak hanya tergantung
pada keadaan neonatus. Bilirubin Indirek akan mudah melalui sawar darah otak
apabila bayi terdapat keadaan BBLR , hipoksia, dan hipoglikemia.

(Sumber: IDAI,2011)
VII. PATHWAY

(Sumber: Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I, 2005)


VIII. KOMPLIKASI
1. Bilirubin encephahalopathi
2. Kernikterus ;kerusakan neurologis ; cerebral palis, retardasi mental, hyperaktif,
bicara lambat, tidak ada koordinat otot dan tangisan yang melengking.
3. Asfiksia
4. Hipotermi
5. Hipoglikemi
(Sumber: Fundamental Keperawatan, 2005)
IX. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. Laboratorium (Pemeriksan Darah)
a) Pemeriksaan billirubin serum. Pada bayi prematur kadar billirubin lebih dari 14
mg/dl dan bayi cukup bulan kadar billirubin 10 mg/dl merupakan keadaan yang
tidak fisiologis.
b) Hb, HCT, Hitung Darah Lengkap.
c) Protein serum total.
2. USG, untuk mengevaluasi anatomi cabang kantong empedu.
3. Radioisotop Scan, dapat digunakan untuk membantu membedakan hapatitis dan
atresia billiari.
(Sumber: Fundamental Keperawatan, 2005)
X. PENATALAKSANAAN
1. Pengawasan antenatal dengan baik dan pemberian makanan sejak dini (pemberian
ASI).
2. Menghindari obat yang meningkatakan ikterus pada masa kelahiran, misalnya sulfa
furokolin.
3. Pencegahan dan pengobatan hipoksin pada neonatus dan janin.
4. Fenobarbital
Fenobarbital dapat mengeksresi billirubin dalam hati dan memperbesar konjugasi.
Meningkatkan sintesis hepatik glukoronil transferase yang mana dapat
meningkatkan billirubin konjugasi dan clereance hepatik pigmen dalam empedu.
Fenobarbital tidak begitu sering digunakan.
5. Antibiotik, bila terkait dengan infeksi.
6. Fototerapi
Fototerapi dilakukan apabila telah ditegakkan hiperbillirubin patologis dan berfungsi
untuk menurunkan billirubin dikulit melalui tinja dan urine dengan oksidasi foto
pada billirubin dari billiverdin.
7. Transfusi tukar.
Transfusi tukar dilakukan bila sudah tidak dapat ditangani dengan foto terapi.
(Sumber: IDAI, 2011)
XI. ASUHAN KEPERAWATAN (Sumber: NANDA NOC NIC, 2012)
A. PENGKAJIAN
1. Aktivitas / Istirahat

Letargi, malas.

2. Sirkulasi

a. Mungkin pucat, menandakan anemia

b. Bertempat tinggal di atas ketinggian 500 ft

3. Eliminasi
a. Bising usus hipoaktif

b. Pasase mekonium mungkin lambat

c. Feses mungkin lunak / coklat kehijauan selama pengeluaran bilirubin

d. Urine gelap pekat; hitam kecoklatan (sindroma bayi bronze)

4. Makanan / Cairan

a. Riwayat pelambatan / makan oral buruk, lebih mungkin disusui dari pada menyusu
botol

b. Palpasi abdomen dapat menunjukkan pembesaran limpa, hepar

5. Neurosensori

a. Sefalohematoma besar mungkin terlihat pada satu atau kedua tulang parietal yang
berhubungan dengan trauma kelahiran / kelahiran ekstraksi vakum.

b. Edema umum, hepatosplenomegali, atau hidrops fetalis mungkin ada dengan


inkompatibilitas Rh berat.

c. Kehilangan reflex Moro mungkin terlihat.

d. Opistotonus dengan kekuatan lengung punggung, fontanel menonjol, menangis


lirih, aktivitas kejang (tahap krisis).

6. Pernapasan

a. Riwayat asfiksia.

b. Krekels, mucus bercak merah muda (edema pleura, hemoragi pulmonal)

7. Keamanan

a. Riwayat positif infeksi/sepsis neonates.

b. Dapat mengalami ekimosis berlebihan, petekie, perdarahan intra cranial


c. Dapat tampak ikterik pada awalnya pada wajah dan berlanjut pada bagian distal
tubuh; kulit hitam kecoklatan (sindrom bayi bronze) sebagai efek samping
fototerapi.

8. Seksualitas

a. Mungkin praterm, bayi kecil untuk usia gestasi (SGA), bayi dengan reterdasi
pertumbuhan intrauterus (IUGR), atau bayi besar untuk usia gestasi (LGA), seperti
bayi dengan ibudiabetes.

b. Trauma kelahiran dapat terjadi berkenaan dengan stress dingin, asfiksia, hipoksia,
asidosis, hipoglikemia, hipoproteinemia.

c. Terjadi lebih sering pada bayi pria dari pada bayi wanita.

B. DIAGNOSA
1. Resiko tinggi cedera b.d. meningkatnya kadar bilirubin toksik dan komplikasi
berkenaan phototerapi.
2. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi
3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi
4. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan menelan

C. NURSING CARE PLAN

DIAGNOSA NOC NIC RASIONAL

Resiko Setelah di lakukan 1. Kaji BBL terhadap 1. BBL sangat rentan


tinggi tindakan adanya terhadap
cedera keperawatan hiperbilirubinemia hiperbilirubinemia
b.d. selama 3x24 jam setia 2-4 jam lima
meningkat klien membaik hari pertama2. phototerapi
nya kadar dengan kriteria kehidupan berfungsi
bilirubin mendekomposisikan
toksik dan1. Klien tidak 2. Berikan bilirubin dengan
komplikasi menunjukan gejala phototerapi photoisomernya.
berkenaan sisa neurologis dan Selama phototerapi
berlanjutnya 3. Jelaskan fungsi perlu diperhatikan
phototera fototherapy
pi. komplikasi adanya komplikasi
phototerapi 4. Kolaborasi seperti: hipertermi,
pemberian transfusi Konjungtivitis,
tukar dehidrasi

3. agar keluarga pahan


tentang prosdeur
yang akan di lakukan

4. Transfusi tukar
dilakukan bila terjadi
hiperbilirubinemia
pathologis karena
terjadinya proses
hemoliitik berlebihan
yang disebabkan oleh
ABO antagonis

Resiko Setelah dilakukan 1. Kaji Output 1. Output yang


tinggi tindakan berlebihan atau tidak
kekuranga keperawatan 2. Pertahankan intake seimbang dengan
n volume selama 3x24 jam cairan intake akan
cairan b.d. pasien membaik 3. Jelaskan kepada menyebabkan
phototera dengan kriteria keluarga tentang gangguan
pi hasil: penting keseimbangan cairan

1. Tidak ada tanda- keseimbangan 2. Agar intake yang


tanda dehidrasi cairan masuk tetap
4. Kolaborasi dengan seimbang dengan
2. Turgor baik intake yang keluar
dokter tentang
3. Tidak terjadi pemberian cairan
3. Agar keluarga
penurunan paham tentang
kesadaran kondisi pasien

4. Untuk mencegah
terjadinya dehidrasi

Setelah di lakukan 1. Monitor adanya 1. Deteksi dini


intervensi kerusakan integritas kerusakan integritas
Kerusakan keperawatan kulit kulit
integritas selama 3x24 jam
kulit b.d pasien membaik 2. Bersihkan kulit bayi
2. Feses dan urine
photother dengan kriteria dari kotoran setelah yang bersifat asam
api hasil : BAB, BAK dapat mengiritasi
kulit
1. Tidak terjadi 3. Lakukan perubahan
kerusakan posisi setiap 2 jam 3. Perubahan posisi
integritas kulit mempertahankan
4. Jelaskan keluarga sirkulasi yang adekuat
tentang pentingnya dan mencegah
menjaga penekanan yang
kelembaban kulit berlebihan pada satu
sisi
5. Kolaborasi dengan
dokter untuk
4. Agar keluarga pahan
pemberian salep tentang pentingnya
menjaga kelembaban
kulit

5. Untuk mencegah
kerusakan kulit lebih
parah

Nutrisi Setelah di lakukan


1. Monitor jumlah1. Untuk mengetahui
kurang tindakan nutrisi dan intake pasien
dari keperawatan kandungan kalori
kebutuhan selama 3x24 jam, 2. Agar tidak terjadi
tubuh b.d pasien membaik2. Berikan makanan penurunan BB dan
ketidak dengan kriteria: terpilih gizi tercukupi
mampuan 3. Berikan informasi3. Agar keluarga paham
menelan 1. Tidak terjadi
kepada keluarga tentang jumlah nutrisi
penurunan BB
tentang kebutuhan yang di butuhkan
2. Tidak terdapat nutrisi pasien
tanda-tanda
malnutrisi 4. Kolaborasi dengan4. Agar dapat
doktermaupun ahli menentukan
3. Terjadi gizi tentang gizi makanan yang benar-
peningkatan BB yang di butuhkan benar sesuai dengan
kondisi pasien
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Hidayat A. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Jakarta: Salemba medika.

Bulecheck, Gloria M., Butcher, Howard K., Dochterman, J. McCloskey. 2012.Nursing


Interventions Classification (NIC). Fifth Edition. Iowa : Mosby Elsavier.

Doengoes, E Marlynn & Moerhorse, Mary Fraces. 2001. Rencana Perawatan Maternal /
Bayi. EGC. Jakarta

Jhonson,Marion. 2012. Iowa Outcomes Project Nursing Classification (NOC). St. Louis
,Missouri ; Mosby.

NANDA International. 2012. Nursing Diagnoses : Definitions & Classifications 2012-2014.


Jakarta : EGC

Ngastiah. 1997. Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta

Prawirohadjo, Sarwono. 1997. Ilmu Kebidanan. Edisi 3. Yayasan Bina Pustaka.


Jakarta.

Pedoman Praktek Klinik: Ikatan Dokter Anak Indonesia (2011)

Potter, Patricia A. Perry, Anne Griffin. 2005. Buku Ajar Fudamental Keperawatan :
Konsep, Proses dan Praktis Volume 2. EGC :Jakarta

Slusher, et all (2013). Treatment Of Neonatal Jaundice With Filtered Sunlight In Nigerian
Neonates: Study Protocol Of A Non-Inferiority, Randomized Controlled Trial.
http://www.trialsjournal.com/content/14/1/446: TRIALS
Suriadi, dan Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak . Edisi I. Fajar Inter Pratama.
Jakarta.

Syaifuddin, Bari Abdul. 2000. Buku Ajar Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal Dan
Neonatal. JNPKKR/POGI & Yayasan Bina Pustaka. Jakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN: ASFIKSIA PADA NEONATUS

I. DEFINISI
Asfiksia neonatus adalah keadaan bayi baru lahir yang tidak dapat bernafas
secara spontan dan teratur dalam satu menit setelah lahir (Mansjoer, 2000).
Asfiksia berarti hipoksia yang progresif, penimbunan CO2 dan asidosis, bila
proses ini berlangsung terlalu jauh dapat mengakibatkan kerusakan otak atau
kematian. Asfiksia juga dapat mempengaruhi fungsi organ vital lainnya. (Saiffudin,
2001).
Jadi, berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa
asfiksia merupa suatu keadaan di mana bayi tidak dapat menangis secara spontan
setelah lahir.

II. KLASIFIKASI
Tabel penilaian APGAR SCORE

Skor APGAR
Tanda
0 1 2

Frekuensi Tidak ada < 100 x/menit > 100 x/menit


Jantung

Usaha Tidak ada Lambat tak teratur Menangis kuat


bernafas

Tanus otot Lumpuh Ekstremitas agak fleksi Gerakan aktif

Refleks Tidak ada Gerakan sedikit Gerakan


kuat/melawan
Warna kulit Biru/puca Tubuh kemerahan, eks Seluruh tubuh
t biru kemerahan

Klasifikasi klinis APGAR SCORE :


a. Asfiksia berat (Nilai APGAR 0-3)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung tidak ada atau < 100 x/ menit, tonus
otot buruk/lemas, sianosis berat, tidak ada reaksi, respirasi tidak ada.
b. Asfiksia ringan sedang (Nilai APGAR 4 6)
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung < 100 / menit, tonus otot kurang
baik atau baik , sianosis (badan merah, anggota badan biru), menangis. Respirasi
lambat, tidak teratur.
c. Bayi normal atau sedikit asfiksia 7 9
Pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung > 100 / menit, tonus otot baik/
pergerakan aktif , seluruh badan merah, menangis kuat. Respirasi baik.
d. Bayi normal dengan nilai APGAR 10
Bayi dianggap sehat, tidak perlu tindakan istimewa.

III. ETIOLOGI
a. Faktor ibu
Preeklampsia dan eklampsia
Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
Partus lama atau partus macet
Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
b. Faktor Tali Pusat
Lilitan tali pusat
Tali pusat pendek
Simpul tali pusat
Prolapsus tali pusat
c. Faktor Bayi
Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi
vakum, ekstraksi forsep)
Kelainan bawaan (kongenital)
Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
Penolong persalinan harus mengetahui faktor-faktor resiko yang berpotensi
untuk menimbulkan asfiksia. Apabila ditemukan adanya faktor risiko tersebut maka
hal itu harus dibicarakan dengan ibu dan keluarganya tentang kemungkinan
perlunya tindakan resusitasi. Akan tetapi, adakalanya faktor risiko menjadi sulit
dikenali atau (sepengetahuan penolong) tidak dijumpai tetapi asfiksia tetap terjadi.
Oleh karena itu, penolong harus selalu siap melakukan resusitasi bayi pada setiap
pertolongan persalinan.

IV. TANDA DAN GEJALA


Pernapasan terganggu
Detik jantung menurun
Refleks/ respons bayi melemah
Tonus otot menurun
Warna kulit biru atau pucat
Kejang
Penurunan kesadaran

V. PATOFISIOLOGI
Pada penderita asfiksia telah dikemukakan bahwa gangguan pertukaran gas
serta transport 02 akan menyebabkan berkurangnya penyediaan 02 dan kesulitan
pengeluaran C02. Keadaan ini akan mempengaruhi fungsi sel tubuh dan tergantung
dari berat dan lamanya asfiksia fungsi tadi dapat reversibel atau menetap, sehingga
menimbulkan komplikasi, gejala sisa, atau kematian penderita.
Pada tingkat permulaan, gangguan ambilan 02 dan pengeluaran C02 tubuh
ini mungkin hanya menimbulkan asidosis respiratorik. Apabila keadaan tersebut
berlangsung terus, maka akan terjadi metabolisme anaerobik berupa glikolisis
glikogen tubuh. Asam organik yang terbentuk akibat metabolisme ini menyebabkan
terjadinya keseimbangan asam basa berupa asidosis metabolik. Keadaan ni akan
menganggu fungsi organ tubuh, sehingga mungkin terjadi penurunan sirkulasi
kardiovaskuler yang ditandai oleh penurunan tekanan darah dan frekwensi denyut
jantung
VI. PATHWAY

VII. KOMPLIKASI
Komplikasi yang muncul pada asfiksia neonatus antara lain :
a. Edema otak & Perdarahan otak
Pada penderita asfiksia dengan gangguan fungsi jantung yang telah berlarut
sehingga terjadi renjatan neonatus, sehingga aliran darah ke otak pun akan
menurun, keadaaan ini akan menyebabkan hipoksia dan iskemik otak yang
berakibat terjadinya edema otak, hal ini juga dapat menimbulkan perdarahan otak.
b. Anuria atau oliguria
Disfungsi ventrikel jantung dapat pula terjadi pada penderita asfiksia,
keadaan ini dikenal istilah disfungsi miokardium pada saat terjadinya, yang disertai
dengan perubahan sirkulasi. Pada keadaan ini curah jantung akan lebih banyak
mengalir ke organ seperti mesentrium dan ginjal. Hal inilah yang menyebabkan
terjadinya hipoksemia padapembuluh darah mesentrium dan ginjal yang
menyebabkan pengeluaran urine sedikit.
c. Kejang
Pada bayi yang mengalami asfiksia akan mengalami gangguan pertukaran
gas dan transport O2 sehingga penderita kekurangan persediaan O2 dan kesulitan
pengeluaran CO2 hal ini dapat menyebabkan kejang pada anak tersebut karena
perfusi jaringan tak efektif.
d. Koma
Apabila pada pasien asfiksia berat segera tidak ditangani akan menyebabkan
koma karena beberapa hal diantaranya hipoksemia dan perdarahan pada otak.

VIII. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK


Analisis gas darah ( ph kurang dari 7,20 )
Penilaian apgar scor meliputi ( warna kulit, usaha bernafas, tonus otot )
Pemeriksaan EEG dan CT scan jika sudah terjadi komplikasi
Pengkajian spesifik

IX. PENATALAKSANAAN

a. Terapi suportif

Tindakan untuk mengatasi asfiksia neonatorum disebut resusitasi bayi baru


lahir yang bertujuan untuk rnempertahankan kelangsungan hidup bayi dan
membatasi gejala sisa yang mungkin muncul. Tindakan resusiksi bayi baru tahir
mengikuti tahap tahapan-tahapan yang dikenal dengan ABC resusitasi :

1. Memastikan saluran nafas terbuka :

A. Meletakkan bayi pada posisi yang benar.

B. Menghisap mulut kemudian hidung kalau perlu trakea

C. Bila perlu masukkan ET untuk memastikan pernafasan terbuka

2. Memulai pernapasan :

A. Lakukan rangsangan taktil

B. Bila perlu lakukan ventilasi tekanan positif

C. Mempertahankan sirkulasi darah (Rangsang dan pertahankan sirkulasi darah


dengan cara kompresi dada atau bila perlu menggunakan obat-obatan)

D. Koreksi gangguan metabolik (cairan, glukosa darah, elektrolit )

Cara resusitasi dibagi dalam tindakan umum dan tindakan khusus :

Tindakan Umum
a. Pengawasan suhu

b. Pembersihan jalan nafas

c. Rangsang untuk menimbulkan pernafasan

b. Tindakan Khusus

Tindakan ini dikerjakan setelah tindakan umum diselenggarakan tanpa hasil


prosedur yang dilakukan disesuaikan dengan beratnya asfiksia yang timbul pada
bayi, yang dinyatakan oleh tinggi-rendahnya Apgar.
1) Asfiksia berat (nilai Apgar 0 3)
Resusitasi aktif harus segera dilaksanakan langkah utama memperbakti
ventilasi paru dengan pemberian 02 dengan tekanan dan intemitery cara terbaik
dengan intubasi endotrakeal lalu diberikan 02 tidak lebih dari 30 mmHg. Asfikasi
berat hampir selalu disertai asidosis, koreksi dengan bikarbonas natrium 2-4
mEq/kgBB, diberikan pula glukosa 15-20 % dengan dosis 2-4 mEq/kgBB Kedua obat
ini disuntikan ke dalam intra vena perlahan melalui vena umbilikatis, reaksi obat ini
akan terlihat jelas jika ventilasi paru sedikit banyak telah berlangsung. Usaha
pernapasan biasanya mulai timbul setelah tekanan positif diberikan 1-3 kali, bila
setelah 3 kali inflasi tidak didapatkan perbaikan. Pernapasan atau frekuensi jantung,
maka masase jantung eksternal dikerjakan dengan & frekuensi 80-I00/menit.
Tindakan ini diselingi ventilasi tekanan dalam perbandingan 1 : 3 yaitu setiap kali
satu ventilasi tekanan diikuti oleh 3 kali kompresi dinding torak. Jika tindakan ini
tidak berhasil bayi harus dinilai kembali, mungkin hal ini disebabkan oleh
ketidakseimbangan asam dan basa yang belum dikorekrsi atau gangguan organik
seperti hernia diaftagmatika atau stenosis jalan nafas.

2) Asfiksia ringan sedang (nilai Apgar 4 6)

Stimulasi agar timbul reflek pernafasan dapat dicoba bila dalam waktu 30-60
detik tidak timbul pernapaan spontary ventilasi aktif harus segera dilakukan.
Ventilasi sederhana dengan kateter 02 intranasal dengan filtrat 1-2 x/mnt, bayi
diletakkan dalam posisi dorsofleksi kepala. Kemudian dilakukan gerakan membuka
dan menutup nares dan mulut disertai gerakan dagu keatas dan kebawah dengan
frekuensi 20 kali/menit, sambil diperhatikan gerakan dinding torak dan abdomen.
Bila bayi memperlihatkan gerakan pernapasan spontan, usahakan mengikuti
gerakan tersebut, ventilasi dihehtikan jika hasil tidak dicapai dalam 1-2 menit
sehingga ventilasi paru dengan tekanan positif secara tidak langsung segera
dilakukan, ventilasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu dari mulut ke rnulut atau
dari ventilasi ke kantong masker. Pada ventitasi dari mulut ke mulut, sebelumnya
mulut penolong diisi dulu dengan 02, ventilasi dilahirkan dengan frekuensi 20-30
kali permenit dan perhatikan gerakan nafas spontan yang mungkin timbul. Tindakan
dinyatakan tidak berhak jika setelah dilekuknn berberapa saat teqadi penurunan
frekuens jantung atau perbaikan tonus otot intubasi endotrakheal harus segera
dilahirkan, bikarbonas natrikus dan glukosa dapat segera diberikan, apabila 3 menit
setelah lahir tidak memperlihatkan pernapasan teratur meskipun ventilasi telah
dilakukan dengan adekuat.

Terapi Medikamentosa

Epinefrin

Indikasi:

1. Denyut jantung bayi < 60x/menit setelah paling tidak 30 detik dilakukan ventilasi
adekuat dan kompresi dada belun ada respon.

2. Sistotik

Dosis : 0,1-0,3 ml / kgBB dalam lanrtan I : 10.000 (0,1 mg 0,03 mg / kgBB). Cara :
i.v atau endotakheal. Dapat diulang setiap 3-5 menit bila perlu

Volume Ekspander

Indikasi:

1. Bayi baru lahir yang dilahirkan resusitasi rnengalami hipovolernia dan tidak ada
respon dengan resueitasi.

2. Hipovolemi kemungkinan akibat adanya perdarahan atau syok. Klinis ,diitandai


dangan adanya pucat perfusi buruk, nadi kecil / lemah dan pada resusitasi tidak
memberikan respons yang adekuat.

Jenis Cairan :
1. Larutan laistaloid isotonis (NaCL 0,9, Ringer Laktat). Dosis : dosis awal 10 ml /
kgBB i.v pelan selama 5-10 menit. Dapat diulang sampai menunjukkan respon
klinis.

2. Transfursi darah gol O negatif jika diduga kehilangn darah banyak.

Bikarbonat

Indikasi:

1. Asidosis metabolik, bayi-bayi baru lahiryang mendapatkan resusitasi. Diberikan


bila ventilasi dan sirkulasi sudah baik.

2. Penggunaan bikarbonat pada keadaan asidosis metabolik dan hiperkalemia Harus


disertai dengan pemerIksaan analisa gas darah dan kimia.

Dosis : 1-2 mEq/keBB atau 2 ml/kgBB (4,2%) atau 1 ml/kgBB (74%).

Cara : diencerkan dengan aqua bidest dan destrosa 5 % sama banyak diberikan
secara i.v dengan kecepaten min 2 menit.

Efek sarnping : pada keadaan hiperosmolarita, dan kandungan CO2 dari bikarbonat
merusak furgsi miokardium dan otak.

Nalokson

Nalokson Hidroklorida adalah antagonis narkotik yang tidak rnenyebabkan depresi


pernapasan.

Indikasi:

1. Depresi psmapa$an pada bayi bam lahir yang ibunya menggunailcan narkotik 4
jam sebelurn pmsalinan.

2. Sebelum diberikan nalokson, ventilasi harus adekuat dan stabil.

3. Jangan diberilm pada bayi brug lahir yang ibrmya baru dicurigai sebagai pemakai
obat narkotika sebab akan menyebabkan tanpa with drawl tiba-tiba pada sebagian
bayi.

Dosis : 0,1 mgikgBB ( 0,4 mg/ml atau lmg/ml)


Cara : i.v endotrakheal atau bila perfusi baik diberikan i.m atau s.c

Laporan Pendahuluan Askep Bayi Berat


Badan Lahir Rendah (BBLR)
Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

KONSEP DASAR

Definisi BBLR

Bayi berat badan lahir rendah ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram ( WHO, 1961 ). Berat badan lahir rendah adalah bayi dengan
berat badan kurang dari 2500 gram pada waktu lahir. (Huda dan Hardhi, NANDA
NIC-NOC, 2013).

Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi yang lahir dengan berat badan
kurang dari 2.500 gram tanpa memperhatikan usia gestasi (Wong, 2009).

BBLR Merupakan bayi (neonatus) yang lahir dengan memiliki berat badan kurang
dari 2500 gram atau sampai dengan 2499 gram. (Hidayat, 2005).

Etiologi BBLR

Menurut Huda dan Hardhi dalam NANDA NIC-NOC (2013). Penyebab kelahiran bayi
berat badan lahir rendah, yaitu:

Factor genetik atau kromosom

Infeksi

Bahan toksik

Insufisiensi atau disfungsi plasenta

Radiasi
Faktor nutrisi

Factor lain seperti merokok, peminum alkohol, bekerja berat pada masa
kehamilan, plasenta previa, kehamilan ganda, obat-obatan, dan sebagainya.

Selain penyebab diatas ada beberapa penyebab kelahiran berat badan lahir rendah
yang berhubungan, yaitu :

1. Faktor ibu
a. Paritas

Abortus spontan sebelumnya

Infertilitas

Gizi saat hamil yang kurang, umur kurang dari 20 tahun atau diatas 35 tahun

Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat, pekerjaan yang terlalu berat

Penyakit menahun ibu : hipertensi, jantung, gangguan pembuluh darah,


perokok

2. Faktor kehamilan

Hamil dengan hidramnion, hamil ganda, perdarahan antepartum

Komplikasi kehamilan : preeklamsia/eklamsia, ketuban pecah dini

3. Faktor janin

Cacat bawaan, infeksi dalam rahim.

Infeksi congenital (missal : rubella)

4. Faktor yang masih belum diketahui

Patofisiologi BBLR

Menurunnya simpanan zat gizi. Hampir semua lemak, glikogen, dan mineral, seperti
zat besi, kalsium, fosfor dan seng dideposit selama 8 minggu terakhir kehamilan.
Dengan demikian bayi preterm mempunyai peningkatan potensi terhadap
hipoglikemia, rikets dan anemia. Meningkatnya kkal untuk bertumbuh. BBLR
memerlukan sekitar 120 kkal/ kg/hari, dibandingkan neonatus aterm sekitar 108
kkal/kg/hari
Belum matangnya fungsi mekanis dari saluran pencernaan. Koordinasi antara isap
dan menelan, dengan penutupan epiglotis untuk mencegah aspirasi pneumonia,
belum berkembang dengan baik sampai kehamilan 32-42 minggu. Penundaan
pengosongan lambung dan buruknya motilitas usus sering terjadi pada bayi
preterm. Kurangnya kemampuan untuk mencerna makanan. Bayi preterm
mempunyai lebih sedikit simpanan garam empedu, yang diperlukan untuk
mencerna dan mengabsorbsi lemak , dibandingkan bayi aterm. Produksi amilase
pankreas dan lipase, yaitu enzim yang terlibat dalam pencernaan lemak dan
karbohidrat juga menurun. Kadar laktase juga rendah sampai sekitar kehamilan 34
minggu. Paru-paru yang belum matang dengan peningkatan kerja bernafas dan
kebutuhan kalori yang meningkat. Masalah pernafasan juga akan mengganggu
makanan secara oral.
Potensial untuk kehilangan panas akibat luasnya permukaan tubuh dibandingkan
dengan berat badan, dan sedikitnya lemak pada jaringan bawah kulit memberikan
insulasi. Kehilangan panas ini meningkatkan keperluan kalori. (Moore, 1997)

Tanda dan Gejala BBLR

Menurut Huda dan Hardhi. (2013), tanda dan gejala dari bayi berat badan lahir
rendah adalah:

1. Sebelum bayi lahir

Pada anamnesa sering dijumpai adanya riwayat abortus, partus prematurus,


dan lahir mati.

Pembesaran uterus tidak sesuai tuanya kehamilan.

Pergerakan janin pertama terjadi lebih lambat, gerakan janin lebih lambat
walaupun kehamilannya sudah agak lanjut

Pertambahan berat badan ibu lambat dan tidak sesuai menurut seharusnya.
Sering dijumpai kehamilan dengan oligradramnion gravidarum atau
perdarahan anterpartum.

2. Setelah bayi lahir

Bayi dengan retadasi pertumbuhan intra uterin

Bayi premature yang lahir sebelum kehamilan 37 minggu

Bayi small for date sama dengan bayi retardasi pertumbuhan intrauterine.

Bayi premature kurang sempurna pertumbuhan alat-alat dalam tubuhnya.

Selain itu ada gambaran klinis BBLR secara umum adalah :


1. Berat kurang dari 2500 gram.

2. Panjang kurang dari 45 cm.

3. Lingkar dada kurang dari 30 cm.

4. Lingkar kepala kurang dari 33 cm.

5. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

6. Kepala lebih besar.

7. Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang.

8. Otot hipotonik lemah.

9. Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea.

10.Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi-lurus.

11.Kepala tidak mampu tegak.

12.Pernapasan 40 50 kali / menit.

13.Nadi 100 140 kali / menit.

Penatalaksanaan BBLR

Dengan memperhatikan gambaran klinik dan berbagai kemungkinanan yang dapat


terjadi pada bayi prematuritas maka perawatan dan pengawasan ditujukan pada
pengaturan suhu , pemebrian makanan bayi, Ikterus , pernapasan, hipoglikemi dan
menghindari infeksi

1. Pengaturan suhu badan bayi prematuritas /BBLR.


Bayi prematur dengan cepat akan kehilangan panas badan dan menjadi hipotermi
karena pusat pengaturasn panas belum berfungsi dengan baik metabolisme rendah
dan permukaan badan relatif luas oleh karena itu bayi prematuritas harus dirawat
dalam inkubator sehingga panas badannya mendekati dalam rahim , apabila tidak
ada inkubator bayi dapat dibungkus dengan kain dan disampingnya ditaruh botol
berisi air panas sehingga panas badannya dapat dipertahhankan.

2. Makanan bayi premtur.


Alat pencernaan bayi belum sempurna lambung kecil enzim pencrnaan belum
matang sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110 kal;/kgBB
sehingga pertumbuhan dapat meningkat. Pemberian minumbayi sekitar 3 jam
setelahn lahir dan didahului derngan menghisap cairan lambung , reflek masih
lemah sehingga pemberian minum sebaiknya sedikit demi sesikit dengan frekwensi
yang lebih sering. Asi merupakan makanan yasng paling utama sehingga ASI lah
ynag paling dahulu diberikan, bila faktor menghisapnya kurang maka ASI dapat
diperas dan diberikan dengan sendok perlahan lahan atau dengan memasang
sonde. Permulaan cairan yang diberikan 50- 60 cc/kgBB/hari terus dinaikan sampai
mencapai sekitar 200 cc/kfBB/hari

3. Ikterus
Semua bayi prematur menjadi ikterus karena sistem enzim hatinya belum matur
dan bilirubin tak berkonjugasi tidak dikonjugasikan secara efisien sampai 4-5 hari
berlalu . Ikterus dapat diperberat oleh polisetemia, memar hemolisias dan infeksi
karena hperbiliirubinemia dapat menyebabkan kernikterus maka warna bayi harus
sering dicatat dan bilirubin diperiksa bila ikterus muncul dini atau lebih cepat
bertambah coklat

4. Pernapasan
Bayi prematur mungkin menderita penyakit membran hialin. Pada penyakit ini
tanda- tanda gawat pernaasan sealu ada dalam 4 jam bayi harus dirawat terlentang
atau tengkurap dalam inkubator dada abdomen harus dipaparkan untuk
mengobserfasi usaha pernapasan

5. Hipoglikemi
Mungkin paling timbul pada bayi prematur yang sakit bayi berberat badan lahir
rendah, harus diantisipasi sebelum gejala timbul dengan pemeriksaan gula darah
secara teratur

6. Menghindari Infeksi
Bayi prematuritas mudah sekali mengalami infeksi karena daya tahan tubuh masih
lemah, kemampuan leukosit masih kurang dan pembentukan antibodi belum
sempurna . Oleh karena itu tindakan prefentif sudah dilakukan sejak antenatal
sehingga tidak terjadi persalinan dengan prematuritas (BBLR)

Komplikasi BBLR

Ada beberapa hal yang dapat terjadi apabila BBLR tidak ditangani secepatnya
menurut Mitayani, 2009 yaitu :

1. Sindrom aspirasi mekonium (menyebabkan kesulitan bernapas pada bayi)

2. Hipoglikemia simptomatik, terutama pada laki-laki


3. Penyakit membran hialin: disebabkan karena surfaktan paru belum
sempurna/ cukup, sehingga olveoli kolaps. Sesudah bayi mengadakan
inspirasi, tidak tertinggal udara residu dalam alveoli, sehingga selalu
dibutuhkan tenaga negatif yang tinggi untuk yang berikutnya

4. Asfiksia neonetorum

5. Hiperbilirubinemia. Bayi dismatur sering mendapatkan hiperbilirubinemia, hal


ini mungkin disebabkan karena gangguan pertumbuhan hati.