You are on page 1of 6

A.

Profil muhamad iqbal

Muhammad Iqbal beasal dari keluarga golongan menengah di Punjab dan


lahir di Sialkot pada tahun 1876. Untuk meneruskan studi ia kemudian pergi ke
Lahore dan belajar di sana sampai ia memperoleh gelar keserjanaan M.A. di tahun
1905 ia pergi ke Negara Inggris dan masuk ke Universitas Cambridge untuk
mempelajari falsafat. Dua tahun kemudian ia pindah ke Munich di Jerman dan di
sinilah ia memperoleh gelar Ph.D. dalam tasawuf.
Pada tahun 1908 ia berada kembali di Lahore dan disamping pekerjaannya
sebagai pengacara ia menjadi dosen falsafat. Kemudian ia memasuki bidang politik
dan ia ditahun 1930 dipilih menjadi presiden Liga Muslimin. Di tahun 1933 ia
diundang ke Afghanistan untuk membicarakan pembentukan Universitas Kabul.
Dalam usia 62 tahun ia meninggal di tahun 1938.

b. Pemikiran Iqbal
Pemikiran Iqbal mengenai kemunduran dan kemajuan umat Islam
mempunyai pengaruh pada gerakan pembaharuan dalam Islam. Ia berpendapat
bahwa kemunduran umat Islam selama 500 tahun terakhir di sebabkan oleh
kebekuan dalam pemikiran. Sebab lain terletak pada pengaruh zuhud yang terdapat
dalam ajaran tasawuf. Menurut tasawuf yang mementingkan zuhud, perhatian
harus dipusatkan kepada Tuhan dan apa yang berada di balik alam materi. Hal itu
akhirnya membawa kepada keadaan umat kurang mementingkan soal
kemasyarakatan dalam Islam. Sebab terutama ialah hancurnya Baghdad, sebagai
pusat kemajuan pemikiran umat Islam di pertengahan abad ke-13.
Kaum konservatif dalam Islam berpendapat bahwa rasionalisme yang
ditimbulkan golongan muktazilah akan membawa kepada disintegrasi. Untuk itu
mereka menolak segala pembaharuan dalam bidang syariat dan berpegang teguh
pada hukum-hukum yang telah ditentukan ulama terdahulu. Pintu ijtihad mereka
tutup.
Hukum dalam Islam sebenarnya, demikian Iqbal, tidak bersifat statis, tetapi
dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Pintu ijtihad tidak pernah
tertutup. Pada zaman modern, ijtihad telah semenjak lama dijalankan di Turki yang
melepaskan diri dari belenggu dogmatism. Baru bangsa Turkilah yang
mempergunakan hak kebebasan berpikir yang terdapat dalam Islam.
Islam pada hakikatnya mengajarkan dinamisme demikian pendapat Iqbal.
Konsep Islam mengenai alam adalah dinamis dan senantiasa berkembang.
Kemajuan serta kemunduran dibuat Tuhan silih berganti di antara bangsa-bangsa
yang mendiami bumi ini. Ini mengandung arti dinamisme.
Islam mempertahankan konsep dinamisme dan mengakui adanya gerak dan
perubahan dalam hidup social manusia. Dan prinsip yang dipakai dalam soal gerak
dan perubahan itu ialah ijtihad.
Barat menurut penilaian Iqbal, amat banyak dipengaruhi oleh materialism
dan telah mulai meninggalkan agama. Yang di ambil umat Islam dari barat
hanyalah ilmu pengetahuannya. Kalau kapitalisme ia tolak, sosialisme barat dapat
ia terima. Ia bersikap simpatik terhadap gerakan sosialisme di Barat dan di Rusia.
Tapi Iqbal tidak begitu saja menerima apa yang datang dari barat.
Iqbal menentang nasionalisme, karena dalam nasionalisme seperti yang ia
jumpai di Eropa, ia melihat bibit materialism dan ateisme dan keduanya
merupakan ancaman besar bagi peri kemanusiaan.
Di India terdapat dua umat besar, demikian Iqbal dan dalam pelaksanaan
demokrasi Barat di India, kenyataan ini harus diperhatikan. Untuk itu, umat Islam
harus menuju pembentukan Negara tersendiri, terpisah dari Negara Hindu. Tjuan
membentuk Negara tersendiri ini, ia tegaskan dalam rapat tahunan Liga Muslimin
di tahun 1930. Ide dan tujuan membentuk Negara tersendiri diumumkan secara
resmi dan kemudian menjadi tujuan perjuangan nasional umat Islam di India.
Ide Iqbal bahwa umat Islam India merupakan suatu bangsa dan oleh Karena
itu memerlukan satu Negara tersendiri tidaklah bertentangan dengan pendiriannya
tentang persaudaraan dan persatuan umat Islam. Bagi Iqbal dunia Islam seluruhnya
merupakan satu keluarga yang terdiri atas republik-republik dan Pakistan yang
akan dibentuk adalah salah satu Republik itu.

IV. Muhammad Ali Jinnah


a. Profil Muhammad Ali Jinnah
Muhammad Ali Jinnah adalah anak seorang saudagar dan lahir di Karachi
pada tanggal 25 Desember 1876. Di masa remaja ia telah pergi ke London untuk
meneruskan studi dan di sanalah ia memperoleh kesarjanaannya dalam
bidanghukum di tahun 1896. Pada tahun itu juga ia kembali ke India dan bekerja
sebagai pengacara di Bombay.
Tiada lama sesudah itu ia menggabungkan diri dengan Partai Kongres .
Pada tahun 1913 itu juga Jinnah dipilih menjadi Presiden Liga Muslimin. Pada
waktu itu ia masih mempunyai keyakinan bahwa kepentingan umat Islam India
dapat dijamin melalui ketentuan-ketentuan tertentu dalam Undang-Undang Dasar.
Untuk itu ia mengadakan pembicaraan dan perundingan dengan pihak Kongres
Nasional India. Salah satu hasil dari perundingan ialah perjanjian Lucknow 1916.
menurut perjanjian itu ummat Islam India akan memperoleh daerah pemilihan
terpisah dan ketentuan ini akan dicantumkan dalam Undang-Undang Dasar India
yang akan disusun kelak kalau telah tiba waktunya. (Nasution,1996:197)
Selanjutnya dalam Konferensi Meja Bundar London yang diadakan pada
tahun 1930-1932 ia menjumpai hal-hal yang menimbulkan perasaan kecewa dalam
dirinya. Ia memutuskan mengundurkan diri dari lapangan polotik dan menetap di
London. Di sana ia bekerja sebagai pengacara. Dalam pada itu Liga Muslimin
perlu pada pimpinan baru lagi aktif, maka di tahun 1934 ia diminta pulang oleh
teman-temannya dan pada tahun itu juga ia dilih menjadi Ketua tetap dari Liga
Muslimin. Dibawah pimpinan Jinnah kali ini, Liga Muslimin berobah menjadi
gerakan rakyat yang kuat. Dengan adanya perkembangan ini ummat Islam India,
tiba-tiba mulai sadar, demikian Al-Biruni menulis, bahwa apa yang ditakutkan Sir
Sayyid Ahmad Khan dan Vigar Al-Mulk sebelumnya, sekarang mulai menjadi
kenyataan, kekuasaan Hindu mulai terasa. Para Perdana Menteri Punjab, Bengal
dan Sindi juga mulai mengadakan kerjasama dengan Jinnah. Sokongan ummat
Islam India kepada Jinnah dan Liga Muslimin bertambah kuat lagi dan ini ternyata
dari hasil pemilihan 1946. di Dewan pusat (Central Assembly) seluruh kursi yang
disediakan untuk golongan Islam, dapat diperoleh oleh Liga Muslimin. Kedudukan
Jinnah dalam perundingan dengan Inggris dan Partai Kongres Nasional India
mengenai masa depan Ummat Islam India bertambahkuat.
Di tahun 1942 Inggris telah mengeluarkan janji akan memberi kemerdekaan
kepada India sesudah Perang Dunia 11 selesai. Pelaksanaannya mulai dibicarakan
dari tahun1945. Dalam pada itu diputuskan untuk mengadakan sidang Dewan
Kostitusi pada bulan Desember 1946, dan Jinnah melihat bahwa dalam suasana
demikian sidang tidak bisa diadakan dan oleh karena itu meminta supaya ditunda.
Setahun kemudian keluarlah putusan Inggris untuk menyerahkan kedaulatan
kepada dua Dewan Konstitusi, satu untuk Pakistan dan satu untuk India. Pada
tanggal 14 Agustus 1947 Dewan Konstitusi Pakistan dibuka dengan resmi dan
keesokan harinya 15 Agustus 1947 Pakistan lahir sebagai negara bagi ummat Islam
India. Jinnah diangkat menjadi Gubernur Jenderal dan mendapat gelar Qaid-i-
Azam (pemimpin Besar) dari rakyat Pakistan.
Pembaharuan-pembaharuan di India mempunyai peranan masing-masing,
disengaja atau tidak, dalam perwujudan Pakistan. Sayyid Ahmad Khan denganm
idenya tentang pentingnya ilmu pengetahuan, Sayyid Amir Ali dengan idenya
bahwa Islam tidak menentang kemajuan modern, dan Iqbal dengan ide
dinamikanya, amat membantu bagi usaha-usaha Jinnah dalam menggerakan ummat
Islam India, yang seratus tahun yang lalu masih merupakan masyarakat yang
berada dalam kemunduran, untuk menciptakan negara dan masyarakat Islam
modern di anak benua India.noerhayati.

b. Sejarah Lahirnya Negara Pakistan


Pakistan mendapat kemerdekaan dari Inggris pada 14 Agustus 1947. Nama
Islam-i Jumhuriya-e Pakistan (Republik Islam Pakistan) memiliki arti dan peran
penting dalam perkembangan sejarah Islam modern.
Tampak jelas dalam kata-kata Muhammad Ali Jinnaah seorang tokoh
revolusioner- pendiri negara ini yang mengatakan, "kita tidak memperjuangkan
berdirinya Pakistan semata-mata untuk mendapatkan sebidang tanah, tetapi kita
menginginkan suatu wilayah di mana kita bisa menerapkan prinsip dan ajaran
Islam". Sejak perjuangan awal mendirikan negara Islam yang terpisah dari India,
hingga terbentuk sebuah negara merdeka, Pakistan telah memberikan sumbangsih
jasabagiumatIslammasakini.

Bagi masyarakat Pakistan, Islam bukan sesuatu yang asing. Sejak


pemerintahan Sultan al Walid I (705-715), para pendakwah Islam sudah melakukan
ekspedisi dan penyiaran Islam ke seluruh Pakistan (pen: dahulu India) yang saat itu
mayoritas beragama Budha. Namun, pengislaman sesungguhnya baru terjadi pada
era Sultan Mahmud al Gaznawi (971-1030), yang berpusat di Kota Gazni,
Afganistan. Dan semakin cemerlang pada era Dinasti Mogul berkuasa di India
(1526-1858). Undang-undang Negara juga berdasarkan Syariat yang dilaksanakan
oleh pemerintah. Kesan Islam pada sub-benua Asia-Selatan sangat dalam dan
dalam jangkauan yang cukup luas. Islam diperkenalkan bukan merupakan suatu
agama baru saja, tetapi suatu peradaban baru, suatu cara baru dalam kehidupan dan
set nilai yang baru. dan kesusasteraan dari tradisi Islam, suatu kebudayaan dan
pemurnian yang halus, institusi sosial dan kesejahteraan, didirikan dengan aturan
Islam di seluruh sub-benua.
Sebuah bahasa baru diperkenalkan, Urdu berasal terutama dari Bahasa Arab.

Sebelum pisah menjadi Pakistan, umat Islam India merupakan minoritas amat
lemah, di tengah mayoritas Hindu dan kekuasan politik serta militer Inggris. Islam
dan Hindu ibarat dua arus sungai yang mengalir dan bersumber dari muara yang
berbeda. Walaupun pemeluknya telah hidup berdampingan bersama selama
berabad-abad, namun pandangan mereka tentang hidup dan kehidupan merupakan
batas pemisah yang tidak bisa dijembatani. Maka muncullah gagasan membentuk
negara sendiri bagi umat Islam. Gagasan yang diprakarsai Sir Sayid Ahmad Khan
(l817-1898), kemudian berkembang luas menjadi cita-cita perjuangan, segera
dirumuskan oleh Sir Muhammad Iqbal (1873-1938) melalui organisasi "Liga
Muslim India". Akhirnya direalisasikan oleh Muhammad Ali Jinnah, yang dibaiat
menjadi Qaid-i Azam (Pemimpin Besar) sekaligus Presiden pertama Republik
Islam Pakistan. Dalam salah satu pidatonya ia (Ali Jinnah) mengatakan, "dari sudut
pandang apapun ummat Islam adalah satu bangsa, mereka berhak mendirikan
Negara sendiri dan menerapkan cara apapun untuk melindungi dan meningkatkan
kepentingan mereka dari dominasi India."

Aral tak henti menghadang pertumbuhan negara yang tengah berjuang menerapkan
syari'ah (hukum Islam), yang mengakomodasi demokrasi, HAM, toleransi, dan
keadilan sosial tersebut. Mayoritas negara-negara anggota PBB rata-rata "gerah"
menyaksikan kemajuan Pakistan di bidang penerapan syari'ah dan pengembangan
sains modern. Puncak kekhawatiran itu, berubah menjadi ketakutan dan berujung
kepada konspirasi untuk memecah belah.
Tahun 1971 timbul perang saudara antara Pakistan Barat yang dipimpin
Presiden Yahya Khan dan Pakistan Timur yang dipimpin Mujibur Rahman.
Dengan bantuan penuh India, serta kelompok konspirasi lainnya, Pakistan Timur
berhasil melepaskan diri dari Republik Islam Pakistan. Berdirilah Republik
Bangladesh. Republik Islam Pakistan kehilangan satu sayap terpenting, berupa
penyusutan wilayah geografis. Setelah tragedi pisahnya Pakistan Barat-Pakistan
Timur, Republik Islam Pakistan senantiasa dililit masalah. Selain ketegangan abadi
dengan India, baik mengenai perbatasan maupun "kepemilikan" Khasmir, juga
ketengangan internal yang selalu meruntuhkan kewibawaan pemerintahan.
Tahun 1974, Jenderal Yahya Khan dikudeta oleh Jenderal Zulfikar Ali
Butho. Juli 1977, Jenderal Ziaul Haq mengambil alih kekuasaan. Ali Butho
dihukum gantung (4 April 1979). Pemerintah Ziaul Haq memberi dukungan penuh
kepada Mujahidin Afganistan, yang sedang berjuang melawan invasi militer Uni
Soviet (1979-1989). Namun tahun 1988, Ziaul Haq tewas, ketika helikopter yang
ditumpanginya bersama Dubes Amerika Serikat di Pakistan, meledak. Kekuasan
berpindah. Hingga muncul Benazir Butho, putri mendiang Zulfikar Ali Butho,
merebut takhta Perdana Menteri. Hanya bertahan dua tahun.
Tahun 1990, Benazir lengser karena dituduh korupsi. Digantikan Nawaz
Sharif, seorang pengikut panatik Ziaul Haq. Sejak itu, pemerintahan Pakistan tak
pernah stabil.
Serangan AS ke Afganistan awal 2002, membawa pengaruh luar biasa terhadap
Pakistan. Peran Pakistan membesarkan Milisi Thaliban, hingga mampu mendirikan
pemerintahan Islam di Afganistan tahun 1996, berubah drastis setelah mendapat
tekanan keras AS. Pakistan balik membantu AS menghancurkan Milisi Thaliban.
Presiden Pervez Musharraf berperan besar dalam perubahan sikap itu. Seorang
Presiden yang berhasil naik tahta dengan aksi kudeta militer tak berdarah ini,
merupakan kata kunci bagi perkembangan politik dan ekonomi Pakistan
kontemporer.
In the Line of Fire karya Peresiden Musharraf terbaru (2006), adalah buku
yang cukup kontroversial untuk dekade akhir ini. Banyak hal yang ia paparkan
dalam buku tersebut, mulai dari perbaikan ekonomi Pakistan, pemulihan
demokratisasi, pengentasan kemiskinan, peningkatan taraf pendidikan, emansipasi
wanita, sampai kepada perang terhadap terorisme.
Dengan langkah-langkah reformasinya ini, seolah ia tengah bermain api, baik
kepada kalangan yang memiliki dendam sejarah atasnya, atau kepada kalangan
yang "emoh" terhadap ide demokrasi liberal. Kalangan oposisi pemerintah, sampai
kalangan fundamentalis pun selalu memberikan catatan-catatan kritis terhadap
perjalanan rezim Musyharaf ini.
Nampaknya ideologi Negara Syariat yang sejak awal dirancang, tengah
menhadapi ujian, khususnya di saat negara-negara Barat menemukan
momentumnya dalam setting perang melawan terorisme. Maka tak heran jika
sekarang mulai muncul kembali wacana, bahwa benarkah Pakistan lahir atas dasar
kepentingan mendirikan Negara Islam, ataukah sebatas membela kepentingan
pemeluk Islam dari ketertindasan bangsa India saja. Entah akan ke mana akhir dari
firksi ini akan bermuara, yang jelas bola api itu masih terus bergulir sampai saat
ini.

V. Kesimpulan
Muhammad Iqbal, lahir 9 November 1877. Dia adalah seorang filsuf,
pemikir, cendekiawan, ahli perundangan, reformis, politikus, dan yang terutama:
penyair. Dia berjuang untuk kemahuan umat Islam dan menjadi bapa spiritual
Pakistan. Iqbal berjuang di India Muslim Leage di awal 1930-an. Bersama
Muhammad Ali Jinnah, dia merumuskan konsep Negara bagi Muslim India, dan
tak pernah melihat berdirinya Pakistan tahun 1947 kerana sudah wafat pada 1938.
Muhammad Ali Jinnah adalah anak seorang saudagar dan lahir di Karachi
pada tanggal 25 Desember 1876. Di masa remaja ia telah pergi ke London untuk
meneruskan studi dan di sanalah ia memperoleh kesarjanaannya dalam
bidanghukum di tahun 1896. Pada tahun itu juga ia kembali ke India dan bekerja
sebagai pengacara di Bombay. Tiada lama sesudah itu ia menggabungkan diri
dengan Partai Kongres.
Maududi lahir di Aurangabad India Selatan, pada 25 September 1903 (3
Rajab 1321). Dia lahir dalam keluarga syarif (keluarga tokoh Muslim India Utara)
dari Delhi, yang bermukim di Deccan. Keluarga ini keturunan wali sufi besar
tarikat Chishti yang membantu menanamkan benih Islam di bumi India.