You are on page 1of 6

Prinsip Pemberian Antibiotik pada Pasien dengan Sepsis

Ferina Evangelin
11 2015 283

Fakultas Kedokteran UKRIDA


Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi
Periode 20 Maret 2017 8 April 2017
Rumah Sakit Family Medical Center
Sentul-Bogor

Pendahuluan

Sepsis adalah respon imun sistemik terhadap infeksi yang berdampak buruk dan dapat
berujung pada sepsis berat atau syok sepsis. Sepsis berat adalah adanya gangguan fungsi
organ akut sekunder akibat adanya infeksi. Sedangkan syok sepsis adalah sepsis berat disertai
hipotensi yang tidak membaik dengan resusitasi cairan. Sepsis dan sepsis berat adalah
masalah kesehatan yang besar di dunia, membunuh jutaan orang, dan menyebabkan satu dari
setiap empat kematian. Seperti penyakit berat lainnya, kecepatan diagnosis dan ketepatan
pengobatan sangat berperan dalam harapan hidup pasien.1

IDSA (Infectious Diseases Society of America) adalah salah satu badan dunia yang
memberikan rekomendasi dalam pengobatan berbagai penyakit infeksi, termasuk sepsis.
Terakhir, rekomendasi sepsis yang diberikan adalah tahun 2008 dan 2013. Baru-baru ini,
pada tahun 2016, IDSA menerbitkan rekomendasi pengobatan sepsis yang baru,
memperbaharui rekomendasi sebelumnya. Rekomendasi pengobatan sepsis ini mencakup
berbagai hal, seperti screening, resusitasi, pemberian cairan, steroid dan vasopressor.1,2

Penatalayanan antibiotik telah didefinisikan dalam sebuah pernyataan consensus dari


Infectious Diseases Society of America (IDSA), the Society for Healthcare Epidemiology of
America (SHEA), dan the Pediatric Infectious Diseases Society (PIDS) as coordinated
interventions designed to improve and measure the appropriate use of antibiotic agents by
promoting the selection of the optimal [antibiotic] drug regimen including dosing, duration of
therapy, and route of administration. Keuntungan-keuntungan penatalayanan antibiotik
termasuk hasil pasien membaik, efek samping berkurang termasuk infeksi Clostridium
difficile (CDI), perbaikan tingkat kerentanan antibiotik untuk ditargetkan antibiotik, dan
optimalisasi pemanfaatan sumber daya di seluruh ruang perawatan.3

Diagnosis1

1. Sebaiknya dilakukan kultur mikroba sebelum dosis pertama pemberian antibiotik jika
tidak memperlambat pemberian antibiotik lebih dari 45 menit.

2. Jika dicurigai disebabkan oleh infeksi jamur, maka dapat digunakan pemeriksaan
beta-D-glucan dan anti-mannan antibody.

3. Pemeriksaan pencitraan sebaiknya dilakukan untuk mencari sumber infeksi.

Prinsip Terapi Antimikroba1-3

1. Antimikroba sebaiknya diberikan dalam waktu tidak lebih dari satu jam setelah
diagnosis sepsis dibuat.

2. Pemilihan :

a. Pemilihan antimikroba empirik didasarkan pada antimikroba yang aktif


terhadap mikroba penyebab dan yang dapat mencapai sumber infeksi.

b. Antimikroba harus dievaluasi setiap hari untuk kemungkinan deeskalasi.

3. Pemeriksaan kadar procalcitonin dapat digunakan untuk membantu diagnosis.

4. Kombinasi :

a. Untuk infeksi akibat mikroba yang Multi Drug Resistant seperti Acinetobacter
dan Pseudomonas, sebaiknya gunakan antibiotik kombinasi. Untuk pasien
sepsis dengan gagal napas dan syok sepsis, sebaiknya gunakan kombinasi
antara Extended Spectrum Beta Lactam dengan Aminoglycoside atau
Fluoroquinolone. Untuk pasien syok sepsis akibat infeksi Streptococcus
pneumoniae, sebaiknya kombinasi beta-lactam dengan macrolide.

b. Kombinasi antibiotik empirik sebaiknya tidak dipakai lebih dari 35 hari.


Sebaiknya segera lakukan de-eskalasi bila profil sensitivitas telah diketahui.

5. Durasi pemberian antimikroba biasanya 7 10 hari, tetapi dapat lebih panjang bila
terjadi pada pasien dengan defisiensi imun.

6. Bila disebabkan oleh infeksi virus, maka segera berikan antivirus.

7. Antimikroba sebaiknya tidak diberikan pada sepsis yang penyebabnya bukan infeksi.

Pada poin 4a direkomendasikan penggunaan kombinasi untuk pasien sepsis dengan


infeksi bakteri Multi Drug Resistant. Salah satu rekomendasinya adalah kombinasi antara
Extended Spectrum Beta Lactam (contoh: Meropenem) dengan Aminoglycoside (contoh:
Amikacin) atau Fluoroquinolone (contoh: Levofloxacin). Hal ini sesuai juga dengan
rekomendasi IDSA lainnya, yaitu untuk Hospital Acquired Pneumonia tahun 2005 yang juga
menyatakan bahwa untuk infeksi akibat bakteri Multi Drug Resistant, direkomendasikan
untuk menggunakan kombinasi antara Antipseudomonal Beta-Lactam (contoh: Meropenem)
dengan Antipseudomonal Fluoroquinolone (contoh: Levofloxacin) atau Aminoglycoside
(contoh: Amikacin).1,2

Tabel 1. Empiric Selection of Antibiotics


Tabel 2. Initial Choice of Antibiotics for ED treatment of Severe Sepsis and Septic Shock
Tabel 3. Empiric Antimicrobial Recommendations for Adult with Sepsis

Referensi

1. Dellinger RP, Levy MM, Rhodes A, Annane D, Gerlach H, Opal SM. Surviving sepsis
campaign: international guidelines for management of severe sepsis and septic shock:
2012. Crit Care Med. 2013;41(2):580-637.

2. American Thoracic Society; Infectious Diseases Society of America. Guidelines for


the management of adults with hospital-acquired, ventilator-associated, and
healthcare-associated pneumonia. Am J Respir Crit Care Med. 2005;171(4):388-416.

3. Barlam TF, Cosgrove SE, Abbo LM, Macdougall C, Schuetz AN, septimus EJ,
Srinivasan A, et all. Implementing an antibiotic stewardship program: Guidelines by
the infectious disease society of America and the society for healthcare epidemiology
of America. Clinical infectious disease advance access published April 13, 2016.
Infectious Diseases Society of America. Downloaded from
http://cid.oxfordjournals.org/ at IDSA member on April 28, 2016.