You are on page 1of 19

I.

Tijauan Teori
A. Definis
Harga diri rendah adalah perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilangnya
percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, dalam Fitria,
2009).
Harga diri rendah adalah perasaan seseorang bahwa dirinya tidak diterima
lingkungan dan gambaran-gambaran negatif tentang dirinya (Barry, dalam Yosep, 2009).
Menurut Fitria (2009), harga diri rendah dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Harga diri rendah situasional adalah keadaan dimana individu yang sebelumnya
memiliki harga diri positif mengalami perasaan negatif mengenai diri dalam
berespon, terhadap suatu kejadian (kehilangan, perubahan).
2. Harga diri rendah kronik adalah keadaan dimana individu mengalami evaluasi diri
yang negatif mengenai diri atau kemampuan dalam waktu lama.

RENTANG RESPON KONSEP DIRI

Responadaptif Responmaladaptif

Aktualisasi Konsep diri Harga diri Kerancuan Depersonalisasi


Diri positif rendah identitas

B. Etiologi
Harga diri rendah dapat terjadi secara :
1. Situasional, yaitu terjadi trauma yang tiba-tiba, misalnya harus operasi, kecelakaan,
dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu
(korban perkosaan, dituduh korupsi, dipenjara tiba-tiba). Pada klien yang dirawat
dapat terjadi harga diri rendah, karena :
a. Privacy yang harus diperhatikan, misalnya : pemeriksaan fisik yang
sembarangan, pemasangan alat yang tidak sopan (pencukuran pubis, pemasangan
kateter, pemeriksaan perineal).
b. Harapan akan struktur bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena
dirawat/sakit/penyakit.
c. Perlakuan petugas kesehatan yang tidak menghargai, misalnya berbagai
pemeriksaan dilakukan tanpa penjelasan, berbagai tindakan tanpa persetujuan.
2. Kronik yaitu perasaan negatif terhadap diri telah berlangsung lama, yaitu sebelum
sakit/dirawat. Klien ini mempunyai cara berfikir yang negatif. Kejadian sakit dan
dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya. Kondisi ini
mengakibatkan respons yang maladaptif.

Faktor predisposisi terjadinya harga diri rendah kronik adalah penolakan orang tua
yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab
personal, ketergantungan pada orang lain, ideal diri yang tidak realistis (Fitria, 2009).

Faktor presipitasi terjadinya harga diri rendah kronis adalah hilangnya sebagian
anggota tubuh, berubahnya penampilan atau bentuk tubuh, mengalami kegagalan, serta
menurunnya produktivitas (Fitria, 2009).

Penyebab terjadinya masalah

1. Gangguan citra tubuh.


Mekanisme : gangguan citra tubuh merupakan perubahan persepsi tentang tubuh
yang diakibatkan oleh perubahan ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan
makna dan objek yang sering kontak dengan tubuh, klien biasanya tidak dapat
menerima kondisinya, merasa kurang sempurna kemudian akan timbul harga diri
rendah.
2. Ideal diri tidak realistic
Mekanisme : ideal diri yang terlalu tinggi sukar dicapai dan tidak realitas, ideal diri
yang suram dan tidak jelas, cenderung menuntut. Kegagalan kegagalan yang
dialami dan fantasi yang terlalu tinggi yang tidak dapat dicapai membuat frustasi dan
timbul harga diri rendah.

C. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala pada pasien Harga Diri Rendah adalah :
1. Mengkritik diri sendiri atau orang lain.
2. Produktivitas menurun.
3. Perasaan tidak mampu.
4. Mudah marah.
5. Sikap negatif terhadap diri sendiri.
6. Rasa bersalah.
7. Ketegangan peran.
8. Pesimis terhadap kehidupan.
9. Keluhan fisik.
10. Pandangan hidup yang terpolarisasi.
11. Menolak kemampuan diri sendiri.
12. Mengejek diri.
13. Merusak diri.
14. Pengurangan diri.
15. Penyalahgunaan zat.
16. Menarik diri realitas.
17. Cemas dan takut.

D. Akibat Terjadinya Masalah


1. Perubahan penampilan peran.
Mekanisme : berubah atau berhentinya fungsi peran seseorang yang disebabkan oleh
penyakit merupakan akibat dari harga diri rendah.
2. Keputusasaan
Mekanisme : merupakan persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan
mempengaruhi hasil karena kurang percaya diri dengan kemampuannya karena
menganggap dirinya tidak mampu.
3. Menarik diri.
Mekanisme : perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari
interaksi dengan orang lain, karena menganggap dirinya tidak pantas berada
dilingkungan tersebut, yang merupakan akibat dari harga diri rendah

E. Pohon Masalah

Resiko isolasi sosial: menarik diri

Gangguankonsepdiri :Harga diri rendah Core


problem

Berduka disfungsional
F. Penatalaksanaan
Terapi pada gangguan jiwa, khususnya skizofrenia dewasa ini sudah
dikembangkan sehingga klien tidak mengalami diskriminasi bahkan metodenya lebih
manusiawi daripada masa sebelumnya. Penatalaksanaan medis pada gangguan konsep
diri yang mengarah pada diagnosa medis skizofrenia, khususnya dengan perilaku harga
diri rendah, yaitu:
1. Psikofarmakologi
Menurut Hawari (2003), jenis obat psikofarmaka, dibagi dalam 2 golongan yaitu:
a. Golongan generasi pertama (typical)
Obat yang termasuk golongan generasi pertama, misalnya: Chorpromazine
HCL (Largactil, Promactil, Meprosetil), Trifluoperazine HCL (Stelazine),
Thioridazine HCL (Melleril), dan Haloperidol (Haldol, Govotil, Serenace).
b. Golongan kedua (atypical)
Obat yang termasuk generasi kedua, misalnya: Risperidone (Risperdal,
Rizodal, Noprenia), Olonzapine (Zyprexa), Quentiapine (Seroquel), dan
Clozapine (Clozaril).

2. Psikotherapi
Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada klien, baru dapat diberikan apabila klien
dengan terapi psikofarmaka sudah mencapai tahapan dimana kemampuan menilai
realitas sudah kembali pulih dan pemahaman diri sudah baik.
Psikotherapi pada klien dengan gangguan jiwa adalah berupa terapi aktivitas
kelompok (TAK).
3. Therapy Kejang Listrik ( Electro Convulsive Therapy)
ECT adalah pengobatan untuk menimbulkan kejang granmall secara artificial dengan
melewatkan aliran listrik melalui elektrode yang dipasang satu atau dua temples.
Therapi kejang listrik diberikan pada skizofrenia yang tidak mempan denga terapi
neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi kejang listrik 4-5 joule/detik. (Maramis,
2005)
4. Therapy Modalitas
Therapi modalitas/perilaku merupakan rencana pengobatan untuk skizofrrenia
yang ditujukan pada kemampuan dan kekurangan klien. Teknik perilaku menggunakan
latihan keterampilan sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial. Kemampuan
memenuhi diri sendiri dan latihan praktis dalam komunikasi interpersonal. Therapi
kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana dan masalah dalam
hubungan kehidupan yang nyata. (Kaplan dan Sadock,1998,hal.728).
Therapy aktivitas kelompok dibagi empat, yaitu therapy aktivitas kelompok
stimulasi kognitif/persepsi, theerapy aktivitas kelompok stimulasi sensori, therapi
aktivitas kelompok stimulasi realita dan therapy aktivitas kelompok sosialisasi (Keliat
dan Akemat,2005,hal.13). Dari empat jenis therapy aktivitas kelompok diatas yang
paling relevan dilakukan pada individu dengan gangguan konsep diri harga diri rendah
adalah therapyaktivitas kelompok stimulasi persepsi. Therapy aktivitas kelompok
(TAK) stimulasi persepsi adalah therapy yang mengunakan aktivitas sebagai stimulasi
dan terkait dengan pengalaman atau kehidupan untuk didiskusikan dalam kelompok,
hasil diskusi kelompok dapat berupa kesepakatan persepsi atau alternatif penyelesaian
masalah.(Keliat dan Akemat,2005,hal.49).

5. Terapi somatik
Terapi somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan tujuan mengubah
perilaku yang maladaptif menjadi perilaku yang adaptif dengan melakukan tindakan
dalam bentuk perlakuan fisik (Riyadi dan Purwanto, 2009).
Beberapa jenis terapi somatik, yaitu:
a. Restrain
Restrain adalah terapi dengan menggunakan alat-alat mekanik atau manual
untuk membatasi mobilitas fisik klien (Riyadi dan Purwanto, 2009).
b. Seklusi
Seklusi adalah bentuk terapi dengan mengurung klien dalam ruangan khusus
(Riyadi dan Purwanto, 2009).
c. Foto therapy atau therapi cahaya
Foto terapi atau sinar adalah terapi somatik pilihan. Terapi ini diberikan dengan
memaparkan klien sinar terang (5-20 kali lebih terang dari sinar ruangan)
(Riyadi dan Purwanto, 2009).
d. ECT (Electro Convulsif Therapie)
ECT adalah suatu tindakan terapi dengan menggunakan aliran listrik dan
menimbulkan kejang pada penderita baik tonik maupun klonik (Riyadi dan
Purwanto, 2009).
6. Rehabilitasi
Rehabilitasi merupakan suatu kelompok atau komunitas dimana terjadi interaksi antara
sesama penderita dan dengan para pelatih (sosialisasi).

G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
DS :
a. Pasien mengatakan dirinya tidak mampu.
b. Klien merasa bersalah.
c. Klien sering mengeluh keadaan fisiknya.
DO :
a. Klien terlihat menarik diri
b. Produktivitas menurun
c. Cemas, takut,
d. Merusak diri
e. Menyalahgunakan zat.

2. Diagnosa
Setelah pengkajian dilakukan dan di dokumentasikan, masalah keperawatan
dirumuskan dan diagnosis keperawatan ditegakkan, berdasarkan pengkajian tersebut,
masalah keperawatan yang di rumuskan adalah harga diri rendah

3. Rencana Tindakan
TUM : Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
TUK :
a. Klien dapat membinahubungan saling percaya

Bina hubungan saling percaya dengan mengungkapkan prinsip komunikasi


terapetik :

Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun nonverbal


Perkenalkan diri dengan sopan
Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai klien
Jelaskan tujuan pertemuan
Jujur dan menepati janji
Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
Beri perhatian pada klien dan perhatikan kebutuhan dasar klien
b. Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang dimiliki
Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki klien
Setiap bertemu klien hindarkan dan memberi penilaian negatif
Utamakan memberi pujian yang realistik
c. Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan
Diskusikan dengan klien kemampuan yang bisa digunakan semasa sakit
d. Klien dapat ( Menetapkan ) merencanakan kegiatan yang sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki
Rencanakan bersama klien aktifitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai
kemampuan
o Kegiatan mandiri
o Kehitan dengan bantuan sebagian
o Kegiatan yang membutuhkan bantuan total
Tingkatkan kegiatan yang sesuai dengan toleransi kondisi
Beri contoh pelaksanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
e. Klien dapat melakuakn kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya
Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah
direncanakan
Beri pujian atas keberhasilan klien
Diskusikan kemungkinan pelaksanaan dirumah
f. Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Beri pendidikan kesehatn pada keluarga tentang cara merawat klien
dengan Harga Diri Rendah
Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat
Bantu keluarga menyiapkan lingkungan dirumah
II. TINJAUAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN Tn. I DENGAN MASALAH UTAMA HARGA


DIRI RENDAH DI WISMA ABIYASA

RSJ Prof dr SOEROJO MAGELANG

A. PENGKAJIAN
1. Identitas Klien
Nama : Tn. I
No. RM : 00011xxx
Umur : 55 tahun
Alamat : Magelang
Diagnosa Medis : F. 20. 3 (Skizofrenia tak terinci)

2. Alasan Masuk
Klien dibawa ke RSJ Magelang oleh anaknya karena klien sudah tidak bisa tidur
selama 2 hari dan tidak mau makan selama 3 hari. Kllien juga hanya mengurung diri di
kamar.

3. Faktor Predisposisi dan Presipitasi


a. Predisposisi
Keluarga klien tidak ada yang memiliki riwayat gangguan jiwa. Klien
mengalami gangguan jiwa sejak 10 tahun yang lalu. Dan sudah 4x masuk RSJ.
Klien memiliki kepribadian yang cenderung tertutup pada orang lain. Klien
mengatakan tidak memiliki pengalaman masa lalu yang membuatnya trauma.
Hubungan social klien dengan masyarakat kurang begitu dekat karena klien di rumah
dan jarang berinteraksi.
b. Presipitasi
Klien saat di rumah tidak rutin minum obat.

4. Pemeriksaan Fisik
a. Tanda Vital
1) TD : 130/80 mmHg
2) N : 88 x/menit
3) P : 16 x/menit
4) S : 36,5 oC
b. Ukuran Berat Badan (BB): 63 kg
Tinggi Badan (TB) : 169 cm
c. Keluhan fisik : tidak ada keluhan fisik
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

5. Psikososial
a. Genogram

Keterangan :

: meninggal

: laki-laki

: perempuan

---- : garis penghubung tinggal serumah

1) Pola komunikasi interaksi : di rumah klien tinggal bersama istri dan 1 anaknya
yang laki-laki. Orang terdekat dengan klien adalah istrinya. Klien selalu
berinteraksi dengan istri dan anaknya di rumah.
2) Pola pengambilan keputusan : dalam pengambilan keputusan klien tidak dapat
melakukannya sendiri. Jika ada masalah selalu diselesaikan dengan cara
musyawarah/dibicarakan dank lien juga dilibatkan didalamnya.
b. Konsep Diri
1) Gambaran diri : klien menyukai semua bagian tubuhnya dan tidak ada bagian
tubuh yang tidak ia sukai
2) Identitas diri : klien dilahirkan sebagai laki-laki yang sekarang berumur 55 tahun
sudah menikah dan mempunyai 2 anak. Klien tidak bekerja. Klien mengatakan
bersyukur sudah dilahirkan sebagai laki-laki dan sudah mempunyai 2 anak laki-
laki dan perempuan. Tetapi ia tidak puas karena ia tidak bekerja dan
pendidikannya hanya SMP. Factor-faktor diatas menganggu hubungan klien
dengan orang lain.
3) Peran : di rumah klien adalah seorang kepala keluarga, tetapi sejak dibawa ke
rumah sakit klien tidak dapat melakukan perannya sebagai kepala keluarga seperti
bekerja, mencari nafkah, merawat anak istri. Klien malu dengan tetangganya
karena tidak berperan sebagai ayah yang baik dan tidak bisa melanjutkan sekolah
anaknya.
4) Ideal diri : klien mengatakan ingin sembuh dan segera pulang untuk mengurus
keluarga dirumah.
5) Harga diri : klien menganggap dirinya sudah tua dan tidak berguna lagi bagi
keluarganya karena ia tidak bekerja dan tidak melakukan apa-apa sedangkan yang
menjadi tulang punggung adalah anak laki-lakinya. Ia merasa hanya bisa jadi
beban dan mengecewakan keluarga.

Masalah keluarga : Harga diri rendah

c. Hubungan sosial
1) Orang yang berarti : anak dan istri
2) Peran serta kegiatan kelompok/masyarakat : klien lebih suka dirumah daripada
mengikuti kegiatan kelompok masyarakat.
3) Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain : klien mengalami hambatan
ketika berhubungan dengan orang lain. Tidak mampu memulai pembicaraan.

Masalah keperawatan : Isolasi social : menarik diri

d. Spiritual
1) Nilai dan keyakinan : klien meyakini bahwa yang dialaminya adalah takdir Alloh.
Klien juga tidak mengingkari penyakitnya. Klien beragama islam tetapi tidak
menjalankan sholat 5 waktu.
2) Kegiatan ibadah : klien tidak mau diajak sholat.

6. Status Mental
a. Penampilan
Klien berpenampilan rapi, badannya bersih, kuku pendek, dan tidak bau.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah
b. Pembicaraan
Klien berbicara dengan suara pelan dan intonasi lambat sehingga terkadang sulit
didengar.
Masalah keperawatan : kerusakan komunikasi
c. Aktivitas motorik
Klien tampak lesu dan tidak bersemangat dalam melakukan segala hal. Klien juga
tampak tegang bila diajak berkomunikasi.
Masalah keperawatan : deficit aktivitas diversional/hiburan
d. Alam perasaan
Klien mengatakan sedih karena ia tidak bisa menyekolahkan anaknya sampai
perguruan tinggi dan hanya menjadi beban keluarga.
Masalah keperawatan : ketidakberdayaan
e. Afek dan emosi
Klien memiliki afek yang tumpul karena klien tidak bisa/kurang mengekspresikan
perasaannya. Sedangkan emosi klien tampak stabil.
Masalah keperawatan : kerusakan interaksi sosial

f. Interaksi
Selama wawancara/interaksi klien kontak mata kurang dan berbicara hanya sedikit-
sedikit.
Masalah keperawatan : isolasi social : menarik diri/HDR
g. Persepsi sensori
Klien tidak mengalami gangguan persepsi sensori
Masalah keperawatan : tidak ada masalah
h. Proses piker (arus dan bentuk pikir)
Klien memiliki proses pikir blocking. Saat ditanya klien sering terdiam dan jika
ditanya lagi berulang klien bisa menjawab kembali.
i. Isi pikir
Klien merasa asing dengan dirinya yang sekarang (depersonalisasi)
Masalah keperawatan : perubahan proses pikir
j. Tingkat kesadaran
Tingkat kesadaran klien tampak bingung, klien tidak mengalami disorientasi waktu,
orang, maupun tempat.
Masalah keperawatan : perubahan proses pikir
k. Memori
Jangka pendek : klien tidak bisa mengingat tema TAK minggu lalu.
Daya ingat saat ini: klien bisa mengingat makanan yang dimakan tadi pagi
Jangka panjang : klien tidak bisa mengingat memori jangka panjang seperti tanggal
lahir.
Masalah keperawatan : perubahan proses pikir.
l. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien dapat berhitung dengan cukup baik dan mudah mengingat tetapi sedikit sulit
untuk berkonsentrasi.
Masalah keperawatan : isolasi sosial : menarik diri
m. Kemampuan penilaian
Klien mengalami gangguan kemampuan penilaian ringan, terbukti bahwa klien harus
diberikan sedikit stimulus terlebih dahulu saat mengambil keputusan sendiri.

n. Daya tilik diri


Klien menyadari dan mau mengakui penyakit gangguan jiwa yang ia alami.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

7. Kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan


a. Kebutuahan klien memenuhi kebutuhan

Kemampuan klien memenuhi kebutuhan Ya Tidak


Makanan
Keamanan

Perawatan kesehatan
Pakaian
Transportasi

Tempat tinggal
Keuangan
Lain-lain

Penjelasan : segala kebutuhan klien dipenuhi oleh keluarga dan rumah sakit.
b. Kegiatan hidup sehari-hari (ADL)
1) Perawatan diri

Kegiatan hidup sehari-hari Bantuan total Bantuan minimal


Mandi
Kebersihan
Makan
Buang air kecil
Buang air besar
Ganti pakaian
Masalah keperawatan : tidak ada masalah

2) Nutrisi
Klien puas dengan pola makan klien di rumah sakit. Klien makan bersama-sama
dengan klien lain di rumah makan 3x sehari secara teratur. Nafsu makan klien
baik, tidak meningkat juga tidak menurun.
BB saat ini : 63 kg
3) Tidur
Klien tidak ada masalah pola tidur dan merasa segar setelah bangun tidur. Klien
tidur malam jam 21.00, bangun jam 06.00, dan rata-rata tidur malam sekitar 8
jam.
Masalah keperawatan : tidak ada masalah
c. Kemampuan klien dalam hal-hal berikut :
1) Klien mengantisipasi kehidupan sehari-harinya dengan sedikit bantuan
2) Klien membuat keputusan berdasarkan keinginan sendiri misalnya ingin
menyapu, dll.
3) Klien menyadari penggunaan obat dan harus teratur minum obat.

Masalah keperawatan : tidak ada masalah

d. Sistem pendukung
Selama dirawat klien belum pernah dijenguk oleh keluarganya. Selama dirawat klien
juga tidak dekat dengan teman satu ruangannya.
e. Kegiatan produktif/hobi
Selama di RSJ klien terlihat sering menyapu lantai sehabis makan dan merapikan
kursi dan meja setelah makan.

8. Mekanisme Koping
Jika klien ada masalah, klien tidak suka menceritakannya pada orang lain. Klien
juga tampak menghindar jika diajak berbicara. Dalam menyelesaikan masalah klien
biasanya merundingkannya dulu bersama keluarga. Tetapi dalam mengambil keputusan
klien tidak bisa melakukannya sendiri dan merasa bingung. Respon klien juga lambat
dalam menanggapi pembicaraan.

9. Pengetahuan
Klien mengatakan tahu tentang penyakit gangguan jiwanya dank lien tidak
mengingkari penyakit gangguan jiwanya. Namun klien tidak paham tentang obat yang ia
minum dan dosisnya.

10. Aspek Medis


Diagnosa medis : F. 20. 3 (Skizofrenia tak terinci)
Terapi medis : Risperidon 2 mg/12 jam
Hexymer 2 mg/12 jam

B. ANALISA DATA

Tanggal/Jam Data Fokus Diagnosa Para


f
7/12/2016 DS : Gangguan konsep diri
10.00 WIB - klien mengatakan malu karena tidak
: harga diri rendah
dapat melakukan apa-apa, tidak
bekerja, hanya bisa jadi beban, dan
tidak bisa mengurus keluarga dengan
baik
- klien mengatakan sudah tua dan tidak
berguna lagi bagi keluarganya

DO :
- klien terlihat murung dan selalu
menyendiri
- klien tidak mau berinteraksi dengan
klien lain Isolasi social :
7/12/2016
10.00 WIB - kontak mata kurang menarik diri

DS :
- klien mengatakan tidak bisa memulai
percakapan, tidak tahu harus
7/12/2016 Koping individu tidak
10.00 WIB mengobrol tentang apa
efektif
DO :
- klien terlihat menyendiri
- klien tidak berinteraksi dengan teman
satu ruangannya

DS :
- klien mengatakan tidak sering
berbicara dengan orang lain
- klien mengatakan tidak mampu
menyelesaikan masalah sendiri
DO :
- klien terlihat menghindari saat diajak
berbicara
- reaksi/respon klien lambat

C. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan konsep diri : Harga diri rendah
2. Isolasi sosial : menarik diri
3. Koping individu tidak efektif

D. POHON MASALAH
Isolasi sosial : menarik diri

Gangguan konsep diri : harga diri rendah

Koping individu tidak efektif


E. RENCANA KEPERAWATAN

F. CATATAN KEPERAWATAN

Tanggal/Jam Diagnos Implementasi Evaluasi Para


a f
7/12/2016 Harga 1. Mendiskusikan S:
10.30 WIB diri kemampuan klien dan - klien mengatakan
rendah aspek positif yang tidak tahu aspek
SP 1 dimiliki klien. positif apa yang
2. Membantu klien menilai
klien dimiliki.
kemampuan yang masih - Klien mengatakan ia
bisa dilakukan di rumah bisa menyapu dan cuci
sakit. piring
3. Membantu klien memilih - Klien mengatakan
kemampuan yang akan akan melakukan
dilatih. menyapu dan cuci
4. Melatih kemampuan
piring setiap sehabis
yang sudah dipilih.
makan.
5. Menganjurkan membuat
jadwal kegiatan harian
O:
pelaksanaan kemampuan
- Klien tampak
mendengarkan
- Klien berbicara
sedikit-sedikit
- Kontak mata kurang

A : klien mampu
mengidentifikasi kempuan
yang ia dimiliki

P:
- Motivasi klien tentang
kemampuan yang ia
miliki
- Anjurkan untuk
memasukkan jadwal
harian.

1. Mengevaluasi kegiatan S : klien mengatakan tadi


8/12/2016 Harga
yang sudah dilakukan ikut menyapu halaman
16.00 WIB diri
hari sebelumnya
rendah 2. Melatih kemampuan
O:
SP 1 yang pertama yaitu
- Kontak mata belum
klien menyapu
3. Menganjurkan klien ada
- Klien masih berbicara
memasukkan daftar
seperlunya/sedikit
kemampuan ke jadwal
harian. A : klien mampu mencoba
melakukan kegiatan yang
bisa ia lakukan

P : lanjutkan intervensi SP
1 klien HDR.

S:
9/12/2016 Harga 1. Mengevaluasi kegiatan - Klien mengatakan
09.00 WIB diri yang sudah dilakukan senang mempunyai
2. Melatih kemampuan
rendah kegiatan yang bisa
klien yang kedua yaitu
SP 2 dilakukan
mencuci piring
klien

O:
- Wajah klien tidak
tampak tegang
- Kontak mata masih
kurang dan mudah
beralih

A : klien mampu
mempraktikkan
kemampuan yang kedua

P:
- Motivasi klien untuk
melakukan kegiatan
positif lainnya
- Lanjutkan intervensi
SP 2 klien
S:
- Klien mengatakan
10/12/2016 Harga 1. Mengevaluasi kegiatan sudah melakukan cuci
12.00 WIB diri yang sudah dilakukan piring sehabis makan
rendah hari sebelumnya
2. Melatih kemampuan
SP 2 O:
klien yang lain yang bisa
klien - Klien tampak masih
dilakukan di rumah sakit
suka melamun saat
tidak ada kegiatan.

A : klien mampu
melaksanakan
kemampuan yang kedua
P:
- Motivasi untuk
melakukan kegiatan
lain yang bisa
dilakukan

S:
- Klien mengatakan
1. Mengevaluasi kegiatan
15/12/2016 Harga perasaan hari ini
yang dilakukan hari
16.00 WIB diri cukup senang dan
sebelumnya
rendah tenang

O:
- Klien tampak sudah
mau melakukan
kegiatan lain seperti
sholat.
A : klien mampu
melakukan aktivitas yang
membuat ia tidak sering
melamun.

P : pantau kegiatan sehari-


hari

Daftar Pustaka

Fitria, N. 2009. Prinsip Dasar dan Aplikasi Penulisan Laporan Pendahuluan Dan Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (LP dan SP). Jakarta: Salemba Medika.

Hawari, D. 2003. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa: Skizofrenia. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Keliat, B.A. 2006. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.

Stuart, Gail W. 2006. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC

Riyadi, S. Dan Purwanto, T. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta: Graha Ilmu.