You are on page 1of 18

TUGAS TERSTRUKTUR KEPERAWATAN ANAK

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK DENGAN


GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN : INVAGINASI

KELOMPOK 9 :
1.Korpindus
2.Liberta Oktaviani
3.Natalia Clear
4.Trivornia Wati

Akademi Keperawatan Dharma Insan


Pontianak
2011

Asuhan keperawatan pada anak


dengan gangguan sistem pencernaan
:invaginasi

I Konsep dasar Medis

A. Defenisi
Suatu invaginasi atau intususepsi terjadi bila sebagian
saluran cerna terdorong sedemikian rupa sehingga
sebagian darinya akan menutupi sebagian lainnya
hingga seluruhnya mengecil atau memendek ke dalam
suatu segmen yang terletak di sebelah kaudal.
Intususepsi merupakan penyebab paling sering dari
obstruksi usus pada usia 2 bulan 6 tahun.(Nelson,
1999).

Intususepsi adalah invaginasi atau masuknya bagian


usus ke dalam perbatasan atau bagian yang lebih distal
dari usus (umumnya, invaginasi ileum masuk ke dalam
kolon desendens). (Nettina, 2002).

Intususepsi terjadi bila salah satu bagian usus masuk


kebagian usus lain yang mengakibatkan obstruksi di
bagian atas defek (telescoping). (Dons L. Wong, 2003)

B. Klasifikasi
Bagian usus yang masuk disebut intussusceptum dan
bagian yang menerima intussusceptum dinamakan
intussuscipiens, klasifikasinya adalah
1. Ileocaecal : ileum berinvaginasi ke dalam kolon
asenden pada katup ileocaecal.
2. Ileo-colic : ileum berinvaginasi ke dalam kolon.
3. colo-colic : kolon berinvaginasi ke dalam kolon.
4. ileo-ileo : usus kecil berinvaginasi ke dalam usus
kecil.
Kombinasi lain dapat terjadi seperti ileo-ileocolica
dan appendical-colica. Kasus yang paling banyak
ditemukan adalah ileo-colica (75%).

C. Anatomi dan fisiologi

a. Usus halus (usus kecil)

Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari


saluran pencernaan yang terletak di antara lambung
dan usus besar. Dinding usus kaya akan pembuluh
darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati
melalui vena porta. Dinding usus melepaskan lendir
(yang melumasi isi usus) dan air (yang membantu
melarutkan pecahan-pecahan makanan yang dicerna).
Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim
yang mencerna protein, gula dan lemak.

Lapisan usus halus : lapisan mukosa ( sebelah


dalam ), lapisan otot melingkar , lapisan otot
memanjang dan lapisan serosa ( Sebelah
Luar )
Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu usus dua belas
jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus
penyerapan (ileum).

1. Usus dua belas jari (Duodenum)

Usus dua belas jari atau duodenum adalah


bagian dari usus halus yang terletak setelah lambung
dan menghubungkannya ke usus kosong (jejunum).
Bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo
duodenale dan berakhir di ligamentum Treitz.

Usus dua belas jari merupakan organ


retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya
oleh selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang
normal berkisar pada derajat sembilan. Pada usus dua
belas jari terdapat dua muara saluran yaitu dari
pankreas dan kantung empedu. Nama duodenum
berasal dari bahasa Latin duodenum digitorum, yang
berarti dua belas jari.

Lambung melepaskan makanan ke dalam usus


dua belas jari (duodenum), yang merupakan bagian
pertama dari usus halus. Makanan masuk ke dalam
duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang
bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum
akan megirimkan sinyal kepada lambung untuk
berhenti mengalirkan makanan.

2. Usus Kosong (jejenum)

Usus kosong atau jejunum (terkadang sering


ditulis yeyunum) adalah bagian kedua dari usus
halus, di antara usus dua belas jari (duodenum) dan
usus penyerapan (ileum). Pada manusia dewasa,
panjang seluruh usus halus antara 2-8 meter, 1-2
meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan
usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan
mesenterium.

Permukaan dalam usus kosong berupa membran


mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang
memperluas permukaan dari usus. Secara histologis
dapat dibedakan dengan usus dua belas jari, yakni
berkurangnya kelenjar Brunner. Secara hitologis pula
dapat dibedakan dengan usus penyerapan, yakni
sedikitnya sel goblet dan plak Peyeri. Sedikit sulit
untuk membedakan usus kosong dan usus
penyerapan secara makroskopis.

Jejunum diturunkan dari kata sifat jejune yang


berarti lapar dalam bahasa Inggris modern. Arti
aslinya berasal dari bahasa Laton, jejunus, yang
berarti kosong.

3. Usus Penyerapan (illeum)

Usus penyerapan atau ileum adalah bagian


terakhir dari usus halus. Pada sistem pencernaan
manusia, ) ini memiliki panjang sekitar 2-4 m dan
terletak setelah duodenum dan jejunum, dan
dilanjutkan oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara
7 dan 8 (netral atau sedikit basa) dan berfungsi
menyerap vitamin B12 dan garam-garam empedu.

b. Usus Besar (Kolon)

Usus besar atau kolon dalam anatomi adalah


bagian usus antara usus buntu dan rektum. Fungsi
utama organ ini adalah menyerap air dari feses.

Usus besar terdiri dari :

1. Kolon asendens (kanan)


2. Kolon transversum

3. Kolon desendens (kiri)

4. Kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum)

Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus


besar berfungsi mencerna beberapa bahan dan
membantu penyerapan zat-zat gizi.

Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi


membuat zat-zat penting, seperti vitamin K. Bakteri ini
penting untuk fungsi normal dari usus. Beberapa
penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan
pada bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya
terjadi iritasi yang bisa menyebabkan dikeluarkannya
lendir dan air, dan terjadilah diare.

D.Etiologi

Penyebab dari kebanyakan intususepsi tidak diketahui.


Terdapat hubungan dengan infeksi infeksi virus adeno
dan keadaan tersebut dapat mempersulit
gastroenteritis. Bercak bercak peyeri yang banyak
terdapat di dalam ileum mungkin berhubungan dengan
keadaan tersebut, bercak jaringan limfoid yang
membengkak dapat merangsang timbulnya gerakan
peristaltic usus dalam upaya untuk mengeluarkan
massa tersebut sehingga menyebabkan intususepsi.
Pada puncak insidens penyakit ini, saluran cerna bayi
juga mulai diperkenalkan dengan bermacam bahan
baru. Pada sekitar 5% penderita dapat ditemukan
penyebab penyebab yang dikenali, seperti
divertikulum meckeli terbalik, suatu polip usus,
duplikasi atau limfosarkoma. Secara jarang, keadaan ini
akan mempersulit purpura Henoch Schonlein dengan
sutau hematom intramural yang bertindak sebagai
puncak dari intususepsi. Suatu intususepsi pasca
pembedahan jarang dapat didiagnosis, intususepsi
intususepsi ini bersifat iloileal.

E. Patofisiologi
Kebanyakan intususepsi adalah ileokolik dan
ileoileokolik, sedikit sekokolik dan jarang hanya ileal.
Secara jarang, suatu intususepsi apendiks membentuk
puncak dari lesi tersebut. Bagian atas usus,
intususeptum, berinvaginasi ke dalam usus di
bawahnya, intususipiens sambil menarik mesentrium
bersamanya ke dalam ansa usus pembungkusnya.
Pada mulanya terdapat suatu konstriksi mesentrium
sehingga menghalangi aliran darah balik.
Penyumbatan intususeptium terjadi akibat edema dan
perdarahan mukosa yang menghasilkan tinja
berdarah, kadang kadang mengandung lendir.
Puncak dari intususepsi dapat terbentang hingga kolon
tranversum desendens dan sigmoid bahkan ke anus
pada kasus kasus yang terlantar. Setelah suatu
intususepsi idiopatis dilepaskan, maka bagian usus
yang memebentuk puncaknya tampak edema dan
menebal, sering disertai suatu lekukan pada
permukaan serosa yang menggambarkan asal dari
kerusakan tersebut. Kebanyakan intususepsi tidak
menimbulkan strangulasi usus dalam 24 jam pertama,
tetapi selanjutnya dapat mengakibatkan gangren usus
dan syok.

F. Tanda dan Gejala


Tanda gejala yang mungkin muncul pada kasus ini
adalah
- Pada tahap awal muncul gejala nyeri kolik hebat yang
timbul mendadak, hilang timbul.
- Bayi menangis kesakitan saat serangan dan kembali
normal di antara serangan.
- Terjadi syok di sertai suhu naik sampai 410C.
- Muntah .
- Pucat, lemas, berkeringat dan lesu.
- Nadi lemah dan cepat.
- Pernafasan dangkal dan cepat.
- Demam, terutama bila usus mengalami perforasi.
- Jarang flatus bahkan tidak ada.
- Tinja dengan bentuk normal masih dapat dikeluarkan
selama beberapa jam pertama sejak timbulnya gejala.
Setelah itu pengeluaran tinja akan berkurang bahkan
tidak terjadi lagi.
- Pada saat palpasi abdomen terasa adanya massa
dengan rasa nyeri berbentuk sosis.
- Bila invaginasi panjang hingga ke daerah rektum,
pada pemeriksaan colok dubur terdapat lendir
berdarah.
- Dalam keadaan lanjut muncul tanda obstruksi usus,
yaitu distensi abdomen.
- Diare.
- BB menurun.

G.Pemeriksaan Diagnostik
1. Foto polos abdomen memperlihatkan suatu
kepadatan sepertisuatu massa di tempat
intususepsi.
2. Foto setelah pemberian enema barium
memperlihatkan gangguan pengisisan atau
pembentukan cekungan pada ujung barium, ketika
bergerak maju dan dihalangi oleh intususepsi
tersebut.
3. Ultrasonogram dapat dilakukan untuk melokalisir
area usus yang
masuk.
4. Barium enema di bawah fluoroskopi menunjukkan
tampilan coiled spring pada usus.

H.Penatalaksanaan Medik
Pelepasan intususepsi merupakan suatu prosedur
gawat darurat yang harus segera dilakukan setelah
diagnosis ditegakkan dan persiapan cepat pembedahan
yang dilakukan dengan cairan dan darah untuk
mengatasi syok, selain sebagai pengganti air dan
elektrolit.
Pada kasus-kasus tertentu jika tidak terdapat tanda-
tanda kelemahan dan syok, maka kemungkinan untuk
melepaskan intususepsi tersebut dengan menggunakan
tekanan hidrostatis melalui bimbingan fluoroskopi dan
konsultasi serta petunjuk seorang ahli bedah.
Suatu kantung kateter foley yang dilumasi ditempatkan
di dalam rektum,
kemudian dipompa. Pantat dirapatkan dan direkatkan
dengan plester pelekat. Suatu larutan barium dibiarkan
mengalir dengan kekuatan grafitasi kedalam colon, dari
ketinggian tidak lebih dari 3 kaki diatas meja
fluoroskopi. Abdomen tidak disentuh selama
melaksanakan prosedur ini. kolom barium tersebut
akan bergerak maju secara lambat kearah proksimal
dengan pergerakan progresif gangguan pengisian
secara bersamaan pada arah yang sama. pelepasan
intususepsi terjadi dengan pengisisan usus halus
secara bebas, hilangnya massa, keluarnya gas atau
tinja serta perbaikan dan kemajuan keadaan bayi
tersebut.
jika terdapat keraguan tentang kesempurnaan
pelepasan tersebut, maka dilakukuan pembedahan
eksplorasi.

I. Komplikasi
Bila intususepsi tidak segera ditangani, maka dapat
terjadi komplikasi seperti :
1. Perforasi usus.
2. Syok.
.

II. Konse Dasar Keperawatan


A. Pengkajian
1. Pengkajian fisik secara umum.
2. Dapatkan riwayat kesehatan dengan cermat,
terutama deskripsi keluarga tentang gejala.
3. Observasi pola feses dan prilaku praoperasi dan
pascaoperasi.
4. Observasi tingkah laku anak/bayi.
5. Observasi manifestasi terjadi intususepsi :
a. Nyeri abdomen akut tiba-tiba.
- Anak menjerit dan melipat lutut ke arah
dada.
- Anak kelihatan normal dan nyaman selama
interval diantara episode nyeri.
b. Muntah.
c. Letargi.
d. Feses seperti jeli kismis mengandung darah
dan mucus.
e. Distensi abdomen dan nyeri tekan.
f. Massa terpalpasi yang seperti sosis di abdomen
kuadran kanan atas.
g. Anus yang terlihat tidak biasa, dapat tampak
seperti prolaps rectal.
h. Dehidrasi dan demam sampai kenaikan 410C.
j. Keadaan seperti syok dengan nadi cepat, pucat
dan keringat banyak.

6. Observasi manifestasi intususepsi yang kronis :

a. Diare.

b. Anoreksia.

c. Kehilangan berat badan.

d. Kadang kadang muntah.


e. Nyeri yang periodic.

f. Nyeri tanpa gejala lain.

B. Diagnosa keperawatan
a. preopersasi
1. Nyeri berhubungan dengan invaginasi usus
2. Syok hipovolemik berhubungan dengan muntah,
perdarahan dan akumulasi cairan dan elektrolit
dalam lumen.
3. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan
prosedur bedah, anastesi.
4. ansitas berhubungan dengan lingkungan tidak
dikenal, kurang pengetahuan.

b. post operasi
1. nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka post
operasi.
3. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan
krisis situasi ( anak dihospitalisasi).

C. Rencana Keperawatan

1. Preoperasi
DP 1. Nyeri berhubungan dengan invaginasi usus
Tujuan : - Nyeri berkurang sampai tingkat yang
dapat diterima anak.

HYD : - anak tidak menunjukkan tanda-


tanda nyeri atau ketidaknyamanan
yang minimu.

- Anak belajar dan


mengimplementasikan strategi koping
yang efektif.
- Orang tua belajar keterampilan
koping dan efektif dalam memebantu
anak untuk melakukan koping.

Intervensi :

1. lakukan strategi nonfarmakologik untuk


membantu anak mengatasi nyeri.
rasional : teknik - teknik relaksasi pernapasan
berirama dan distraksi dapat membuat nyeri
lebih ditoleransi.
2. Libatkan orang tua dalam pemilihan strategi.
rasional : orang tua adalah orang yang paling
mengetahui anak.
3. Pilih individu yang tepat biasanya orang tua.
rasional : untuk membantu anak dengan
strategi nonfarmakologik.
4. Ajarkan anak untuk menggunakan strategi
nonfarmakologis khusus sebelum terjadinya
nyeri atau sebelum nyeri menjadi lebih berat.
rasional : pendekatan ini tampak paling efekti
pada nyeri ringan.
5. Bantu atau minta orang tua membantu anak
dengan menggunakan strategi selama nyeri
aktual.
rasional : pelatihan mungkin diperlukan untuk
membantu anak berfokus pada tindakan yang
diperlukan.
6. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
analgesik
rasional : untuk mengatasi rasa nyeri.

DP 2. Syok hipovolemik berhubungan dengan


muntah, perdarahan dan akumulasi cairan
dan elektrolit dalam lumen.

Tujuan : volume sirkulasi (keseimbangan cairan


dan elektrolit) dapat dipertahankan.
HYD : tanda tanda syok hipovolemik tidak
terjadi.

Intervensi :

1. Observasi tanda tanda vital catat adanya


hipotensi, takikardi, takipnea, demam.
rasional : untuk melihat tanda adanya syok.
2. Perhatikan adanya mendengkur atau
pernafasan cepat dan dangkal.
rasional : mengidentifikasikan anak berada pada
keadaan syok.
3. Observasi frekuensi nadi dengan cermat dan
ketahui rentang nadi yang tepat untuk usia
anak.
rasional : untuk memantau keadaan anak yang
abnormal
4. Menurunkan suhu badan anak .
rasional : karena demam meningkatkan
metabolisme dan membuat oksigenasi selama
anestesi menjadi lebih sulit.
5. Kolaborasi : Lakukan pemeriksaan
laboratorium: Hb/Ht, elektrolit, protein, albumin,
BUN, kreatinin.
Berikan plasma/darah, cairan, elektrolit, diuretic
sesuai indikasi.
rasional : untuk mempertahankan kondisi
normal.

DP 3. Risiko tinggi cedera berhubungan dengan


prosedur bedah, anastesi.

Tujuan : Pasien tidak mengalami cedera.

HYD : - Anak aman dari bahaya.


- Anak teridentifikasi dengan jelas
dan benar.

Intervensi :
1. Periksa bahwa gelang identitas terpasang
dengan benar.
rasional : untuk melihat identitas yang jelas.
2. Periksa bahwa gelang identifikasi terpasang
dengan personel bedah
rasional : untuk menjamin identifikasi yang
benar.
3. Kencangkan pagar tempat tidur atau
keranjang anak
rasional : untuk mencegah pasien atau anak
jatuh.
4. Gunkan restrain ketika memindahkan
dengan brankar (atau alat-alat lain)
rasional : Untuk mencegah anak jatuh.
5. Jangan meninggalkan anak tanpa
pengawasan.
rasional : untuk mencegah terjadinya cedera
karena jatuh.

DP 4 . ansitas berhubungan dengan lingkungan


tidak dikenal, kurang pengetahuan.

Tujuan : anak menunjukan tanda tanda relaksasi


yang optomal, sedasi, dan dukungan
sebelum tiba diruang operasi.

HYD : - Anak tertidur atau berbaring dengan tenan.

-Anak tidak ditinggal sendiri.

Intervensi :

1. Bikan sedasi praoprasi ( lebih baik oral ), bila


dintruksikan.
rasional : untuk meningkatkan relaksasi dan
tidur.
2. Tempatkan alat yang tidak dikenal diluar
pandangan anak.
rasional : untuk menurunkan cemas atau takut.
3. Tempatkan anak dalam ruangan tenang
distraksi minimum. rasional : untuk
meningkatkan relaksasi dan mendorong tidur.
4. Dorong orang tua untuk tinggal dengan anak
selama yang diizinkan.
rasional : cemas yang dirasakan anak dapat
berkurang dengan adanya orang terdekat.
5. Izinkan orang tua untuk menggendong anak
sampai anak tertidur bila diizinkan.
rasional : agar anak merasa ada kenyamanan
dan menurunkan cemas.
6. biarkan objek penting menemani anak
(misalnya mainan favorit ).
rasional : untuk memberikan rasa aman dan
nyaman.

2. post operasi

DP 1. nyeri berhubungan dengan insisi


pembedahan.
Tujuan : Pasien tidak mengalami nyeri atau
penurunan nyeri sampai tingkat yang
dapat diterima anak.
HYD : Anak beristirahat tenang dan
menunjukan bukti bukti nyeri yang
minimal.

Intervensi :
1. Jangan menunggu sampai anak mengalami
nyeri hebat untuk mengintervensi.
rasional : untuk mencegah terjadinya nyeri.
2. Hindari mempalpasi area operasi kecuali jika
diperlukan
rasional : mempalpasi area operasi dapat
menimbulkan nyeri.
3. Dorong untuk berkemih
rasional : untuk mencegah distensi kandung
kemih.
4. Berikan posisi yang nyaman pada anak bila
tidak dikontraindikasikan.
rasional : posisi yang nyaman dapat mengurangi
nyeri.
5. kolaborasi dengan dokter untuk pemberian
analgesik.
rasional : untuk mengatasi nyeri.

DP 2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka


post operasi.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
HYD : anak bebas dari gejala infeksi

Intervensi :
1. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah
tindakan keperawatan.
rasional : mecegah terjadinya risiko
inosokomial.
2. Melakukan perawatan luka bekas operasi
menggunakan tehnik aseptik.
rasional : untuk menghindari infeksi
3. Tingkatkan intake nutrisi.
rasional : nutrisi yang adekuat menghindarkan
anak dari risiko infeksi.
4. Bersihkan alat alat yang digunakn.
rasional : alat yang bersih menghindarkan
anak dari infeksi.

DP 3. Perubahan proses keluarga berhubungan


dengan krisis situasi ( anak dihospitalisasi).
Tujuan : pasien ( keluarga ) mendapat dukungan
dan ketenangan yang adekuat.
HYD : Keluarga mendiskusikan kondisi anak
dan terapinya dengan nyaman.

Intervensi :
1. jelaskan semua prosedur.
rasional : untuk menurunkan kecemasan atau
ketakutan.
2. Dorong ekspresi perasaan.
rasional : untuk memudahkan koping.
3. Tekankan dan jelaskan penjelasan profesional
kesehatan tentang kondisi anak, prosedur, dan
terapi yang di anjurkan, serta prognosisnya.
rasional : agar keluarga memahami kondisi
anak.
4. Kenali masalah keluarga dan kebutuhan akan
informasi
rasional : untuk memudahkan memberikan
informasi.
5. Ulangi informasi sesering mungkin.
rasional : untuk memfasilitasi pemahaman.

Daftar Pustaka
Wong, Donna L. (2003) .Asuhan Keperawatan
Pedoman Klinis Keperaatan Pediatrik. Ed 4.
Jakarta:EGC.

Nettina, Sandra M. (2001). Pedoman Praktik


Keperawatan. Alih bahasa Setiawan,dkk.
Jakarta.

Nelson,(1999).Ilmu Kesehatan Anak.Alin bahasa


Drs. Med Moelia Radja Siregar dan dr. R.F
Maulany.M.Sc. Ed 12. Jakarta : EGC.