You are on page 1of 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Imam Abu Hanifah adalah salah seorang ulama atau faqih yang cukup besar dan
luas pengaruhnya dalam pemikiran hukum Islam. Sebagaimana diceritakan oleh
Muhammad Abu Zahrah bahwa Abu Hanifah adalah seorang faqih dan ulama yang
lebih banyak menggunakan rayu atau setidak-tidaknya lebih cenderung rasional.
Pemikiran Abu Hanifah banyak pengaruhnya dan berkembang di berbagai kawasan
negeri Islam, seperti Irak, Syam dan sekitarnya serta tersebar di Mesir dan daerah-
daerah lainnya. Di Indonesia tokoh Imam Abu Hanifah juga populer di masyarakat.
Namun, kepopuleran itu hanya sebatas ketokohannya saja.

Sedangkan pemikiran Abu Hanifah mengenai hukum Islam kurang populer. Hal
ini karena di Indonesia corak fiqhnya memang cenderung ke Syafiiyyah. Oleh
karena itu, perlu adanya pengkajian terhadap pemikiran tokoh-tokoh fiqh selain
Syafiiyyah khususnya pemikiran Abu Hanifah agar dapat memperkaya khasanah
keilmuan hukum Islam di Indonesia. Selain itu Imam Hanifah memiliki aklhaq yang
terpuji yang patut untuk kita jadikan suri tauladan dalam menjalani kehidupan di
bumi allah ini. Sehingga perlu kita melakukan sebuah pengkajian tentang kehidupan
dan aklhaq yang dimiliki Imam Abu Hanifah yang akan kami sajikan dalam makalah
agama yang berjudul Biografi Imam Hanifah

B. Maksud Dan Tujuan

Tujuan disusunnya makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pendidikan


agama islam, mengetahui perjalanan hidup Imam Hanifah.

1
BAB II

PEMBAHASAN

A. Nasab Abu Hanifah


Imam Abu Hanifah dilahirkan di kota Kufah pada tahun 80 H/699 M.
Demikianlah menurut riwayat yang masyhur. Nama beliau yang sebenarnya mulai
dari kecil ialah Numan bin Tsabit bin Zauta bin Mah. Ayahnya keturunan dari
bangsa Persia (Kabul, Afganistan), tetapi sebelum beliau dilahirkan, ayahnya sudah
pindah ke Kufah. Dengan ini teranglah bahwa beliau bukan keturunan dari bangsa
Arab, melainkan beliau dilahirkan di tengah-tengah bangsa Persia.

Ia lebih populer dipanggil Abu Hanifah, karena diantara putranya ada yang
dinamakan Hanifah, ini menurut satu riwayat. Dan menurut riwayat yang lain, sebab
ia mendapat gelar Abu Hanifah, karena ia adalah orang yang rajin melakukan ibadah
kepada Allah dan sungguh-sungguh melakukan kewajibannya dalam beragama.
Karena perkataan Hanif dalam bahasa Arab itu artinya cenderung atau
condong kepada agama yang benar. Dan ada pula yang meriwayatkan, bahwa sebab
ia mendapat gelar dengan Abu Hanifah itu lantaran dari eratnya berteman dengan
tinta. Karena perkataan Hanifah menurut lughat Irak artinya dawat atau
tinta. Yakni ia di mana-mana senantiasa membawa dawat guna menulis atau
mencatat ilmu pengetahuan yang diperoleh dari para gurunya atau lainnya. Dengan
demikian lalu ia mendapat gelar Abu Hanifah.

B. Pertumbuhan dan kehidupannya

Sebagian besar hidup Abu Hanifah semasa dengan kekuasaan Bani Umayyah,
sisanya dalam masa Bani Abbasiyah. Ia lahir pada masa kekuasaan Bani Umayyah di
era pemerintahan Abdul Malik bin Marwan dan meninggal dunia pada masa
kekuasaan Bani Abbasiyah dibawah pemerintahan Abu Jafar al-Mansur.

Kehidupan Abu Hanifah tak lepas dari masyarakatnya atau di salah satu
sudutnya. Ia hidup bahkan di jantung dan pusat kota. Ia hidup di ibu kota Baghdad
tempat berkumpulnya ilmu dan para ulama, tempat bersemainya kajian dan para
pengkaji, diskusi dan ahli diskusi, tren-tren budaya yang beragam di suatu saat dan
yang bertentangan di saat yang lain.

2
Wilayah ini memiliki warisan bersejarah. Dari segi ilmiah, penduduknya
memiliki kesiapan tinggi dalam mengkaji dan menalar, ditambah lagi hijrahnya para
ulama ke wilayah ini, khususnya ke Baghdad, sesudah dijadikan oleh khilafah
Abbasiyah sebagai basis pemerintahan, tak pelak Irak bertambah kuat dan strategis.

Ketika itu, di Irak terdapat banyak perbudakan. Tren nyanyian berkembang


dan sebagian orang menjadikannya sebagai sarana untuk minum-minuman keras.
Masyarakat muslim masa itu telah dihadapkan pada berbagai permasalahan yang
amat kompleks yang membutuhkan lembaga-lembaga yang menangani bidang
masing-masing. Butuh adanya penanganan secara islami dan pedoman tehadap
batasan hak dan kewajiban antara pemimpin dan rakyat. Tak mengherankan jika Irak
didominasi oleh mazhab ahli rayi, tak mengherankan pula jika kita jumpai bahwa
pemikiran Abu Hanifah terpengaruh oleh berbagai kondisi masyarakat ini, yakni
pemikiran yang cenderung rasionalis.

Disamping menganut aliran rasional, Abu Hanifah dikenal sangat wara dan
takwa. Ia sering melakukan pengembaraan untuk memperoleh hadits. Ketika ia
berumur 16 tahun, yaitu pada tahun 96 H, Abu Hanifah pergi haji bersama ayahnya
dan bertemu dengan Abdullah bin Harits az-Zubaidi. Dari ulama ahli hadits ini ia
meriwayatkan sabda nabi SAW: Barang siapa mendalami agama (tafaqqahu), maka
Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya dan memberinya rizki secara yang
tidak disangka. Karenanya, tidak benar dakwaan sementara orang yang menuduh
Abu Hanifah tidak meriwayatkan hadits, kecuali tujuh belas hadits saja. Dalam
riwayat yang mutabar disebutkan bahwa Abu Hanifah meriwayatkan sendiri
sebanyak 215

Hadits selain hadits-hadits yang juga diriwayatkan oleh para imam yang lain.
Abu Muayyid Muhammad bin Mahmud al-Khawarizmi (wafat tahun 226 H),
mengumpulkan musnad Abu Hanifah setebal 800 halaman yang diterbitkan di Mesir
1326 H.31

B. Kepribadian dan sifat-sifatnya

Abu Hanifah dikenal jujur dan tidak suka banyak omong, akrab dengan
sahabat-sahabatnya dan tidak suka membicarakan keburukan orang lain. Ia bekerja
sebagai penjual kain dan hidup dari hasil kerjanya sendiri. Ia juga tidak menyukai
pembicaran duniawi. Jika ditanya soal-soal agama, dengan suka-cita ia

3
menguraikannya secara panjang lebar dan bersemangat. Ketika Sufyan ats-Tsauri
ditanya tentang ketidaksukaan Abu Hanifah menggunjing orang, ia mengatakan:
Akalnya lebih cerdik untuk dapat dipengaruhi hal-hal yang menghapuskan kebaikan-
kebaikannya.

Tentang ke-wara-an Abu Hanifah, ia menolak jabatan hakim (qadhi) pada


masa pemerintahan bani Umayyah dan Abbasiyah. Yazid bin Hubairah, gubernur Irak
pada pemerintahan bani Umayyah, menyiksanya karena tetap menolak menjadi
hakim. Pada pemerintahan Abu Jafar al-Mansur, khalifah kedua dari Bani Abbas, ia
dipanggil untuk pindah ke Baghdad. Saat itu al-Mansur memaksa dan bahkan
bersumpah agar Abu Hanifah menerima untuk diangkat sebagai hakim, tetapi ia juga
bersumpah untuk tidak menerima jabatan selamanya.

Abu Hanifah begitu sadar bahwa masa depan fiqh harus bebas dari kekangan
penguasa. Sebab hanya dengan menghindari ikatan-ikatan kedudukan ia dapat leluasa
mengembangkan kajian-kajian fiqhiyah. Itulah sebabnya Abu Hanifah
memperjuangkan kebebasan berpendapat dengan segala kekuatan yang dimilikinya.
Demikianlah dalam diri Abu Hanifah berkumpul ilmu orang rasionalis yang paling
masyhur dan ilmu seorang wara yang paling wara.

D. Pengembaraan Menuntut Ilmu

Abu Hanifah belajar fiqh dan Hadits dari Hammad selain dari Ibrahim an-
Nakhai dan asy-Syabi. Tapi masa belajarnya dengan an-Nakhai dan asy-Syabi tidak
selama dari Hammad. Abu Hanifah belajar dari Hammad selama 22 tahun. Setelah
berumur 40 tahun, beliau pisah untuk mengakar sendiri di Masjid Kufah.

Dalam sebuah riwayat disebutkan, Abu Hanifah berkata kepada Abu Mansur
tentang bagaimana ia mempelajari fiqh. Ibrahim meriwayatkan dari Umar bin
Khattab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud dan Abdullah bin Abbas, Mansur
berkata, Wah, kamu telah membekali dirimu wahai Abu Hanifah, sesuai dengan
keinginanmu, dari orang-orang yang suci, bersih dan diberkahi

Abu Hanifah dikenal memiliki banyak ilmu syariah dan bahasa Arab. Dari dia
sendiri diriwayatkan beberapa wajah bacaan al-Quran. Keahliannya dalam fiqh
mendapatkan kesaksian dan pujian-pujian dari ulama salaf terhadap Abu Hanifah,
diantaranya; Imam Syafii berkata, Semua orang dalam ilmu fiqh menginduk kepada
Abu Hanifah. Dalam riwayat lain disebutkan, Siapa yang ingin mengerti tentang

4
fiqh maka hendaklah belajar kepada Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya, sebab
semua orang dalam masalah fiqh menginduk kepadanya.

Termasuk contoh-contoh yang menunjukkan penghormatan ulama salaf


kepada Abu Hanifah adalah bahwa ketika saudara Sufyan ats-Tsauri meninggal dunia,
orang-orang datang berziarah. Abu Hanifah pun datang ber-taziyah. Sufyan berdiri
menghormati beliau, lalu mempersilakan duduk di tempatnya dan dia duduk di
belakang Abu Hanifah.

Abu Yusuf, salah satu sahabat utama Abu Hanifah, mengatakan: Saya tidak
pernah melihat orang yang lebih ahli dalam menafsirkan hadits selain Abu Hanifah. Ia
sangat cermat dan kritis dalam menilai kesahihan suatu hadits.

E. Murid-Murid Imam Abu Hanifah

Diantara murid-murid Abu Hanifah yang terkenal yang kemudian menjadi


ulama besar yaitu;

Pertama, Abu Yusuf Yaqub bin Ibrahim bin Habib al-Anshari al-Kufi yang
lahir pada tahun 113 H dan meninggal pada tahun 182 H. Untuk pertama kali, Abu
Yusuf belajar kepada ibn Abi Laila selama 9 tahun. Selanjutnya ia berguru kepada
Abu Hanifah sehingga jadilah Abu Yusuf seorang faqih, ulama dan hafiz (ahli hadits).
Ia sempat menjabat qadhi atau hakim dalam beberapa masa kekhalifahan Abbasiyah.
Ia menulis banyak kitab tentang masalah-masalah ibadah, jual beli, hudud (hukum
pidana) dan lainnya. Kitabnya yang paling terkenal adalah al-Kharaj yang ditulis
atas permintaan khalifah ar-Rasyid. Kitab ini dianggap sebagai referensi utama
Ekonomi Islam. Kitabnya yang lain adalah al-Atsar dan al-Raad ala Sairi al-
Auzai fi ma Mahala fihi Abu Hanifah dan lainnya

Kedua, Abu Abdillah Muhammad bin Hasan asy-Syaibani yang lahir pada
tahun 132 H dan meninggal pada tahun 189 H. Ia cukup lama belajar dengan Abu
Hanifah. Ketika Abu Hanifah meninggal dunia, asy-Syaibani baru berumur 20 tahun.
Ini menunjukkan bahwa beliau menuntut ilmu dan faqih sejak usia belia. Asy-
Syaibani ahli dalam pemecahan istilah dan ilmu berhitung. Ia konsisten dengan
pekerjaan menulis dan menghasilkan banyak kitab, diantaranya, al-Mabsuth, az-
Ziyadat, al-Jami al-Kabir, al-Jami as-Shagir, as-Sair al-Kabir, as-Sair as-Shagir,
ar-Rad ala ahli al-Madinah dan lainnya.

5
Ketiga, Zufar bin Huzail yang lahir pada tahun 10 H dan meninggal pada
tahun 158 H. Zufar lebih dulu belajar kepada Abu Hanifah baru kemudian kepada
Abu Yusuf dan asy-Syaibani. Ia tergolong seorang murid yang terkenal ahli qiyas. Ia
seorang yang baik pendapat-pendapatnya dan pandai mengupas tentang soal-soal
keagamaan serta ahli ibadah. Zufar pernah menjabat hakim di Bashrah. Pada
mulanya, banyak ulama yang benci dan berburuk sangka kepada Abu Hanifah. Zufar
lalu menerangkan dan menjelaskan kepada mereka secara menakjubkan sehingga
mereka simpati kepadanya. Ia melakukan hal ini secara kontinyu. Akhirnya banyak
orang-orang yang dulu benci menjadi suka kepada Abu Hanifah.

Keempat, Hasan bin Ziyad al-Luluiy al-Kuti yang meninggal dunia pada
tahun 204 H. Ia sangat terkenal dalam meriwayatkan hadits. Ia adalah murid
sekaligus sahabat Abu Hanifah. Ia menjabat qadhi di Kufah pada tahun 194 H dan
menulis beberapa kitab antara lain, Aadab al-Qadhi, al-Khishal, Maani al-Iman, an-
Nafaqat, al-Kharraj, al-Faraidh, al-Washaya, al-Mujarraddan al-Amali.

F. Pemikiran Abu Hanifah

Pemikiran-pemikiran Abu Hanifah dalam bidang fiqh, diantaranya:

Pertama, mempermudah dalam hal urusan ibadah dan muamalah. Misalnya,


Abu Hanifah berpendapat bahwa jika badan atau pakaian terkena najis, maka boleh
dibasuh dengan barang cair yang suci, seperti air bunga mawar, cuka, dan tidak
terbatas pada air saja. Dalam hal zakat, Abu Hanifah membolehkan zakat dengan nilai
(uang) sesuai dengan banyaknya kadar zakat.

Kedua, berpihak pada yang fakir dan lemah. Contohnya, Abu Hanifah
mewajibkan zakat pada perhiasan emas dan perak, sehingga zakat itu dikumpulkan
untuk kemaslahatan orang-orang fakir. Abu Hanifah berpendapat, orang yang punya
utang tidak wajib membayar zakat jika utangnya itu lebih banyak dari uangnya. Ini
menunjukkan belas kasihnya kepada orang yang punya utang.

Ketiga, pembenaran atas tindakan manusia sesuai dengan kadar


kemampuannya. Abu Hanifah berusaha menjadikan amal manusia itu benar dan
diterima selagi memenuhi syarat-syaratnya. Contohnya ia berpendapat bahwa
Islamnya anak kecil yang berakal tapi belum baligh dianggap sebagai Islam yang
benar seperti halnya orang dewasa.

6
Keempat, menjaga kehormatan manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya.
Karena itu Abu Hanifah tidak mensyaratkan wali nikah bagi perempuan yang baligh
dan dewasa atas orang yang dicintai, baginya hak untuk menikahkan diri sendiri dan
nikahnya sah.

Kelima, kendali pemerintah di tangan seorang imam (penguasa). Karena itu,


kewajiban seorang imam (pemimpin secara syariat) untuk mengatur kekayaan umat
Islam yang membentang luas di atas bumi untuk kemaslahatan umat. Kewajiban
lainnya adalah pengaturan kepemilikan tanah mati (bebas) bagi yang mengolahnya
yaitu menjadikannya lahan siap pakai.

Kaidah-kaidah brilian dan selaras inilah yang membuat Abu Hanifah layak
mendapatkan gelar Imam Ahlu ar-Rayi. Ini tidak berlebihan, karena beliau telah
berjuang dan berusaha keras menggunakan qiyas pada hukum-hukum yang tidak ada
dasarnya dalam nash. Selain itu, Abu Hanifah juga menguasai ilmu ber-istimbath
(menggali hukum) dari hadits, sehingga dapat mengambil intisari yang bermanfaat
bagi umat, dan tidak bertentangan dengan nashnya.

Pendapat Imam Abu Hanifah yang berkaitan dengan fiqh lainnya yaitu, bahwa
benda wakaf masih tetap milik wakif. Kedudukan wakaf dipandang sama dengan
kedudukan ariyah (pinjam-meminjam). Karena masih tetap milik wakif, benda
wakaf dapat dijual, diwariskan, dan di-hibah-kan wakif kepadayang lain, kecuali
wakaf untuk masjid, wakaf yang ditetapkan berdasarkan keputusan hakim, wakaf
wasiat dan wakaf yang diikrarkan. Secara tegas wakaf itu terus dilanjutkan meskipun
wakif telah meninggal dunia.

Bahwa perempuan boleh menjadi hakim di pengadilan yang tugasnya khusus


menangani perkara perdata, bukan perkara pidana. Alasannya, karena perempuan
tidak boleh menjadi saksi pidana, ia hanya dibenarkan menjadi saksi perkara perdata.
Karena itu menurutnya, perempuan hanya boleh jadi hakim yang menangani perkara
perdata. Dengan demikian, metode ijtihad yang digunakannya adalah qiyas dengan
menjadikan kesaksian sebagai al-ashl dan menjadikan hakim perempuan sebagai al-
Fari.

7
G. Aliran Ushul Fiqih Imam Abu Hanifa

Sebagian ulama berpendapat, bahwa yang pertama kali mempelopori aliran ini
adalah ulama madzhab Hanafi. Mereka tidak mempunyai kaidah ushul fiqh yang
tumbuh pada masa istinbath, sebagaimana dikatakan oleh Imam As Dahlawi dalam
kitabnya Al Inshaf fi Bayani Asbabil Ikhtilaf, sebagai berikut:

Ketahuilah bahwa mayoritas ulama menyangka bahwa sebab-sebab


timbulnya perselisihan antara Imam Abu Hanifah dan Imam Syafii berkisar pada
kaidah-kaidah ushul yang telah dijelaskan Imam Al Bazdawi dalam kitabnya dan lain-
lain. Tetapi sebenarnya kaidah-kaidah ushul tersebut menjabarkan perkataan-
pembahasan mereka. Menurut seorang yang bukan ahli fiqh bila pintu ijtihad telah
ditutup dan tidak diperhitungkannya pemahaman syarat dan sifat sama sekali; dalil
yang mewajibkan sesuatu itu mewujudkan atas hukum wajib secara mutlak, dan
sebagainya, semua itu juga merupakan kaidah-kaidah yang menjabarkan perkataan
para imam. Dengan demikian, tidak wajib untuk menjadikan pedoman kaidah-kaidah
tersebut dalam menjawab permasalahan-permasalahan yang diistinbath madzhab
Syafii. Ushul Fiqh madzhab Syafii merupakan metode untuk menggali hukum
syara yang bersifat dinamis dan dapat dijadikan pedoman, sedang ushul fiqh
madzhab Hanafi bersifat statis dan terbatas pada masalah-masalah furu yang telah
dibukukan. Ulama-ulama Hanafi hanya menggali kaidah-kaidah yang menguatkan
serta mempertahankan madzhabnya saja. Sehingga ushul fiqh mereka itu hanya
kaidah-kaidah yang bersifat statis, tidak dinarnis.

Meskipun metode ushul fiqh madzhab Hanafi tampaknya statis dan mandul serta
sedikit manfaatnya lantaran semata-mata untuk mempertahankan madzhab tertentu,
akan tetapi secara umum metode tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap
perkembangan pemikiran fiqh. Pengaruh tersebut antara lain berikut ini:

1. Meskipun metode tersebut semata-mata untuk mempertahankan madzhabnya,


akan tetapi sebagai metode untuk berijtihad ia merupakan kaidah-kaidah yang
berdiri sendiri, sehingga dapat dijadikan perbandingan antara kaidah-kaidah
tersebut, dengan kaidah-kaidah yang lain. Dengan mengadakan perbandingan,
maka secara obyektif dapat diperoleh metode yang lebih benar dan kuat.

2. Karena metode tersebut diterapkan terhadap masalah-masalah furu, maka ia


bukan merupakan pembahasan yang hampa. Ia justru merupakan pembahasan
yang universal dan kaidah-kaidah yang umum yang dapat diterapkan pada

8
masalah-masalah furu. Dengan mengkaji universalitas kaidah-kaidah
tersebut, akan memberikan kekuatan tersendiri.

3. Mengkaji ushul fiqh dengan sistem tersebut, sama dengan mengkaji


perhandingan masalah-masajah fiqh. Kajian tersebut bukannya
membandingkan antara masalah-masalah pokok. Sehingga seseorang tidak
hanya mengkaji masalah-masalah cabang yang tidak ada kaidahnya, tetapi
memperdalam masalah-masalah yang bersifat universal untuk menggali
hukum masalah-masalah furu (juzi).

4. Kajian ini memberikan kaidah pada masalah-masalah furu, seperti masalah-


masalah pokok. Dengan kaidah ini akan diketahui cara menetapkan hukum,
merinci masalah-masalah furu, serta memberikan ketentuan hukum terhadap
permasalahan yang terjadi pada saat itu dan belum pernah terjadi pada masa
imam-imam yang terdahulu. Tentu hukum-hukum tersebut tidak akan
menyimpang dari ketentuan madzhab mereka, karena hukum-hukum tersebut
merupakan pokok yang menetapkan hukum-hukum masalah furu.

Tidak dapat diragukan lagi, bahwa dengan berkembangnya madzhab tersebut,


maka menjadi luaslah cakrawala hukum. Demikian juga para ulamanya tidak hanya
mandek pada hukum-hukum yang diriwayatkan dari para imam madzhab saja, tetapi
mereka juga mengembangkan hukum-hukum tersebut dan menetapkan hukum
terhadap masalah-masalah yang terjadi dengan menggunakan metode dari para imam
terdahulu.

Itulah aliran kedua yang disebut dengan thariqah Hanafiyyah (Metodologi


madzhab Hanafi). Adapun kitab ushul fiqh yang mula-mula disusun menurut aliran
ini adalah kitab Al Ushul karya Abil Hasan Al Karkhi (wafat 340 H). Sedang yang
lebih luas dan mendetail adalah kitab Ushulul Fiqh karya Abu Bakar Ar Razi yang
terkenal dengan nama Al Jashshash (wafat 380 H), kemudian disusul kitab kecil yang
bernarna Tasisun Nazhar karya Ad Dabusi (wafat 430 H). Dalam kitab tersebut
dijelaskan secara ringkas kaidah-kaidah ushul fiqh yang telah disepakati dan yang
diperselisihkan oleh imam-imam madzhab Hanafi dengan imam-imam yang lain.

Setelah itu, muncullah seorang ulama besar yang bernama Al Bazdawi (wafat 483
H). Dia menyusun sebuah kitab yang diberi nama Ushul Al Bazdawi, sebuah kitab
ushul fiqh yang ringkas dan mudah dicerna. Kitab tersebut terbilang kitab yang paling
jelas dan mudah yang disusun menurut metode madzhab Hanafi. Kemudian muncul

9
pula Imam As Sarkhasi penyusun kitab Al Mabshuth yang menyusun sebuah kitab
yang senada dengan kitab Al Bazdawi, hanya lebih luas dan mendetail. Setelah itu
terbitlah beberapa kitab yang disusun menurut metode tersebut yang meresume dan
menjabarkan kitab-kitab terdahulu, seperti kitab Al Manar, dan lain-lain.

Adalah suatu hal yang wajar bila dikatakan bahwa para ulama yang
memperdalam ilmu ushul fiqh, baik dari madzhab Syafii, Maliki, maupun Hanbali
telah banyak yang menyusun kitab ushul fiqh menurut metode Hanafi dalam
menerapkan kaidah-kaidah kulliyah (universal) pada masalah-masalah furu yang
terdapat dalam madzhab mereka masing-masing. Seperti kitab Tanqihul Fushul fi
Ilmil Ushul, karya Al Qarafi. Kitab tersebut disusun menurut metode madzhab
Hanafi dan menjelaskan tentang kaidah-kaidah madzhab Maliki yang diterapkan
dalam masa1ah-masalah furu. Kitab At Tamhid fi Takhrijil Furu alal Ushul karya
Imam Asnawi (wafat 777 H), seorang pengikut madzhab Syafii. Dalam kitab
tersebut, dia menjelaskan penerapan kaidah-kaidah Ushul madzhab Syafii terhadap
masalah-masalah furu. Demikian juga kitab-kitab ushul fiqh yang ditulis oleh Ibnu
Taimiyah dan Ibnul Qayyim yang menjelaskan tentang madzhab Hanbali.

Dari keterangan tersebut, maka jelaslah bahwa metode madzhab Hanafi telah
dimanfaatkan oleh beberapa ulama dari empat madzhab. Bahkan madzhab Syiah
Imamiyah dan Syiah Zaidiyah juga menggunakan metode madzhab Hanafi dalam
menggali kaidah-kaidah Ushul untuk menstandardisasi masalah-masalah furu.
Meskipun terkadang kelompok Syiah juga mnempergunakan metode ahli Kalam,
karena kebanyakan ulama Syiah juga mengikuti Mutazilah yang mempergunakan
metodologi ulama ahli ilmu Kalam.

Setelah kedua metode yang berbeda-beda itu menjadi baku, maka terbitlah
kitab-kitab fiqh yang disusun berdasarkan kedua metode tersebut. Mula-mula ditulis
kaidah-kaidahnya saja, kemudian menerapkan kaidah-kaidah tersebut sesuai dengan
metode madzhab. Kitab-kitab tersebut disusun oleh para ulama yang ahli dari
madzhab Syafii dan Hanafi. Di antara kitab-kitab tersebut adalah kitab Badiun
Nizham karya Ahmad bin Ali As Saati Al Baghdadi (wafat 694 H) yang menghimpun
kitab Ushul Al Bazdawi dan kitab Al lhkam karya Al Amidi. Setelah itu kitab
Tanqihul Ushul karya Syaikh Sadrus Syariah Abdullah bin Masud Al Bukhari
(wafat 747 H) yang di beri syarah berjudul At Taudhih. Dalam kitab tersebut dia
menghimpun kitab Ushul Al Bazdawi, kitab Al Mahsul karya Ar Razi, dan kitab Al
Mukhtashar karya Ibnu Hajib.

10
Setelah itu, muncul pula beberapa upaya yang mengkombinasikan kedua
metode yang akhirya membuahkan kitab-kitab yang tinggi nilainya. Di antaranya
ialah kitab Jamul Jawami karya Tajuddin Abdul Wahhab As Subki Asy Syafii
(wafat 771 H), kitab At Tahrir karya Kamaluddin ibnul Humam (wafat 861 H) dan
kitab Muslimus Tsubut karya Muhibbullah ibn Abdus Syakur Al Hindi.

Sebagaimana telah dijelaskan bahwa obyek Ushul Fiqh ialah menjelaskan


metode penggalian hukum syara (istinbath) dan timbangan dalil untuk menetapkan
hukum-hukum tentang amal perbuatan manusia dan dalil-dalil yang terinci. Agar
pembahasan Ushul Fiqh menjadi jelas, maka terlebih dahulu harus diuraikan tentang
hakekat hukum syara serta pembagiannya, karena hukum-hukum syara itulah yang
menjadi ketetapan dalil-dalil tersebut. Atau dengan kata lain, bahwa dalil-dalil itulah
yang akan menetapkan hukum-hukum perbuatan manusia (mukallaf) sebagaimana
yang akan dijelaskan nanti.

Terlebih dahulu harus dijelaskan pengertian hukum serta pembagian-


pembagiannya. Hukum-hukum tersebut mempunyai sumber yang menjadi penentu
terhadap status hukum tersebut. Kemudian harus dibicarakan pula obyek tuntutan
hukum, yakni perbuatan manusia, dan siapakah yang digoiongkan mukallaf itu.
Karena itulah sebagian ulama memberikan definisi tentang Fiqh sebagi ilmu yang
menjelaskan tentang keputusan-keputusan yang berobyek pada perbuatan-perbuatan
manusia (mukallaf), sedang materinya adalah hukum-hukum syara.

Dengan demikian obyek pembahasan ilmu Fiqh dapat dibagi menjadi empat bagian,
yaitu :

1. Hukum Syara

2. Al Hakim (yang menetepkan hukum), yaitu Allah Subhanahu wa Taala, dan


cara untuk mengetahui hukum Allah, yaitu dalil-dalil syara atau sumber-
sumber hukum syara untuk mengetahui hukum-hukum syara tersebut. Oleh
karena itu, dalam bab ini juga dibicarakan dalil-dalil yang disepakati dan
dalil-dalil yang diperselisihkan.

3. Mahkum fih (obyek hukum atau yang dihukumi), yaitu perbuatan-perbuatan


orang mukallaf.

4. Mahkum alaih (subyek hukum atau yang menanggung hukum), yaitu orang
mukallaf (orang yang dibebani hukum). Dalam bab ini akan dibicarakan

11
batas-batas seseorang yang disebut mukallaf, dan hal-hal yang mengha1ang-
halangi taklif.

Karya-Karya Abu Hanifah

Perlu diketahui bahwa Abu Hanifah tidak pernah menulis kitab tentang
mazhabnya. Muhammad Abu Zahrah menjelaskan bahwa Abu Hanifah tidak menulis
kitab secara langsung kecuali beberapa risalah kecil yang dinisbahkan kepadanya,
seperti risalah yang dinamakan al-Fiqh al-Akbar dan al-Alim wa al-Mutaalim. Walau
demikian mazhabnya sangat populer dan tersebar luas. Ini karena hasil perjuangan
murid-murid Abu Hanifah dalam mengembangkan dan menyebarluaskan
pemikirannya terutama pada istimbath yang ia rumuskan.

Diceritakan bahwa Imam Abu Yusuf merupakan orang yang pertama menulis
beberapa buku berdasarkan mazhab Hanafi dan menyebarkannya ke berbagai daerah
untuk dipelajari. Demikian pula halnya dengan Muhammad ibn al-Hasan asy-
Syaibani banyak menimba ilmu dari Abu Hanifah dan menyebarkan pemikiran-
pemikiran beliau melalui karya-karyanya. Dari sejumlah sumber, menyebutkan
bahwa Abu Hanifah sendiri tidak meninggalkan karya atau buku yang ditulisnya
langsung, kecuali apa yang dinukil oleh para murid beliau.

Abu Zahrah, menceritakan bahwa penulisan di bidang ushul fiqh untuk


pertama kali disusun oleh murid Imam Abu Hanifah. Hal senada juga disebutkan oleh
pengikut dan para muridnya. Diantara murid Abu Hanifah yang paling terkenal dan
merupakan orang yang pertama menulis buku ushul fiqh berdasarkan pandangan Abu
Hanifah adalah Imam Abu Yusuf (w. 182 H). Dan karya Abu Yusuf ini pada akhirnya
menjadi pegangan mazhab Hanafi, dalam ushul fiqh.

Menurut penuturan Imam Nadim sebagaimana dikutip oleh Tengku


Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, bahwa Abu Yusuf dan Zufar adalah dua orang
murid yang sangat berjasa dalam merumuskan dan mengembangkan pemikiran Abu
Hanifah dan mazhab ushul Hanafi. Abu Yusuf sendiri banyak menghasilkan karya-
karya yang didasarkan kepada mazhab Hanafi, seperti kitab az-Zakah, as-Shiyam, al-
Faraidh, al-Hudud, al-Kharaj dan al-Jami . Dan diantara karya Abu Yusuf yang
terkenal adalah kitab al-Kharaj.

12
Selain Abu Yusuf dan Zufar, Muhammad ibn Hasan asy-Syaibani juga salah
seorang murid Abu Hanifah yang terkenal dan berjasa dalam mengembangkan
mazhab Hanafi. Ibn Hasan mengikuti cara-cara istimbath yang telah dirintis oleh Abu
Yusuf berdasarkan pemikiran Abu Hanifah.

Menurut riwayat, bahwa para ulama Hanafiyah (yang bermazhab Hanafi)


telah membagi-bagi masalah fiqh Hanafiyah menjadi tiga tingkatan, yakni; pertama,
masail al-Ushul, kedua, masail an-Nawadhir dan ketiga, al-Fatawa wa al- waqiat.

Pertama, masail al-Ushul yaitu masalah-masalah yang termasuk zhahir ar-


Riwayah, yaitu pendapat yang diriwayatkan oleh Abu Hanifah dan sahabatnya, seperti
Abu Yusuf, Muhammad dan Zufar. Muhammad ibn al-Hasan asy-Syaibani telah
mengumpulkan pendapat-pendapat tersebut yang kemudian disusun dalam kitab yang
bernilai tinggi, Zahir ar-Riwayah.

Kitab-kitab yang termasuk Zahir ar-Riwayah ada enam buah, yaitu :

(1) al-Mabsuth atau al-Ashl,

(2) al-Jami al-Kabir,

(3) al-Jami ash-Shagir,

(4) as-Siyar al-Kabir,

(5) as-Siyar ash-Shagir, dan

(6) az-Ziyadat.

Keenam kitab tersebut kemudian disusun oleh Hakim asy-Syahid menjadi


satu kitab yang diberi nama al-Kafi. Kitab ini dikomentari atau diberi syarah oleh
Syamsu ad-dhin asy-Syarkhasyi dan dikenal dengan nama al-Mabsuth.

Kedua, masail An-Nawadir yaitu pendapat-pendapat yang diriwayatkan Abu


Hanifah dan sahabatnya yang tidak terdapat dalam kitab yang termasuk Zahir ar-
Riwayah.

Adapun kitab-kitab terkenal yang termasuk an-Nawadir adalah

al-Kaisaniyyat,
ar-Ruqayyat,

13
al-Haruniyyat,
al-Jurjaniyyat dan
Badai ash-Shanai fi Tartib asy-Syarai.

Ketiga, al-Fatawa wa al-Waqiat yaitu yang berisi masalah-masalah


keagamaan yang dari istimbath-nya para mujtahid yang bermazhab Imam Hanafi
yang datang kemudian, pada waktu mereka ditanyai tentang masalah hukum-hukum
keagamaan, padahal mereka tidak dapat menjawabnya, lantaran dalam kitab-kitab
mazhabnya terdahulu tidak didapati keterangannya, kemudian mereka berijtihad guna
menjawabnya. Adapun tentang kitab al-Fatawa wa al-Waqiat yang pertama kali
ialah kitab an-Nawazil karya Abi al-Laits as-Samarqandi.

Kitab-kitab yang terkenal susunan ulama Hanafiah mutaakkhirin diantaranya


adalah; jami al-Fushulain, Dharar al-Hukkam, Multaqa al-Akhbar, Majmu al-Anshar
dan Radd al-Mukhtar ala Dhar al-Mukhtar yang tekenal dengan hasSelain kitab-
kitab fiqh, dalam aliran Hanafi terdapat kitab ushul al-Fiqh dan Qawaid al-Fiqhiyah.
Kitab-kitab ushul al-fiqh dalam aliran Hanafi adalah

(1) ushul al-Fiqh karya Abu Zaid ad-Duyusi (w.430 H);


(2) ushul al-Fiqh karya Fakhr al-Islam al-Bazdawi (w. 430 H); dan
(3) ushul al-Fiqh karya an-Nasafi (w. 790 H) dan syarah-nya Misykat al-Anwar.

Selain kitab fiqh dan ushul al-Fiqh, ulama Hanafiah juga membangun kaidah-
kaidah fiqh yang kemudian disusun dalam kitab tersendiri. Diantara kitab qawaid al-
Fiqhiyyah aliran Hanafi yaitu, Ushul al-Karkhi karya al-Karkhi (260-340 H), Taziz
an-Nazhar karya Abu Zaid al-Dabusi (w. 430 H), Al-Asybah wa an-Nazhair karya ibn
Nujaim (w. 970 H), Majami al-Haqaiq karya Abu Said al-Khadimi (w. 1176 H),
Majallah al-Ahkam al-Adhiyyah (Turki Usmani, w. 1292 H), Al-Fawaid al-Bahiyyah
fi Qawaid wa al-Fawaid karya ibn Hamzah (w. 1305 H) dan Qawaid al-Fiqh karya
Mujaddidi.

H. Ketokohan Imam Abu Hanifah

Menurut riwayat yang telah banyak diriwayatkan oleh sebagian ulama ahli
hadits bahwa sesungguhnya Nabi SAW pernah bersabda; Jika sekiranya ilmu
pengetahuan itu tergantung di bintang tsuraya niscaya akan dicapai oleh beberapa
orang dari keturunan bagsa Persia. Berhubung dengan adanya hadits ini, diantara
para ulama ada yang memberi keterangan bahwa hadits ini mengandung basyirah
(berita gembira) dari Nabi SAW. Yang dimaksud dengan kata-kata beberapa orang

14
dari keturunan bangsa Persia itu antara lain ialah yang mulia Imam Abu Hanifah.
Karena beliau itu adalah seorang dari keturunan bangsa Persia dan beliaupun di kala
hayatnya tidak ada seorangpun yang dapat membandingi tentang ilmu
pengetahuannya, kecerdasan fikirannya, keluhuran budinya dan keteguhan jiwanya.

Sepanjang riwayat, bahwa mazhab Hanafi dikembangkan oleh sahabat yang


sekaligus murid beliau, diantaranya Imam Abu Yusuf dan Imam Zufar. Pada masa
pemerintahan khalifah Harun ar-Rasyid menjabat kepala negara bagi dunia Islam,
beliau menyerahkan urusan kehakiman kepada Imam Abu Yusuf. Maka segenap
urusan kehakiman dalam kerajaan ar-Rasyid ada di tangan kekuasaannya. Urusan
resmi di tiap-tiap kota pada masa itu, seperti Iraq, Khurasan, Syam, Mesir bahkan
sampai ke Tapal batas Afrika beliau serahkan kepada orang yang dipercayainya.
Beliau tidak menyerahkan jabatan itu, melainkan kepada orang yang menjadi
sahabatnya dan yang sependirian dengan mazhabnya (mazhab Hanafi).

Dengan terpilihnya Imam Abu Yusuf menjadi qadli, maka segenap qadli dan
hakim di segenap daerah dan kota di kala itu pada umumnya yang terdiri dari para
ulama yang bermazhab Hanafi menjadi gemar mempelajari kitab-kitab yang
beraliran Hanafi, karena ingin mendapat kedudukan atau pangkat. Demikianlah
permulaan tersiarnya aliran mazhab Imam Abu Hanifah.

Selanjutnya mazhab Imam Hanafi baru dikenal orang Mesir sesudah tahun
164 H. Karena di kala itu telah diangkat oleh kepala negara al-Mahdi seorang qadli
yang bermazhab Hanafi yang mula-mula menyiarkan mazhab Hanafi di Mesir.
Terutama selama pemerintahan Islam ada di tangan para kepala negara dari keturunan
Abbasiyah, makin berkembanglah mazhab ini di Mesir sampai tahun 358 M.

Tatkala Mesir berada di tangan kekuasaan para raja keturunan Fatimiyyah.


Dibawa pula ke sana aliran mazhab mereka yaitu mazhab Syiah al-Ismailiyyah. Tidak
saja mazhab ini tersiar di sana karenanya, tetapi kedudukan qadli dipengaruhi juga
oleh mazhab itu. Bahkan mazhab Syiah pernah menjadi mazhab pemerintahan dengan
resmi.

Setelah pemerintahan Mesir jatuh ke tangan al-Ayyubi, mereka menindas dan


mengikis habis mazhab itu. Kemudian kerajaan al-Ayyubi mendirikan sekolah-
sekolah untuk mencetak ulama di masa mendatang yang mengikuti mazhab Syafii
dan Maliki. Sultan Salahuddin al-Ayyubi juga mendirikan sekolah untuk memberikan
pengajaran mazhab Hanafi. Sejak saat itu mazhab Hanafi mendapat kekuatan kembali

15
untuk berkembang di tengah-tengah Mesir. Pada tahun 641 H Sultan Saleh
Najmuddin mendirikan madrasah yang dinamakan madrasah as-Shalihiyyah. Dalam
madrasah ini diberikan pengajaran-pengajaran mazhab empat yang masyhur, yaitu
mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali sebagai tindakan pembalasan untuk
membasmi aliran-aliran mazhab yang lain.

Pada umumnya penduduk di Afrika (Algeria, Tunisia dan Tripoli) adalah


pengikut mazhab Hanafi yang dibawa oleh Ibnu Farukh Abu Muhammad al-Farisi.
Kemudian ia menyerahkan urusan kehakiman kepada Assad bin Farrat bin Sinan yang
dapat mengembangkan aliran mazhab Hanafi di sana. Demikian sehingga datang
kesana al- Muiz bin Badis dengan membawa aliran mazhab Maliki lalu dapat
menarik sebagian besar penduduknya untuk memeluk mazhab Maliki. Namun masih
ada sebagian kecil dari mereka yang masih tetap menganut mazhab Hanafi.

Keluarga raja di Tunisia adalah pengikut mazhab Hanafi. Urusan kehakiman


di sana diserahkan kepada dua qadli yang beraliran Hanafi dan Maliki. Demikian pula
mufti besar di sana juga ada dua, yaitu yang bermazhab Hanafi dan yang bermazhab
Maliki. Tetapi yang bertanggung jawab keseluruhannya ialah yang bermazhab
Hanafi.

Sepanjang riwayat setelah Mesir jatuh ke tangan kekuasaan bangsa Turki,


maka kedudukan qadli dan urusan kehakiman diserahkan kepada ulama yang
bermazhab Hanafi. Karena mazhab Hanafi menjadi mazhab resmi bagi pihak kerajaan
Usmaniyyah dan bagi segenap pembesar negara. Dengan demikian bahwa sebagian
besar pendudu Mesir terpengaruh oleh mazhab Hanafi dengan tujuan agar mudah
mendapatkan kedudukan qadli atau hakim. Sekalipun demikian nama mazhab Hanafi
tidaklah begitu tersiar ke dusun-dusun dan ke hulu-hulu Mesir tetapi terbatas di dalam
kota saja. Kebanyakan penduduk Dusun dan Hulu daerah Mesir tetap bermazhab
Syafii.
Selanjutnya mazhab Hanafi tersiar dan berkembang di negeri-negeri Syam,
Iraq, India, Afganistan, Kaukasus, Turki dan Balkan negeri-negeri yang lain .
Demikianlah diantara riwayat tersiarnya mazhab Imam Hanafi di dunia ini.

I. Wafatnya Imam Abu Hanifah

16
Beliau pernah dipukul pemerintah karena menolak permintaan Gubernur untuk
menjadi hakim. Beliau meninggal di Baghdad, tahun 150 H, dalam usia 70 tahun.
Semoga Allah merahmati Imam Abu Hanifah.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nama lengkap Imam Abu Hanifah adalah al-Numan ibn Tsabit ibn al-Zutha
al-Farisi, dilahirkan di Kufah pada 80 Hijriah. Beliau salah satu dari keempat tokoh
Madzahibul al-Arbaah termasyhur dan berkembang di dunia islam. Masa kecil Abu
Hanifah berbeda dengan ketiga Imam fikih lainnya yaitu Imam Malik, Imam Syafii,
dan Imam Ahmad. Pasalnya ketiganya memulai menimba ilmu sejak usia dini,
sedangkan Abu Hanifah tidak demikian. Ketika kecil beliau berprofesi sebagai
pedagang dan sering berlalu lalang, pulang pergi kepasar untuk membiayai kehidupan
keluarga.

Abu Hanifah muda juga pandai memanajemen waktu yang dimilikinya.


Terlihat jelas ketika beliau mendapati waktu luang disela-sela kesibukannya
berdagang, tak sedikitpun beliau menyia-nyiakannya untuk bersantai, melainkan lebih
memilih untuk menceburkan diri berkecipung dalam kawah ilmu pengetahuan.

Pemikiran beliaupun mulai tergugah dan terbentuk dalam satu paradigma


yang kuat, ketika beliau menaruh perhatian besar pada ilmu pengetahuan dan
berbagai pendapat peninggalan para sahabat Irak. Hingga menjadikan beliau berani
berdialog dan berdebat dengan penganut agama dan aliran yang berbeda.

Beliau memiliki konsep yang jelas dalam pengambilan hukum agama dari
sumber-sumbernya. Dalam Tarikh Baghdad disebutkan sebuah pernyataan dari Abu
Hanifah mengenai konsep yang digunakannya, yakni Aku merujuk kitab Allah. Bila
aku tidak menemukan (dasar hukum) didalamnya, aku akan merujuk sunnah. Bila di
dalam keduanya aku juga tidak menemukan, aku akan merujuk perkataan para
sahabat; aku akan memilih pendapat siapa saja dari mereka yang ku kehendaki, aku
tidak akan pindah dari satu pendapat ke pendapat sahabat yang lain. Apabia
didapatkan pendapat Ibrahim, al-Syabi, ibnu Sirrin, al-Hasan, al-Atha, Said ibnu

17
Musayyab, dan sejumlah seorang yang lainnya, dan mereka semua sudah berijtihad,
maka aku akan berijtihad sebagaimana mereka berijtihad.

Imam Abu Hanifah, selain terkenal kewiraiannya dalam mengambil


keputusan, beliau juga dikenal sebagai pelopor pertama dalam menyusun kitab fikih
secara kelompok-kelompok dalam pengklarifikasiannya. Diawali dari bab bersuci
(taharah) kemudian disusul shalat dan seterusnya. Hingga pada generasi ulama
berikutnya metode ini diikuti oleh ulama-ulama yang sangat familiar, seperti Malik
bin Anas, Imam Syafii, Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan ulama lainnya.

Abu Hanifah dikenal sebagai orang yang melakukan shalat Shubuh dengan
wudhu shalat 'Isya selama empat puluh tahun, tidak pernah sekal pun ia
meninggalkan kebiasaan itu. Demikian juga, ia dikenal sebagai orang yang
menghatamkan al-Qur'an di satu tempat di mana ia meninggal sebanyak 7000 kali.
Imam Abu Hanifah meninggal dunia pada bulan Rajab tahun 150H/ 767M ketika
berusia 70 tahun.

18
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Sulaiman.2007. Sumber Hukum Islam; Permasalahan dan


Fleksibilitasnya. Jakarta: Sinar Grafika.

Djazuli, A. 2007. Kaidah-Kaidah Fiqh : Kaidah-Kaidah Hukum Islam dalam


Menyelesaikan Masalah-Masalah yang Praktis. Jakarta: Kencana.

Hery Sucipto. 2003. Ensiklopedi Tokoh Islam (Dari Abu Bakar sampai Nashr dan
Qardhawi). Jakarta: PT Mizan Pustaka/

Muhammad Jawad Mughniyah. 2006. Fikih Lima Madzhab. Terjemahan oleh,


Masykur A.B. dkk. Jakarta: Penerbit Lentera.

Suwaidan , Dr Tariq. 2013. Biografi Imam Abu Hanifah. Jakarta: Zaman.

Zahrah, Muhammad Abu . 2008. Ushul Fiqh. Jakarta: Pustaka Firdaus.

19